Museum mobil atau kendaraan, tidak banyak yang dikelola secara serius. Namun berbeda dengan Making Cars yang membuat museum jadi sarana edukasi. [705] url asal
Jakarta - Pameran otomotif khusus untuk kendaraan-kendaraan modifikasi, Indonesia Modificationn & Lifestyle Expo (IMX), berjalan sukses sejak 4-6 Oktober 2024 di ICE, BSD City. Salah satu sorotan utama tahun ini adalah kehadiran Making Cars, sebuah merek otomotif Internasional yang memperkenalkan museum interaktifnya di kota Solo.
Museum Interaktif di kota Solo
Museum ini bukan sekadar tempat memamerkan koleksi mobil, tetapi juga menjadi pusat edukasi yang inovatif. Dengan berbagai aktivitas interaktif dan teknologi terkini, pengunjung, terutama generasi muda, dapat menggali lebih dalam dunia otomotif. Making Cars berkomitmen untuk menginspirasi dan mendukung tumbuhnya minat generasi muda terhadap industri otomotif.
Lebih dari Sekadar Kumpulan Mobil
Di Making Cars, para pengunjung tidak hanya disuguhkan dengan koleksi mobil yang beragam, tetapi juga kisah-kisah menarik yang menyertai setiap kendaraan. Setiap mobil dipamerkan dengan rincian spesifikasi dan latar belakang sejarahnya, yang mengajak pengunjung untuk lebih mendalami evolusi teknologi otomotif.
Lantai dua museum Making Cars secara khusus diperuntukkan sebagai ruang edukasi, dilengkapi dengan berbagai tampilan model yang interaktif. Pengunjung dapat mempelajari cara kerja mesin, teknik modifikasi, serta sejarah otomotif secara keseluruhan.
Widodo Teguh selaku pemilik Making Cars, menyatakan bahwa banyak orang yang memandang sebelah mata dunia otomotif sebagai pilihan karir. Namun, sebenarnya terdapat banyak peluang di sektor ini. Melalui Making Cars, ia berupaya menunjukkan bahwa otomotif bukan hanya sekadar hobi, melainkan juga dapat menjadi karir yang menjanjikan.
Pengalaman Edukasi yang Menarik
Making Cars tidak hanya menekankan pada aspek edukasi, tetapi juga menawarkan pengalaman yang menarik bagi para pengunjung. Terdapat kafe dan restoran yang menyajikan kuliner khas Solo, serta area bermain untuk anak-anak.
“Jadi kita juga punya villa di Bali, nanti mereka landing di Bali dan kita jemput nanti ke Solo, dia mau kemana visit Making Cars aja atau tour kuliner mau camping, semua bisa,” ujar pemilik Making Cars, Widodo Teguh lewat pernyataan resminya.
Koleksi Menarik dan Bengkel Beroperasi
Salah satu daya tarik utama dari Making Cars adalah koleksi mobil yang menarik. Selain mobil-mobil klasik, Making Cars juga memiliki ambulans antik yang berusia lebih dari 50 tahun serta sebuah hot rod yang merupakan hasil karya anak bangsa. Dengan adanya bengkel yang beroperasi di Making Cars, pengunjung dapat menyaksikan secara langsung proses pembuatan mobil.
Komunitas dan Kegiatan Rutin
Making Cars secara proaktif mengembangkan komunitas otomotif. Setiap akhir pekan, Making Cars menyelenggarakan acara Cars and Coffee, yang berfungsi sebagai platform bagi para penggemar otomotif untuk berkumpul dan berbagi minat mereka.
“Ekspektasi gabung di IMX 2024 kita harus mulai bikin aware ya mengenai Making Cars ini apa, teman - teman yang di industri, IMX. Karena memang kita awalnya dari ProRock Engineering, kalau ProRock Engineering yang turun kita nih udah terlalu kental di Off Road, jadi saya harus buka satu nama lagi yang tidak hanya mobil tetapi sepeda motor dan komunitas.”
Making Cars melalui IMX 2024 mengundang seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih peduli dan berpartisipasi dalam dunia otomotif. Melalui IMX 2024 penyampaian edukasi yang menarik dan inspiratif, berharap dapat menciptakan generasi penerus yang mampu memajukan industri otomotif di Indonesia.
Kesempatan Super Giveaway IMX 2024
Tiga unit mobil Super Giveaway menjadi sorotan di IMX 2024. Tiga mobil ini merupakan hasil modifikasi dari para tokoh ternama: Gran Max GH Style oleh Gofar Hilman, Reccoba hasil kolaborasi Arif Brata dan Gofar Hilman, serta Wuling Binguo EV milik Cipung yang dimodifikasi dengan konsep unik dari Raffi Ahmad dan team NMAA.
Semua pengunjung IMX 2024 memiliki kesempatan untuk mendapatkan Wuling Binguo EV milik Cipung, cukup dengan membeli tiket on the spot IMX 2024 seharga Rp 100.000. Jika menggunakan fasilitas BCA seperti kartu kredit, QRIS BCA, maupun paylater BCA, pengunjung bisa menikmati diskon tiket 50 persen untuk 500 pengunjung pertama yang datang setiap harinya. Pastikan untuk datang ke IMX 2024 yang berlangsung dari 4-6 Oktober 2024 di Hall 9-10 ICE BSD, Tangerang.
Dengan membeli tiket IMX 2024, pengunjung juga bisa menyaksikan langsung aksi memukau kejuaraan Indonesian Drift Series yang juga berlangsung di ICE BSD.
Semua paket keseruan tersebut tentu menjadi bukti IMX 2024 menjadi pameran modifikasi otomotif dan gaya hidup terbesar di Asia Tenggara. Sehingga event ini sudah mencapai skala internasional dan membawa modifikasi Indonesia ke tingkat dunia.
SOLO, KOMPAS.com - Modifikasi dan restorasi merupakan salah satu sisi menarik pada gelaran Daihatsu Kumpul Sahabat Solo yang diselenggarakan di Stadion Manahan, Solo, Minggu (25/8/2024).
Dari jajaran mobil kendaraan yang unjuk gigi, perhatian redaksi tertuju pada mobil klasik legendaris bertubuh mungil yang sangat jarang ditemui di jalanan, Daihatsu Fellow Max milik Agoenk Retro.
Fellow Max sendiri, merupakan keluarga dari seri Fellow, mobil berjenis hatchback yang masuk dalam kelas kei car di era 1960-an. Produk terkait merupakan bukti Daihatsu sudah berjaya sejak dulu di Tanah Air.
KOMPAS.com/Ruly Kurniawan Daihatsu Fellow Max di ajang Daihatsu Kumpul Sahabat Solo
"Awal saya beli, kondisinya cukup parah. Lalu saya restorasi sedikit-sedikit sampai jadi seperti itu. Saya dapetnya di tahun 2019-an, kala pandemi Covid-19," katanya di Solo, Minggu.
"Jadi bisa dibilang saya dapetnya bahan, Rp 25 jutaan," lanjut dia.
Kendati tidak disebutkan secara rinci dimana Agoenk mendapatkan mobil dimaksud, tetapi kala itu ia memboyongnya lebih murah ketimbang NMAX Turbo yang dijual Rp 37,7 juta sampai Rp 45 jutaan.
Hanya saja, untuk bisa menikmati kendaraan, dirinya harus mengeluarkan dana tambahan senilai Rp 65 juta untuk melakukan restorasi. Mulai dari sektor bodi, mesin, sampai interior dan fungsi lain di mobil.
"Sparepart-nya orisinil, kita dapet dari temen-temen mobil antik dan kebetulan masih ada yang nyimpen. Biayar restorasi totalnya sekitar Rp 65 jutaan," kata Agoenk.
KOMPAS.com/Ruly Kurniawan Daihatsu Fellow Max di ajang Daihatsu Kumpul Sahabat Solo
"Paling mahal, itu di sektor bodi sama mesin karena bener-bener dapet bahan. Emblem saja yang komplet, orisinil," lanjut dia.
Dengan ketelitian dan kesabaran untuk mencari komponen pelengkap pada mobil hingga satu tahun, akhirnya Fellow Max tersebut dapat digunakan kembali.
"Ini bisa jalan (dipakai normal). Mungkin ada beberapa yang punya juga (di Solo), namun jarang sekali yang masih bisa jalan," kata Agoenk.
"Tapi karena mesinnya 360 cc dua silinder, tidak kuat dikasih AC. Jadi AC-nya angin dari jendela," candanya.
Diketahui, Fellow Max merupakan mobil mungil dengan mesin 360cc berkode ZM. Mesin mobil ini memiliki konfigurasi 2 tak 2 silinder pendingin air dengan kapasitas murni 356cc.
KOMPAS.com/Ruly Kurniawan Daihatsu Fellow Max di ajang Daihatsu Kumpul Sahabat Solo
Tenaga yang dihasilkan mesin ini mencapai 22Hp pada 5000Rpm serta torsi 34,3Nm pada 4300Rpm. Mesin yang mirip dengan mesin yang dipakai Hijet S37 tersebut diletakkan di belakang untuk menggerakkan roda belakang melalui transmisi manual 4-percepatan.
"Kemarin ada yang mau tukerin dengan Cagiva Mito, saya nombok sekitar Rp 15 juta. Tapi masih nego-nego, jadi kalau ada yang berminat silahkan saja," tutup Agoenk.
Tuksedo Studio Bali memproduksi kembali mobil klasik handmade yang diminati oleh warga negara asing. Mereka saat ini menggelar pameran mobil klasik di Jakarta. [735] url asal
Tuksedo Studio Bali, sebagai pabrik mobil klasik handmade (buatan tangan), memproduksi kembali mobil klasik yang kini sudah tidak ada di pasaran. Mobil-mobil antik yang dibuat oleh tangan kreatif anak muda Indonesia itu sampai diminati warga negara asing.
Tuksedo Studio Bali saat ini sedang menggelar pameran tunggal mobil klasik di Pondok Indah Mall (PIM) II Jakarta pada 12-18 Agustus 2024. Selain terinspirasi sejumlah pameran mobil klasik di dunia, seperti Retromobile di Paris, Goodwood Revival, dan pameran mobil klasik Silverstone di Inggris, showcase bertajuk 'Legendary Automobile Showcase: An Exhibition of Elegance' ini juga sebagai apresiasi untuk masyarakat yang telah mendukung karya para seniman Bali di Tuksedo Studio.
Dalam pameran ini, Tuksedo menampilkan sembilan unit mobil klasik (satu dalam bentuk rangka). Salah satu di antaranya adalah milik Ketua MPR RI sekaligus Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia Bambang Soesatyo (Bamsoet).
"Ini menjadi penghargaan dan tantangan bagi kami tim Tuksedo Studio yang sebagian besar adalah seniman dan anak-anak muda kreatif, untuk mampu membuat karya terbaik yang bisa membanggakan Indonesia di mata dunia khususnya di industri otomotif ya," kata Direktur Tuksedo Studio, Laksmana Gusti Handoko, dikutip dari siaran persnya.
Gusti menegaskan pameran tunggal mobil klasik Tuksedo Studio ini sebagai media edukasi kepada masyarakat mengenai mobil klasik yang punya nilai tersendiri.
"Yang lebih pasti bahwa saat ini Indonesia sudah punya industri barang mewah. Tuksedo Studio bahkan saat ini sudah jadi destinasi wisata para pelancong ke Bali. Dan terima kasih sekali lagi kepada Kemenparekraf yang menggandeng Tuksedo Studio sebagai salah satu co-branding Wonderful Indonesia," ungkap Gusti.
Sebelum di PIM, Tuksedo juga sempat menggelar pameran bersama di sejumlah kota seperti di Surabaya, Yogyakarta dan Bali.
Dalam pameran ini, Tuksedo memberi kesempatan kepada pengunjung untuk test drive mobil klasik. Juga disediakan simulator mobil klasik, dan berfoto di foto booth.
Gusti mengakui pameran ini sebagai upaya Tuksedo Studio mendekatkan kepada para pencinta mobil klasik. Selama ini para pemesan 90 persen berasal dari Jakarta.
"Pameran ini juga diharap lebih memasyarakatkan keberadaan Tuksedo Studio, pabrikan mobil klasik yang digawangi sumber daya manusia lokal, namun sudah mendapat pengakuan global," ujar Gusti.
Diminati Dunia
Replika mobil klasik karya Tuksedo ini diminati masyarakat dunia. Mereka melahirkan kembali mobil klasik dunia keluaran tahun 1950-an sampai 1960-an.
Sejak 2021 hingga Juli 2024, sebanyak 20 unit kendaraan yang sudah tidak ada di pasaran internasional, diproduksi kembali di studio tersebut.
Untuk satu unit mobil klasik diproduksi selama 12 bulan yang sekitar 90 persen bahannya menggunakan produk dalam negeri, kecuali mesin. Tuksedo Studio didukung sekitar 80 tenaga kerja sekaligus pekerja seni sektor otomotif dari Bali.
Peminatnya tak cuma dari Indonesia. Tercatat ada sekitar 100 unit antrean yang berasal dari pencinta mobil klasik sejumlah negara di Timur Tengah, Amerika Serikat, dan beberapa negara di Eropa.
Sayangnya, produksi dan pengiriman untuk pemesanan konsumen internasional belum dapat dilakukan karena masih perlu menyesuaikan dengan aturan ekspor. Karenanya, Gusti berharap ada secepatnya dukungan pemerintah untuk regulasi ekspor ini.
"Pasalnya, untuk menjual ke luar negeri, tidak diperkenankan menggunakan sesuai merek kendaraan yang direproduksi itu, tapi menggunakan nama pabrik miliknya," ucap Gusti.
Tuksedo Studio merupakan pabrik mobil klasik handmade yang didirikan Puji Handoko, seorang arsitek asli Surabaya dan telah menetap lama di Desa Ketewel, Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali.
Studio ini berpotensi masuk daftar tujuan wisata baru bidang otomotif dari Kemenparekraf. Gusti mengatakan sudah beberapa kali disurvei oleh pihak Kemenparekraf. Ada juga kunjungan pihak luar, termasuk pelajar sekolah hingga perguruan tinggi tanpa dipungut bayaran untuk melihat studio pembuatan mobil klasik tersebut
"Saat ini apabila melakukan kunjungan, pemberitahuan dapat disampaikan melalui media sosial yang dikelola pabrik replika mobil antik tersebut," imbuh Gusti.
Sejak 2021 hingga Juli 2024, sebanyak 20 unit kendaraan yang sudah tidak ada di pasaran internasional, diproduksi kembali di Tuksedo Studio. Halaman all [472] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com – Pabrik mobil klasik, Tuksedo Studio Bali, berhasil memperoleh ratusan unit pemesanan mobil klasik buatan tangan (handmade).
Untuk diketahui, sejak 2021 hingga Juli 2024, sebanyak 20 unit kendaraan yang sudah tidak ada di pasaran internasional, diproduksi kembali di Tuksedo Studio.
Adapun untuk satu unit mobil klasik diproduksi selama 12 bulan, yang sekitar 90 persen bahannya menggunakan produk dalam negeri, kecuali mesin.
Kompas.com/ApridaMegaNanda Tuksedo Studio
Dengan dukungan sekitar 80 tenaga kerja sekaligus pekerja seni sektor otomotif dari Bali, Tuksedo mencatat 100 unit pesanan yang berasal dari pecinta mobil klasik sejumlah negara di Timur Tengah, Amerika Serikat, dan beberapa negara di Eropa.
Meski begitu, produksi dan pengiriman untuk pemesanan konsumen internasional belum dapat dilakukan karena masih perlu menyesuaikan dengan aturan ekspor.
Direktur Tuksedo Studio, Laksmana Gusti Handoko mengatakan, pihaknya berharap dukungan pemerintah untuk mempermudah regulasi ekspor.
"Pasalnya, untuk menjual ke luar negeri, tidak diperkenankan menggunakan sesuai merek kendaraan yang direproduksi itu, tapi menggunakan nama pabrik miliknya," ujar Gusti, dalam keterangan resmi (13/8/2024).
Sebagai informasi, bengkel modifikasi yang berbasis di Ketewel, Kabupaten Gianyar, Bali ini mengkhususkan diri dalam membuat ulang mobil klasik langka yang sudah punah.
Gusti menjelaskan bahwa ide mendirikan bengkel ini berawal dari keinginannya untuk memiliki mobil klasik langka yang sulit ditemukan dan mahal.
Kompas.com/ApridaMegaNanda Tuksedo Studio
"Kami memutuskan untuk mempelajari cara membuatnya sendiri," ucap Gusti, kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.
Proses pembuatan di Tuksedo Studio memerlukan waktu sekitar satu tahun. Dimulai dari pencarian blueprint atau cetak biru mobil klasik yang akan direkonstruksi.
Blueprint ini kemudian diproyeksikan dari dua dimensi ke tiga dimensi menggunakan perangkat lunak khusus, dan diikuti dengan pembuatan model dari kayu, wire frame, dan berbagai tahap pengerjaan lainnya.
Kompas.com/ApridaMegaNanda Tuksedo Studio
Untuk mesin, mereka biasanya menggunakan mobil donor, seperti Porsche 356 yang memanfaatkan mesin dari VW Beetle, mengingat keduanya memiliki hubungan historis dan teknis.
"Semua mobil donor yang kami gunakan harus dari merek yang sama," kata Gusti.
Tuksedo Studio telah meluncurkan beberapa jenis mobil klasik. Di antaranya adalah Porsche 356 Coupe merah sebagai mobil pertama yang terjual ke publik. Beberapa model lainnya termasuk Spider 550 dan Gullwing 300 SL.
Bicara soal harga, setiap mobil yang diproduksi Tuksedo Studio ditawarkan dengan banderol sekitar 1,7 miliar hingga Rp 5 miliar.
INFO NASIONAL - Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bambang Soesatyo atau Bamsoet mengapresiasi pameran tunggal Tuksedo Studio Bali bertajuk "Legendary Automobile Showcase – An Exhibition of Elegance" yang digelar di Pondok Indah Mall 2 Jakarta, dari 12 hingga 18 Agustus 2024.
Pameran ini menampilkan kendaraan ikonik klasik legendaris yang diproduksi secara hand made atau buatan tangan oleh anak bangsa seperti mobil Aston Martin DB5, Mercedez 300SL Gullwing, Toyota 2000GT, Porsche 356 Speedster, Porsche 356 Coupe serta Porsche 550 Spyder.
"Pameran mobil klasik yang menjadi koleksi sekaligus investasi bernikai tinggi bagi para orang-orang kaya diseluruh dunia karya Tuksedo Studio menjadi salah satu bukti bahwa anak muda Indonesia mampu menghasilkan dan mengembangkan karya bermutu kelas dunia," ujar Bamsoet.
Menurutnya, Tuksedo Studio mampu membuat ulang mobil-mobil klasik yang legendaris dan elegan. Ia menilai karyadari Tuksedo Studio istimewa karena dalam proses produksi pembuatan mobil klasiknya dilakukan secara hand made.
Hingga saat ini, Tuksedo Studio telah membuat beberapa mobil klasik legendaris seperti Porsche 356 Speedster (1957), Porsche 356 A Coupe (1955-1959), Porsche 550 Spyder (1953-1956), Mercedes Benz 300 SL Gullwing (1954 1957), Toyota 2000 GT 1968 (1967-1970), Jaguar XK 120 (1948-1954), Ferrari 250 GTO (1962-1964), hingga Maserati 450S (1956-1958). Semua kendaraan pun dibuat dari nol, mulai dari desain hingga rancang bangun yang menggunakan bahan dasar alumunium.
"Tuksedo Studio juga telah sukses menyelesaikan uji jalan terhadap berbagai mobil klasik legendaris yang diproduksinya," ujarnya. "Uji jalan tahap pertama menempuh rute dari workshop Tuksedo Studio di daerah Gianyar menuju kawasan Denpasar dan menjelajahi berbagai kawasan di Bali," tambahnya.
Menurut Bamsoet, kendaraan yang diproduksi secara hand made memiliki beberapa keunggulan karena menjadi karya seni yang khas, eksklusif, menonjolkan sisi individualitas dan kreativitas yang membedakan dengan yang produk massal.
"Kedua, produk buatan tangan biasanya dibuat dengan memperhatikan detil dan penuh kehati-hatian, sehingga memiliki nilai estetika serta memiliki daya tahan yang lebih baik," katanya.
lebih lanjut Bamsoet menilai produk buatan tangandapat mengangkat perekonomian lokal, karena dalam proses produksinya juga melibatkan peran usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Pada hakikatnya, kata dia, produk buatan tangan menawarkan lebih dari sekadar nilai material, sehingga nilai dan kualitas produk menjadi prioritas utama.
"Saya sendiri telah memiliki salah satu karya mereka, yaitu Mercedes Benz 300 SL Gullwing. Orang sering keliru menilai. Dipikirnya buang-buang duit, padahal ini adalah investasi yang menguntungkan," ujar Bamsoet.
Bamsoet mengatakan, tujuannya membeli bukan karena mobilnya, tetapi lebih kepada maha karya seni yang bernilai tinggi dari para anak bangsa.
"Lebih dari itu, menyalurkan hobi penting juga untuk menjaga keseimbangan otak kiri yang terus bekerja dari senin-jumat sebagai pemikir yang logis serta teliti dan otak kanan yang berjiwa bebas dan artistik," kata dia. (*)