#30 tag 24jam
Demi Sukses Upacara HUT RI di IKN, Operasi Modifikasi Cuaca Sampai Cetak 'Rekor Dunia'
BMKG melakukan operasi modifikasi cuaca di IKN selama 24 jam untuk mencegah hujan. [664] url asal
#ikn #ibu-kota-nusantara #upacara-17-agustus-ikn #upacara-hut-17-agustus #operasi-modifikasi-cuaca #tekonolgi-modifikasi-cuaca #jokowi
(Republika - News) 09/08/24 14:03
v/13915856/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) selama 24 jam di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur sebagai pertama kali dilakukan di dunia. OMC digelar untuk mengendalikan potensi awan penghujan.
"OMC selama 24 jam nonstop adalah pengalaman pertama di Indonesia bahkan dunia," kata Pelaksana Tugas Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto di Jakarta, Jumat (9/8/2024).
Ia menjelaskan, diperlukan tingkat konsentrasi tinggi seluruh personel gabungan yang terdiri atas petugas meteorologi dan modifikasi cuaca BMKG, awak penerbangan pesawat, dan otoritas bandara, agar operasi berjalan lancar. Operasi tersebut untuk mendukung percepatan pembangunan sejumlah infrastruktur penunjang yang di antaranya Istana Kepresidenan, Bandar Udara VVIP IKN, dan jalan tol menuju kawasan inti pusat pemerintahan (KIPP) IKN.
"Termasuk mendukung kesiapan pelaksanaan segenap kegiatan kenegaraan termasuk di dalamnya perayaan hari ulang tahun Indonesia ke-79 pada 17 Agustus nanti," ujar Tri.
Tim meteorologi BMKG mencatat data normal curah hujan selama 30 tahun (1991-2020) diketahui bahwa pola hujan di IKN memiliki karakteristik hujan dengan intensitas di atas 150 mm per bulan yang terjadi sepanjang tahun. Bahkan, pengamatan yang dilakukan BMKG juga memperlihatkan bahwa hujan di IKN bisa terjadi pada pagi, sore, malam, dan dini hari.
Berdasarkan catatan tersebut, BMKG menilai perlunya peningkatan OMC yang sebelumnya dilakukan pada pagi dan siang hari, saat ini harus dilakukan hingga 24 jam.
"Jika hujan terjadi di sepanjang hari maka proses pembangunan infrastruktur utama IKN tidak akan berjalan dengan optimal," ujarnya.
Seto menjelaskan pada periode 4-18 Juli, rasio keberhasilan OMC mencapai 70 persen, 29 jam hujan dari total 186 jam operasional. Namun, pada periode selanjutnya, yaitu 19 Juli- 2 Agustus rasio keberhasilan mencapai 97 persen (hanya enam jam hujan dari total 354 jam operasional).
Operasi modifikasi cuaca, kata dia, dilaksanakan selama 24 jam nonstop agar potensi hujan di kawasan IKN yang meliputi KIPP, kawasan inti, dan kawasan penyangga dapat dikurangi.
“Sebelum kami melakukan operasi 24 jam kesuksesan pada angka 70 persen. Tetapi setelah eskalasi melakukan operasi 24 jam sudah bisa di atas 95 persen efektifitas keberhasilannya,” ujarnya.
Operasi modifikasi cuaca BMKG terpusat di Bandara APT Pranoto Samarinda yang menerbangkan dua pesawat Cessna Caravan 208B dengan kode PK-SNG dan PK SNK milik Smart Cakrawala Aviation untuk mencegat awan hujan masuk kawasan IKN. Total, sepanjang operasi modifikasi cuaca BMKG di IKN telah dilakukan penyemaian sekitar 213 sorti penerbangan dan menghabiskan bahan Natrium Klorida (NaCl) dan CaO mencapai 200 ton ke awan hujan cumulus.
Pemerintah pun telah membuka kesempatan bagi masyarakat lokal Kalimantan Timur untuk turut serta dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar di Ibu Kota Nusantara (IKN). Sebelumnya, sempat beredar kabar bahwa warga lokal sekitar IKN dilarang ikut menyaksikan upacara HUT ke-79 yang akan dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).
“Sudah diakomodir kok, terutama untuk tokoh masyarakat dan warga sekitar IKN,” ujar Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kaltim Ahmad Firdaus Kurniawan di Ibu Kota Nusantara, Jumat.
Dari hasil koordinasi dengan Sekretariat Presiden (Setpres), pihaknya merinci kuota yang telah disediakan bagi tokoh masyarakat maupun masyarakat umum lainnya.
“Sekitar 400 kuota telah dialokasikan untuk tokoh masyarakat di seluruh Kalimantan Timur, baik untuk upacara pengibaran bendera pada pagi hari maupun penurunan bendera di sore hari,” jelasnya.
Sementara itu, kata Firdaus, khusus untuk warga sekitar IKN, khususnya di Penajam Paser Utara (PPU) dan Kutai Kartanegara (Kukar), disediakan 500 kuota untuk setiap sesi. Meskipun demikian, Firdaus mengakui bahwa jumlah kuota yang disediakan terbatas. Hal ini dikarenakan kondisi IKN yang masih dalam tahap pembangunan dan agar suasana terjaga secara kondusif
“Akses ke IKN saat ini masih terbatas dan ada beberapa titik yang belum bisa diakses publik karena alasan keamanan dan keselamatan. Jadi, untuk sementara waktu, jumlah peserta harus dibatasi,” katanya.
Bagi masyarakat yang tidak berkesempatan hadir langsung, pemerintah telah menyiapkan alternatif berupa siaran langsung atau live streaming.
“Nanti akan ada beberapa titik di Kalimantan Timur yang akan menyiarkan langsung upacara peringatan HUT RI IKN. Selain itu, masyarakat juga bisa menyaksikannya melalui platform digital seperti YouTube maupun televisi,” tambah Firdaus.
Paman Birin Berikan Apresiasi Mitigasi Bencana dari Pusat
Pelaksanaan OMC berlangsung selama 11 hari ke depan dimulai tanggal 30 Juli 2024. [378] url asal
#adv #bpbd-kalsel #omc #operasi-modifikasi-cuaca #bmkg #karhutla
(Republika - News) 31/07/24 06:27
v/12714475/
REPUBLIKA.CO.ID, BANJARMASIN -- Gubernur Kalimantan Selatan H Sahbirin Noor atau Paman Birin memberikan apresiasi secara khusus atas perhatian pemerintah pusat terhadap langkah mitigasi penaggulangan bencana di Kalsel.
Hal itu disampaikan Paman Birin usai menerima penjelasan dari Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan
Raden Suria Fadliansyah Selasa (30/7/2024), terkait pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Dikatakan Paman Birin, pembasahan lahan gambut lebih awal merupakan langkah preventif menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurutnya langkah cepat BMKG bekerja sama dengan lintas instansi melakukan modifikasi cuaca pasca petubahan musim merupakan upaya preventif untuk menyelamatkan lahan gambut dari potensi ancaman karhutla.
"Bercermin dari kejadian karhutla tahun lalu, di mana terdapat banyak titik api pada lahan gambut, salah satu catatan besar adalah pentingnya optimalisasi
pembasahan lahan gambut," tekanya.
"Operasi modifikasi cuaca lebih awal sebelum musim kemarau panjang merupakan langkah maju dalam penanganan karhutla di saat musim kemarau," paparnya.
Selain itu tentu sosialisasi mitigasi bencana juga harus lebih ditingkatkan, secara merata hingga ke pelosok. Paman Birin menambahkan melalui kolaborasi dan sinergitas yang terbangun harmoni antara pemerintah pusat dan daerah, maka kita bisa mengurangi risiko bencana.
"Saya atas nama masyarakat dan pemerintah daerah mengucapkan terima kasih kepada pemerintah atas perhatian nyata untuk daerah," ucap Paman Birin.
Sementara itu Kepala BPBD Kalsel R Suria Fadliansyah menjelaskan, berdasarkan hasil rapat lintas instansi.antara lain dengan Danlanut, Korem 101 Antasari, BMKG Pusat, BMKG, Kementerian LHK, Polri dipetoleh informasi, bahwa Kasel termasuk salah satu daerah yang mendapat prioritas OMC dari pemerintah melalui BMKG.
"Ada tiga daerah di Kalimantan, selain Kalsel, yakni Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat," terangnya.
Pelaksanaan OMC berlangsung selama 11 hari ke depan dimulai tanggal 30 Juli 2024. Jika OMC baru dilakukan ketika musim kemarau atau saat karhutla terjadi, maka akan sulit melakukan OMC karena awan hujan akan sulit ditemukan.
Dalam rapat tersebut, lanjut Suria, Deputi Modifikasi Cuaca, Tri Handoko Seto mengatakan OMC berperan penting dalam strategi mitigasi preventif untuk membantu mitigasi di lahan gambut. Dengan mengelola curah hujan, pihaknya bisa mengurangi dampak dari kondisi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.
Langkah menjadi bagian penting dari langkah BMKG dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Dengan Langkah preventif seperti Operasi Modifikasi Cuaca, BMKG bersama segenap komponen terus berupaya menghadapi tantangan perubahan iklim dengan solusi nyata.
Paman Birin Beriikan Apresiasi Mitigasi Bencana dari Pusat
Pelaksanaan OMC berlangsung selama 11 hari ke depan dimulai tanggal 30 Juli 2024. [378] url asal
#adv #bpbd-kalsel #omc #operasi-modifikasi-cuaca #bmkg #karhutla
(Republika - News) 31/07/24 06:27
v/12705231/
REPUBLIKA.CO.ID, BANJARMASIN -- Gubernur Kalimantan Selatan H Sahbirin Noor atau Paman Birin memberikan apresiasi secara khusus atas perhatian pemerintah pusat terhadap langkah mitigasi penaggulangan bencana di Kalsel.
Hal itu disampaikan Paman Birin usai menerima penjelasan dari Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan
Raden Suria Fadliansyah Selasa (30/7/2024), terkait pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Dikatakan Paman Birin, pembasahan lahan gambut lebih awal merupakan langkah preventif menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurutnya langkah cepat BMKG bekerja sama dengan lintas instansi melakukan modifikasi cuaca pasca petubahan musim merupakan upaya preventif untuk menyelamatkan lahan gambut dari potensi ancaman karhutla.
"Bercermin dari kejadian karhutla tahun lalu, di mana terdapat banyak titik api pada lahan gambut, salah satu catatan besar adalah pentingnya optimalisasi
pembasahan lahan gambut," tekanya.
"Operasi modifikasi cuaca lebih awal sebelum musim kemarau panjang merupakan langkah maju dalam penanganan karhutla di saat musim kemarau," paparnya.
Selain itu tentu sosialisasi mitigasi bencana juga harus lebih ditingkatkan, secara merata hingga ke pelosok. Paman Birin menambahkan melalui kolaborasi dan sinergitas yang terbangun harmoni antara pemerintah pusat dan daerah, maka kita bisa mengurangi risiko bencana.
"Saya atas nama masyarakat dan pemerintah daerah mengucapkan terima kasih kepada pemerintah atas perhatian nyata untuk daerah," ucap Paman Birin.
Sementara itu Kepala BPBD Kalsel R Suria Fadliansyah menjelaskan, berdasarkan hasil rapat lintas instansi.antara lain dengan Danlanut, Korem 101 Antasari, BMKG Pusat, BMKG, Kementerian LHK, Polri dipetoleh informasi, bahwa Kasel termasuk salah satu daerah yang mendapat prioritas OMC dari pemerintah melalui BMKG.
"Ada tiga daerah di Kalimantan, selain Kalsel, yakni Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat," terangnya.
Pelaksanaan OMC berlangsung selama 11 hari ke depan dimulai tanggal 30 Juli 2024. Jika OMC baru dilakukan ketika musim kemarau atau saat karhutla terjadi, maka akan sulit melakukan OMC karena awan hujan akan sulit ditemukan.
Dalam rapat tersebut, lanjut Suria, Deputi Modifikasi Cuaca, Tri Handoko Seto mengatakan OMC berperan penting dalam strategi mitigasi preventif untuk membantu mitigasi di lahan gambut. Dengan mengelola curah hujan, pihaknya bisa mengurangi dampak dari kondisi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim.
Langkah menjadi bagian penting dari langkah BMKG dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Dengan Langkah preventif seperti Operasi Modifikasi Cuaca, BMKG bersama segenap komponen terus berupaya menghadapi tantangan perubahan iklim dengan solusi nyata.
Peringatan HMKG Ke-77, BMKG Gencarkan Operasi Modifikasi Cuaca di Langit Indonesia
BMKG menggencarkan operasi modifikasi cuaca dalam di langit Indonesia sebagai upaya mitigasi mencegah terjadinya karhutla. - Bagian all [891] url asal
#dwikorita-karnawati #bmkg #operasi-modifikasi-cuaca #karhutla #pulau-kalimantan
(iNews - Terkini) 22/07/24 07:13
v/11636520/
JAKARTA, iNews.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggencarkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengisi kubah air di lahan gambut yang menjadi sumber utama kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Sasarannya di wilayah paling rentan karhutla seperti Pulau Kaliman dan Sumatra.
OMC ini digencarkan sekaligus dalam peringatan puncak Hari Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (HMKG) ke-77 yang jatuh pada Minggu (21/7/2024). Mengambil tema ‘BMKG Dukung Nusantara Baru Untuk Indonesia Maju', BMKG telah melakukan kerja-kerja OMC di langit Indonesia, khususnya wilayah Sumatra dan Kalimantan sejak beberapa bulan lalu.
Berdasarkan Perpres Nomor 12 Tahun 2024, BMKG telah diamanatkan memiliki Kedeputian Modifikasi Cuaca yang punya tugas utama menyelenggarakan koordinasi, perumusan, pelaksanaan kebijakan umum dan teknis di bidang modifikasi cuaca. Hadirnya kedeputian baru ini akan lebih mengintensifkan OMC di masa yang akan datang.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, saat ini telah terjadi perubahan paradigma pemanfaatan OMC di Indonesia dan membuktikan implementasi yang dilakukan berjalan efektif. Sejak tahun 2015, OMC dilakukan untuk upaya mitigasi bencana dan bukan lagi digunakan dalam penanganan karhutla saja, namun juga pencegahan.
“Caranya dengan melakukan pengisian kubah air gambut. Berdasarkan data Pemantau Air Lahan Gambut (SIPALAGA) ambang batas ketinggian air dalam tanah lahan gambut tidak boleh di bawah 40 cm yang menandakan status rawan kebakaran,” ujar Dwikorita di Jakarta, Minggu (21/7/2024).
Lebih lanjut, OMC yang dilakukan pada masa transisi musim hujan ke musim kemarau, terlihat dengan jelas perbandingan efektivitasnya. Hotspot yang dipadamkan dengan hujan hasil OMC lebih efektif jika dibandingkan dengan upaya water bombing dan terrestrial dalam mengatasi karhutla.
"Saat ini pemerintah memang memfokuskan OMC untuk menanggulangi karhutla di Sumatra dan Kalimantan," katanya.
Adapun waktu pada musim transisi hujan ke musim kemarau sengaja dipilih karena pada dasarnya OMC sangat bergantung pada keberadaan awan hujan. Jika OMC baru dilakukan pada musim kemarau atau pada saat karhutla sudah terjadi, akan sulit melakukan OMC karena biasanya keberadaan awan sulit ditemukan.
Sebab itu air hujan yang berhasil diturunkan pada musim transisi diupayakan untuk disimpan ke dalam kubah gambut dengan mengisi embung-embung di daerah rawan karhutla. Nantinya, jika musim kemarau dan karhutla terjadi, cadangan air ini juga bisa digunakan tim Manggala yang bekerja secara terrestrial.
Dwikorita menjelaskan, efektivitas pembasahan lahan gambut dalam memitigasi karhutla sudah terbukti. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, telah terjadi keterlambatan lonjakan hotspot (titik panas) di Sumatra dan Kalimantan.
Sebagai contoh, pada tahun 2014-2015 Provinsi Riau yang menjadi daerah rawan karhutla engalami kenaikan hotspot pada Februari-Maret dan mencapai puncaknya pada Juli, Agustus dan September. Namun seiring dengan masifnya OMC pada musim transisi kemarau, pada tahun 2019, puncak hotspot di Riau baru terjadi pada September dengan jumlah titik yang melandai.
Diketahui, Provinsi Riau menjadi salah satu lokasi rawan karhutla dari tahun ke tahun dan masuk ke dalam 10 besar provinsi dengan luas area lahan karhutla terbesar. Pada tahun 2009, luasan lahan yang terbakar di Riau adalah 120,504 hektare, 183,809 hektare pada 2015, 90,550 hektare pada 2019, dan menurun signifikan pada 2023 yaitu 7,267 hektare.
“Hotspot di Provinsi Riau berkurang 93,9 persen pada tahun 2023 jika dibandingkan tahun 2019,” kata Dwikorita.
Penurunan jumlah hotspot juga terjadi di Kalimantan. Kenaikan hotspot yang biasa terjadi pada Agustus kini melambat menjadi September bahkan Oktober. Sebagai contoh, Kalimantan Tengah pada 2009 luasan area yang terbakar yaitu 247,942 hektare, 583,833 hektare pada 2015, menurun menjadi 317,749 hektare pada 2019, dan 165,896 hektare pada 2023.
Penurunan ini sangat signifikan di tengah kondisi Indonesia yang dilanda El Nino pada 2019 dan 2023 yang menyebabkan kemarau lebih kering dan panjang dari biasanya.
“Ini mengindikasikan OMC berhasil menekan laju kenaikan hotspot pada dua pulau langganan karhutla. Adanya delay lonjakan hotspot mengindikasikan periode kekeringan yang berhasil dipersingkat,” ujarnya.
Dengan demikian, Dwikorita melihat periode kekeringan yang menjadi sumber pemicu tingginya lonjakan hotspot berhasil dipersingkat karena pada saat periode transisi ke musim kemarau, gambut sudah lebih basah. Air-air yang berhasil disimpan pada kubah gambut juga bisa digunakan untuk water bombing bilamana terjadi karhutla.
Hal yang paling penting dengan basahnya lahan gambut, kemungkinan besar oknum masyarakat yang melakukan pembakaran secara illegal pun akan kesulitan karena gambut dalam kondisi basah.
Sementara itu, Plt Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menjelaskan, area karhutla di Indonesia pada tahun 2023 menurun hingga 29,6 persen jika dibandingkan 2019 serta emisi karbon yang berhasil diturunkan akibat kebakaran hutan pada tahun 2023 mencapai 70,7 persen dibandingkan tahun 2019.
Lebih lanjut, Seto menjelaskan gambut yang terbakar tidak hanya di permukaan saja namun hingga ke dalam. Sehingga ketika gambut terbakar semakin dalam, asapnya akan semakin pekat dan menimbulkan emisi karbon yang banyak dan memiliki dampak besar seperti mempercepat laju perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan memperburuk kesehatan manusia.
“Tetapi paling tidak kalau gambutnya dibasahi maka eskalasi kebakaran mampu dikurangi intensitasnya dan emisi karbonnya pun jauh lebih berkurang dibandingkan tahun 2019, ini tentu sangat berkontribusi positif untuk upaya komitmen pemerintah Indonesia terkait perubahan iklim bahwa kita mengurangi emisi karbon,” kata Seto.
“Selama kegiatan OMC berlangsung penyemaian awan dilakukan pada daerah yang berpotensi menyebabkan hujan di area pembangunan infrastruktur penunjang IKN. Penyemaian awan diprioritaskan pada daerah upwind dengan tujuan awan hujan tidak masuk ke daerah target,” ucapnya lagi.
Kini, pada peringatan puncak HMKG, BMKG berharap OMC ke depan akan memiliki banyak manfaat bagi kehidupan masyarakat. Terpenting, kerja sama antarstakeholder dengan berbagai pihak harus terus digencarkan agar OMC memiliki nilai manfaat yang lebih baik ke depannya.
Editor: Donald Karouw