#30 tag 24jam
Sebanyak 15 Anak-anak Syahid Dalam Serangan Terbaru Israel di Sekolah di Jalur Gaza
Delapan perempuan juga jadi korban serangan di sekolah penuh pengungsi tersebut. [449] url asal
#genosida-di-gaza #pembantaian-di-gaza #anak-anak-gaza #israel-bom-sekolah-di-gaza #israel-bombardir-gaza
(Republika - News) 28/07/24 07:51
v/12391057/
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Lebih dari 50 orang syahid dalam serangan Israel di Gaza tengah dan selatan sepanjang akhir pekan ini. Salah satu serangan menghantam sebuah sekolah tempat ribuan pengungsi berlindung Sekolah Khadijah di Deir el-Balah, Gaza tengah, mengakibatkan setidaknya 30 orang syahid, kata Kementerian Kesehatan Palestina pada Sabtu.
Kantor Media Pemerintah Gaza melansir, lima belas anak-anak dan delapan perempuan termasuk di antara mereka yang syahid dalam serangan terhadap sekolah di Deir el-Balah. Kantor berita WAFA melaporkan bahwa korban luka telah dilarikan ke Rumah Sakit Al-Aqsa, yang kini penuh dengan korban jiwa.
Di Rumah Sakit Al-Aqsa di Deir el-Balah, ambulans membawa warga Palestina yang terluka ke fasilitas medis setelah serangan militer Israel terhadap Sekolah Khadijah. Beberapa korban luka juga datang dengan berjalan kaki, pakaian mereka berlumuran darah.
Aljazirah melaporkan dari Rumah Sakit Al-Aqsa, menggambarkan “keadaan kekacauan di dalam rumah sakit ketika para dokter berusaha memberikan perawatan medis penting kepada warga Palestina yang terluka”.
“Situasinya sungguh mengerikan; semua orang di rumah sakit menderita luka kritis. Mereka menerima perawatan di lantai dasar, di semua departemen, dan semua tempat tidur melebihi kapasitasnya.”
Militer Israel berdalih dalam sebuah pernyataan bahwa mereka telah menargetkan “pusat komando dan kendali Hamas di dalam kompleks sekolah Khadija di Gaza tengah”. Pernyataan itu mengatakan sekolah itu digunakan untuk melancarkan serangan terhadap tentara dan sebagai gudang senjata dan memperingatkan warga sipil sebelum penggerebekan.
Sedangkan pihak Hamas mengatakan pembantaian di Sekolah Khadijah adalah kejahatan yang menegaskan keterasingan musuh Israel dari semua nilai kemanusiaan dan penolakannya terhadap semua hukum perang.
“Kami menyerukan komunitas internasional dan PBB untuk menghentikan kebijakan diam dan mengambil langkah-langkah untuk memaksa pendudukan menghentikan kejahatannya,” tulis mereka dalam pernyataan kemarin.
Setidaknya 39.258 orang telah syahid dan lebih dari 90.000 orang terluka dalam perang Israel di Gaza sejak Oktober, menurut para pejabat Palestina. Israel melancarkan perang setelah serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober di Israel selatan menewaskan sedikitnya 1.139 orang, berdasarkan statistik Israel, dan sekitar 250 orang ditawan.
Serangan terhadap sekolah pada hari Sabtu terjadi setelah sedikitnya 23 orang syahid dalam serangan Israel di Khan Younis di Gaza selatan, kata kementerian tersebut.
Serangan terhadap Khan Younis dilaporkan dilakukan sebelum selebaran perintah evakuasi dijatuhkan, panggilan telepon dilakukan, dan pesan teks dikirim dari militer Israel ke warga Palestina di daerah tersebut.
Sekitar 170 orang meninggal dan ratusan lainnya terluka dalam operasi Israel di Khan Younis sejak Senin, kata badan pertahanan sipil Gaza. Badan kemanusiaan PBB mengatakan pada Jumat bahwa lebih dari 180.000 orang telah mengungsi di daerah Khan Younis antara Senin dan Kamis, setelah militer Israel pada hari Senin mengeluarkan perintah evakuasi untuk beberapa bagian kota selatan, termasuk daerah yang sebelumnya ditetapkan sebagai daerah yang aman bagi kemanusiaan.
Bantah Netanyahu, Puluhan Nakes AS Sebut Korban Jiwa Gaza 90 Ribu Syuhada
Netanyahu melakukan kebohongan mengeklaim korban sipil agresinya di Gaza minimal. [1,215] url asal
#kebohongan-netanyahu #netanyahu-pembohong #genosida-di-gaza #pembantaian-di-gaza #kekejaman-israel #korban-genosida
(Republika - News) 27/07/24 06:51
v/12268358/
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Sekitar 45 dokter dan perawat yang menjadi sukarelawan di Gaza telah menulis surat yang ditujukan kepada pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden AS Joe Biden. Surat yang dilayangkan pada Kamis itu menyatakan bahwa Israel merenggut nyawa lebih dari 90.000 warga Palestina selama genosida yang sedang berlangsung di Jalur Gaza.
Israel juga dilaporkan melakukan kejahatan perang dan kejahatan penjajahan yang melanggar hukum humaniter internasional. Empat puluh lima relawan kesehatan tersebut termasuk ahli bedah, dokter ruang gawat darurat, dan perawat dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan lembaga bantuan lainnya yang baru-baru ini bekerja di rumah sakit di Jalur Gaza.
“Kemungkinan besar jumlah korban jiwa akibat konflik ini sudah lebih dari 92.000 orang, atau setara dengan 4,2 persen dari populasi Gaza,” tulis para petugas medis dilansir the Guardian, kemarin. Mereka mengklaim bahwa jumlah korban jiwa sebenarnya jauh lebih tinggi daripada angka yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan Palestina, yang menunjukkan lebih dari 39.000 orang telah syahid.
Angka yang dilansir pihak Palestina tersebut adalah kematian yang terdokumentasi secara terperinci seturut nomor kependudukan. Mereka mengakui masih banyak yang belum teridentifikasi serta tertimbun di reruntuhan.
Perkiraan para tenaga medis itu juga menyangkal klaim Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di hadapan Kongres AS pada 25 Juli lalu, bahwa tak ada korban sipil di Gaza. Sejauh ini, militer Israel mengeklaim telah menewaskan 14 ribu pejuang Palestina tanpa menyertakan bukti-bukti pendukung yang kuat. Namun dengan jumlah itu itupun, merujuk catatan Kementerian KEsehatan Palestina, lebih dari separuh yang syahid adalah warga sipil. Sementara merujuk perkiraan para tenaga medis, sekitar 78 ribu warga sipil syahid di Gaza jika dikurangi klaim Israel soal pejuang yang terbunuh.
“Presiden Biden dan Wakil Presiden Harris, solusi apapun terhadap masalah ini harus dimulai dengan gencatan senjata segera dan permanen,” kata surat setebal delapan halaman itu. Mereka juga menuntut Amerika Serikat memberlakukan embargo senjata terhadap rezim pendudukan, serta menarik hubungan diplomatiknya, dukungan ekonomi, dan militer sampai gencatan senjata diterapkan.
“Kemungkinan besar jumlah korban jiwa akibat konflik ini sudah lebih dari 92.000 orang, atau setara dengan 4,2 persen dari populasi Gaza,” tulis para petugas medis. Mereka mengklaim bahwa jumlah korban jiwa sebenarnya jauh lebih tinggi daripada angka yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan Palestina, yang menunjukkan lebih dari 39.000 orang telah syahid.
“Dengan sedikit pengecualian, semua orang di Gaza sakit, terluka, atau keduanya,” kata petugas medis, mengacu pada pekerja bantuan nasional, relawan internasional, dan warga sipil.
Mereka juga bersaksi bahwa penembak jitu Israel dengan sengaja menargetkan warga sipil, kata para relawan kesehatan kepada the Guardian, menekankan dalam surat mereka bahwa mayoritas warga Palestina adalah perempuan dan anak-anak.
“Kami tidak bisa melupakan adegan kekejaman tak tertahankan yang ditujukan terhadap perempuan dan anak-anak yang kita saksikan sendiri,” tambah mereka dalam surat tersebut.
Pelanggaran hukum humaniter internasional yang dilakukan Israel juga digambarkan dalam surat tersebut. Mereka memperingatkan bahwa “epidemi sedang berkecamuk di Gaza” karena terus-menerus mengungsinya warga sipil yang kekurangan gizi dan sakit, serta kekurangan air bersih dan sanitasi.
Para penandatangan layanan kesehatan menggambarkan rekan-rekan Palestina mereka sebagai “orang yang paling mengalami trauma di Gaza, dan mungkin di seluruh dunia,” karena komitmen mereka untuk terus bekerja meski kehilangan anggota keluarga dan rumah, seraya menyoroti bahwa mereka sering bekerja berjam-jam tanpa bayaran dan kekurangan gizi.
“Israel telah menargetkan rekan-rekan kami di Gaza untuk dibunuh, dihilangkan, dan disiksa,” kata mereka. “Tindakan tidak masuk akal ini sepenuhnya bertentangan dengan hukum Amerika, nilai-nilai Amerika, dan hukum kemanusiaan internasional.” Israel juga disebut secara langsung menargetkan dan dengan sengaja menghancurkan seluruh sistem layanan kesehatan di Gaza.
Ahli bedah trauma dan perawatan kritis Feroze Sidhwa mengatakan dia "belum pernah melihat cedera yang begitu mengerikan, dalam skala besar, dan dengan sumber daya yang sangat sedikit." Praktisi medis yang bekerja di bangsal bersalin menggambarkan kejadian lahir mati dan kematian ibu yang biasa terjadi, yang sebenarnya bisa dicegah dalam keadaan normal.
Seorang praktisi perawat anak menceritakan pengalaman sehari-harinya menyaksikan bayi-bayi sehat meninggal karena kelaparan akibat ketidakmampuan ibu mereka untuk menyusui karena kekurangan gizi, dan kurangnya susu formula dan air bersih.
“Kami berharap Anda dapat mendengar tangisan dan jeritan hati nurani kami yang tidak akan kami lupakan. Kami tidak percaya bahwa ada orang yang akan terus mempersenjatai negara yang dengan sengaja membunuh anak-anak ini setelah melihat apa yang telah kami lihat,” kata surat itu.
Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Kamala Harris pada hari Kamis mengatakan dia mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk segera mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas. Kandidat calon presiden terkuat dari Partai Demokrat itu juga menyoroti penderitaan di Jalur Gaza akibat serangan Israel dalam pertemuan pada Kamis (25/7/2024) waktu AS.
"Apa yang terjadi di Gaza selama sembilan bulan terakhir sungguh menyedihkan. Gambaran anak-anak yang meninggal dan orang-orang yang putus asa dan kelaparan yang melarikan diri demi keselamatan, terkadang mengungsi untuk kedua, ketiga, atau keempat kalinya,” kata Harris selepas pertemuan dengan Netanyahu kemarin. “Kita tidak bisa mengabaikan tragedi ini. Kita tidak bisa membiarkan diri kita mati rasa terhadap penderitaan ini. Dan saya tidak akan diam,” ujarnya dilansir the Associated Press.
Harris mengatakan dia melakukan percakapan yang “terus terang dan konstruktif” dengan Netanyahu di mana dia menegaskan hak Israel untuk membela diri tetapi juga menyatakan keprihatinan mendalam tentang tingginya angka kematian di Gaza selama sembilan bulan perang dan situasi kemanusiaan yang “mengerikan” di sana.
Amerika Serikat sedianya punya banyak kesempatan mendesak Israel menghentikan agresi ke Gaza saat korban jiwa tak sebanyak sekarang. Namun, negara itu memveto tiga resolusi gencatatan senjata di Dewan keamanan PBB, memberikan lampu hijau bagi Israel untuk meneruskan genosida di Gaza.
Desakan Harris juga muncul di tengah sorotan atas peran AS dalam genosida di Gaza. The New York Times melaporkan pada Kamis, mengutip data dari analisis yang diterbitkan oleh Institut Yahudi untuk Keamanan Nasional Amerika, bahwa AS telah mengirimkan persenjataan dalam jumlah besar kepada Israel sejak 7 Oktober.
Pengiriman tersebut mencakup lebih dari 20.000 bom terarah, sekitar 2.600 bom terpandu, dan 3.000 rudal presisi. AS juga menyediakan pesawat, amunisi, dan sistem pertahanan udara. Banyak dari transfer ini dirahasiakan atau sebagian dirahasiakan, catat laporan tersebut.
Sebuah analisis yang dilakukan oleh Yayasan Pertahanan Demokrasi pada musim semi menemukan bahwa senjata yang dipasok hingga bulan Maret merupakan “senjata dalam jumlah besar dan beragam,” yang sangat penting dalam mendukung aparat keamanan “Israel”.
Harris mengulangi pesan lama Presiden Joe Biden bahwa sudah waktunya untuk mengakhiri perang brutal di Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 39.000 warga Palestina. Namun dia menyampaikan nada yang lebih tegas mengenai urgensi momen tersebut hanya satu hari setelah Netanyahu memberikan pidato berapi-api di depan Kongres di mana dia membela perang tersebut, bersumpah “kemenangan total” melawan Hamas dan hanya sedikit menyebutkan perundingan gencatan senjata.
“Ada harapan dalam perundingan untuk mencapai kesepakatan mengenai gencatan senjata,” kata Harris kepada wartawan tak lama setelah pertemuan dengan Netanyahu. “Dan seperti yang baru saja saya katakan kepada Perdana Menteri Netanyahu, inilah saatnya untuk menyelesaikan kesepakatan ini.”
Netanyahu bertemu secara terpisah pada hari sebelumnya dengan Biden, yang juga menyerukan Israel dan Hamas untuk mencapai kesepakatan mengenai kesepakatan tiga fase yang didukung AS untuk memulangkan sandera yang tersisa dan melakukan gencatan senjata yang diperpanjang.
Harris mengatakan setelah pertemuannya dengan Netanyahu bahwa perang Israel di Gaza lebih rumit daripada sekadar mendukung satu pihak atau pihak lain. “Terlalu sering, percakapannya bersifat pertentangan satu sama lain padahal kenyataannya tidak demikian,” kata Harris. Harris juga mengutuk kebrutalan Hamas.
Sekolah Penuh Pengungsi Terus jadi Target Pemboman Israel
Enam sekolah dibom Israel dalam 10 hari terakhir, 23 syahid dalam pemboman terkini. [678] url asal
#genosida-di-gaza #pembantaian-di-gaza #sekolah-palestina-dibom #israel-bom-sekolah #sekolah-di-gaza
(Republika - News) 17/07/24 05:37
v/11032829/
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Untuk yang keenam kalinya dalam 10 hari terakhir, sekolah-sekolah berisi pengungsi di Jalur Gaza kembali dibom tentara penjajahan Israel. Kali ini, sekolah di Nuseirat di Kota Gaza jadi sasaran, mengakibatkan 23 orang syahid.
Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, jumlah korban luka mencapai 73 orang dalam pemboman terhadap Sekolah UNRWA Al-Razi di kamp tersebut.
Rekaman video yang diverifikasi oleh lembaga pengecekan fakta Aljazirah, Sanad, memperlihatkan seorang pemuda membawa sisa-sisa roket yang menargetkan sekolah itu. Dia mengatakan bahwa pengungsi Palestina dibunuh oleh Israel dengan rudal Amerika.
“Kami melihat anak-anak dipenggal dan orang-orang menjadi mayat dan bagian tubuh lainnya di dalam sekolah, dan saya tidak dapat menggambarkan pemandangan mengerikan dari pemboman tersebut,” katanya dilansir Aljazirah.
Rekaman tersebut mendokumentasikan kerusakan dan potongan tubuh berserakan di halaman sekolah yang dipenuhi pengungsi. Terjadi kekacauan di dalam Rumah Sakit Nasser di Khan Younis setelah kedatangan sejumlah besar orang yang terluka parah dari sekolah itu.
Serangan Israel terhadap sekolah menengah Al-Razi di jantung kamp – sebuah daerah yang sibuk – terjadi pada jam-jam ketika jalan-jalan di sekitar sekolah penuh dengan orang. Beberapa hari terakhir telah terjadi serangan langsung dan disengaja terhadap enam sekolah Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di Gaza.
Sekolah-sekolah itui adalah ruang belajar yang diubah menjadi tempat penampungan dan pusat evakuasi bagi ratusan ribu pengungsi Palestina dari Gaza utara, Kota Gaza, dan yang terbaru, dari Rafah dan Mawasi.
Hampir tujuh dari 10 sekolah yang dikelola UNRWA telah dibom di Gaza sejak awal perang, menurut badan PBB untuk Palestina.
“Lebih dari 95 persen sekolah-sekolah ini digunakan sebagai tempat berlindung ketika terjadi bencana. 539 orang yang berlindung di fasilitas UNRWA telah terbunuh,” kata UNRWA di X. “Tidak ada tempat yang aman. Pengabaian terang-terangan terhadap premis-premis PBB dan hukum kemanusiaan harus dihentikan.”
Dalam laporan situasi rutinnya, UNRWA mengatakan setidaknya 539 pengungsi Palestina telah terbunuh di fasilitas mereka di Gaza sejak 7 Oktober. Jumlah tersebut hanya berlaku hingga 14 Juli, jadi belum termasuk pembunuhan 23 orang di Sekolah Al-Razi UNRWA di Nuseirat kemarin. UNRWA mengatakan setidaknya 1.708 orang terluka di fasilitasnya selama periode tersebut.
Hamas telah mengeluarkan pernyataan yang mengecam “pemboman yang disengaja oleh Israel terhadap pengungsi di Sekolah al-Razi UNRWA di kamp Nuseirat, dan daerah Al-Mawasi di sebelah barat kota Khan Younis, yang dinyatakan sebagai daerah aman”.
“Ini adalah tindakan brutal dan memalukan yang merupakan luka bagi kemanusiaan,” kata kelompok tersebut, seraya menegaskan kembali bahwa pemerintahan Biden di AS adalah mitra sekutu setianya Israel, “yang terus melakukan genosida” di Gaza.
“Pemerintahan AS, yang dipimpin oleh Presiden Biden, memikul tanggung jawab penuh atas pembunuhan sistematis terhadap rakyat kami, dengan dukungan politik dan militernya yang berkelanjutan terhadap pendudukan dan tentaranya, dan karena hambatannya terhadap keadilan internasional dalam mengejar penjahat perang Israel.”
Kelompok bantuan Inggris Save the Children menyebut serangan baru-baru ini terhadap sekolah dan rumah sakit di Gaza sebagai serangan yang “mengerikan”.
“Sistem layanan kesehatan dan pendidikan sedang dihancurkan di depan mata kita,” katanya di X, menyerukan gencatan senjata. “Anak-anak tidak bisa terus-menerus menjadi garda depan dalam konflik ini. Rumah sakit dan sekolah tidak boleh menjadi sasaran.”
Serangan udara Israel pada Selasa juga terjadi di dekat sebuah SPBU di Mawasi, wilayah pesisir selatan yang merupakan bagian dari “zona aman” kemanusiaan tempat militer Israel memerintahkan warga Palestina untuk berlindung. Para pejabat di Rumah Sakit Nasser di dekat Khan Younis mengatakan 17 orang syahid. Daerah di dekatnya dipenuhi dengan tenda-tenda yang menampung ribuan warga Palestina.
Kantor berita WAFA melaporkan, pasukan pendudukan Israel melakukan dua pembantaiandi Jalur Gaza selama 24 jam terakhir, yang mengakibatkan terbunuhnya sedikitnya 49 warga Palestina. Otoritas kesehatan setempat mengkonfirmasi bahwa jumlah syuhada warga Palestina akibat serangan Israel sejak 7 Oktober telah meningkat menjadi 38.713 korban jiwa, dengan tambahan 89.166 orang menderita luka-luka. Mayoritas korbannya adalah perempuan dan anak-anak.
Tim ambulans dan penyelamat masih belum dapat menjangkau banyak korban dan mayat yang terperangkap di bawah reruntuhan atau tersebar di jalan-jalan di daerah kantong yang dilanda perang, karena pasukan pendudukan Israel terus menghalangi pergerakan kru ambulans dan pertahanan sipil.
Israel Terus Bom Sekolah Penuh Pengungsi di Gaza
Ini kelima kali Israel serang sekolahan dalam dua pekan belakangan. [480] url asal
#gaza #pembantaian-di-gaza #genosida-di-gaza #pemboman-gaza #sekolah-dibom #israel-bom-sekolah
(Republika - News) 15/07/24 05:37
v/10814349/
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Kebiadaban pasukan penjajah Israel (IDF) seperti tak ada habisnya. Mereka terus melakukan pembantaian dengan mengebom sekolah-sekolah yang dipakai warga Gaza mengungsi. Dalam pengeboman terkini, sedikitnya 17 syahid, kebanyakan anak-anak dan perempuan.
Kantor berita WAFA melansir, pada Ahad 17 warga Palestina syahid dan puluhan lainnya luka-luka, dalam pemboman Israel terhadap sebuah sekolah yang menampung pengungsi di kamp Nuseirat di Jalur Gaza tengah.
Sumber-sumber lokal melaporkan bahwa pesawat-pesawat tempur pendudukan membom Sekolah Abu Oreiban, yang berafiliasi dengan Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). Sekolah itu menampung sejumlah besar pengungsi di kamp Nuseirat.
Ini adalah yang kesekian kalinya sekolah penuh pengungsi dibom Israel. Sebelumnya, Puluhan warga Palestina syahid dalam serangan Israel yang menghantam sebuah sekolah yang menampung keluarga-keluarga di kota Khan Younis, Gaza selatan pada Selasa malam pekan lalu.
Aljazirah mengutip sumber medis lokal mengatakan jet tempur Israel menargetkan pintu masuk sekolah al-Awda di kota Abasan al-Kabira, sebelah timur Khan Younis. Beberapa orang lainnya juga terluka. Kantor Media Pemerintah Gaza mengatakan setidaknya 29 warga Palestina syahid dalam serangan itu, sebagian besar perempuan dan anak-anak.
Pada Sabtu, serangan Israel menghantam sekolah al-Jawni yang dikelola PBB di Nuseirat, Gaza tengah, menewaskan 16 orang, menurut kementerian kesehatan wilayah tersebut. Badan PBB untuk Pengungsi Palestina, UNRWA, mengatakan ada 2.000 orang yang berlindung di sana saat itu.
Keesokan harinya, serangan terhadap sekolah Keluarga Kudus yang dikelola gereja di Kota Gaza menewaskan empat orang, menurut badan pertahanan sipil. Patriarkat Latin, pemilik sekolah tersebut, mengatakan ratusan orang memadati halaman tersebut.
Sekolah lain yang dikelola UNRWA di Nuseirat juga diserang pada Senin, dan rumah sakit setempat mengatakan beberapa orang telah dibawa untuk mendapatkan perawatan. Menurut UNRWA, lebih dari 500 orang telah syahid di sekolah-sekolah dan tempat penampungan lain yang dikelolanya di Gaza sejak perang dimulai pada 7 Oktober.
WAFA juga melansir, semalam sejumlah warga sipil syahid dan lainnya terluka ketika pasukan Israel melakukan serangan udara di beberapa wilayah di Jalur Gaza. Pesawat tak berawak Israel menargetkan warga sipil di daerah Bir Abu Salah di kota Zawaida, Gaza tengah, yang mengakibatkan terbunuhnya satu warga sipil dan cedera pada lainnya.
Selain itu, satu warga sipil syahid dan beberapa lainnya terluka menyusul pemboman Israel di wilayah Mashrua di timur kota Rafah di Jalur Gaza selatan. Pesawat Israel juga menargetkan rumah warga sipil di utara Kamp Nuseirat, yang mengakibatkan korban jiwa dan cedera.
Selanjutnya, pesawat tempur Israel mengebom sebuah rumah di kota Bani Suhaila di sebelah timur Khan Younis, di selatan Jalur Gaza. Pada saat yang sama, sebuah pesawat tak berawak menembakkan peluru tajam ke arah warga sipil di sebelah timur lingkungan Zaytoun di Kota Gaza.
Agresi Israel yang sedang berlangsung di Gaza sejak Oktober 2023 sejauh ini telah mengakibatkan 38.584 korban jiwa warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta 88.881 orang luka-luka, dan ribuan orang masih terjebak di bawah reruntuhan.
Pembantaian 90 Warga di Zona Aman Al-Mawasi Gunakan Bom Pintar Buatan AS
Bom AS bunuh puluhan wanita dan anak-anak. [406] url asal
#pembantaian-di-gaza #pembantaian-di-almawasi #israel-bantai-warga-gaza #bom-pintar-as #bom-pintar-amerika #amerika-buat-bom-pintar #jalur-gaza #israel-bom-zona-aman #israel-bom-almawasi #almawasi-dibo
(Republika - Khazanah) 14/07/24 15:02
v/10754282/
REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Situs berita Israel, Maariv, melaporkan pada Sabtu (13/7/2024), bom yang digunakan oleh pasukan Israel dalam pembantaian al-Mawasi adalah bom JDAM buatan Amerika Serikat.
Dikenal karena ketepatan dan kemampuan penargetannya yang canggih, JDAM adalah perangkat yang dipasang pada bom seri Mark 80, yang membuat bom menjadi amunisi presisi. Dipandu oleh laser dan/atau GPS, bom tersebut menggabungkan kecerdasan buatan dan teknologi sensor canggih yang diproduksi oleh AS dan Israel, lapor Al-Mayadeen.
Radio Angkatan Darat Israel melaporkan bahwa Angkatan Udara Israel menjatuhkan total 8 bom berpemandu JDAM selama pembantaian tersebut, yang mengakibatkan 390 orang Palestina terbunuh atau terluka.
Maariv mengutip Rotem Meital, direktur perusahaan teknologi militer Israel, Asgard, yang mengatakan bahwa bom-bom ini sebelumnya menjadi pusat perselisihan dengan pemerintah AS. Beberapa bulan yang lalu, bom-bom ini menjadi penyebab kontroversi serius dalam dilema pengiriman persenjataan militer AS, kata Meital.
Perkiraan terbaru dari Kementerian Kesehatan Gaza mengungkapkan bahwa jumlah korban tewas di kamp al-Mawasi, yang disebut sebagai zona aman yang ditetapkan, telah meningkat menjadi 90 orang.
Menurut Kementerian Kesehatan di Gaza, setengah dari korban tewas adalah perempuan dan anak-anak. Setidaknya 300 orang mengalami luka-luka, banyak di antaranya dalam kondisi "kritis".
Setelah pembantaian tersebut terjadi, Israel mengklaim telah membunuh seorang komandan tinggi Hamas di daerah tersebut. Mereka pUN menarik kembali pernyataan ini setelah sumber-sumber di dalam Perlawanan mengkonfirmasi bahwa Komandan Muhammad al-Deif masih hidup dan sehat.
Dalam sebuah pernyataan, pihak perlawanan mengklarifikasi bahwa tujuan dari tuduhan "Israel" adalah untuk menutupi pembantaian mengerikan yang dilakukan oleh pendudukan Israel di Khan Younis.
Pemimpin Hamas Sami Abu Zuhri mengkonfirmasi kepada Reuters sebelumnya bahwa laporan yang disiarkan oleh Radio Angkatan Darat penjajah Israel, yang menyatakan bahwa serangan di Khan Younis menargetkan komandan umum Brigade al-Qassam, adalah tidak masuk akal.
Dia lebih lanjut mencatat bahwa semua martir adalah warga sipil. Dia menekankan bahwa apa yang terjadi adalah eskalasi genosida yang berbahaya di tengah dukungan Amerika dan bisunya dunia global. Lebih lanjut, dia mencatat bahwa pembantaian itu adalah pesan praktis dari penjajah yang menunjukkan bahwa mereka "tidak tertarik dengan kesepakatan apa pun."
Terlepas dari laporan media tentang ketidaksepakatan antara "Israel" dan AS mengenai pasokan senjata, Washington terus menyediakan senjata dalam jumlah besar untuk rezim tersebut.
AS telah menyatakan komitmennya terhadap perlindungan warga sipil di Gaza dan telah mendesak "Israel" untuk meminimalkan korban sipil, namun citra domestik dan internasionalnya memburuk karena peran pentingnya dalam melanjutkan perang dan gagal mencapai gencatan senjata.
Israel Kembali Bantai Warga Gaza di Zona Pengungsian, 90 Orang Syahid
Israel menyerang wilayah Al-Mawasi, tempat yang mereka sebut aman bagi warga Gaza. [847] url asal
#genosida-di-gaza #pembantaian-di-gaza #pemboman-mawasi #pengungsi-gaza #kebiadaban-israel
(Republika - News) 13/07/24 21:13
v/10710468/
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Sedikitnya 90 warga Palestina syahid dalam pembantaian brutal terbaru pasukan penjajahan Israel (IDF) di wilayah Al-Mawasi di selatan Jalur Gaza. Lebih dari 300 orang terluka, banyak di antaranya berada dalam kondisi kritis, menurut sumber medis setempat.
Al-Mawasi telah ditetapkan sebagai zona kemanusiaan yang aman oleh tentara Israel. IDF berulang kali mendesak warga Palestina di seluruh Jalur Gaza untuk pindah ke wilayah tersebut. Mereka mengklaim bahwa wilayah tersebut adalah tempat yang aman sejak serangan dimulai Oktober 2023.
Namun sekitar pukul 10.30 pagi, Sabtu (13/7/2024), pesawat tempur Israel melancarkan sejumlah serangan udara besar-besaran yang menargetkan daerah yang sudah dipadati pengungsi tersebut.
Kantor berita WAFA melansir, serangan tersebut mengakibatkan terbunuhnya puluhan warga sipil yang kemudian diangkut ke Kompleks Medis Nasser, dan lebih dari 100 lainnya terluka, beberapa di antaranya kritis.
Laporan menunjukkan bahwa militer Israel melakukan pembantaian besar-besaran dengan menembaki kamp pengungsi di wilayah tersebut, yang mengakibatkan ratusan korban jiwa, termasuk anggota pertahanan sipil. Tim penyelamat terus mengevakuasi puluhan korban dari lokasi pengeboman.
Otoritas kesehatan setempat memperingatkan bahwa rumah sakit di wilayah tersebut tidak mampu menampung sejumlah besar korban jiwa. Hal ini diperburuk dengan penghancuran infrastruktur kesehatan Gaza oleh pasukan pendudukan Israel.
Rekaman Reuters menunjukkan ambulans melaju menuju daerah tersebut di tengah kepulan asap dan debu. Pengungsi, termasuk perempuan dan anak-anak, melarikan diri dengan panik, beberapa di antaranya memegang barang-barang di tangan mereka.
Para saksi mata mengatakan serangan itu terjadi secara mengejutkan karena kawasan tersebut tenang dan menambahkan lebih dari satu rudal telah ditembakkan. Beberapa korban luka yang dievakuasi adalah petugas penyelamat, kata mereka.
"Mereka semua hilang, seluruh keluargaku hilang.. di mana saudara-saudaraku? Mereka semua pergi, mereka semua hilang. Tidak ada yang tersisa," kata seorang perempuan yang menangis, yang tidak menyebutkan namanya. “Anak-anak kami tercerai-berai, mereka tercerai-berai. Kalian tak punya malu!” tambahnya.
Israel mengatakan menargetkan panglima militer Hamas Mohammed Deif dan Rafa Salama, komandan Brigade Khan Younis Hamas dalam serangan itu. IDF menggambarkan mereka sebagai dua dalang serangan 7 Oktober.
Hamas menyangkal klaim tersebut. Mereka menekankan bahwa narasi Israel adalah kebohongan untuk membenarkan serangan mematikan mereka. “Semua korban adalah warga sipil dan apa yang terjadi adalah peningkatan besar dalam perang genosida, yang didukung oleh dukungan Amerika dan keheningan dunia,” kata pejabat Hamas Sami Abu Zuhri kepada Reuters.
Ia menambahkan bahwa serangan tersebut menunjukkan Israel tidak tertarik untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata. Secara terpisah, setidaknya 10 warga Palestina syahid dalam serangan Israel terhadap mushalla di kamp Gaza untuk pengungsi di sebelah barat Kota Gaza, kata pejabat kesehatan Palestina.
Deif sebelumnya selamat dari tujuh upaya pembunuhan Israel, yang terbaru pada tahun 2021 dan menduduki puncak daftar paling dicari Israel selama beberapa dekade. Ia dianggap bertanggung jawab atas kematian puluhan warga Israel dalam bom bunuh diri. Pada Maret, Israel mengatakan pihaknya membunuh wakil Deif, Marwan Issa. Hamas sejak itu tidak membenarkan atau membantah kematiannya.
Agresi Israel yang sedang berlangsung di Gaza sejak Oktober tahun lalu sejauh ini telah mengakibatkan 38.345 korban jiwa warga Palestina, dan 88.295 orang lainnya terluka. Ribuan lainnya dikhawatirkan terjebak di bawah reruntuhan dan di jalanan, tidak dapat diakses oleh tim penyelamat dan ambulans.
Mohammed al-Mughair, anggota organisasi penyelamat Gaza, mengatakan kepada Aljazirah bahwa tentara Israel menyerang kru yang sedang dalam perjalanan untuk membantu korban serangan al-Mawasi, yang telah menewaskan sedikitnya 71 orang dan melukai ratusan lainnya.
“Saat menuju lokasi kejadian, [kami] menjadi sasaran; dua kendaraan menjadi sasaran langsung dan ini menyebabkan kematian dua rekan kami. Enam lainnya terluka, tiga di antaranya luka kritis,” katanya dalam komentar yang diterjemahkan.
Menggambarkan kejadian mengerikan dari serangan tersebut, yang terjadi di “zona aman” yang ditetapkan oleh militer penjajah. Ia mengatakan bahwa pertahanan sipil sejauh ini telah memulihkan 360 orang yang tewas dan terluka. “Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak,” tambahnya.
Apakah pembunuhan rekan-rekannya akan membuatnya terdiam atau membuatnya takut saat melanjutkan pekerjaannya? “Saya tidak takut, kami tidak ragu-ragu. Kami telah menjadi sasaran lebih dari sekali. Kami akan melanjutkan pekerjaan kami, kami akan memberitahu rakyat Palestina bahwa kami melakukan yang terbaik, dan kami memberi tahu keluarga kami ketika kami pergi bekerja bahwa kami mungkin tidak akan pernah kembali lagi,” kata al-Mughair.
Serangan terhadap al-Mawasi, yang diklaim Israel bertujuan untuk membunuh pejabat senior Hamas Mohammed Deif, bukanlah yang pertama di mana pasukan Israel menargetkan dan membunuh puluhan warga sipil Palestina untuk mencapai tujuan militer.
Bulan lalu, pasukan Israel membunuh sedikitnya 274 warga Palestina dalam operasi untuk membebaskan empat tawanan Israel di kamp pengungsi Nuseirat di Gaza tengah. Pihak berwenang di Jalur Gaza mengatakan sekitar 700 orang lainnya terluka dalam “serangan brutal yang belum pernah terjadi sebelumnya”, beberapa di antaranya berada dalam kondisi kritis.
Kenneth Roth, mantan direktur eksekutif Human Rights Watch dan profesor tamu di Universitas Princeton, mengatakan kepada Aljazirah bahwa operasi siang hari berarti “beberapa bom jelas-jelas jatuh di atau tepat di dekat pasar di Nuseirat yang dipenuhi orang”.
“Dan dalam keadaan seperti ini, diperkirakan akan ada lebih banyak korban sipil dibandingkan jika operasi dilakukan pada malam hari. Hal ini tidak sejalan dengan kewajiban untuk mengambil semua tindakan pencegahan yang mungkin dilakukan untuk menghindari bahaya bagi warga sipil.”
Israel Kembali Bantai Warga Gaza di Zona Pengungsian, 71 Orang Syahid
Israel menyerang wilayah Al-Mawasi, tempat yang mereka sebut aman bagi warga Gaza. [847] url asal
#genosida-di-gaza #pembantaian-di-gaza #pemboman-mawasi #pengungsi-gaza #kebiadaban-israel
(Republika - News) 13/07/24 21:13
v/10674938/
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Sedikitnya 71 warga Palestina syahid dalam pembantaian brutal terbaru pasukan penjajahan Israel (IDF) di wilayah Al-Mawasi di selatan Jalur Gaza. Lebih dari 289 orang terluka, banyak di antaranya berada dalam kondisi kritis, menurut sumber medis setempat.
Al-Mawasi telah ditetapkan sebagai zona kemanusiaan yang aman oleh tentara Israel. IDF berulang kali mendesak warga Palestina di seluruh Jalur Gaza untuk pindah ke wilayah tersebut. Mereka mengklaim bahwa wilayah tersebut adalah tempat yang aman sejak serangan dimulai Oktober 2023.
Namun sekitar pukul 10.30 pagi, Sabtu (13/7/2024), pesawat tempur Israel melancarkan sejumlah serangan udara besar-besaran yang menargetkan daerah yang sudah dipadati pengungsi tersebut.
Kantor berita WAFA melansir, serangan tersebut mengakibatkan terbunuhnya puluhan warga sipil yang kemudian diangkut ke Kompleks Medis Nasser, dan lebih dari 100 lainnya terluka, beberapa di antaranya kritis.
Laporan menunjukkan bahwa militer Israel melakukan pembantaian besar-besaran dengan menembaki kamp pengungsi di wilayah tersebut, yang mengakibatkan ratusan korban jiwa, termasuk anggota pertahanan sipil. Tim penyelamat terus mengevakuasi puluhan korban dari lokasi pengeboman.
Otoritas kesehatan setempat memperingatkan bahwa rumah sakit di wilayah tersebut tidak mampu menampung sejumlah besar korban jiwa. Hal ini diperburuk dengan penghancuran infrastruktur kesehatan Gaza oleh pasukan pendudukan Israel.
Rekaman Reuters menunjukkan ambulans melaju menuju daerah tersebut di tengah kepulan asap dan debu. Pengungsi, termasuk perempuan dan anak-anak, melarikan diri dengan panik, beberapa di antaranya memegang barang-barang di tangan mereka.
Para saksi mata mengatakan serangan itu terjadi secara mengejutkan karena kawasan tersebut tenang dan menambahkan lebih dari satu rudal telah ditembakkan. Beberapa korban luka yang dievakuasi adalah petugas penyelamat, kata mereka.
"Mereka semua hilang, seluruh keluargaku hilang.. di mana saudara-saudaraku? Mereka semua pergi, mereka semua hilang. Tidak ada yang tersisa," kata seorang perempuan yang menangis, yang tidak menyebutkan namanya. “Anak-anak kami tercerai-berai, mereka tercerai-berai. Kalian tak punya malu!” tambahnya.
Israel mengatakan menargetkan panglima militer Hamas Mohammed Deif dan Rafa Salama, komandan Brigade Khan Younis Hamas dalam serangan itu. IDF menggambarkan mereka sebagai dua dalang serangan 7 Oktober.
Hamas menyangkal klaim tersebut. Mereka menekankan bahwa narasi Israel adalah kebohongan untuk membenarkan serangan mematikan mereka. “Semua korban adalah warga sipil dan apa yang terjadi adalah peningkatan besar dalam perang genosida, yang didukung oleh dukungan Amerika dan keheningan dunia,” kata pejabat Hamas Sami Abu Zuhri kepada Reuters.
Ia menambahkan bahwa serangan tersebut menunjukkan Israel tidak tertarik untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata. Secara terpisah, setidaknya 10 warga Palestina syahid dalam serangan Israel terhadap mushalla di kamp Gaza untuk pengungsi di sebelah barat Kota Gaza, kata pejabat kesehatan Palestina.
Deif sebelumnya selamat dari tujuh upaya pembunuhan Israel, yang terbaru pada tahun 2021 dan menduduki puncak daftar paling dicari Israel selama beberapa dekade. Ia dianggap bertanggung jawab atas kematian puluhan warga Israel dalam bom bunuh diri. Pada Maret, Israel mengatakan pihaknya membunuh wakil Deif, Marwan Issa. Hamas sejak itu tidak membenarkan atau membantah kematiannya.
Agresi Israel yang sedang berlangsung di Gaza sejak Oktober tahun lalu sejauh ini telah mengakibatkan 38.345 korban jiwa warga Palestina, dan 88.295 orang lainnya terluka. Ribuan lainnya dikhawatirkan terjebak di bawah reruntuhan dan di jalanan, tidak dapat diakses oleh tim penyelamat dan ambulans.
Mohammed al-Mughair, anggota organisasi penyelamat Gaza, mengatakan kepada Aljazirah bahwa tentara Israel menyerang kru yang sedang dalam perjalanan untuk membantu korban serangan al-Mawasi, yang telah menewaskan sedikitnya 71 orang dan melukai ratusan lainnya.
“Saat menuju lokasi kejadian, [kami] menjadi sasaran; dua kendaraan menjadi sasaran langsung dan ini menyebabkan kematian dua rekan kami. Enam lainnya terluka, tiga di antaranya luka kritis,” katanya dalam komentar yang diterjemahkan.
Menggambarkan kejadian mengerikan dari serangan tersebut, yang terjadi di “zona aman” yang ditetapkan oleh militer penjajah. Ia mengatakan bahwa pertahanan sipil sejauh ini telah memulihkan 360 orang yang tewas dan terluka. “Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak,” tambahnya.
Apakah pembunuhan rekan-rekannya akan membuatnya terdiam atau membuatnya takut saat melanjutkan pekerjaannya? “Saya tidak takut, kami tidak ragu-ragu. Kami telah menjadi sasaran lebih dari sekali. Kami akan melanjutkan pekerjaan kami, kami akan memberitahu rakyat Palestina bahwa kami melakukan yang terbaik, dan kami memberi tahu keluarga kami ketika kami pergi bekerja bahwa kami mungkin tidak akan pernah kembali lagi,” kata al-Mughair.
Serangan terhadap al-Mawasi, yang diklaim Israel bertujuan untuk membunuh pejabat senior Hamas Mohammed Deif, bukanlah yang pertama di mana pasukan Israel menargetkan dan membunuh puluhan warga sipil Palestina untuk mencapai tujuan militer.
Bulan lalu, pasukan Israel membunuh sedikitnya 274 warga Palestina dalam operasi untuk membebaskan empat tawanan Israel di kamp pengungsi Nuseirat di Gaza tengah. Pihak berwenang di Jalur Gaza mengatakan sekitar 700 orang lainnya terluka dalam “serangan brutal yang belum pernah terjadi sebelumnya”, beberapa di antaranya berada dalam kondisi kritis.
Kenneth Roth, mantan direktur eksekutif Human Rights Watch dan profesor tamu di Universitas Princeton, mengatakan kepada Aljazirah bahwa operasi siang hari berarti “beberapa bom jelas-jelas jatuh di atau tepat di dekat pasar di Nuseirat yang dipenuhi orang”.
“Dan dalam keadaan seperti ini, diperkirakan akan ada lebih banyak korban sipil dibandingkan jika operasi dilakukan pada malam hari. Hal ini tidak sejalan dengan kewajiban untuk mengambil semua tindakan pencegahan yang mungkin dilakukan untuk menghindari bahaya bagi warga sipil.”
60 Jenazah Ditemukan Usai Israel Tarik Tentara dari Shujaiya
Pengeboman di timur Shujaiya meningkat saat pembicaraan gencatan senjata dilakukan. [752] url asal
#jalur-gaza #perang-gaza #genosida-di-gaza #standar-ganda-barat-terhadap-gaza #shuijaya #pembantaian-di-shuijaya #perang-israel #israel-genosida #genosida-israel-di-gaza #pembantaian-di-gaza #perang-ha
(Republika - Khazanah) 12/07/24 17:37
v/10544655/
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Sekitar 60 jenazah dilaporkan ditemukan di bawah reruntuhan lingkungan Shuijaya, Kota Gaza yang terkepung, pada Kamis (11/7/2024), setelah militer Israel menyatakan diakhirinya operasinya di sana.
Badan pertahanan sipil Gaza mengatakan sekitar 60 jenazah ditemukan di bawah reruntuhan di Shujaiya. Puluhan syuhada meninggal dunia usai terjadinya pertempuran terberat di Kota Gaza dalam beberapa bulan terakhir.
Hamas mengatakan operasi Israel di sana telah menyebabkan lebih dari 300 unit pemukiman dan lebih dari 100 bisnis hancur. Mohammed Nairi, seorang warga Shujaiya, mengatakan dia dan orang lain yang kembali ke lingkungan tersebut telah menyaksikan kehancuran besar yang tidak dapat digambarkan. Semua rumah dihancurkan.
Militer Israel mengatakan pada Rabu (10/7) bahwa mereka telah menyelesaikan misinya di Shujaiya setelah dua pekan. Meski demikian, pengeboman dan pertempuran terus mengguncang Kota Gaza. Saksi mata mengatakan tank dan tentara telah bergerak ke wilayah lain di kota tersebut.
Seorang koresponden AFP melaporkan serangan udara di lingkungan Sabra. Sementara militan terlibat dalam bentrokan sengit dengan pasukan Israel di Tel Al-Hawa. Hamas melaporkan 45 serangan udara di wilayah Kota Gaza, serta di kota Rafah paling selatan di Gaza, ketika Netanyahu mengatakan fase intens perang mendekati akhir.
Meningkatnya pertempuran, pemboman dan pengungsian di distrik timur Shujaiya terjadi ketika pembicaraan diadakan di mediator Qatar menuju kesepakatan gencatan senjata dan pembebasan sandera.
Dikutip dari Arab News, Jumat (12/7/2024), Presiden AS, Joe Biden mengatakan kepada wartawan bahwa pemerintahannya membuat kemajuan menuju perjanjian gencatan senjata ketika ia menyerukan diakhirinya perang Israel-Hamas.
Pernyataannya muncul setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menuntut agar Israel tetap menguasai wilayah utama Gaza di sepanjang perbatasan dengan Mesir, suatu kondisi yang bertentangan dengan posisi Hamas yang menyatakan bahwa Israel harus menarik diri dari seluruh wilayah Gaza setelah gencatan senjata.
Kantor Netanyahu mengonfirmasi bahwa tim perundingnya, yang dipimpin oleh kepala intelijen Mossad David Barnea, telah kembali ke Israel setelah melakukan pembicaraan dengan mediator di Doha pada Kamis.
Berbicara setelah kembalinya tim tersebut, Netanyahu mengatakan Israel memerlukan kendali atas perbatasan Gaza dan Mesir di sisi Palestina untuk menghentikan senjata mencapai Hamas. Dia menambahkan bahwa Israel juga harus dibiarkan terus berperang sampai tujuan perangnya menghancurkan Hamas dan memulangkan semua sandera tercapai.
Di Washington, Biden mengakui masalah yang sulit dan kompleks masih ada antara Israel dan Hamas, namun kemajuan telah dicapai dalam mencapai kesepakatan gencatan senjata.
“Ada banyak hal yang saya harap dapat meyakinkan Israel untuk melakukan hal tersebut, namun intinya adalah kita memiliki peluang sekarang. Ini saatnya mengakhiri perang ini,” katanya setelah pertemuan puncak NATO.
The Washington Post melaporkan pada Rabu bahwa Israel dan Hamas telah menandakan penerimaan mereka terhadap rencana pemerintahan sementara yang mana keduanya tidak akan memerintah wilayah tersebut. Sementara itu, pasukan pendukung Otoritas Palestina yang dilatih AS akan memberikan keamanan.
Pentagon juga mengumumkan akan segera mengakhiri secara permanen upaya pengiriman bantuan ke Gaza melalui laut dari Siprus menggunakan dermaga sementara yang telah berulang kali rusak karena kondisi cuaca.
Sementara itu, badan kesehatan PBB mengatakan bahwa hanya lima truk yang membawa pasokan medis diizinkan masuk ke Gaza pada pekan lalu.“Lebih dari 34 truk kami menunggu di persimpangan Al Arish, dan 850 palet perbekalan medis sedang menunggu diambil. 40 truk lainnya menunggu di Ismailiya di Mesir,” kata Ketua WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus pada Jumat di platform media sosial X.
Serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 di Israel selatan yang memicu perang mengakibatkan kematian 1.195 orang, sebagian besar warga sipil, menurut penghitungan AFP berdasarkan angka Israel.
Para militan juga menyandera, 116 orang di antaranya masih berada di Gaza, termasuk 42 orang yang menurut militer tewas.Israel membalasnya dengan serangan militer yang telah mewafatkan sedikitnya 38.345 orang di Gaza, sebagian besar juga warga sipil, menurut angka dari kementerian kesehatan Gaza.
Tentara Israel pada Rabu menjatuhkan selebaran yang memperingatkan semua orang di Kota Gaza bahwa kota itu akan tetap menjadi zona pertempuran yang berbahaya.
Selebaran tersebut mendesak warga untuk mengungsi, dan menetapkan rute pelarian yang ditentukan dari daerah di mana menurut kantor kemanusiaan PBB terdapat 350.000 orang yang berlindung.
PBB mengatakan evakuasi terbaru hanya akan menambah penderitaan massal bagi keluarga Palestina, yang banyak di antara mereka telah mengungsi berkali-kali, dan yang menghadapi tingkat kebutuhan yang kritis.
Pejabat Hamas, Hossam Badran mengatakan bahwa Israel berharap perlawanan akan melepaskan tuntutan sahnya dalam negosiasi gencatan senjata."Namun pembantaian yang terus berlanjut memaksa kami untuk mematuhi tuntutan kami,” katanya.
Militer Israel mengatakan operasi juga berlanjut di wilayah Rafah di mana puluhan militan terbunuh dalam satu hari terakhir. Militer Israel mengatakan pihaknya membalas dengan serangan udara dan darat setelah lima roket ditembakkan dari daerah tersebut menuju Israel pada Kamis.
Sekeluarga Ditembaki Tentara Israel, Bayi Tiga Bulan Jadi Penyintas Tunggal
Bayi tersebut bertahan di pangkuan ibunya yang syahid ditembak tentara Israel. [401] url asal
#genosida-di-gaza #pembantaian-di-gaza #bayi-gaza #bombardir-israel #kekejaman-israel
(Republika - News) 10/07/24 19:23
v/10334930/
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Seorang bayi perempuan berusia tiga bulan dilaporkan jadi penyintas tunggal setelah rumahnya dibombardir Israel di Kota Gaza. Seluruh keluarga langsungnya syahid dalam serangan tersebut.
Asmaa Ajour, nama anak tersebut terbaring di Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza utara setelah pasukan Israel membunuh semua anggota keluarga dekatnya di Kota Gaza.
Neneknya Um Ramzi Qwaider menceritakan kepada Aljazirah bahwa keluarga Asmaa pindah dari lingkungan Tuffah di timur Kota Gaza beberapa hari yang lalu karena penembakan Israel dan perintah evakuasi.
Keluarga tersebut pindah ke lingkungan Sina'a di bagian barat Kota Gaza, namun operasi militer Israel tiba-tiba meluas dalam semalam dan daerah tersebut diserang. “Mereka menjadi sasaran penembakan Israel, dan ibu, ayah, saudara perempuan, sepupu dan paman [Asmaa] dibunuh,” kata Qwaider.
Dia menambahkan bahwa Asmaa tetap berada di pangkuan ibunya yang meninggal selama 12 jam sampai kakeknya berhasil menyelamatkannya ketika pasukan Israel menembakkan peluru selama berjam-jam.
“Saya tidak tahu bagaimana anak yatim piatu ini bisa hidup di usia sebegini tanpa ayah dan ibu. Saya tidak tahu bagaimana kehidupannya nantinya. Saya tidak tahu bagaimana dia akan sendirian di dunia ini,” kata Qwaider.
Selama tiga hari terakhir, masyarakat telah meminta melalui media sosial agar pihak berwenang di Gaza melakukan intervensi dan menemukan sembilan jenazah keluarga Ajour yang masih tergeletak di lokasi kejadian.
Sementara, kantor berita resmi Palestina WAFA kemarin mengkonfirmasi pembunuhan delapan warga Palestina, termasuk enam anak-anak, dan cederanya puluhan lainnya, termasuk wanita, akibat serangan udara Israel terhadap rumah-rumah di kamp Nuseirat. Toko-toko komersial dan bangunan tempat tinggal di daerah Al-Maghraqa di Gaza tengah juga menjadi sasaran pesawat Israel.
Di Gaza selatan, di kota Bani Suhaila dekat Khan Yunis, dua warga Palestina syahid dan lainnya terluka akibat penembakan Israel terhadap sebuah rumah tempat tinggal.
Sehari sebelumnya, pasukan penjajah Israel melakukan empat pembantaian terhadap keluarga di Jalur Gaza selama 24 jam terakhir, yang mengakibatkan terbunuhnya sedikitnya 52 warga Palestina dan melukai 208 lainnya, menurut sumber medis.
Otoritas kesehatan setempat mengkonfirmasi bahwa jumlah korban jiwa warga Palestina akibat serangan Israel sejak 7 Oktober telah meningkat menjadi 38.295 korban jiwa, dengan tambahan 88.241 orang menderita luka-luka. Mayoritas korbannya adalah perempuan dan anak-anak.
Sementara itu, tim ambulans dan penyelamat masih belum dapat menjangkau banyak korban dan mayat yang terperangkap di bawah reruntuhan atau tersebar di jalan-jalan di daerah kantong yang dilanda perang tersebut, karena pasukan pendudukan Israel terus menghalangi pergerakan kru ambulans dan pertahanan sipil.
Biadab, Israel Kembali Bom Sekolah Tempat Mengungsi di Gaza, Puluhan Syahid
Ini keempatkalinya Israel membom sekolah tempat mengungsi pada empat hari belakangan. [715] url asal
#genosida-di-gaza #pembantaian-di-gaza #kekejaman-israel #israel-bom-sekolah #israel-bom-pengungsi
(Republika - News) 10/07/24 05:21
v/10266470/
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Puluhan warga Palestina syahid dalam serangan Israel yang menghantam sebuah sekolah yang menampung keluarga-keluarga di kota Khan Younis, Gaza selatan pada Selasa malam. Ini adalah kali keempat pasukan penjajahan Israel (IDF) mengebom sekolah yang dijadikan tempat mengungsi warga Gaza.
Aljazirah mengutip sumber medis lokal mengatakan jet tempur Israel menargetkan pintu masuk sekolah al-Awda di kota Abasan al-Kabira, sebelah timur Khan Younis. Beberapa orang lainnya juga terluka.
Kantor Media Pemerintah Gaza mengatakan setidaknya 29 warga Palestina syahid dalam serangan itu, sebagian besar perempuan dan anak-anak. “Pembantaian terbaru terjadi setelah tentara pendudukan menyerang enam kamp pengungsian lainnya di wilayah tengah Gaza, sehingga menambah total korban jiawa menjadi setidaknya 60 orang dalam beberapa jam terakhir,” kata kantor media dalam sebuah pernyataan. Serangan itu juga terjadi ketika sektor layanan kesehatan di Gaza terus runtuh karena pasukan Israel memaksa beberapa rumah sakit untuk menghentikan layanannya, tambahnya.
Pasukan Israel mengusir orang-orang di Rafah ketika invasi darat dimulai di sana, mereka meminta mereka pindah ke Khan Younis. Dan sebagian besar dari orang-orang ini dievakuasi ke tempat penampungan, seperti tempat penampungan PBB dan sekolah.
Jadi terutama menjelang malam hari, orang-orang Palestina yang berada di tempat penampungan, di sekolah-sekolah PBB mulai bergerak, membereskan semua barang-barang mereka di siang hari karena mereka tidak bergerak pada malam hari. Sangat jelas bahwa jumlah korban akan meningkat karena ini adalah pintu masuk – dimana semua orang bergerak, anak-anak bermain-main.
Tidak ada yang tahu pasti mengapa pasukan Israel kini secara langsung menargetkan sekolah-sekolah dan tempat penampungan PBB. Mereka berdalih bahwa setiap kali mereka menargetkan sebuah sekolah, berarti ada basis Hamas dan ada pejuang Hamas di sana. Faktanya, sebagian besar dari mereka yang terluka atau terbunuh adalah anak-anak Palestina dan perempuan Palestina.
Ini serangan keempat Israel dalam empat hari belakangan yang menargetkan sekolah yang dijadikan pengungsian. Pada Sabtu, serangan Israel menghantam sekolah al-Jawni yang dikelola PBB di Nuseirat, Gaza tengah, menewaskan 16 orang, menurut kementerian kesehatan wilayah tersebut. Badan PBB untuk Pengungsi Palestina, UNRWA, mengatakan ada 2.000 orang yang berlindung di sana saat itu.
Keesokan harinya, serangan terhadap sekolah Keluarga Kudus yang dikelola gereja di Kota Gaza menewaskan empat orang, menurut badan pertahanan sipil. Patriarkat Latin, pemilik sekolah tersebut, mengatakan ratusan orang memadati halaman tersebut.
Sekolah lain yang dikelola UNRWA di Nuseirat juga diserang pada Senin, dan rumah sakit setempat mengatakan beberapa orang telah dibawa untuk mendapatkan perawatan. Menurut UNRWA, lebih dari 500 orang telah syahid di sekolah-sekolah dan tempat penampungan lain yang dikelolanya di Gaza sejak perang dimulai pada 7 Oktober.
Mouin Rabbani, seorang analis Timur Tengah dan salah satu editor publikasi online Jadaliyya, tidak menganggap Israel tertarik pada gencatan senjata di Gaza.
“Tidak ada pemimpin yang suka memimpin kegagalan militer, dan tentu saja, tidak juga Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang … sekarang akan dikenang karena kegagalannya pada tanggal 7 Oktober, dan kegagalannya pada tahun berikutnya dalam mencapai sesuatu yang penting secara militer,” Rabbani mengatakan kepada Aljazirah.
Meskipun Israel mengklaim peningkatan serangan di Gaza dirancang untuk meningkatkan tekanan pada Hamas agar menyetujui perjanjian tersebut, pada kenyataannya, hal itu “dimaksudkan untuk menyabotase prospek perjanjian tanpa harus mengambil tanggung jawab langsung,” kata Rabbani.
Salah satu tujuan Israel adalah “membunuh sejumlah besar orang, dalam hal ini, melampiaskan kemarahannya terhadap penduduk sipil karena mereka tidak mampu menjangkau para pemimpin gerakan Hamas dan faksi lainnya,” katanya.
Meskipun AS tetap menjadi mitra mediasi utama dalam perundingan tidak langsung, Rabbani mengatakan “sangat sulit bagi Amerika untuk mencapai tujuan mereka ketika mereka terus-menerus membiarkan Israel melemahkannya”.
Hamas telah menyerukan orang-orang di seluruh dunia untuk melakukan demonstrasi sebagai protes atas serangan Israel terhadap sekolah al-Awda yang menewaskan puluhan warga Palestina yang berlindung di sana.
Dalam sebuah pernyataan, kelompok tersebut mengecam serangan tersebut dan mengatakan bahwa ini adalah serangan terbaru terhadap “genosida dan pembantaian” yang dilakukan terhadap warga Palestina. Mereka menyerukan masyarakat di “dunia Arab, Islam, dan bebas” untuk kembali melakukan protes untuk mendukung rakyat Palestina.
Kelompok tersebut menyerukan masyarakat untuk “segera keluar, memenuhi jalan-jalan dan alun-alun dengan demonstrasi dan demonstrasi di setiap kota di seluruh dunia untuk meningkatkan tekanan” pada Israel agar mengakhiri serangannya yang sedang berlangsung di Gaza.
Hamas juga meminta penduduk Tepi Barat yang diduduki untuk “mengaktifkan semua alat dukungan… dan meningkatkan partisipasi dalam pertempuran yang terkait dengan Operasi Banjir al-Aqsa”.
Inalillahi, Korban Jiwa Genosida di Gaza Diperkirakan Capai 186 Ribu | Republika Online
Seorang anak kembali meninggal akibat kelaparan di Gaza. [934] url asal
#genosida-di-gaza #pembantaian-di-gaza #korban-jiwa-di-gaza #syuhada-gaza #korban-jiwa-gaza-186-ribu
(Republika - News) 08/07/24 09:53
v/10059213/
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Sejumlah peneliti menyimpulkan bahwa jumlah korban jiwa, langsung maupun tak langsung, akibat serangan Israel ke Jalur Gaza sejak 7 Oktober lalu mencapai 186 ribu jiwa. Angka itu jauh melampaui catatan resmi Kementerian Kesehatan di Gaza yang kini sekitar 38.100 jiwa.
Penelitian yang dilansir jurnal medis terkemuka the Lancet itu menerapkan perkiraan konservatif yaitu empat kematian tidak langsung per satu kematian langsung yang dilaporkan di Gaza. “Bukanlah tidak masuk akal” untuk memperkirakan bahwa hingga 186.000 atau bahkan lebih kematian dapat disebabkan oleh perang genosida di Gaza.
"Jumlah korban jiwa diperkirakan besar mengingat intensitas konflik ini; hancurnya infrastruktur layanan kesehatan; kekurangan makanan, air, dan tempat tinggal yang parah; ketidakmampuan penduduk untuk mengungsi ke tempat yang aman; dan hilangnya dana untuk UNRWA,” tulis mereka.
“Dalam konflik baru-baru ini, kematian tidak langsung berkisar antara tiga hingga 15 kali lipat jumlah kematian langsung. Dengan menerapkan perkiraan konservatif yaitu empat kematian tidak langsung per satu kematian langsung terhadap 37.396 kematian yang dilaporkan, bukan tidak masuk akal untuk memperkirakan bahwa hingga 186 000 kematian atau bahkan lebih dapat disebabkan oleh konflik yang saat ini terjadi di Gaza,” mereka menambahkan.
Makalah berjudul 'Menghitung Kematian di Gaza: Sulit tapi Penting', yang diterbitkan pada 5 Juli, menyatakan bahwa dengan menggunakan perkiraan populasi Jalur Gaza pada 2022 sebesar 2,375,259 jiwa, perkiraan jumlah syuhada akan mencapai 7 sampai 9 persen dari total populasi di Jalur Gaza yang terkepung.
Pada Ahad, Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan bahwa setidaknya 38.153 warga Palestina telah dibunuh oleh Israel di Gaza sejak 7 Oktober, sementara lebih dari 87.828 orang terluka di wilayah kantong yang terkepung tersebut. Sebanyak 15.983 di antaranya adalah anak-anak.
Kajian yang dilakukan oleh Rasha Khatib, Martin McKee dan Salim Yusuf, menggunakan data dari tanggal 19 Juni, dengan angka kematian resmi sebesar 37, 396. Catatan resmi yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan Gaza tidak mencakup lebih dari 10.000 orang yang hilang atau terkubur di bawah tanah. puing-puing.
“Kementerian mencatat berdasarkan orang-orang yang meninggal di rumah sakit atau dibawa ke rumah sakit, dengan informasi dari sumber media yang dapat diandalkan dan petugas pertolongan pertama. Perubahan ini mau tidak mau telah menurunkan rincian data yang tercatat sebelumnya. Akibatnya, Kementerian Kesehatan Gaza kini melaporkan secara terpisah jumlah jenazah tak dikenal di antara total korban tewas. Pada 10 Mei 2024, 30 persen dari 35.091 kematian tidak teridentifikasi,” demikian pengamatan para peneliti.
Laporan ini juga menyatakan bahwa konflik bersenjata mempunyai “implikasi kesehatan tidak langsung selain dampak langsung dari kekerasan”. “Bahkan jika konflik segera berakhir, akan terus terjadi banyak kematian tidak langsung dalam beberapa bulan dan tahun mendatang yang disebabkan oleh penyakit reproduksi, menular, dan tidak menular,” tulis jurnal tersebut.
Sebuah laporan pada 7 Februari 2024, ketika angka kematian langsung mencapai 28.000 orang, memperkirakan bahwa tanpa gencatan senjata akan terdapat antara 58.260 kematian (tanpa epidemi atau eskalasi) dan 85.750 kematian (jika keduanya terjadi) pada 6 Agustus 2024.
Langkah-langkah sementara yang ditetapkan oleh Mahkamah Internasional pada Januari, mengharuskan Israel untuk “mengambil langkah-langkah efektif untuk mencegah kehancuran dan memastikan pelestarian bukti terkait dengan tuduhan tindakan dalam lingkup … Konvensi Genosida”.
“Gencatan senjata segera dan mendesak di Jalur Gaza sangat penting, disertai dengan langkah-langkah untuk memungkinkan distribusi pasokan medis, makanan, air bersih, dan sumber daya lainnya untuk kebutuhan dasar manusia,” tulis jurnal tersebut.
Kantor berita WAFA melansir. Beberapa warga sipil syahid dan terluka semalam dalam penembakan Israel di wilayah yang tersebar di Jalur Gaza yang terkepung. Menurut sumber lokal, pesawat tempur pendudukan menargetkan sebuah rumah di kamp pengungsi Bureij di pusat Jalur Gaza, yang menyebabkan terbunuhnya tiga warga sipil dan melukai beberapa lainnya.
Rumah Sakit Al-Awda di kamp pengungsi al-Nuseirat juga menerima jenazah dua warga sipil yang menjadi sasaran di Jembatan Wadi Gaza, di tengah Jalur Gaza. Dua warga sipil juga syahid dalam pemboman Israel yang menargetkan pertemuan warga sipil di distrik Zeitoun timur Kota Gaza. Pesawat-pesawat tempur Israel menargetkan Sekolah Keluarga Suci di lingkungan al-Rimal di Jalur barat, menghancurkan sebagian dari sekolah tersebut.
Seorang warga juga ayahid akibat tembakan artileri Israel di sebelah barat kota Beit Lahia di Jalur Gaza utara. Kru medis mengangkut satu jenazah dan seorang warga sipil yang terluka menyusul pemboman pendudukan yang menargetkan wilayah timur kota Rafah di Jalur selatan.
Jumlah warga sipil yang syahid sejak dimulainya agresi Israel di Jalur Gaza melalui darat, laut, dan udara pada 7 Oktober 2023 mencapai 38.153 jiwa, sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan. Setidaknya 87.828 orang lainnya terluka. Ribuan korban masih terjebak di bawah reruntuhan dan berserakan di jalan, sementara kru ambulans dan pertahanan sipil menghadapi kesulitan besar untuk menjangkau mereka.
Sementara sumber medis mengumumkan kematian seorang anak berusia enam tahun karena kelaparan dan dehidrasi, sehingga jumlah korban malnutrisi di Jalur Gaza menjadi 41 orang. Sumber yang sama mengatakan bahwa seorang anak dari Deir al-Balah di Jalur Gaza tengah meninggal karena kekurangan gizi, dehidrasi, dan kurangnya pasokan medis di Rumah Sakit Martir Al-Aqsa.
Sebelumnya, sumber medis mengumumkan bahwa 50 anak di Jalur Gaza utara menderita kekurangan gizi. Selain itu, sumber medis di Rumah Sakit Kamal Adwan melaporkan gejala kekurangan gizi pada lebih dari 200 anak di Jalur Gaza. Mereka memperingatkan bencana kemanusiaan yang dihadapi Gaza utara karena kelaparan yang akan terjadi.
Penduduk Gaza utara, yang berjumlah sekitar 700.000 jiwa, menderita kekurangan makanan dan sayur-sayuran akibat penutupan perbatasan yang terus menerus dilakukan Israel dan penghentian pengiriman truk bantuan ke wilayah utara. Menurut pejabat lokal dan organisasi internasional, situasi ini membawa kembali momok kelaparan di Gaza utara. Pada tanggal 7 Mei, militer Israel menguasai perbatasan Rafah antara Gaza dan Mesir, yang semakin memperburuk bencana tersebut.
Gencatan Senjata di Gaza Dilaporkan Kian Dekat
Proposal terbaru Hamas membuka harapan gencatan senjata segera. [806] url asal
#gencatan-senjata #gencatan-senjata-di-gaza #genosida-di-gaza #pembantaian-di-gaza #kejahatan-israel
(Republika - News) 05/07/24 06:03
v/9712674/
REPUBLIKA.CO.ID, GAZA – Kelompok Hamas dilaporkan membuat penyesuaian yang cukup signifikan dalam posisinya mengenai kemungkinan kesepakatan pembebasan sandera dan gencatan senjata dengan Israel, kata seorang pejabat senior pemerintah AS pada Kamis. Ia menyatakan harapan bahwa hal itu akan mengarah pada perjanjian yang akan menjadi langkah menuju gencatan senjata permanen.
“Kami telah mencapai terobosan,” kata pejabat itu dilansir Reuters. Ia menambahkan bahwa masih ada masalah yang belum terselesaikan terkait dengan implementasi perjanjian tersebut dan bahwa perjanjian tersebut diperkirakan tidak akan selesai dalam waktu beberapa hari.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan kepada Presiden AS Joe Biden pada Kamis bahwa dia telah memutuskan untuk mengirim delegasi untuk melanjutkan negosiasi yang terhenti mengenai kesepakatan pembebasan sandera dengan Hamas. Pejabat AS itu mengatakan Netanyahu memberi wewenang kepada timnya untuk bergabung dalam perundingan tersebut.
“Kami yakin ada peluang yang cukup signifikan di sini, dan kami menyambut baik kesiapan perdana menteri untuk mencoba meraih peluang tersebut dengan memberdayakan tim perundingnya untuk terlibat langsung” di Doha dalam beberapa hari mendatang,” kata pejabat tersebut.
Sebuah sumber di tim perunding Israel, yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan ada peluang nyata untuk mencapai kesepakatan setelah Hamas membuat proposal revisi mengenai syarat-syarat kesepakatan. “Usulan yang diajukan Hamas mencakup terobosan yang sangat signifikan,” kata sumber yang tidak mau disebutkan namanya itu.
Tanggapan Israel terhadap usulan Hamas, yang diajukan melalui mediator, sangat berbeda dengan kejadian di masa lalu. Sebelumnya, Israel selalu mengatakan persyaratan yang diberikan oleh Hamas tidak dapat diterima. Seorang pejabat Israel mengatakan kepala badan intelijen Israel Mossad akan memimpin delegasi Israel untuk pembicaraan tersebut.
Netanyahu dijadwalkan pada Kamis malam untuk berkonsultasi dengan tim perundingnya, kemudian membahas pembicaraan pembebasan sandera dengan kabinet keamanannya. Gedung Putih mengatakan Biden dan Netanyahu, melalui panggilan telepon, membahas tanggapan yang diterima dari Hamas mengenai kemungkinan kesepakatan.
“Presiden menyambut baik keputusan perdana menteri yang memberi wewenang kepada negosiatornya untuk berhubungan dengan mediator AS, Qatar, dan Mesir dalam upaya mencapai kesepakatan,” katanya dalam sebuah pernyataan.
Dalam percakapan telepon tersebut, Netanyahu mengulangi posisinya bahwa Israel hanya akan mengakhiri perangnya di Gaza ketika semua tujuannya telah tercapai, kata kantornya dalam sebuah pernyataan. Sumber di tim perundingan Israel mengatakan: "Ada kesepakatan dengan peluang implementasi yang nyata."
Namun sumber tersebut memperingatkan, ada risiko kesepakatan bisa gagal karena “pertimbangan politik”. Beberapa mitra sayap kanan dalam koalisi Netanyahu yang berkuasa telah mengindikasikan bahwa mereka mungkin akan mundur dari pemerintahan jika perang berakhir sebelum Hamas dihancurkan. Keluarnya mereka dari koalisi kemungkinan akan mengakhiri jabatan perdana menteri Netanyahu.
Israel menerima tanggapan Hamas pada Rabu terhadap proposal yang diumumkan pada akhir Mei oleh Biden yang akan mencakup pembebasan sekitar 120 sandera yang ditahan di Gaza dan gencatan senjata di daerah kantong Palestina.
Seorang pejabat Palestina yang dekat dengan upaya mediasi mengatakan kepada Reuters bahwa Hamas, kelompok yang menguasai Gaza, telah menunjukkan fleksibilitas mengenai beberapa klausul yang memungkinkan tercapainya kesepakatan kerangka kerja jika Israel menyetujuinya.
Dua pejabat Hamas tidak segera menanggapi permintaan komentar. Hamas mengatakan kesepakatan apa pun harus mengakhiri perang dan menyebabkan penarikan penuh Israel dari Gaza. Israel bersikukuh bahwa mereka hanya akan menerima jeda sementara dalam pertempuran sampai Hamas dilenyapkan.
Rencana tersebut mencakup pembebasan bertahap sandera Israel yang masih ditahan di Gaza dan penarikan pasukan Israel pada dua tahap pertama, serta pembebasan tahanan Palestina. Tahap ketiga melibatkan rekonstruksi wilayah yang hancur akibat perang dan pengembalian sisa-sisa sandera yang meninggal.
Tidak jelas kemana delegasi Israel akan pergi untuk melanjutkan perundingan. Upaya sebelumnya untuk mengakhiri konflik Gaza dimediasi oleh Mesir dan Qatar, dengan pembicaraan diadakan di kedua lokasi.
Pada Kamis, kementerian kesehatan Gaza mengatakan jumlah korban jiwa warga Palestina dalam hampir sembilan bulan perang telah melampaui 38.000 orang, dengan 87.445 orang terluka. Perang di Gaza dimulai ketika orang-orang bersenjata pimpinan Hamas menyerbu Israel selatan pada 7 Oktober untuk menyerang situs militer dan mengambil sandera untuk ditukar dengan ribuan tahanan Palestina yang diperlakukan tak manusiawi di penjara-penjara Israel. Serangan itu, menurut Israel, menewaskan 1.200 orang dan menyandera sekitar 250 orang kembali ke Gaza, menurut penghitungan Israel.
Di Gaza, warga Palestina bereaksi hati-hati terhadap prospek perundingan baru. “Kami berharap ini adalah akhir perang, kami kelelahan dan tidak dapat menghadapi kemunduran dan kekecewaan lagi,” kata Youssef, ayah dua anak, yang kini mengungsi di Khan Younis, di selatan wilayah kantong tersebut.
“Setiap jam setelah perang ini, semakin banyak orang yang meninggal, dan semakin banyak rumah yang hancur, maka sudah cukup. Saya mengatakan ini kepada para pemimpin saya, kepada Israel dan dunia,” katanya kepada Reuters melalui aplikasi obrolan.
Kemarin, serangan Israel menghantam sebuah sekolah di Kota Gaza dan Layanan Darurat Sipil mengatakan lima warga Palestina syahid dan lainnya terluka. Sementara serangan Israel lainnya di kota tua Kota Gaza pada hari Kamis menewaskan seorang wanita dan melukai beberapa lainnya, kata petugas medis.
Tank-tank Israel juga menembaki beberapa daerah di sisi timur Khan Younis setelah tentara mengeluarkan perintah evakuasi pada hari Selasa, namun belum ada pergerakan tank ke daerah tersebut, kata warga.