Generasi muda mempunyai peran dalam mengembangkan sektor pertanian. Hal ini sebagai langkah strategis mencapai swasembada pangan nasional yang berkelanjutan. [248] url asal
IDXChannel - Generasi muda mempunyai peran dalam mengembangkan sektor pertanian. Hal ini sebagai langkah strategis mencapai swasembada pangan nasional yang berkelanjutan dan inovatif.
"Peran petani milenial sangat diperlukan dalam mewujudkan swasembada pangan nasional," kata Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (2/11/2024).
Wamentan menambahkan, peran petani muda penting mewujudkan swasembada pangan nasional dengan memperkenalkan teknologi pertanian modern dan praktik pertanian berkelanjutan untuk meningkatkan produktivitas.
"Sektor pertanian sangat membutuhkan kontribusi anak muda karena dinilai memiliki sifat inovatif, adaptif, kreatif, dan memiliki kemampuan untuk membawa perubahan melalui teknologi," kata dia.
Peran petani muda, kata dia, menjadi kunci utama dalam membawa perubahan positif melalui pengenalan teknologi pertanian modern yang mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas sektor pertanian nasional.
Selain itu, sektor pertanian membutuhkan kontribusi generasi muda karena dinilai lebih adaptif dan kreatif.
Untuk itu, pemerintah berkomitmen mendukung penuh petani muda yang ingin berkarya di sektor pertanian, dengan menyediakan akses teknologi dan pelatihan yang dibutuhkan.
"Karena pembangunan pertanian ini membutuhkan anak-anak muda, milenial, termasuk dalam mewujudkan swasembada pangan nasional," katanya.
Sudaryono menegaskan, generasi milenial harus memiliki pandangan holistik dalam pertanian, tidak hanya di sektor hulu, tetapi juga di hilir dan menciptakan produk turunan.
Dengan mengembangkan produk turunan, sektor pertanian dapat lebih berkelanjutan dan menciptakan peluang usaha baru yang mampu mendorong peningkatan nilai tambah komoditas.
"S perlu untuk memberikan dukungan strategis kepada para petani milenial yang hadir di sini agar kalian dapat memahami pentingnya kontribusi petani milenial dalam mendukung kebijakan ketahanan pangan secara komprehensif," kata dia.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melibatkan 3.000 mahasiswa untuk mewujudkan program swasembada pangan di Indonesia. Ia mengatakan ribuan mahasiswa itu dirangkul dan difasilitasi dengan alat pertanian modern dan pendapatan minimal Rp 10 juta per bulan.
Adapun, ia menargetkan akan merangkul total 50.000 mahasiswa. Hal ini disampaikannya saat mengunjungi Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Kamis (10/10).
"Presiden terpilih maupun presiden sekarang, ada milenial generasi muda itu 52%. Ini bonus demografi, ini harus kita getarkan, getarannya sampai ke seluruh dunia nantinya," kata Amran dalam keterangan tertulis, Jumat (11/10/2024).
"Kami akan rekrut 50.000, rencana kami, kami berikan traktor gratis gunakan teknologi tinggi dan itu dilibatkan kepada pemuda," tambahnya.
Lebih lanjut, ia mengajak para petani termasuk generasi muda, untuk menyukseskan transformasi pertanian dari tradisional menjadi modern. Ia bertekad agar semua proses bertani dilakukan dengan teknologi dan juga mekanisasi.
"Pertanian tidak bisa maju tanpa transformasi dari metode tradisional menuju modern. Ini adalah tantangan besar, tetapi dengan kerja keras dan inovasi, kita optimis bisa mencapainya," ungkapnya.
Amran menekankan pertanian merupakan sektor strategis yang memiliki potensi besar pada penguatan ekonomi nasional.
"Generasi muda harus terlibat dalam revolusi pertanian dengan menggunakan teknologi tinggi, kami akan memberikan bantuan alat pertanian modern agar mereka lebih produktif dan efisien sebagai upaya untuk memastikan pertanian Indonesia semakin maju," tambahnya.
Amran menambahkan, pihaknya juga bersedia memberikan alat mesin pertanian senilai Rp 3 miliar untuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Dengan alat itu, para petani muda dapat memiliki pendapatan minimal Rp 10 juta per bulan.
"Daripada bawa map keliling ke kantor-kantor. Tolong, disambut ini anak muda. Kalau kita gagal membuat dia kaya, kita gagal menjalankan misi. Misi Indonesia emas salah satu harapan tumpuannya pertanian," papar Amran.
Sementara itu salah satu perwakilan mahasiswa Muhammad Ihsan dari Universitas Hasanuddin Fakultas Pertanian, Prodi Agribisnis angkatan 2021 menyatakan dukungannya terhadap program berkelanjutan pertanian modern.
Ia pun berharap agar di setiap kampus, ada UKM atau organisasi yang mampu mewadahi mahasiswa yang berminat dengan sektor pertanian. Sebab, menurut Ihsan, saat ini para mahasiswa dari jurusan pertanian malah sendiri kurang berminat terjun ke sektor tersebut.
"Kami selaku pemuda di Universitas Hasanuddin saat ini mendukung program berkelanjutan pertanian modern, di mana kami membentuk salah satu organisasi yang mewadahi seluruh mahasiswa untuk menginspirasi bagaimana dia ingin menjadi petani. Namanya UKM mahasiswa bertani Unhas," ujar Ihsan.
"Kami mahasiswa ingin bisa, bukan hanya dipandang sebelah mata, tapi terjun memberdayakan masyarakat," pungkasnya.
REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Nusa Tenggara Barat (NTB) menggantungkan masa depan pangan kepada para petani muda yang terdiri dari generasi milenial, generasi X, dan generasi Z untuk menggarap lahan-lahan pertanian dengan bantuan teknologi serta akses internet.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB Taufieq Hidayat di Mataram, Senin, mengatakan pemerintah terus berupaya meningkatkan populasi petani muda.
"Petani berusia 19-40 tahun di Nusa Tenggara Barat mencapai 35 persen," ujarnya.
Hidayat menuturkan dari total angkatan kerja di sektor pertanian yang mencapai 950 ribu orang, komposisi petani muda mencapai sekitar 260 ribu orang.
Para petani muda itu sebagian besar menyewa lahan karena mereka tidak memiliki lahan.
Pemerintah NTB sedang menyiapkan regulasi agar penyaluran bantuan produksi tidak lagi melalui pendekatan kelompok tani melainkan langsung kepada pekerja pertanian sesuai dengan keahlian mereka.
Pada 2023, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Nusa Tenggara Barat mencapai Rp166,39 triliun.
Sektor usaha pertanian, perkebunan, dan perikanan menyumbang PDRB terbesar mencapai Rp37 triliun.
Nusa Tenggara Barat memiliki 1,4 juta hektare lahan pertanian yang setara dengan 73 persen dari luas lahan daratan daerah tersebut.
Sedangkan, luas lahan baku sawah kini berada pada angka 234 ribu hektare yang mampu membuat NTB selalu surplus beras setiap tahun.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB Wahyudin mengungkapkan pihaknya telah melakukan Sensus Pertanian pada 2023 dan mengumpulkan para petani muda di Mataram serta Lombok Utara.
"Usaha mereka beragam tidak hanya tanaman pangan dan hortikultura, termasuk juga madu Trigona. Di Mataram, mereka banyak berusaha tanaman hidroponik," kata Wahyudin.
Lebih lanjut dia menyampaikan bahwa keberadaan petani muda membawa angin segar bagi sektor pertanian di kawasan perkotaan yang kini menghadapi tantangan pengurangan lahan akibat pendirian gedung-gedung untuk usaha maupun perkantoran.
Petani muda tidak gagap teknologi. Mereka sudah terbiasa mencari berbagai informasi tentang tanaman melalui internet.
"Pada Sensus Pertanian itu kami sudah mendata ternyata sebagian besar menggunakan internet terkhusus untuk petani milenial dan generasi Z," pungkas Wahyudin.
Berdasarkan hasil pencacahan lengkap Sensus Pertanian 2023 oleh BPS, jumlah petani muda di Nusa Tenggara Barat yang berumur 19-39 tahun tercatat sebanyak 225.483 orang atau sekitar 30,37 persen dari total petani di wilayah tersebut yang mencapai 742.343 orang.
Populasi petani muda paling banyak di NTB berada di Lombok Timur mencapai 55.597 orang (24,66 persen), Lombok Tengah 48.818 orang (21,65 persen), dan Kota Bima (15,46 persen).