#30 tag 24jam
Aman & Legal, Trading Berjangka Jadi Solusi Diversifikasi Portofolio Investasi
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami deflasi pada September 2024 lalu sebesar 0,12% secara bulanan. [925] url asal
#tokyo #sydney #keuntungan #diversifikasi-investasi #solusi-diversifikasi-portofolio-investasi #kebutuhan-trading-forex #legal #diversifikasi #deflasi #forex #cara-trading-forex #penurunan #potensi-imbal #new-york
(detikFinance - Fintech) 05/11/24 09:00
v/17492477/
Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami deflasi pada September 2024 lalu sebesar 0,12% secara bulanan. Ini merupakan deflasi berturut-turut dalam 5 bulan sejak bulan Mei.
Deflasi beruntun ini menjadi salah satu indikator bahwa permintaan terhadap barang atau jasa menurun yang berdampak pada sulitnya untuk mendapatkan uang sehingga terpaksa membuat sebagian orang 'makan tabungan'.
Kondisi ini membuat seseorang harus mengantisipasinya, mencari cara bagaimana agar kondisi keuangan bisa bertahan bahkan membaik sekalipun terjadi deflasi.
Salah satu cara bijak menjaga kondisi keuangan adalah dengan melakukan strategi diversifikasi portofolio investasi di beberapa aset, seperti mata uang, indeks saham maupun komoditas. Hal ini bertujuan untuk memitigasi risiko serta mengoptimalkan keuntungan.
3 Alasan Utama Harus Diversifikasi Portofolio Investasi
Berikut ini beberapa alasan perlunya melakukan diversifikasi portofolio investasi:
1. Mengurangi Risiko dan Dampak Volatilitas Pasar
Dengan mendiversifikasi portofolio, investor menyebarkan investasi ke berbagai aset. Jadi, jika salah satu aset berkinerja buruk, kerugian tersebut bisa diimbangi dengan keuntungan dari aset lainnya.
Ini juga membantu Anda menjaga stabilitas portofolio ketika pasar berfluktuasi, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.
2. Memaksimalkan Potensi Keuntungan
Dengan menyebarkan investasi ke berbagai asset, membuka peluang untuk mendapatkan keuntungan dari berbagai sumber yang bisa jadi potensi imbal hasilnya lebih baik di waktu tertentu. Misalnya, saham teknologi memberikan keuntungan besar saat ini, tapi di waktu lain komoditas atau properti bisa lebih menguntungkan.
Bahkan beberapa aset yang memiliki korelasi negatif bisa juga Anda manfaatkan, misalnya ketika pasar saham mengalami penurunan akibat memanasnya situasi geopolitik, harga emas sering kali naik karena dianggap sebagai 'safe haven'.
Hal ini juga bisa berlaku saat inflasi lagi tinggi.Beberapa aset, seperti komoditas (emas atau minyak mentah), cenderung memiliki kinerja yang baik selama periode inflasi tinggi.
3. Memenuhi Berbagai Tujuan Keuangan
Tujuan investasi setiap orang bisa berbeda-beda, ada yang mau penghasilan pasif saja, pertumbuhan modal saja, ataupun perlindungan terhadap risiko, namun umumnya gabungan dari banyak tujuan. Dengan diversifikasi, investor menyebar aset Anda ke berbagai tempat untuk memenuhi tujuan yang berbeda ini.
Obligasi bisa memberikan pendapatan tetap. Saham, properti dan beberapa komoditas dapat menawarkan pertumbuhan jangka panjang, sementara aset yang berbentuk kontrak derivatif bisa memberikan perlindungan nilai atau bisa juga memenuhi target jangka pendek investasi.
Diversifikasi menghindarkan seseorang dari ketergantungan pada kinerja satu aset atau satu sektor. Ini memberi lebih banyak keamanan dan fleksibilitas jika kondisi pasar berubah tiba-tiba, serta membantu memastikan bahwa Anda tidak menaruh semua dana dalam satu keranjang yang berisiko.
Anda bisa bagi alokasi aset Anda dalam 3 tujuan finansial besar seperti dibawah ini dimana diversifikasi akan disebar pada setiap kelompok instrumen dalam setiap tujuan tersebut;
- Keamanan dan Perlindungan (hutang, dana darurat, cash, tabungan, asuransi dan fixed income)
- Pertumbuhan kekayaan (reksadana, saham-saham besar, properti)
- Peluang dan Spekulasi (saham-saham kecil, komoditi dan derivatif)
Foto: dok. Valbury |
Piramida Alokasi Asetseperti gambar diatas, bisa membantu Anda mengatur alokasi aset dan rencana diverifikasi portofolio ke dalam berbagai kelas dengan cara lebih yang konservatif. Porsi terbesar misalnya 70% dari kekayaan dialokasikan pada instrumen yang memiliki tingkat kepastian yang tinggi, dengan potensi risk dan reward yang rendah.
Porsi kedua bisa 20% dialokasikan pada instrumen yang berpotensi menumbuhkan kekayaan dengan risiko yang sedang, sementara porsi terkecil 10% dialokasikan pada aset yang memiliki potensi pertumbuhan yang paling besar, tentunya dengan risiko yang juga besar.
Sebagai ilustrasi, misalnya jika Anda punya total kekayaan Rp 100 juta, sebagai orang yang lebih cenderung moderat, Anda bisa mengalokasikan Rp 60 juta untuk keamanan, Rp 30 juta untuk pertumbuhan dan Rp 10 juta untuk peluang yang lebih berisiko.
Tapi kalau Anda lebih agresif, Rp 60 juta bisa dialokasikan untuk pertumbuhan, sementara untuk keamanan dan peluang spekulatif masing-masing bisa Rp 20 juta.
Nah, dari alokasi peluang spekulatif sebesar 20 juta di atas untuk Anda yang agresif bisa di sebar di berbagai instrumen yang sesuai. Misalnya 50% dari bagian tersebut (Rp 10 juta) dialokasikan untuk instrumen berjangka emas dan minyak mentah.
Berikut ini tips efektif untuk membantu Anda dalam melakukan diversifikasi:
- Sesuaikan diversifikasi dengan profil risiko dan tujuan keuangan.
- Jangan terlalu banyak diversifikasi, fokus pada yang terukur.
- Pantau dan Rebalancing secara berkala untuk menjaga aset sesuai dengan tujuan.
- Sesuaikan portofolio dengan perubahan kondisi ekonomi atau pasar global
Instrumen Pilihan untuk Diversifikasi Portofolio Investasi
Selain Saham yang sudah populer, ternyata trading berjangka atau perdagangan Foreign exchange (Forex) banyak dipilih juga oleh investor maupun trader untuk diversifikasi investasi portofolio. Trading forex adalah perdagangan valuta asing dalam bentuk pasangan mata uang atau forex pairs, seperti AUD/USD, USD/JPY, dan lainnya.
Forex dipilih karena modalnya relatif terjangkau, potensi keuntungan dari 2 arah serta memiliki likuiditas tertinggi, karena pasar forex buka selama 24 jam sehari, 5 hari seminggu, jadi Anda bisa trading kapan saja & dimana saja. Ada empat sesi perdagangan utama yaitu New York, Sydney, London, dan Tokyo.
Tips untuk Anda yang tertarik trading forex :
- Kenali forex dan cara trading forex yang benar.Anda bisa mempelajarinya secara gratis melalui e-book Belajar Forex untuk Pemula.
- Ini yang paling penting, perbanyak latihan sambil membuat trading plan.Anda bisa latihan secara gratis menggunakan Akun Demo dahulu dan manfaatkan fitur Trading Signal & Trading Tool supaya Anda #LebihMudah dan #LebihPede saat trading.
- Mulai trading di akun riil secara bertahap untuk membangun rasa percaya diri dan disiplin.
- Cari yang#LebihAman & #LebihPraktis, kiniAnda bisa dapatkan semua kebutuhan trading forex dalam Aplikasi Trading yang Legal.
Yuk, mulai diversifikasi portofolio Anda sekarang! Pastikan Anda paham tentang peluang dan risiko dalam trading berjangka. Kesuksesan akan bergantung pada kesabaran, disiplin dan ketekunan.
Disclaimer : Perdagangan Berjangka komoditi memiliki peluang keuntungan dan resiko kerugian yang tinggi. Apabila anda hendak berinvestasi dalam perdagangan berjangka, anda terlebih dahulu harus mengerti dan memahami kegiatan perdagangan berjangka serta isi Perjanjian dan Peraturan Perdagangan.
(Content Promotion/Valbury)
Cermati Kinerja Investasi Sepanjang September 2024, Bitcoin Melaju Paling Kencang
Hingga 24 September, bitcoin tercatat tumbuh 7,32% secara bulanan. [520] url asal
#bitcoin #emas #obligasi #valuta-asing #portofolio-investasi #altcoin #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 01/10/24 20:00
v/15823329/
Reporter: Nova Betriani Sinambela | Editor: Putri Werdiningsih
KONTAN.CO.ID - JAKARTA.Sepanjang September 2024, sejumlah peristiwa yang terjadi memengaruhi pergerakan asetinvestasi.Berdasarkan riset Kontan, bitcoin menjadi aset investasi yang paling mengalami penguatan signifikan.
MengutipBloomberg,hingga 24 September 2024, bitcoin mengalami penguatan 7,32% secara bulanan (month on month/mom) per 24 September 2024 ke level US$ 63.477 per btc. Sementara saudaranya, Ethereum penguatannya hanya 3.40% mom ke level 11,61% ke level US$ 2612.77.
Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur mengungkapkan, secara global penguatan Bitcoin terdorong keputusan The Fed yang memangkas suku bunga sebesar 50 bps.
"Bitcoin sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi dan melemahnya nilai mata uang fiat, memicu peningkatan permintaan dari investor yang ingin melindungi portofolio mereka di tengah ketidakpastian makroekonomi," jelas Fyqieh kepada KONTAN, Selasa(1/10).
Di sisi lain saat dolar melemah, Bitcoin cenderung menguat karena investor beralih ke aset alternatif yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Dalam kondisi pasar seperti ini, setiap penurunan 1% pada DXY sering kali diikuti oleh kenaikan signifikan pada Bitcoin, memperkuat tren penguatan aset digital ini.
Ditambah lagi pada kuartal ketiga 2024, arus masuk institusional ke produk-produk Bitcoin diperkirakan mencapai lebih dariUS$2 miliar, memberikan dorongan tambahan pada harga Bitcoin dan memperkuat posisinya sebagai aset kripto unggulan.
Sentimen suku bunga global juga mendorong kinerja emas. Sebagai asetsafe haven, emas diburu ketika terjadi ketidakpastian moneter. Meski tidak melaju sekencang Bitcoin, emas spot menguat 5,21% selama September tahun ini ke level US$ 2659.4, dan secara ytd menguat 28,64%.
Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo bilang prospek pemotongan suku bunga Fed diprediksi terus berlanjut. "Kemudian langkah China untuk memberi stimulus moneter ke negaranya sendiri juga memperkuat daya tarik untuk memegang emas batangan yang tidak memberikan imbal hasil," kata Sutopo kepada KONTAN, Selasa (1/10).
Penguatan ini juga turut mengerek kenaikan harga emas antam sebesar 4,50% MoM ke level Rp 1.464.000 per gram. Di sisi lain Sutopo menilai harga emas antam terdorong rupiah yang lebih stabil dan cenderung menguat.
Portofolio berikutnya yang mencatat kinerja positif adalah obligasi korporasi dengan imbal hasil 1.55% MoM. Hasil ini lebih tinggi dari obligasi pemerintah yang 1,30% MoM.
Associate Director Fixed IncomeAnugerah Sekuritas,Ramdhan Ario Maruto menilai pada dasarnyayielddari obligasi pemerintah itu memang sudah kecil. Jadi sebagian investor mengejarcorporate bonddan membuat permintaan meningkat. Sementara obligasi pemerintah terbit hampir tiap bulan.
Apalagi sebelum pemotongan suku bunga global dan domestik membuat obligasi semakin diminati karena mendapatkan yield lebih tinggi.
Untuk mata uang, AUDIDR terjadi penguatan signifikan bulan ini yaitu 2,28% MoM ke level 15.140.
Pengamat komoditas dan mata uang, Lukman Leong mengatakan mata uang negeri Kangaroo ini didukung data yang menunjukkan inflasi di Australia masih bertahan tinggi dan disertai pernyataan hawkish RBA bahwa mereka belum siap untuk memangkas suku bunga.
Sementara CHFIDR dan CADIDR sendiri, mencatatkan pelemahan, masing-masing secara MoM turun -1,43% dan 2,33%.
Lukman melihat, jika terhadap USD kinerja kedua mata uang itu cukup datar. Namun penguatan rupiah yang menyebabkan kedua mata uang ini terdepresiasi terhadap dolar AS.
"Keduanya juga agresif menurunkan suku bunga karena pertumbuhan ekonomi yang rendah dan inflasi yang sudah mereda," kata Lukman.
BI Pangkas BI Rate Jadi 6%, Bagaimana Efeknya ke Instrumen Investasi Domestik?
Bank Indonesia (BI) memutuskan memangkas suku bunga acuan BI rate sebesar 25 bps menjadi 6%. [434] url asal
#bi-rate #suku-bunga-acuan #portofolio-investasi #suku-bunga-acuan-bank-sentral #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 18/09/24 21:10
v/15196037/
Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memutuskan memangkas suku bunga acuan BI rate sebesar 25 bps menjadi 6%. Namun efek ke instrumen investasi diperkirakan akan terbatas.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan pemangkasan suku bunga sudah diantisipasi pasar. Walaupun memang, waktu pemangkasannya lebih cepat dari ekspektasi.
Hal itu tercermin dari penurunan yield obligasi 10 tahun Indonesia sebesar 51 bps sepanjang kuartal III ini. Lalu di pasar saham secara quarter to date juga sudah menguat 11%. "Jadi saya pikir sudah price-in terkait penurunan suku bunga BI ini," ujarnya kepada Kontan.co.id, Rabu (18/9).
Terbatasnya kenaikan instrumen investasi lantaran masih adanya beberapa risiko, seperti hasil pilpres di Amerika Serikat (AS). Selain itu arah fiskal Indonesia dengan pemerintahan yang baru.
Namun memang, untuk jangka yang sangat pendek akan memberikan efek positif terhadap instrumen-instrumen yang sensitif dengan suku bunga. Misalnya, obligasi dan saham.
Efek pemangkasan suku bunga terhadap pasar obligasi akan menurunkan yield, yang kemudian mendorong kenaikan harga. Sementara di pasar saham akan meningkatkan likuiditas, yang kemudian menaikkan kinerja saham domestik.
Untuk saham, Josua berpandangan, sektor-sektor perbankan dan multifinance yang paling diuntungkan. Perbankan didorong permintaan kredit korporasi untuk ekspansi, sementara multifinance didorong permintaan kredit dari potensi meningkatnya daya beli masyarakat.
Ekonom Bank Danamon Hosiana Evalia Situmorang mengamini, prospek imbal hasil berpotensi melaju jika BI melihat potensi kembali penurunan suku bunga dan The Fed memangkas Fed Funds Rate sebanyak 3 kali, masing masing 25 bps.
Untuk saat ini, ia menyarankan investor buy on weakness jika ingin mengatur ulang portofolionya. Apalagi IHSG sudah berkali all-time-high dan rupiah sudah menguat signifikan per September 2024.
"Jadi butuh katalis ekstra kalau obligasi dan IHSG mau rally, salah satunya surprising Fed Rate cut yang lebih akomodtif," katanya.
Menurut Hosiana, investor bisa memanfaatkan momentum window dressing dan January Effect. Sebab, rata-rata akan mengalami koreksi sebelum rally kembali pada periode tersebut.
CEO and Founder Finansialku, Melvin Mumpuni juga berpandangan bahwa obligasi dan saham akan mendapatkan efek positif dari adanya pemangkasan suku bunga. "Untuk saham, perusahaan di sektor 'high debt' juga umumnya akan diuntungkan," sebutnya.
Ia juga menyarankan jika investor hendak melakukan portofolio rebalancing untuk menyesuaikan dengan tujuan investasi dan profil risiko.
Melvin menilai, dengan kondisi saat ini maka investor dengan tipe risiko konservatif dapat mengalokasikan dananya 20% ke aset capital gain yang risiko lebih tinggi. Lalu 40% di aset yang menghasilkan cash flow dan 40% di aset likuid.
Lalu tipe moderat dengan rancangan 40% pada capital gain, 30% cash flow, dan sisanya pada aset likuid.
"Untuk agresif sebesar 50% capital gain, 30% cash flow, dan 20% aset likuid," imbuhnya.
Manajer Investasi Menata Kembali Portofolio Reksadana Jelang Pemangkasan Suku Bunga
Manajer Investasi (MI) menata kembali portofolio produk-produk reksadana merespons sinyal pemangkasan suku bunga. [243] url asal
#portofolio-investasi #manajer-investasi #industri-reksadana #investasi-portofolio #apa-itu-reksadana #kinerja-reksadana #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Investasi) 14/08/24 20:25
v/14479687/
Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Noverius Laoli
Apalagi, Samuel menambahkan, adanya harapan kebijakan pro pertumbuhan pemerintahan baru turut berpotensi meningkatkan minat investor. Terutama dari investor asing yang sudah lebih dulu berinvestasi ke pasar dan membuat posisi arus dana asing kembali positif.
Adapun untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), MAMI memperkirakan akan mencapai level 7.800 di akhir tahun 2024. Sementara risiko yang perlu dicermati di antaranya adalah eskalasi mendadak konflik geopolitik dunia, potensi resesi AS, serta kebijakan fiskal domestik.
Dihubungi terpisah, SVP, Head of Retail, Product Research & Distribution Division, PT Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Reza Fahmi Riawan mengungkapkan bahwa HPAM juga akan melakukan menyusun kembali portofolio reksadana.
“Menghadapi potensi pemangkasan suku bunga Fed pada September 2024, Henan Asset mungkin akan melakukan rebalancing portofolio,” imbuh Reza kepada Kontan.co.id, Rabu (14/8).
Reza menuturkan, HPAM mungkin akan melakukan rebalancing portofolio dengan meningkatkan eksposur pada obligasi jangka menengah hingga panjang untuk aset-aset surat utang.
Untuk pasar ekuitas, HPAM akan melirik sektor saham yang sensitif terhadap suku bunga seperti perbankan, properti, dan konsumsi. Selain itu, terdapat juga kelas aset yang prospektif seperti sektor teknologi, sektor kesehatan, dan sektor keuangan.
“Strategi ini dirancang untuk memaksimalkan keuntungan di tengah kondisi suku bunga yang menurun,” jelasnya.
Menurut Reza, reksadana saham dan obligasi jangka menengah-panjang akan memberikan pertumbuhan signifikan hingga akhir tahun ini. HPAM memproyeksi IHSG berpotensi mencapai 7.200-7.400 dan penurunan yield obligasi pemerintah 10 tahun ke kisaran 6.0%-6.5% di akhir 2024.
Manajer Investasi Menata Kembali Portofolio Reksadana Jelang Pemangkasan Suku Bunga
Manajer Investasi (MI) menata kembali portofolio produk-produk reksadana merespons sinyal pemangkasan suku bunga. [623] url asal
#portofolio-investasi #manajer-investasi #industri-reksadana #investasi-portofolio #apa-itu-reksadana #kinerja-reksadana #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan) 14/08/24 20:25
v/14420666/
Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Manajer Investasi (MI) menata kembali portofolio produk-produk reksadana. Hal itu seiring sinyal pemangkasan suku bunga yang kian kuat akan berdampak pada rotasi pada aset-aset yang lebih prospektif.
Director & Chief Investment Officer, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Ezra Nazula, melihat, perubahan ekspektasi suku bunga dan stabilitas rupiah berpotensi membawa iklim yang lebih baik bagi pasar obligasi. Hal ini nantinya berpotensi menarik kembali arus masuk dana asing.
Berkurangnya target penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) di semester kedua tahun ini juga bisa menjadi katalis positif lainnya bagi pasar obligasi tanah air. Adapun target penerbitan SBN dipangkas menjadi Rp 451,9 triliun dari semula Rp 666,4 triliun untuk tahun 2024.
Ezra menilai, imbal hasil saat ini masih cukup menarik, di mana selisih imbal hasil SBN 10Y - UST 10Y berada di 288 bps (lebih tinggi dari rata-rata satu tahun sebesar 245 bps). MAMI pun memperkirakan imbal hasil SBN 10 tahun akan terus melandai ke kisaran 6,00% – 6,25% hingga akhir tahun 2024.
Seiring adanya perubahan arah suku bunga, MAMI selaku Manajer Investasi pun sudah menata kembali portofolio pada produk-produk kelolaan. Hal itu sejalan dengan strategi perusahaan yakni manajemen aktif (active management) dalam mengoptimalkan imbal hasil alias return reksadana.
“Kami sendiri istilahnya sudah melakukan rebalancing untuk portofolio kami karena mengantisipasi adanya penurunan suku bunga di semester kedua,” ungkap Ezra dalam market update MAMI, Rabu (14/8).
Teruntuk aset surat utang, Ezra mengatakan bahwa penting untuk melihat durasi yang optimal dalam kondisi saat ini. Tidak hanya itu, perlu juga untuk memperhatikan sektor dari obligasi terkait, sehingga bisa lebih mengoptimalkan portofolio.
Chief Investment Officer Equity MAMI, Samuel Kesuma menambahkan, terdapat beberapa sektor saham yang bisa menjadi pertimbangan di saat siklus pemangkasan suku bunga. Sektor finansial yang berpotensi diuntungkan oleh arus dana asing karena merupakan big caps dan juga likuiditas perbankan mulai terlihat stabil.
Sektor selanjutnya adalah telekomunikasi, baik itu perusahaan penyedia jasa (operator) maupun menara (tower) karena sektor telko dari sisi valuasi dipandang masih tetap menarik. Dan terakhir adalah sektor consumer staples atau yang lebih dikenal dengan FMCG (fast-moving consumer goods), yaitu sektor-sektor yang memproduksi barang-barang kebutuhan harian.
“Seiring siklus penurunan suku bunga, kondisi akan berubah dan membuat pasar saham kembali atraktif dilihat dari sudut pandang risk return yang ditawarkan,” ujar Samuel.
Apalagi, Samuel menambahkan, adanya harapan kebijakan pro pertumbuhan pemerintahan baru turut berpotensi meningkatkan minat investor. Terutama dari investor asing yang sudah lebih dulu berinvestasi ke pasar dan membuat posisi arus dana asing kembali positif.
Adapun untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), MAMI memperkirakan akan mencapai level 7.800 di akhir tahun 2024. Sementara risiko yang perlu dicermati di antaranya adalah eskalasi mendadak konflik geopolitik dunia, potensi resesi AS, serta kebijakan fiskal domestik.
Dihubungi terpisah, SVP, Head of Retail, Product Research & Distribution Division, PT Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Reza Fahmi Riawan mengungkapkan bahwa HPAM juga akan melakukan menyusun kembali portofolio reksadana.
“Menghadapi potensi pemangkasan suku bunga Fed pada September 2024, Henan Asset mungkin akan melakukan rebalancing portofolio,” imbuh Reza kepada Kontan.co.id, Rabu (14/8).
Reza menuturkan, HPAM mungkin akan melakukan rebalancing portofolio dengan meningkatkan eksposur pada obligasi jangka menengah hingga panjang untuk aset-aset surat utang.
Untuk pasar ekuitas, HPAM akan melirik sektor saham yang sensitif terhadap suku bunga seperti perbankan, properti, dan konsumsi. Selain itu, terdapat juga kelas aset yang prospektif seperti sektor teknologi, sektor kesehatan, dan sektor keuangan.
“Strategi ini dirancang untuk memaksimalkan keuntungan di tengah kondisi suku bunga yang menurun,” jelasnya.
Menurut Reza, reksadana saham dan obligasi jangka menengah-panjang akan memberikan pertumbuhan signifikan hingga akhir tahun ini. HPAM memproyeksi IHSG berpotensi mencapai 7.200-7.400 dan penurunan yield obligasi pemerintah 10 tahun ke kisaran 6.0%-6.5% di akhir 2024.
Simak Strategi Menyusun Portofolio Investasi di Era Penurunan Suku Bunga
Investasi saham mencatatkan kinerja yang cukup tinggi sepanjang Juli 2024. [343] url asal
#ihsg #investasi-saham #portofolio-investasi #investasi-portofolio #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #tips
(Kontan-Investasi) 01/08/24 22:12
v/12920909/
Reporter: Nadya Zahira | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investasi saham mencatatkan kinerja yang cukup tinggi sepanjang Juli 2024. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 2,72% secara month on month (MoM), dan naik 0,23% secara year to date(YtD) alias sejak awal tahun.
CEO Pinnacle Investment Indonesia (PT Pinnacle Persada Investama) Guntur Putra mengatakan, sepanjang bulan ini secara keseluruhan kinerja investasi saham dan reksadana berbasis saham menunjukkan returntertinggi, khususnya untuk pasar Indonesia. Reksadana saham kinerjanya naik 2,47% secara MoM.
Guntur menjelaskan, sentimen yang membuat kinerja reksadana saham naik sepanjang Juli 2024, salah satunya yakni, dari dinamika pasar baik global maupun domestik, dan sentimen investor. Sedangkan kenaikan investasi pada saham didorong oleh inflasi AS Juni, yang nilainya di bawah ekspektasi atau lebih baik.
Oleh sebab itu, Guntur memprediksi bahwa ke depannya, kinerja saham dan reksadana saham akan tetap positif. Hal ini seiring dengan semakin kuatnya ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, yang akan tetap dilakukan pada September 2024.
“Penurunan suku bunga umumnya akan mendukung sektor yang sensitif terhadap biaya pinjaman, seperti properti dan saham yang berorientasi pada pertumbuhan,” kata Guntur kepada Kontan.co.id, Kamis (1/8).
Dengan begitu, dia mengatakan untuk instrumen menarik yang bisa dikoleksi investor dengan kondisi saat ini yaitu, reksadana pendapatan tetap dan saham karena ada probabilitas besar The Fed akan menurunkan suku bunga acuannya, yang kemungkinan akan disusul oleh Bank Indonesia (BI).
Kendati begitu, Guntur menegaskan kepada para investor, untuk tetap melakukan penyesuaian investasinya dengan profil risiko masing-masing dan tujuan investasi, serta jangka waktu berinvestasi.
“Pasalnya, sangat penting untuk mempertimbangkan diversifikasi portfoolio dan mengalokasikan dana ke berbagai jenis aset untuk mengurangi risiko secara keseluruhan,” kata dia.
Berikut rekomendasi alokasi portofolio investasi dari Guntur berdasarkan tipe investor:
Investor dengan profil risiko konservatif
- 50% obligasi, termasuk obligasi pemerintah dan korporasi
- 30% reksadana pasar uang
- 20% saham blue chipatau reksadana saham blue chip
Investor dengan profil risiko moderat
- 40% obligasi, termasuk obligasi pemerintah dan korporasi
- 30% saham blue chipatau reksadana saham blue chip
- 20% reksadana pasar uang
- 10% emas
Investor dengan profil risiko agresif
- 50% saham blue chipatau reksadana saham blue chip
- 30% obligasi
- 15% reksadana pasar uang
- 5% emas
Strategi Susun Alokasi Portofolio Investasi di Tengah Potensi Penurunan Suku Bunga
Bitcoin (BTC) dan emas mencatatkan kinerja tertinggi sepanjang Juli 2024. [1,075] url asal
#bitcoin #emas #portofolio-investasi #portofolio-investasi #investasi-portofolio #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #market-amp-rekomendasi
(Kontan) 01/08/24 21:42
v/12918197/
Reporter: Nadya Zahira | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bitcoin (BTC) dan emas mencatatkan kinerja tertinggi sepanjang Juli 2024. Di mana, Bitcoin naik sebesar 9,20,% secara bulanan atau Month of Month(MoM) dan melonjak 52,93% secarayear to date (YTD) alias sejak awal tahun. Sedangkan emas spot menguat 5,76% MoM dan naik 19,63% secara YTD.
Kendati begitu, aset kripto saat ini berisiko tinggi karena kondisi sedang tidak pasti. Namun, harga emas diproyeksi bakal lebih bersinar di akhir tahun 2024. Logam kuning akan mendapat dukungan dari pelonggaran kebijakan moneter hingga permintaan yang meningkat dari India.
Dalam kondisi seperti ini, investor tetap perlu kembali menata portofolio investasi. Pasalnya, perang masih terus berlangsung di Timur Tengah dan konflik dapat sewaktu-waktu terjadi lebih meletup lagi.
Menanggapi hal ini, Head of Investment Research Moduit Manuel Adhy Purwanto menuturkan, kenaikan kinerja aset berisiko salah satunya Bitcoin diperkirakan terjadi karena inflasi konsumen di Amerika Serikat (AS) pada bulan Juni kembali turun menjadi 3% secara year on year (YoY) dari sebelumnya 3,3% YoY.
Sehingga, Manuel bilang, hal ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mulai memangkas suku bunga dari level saat ini di 5,25-5,50%. Selain itu, probabilitas penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin atau 0,25% pada bulan September telah mencapai 86%.
Menurut dia, pernyataan Ketua The Fed, Powell, juga mendukung hal ini dengan mengatakan bahwa kondisi ekonomi AS kini sudah jauh berbeda dibandingkan setahun yang lalu. Inflasi sudah melandai sementara tingkat pengangguran meningkat.
Tak hanya itu, Manuel menyebutkan bahwa penurunan indeks dolar AS, yang merupakan acuan mata uang USD terhadap semua mata uang, juga turun ke 104 pada akhir Juli 2024, dari 106 pada akhir Juni 2024.
“Penurunan indeks dolar AS ini turut mendorong kenaikan harga komoditas seperti emas, di tengah masih berlanjutnya konflik geopolitik di Timur Tengah. Maka dari itu, kinerja emas naik sepanjang Juli 2024,” kata Manuel kepada Kontan.co.id, Kamis (1/8).
Ia menilai, ekspektasi penurunan suku bunga yang merupakan tolok ukur aset bebas risiko, akan memberikan dampak positif terhadap aset seperti saham, obligasi, dan kripto, karena investor cenderung akan mengalihkan investasinya dari deposito jika suku bunganya cenderung turun.
Untuk itu, Manuel mengatakan bahwa para investor saat ini bisa mempertimbangkan, untuk menyesuaikan portofolio investasi dengan aset yang lebih agresif.
“Jadi yang terpenting, pahami aset investasi yang dipilih dan pastikan setiap keputusan investasi diambil berdasarkan pertimbangan rasional, bukan hanya emosional,” kata dia.
Manuel menuturkan, dengan melihat kondisi pasar, investor dapat mempertimbangkan alokasi aset berikut.
Investor Konservatif
- 30% reksadana pasar uang,
- 40% obligasi atau reksadana pendapatan tetap
- 10% emas
- 20% saham atau reksadana saham
Investor Moderat
- 10% reksadana pasar uang
- 40% obligasi atau reksadana pendapatan tetap
- 10% emas
- 40% saham atau reksadana saham
Investor agresif:
- 20% reksadana pendapatan tetap atau obligasi
- 20% emas
- 60% saham atau reksadana saham
Selaras dengan hal ini, Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur mengatakan, pergerakan harga Bitcoin (BTC) selama bulan Juli 2024 menunjukkan hasil yang cukup memuaskan, terlihat dari kinerjanya yang naik 9,20% sepanjang Juli 2024.
Berdasarkan data Bitcoin Monthly Returns, pertumbuhan nilai BTC naik seignifikan sebesar 3,14%, dibandingkan bulan sebelumnya yang turun mencapai -6,96%.
“Maka di bulan Agustus juga menjadi harapan baru bagi investor untuk potensi harga Bitcoin bisa mencapai nilai tertunggi sepanjang masa kembali,” kata Fyqieh kepada Kontan.co.id, Kamis (1/8).
Namun, Fyqieh menyebutkan, di awal bulan Agustus, Bitcoin dan pasar kripto secara keseluruhan mengalami penurunan tajam. Pada Kamis (1/8), harga Bitcoin turun karena meningkatnya risiko geopolitik yang menarik perhatian investor setelah pertemuan The Fed bulan Juli berakhir.
Di mana, Bitcoin turun di bawah level US$ 65.000 dari sekitar level US$ 66.500 setelah konferensi pers Ketua Fed, Jerome Powell, yang mengumumkan tetap mempertahankan laju suku bunga pada 5,25-5,5%. Mengutip CoinmarketCap, harga BTC melemah 2,33% ke level US$ 64.704 pada Kamis, (1/8) pukul 20.15 WIB.
Fyqieh menilai, penurunan harga Bitcoin ini banyak dipengaruhi oleh sentimen distribusi BTC oleh Mt. Gox, transfer Bitcoin senilai $2 miliar oleh pemerintah AS, serta kondisi geopolitik Timur Tengah yang memanas kembali pasca pimpinan Iran dilaporkan memerintahkan serangan balasan terhadap Israel atas wafatnya Kepala Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh.
“Sentimen pasar juga terpengaruh oleh ketidakpastian seputar regulasi kripto global dan kekhawatiran akan inflasi yang meningkat," kata Fyqieh.
Kendati begitu, dia memprediksi harga Bitcoin akan kembali naik di atas US$ 70.000 atau sekitar Rp1,13 miliar pada Agustus ini. Namun, Bitcoin memerlukan bantuan makro lebih lanjut dalam bentuk putaran inflasi yang lebih rendah dan proyeksi pemangkasan suku bunga Fed, untuk memicu kenaikan harga.
Investasi Saham Juga Memiliki Return Tinggi
Sementara itu, Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen (BPAM) Eri Kusnadi mengatakan, investasi saham dan obligasi korporasi juga memiliki kinerja yang cukup tinggi. Di mana, saham kinerjanya tercatat naik 2,72% secara MoM dan meningkat 0,66% secara YtD.
Eri menjelaskan, kenaikan ini dipengaruhi inflasi AS Juni, yang nilainya di bawah ekspektasi atau lebih baik, serta membaiknya sentimen dalam negeri seiring earning season.Dia memprediksi bahwa ke depannya kinerja saham masih tetap cukup baik, terutama setelah pertemuan the Fed semalam, sehungga ada kemungkinan suku bunga di AS akan di potong lebih cepat atau pada September 2024.
Dia mengatakan bahwa dalam kondisi pasar yang tidak pasti seperti saat ini, diversifikasi portofolio menjadi kunci untuk mengurangi risiko dan memaksimalkan potensi keuntungan.
Eri menilai, untuk instrumen menarik yang bisa dikoleksi investor dengan kondisi saat ini yaitu reksadana pendapatan tetap dan saham karena ada probabilitas besar The Fed akan menurunkan suku bunga acuan, yang kemungkinan akan diikuti oleh Bank Indonesia (BI).
"Tetapi, terkait apakah lebih baik pegang tunai atau tidak, ini tergantung pada tujuan investasi dan toleransi risiko masing-masing," kata Eri kepada Kontan.co.id, Kamis (1/8).
Eri menyebut, jika investor mencari keamanan dan likuiditas, maka memegang sebagian portofolio dalam bentuk tunai atau setara tunai mungkin bijaksana. Terutama, jika para investor memerlukan dana dalam waktu dekat atau ingin memiliki dana cadangan untuk memanfaatkan peluang investasi yang muncul tiba-tiba.
Namun, ia menuturkan, apabila investor memiliki horizon investasi jangka panjang dan dapat menoleransi volatilitas pasar, maka mengalokasikan dana ke instrumen investasi dengan potensi pertumbuhan berpotensi lebih menguntungkan.
“Jadi investor bisa melakukan investasi sesuai dengan risk profilemasing-masing, lalu punya pandangan jangka panjang, lalu kalau ada kesempatanaveragingdi harga lebih murah, maka sebaiknya dimanfaatkan,” imbuhnya.
Eri merekomendasikan alokasi portofolio investasi berdasarkan tipe investor.
Investor dengan profil risiko konservatif
40% reksadana pasar uang
50% obligasi atau reksadana pendapatan tetap
10% saham atau reksadana saham
Investor dengan profil risiko moderat
30% reksadana pasar uang
40% reksadana pendapatan tetap
30% reksadana saham
Investor dengan profil risiko agresif
20% reksadana pasar uang atau obligasi
40% reksadana pendapatan tetap
40% saham atau reksadana saham
Meracik Strategi Uang Pensiun untuk Investasi Saham
Meracik portofolio saham bisa menjadi salah satu cara untuk mengelola dana pensiun. [1,055] url asal
#dana-pensiun #investasi-saham #portofolio-investasi #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #market-amp-rekomendasi
(Kontan) 19/07/24 18:48
v/11331487/
Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Meracik portofolio saham bisa menjadi salah satu cara untuk mengelola dana pensiun. Salah satu strategi untuk memaksimalkan imbal hasil adalah melalui strategi dividend investing yang fokus pada saham-saham yang rutin membayar dividen tunai besar.
Setelah puluhan tahun bekerja, setiap orang pasti memiliki tabungan di akhir masa kerjanya. Dana ini tentu bisa diinvestasikan agar imbal hasilnya bisa menjadi pendapatan rutin per bulan untuk menghidupi masa pensiun.
Founder Komunitas Hungry Stock, Lukas Setia Atmaja melihat, strategi ini masih jadi yang terbaik untuk berinvestasi, lantaran jumlah dividen saham yang dibagikan akan bertambah seiring dengan meningkatnya laba perusahaan.
Dalam tulisannya di kanal Wake Up Call di Harian Kontan, Senin (15/7) lalu, perusahaan publik di Indonesia biasanya membagikan dividen setahun sekali. Meskipun, ada juga yang membagikan dividen setiap enam bulan yang terdiri dari dividen interim dan dividen final. Contohnya, adalah saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).
Strategi ini tak terbatas untuk para pensiunan, tetapi juga untuk siapapun yang ingin punya penghasilan tambahan. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih saham dengan strategi dividend investing atau biasa juga disebut income investing.
Pertama, dividend yield yang besar, minimal 4%. Kedua, penjualan, laba bersih, dan dividen perusahaan tumbuh minimal 6% per tahun atau setidaknya stabil.
Ketiga, tata kelola atau reputasi perusahaan bagus. Keempat, tingkat utang perusahaan relatif rendah, khususnya untuk saham nonbank.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy melihat, jika investor mengandalkan dividen saham berkinerja baik, kemungkinan imbal hasil yang akan diterima oleh investor adalah sekitar 4%-5% per tahun.
Jika diasumsikan investor memiliki dana sebesar Rp 1 miliar di akhir masa kerja, berarti akan menghasilkan sekitar Rp 40 juta - Rp 50 juta per tahun. Investor berarti mengantongi Rp 3,3 juta - Rp 4,1 juta per bulan.
Budi melihat, dana ini masih tidak cukup untuk menghidupi kebutuhan harian selama masa pensiun.
“Dengan gaya hidup sederhana saja, kebutuhan bulanan mungkin sudah sekitar Rp 10 juta, sehingga diperlukan sekitar Rp 120 juta setahun. Artinya, perlu dana sekitar Rp 2,5 miliar - Rp 3 miliar untuk investasi,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (19/7).
Budi memaparkan, ada sejumlah cara yang membantu investor agar bisa mengandalkan dividen saham sebagai pemasukan di masa pensiun.
Pertama, turunkan gaya hidup jika sebelumnya boros dan pertahankan jika sudah sederhana. Kedua, pindahkan aset konsumtif menjadi aset produktif.
Misalnya, rumah yang terlalu besar dengan pajak bumi dan bangunan (PBB) yang besar harus dijual untuk diganti dengan yang kecil, namun nyaman. Rumah yang ditinggali dan kendaraan itu nilai maksimumnya adalah 30% dari total aset yang dimiliki seseorang.
“Sehingga, aset produktif minimal 70% sisanya itu bisa ditaruh di surat berharga negara (SBN) yang mungkin bisa memberikan 5%-6% per tahun dan di sejumlah saham dengan dividend yield besar,” paparnya.
Budi melihat, investor bisa melirik saham konstituen indeks IDX High Dividend 20 yang secara historis memiliki dividen yang tinggi.
“Saham dari sektor perbankan, asuransi, farmasi, energi baru terbarukan (EBT), dan consumers goods bisa dilirik untuk kebutuhan ini,” tuturnya.
Investor Kakap, Kartika Sutandi atau yang akrab disapa Tjoe Ai mengatakan, dividend yield saham berkinerja bisa mendapatkan 10% per tahun. Jika dividen yang dibagikan di bawah 10%, Kartika menyarankan investor untuk menaruh dana di deposito.
Namun, dividen saham itu dinilai Kartika adalah situasi zero sum game, karena harga saham biasanya disesuaikan sebesar dividennya usai tanggal ex-dividen, bahkan kadang bisa lebih rendah dari itu.
Alhasil, Kartika melihat, mengandalkan strategi dividend investing untuk menghidupi masa pensiun cukup sulit. Apalagi, ada skenario di mana para emiten bisa membagikan imbal hasil dividen hanya 3% per tahun atau tidak membagikan dividen sama sekali.
“Jadi kalau mau didiamkan saja dan mengandalkan dividen, cukup berat. Apalagi, ada inflasi. Sebaiknya investor menaruh dana pensiun itu di reksadana dan membiarkan manajer investasi mengelola uang tersebut,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (19/7).
Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat melihat, imbal hasil dividen ada di kisaran 3% per tahun. Dengan dana Rp 1 miliar, artinya investor hanya mendapatkan sekitar Rp 3 juta per bulan.
“Rp 3 juta per bulan mungkin cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Tetapi, mungkin butuh dana lain untuk makan, berobat, dan rekreasi,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (19/7).
Menurut hitungan Teguh, investor minimal harus mengantongi Rp 2,5 miliar agar bisa mendapatkan imbal hasil yang bagus dari gulungan investasi. Ini sudah memasukkan hitungan adanya inflasi dalam setidaknya 10 tahun ke depan.
“Angkanya memang tinggi. Tetapi, kita bisa dapatkan itu dari setidaknya 20 tahun bekerja. Jadi, investasi itu seharusnya sudah dilakukan sejak kita masih ada di usia produktif,” paparnya
Teguh juga melihat, investasi dengan strategi dividend investing ini merupakan jalan yang paling menguntungkan dibandingkan dengan deposito atau surat berharga negara (SBN).
Imbal hasil SBN memang tinggi, sekitar 5%-6% per tahun. Tetapi, angka ini bisa berubah mengikuti suku bunga Bank Indonesia (BI). Imbal hasil deposito juga sekitar 2%-3% per tahun, tetapi datar sampai jatuh tempo. Sementara, imbal hasil dividen dari kinerja emiten berfundamental baik bisa naik dalam waktu 5 tahun.
“Di tiga tahun pertama bisa sekitar 3%. Masuk tahun kelima itu, mungkin akan naik menjadi 4%-5% dan di tahun ketujuh sudah lebih dari 5% imbal hasilnya,” tuturnya.
Untuk sektor terbaik, Teguh merekomendasikan empat bank besar perbankan dan sektor batubara. Namun, untuk sektor batubara, ada catatan bahwa harga batubara sangat fluktuatif, sehingga imbal hasilnya juga pasti berubah-ubah.
“Imbal hasil sektor batubara bisa sampai 10%, tetapi tidak akan terus begitu, karena nanti tetap mengikuti fluktuasi harga batubara,” paparnya.
Dari sektor perbankan, Teguh merekomendasikan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) belum direkomendasikan, karena harganya masih tinggi, sehingga imbal hasil dividennya bakal tipis ke depannya.
Investor bisa masuk ke BBRI dan BBNI saat harganya menyentuh di bawah Rp 4.500 per saham. BMRI bisa diserok saat harganya di bawah Rp 5.000 per saham.
Dari sektor batubara, Teguh merekomendasikan PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), dan ITMG. Ketiganya dinilai masih memiliki valuasi saham yang murah.
PTBA bisa dikoleksi saat harga di bawah Rp 3.000 per saham. ITMG bisa masuk saat harga di antara Rp 20.000 - Rp 24.000 per saham. Sementara, ADRO bisa dikoleksi saat harganya di bawah Rp 3.000 per saham.
“Tahun ini juga waktu yang tepat untuk masuk, karena harga saham mereka masih rendah dan pasar saham masih belum bullish,” tuturnya.
Penurunan Fed Rate Makin Dekat, Begini Saran Mengelola Portofolio Investasi
Ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve meningkat. [213] url asal
#portofolio-investasi #investasi-portofolio #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #tips
(Kontan) 07/07/24 19:57
v/9995635/
Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve meningkat. Efeknya dinilai positif untuk pergerakan instrumen investasi Indonesia.
Berdasarkan CME Fedwatch, ekspektasi pemangkasan suku bunga the Fed sebesar 25 bps pada September meningkat ke 72% dari sepekan sebelumnya di 57,9%. Lalu peluang pemangkasan 25 bps kembali di Desember juga meningkat menjadi 47,3% dari sepekan sebelumnya di 43,4%.
Perencana Keuangan Finansia Consulting Eko Endarto mengatakan, bunga turun menunjukkan prospek bagus di investasi, khususnya sektor riil. Banyak perusahaan melakukan investasi dan mengembangkan perusahaannya karena bunga rendah sehingga potensi keuntungan menjadi naik.
"Jadi untuk investasi riil atau ke saham saya kira cukup menjanjikan," ujar dia kepada Kontan.co.id, Jumat (5/7).
Dengan asumsi pemangkasan Fed Rate sebesar 50 bps, Eko menilai emas, saham, dan obligasi bisa menjadi pertimbangan investor. Namun, pilihan tersebut untuk investor dengan timeline jangka panjang atau lebih dari 5 tahun.
"Dengan adanya pemerintahan baru pastinya akan ada terobosan-terobosan baik untuk usaha dan investasi," sambungnya.
Oleh sebab itu, Eko menyarankan investor dengan dengan tipe konservatif bisa mengatur portofolionya dengan komposisi 10% deposito, 40% obligasi, dan 50% saham atau properti. Lalu, investor moderat dapat mengatur komposisinya 50% deposito dan 50% saham atau properti.
"Untuk agresif bisa 20% deposito dan 80% saham," imbuhnya.
Foto: dok. Valbury