#30 tag 24jam
AJC Pro-Israel Tembus Dunia Akademik, NU dan Muhammadiyah Diminta Hati-hati
Imam Shamsi Ali juga klarifikasi nama dirinya yang masih dikutip AJC. [465] url asal
#ajc #muhammadiyah #nahdlatul-ulama #imam-shamsi-ali #nahdliyin-menghadap-presiden-israel #pertemuan-nahdliyin-presiden-israel #lobi-yahudi
(Republika - Khazanah) 17/07/24 17:00
v/11088287/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lima orang Nahdliyin mengunjungi Israel dan sowan kepada presiden entitas zionis tersebut, Isaac Herzog, baru-baru ini. Sontak saja, pertemuan itu menuai sorotan dari publik Indonesia, baik dalam maupun luar negeri.
Pendakwah asal Indonesia yang bergiat di Amerika Serikat (AS), Imam Shamsi Ali mengingatkan organisasi-organisasi masyarakat (ormas) Islam di Tanah Air. Pasalnya, menurut dia, kini lembaga global yang pro-zionisme terus menggencarkan penetrasi.
"Saat ini, AJC menembus banyak ke jantung dunia akademik, termasuk universitas Islam negeri (UIN) dan institusi-institusi Islam. Kalau tidak paham dan kurang strategi, kita bisa dipakai sebagai stempel untuk tujuan mereka," kata Imam Shamsi Ali dalam keterangan tertulis yang telah dikonfirmasi oleh Republika, Rabu (17/7/2024).
Dilansir dari laman resminya, American Jewish Committee atau AJC merupakan sebuah lembaga global yang "mendukung hak Israel untuk eksis dalam perdamaian dan keamanan." AJC, uniknya, didirikan jauh sebelum entitas zionis itu ada, yakni pada 11 November 1906.
Mengutip New York Times, AJC adalah "puncak organisasi-organisasi Yahudi yang ada di Amerika." Basisnya bertebaran bukan hanya di Negeri Paman Sam, melainkan juga antara lain Uni Emirat Arab dan Jerman.
Menanggapi tragedi kemanusiaan di Jalur Gaza yang berlangsung sejak Oktober 2023 hingga kini, AJC secara implisit menampik peristiwa itu sebagai sebuah genosida. Organisasi ini justru menuding Hamas sebagai pelaku "pembantaian terburuk yang menimpa kaum Yahudi sejak Holocaust."
Imam Shamsi Ali menyoroti penetrasi AJC di Indonesia. Lebih lanjut, dai kelahiran Sulawesi Selatan itu meminta Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah--sebagai dua ormas Islam terbesar di Tanah Air--untuk waspada.
Klarifikasi
Dilansir dari laman resminya, AJC juga pernah mengundang Imam Shamsi Ali. Bahkan, dai asal Indonesia ini juga pernah diminta menjadi anggota Majelis Muslim-Yahudi, yang dibentuk lembaga pro-zionis tersebut.
"Tapi, setelah duduk beberapa bulan, khususnya ketika Gaza diserang besar-besaran tahun 2008 (era presiden Obama), saya tinggalkan (majelis itu). Masalahnya, saya dianggap kurang moderat karena kritis kepada Israel dalam pertemuan-pertemuan mereka (AJC)," ungkap Direktur Jamaica Muslim Center di New York City itu.
"AJC inilah yang dulu mengundang KH Yahya Staquf bertemu Benjamin Netanyahu. Bahkan, jauh sebelumnya juga Gus Dur ke Israel, diberi penghargaan. Intinya, mereka sekarang ini all-out mengambil hati orang Islam agar menerima Israel. Cover-nya, dialog antar-agama," sambung dia.
Imam Shamsi menuturkan, sekitar bulan Desember 2023, Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar diundang AJC selama sebulanan di AS. Menurutnya, walaupun mengampanyekan program-program dari RI, termasuk beasiswa S2 dan S3 bagi program Istiqlal, Kiai Nasaruddin "dipergunakan" dalam beberapa acara AJC untuk "menetralkan" wajah penjajahan Israel atas Palestina.
"Saya bisa menulis banyak. Karena kalau bicara Yahudi ini, saya bukan 'qiila wa qaala' (katanya, katanya --Red), tetapi saya tahu dari first-hand, bergaul dengan mereka. Saya kalau dialog antar-agama, tidak akan tanggung-tanggung. Namun, kalau sudah sampai ke kejujuran dan kemanusiaan, saya punya sikap," tutup dia.
Ketum Fatayat NU akan Sanksi Dua Anak Buahnya yang ke Israel
Ketum Fatayat NU nilai dua anak buahnya ke Israel berdampak buruk terhadap organisasi [337] url asal
#fatayat-nu #margaret-aliyatul-maimunah #nurul-bahrul-ulum #nahdliyin-ke-israel #nahdliyin-menghadap-presiden-israel #tokoh-nahdliyin-bertemu-presiden-israel #nahdliyin-temui-israel #zionis-israel #pal
(Republika - Khazanah) 17/07/24 15:12
v/11079136/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama (PP Fatayat NU), Margaret Aliyatul Maimunah menegaskan akan memberikan sanksi kepada dua pengurus PP Fatayat NU, Izza Annafisatud Daniyah dan Nurul Bahrul Ulum yang belum lama ini bertemu Presiden Israel, Isaac Herzog.
"Iya pastinya (akan diberikan sanksi)," ujar Margaret saat dihubungi Republika, Rabu (17/7/2024).
Margaret sendiri saat ini sedang melaksanakan ibadah umrah di Tanah Suci. Sehingga, belum sempat memanggil langsung anak buahnya itu. Yang jelas, Margaret sangat menyesalkan kunjungan dua pengurus Fatayat NU itu ke Israel.
Menurut Margaret, keikutsertaan mereka dalam program di Israel yang kemudian berkesempatan bertemu dengan Presiden Israel tersebut adalah murni kegiatan personal.
"Secara Kelembagaan, PP Fatayat NU tidak pernah tahu-menahu dengan kegiatan tersebut karena PP Fatayat NU tidak pernah mendapatkan undangan kegiatan tersebut," ucap Margaret.
Dia mengatakan, PP Fatayat NU juga tidak pernah memberikan mandat dan izin kepada dua orang itu untuk menjadi peserta dalam kegiatan tersebut. "Karena yang bersangkutan tidak meminta izin dan memberikan konfirmasi sama sekali mengenai kegiatan tersebut. Hal ini tentu di luar kontrol organisasi Fatayat NU," kata dia.
Meskipun kunjungan dua pengurus Fatayat NU tersebut berkunjung ke Israel atas nama pribadi, tambah dia, PP Fatayat NU akan tetap memberikan sanksi kepada mereka. Karena, agenda mereka memberikan dampak negatif terhadap organisasi NU.
Dalam bentuk apa sanksinya, pihaknya masih akan melakukan penelusuran lebih lanjut.
"PP Fatayat NU selanjutnya akan melakukan penelusuran terkait dengan kasus ini dan akan memberikan sanksi organisasi kepada yang bersangkutan karena meskipun ini agenda personal telah memberikan dampak negatif yang sangat luas bagi organisasi NU, termasuk Fatayat dan masyarakat Indonesia," jelas Margaret.
Sebelumnya, sebanyak lima nahdliyin mengunjungi Presiden Israel Isaac Herzog dan fotonya viral di media sosial. Kelima orang tersebut berasal dari sejumlah lembaga di bawah naungan PBNU, seperti Fatayat NU, Pengurus Pusat (PP) Pagar Nusa NU, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Banten.
Para intelektual muda NU tersebut adalah Sukron Makmun, Zainul Maarif, Munawir Aziz, Nurul Bahrul Ulum, dan Izza Annafisah Dania. Dua nama terakhir merupakan pengurus Fatayat NU.
Dokumentasi Republika : Gus Dur Tegaskan tak Akan Korbankan Palestina
Presiden Abdurrahman Wahid bertemu Yasser Arafat di Yordania. [1,084] url asal
#abdurrahman-wahid #gus-dur #normalisasi-ri-israel #buka-hubungan-diplomatik-ri-israel #nahdliyin-menghadap-presiden-israel #tokoh-nahdliyin-bertemu-presiden-israel
(Republika - News) 17/07/24 14:56
v/11075043/
Kunjungan lima orang muda Nahdliyin ke Israel baru-baru ini menuai kecaman publik. Ketika penduduk Palestina di Jalur Gaza sedang mengalami genosida, mereka justru beramah tamah dengan Presiden Israel, Isaac Herzog. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pun menyayangkan tindakan mereka dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (16/7/2024).
Seorang yang sowan ke Israel itu, Dr Zainul Maarif, menyampaikan kepada pihak zionis maksud kedatangannya. Dalam pidatonya itu, akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta itu menyebut-nyebut sosok Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, presiden keempat RI yang juga tokoh karismatik NU.
"Nahdlatul Ulama adalah organisasi Muslim terbesar di Indonesia, bahkan di dunia, yang menyuarakan islam moderat. Salah seorang tokoh yang memimpin organisasi tersebut adalah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dia adalah presiden RI keempat yang punya hubungan dekat dengan Simon Peres dan Yahudi," kata Zainul.
Saat menjabat sebagai kepala negara RI, Gus Dur memang pernah mewacanakan pembukaan hubungan diplomatik RI-Israel. Wacana ini langsung memunculkan kontroversi di tengah masyarakat. Namun, hingga ia dilengserkan, kedutaan besar Israel tidak pernah berdiri di Jakarta--sampai kini.
Walaupun sekilas tampak "memberi ruang" pada Israel, keberpihakan Gus Dur pada Palestina tidak dapat diabaikan. Secara tegas, ketum PBNU periode 1984-1999 itu condong pada two-state solution, yakni Palestina dan Israel hidup berdampingan sebagai sama-sama negara merdeka.
Berikut petikan pemberitaanHarian Republika, yang meliput pertemuan presiden Gus Dur dengan pemimpin Palestina Yasser Arafat di Amman, Yordania, tanggal 24 November 1999.
Presiden Wahid: saya tak akan korbankan Palestina
AMMAN --- Kendati mengaku memiliki hubungan baik dengan Israel, Presiden Abdurrahman Wahid menegaskan tak akan mengorbankan bangsa Palestina. "Walaupun betapa baiknya saya dengan orang Israel tapi tidak akan saya mengorbankan orang Palestina," tegasnya.
Presiden Abdurrahman Wahid menegaskan pendiriannya itu seusai bertatap muka dengan Presiden Palestina Yasser Arafat, di Istana Al Nadwa, Amman, Jordania, kemarin siang (waktu setempat --Red). Pada kesempatan itu, sebagaimana dilaporkan wartawan Republika Aris Eko Sediono dari Amman semalam, Kepala Negara pun menegaskan sikap Indonesia yang senantiasa mendukung bangsa Palestina dalam perjuangannya melawan Israel.
Mengaku sejak lama telah memperjuangan bangsa Palestina, Abdurrahman kepada Yasser Arafat menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan bangsa Palestina tak akan pernah luntur. "Cuma kadang-kadang tidak kelihatan karena kesulitan ekonomi kita sendiri," kilah pendiri Shimon Pheres Foundation tersebut.
Kepala Negara kepada wartawan pun mengutip pendapat Yasser Arafat mengenai Shimon Pheres. Shimon, menurutnya, merupakan pribadi Israel yang tulus ikhlas. "Artinya betul-betul ingin ada perdamaian yang sungguh-sungguh," simpulnya mengutarakan pendapat Yasser. Sayangnya, kehidupan politik tidak hanya dikuasai figur-figur seperti Shimon Pheres.
Pada kesempatan itu, Kepala Negara menilai penyelesaian masalah Palestina tergantung pada bangsa Palestina sendiri. "Mau berunding seperti apa dengan Israel, kita ikut saja. Jadi tidak ada posisi kita sendiri," ujar Gus Dur seraya mengingatkan, Israel tidak akan bisa hidup tanpa Palestina. Kendati demikian, Kepala Negara tetap berharap, Yerussalem kelak dapat menjadi ibu kota Palestina. Namun, tidak disebutkan, apakah Yerussalem Barat atau Timur.
Pada kesempatan berbeda, Menlu Alwi Shihab kepada wartawan mengungkapkan Indonesia tetap memberi dukungan lebih besar, dibandingkan kepada Israel. Bentuk dukungan itu antara lain, dalam waktu dekat Indonesia akan membuka perwakilan dagang di Gaza. Di sisi lain, menurutnya, Kepala Negara pun memberi tahu Yasser bahwa Indonesia merencanakan membuka hubungan dagang dengan Israel.
Hangat
Pertemuan antara Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Yasser Arafat, dilukiskan Alwi Shihab, berlangsung hangat dan konstruktif. Pohon-pohon zaitun yang merimbumi Istana Al-Nadwa, laiknya saksi kehangatan pertemuan tersebut. Pertemuan yang berlangsung di salah satu ruangan di Istana Al-Nadwa, menurut Abdurrahman, memang atas kehendaknya. Semula Kepala Negara memperkirakan pertemuan itu berlangsung di salah satu tempat di perbatasan Israel-Jordania. Namun ternyata Yasser Arafat bersedia ke Istana Al-Nadwa, tempat Kepala Negara berada selama di Jordania.
Yasser Arafat tiba sekitar pukul 12.20 (17.20 WIB) di Istana Al-Nadwa dengan menggunakan mobil Mercy. Yasser dengan busana khasnya -- seragam militer bewarna coklat serta kaffiyeh menutupi kepala -- segera menuju ke ruang pertemuan. Beberapa saat kemudian, Abdurrahman masuk ke ruang tempat Yasser menunggu.
Begitu bertemu, kedua pemimpin itu bersalaman dan berangkulan akrab. Kepala Negara yang mengenakan jas bewarna gelap, langsung terlibat pembicaraan singkat dengan Yasser Arafat. Keduanya menggunakan bahasa Arab. Sebelum pembicaraan resmi, Yasser Arafat menyerahkan kenang-kenangan kepada Kepala Negara. Kenang-kenangan itu berupa replika Masjidil Aqsa yang terbuat dari batu marmer. Pada pembicaraan tahap pertama, Kepala Negara didampingi Menlu Alwi Shihab. Sedangkan Yasser Arafat didampingi antara lain Dubes Palestina untuk Indonesia. Pembicaraan tahap pertama ini berlangsung sekitar 10 menit.
Kemudian, kedua pemimpin tersebut, menginginkan pembicaraan 'empat mata'. Maka Presiden Abdurrahman dan Yasser Arafat pindah ke ruang sebelah. Pembicaraan 'empat mata' ini hanya berlangsung sekitar lima menit. Seusai bertatap muka, Abdurrahman mengantarkan Yasser Arafat hingga mobil. Saat menuju mobil, Yasser Arafat menjawab beberapa pertanyaan wartawan. "Saya mengucapkan terima kasih kepada Indonesia yang selalu mendukung Palestina. Apalagi Presiden yang baru terbukti memberikan perhatian khusus kepada rakyat Palestina," ujarnya.
Sebelumnya pada pagi hari, Kepala Negara berziarah ke makam raja-raja Jordania. Kompleks makam raja yang dinamakan Istana Raja yang berada di kompleks Istana Raja Jordania. Di awal ziarah, Kepala Negara meletakkan karangan bunga di atas pusara alm Raja Husein. Kemudian dilanjutkan di makam Raja Talal bin Abdullah, dan terakhir di makam Raja Abdullah I. Sebelum bertemu dengan Yasser, Kepala Negara pun bertatap muka dengan Emir Kuwait Jabar Al Ahmed Alsabah dan Emir Qatar Sheik Hamad bin Khalifah. Dari pertemuan tersebut, kedua emir tersebut mencetuskan harapannya, agar Aceh tetap menjadi bagian RI.
Bahkan, menurut Menlu Alwi Shihab kepada wartawan dalam penerbangan dari Qatar ke Amman, Selasa petang, Emir Kuwait mendesak rakyat Aceh untuk tidak memisahkan diri dari kesatuan RI, agar tidak merugikan umat Islam di Indonesia. Bahkan, menurutnya, Emir Kuwait berjanji siap memberikan bantuan bagi pembangunan di Aceh. Jumlah dana dan bentuk proyeknya, akan dibicarakan pada sidang komisi bersama Kuwait-RI, setelah Lebaran tahun depan, di Jakarta.
Tak hanya Kuwait yang menjanjikan bantuan untuk menuntaskan permasalahan di Aceh. Alwi pun menyebutkan, Emir Qatar pada pertemuan dengan Kepala Negara, berjanji akan berusaha mengusulkan rekomendasi tentang penyelesaian masalah Aceh, pada KTT OKI akhir tahun 2000. Pada KTT tersebut, Qatar bertindak sebagai tuan rumah.
Menyinggung kunjungannya ke negara-negara Timur Tengah, Kepala Negara mengungkapkan, Indonesia menaruh perhatian ke kawasan Timur Tengah yang memiliki kekuatan ekonomi. "Selama ini, perhatian kita terpaku kepada Amerika dan Jepang. Sekarang selain menjaga hubungan yang ada, kita jalankan hubungan dengan Timur Tengah," kata Abdurrahman sembari mengimbau pengusaha Indonesia menggarap pasar di Qatar dan Kuwait.
Sejauh ini belum diketahui hasil pembicaraan Kepala Negara dengan Raja Abdullah. Dijadwalkan, hari ini (25/11/1999) Kepala Negara menjadi pembicara kunci pada acara world conference on religion and peace yang dibuka Raja Abdullah II bertempat di Royal Culture Centre, Amman, Jordania.
Cerita Kiai Cholil Nafis Pernah Diundang ke Israel Tetapi Dilarang KH Hasyim Muzadi
Kiai Cholil Nafis menolak undangan ke Israel [491] url asal
#intelektual-muda-nahdliyin #intelektual-muda-intelektual-muda-nahdliyin #pemuda-nahdliyin #nahdliyin-israel #cendekiawan-nahdliyin #nahdliyin-dan-israel #nahdliyin-menghadap-presiden-israel #pertemuan
(Republika - Khazanah) 16/07/24 11:11
v/10945172/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis, turut mengomentari kedatangan lima intelektual muda Nahdlatul Ulama bertemu dengan Presiden Israel Isaac Herzog.
Bahkan Pengasuh Pesantren Cendekia Amanah Depok Jawa Barat ini bertutur, pernah hampir terjerumus dengan undangan ke negara pendudukan, Israel. Bagaimana Bisa?
Kiai Cholil mengisahkan, pada 2016 dirinya ditawari berkunjung ke Israel dan ziarah Masjid Al Aqsa. Hal ini dalam rangkaian undangan temu budaya intelektual muda dari pemerintah Israel. “Saya hampir terperosok ke sana karena atas ajakan teman,” kata dia, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (16/7/2024).
“Bagi saya yang saat itu ingin jalan-jalan ke luar negeri atau ingin ziarah Masjid Al Aqsa pasti tertarik,” kata Kiai Cholil menambahkan.
Tetapi setelah melalui pertimbangan matang dan atas nasihat almarhum KH Hasyim Muzadi, Kiai Cholil mengurungkan niat dan menolak ajakan tersebut.
“ Beliau tidak mengizinkan dan bahkan melarang saya berangkat. Walhamdulillah saya diselamatkan oleh Allah sehingga saya mengurungkan niat dan akhirnya saya menolak tawaran itu,” kata dia.
Lebih lanjut dia mengatakan, kunjungan tersebut tidak bisa dibenarkan dan benar-benar keterlaluan melukai hati dan rasa keadilan umat sebagai manusia, apapun alasannya. Sebab kondisi sekarang sudah jelas Israel melakukan penyerangan dan genosida kepada rakyat Palestina
“Sungguh disayangkan ternyata mereka-mereka adalah berpendidikan baik dan kader potensial di NU. Dan, itu memang sasaran Israel utk menggaet dukungan dari kader-kader muda di negara-negara lain. Ini lebih ngeri lagi tentang data yang menyebutkan bahwa simpatisan Israel di Indonesia mencapai 2 persen,” ujar dia.
Dirinya bahkan menyayangkan ternyata keterlibatan mereka tidak sekadar berkunjung tetapi juga memang sudah ada relasi dan hubungan dlm jaringan Yahudi. Ini bisa diakses melalui ramuan sermi Rahim.
“Saya tak paham apa yang menggiurkan dari sana kalau dibandingkan dengan kejahatannya. Apalagi membelanya atas nama dalil-dalil agama.. duuhh sedih,” kata Kiai Cholil.
.
Saya lihat dari jejaknya digitalnya, mereka itu bukan sekadar jalan-jalan tapi memang sudah menjadi jaringannya. Duhh ya Allah," kata dia.
Sejumlah intelektual muda Nahdliyin diam-diam berkunjung ke negara Israel yang sedang menjajah dan melakukan genosida terhadap Palestina. Menanggapi hal itu, PBNU menegaskan mereka tidak mewakili PBNU dan PBNU tidak mengetahui agenda tersebut.
Dalam foto yang diterima Republika.co.id, para intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU) tersebut di antaranya, Sukron Makmun, Zainul Maarif, Munawir Aziz, Nurul Bahrul Ulum, dan Izza Annafisah Dania. Mereka bertemu dengan Presiden Israel, Isaac Herzog.
Menanggapi kunjungan tersebut, Ketua PBNU, KH Ahmad Fahrur Rozi atau Gus Fahrur menyatakan PBNU tidak mengetahui kunjungan tersebut dan sama sekali tidak mewakili institusi PBNU. Dia menegaskan delegasi tersebut tidak ada kaitannya dengan NU.
“Saya tidak kenal, jelas liar sekali (kunjungan mereka),” kata dia, kepada Republika.co.id, Ahad (14/7/2024).
Gus Fahrur menegaskan, PBNU terlepas sama sekali dengan kunjungan tersebut. “Ya, saya tidak kenal dan tidak tahu sama sekali,” ujarnya.
Gus Fahrur mengingatkan semua pihak untuk tidak mengatasnamakan NU tanpa ada surat tugas dari Ketua Umum PBNU terkait dengan dinas resmi. “Harus dibuktikan, dia datang sebagai apa dan siapa yang memberikan mandat,” ujarnya.