JAKARTA, investor.id – Arus modal melonjak ke pasar keuangan Indonesia. Sentimen yang ada saat ini meningkatkan selera risiko investor atau pelaku pasar terhadap aset berisiko, sehingga meningkatkan arus modal masuk ke pasar negara berkembang termasuk Indonesia.
The Federal Reserve (The Fed) belum lama ini memberikan sinyal dovish sehingga memperkuat ekspektasi pasar terhadap potensi pemangkasan Fed Funds Rate (FFR) ke depan. Hal itu disebabkan oleh data inflasi Amerika Serikat (AS) terbaru yang dirilis pada 11 Juli 2024 menunjukkan adanya penurunan.
Di tengah sinyal dovish The Fed, faktanya total arus modal portofolio ke pasar keuangan Indonesia meningkat hingga US$ 1,06 miliar hanya dalam tiga pekan terakhir dan mencatatkan akumulasi arus modal tertingginya sejak pertengahan April 2024.
Sedangkan dari US$ 1,06 miliar tersebut, sebanyak US$ 0,74 miliar masuk ke pasar saham dan US$ 0,32 miliar sisanya masuk ke instrumen obligasi.
Namun, arus modal ke instrumen obligasi lebih didominasi ke surat utang jangka panjang pemerintah Indonesia. Ini ditunjukkan dengan imbal hasil tenor 10 tahun surat utang pemerintah yang turun dari 7,8% pada 19 Juni ke 7,02% pada 12 Juli 2024.
Sebaliknya, imbal hasil (yield) surat utang pemerintah tenor satu tahun relatif stagnan dan tercatat sebesar 6,52% selama periode tersebut.
Pada Juni 2024 inflasi AS tercatat sebesar 3% dari tahun ke tahun (YoY), lebih rendah dari 3,3% secara YoY pada Mei 2024 dan mencapai titik terendahnya sejak Maret 2021. Penurunan didorong turunnya harga bahan bakar minyak dan biaya sewa tempat tinggal. Rilis data inflasi AS secara umum mengindikasikan tekanan di perekonomian AS mulai mereda.
Angka inflasi bulanan AS juga mengalami deflasi sebesar 0,1% dari bulan ke bulan (mtm) dan menjadi deflasi pertama sejak April 2020.
Guberunur The Fed Jerome Powell memberikan indikasi bank sentral AS semakin dekat untuk merasa nyaman mengenai pemangkasan suku bunga setelah melihat bukti penurunan inflasi.
Di samping itu, ada kekhawatiran menahan suku bunga di tingkat yang terlalu tinggi untuk periode waktu yang terlalu lama dapat membahayakan pertumbuhan ekonomi.
Dalam laporan analisisnya, ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) Teuku Riefky menilai sentimen mengenai sikap dovish The Fed memicu arus masuk modal ke pasar negara berkembang dan berkontribusi pada apresiasi rupiah sebesar 2,23% secara mtm antara pertengahan Juni dan pertengahan Juli 2024.
Pasar SUN
Relatif lebih rendahnya minat investor untuk membeli surat utang jangka pendek pemerintah kemungkinan merefleksikan kekhawatiran investor akan kondisi perekonomian Indonesia di jangka pendek menyusul munculnya ketidakpastian terkait belanja publik pada tahun depan dan potensi menurunnya disiplin fiskal oleh pemerintah mendatang.
Selanjutnya, arus modal masuk cenderung membawa dampak baik ke Indonesia dengan turunnya tekanan pada rupiah. Dengan indeks dolar AS (DXY) yang turun ke titik terendahnya selama tiga pekan terakhir, rupiah mengalami apresiasi yang cukup signifikan.
Rupiah saat ini tercatat sekitar Rp 16.110 per dolar AS atau menguat sekitar 2,23% dalam sebulan terakhir. Sejak awal tahun, rupiah tercatat melemah sebesar 4,65% secara year to date (YTD) termasuk peso Argentina, lira Turki, peso Filipina, dan baht Thailand.
Di sisi lain, Indonesia mencatatkan cadangan devisa yang meningkat sekitar US$ 1,2 miliar, dari US$ 138,97 miliar pada Mei 2024 ke angka US$ 130,18 miliar pada Juni 2024. Peningkatan cadangan devisa tersebut memberikan penyangga terhadap tekanan mata uang sehingga diharapkan dapat berkontribusi dalam menjaga stabilitas rupiah dari tekanan eksternal.
Meningkatnya cadangan devisa dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, menyusul kebutuhan untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah pada bulan lalu.
Dengan demikian, posisi cadangan devisa Indonesia pada Juni 2024 setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta jauh lebih tinggi dari standar kecukupan internasional yaitu sebesar tiga bulan impor.
Editor: Grace El Dora (graceldora@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News