#30 tag 24jam
Dorong UMKM Go Ekspor, Mendag Budi Harap Tren Banjir Impor Bisa Turun
Kemendag berharap tren banjir impor di dalam negeri bisa berkurang, seiring dengan upaya pemerintah menjadikan produk UMKM berkualitas ekspor. [326] url asal
#banjir-produk-impor #impor-produk #produk-impor #kemendag #mendag #budi-santoso #produk-ekspor #ekspor-umkm #produk-umkm
(Bisnis.Com - Ekonomi) 09/11/24 00:30
v/17819361/
Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Perdagangan (Kemendag) berharap agar tren impor produk yang membanjiri pasar dalam negeri bisa berkurang, seiring dengan upaya pemerintah yang bertekad menjadikan produk UMKM memiliki kualitas ekspor.
Hal itu disampaikan Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso saat ditemui di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (9/11/2024).
Bahkan, Budi pun mengeklaim produk yang masuk ke Indonesia mengalami penurunan. “Tren impornya ya turun, kita harapkan turun,” kata Budi.
Menurut Budi, jika produk UMKM memiliki kualitas untuk diekspor, maka berdaya saing pula di pasar dalam negeri.
“Kita itu berpikirnya begini, kalau produk UMKM itu punya kualitas ekspor, berarti dia punya daya saing juga di dalam negeri,” tuturnya.
Kendati demikian, Budi mengaku bahwa menjual produk agar bisa ekspor bukanlah pekerjaan yang mudah. Namun, lanjut dia, Kemendag memberikan fasilitas agar produk UMKM lokal bisa mendunia.
“Ketika dia belum bisa ekspor, berarti dia akan masuk ke pasar dalam negeri. Kalau sudah masuk ke pasar dalam negeri, itu bisa untuk mengurangi barang impor,” terangnya.
Adapun, Kemendag akan memfasilitasi para pelaku UMKM dengan mengadakan pertemuan rutin berupabusiness matchingsebagai ajang mempromosikan produk UMKM agar bisa tembus ke pasar internasional.
Melaluibusiness matching, Kemendag akan secara berkala membahas akar permasalahan UMKM yang kesulitan menembus pasar luar negeri.
Kemendag di bawah Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) juga akan melakukan penjadwalan keikutsertaan pameran produk dalam negeri untuk bisa masuk ke pasar luar negeri. Namun, pameran ini juga harus tetap melalui proses kurasi produk.
Di samping itu, Kemendag juga akan memfasilitasi UMKM dengan membahas terkait proses perizinan, promosi, hingga perpajakan. “Karena teman-teman di UMKM kan problemnya macam-macam,” imbuhnya.
Budi menjelaskan pembinaan ini juga dilakukan untuk mengukur daya saing yang dimiliki pasar UMKM dalam negeri. Sebab, jika suatu produk akan diekspor, maka produk tersebut dipastikan harus bernilai tinggi.
Namun, Budi menyebut bahwa daya saing tidak sekadar produk, melainkan juga dari sisi manajemen perusahaan. “Kalau perusahaannya nggak tahu cara ekspor dan sebagainya kan juga itu dari daya saing. Nah itu kamiajarinsemua, kita ada pelatihan,” terangnya.
Prabowo Mau Bangun Pasar hingga Genjot Ekspor UMKM, Begini Caranya
Program ini juga merupakan arahan dari Presiden Prabowo Subianto sebagai hasil dari retreat di Magelang, Jawa Barat. [575] url asal
#prabowo-mau-bangun-pasar #produk-ekspor #natal-dan-tahun-baru #budi-santoso #nataru #ica-cepa #jawa-barat #kontribusi-ekspor-ukm #kepentingan #dagang #kanada #magelang #kemitraan-ekonomi #ieaeu-fta #hari-belanj
(detikFinance - Sosok) 04/11/24 10:45
v/17451177/
Jakarta - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengungkapkan, tiga program kerja Kementerian Perdagangan menjadi bagian dari Program Quick Wins Kementerian di Bidang Perekonomian. Program ini juga merupakan arahan dari Presiden Prabowo Subianto sebagai hasil dari retreat di Magelang, Jawa Barat.
Ketiga program kerja tersebut, yaitu Pengamanan Pasar Dalam Negeri, Perluasan Pasar Ekspor, dan Peningkatan Usaha Kecil dan Menengah Berani Inovasi, Siap Adaptasi (UKM BISA) Ekspor.
"Fokus program kerja Kementerian Perdagangan ada tiga, yaitu Pengamanan Pasar Dalam Negeri, Perluasan Pasar Ekspor, dan Peningkatan UKM BISA Ekspor. Ketiga program kerja ini menjadi sumbangsih Kemendag dalam penyusunan Program Quick Wins kementerian-kementerian di bidang perekonomian," urai Budi, dalam keterangannya, Selasa (4/11/2024).
Pertama, Program Kerja Pengamanan Pasar Dalam Negeri, Budi menargetkan pemanfaatan 22 pasar yang dibangun pada 2024. Target ini ditujukan untuk mempercepat pemanfaatan 22 pasar yang dibangun menggunakan Dana Tugas Pembantuan sesuai Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 9 Tahun 2024 yang diundangkan pada 28 Mei 2024.
Kedua, penyelesaian Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) produk nilon dari Tiongkok, Thailand, dan Taiwan serta Bea Masuk Tindakan Pengamanan (BMTP) pakaian jadi. Tujuannya adalah mengurangi potensi kerugian dan melindungi industri dalam negeri dari membanjirnya impor dan impor yang tidak adil.
Ketiga, pengawasan perdagangan berkelanjutan untuk 40 jenis produk dan pengawasan pada momen Natal dan Tahun baru (Nataru). Budi melihat perlunya mendukung kelancaran distribusi barang kebutuhan pokok dan barang penting, meningkatkan barang beredar yang memenuhi ketentuan, serta memastikan konsumen mendapatkan barang dan jasa sesuai ukuran yang tertera.
Pada program kerja ini adalah peningkatan nilai transaksi produk dalam negeri pada Hari Belanja Online Nasional (HarBolNas) sebesar 50%. Hal ini ditujukan untuk meningkatkan transaksi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di lokapasar.
"Kami meyakini dukungan pemerintah terhadap pasar dalam negeri memainkan peranan penting dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat. Terutama, dalam kegiatan jual beli di tengah masyarakat, industri lokal, hingga perlindungan konsumen," ungkap Budi.
Selanjutnya, pada Program Kerja Perluasan Pasar Ekspor, Budi menargetkan penyelesaian tiga perundingan perdagangan bilateral Indonesia dengan tiga negara mitra, yaitu Kanada, Eurasia, dan Peru.
Saat ini, masih berlangsung perundingan Indonesia dengan Kanada dalam skema kemitraan ekonomi komprehensif (Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement/ICA-CEPA), dengan Eurasia dalam skema perdagangan bebas (Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement/IEAEU-FTA), serta dengan Peru dalam skema Indonesia- Peru CEPA.
"Ketiga perundingan tersebut telah mencapai kemajuan signifikan dan ditargetkan dapat mencapai penyelesaian substansi dalam waktu dekat," tambah Budi.
Selain itu, Budi menargetkan percepatan penyelesaian perundingan CEPA antara Indonesia dan Uni Eropa (IEU-CEPA). "Target ini untuk mempercepat pemanfaatan hasil perundingan, sehingga meningkatkan daya saing produk ekspor nasional dan memperluas pasar ekspor Indonesia," ungkap Budi.
Sedangkan, pada Program Kerja UKM BISA Ekspor, Budi menetapkan lima target. Pertama, pengembangan ekosistem UKM ekspor. Kedua, pembentukan dua pusat ekspor baru di luar Pulau Jawa.
"Penguatan ekosistem UKM ekspor diperlukan untuk mendorong kontribusi ekspor UKM menjadi lebih besar dan terukur. Pusat ekspor juga akan sangat berperan penting bagi para pelaku ekspor agar dapat menemukan pasar yang lebih luas," ujar Budi.
Ketiga, tercetaknya 100 UKM ekspor hasil program UKM BISA Ekspor. Keempat, tercapainya 600 UKM yang mendapatkan pelatihan ekspor sepanjang periode 21 Oktober-31 Desember 2024. Kelima, optimalisasi peran perwakilan perdagangan dalam promosi ekspor UKM dengan target transaksi mencapai USD 55 juta yang didukung antara lain melalui pameran dan penjajakan kesepakatan dagang (business matching).
Untuk itu, Budi menyampaikan pentingnya kontribusi para pemangku kepentingan dan jajaran Kementerian Perdagangan agar target ini dapat tercapai. "Kolaborasi dan sinergi para pemangku kepentingan dan jajaran Kemendag penting dilakukan untuk mencapai target tersebut," pungkas Budi.
(ada/ara)
Sagu, Tenun, dan Kopi Jadi Penggerak Ekspor Indonesia, LPEI Perkuat Capaian lewat Desa Devisa
LPEI mendorong produk unggulan lokal, yakni kain tenun Palembang, sagu dari Meranti, dan kopi dari Gayo untuk menembus pasar ekspor global. Halaman all [1,025] url asal
#lpei #produk-ekspor #pasar-ekspor
(Kompas.com) 25/09/24 15:00
v/15545772/
KOMPAS.com - Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bersama Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) terus berupaya mendorong produk unggulan lokal dengan potensi besar untuk menembus pasar ekspor global.
Saat ini, Indonesia memiliki tiga produk unggulan, di antaranya kain tenun Palembang, sagu dari Kepulauan Meranti, dan kopi Gayo asal Aceh.
Untuk terus mendorong ekspor tiga komoditas tersebut, DJKN Kemenkeu bersama LPEI menetapkan tiga program Desa Devisa di wilayah Sumatera Selatan, Riau, dan Aceh melalui program Special Mission Vehicle (SMV) Icon pada 29 Agustus 2024.
Kepala Kanwil DJKN Sumsel, Jambi, dan Bangka Belitung Kemenkeu Ferdinan Lengkong mengatakan, program SMV Icon merupakan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah.
Program itu dibuat untuk mencapai tujuan-tujuan ekonomi nasional, dalam hal ini mendorong potensi desa untuk dapat menembus pasar ekspor melalui kegiatan Desa Devisa LPEI.
Inisiasi Desa Devisa merupakan langkah strategis yang akan memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah, terutama di wilayah Sumatera Selatan, Riau, dan Aceh.
“Desa Devisa dalam program SMV Icon bertujuan untuk meningkatkan ekspor dan penetapan devisa yang berkelanjutan,” ungkapnya dalam siaran pers, Rabu (25/9/2024).
Ferdinan berharap, program itu dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan rumah tangga pengrajin serta berperan dalam ekspor global.
“Program ini merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat kapasitas ekspor daerah melalui pengembangan produk unggulan desa-desa tersebut,” katanya.
Kepala Departemen Jasa Konsultasi UKM LPEI Nilla Meidhita mengatakan, program Desa Devisa bertujuan mendorong ekspor produk lokal, meningkatkan devisa negara, serta kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan koperasi dan usaha mikro kecil menengah (UMKM).
Dia berharap, pendampingan dan pelatihan yang diberikan LPEI dapat membuat produk-produk UMKM memenuhi standar ekspor dan bersaing di pasar global.
Nilla mengatakan, LPEI memberikan serangkaian pelatihan dan pendampingan holistik sehingga turut memberikan pengetahuan yang mendalam kepada peserta.
“LPEI juga mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan ekspor secara lebih terstruktur dan profesional sekaligus mendukung pengembangan potensi komoditas desa menuju pasar internasional,” katanya.
Potensi produk unggulan
DOK. Humas LPEI Salah seorang petani kopi Gayo asal Aceh.Potensi produksi dan permintaan global yang terus meningkat membuat produk unggulan, seperti kain tenun, sagu, dan kopi gayo diharapkan dapat menjadi motor penggerak ekspor baru bagi Indonesia sekaligus memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah.
Capaian pemerintah dalam mendorong ekspor kain tenun, sagu, dan kopi tercermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah LPEI pada 2023.
Peningkatan ekspor tenun tertinggi masih dicatatkan dengan negara tujuan ke Arab Saudi yang naik 12,25 juta dollar Amerika Serikat (AS), Uni Emirat Arab naik 10,71 juta dollar AS, Meksiko naik 5,22 juta dollar AS, India naik 4,72 juta dollar AS, dan Filipina naik 1,97 juta dollar AS.
Indonesia juga paling banyak mengekspor jenis kain tenun berupa kain tenunan dari benang filamen sintetik sebanyak 50,64 persen, kain tenunan lainnya dari serat stapel sintetik 13,77 persen serta kain tenunan dari kurang dari 85 persen serat stapel sintetik, dicampur dengan kapas sebesar 8,27 persen.
Sementara itu, nilai ekspor sagu Indonesia meningkat tajam sebesar 134,40 persen year on year (YoY) pada 2023, sejalan dengan volume ekspor yang meningkat 164,86 persen yoy.
Peningkatan ini terutama dipicu oleh tingginya permintaan dari Tiongkok, Malaysia, Taiwan, Filipina, dan Singapura.
Sagu menarik perhatian pasar global karena sifatnya yang non-GMO dan bebas gluten sehingga menarik konsumen yang peduli dengan kesehatan.
Di sisi lain, pada periode Januari-Juni 2024, nilai ekspor kopi meningkat sebesar 10,79 persen yoy, hal ini menunjukkan adanya pengaruh positif dari kenaikan harga kopi di pasar global.
Ekspor kopi ke sejumlah negara masih mencatatkan peningkatan, tertinggi ke Thailand (naik 26,75 juta dollar AS, diikuti ke Filipina naik 10,88 juta dollar AS, Malaysia naik 9,02 juta dollar AS, Uni Emirat Arab naik 6,38 juta dollar AS, dan Armenia naik 4,53 juta dollar AS.
Produk unggulan, seperti tenun Palembang, Sagu dari Kepulauan Meranti, dan Kopi Gayo asal Bener Meriah, Aceh juga memiliki potensi untuk tembus pasar ekspor dalam dua tahun mendatang.
Program Desa Devisa
Pemerintah melalui LPEI terus mendorong Desa Devisa untuk meningkatkan ekspor Indonesia dan kini mulai menuai hasil yang baik.
Sejak 2020 hingga Agustus 2024, akumulasi jumlah Desa Devisa LPEI mencapai 1.545 Desa Devisa yang tersebar di seluruh Indonesia dengan melibatkan 134.918 petani, nelayan, perajin, dan warga lainnya.
Terdapat 23 komoditas ekspor unggulan Desa Devisa, antara lain kopi, rumput laut, kakao, gula aren, dan kerajinan.
Desa Devisa Tenun Palembang meliputi 6 desa dengan jumlah 20 perajin yang mempekerjakan sekitar 300 pekerja.
Desa Devisa Tenun Palembang memiliki kapasitas produksi 600 lembar kain per tahun dengan omzet Rp 1,3 miliar.
Melalui program Desa Devisa, LPEI memberikan pendampingan berupa pelatihan peningkatan kualitas produk, pengembangan desain yang sesuai dengan tren pasar global, serta melakukan pendampingan agar tenun Palembang dapat melakukan ekspor ke pasar internasional seperti Amerika Serikat.
Desa Devisa Sagu dari Kepulauan Meranti terdiri dari 16 desa dengan melibatkan lebih dari 6.000 petani.
Dengan kapasitas produksi mencapai 1.000 ton per bulan, program ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk sagu di pasar internasional melalui peningkatan kualitas, diversifikasi produk, dan penerapan standar mutu global.
Dengan begitu, Desa Devisa Sagu Meranti diharapkan dapat menembus pasar ekspor negara kawasan, seperti Malaysia dan Singapura.
Sementara itu, Desa Devisa Kopi Gayo asal Bener Meriah, Aceh, meliputi 220 desa dengan total lahan seluas 192 hektar (ha) yang menghasilkan 134,4 ton dengan potensi penjualan mencapai Rp 14,1 miliar.
Adapun untuk memperkuat daya saing dan memastikan keberlanjutan, Kemenkeu, LPEI, dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bener Meriah membentuk Koperasi Panca Gayo Aceh sebagai off-taker kopi gayo untuk dapat menembus pasar kopi dunia.
Sagu, Tenun, dan Kopi Jadi Penggerak Ekspor Indonesia, LPEI Perkuat Capaian lewat Desa Devisa Halaman all
LPEI mendorong produk unggulan lokal, yakni kain tenun Palembang, sagu dari Meranti, dan kopi dari Gayo untuk menembus pasar ekspor global. Halaman all [1,025] url asal
#lpei #produk-ekspor #pasar-ekspor
(Kompas.com) 25/09/24 15:00
v/15537541/
KOMPAS.com - Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bersama Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) terus berupaya mendorong produk unggulan lokal dengan potensi besar untuk menembus pasar ekspor global.
Saat ini, Indonesia memiliki tiga produk unggulan, di antaranya kain tenun Palembang, sagu dari Kepulauan Meranti, dan kopi Gayo asal Aceh.
Untuk terus mendorong ekspor tiga komoditas tersebut, DJKN Kemenkeu bersama LPEI menetapkan tiga program Desa Devisa di wilayah Sumatera Selatan, Riau, dan Aceh melalui program Special Mission Vehicle (SMV) Icon pada 29 Agustus 2024.
Kepala Kanwil DJKN Sumsel, Jambi, dan Bangka Belitung Kemenkeu Ferdinan Lengkong mengatakan, program SMV Icon merupakan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah.
Program itu dibuat untuk mencapai tujuan-tujuan ekonomi nasional, dalam hal ini mendorong potensi desa untuk dapat menembus pasar ekspor melalui kegiatan Desa Devisa LPEI.
Inisiasi Desa Devisa merupakan langkah strategis yang akan memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah, terutama di wilayah Sumatera Selatan, Riau, dan Aceh.
“Desa Devisa dalam program SMV Icon bertujuan untuk meningkatkan ekspor dan penetapan devisa yang berkelanjutan,” ungkapnya dalam siaran pers, Rabu (25/9/2024).
Ferdinan berharap, program itu dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan rumah tangga pengrajin serta berperan dalam ekspor global.
“Program ini merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat kapasitas ekspor daerah melalui pengembangan produk unggulan desa-desa tersebut,” katanya.
Kepala Departemen Jasa Konsultasi UKM LPEI Nilla Meidhita mengatakan, program Desa Devisa bertujuan mendorong ekspor produk lokal, meningkatkan devisa negara, serta kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan koperasi dan usaha mikro kecil menengah (UMKM).
Dia berharap, pendampingan dan pelatihan yang diberikan LPEI dapat membuat produk-produk UMKM memenuhi standar ekspor dan bersaing di pasar global.
Nilla mengatakan, LPEI memberikan serangkaian pelatihan dan pendampingan holistik sehingga turut memberikan pengetahuan yang mendalam kepada peserta.
“LPEI juga mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan ekspor secara lebih terstruktur dan profesional sekaligus mendukung pengembangan potensi komoditas desa menuju pasar internasional,” katanya.
Potensi produk unggulan
DOK. Humas LPEI Salah seorang petani kopi Gayo asal Aceh.Potensi produksi dan permintaan global yang terus meningkat membuat produk unggulan, seperti kain tenun, sagu, dan kopi gayo diharapkan dapat menjadi motor penggerak ekspor baru bagi Indonesia sekaligus memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah.
Capaian pemerintah dalam mendorong ekspor kain tenun, sagu, dan kopi tercermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah LPEI pada 2023.
Peningkatan ekspor tenun tertinggi masih dicatatkan dengan negara tujuan ke Arab Saudi yang naik 12,25 juta dollar Amerika Serikat (AS), Uni Emirat Arab naik 10,71 juta dollar AS, Meksiko naik 5,22 juta dollar AS, India naik 4,72 juta dollar AS, dan Filipina naik 1,97 juta dollar AS.
Indonesia juga paling banyak mengekspor jenis kain tenun berupa kain tenunan dari benang filamen sintetik sebanyak 50,64 persen, kain tenunan lainnya dari serat stapel sintetik 13,77 persen serta kain tenunan dari kurang dari 85 persen serat stapel sintetik, dicampur dengan kapas sebesar 8,27 persen.
Sementara itu, nilai ekspor sagu Indonesia meningkat tajam sebesar 134,40 persen year on year (YoY) pada 2023, sejalan dengan volume ekspor yang meningkat 164,86 persen yoy.
Peningkatan ini terutama dipicu oleh tingginya permintaan dari Tiongkok, Malaysia, Taiwan, Filipina, dan Singapura.
Sagu menarik perhatian pasar global karena sifatnya yang non-GMO dan bebas gluten sehingga menarik konsumen yang peduli dengan kesehatan.
Di sisi lain, pada periode Januari-Juni 2024, nilai ekspor kopi meningkat sebesar 10,79 persen yoy, hal ini menunjukkan adanya pengaruh positif dari kenaikan harga kopi di pasar global.
Ekspor kopi ke sejumlah negara masih mencatatkan peningkatan, tertinggi ke Thailand (naik 26,75 juta dollar AS, diikuti ke Filipina naik 10,88 juta dollar AS, Malaysia naik 9,02 juta dollar AS, Uni Emirat Arab naik 6,38 juta dollar AS, dan Armenia naik 4,53 juta dollar AS.
Produk unggulan, seperti tenun Palembang, Sagu dari Kepulauan Meranti, dan Kopi Gayo asal Bener Meriah, Aceh juga memiliki potensi untuk tembus pasar ekspor dalam dua tahun mendatang.
Program Desa Devisa
Pemerintah melalui LPEI terus mendorong Desa Devisa untuk meningkatkan ekspor Indonesia dan kini mulai menuai hasil yang baik.
Sejak 2020 hingga Agustus 2024, akumulasi jumlah Desa Devisa LPEI mencapai 1.545 Desa Devisa yang tersebar di seluruh Indonesia dengan melibatkan 134.918 petani, nelayan, perajin, dan warga lainnya.
Terdapat 23 komoditas ekspor unggulan Desa Devisa, antara lain kopi, rumput laut, kakao, gula aren, dan kerajinan.
Desa Devisa Tenun Palembang meliputi 6 desa dengan jumlah 20 perajin yang mempekerjakan sekitar 300 pekerja.
Desa Devisa Tenun Palembang memiliki kapasitas produksi 600 lembar kain per tahun dengan omzet Rp 1,3 miliar.
Melalui program Desa Devisa, LPEI memberikan pendampingan berupa pelatihan peningkatan kualitas produk, pengembangan desain yang sesuai dengan tren pasar global, serta melakukan pendampingan agar tenun Palembang dapat melakukan ekspor ke pasar internasional seperti Amerika Serikat.
Desa Devisa Sagu dari Kepulauan Meranti terdiri dari 16 desa dengan melibatkan lebih dari 6.000 petani.
Dengan kapasitas produksi mencapai 1.000 ton per bulan, program ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk sagu di pasar internasional melalui peningkatan kualitas, diversifikasi produk, dan penerapan standar mutu global.
Dengan begitu, Desa Devisa Sagu Meranti diharapkan dapat menembus pasar ekspor negara kawasan, seperti Malaysia dan Singapura.
Sementara itu, Desa Devisa Kopi Gayo asal Bener Meriah, Aceh, meliputi 220 desa dengan total lahan seluas 192 hektar (ha) yang menghasilkan 134,4 ton dengan potensi penjualan mencapai Rp 14,1 miliar.
Adapun untuk memperkuat daya saing dan memastikan keberlanjutan, Kemenkeu, LPEI, dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bener Meriah membentuk Koperasi Panca Gayo Aceh sebagai off-taker kopi gayo untuk dapat menembus pasar kopi dunia.
Sagu, Tenun, dan Kopi Jadi Penggerak Ekspor Indonesia, LPEI Perkuat Capaian lewat Desa Devisa
LPEI mendorong produk unggulan lokal, yakni kain tenun Palembang, sagu dari Meranti, dan kopi dari Gayo untuk menembus pasar ekspor global. Halaman all [1,025] url asal
#lpei #produk-ekspor #pasar-ekspor
(Kompas.com - Money) 25/09/24 15:00
v/15537538/
KOMPAS.com - Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bersama Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) terus berupaya mendorong produk unggulan lokal dengan potensi besar untuk menembus pasar ekspor global.
Saat ini, Indonesia memiliki tiga produk unggulan, di antaranya kain tenun Palembang, sagu dari Kepulauan Meranti, dan kopi Gayo asal Aceh.
Untuk terus mendorong ekspor tiga komoditas tersebut, DJKN Kemenkeu bersama LPEI menetapkan tiga program Desa Devisa di wilayah Sumatera Selatan, Riau, dan Aceh melalui program Special Mission Vehicle (SMV) Icon pada 29 Agustus 2024.
Kepala Kanwil DJKN Sumsel, Jambi, dan Bangka Belitung Kemenkeu Ferdinan Lengkong mengatakan, program SMV Icon merupakan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah.
Program itu dibuat untuk mencapai tujuan-tujuan ekonomi nasional, dalam hal ini mendorong potensi desa untuk dapat menembus pasar ekspor melalui kegiatan Desa Devisa LPEI.
Inisiasi Desa Devisa merupakan langkah strategis yang akan memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah, terutama di wilayah Sumatera Selatan, Riau, dan Aceh.
“Desa Devisa dalam program SMV Icon bertujuan untuk meningkatkan ekspor dan penetapan devisa yang berkelanjutan,” ungkapnya dalam siaran pers, Rabu (25/9/2024).
Ferdinan berharap, program itu dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan rumah tangga pengrajin serta berperan dalam ekspor global.
“Program ini merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat kapasitas ekspor daerah melalui pengembangan produk unggulan desa-desa tersebut,” katanya.
Kepala Departemen Jasa Konsultasi UKM LPEI Nilla Meidhita mengatakan, program Desa Devisa bertujuan mendorong ekspor produk lokal, meningkatkan devisa negara, serta kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan koperasi dan usaha mikro kecil menengah (UMKM).
Dia berharap, pendampingan dan pelatihan yang diberikan LPEI dapat membuat produk-produk UMKM memenuhi standar ekspor dan bersaing di pasar global.
Nilla mengatakan, LPEI memberikan serangkaian pelatihan dan pendampingan holistik sehingga turut memberikan pengetahuan yang mendalam kepada peserta.
“LPEI juga mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan ekspor secara lebih terstruktur dan profesional sekaligus mendukung pengembangan potensi komoditas desa menuju pasar internasional,” katanya.
Potensi produk unggulan
DOK. Humas LPEI Salah seorang petani kopi Gayo asal Aceh.Potensi produksi dan permintaan global yang terus meningkat membuat produk unggulan, seperti kain tenun, sagu, dan kopi gayo diharapkan dapat menjadi motor penggerak ekspor baru bagi Indonesia sekaligus memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah.
Capaian pemerintah dalam mendorong ekspor kain tenun, sagu, dan kopi tercermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah LPEI pada 2023.
Peningkatan ekspor tenun tertinggi masih dicatatkan dengan negara tujuan ke Arab Saudi yang naik 12,25 juta dollar Amerika Serikat (AS), Uni Emirat Arab naik 10,71 juta dollar AS, Meksiko naik 5,22 juta dollar AS, India naik 4,72 juta dollar AS, dan Filipina naik 1,97 juta dollar AS.
Indonesia juga paling banyak mengekspor jenis kain tenun berupa kain tenunan dari benang filamen sintetik sebanyak 50,64 persen, kain tenunan lainnya dari serat stapel sintetik 13,77 persen serta kain tenunan dari kurang dari 85 persen serat stapel sintetik, dicampur dengan kapas sebesar 8,27 persen.
Sementara itu, nilai ekspor sagu Indonesia meningkat tajam sebesar 134,40 persen year on year (YoY) pada 2023, sejalan dengan volume ekspor yang meningkat 164,86 persen yoy.
Peningkatan ini terutama dipicu oleh tingginya permintaan dari Tiongkok, Malaysia, Taiwan, Filipina, dan Singapura.
Sagu menarik perhatian pasar global karena sifatnya yang non-GMO dan bebas gluten sehingga menarik konsumen yang peduli dengan kesehatan.
Di sisi lain, pada periode Januari-Juni 2024, nilai ekspor kopi meningkat sebesar 10,79 persen yoy, hal ini menunjukkan adanya pengaruh positif dari kenaikan harga kopi di pasar global.
Ekspor kopi ke sejumlah negara masih mencatatkan peningkatan, tertinggi ke Thailand (naik 26,75 juta dollar AS, diikuti ke Filipina naik 10,88 juta dollar AS, Malaysia naik 9,02 juta dollar AS, Uni Emirat Arab naik 6,38 juta dollar AS, dan Armenia naik 4,53 juta dollar AS.
Produk unggulan, seperti tenun Palembang, Sagu dari Kepulauan Meranti, dan Kopi Gayo asal Bener Meriah, Aceh juga memiliki potensi untuk tembus pasar ekspor dalam dua tahun mendatang.
Program Desa Devisa
Pemerintah melalui LPEI terus mendorong Desa Devisa untuk meningkatkan ekspor Indonesia dan kini mulai menuai hasil yang baik.
Sejak 2020 hingga Agustus 2024, akumulasi jumlah Desa Devisa LPEI mencapai 1.545 Desa Devisa yang tersebar di seluruh Indonesia dengan melibatkan 134.918 petani, nelayan, perajin, dan warga lainnya.
Terdapat 23 komoditas ekspor unggulan Desa Devisa, antara lain kopi, rumput laut, kakao, gula aren, dan kerajinan.
Desa Devisa Tenun Palembang meliputi 6 desa dengan jumlah 20 perajin yang mempekerjakan sekitar 300 pekerja.
Desa Devisa Tenun Palembang memiliki kapasitas produksi 600 lembar kain per tahun dengan omzet Rp 1,3 miliar.
Melalui program Desa Devisa, LPEI memberikan pendampingan berupa pelatihan peningkatan kualitas produk, pengembangan desain yang sesuai dengan tren pasar global, serta melakukan pendampingan agar tenun Palembang dapat melakukan ekspor ke pasar internasional seperti Amerika Serikat.
Desa Devisa Sagu dari Kepulauan Meranti terdiri dari 16 desa dengan melibatkan lebih dari 6.000 petani.
Dengan kapasitas produksi mencapai 1.000 ton per bulan, program ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk sagu di pasar internasional melalui peningkatan kualitas, diversifikasi produk, dan penerapan standar mutu global.
Dengan begitu, Desa Devisa Sagu Meranti diharapkan dapat menembus pasar ekspor negara kawasan, seperti Malaysia dan Singapura.
Sementara itu, Desa Devisa Kopi Gayo asal Bener Meriah, Aceh, meliputi 220 desa dengan total lahan seluas 192 hektar (ha) yang menghasilkan 134,4 ton dengan potensi penjualan mencapai Rp 14,1 miliar.
Adapun untuk memperkuat daya saing dan memastikan keberlanjutan, Kemenkeu, LPEI, dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bener Meriah membentuk Koperasi Panca Gayo Aceh sebagai off-taker kopi gayo untuk dapat menembus pasar kopi dunia.
20 SMK se-Jabodetabek Kolaborasi Lahirkan Produk Ekspor
Kolaborasi ini untuk menghadirkan produk sesuai kebutuhan pasar agar bisa bernilai jual hingga keluar negeri. [257] url asal
#smk #produk-ekspor #ekspor #wirausaha #industri #iddc
(MedCom) 16/07/24 13:44
v/10958412/
Jakarta: Sebanyak 20 SMK di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi berkolaborasi menghadirkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Sehingga diharapkan bisa bernilai jual hingga keluar negeri."Saat ini ada tiga bidang kejuruan yang terlibat. Pertama Desain Komunikasi Visual (DKV), Tata Busana, dan Tata Boga," kata Plt Direktur Mitras DUDI, Uuf Brajawidagda, di kantor IDDC Jakarta, Selasa, 16 Juli 2024.
Kolaborasi ini bukan cuma antar SMK. Pihaknya juga berkolaborasi dengan sejumlah Kementerian, salah satunya Kementerian Perdagangan.
"Ini adalah bagian dari ikhtiar kita untuk semakin berinteraksi dengan teman-teman industri," tutur dia.
Uuf mengatakan siswa SMK mesti dibangun kemampuan dalam berwirausaha. Sehingga, SMK bisa menjadi salah satu rantai pemasok produk ke perusahaan.
"Banyak produk tentu saja teman-teman SMK kita bisa masuk ke sana kita punya terkait ekonomi kreatif, kita punya sektor manufaktur yang sudah mengeluarkan banyak produk," ungkap dia.
Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag, Merry Maryati, mengatakan pihaknya di Indonesia Design Development Center (IDDC) tengah melakukan pengembangan ekspor nasional. Sehingga, IDDC memberikan fasilitas bagi sivitas akademik, termasuk sekolah untuk mengembangkan produk.
"Untuk bisa membuat atau menelurkan produk yang memang berkualitas, berorientasi ekspor, dan juga bernilai tambah," kata Merry.
Merry mengungkap sejatinya kolaborasi dengan pendidikan vokasi sudah berjalan sejak lama. Salah satunya pada Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW).
"Saat ini sharing session dengan SMK se-Jabodetabek ini harapannya memberikan semacam pengetahuan ataupun apa aja sih yang sebetulnya menjadi tren saat ini, tren pasar dan juga perilaku konsumen saat ini," tutur dia.
| Baca juga: Angka Pengangguran Terbuka Lulusan SMK Capai 8,6%, Lebih Tinggi dari SMA |
(REN)