#30 tag 24jam
Berawal Jadi Pengasuh, Wanita Asal Tegal Ini Sukses Bisnis Warteg di Turki
Arum Ita Cahyani, atau Nuriye Oruç, sukses buka warteg di Taksim, Istanbul. Dari pengasuh hingga pebisnis, ia kini meraih omzet hingga Rp 20 juta per hari. [541] url asal
#bisnis-warteg #wanita-sukses #tegal #istanbul #arum-ita-cahyani #wanita #suami #urus #konsulat-jenderal-republik-indonesia #kjri #nuriye-oru #turki #warteg #usahanya-warung-tegal #nama #jenis-makanan #pemerintah #nann
(detikFinance - SolusiUKM) 27/10/24 14:00
v/17056195/
Turki - Kerja keras tak akan mengkhianati hasil. Kata-kata ini mungkin cocok untuk menggambarkan sosok Arum Ita Cahyani yang kini sukses membangun usahanya warung Tegal alias warteg di Taksim, Istanbul, Turki.
Wanita asal Tegal ini mengadu nasib di Turki 9 tahun lalu. Mulanya, ia bekerja nanny atau pengasuh. Setelah itu, ia menemukan pujaan hatinya yang merupakan orang Turki.
Meski sudah menikah, wanita yang kini dikenal dengan nama Nuriye Oruç itu tetap bekerja. Selain itu, ia juga merintis bisnis dengan berjualan online.
"Pertama orang kenal aku itu dari jualan online. Jual bakso frozen bikinan sendiri, jual pempek kan kita punya forum jual beli. Jadi sering posting-posting orang kenal nama Nuriye Oruç dari aktif jualan online," kata Nuriye di tempat usahanya, Taksim, Turki, Jumat malam (25/10/2024).
Nuriye sendiri mulanya bekerja di luar Istanbul. Kemudian, ia melepas pekerjaannya dan pindah ke Istanbul. Setelah itu, ia pun menjalani bisnis dengan menjual makanan rumahan. Dalam menjalankan usahanya, ia mengaku aktif dalam mengikuti kegiatan bazar.
"Kan biasanya KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) sering buat kayak bazar makanan festival makanan. Entah itu ada acara buka bersama pasti ada bazarnya, entah itu Agustusan nanti juga ada bazarnya, kita selalu aktif jualan di situ. Itu sebelum punya restoran. Jadi mengenalkan makanan itu dari bazar dulu, dari jual rumahan sampai orang tahu," katanya.
Puncaknya, pada 2 tahun lalu ia menerima banyak order makanan. Sementara, tempat tinggalnya tak cukup untuk menggarap pesanan tersebut. Akhirnya, ia pun membuka warteg di wilayah Taksim.
Arum Ita Cahyani Pemilik Warteg di Turki Foto: Achmad Dwi Afriyadi/detikcom |
"2 tahun yang lalu kita dapat kateringan banyak banget akhirnya nggak bisa masak di rumah. Kita cari tempat buat buka restoran, ketemulah tempat di sini di Taksim," ungkapnya.
Diakuinya, membuka bisnis di Turki tidaklah mudah. Selain modal, masalah perizinan menjadi tantangannya. Sepengetahuannya, orang Indonesia yang membuka usaha di Turki memakai nama orang Turki.
"Jadi suami saya orang Turki jadi beliau yang urus semuanya, untuk perizinannya," katanya.
Nuriye mengatakan, izin buka usaha dan izin restoran berbeda. Menurutnya, izin usaha lebih mudah didapat dibanding dengan izin membuka restoran. Pemerintah setempat memiliki standar yang tinggi sebagai syarat untuk membuka restoran seperti pembuangan asap, kebersihan dapur dan lain sebagainya.
"Nanti kalau sudah lulus semuanya baru 'OK ini izin restorannya sudah keluar'. Alhamdulillah kita sudah dapat," ungkapnya.
Di Turki, Nuriye menjual berbagai jenis makanan dan minuman. Untuk makanan seperti soto betawi, ketoprak, gado-gado, ayam geprek, nasi goreng, sate ayam, bakso, dan lain sebagainya.
Harga yang bersaing menjadi andalan Nuriye untuk menggaet konsumen. Di warungnya, ia menjual makanan yang paling murah yakni mi nyemek seharga 150 lira turki atau sekitar Rp 60 ribu. Kemudian, untuk yang paling mahal sop buntut 250 lira turki atau sekitar Rp 110 ribu.
"Untuk standar makanan di sini rata-rata harganya 170 tele (lira turki) berarti harganya sekitar Rp 80 ribuan," katanya.
Singkat cerita, bisnis Nuriye pun berkembang. Saat ini, ia bisa menghasilkan omzet antara Rp 8 juta hingga Rp 20 juta per hari. Ia pun kadang juga mendapatkan penghasilan lebih karena bekerja sama dengan travel.
"Kalau ramai banget Rp 20 juta itu kadang ada omzet dari travel, biasanya kalau travel tagihannya setiap 1 bulan sekali atau 2 minggu sekali, itu biasanya beda dari penghasilan harian yang kita dapat dari customer datang," terangnya.
(acd/das)
Pertamina pastikan docking Kapal Gamsunoro di Turki berjalan baik
PT Pertamina (Persero) memastikan proses docking atau perawatan Kapal Gamsunoro milik PT Pertamina International Shipping (PIS) di Pelabuhan Tuzla, ... [563] url asal
#kapal-gamsunoro #pertamina-international-shipping #docking-kapal #pelabuhan-tuzla #istanbul-turki
(Antara) 26/10/24 10:04
v/17012706/
Kapal ini dipasangi alat bernama ballast water treatment system yang berfungsi untuk menjaga kesehatan dan kebersihan laut internasional
Tuzla, Istanbul (ANTARA) - PT Pertamina (Persero) memastikan proses docking atau perawatan Kapal Gamsunoro milik PT Pertamina International Shipping (PIS) di Pelabuhan Tuzla, Turki, berjalan dengan baik dalam hampir sebulan terakhir.
Wakil Presiden Technical Fleet Management Pertamina I Gusti Ngurah Handiyana saat visitasi onboard Kapal Gamsunoro di galangan kapal Tuzla, Istanbul, Jumat (25/10/2024), mengatakan sejak 24 September 2024, Kapal Gamsunoro, yang merupakan salah satu kapal andalan PIS dan melayani pengangkutan minyak mentah rute internasional itu menjalani masa perawatan di Turki.
"Saat ini, Kapal Gamsunoro sedang melakukan perbaikan atau maintenance repair, jadi ini kita lakukan secara berkala dan ini adalah special survei yang kedua. Jadi, kapal ini menjalani banyak perbaikan guna memenuhi aturan-aturan internasional," kata Ngurah.
Kapal Gamsunoro merupakan aset strategis Pertamina International Shipping untuk mendukung distribusi energi global dengan aman dan efisien.
Kapal ini sempat fenomenal dalam beberapa waktu lalu karena berlayar melintasi Laut Merah dengan aman.
Kapal bertipe aframax ini merupakan salah satu kapal tanker terbesar yang dimiliki Pertamina, dengan bobot mati 105.000 DWT dan dirancang dengan teknologi modern untuk efisiensi operasional.
"Kapal ini sudah biasa melayani seluruh konsumen kita dan juga ini sudah berlayar keliling dunia. Saat ini kita sangat agresif, kita melayani semua konsumen di dunia internasional. Kita wajib memenuhi semua aturan yang berlaku di dunia internasional. Dan, ini adalah salah satu kapal kita yang banyak memiliki energy saving devices," katanya.
Pihaknya mengirimkan tim khusus untuk melakukan suvervisi terhadap proses docking, yang ditangani perusahaan teknomarin Kuzey Star Shipyard di galangan kapal terkemuka di Tuzla, Istanbul, Turki.
"Saat ini, sedang ada perbaikan pada main engine, ini salah satu bentuk maintenance rutin. Sebagai bentuk kepedulian lingkungan, kapal ini juga dipastikan efisien dari sisi bahan baka dan juga ramah pada biota laut, sehingga kapal ini dipasangi alat bernama ballast water treatment system yang berfungsi untuk menjaga kesehatan dan kebersihan laut internasional," katanya.
Docking kapal, kata Ngurah, ibarat service berkala yang harus dilakukan secara rutin pada kendaraan jenis apapun agar performanya tetap prima, demikian juga dengan kapal.
"Kapal ini menjalani upgrading di sistem ballast water treatment, dan juga upgrading di bollard tali temali agar kapal ini comply terhadap aturan-aturan internasional misalnya saat akan melewati Panama Canal, kita harus lengkapi dengan beberapa equipment, agar kapal ini bisa comply dengan aturan negara setempat," katanya.
Dalam perawatan rutin lima tahunan, kata Ngurah, kapal buatan tahun 2014 itu dipastikan telah dirancang agar bisa memenuhi semua regulasi internasional.
Docking dilakukan di Pelabuhan Tuzla, salah satu galangan kapal terkemuka di Turki, mengingat sebelumnya kapal ini telah berhasil menyelesaikan berbagai misi pengiriman minyak mentah di rute internasional, termasuk pelayaran yang baru-baru ini melalui Laut Merah dan Terusan Suez.
Ngurah menambahkan setelah tuntas menjalani docking nantinya kapal ini diharapkan semakin ramah lingkungan karena salah satu treatment yang dijalaninya mencakup upgrade teknologi sistem penjernihan air ballast dan teknologi pengendalian emisi.
"Melalui perawatan ini, diharapkan Kapal Gamsunoro akan memiliki performa yang lebih efisien dan mendukung tercapainya target emisi rendah kita," katanya.
Perawatan Kapal Gamsunoro di Turki diproyeksikan selesai dalam beberapa hari ke depan tepatnya sejak 24 September hingga 29 Oktober 2024 dan segera kembali beroperasi dengan peningkatan yang signifikan dalam aspek lingkungan dan keselamatan operasional.
Kapal dijadwalkan akan berlayar ke Amerika Serikat setelah sebelumnya berlabuh di Spanyol, Timur Tengah, dan beberapa negara lain.
Pewarta: Hanni Sofia
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2024
Jalanan Kota Turki Ramai Hewan Liar: Anjing, Kucing, Hingga Burung, Ini Akar Sejarahnya | Republika Online
Kesultanan Ottoman menghormati keberadaan binatang [840] url asal
#kota-istanbul #istanbul-turki #anjing-di-turki #kucing-di-turki #anjing-di-jalanan-istanbul #anjing-di-jalanan-turki #ottoman #utsmaniyah #kesultanan-ottoman
(Republika - Khazanah) 05/07/24 22:33
v/9838751/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Jika Anda pernah mengunjungi kota-kota di Turki, akan mendapati banyaknya binatang liar seperti anjing dan kucing hidup dengan aman dan nyaman di jalan. Pemandangan ini pun banyak diceritakan banyak media.
Pemandangan ini, ternyata tak lepas dari tradisi yang kuat dari Kesultanan Ottoman atau Utsmaniyah. Dikutip dari Daily Sabah, Jumat (5/7/2024), selama era Ottoman, orang-orang biasa meringkas iman sebagai "menghormati firman Allah dan makhluk-Nya"; oleh karena itu, mereka tidak mengabaikan hewan, sementara mereka membantu orang yang membutuhkan.
Menurut budaya Islam, orang harus menghindari ketidakadilan terhadap orang lain, dan menempatkan hak-hak hewan di atas hak asasi manusia karena manusia dapat mengkompensasi kesalahan terhadap orang lain dengan meminta maaf, tetapi hal itu tidak mungkin dilakukan terhadap hewan karena mereka tidak memiliki akal.
Nabi Muhammad SAW menceritakan kisah tentang dua orang wanita ta yang hidup jauh sebelum zamannya. Seperti yang beliau ceritakan, seorang wanita jahat masuk surga karena dia memberi minum seekor anjing, sementara wanita baik masuk neraka karena dia membuat seekor kucing kelaparan sampai mati.
Karena takut akan cerita ini, orang-orang di masa lalu memberi makan hewan-hewan mereka sebelum mereka duduk untuk makan dan tidak tidur sebelum mereka membersihkan hewan-hewan di kandang mereka dan memeriksa apakah mereka memiliki air dan pakan.
Selain itu, pemerintah menghukum mereka yang membawa unggas di kandang secara terbalik atau membawa kuda atau keledai dengan beban berlebih, dan orang-orang yang menyakiti hewan akan diasingkan dari komunitas mereka di Kekaisaran Ottoman.
Masjid Kediler (Kucing)
Utsmaniyah mendirikan yayasan untuk memberi makan anjing jalanan dan serigala di pegunungan, menyediakan air untuk burung pada hari-hari musim panas, dan merawat bangau yang sayapnya patah atau kuda yang terluka.
Mereka juga membangun sangkar burung di halaman gedung-gedung seperti masjid, madrasah dan istana serta menempatkan tempat air di atas batu nisan untuk burung.
Dalam arsip Utsmaniyah, kita dapat menemukan catatan-catatan menarik tentang yayasan yang mengungkapkan kecintaan dan kasih sayang masyarakat terhadap hewan pada masa itu.
Müreselli İbrahim Ağa dari İzmir menyumbangkan...
Müreselli İbrahim Ağa dari İzmir menyumbangkan 100 kuruş setiap tahun ke Masjid Ödemiş Yeni untuk memelihara burung bangau di sekitar masjid pada 1307.
Pada 1544, Lütfi Pasha menghadiahkan air mancur, lubang air, dan kolam untuk para pelancong dan hewan-hewan mereka yang melewati distrik Tirus di İzmir, dan pada 1558, gubernur Adana, Ramazanoğlu Piri Pasha, menyumbangkan padang rumput untuk hewan-hewan tunggangan dan ternak untuk digembalakan.
Dalam piagam sertifikat Yayasan Hacı Seyyid Mustafa di Rumelihisarı, tertulis, "Anjing-anjing liar harus diberi makan dengan roti segar seharga 30 akçe (koin perak) setiap hari." Selain itu, Yayasan Çandarluzade Mehmed Bey menyumbangkan sebuah rumah pertanian untuk merawat merpati pada 1707.
Ada juga Masjid Kediler di Damaskus, Suriah, yang juga merupakan yayasan yang didirikan untuk anak kucing jalanan. Pengurus masjid memberi makan ratusan anak kucing dengan hati.
Selain itu, area dari Marjeh Square ke Mezzeh, termasuk Universitas Damaskus dan Damascus Fair, adalah milik sebuah yayasan yang didirikan untuk menampung hewan tunggangan yang sudah tua atau terluka. Alih-alih menembak atau membiarkannya mati, pemiliknya menitipkan hewan-hewan tersebut di sini untuk mendapatkan perawatan profesional.
Terletak di distrik Beyazıt, Istanbul, Perpustakaan Nasional Istanbul dulunya disebut "Perpustakaan Kucing", karena mantan manajernya, İsmail Saib Sencer, merawat ratusan kucing jalanan pada abad ke-20.
Selalu ada orang-orang yang merawat dan memberi makan ratusan kucing, terutama orang-orang yang tidak memiliki anak atau tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari mereka untuk menyalurkan kasih sayang dan cinta mereka kepada hewan-hewan yang membutuhkan.
Rumah Sakit Bangau
Selama periode Ottoman, setiap rumah di kota-kota memiliki taman kecil dan kandang unggas. Kucing adalah bagian tak terpisahkan dari rumah-rumah kayu tua, yang dipenuhi tikus, dan mereka seperti anak-anak dari rumah-rumah tersebut, yang kebanyakan membuat iri.
Burung bangau, merpati, burung pipit, dan burung layang-layang juga dapat membangun sarang mereka di atap rumah mana pun tanpa rasa takut. Meskipun mereka adalah burung yang dagingnya bisa dimakan, tidak ada yang pernah berpikir untuk memburunya.
Rumah Sakit Bangau di provinsi Bursa, yang juga dikenal sebagai "Gurabahâne-i Laklakan" (Rumah untuk Bangau yang Terluka), didirikan untuk bangau yang sayapnya patah. Bangunan yang masih berdiri ini juga ditampilkan dalam banyak cerita sejarah. Setelah bangau-bangau tersebut dirawat dan disembuhkan, mereka kemudian dibebaskan.
Anda dapat melihat batu berbentuk piring yang diletakkan di depan beberapa rumah tua untuk memberi makan hewan jalanan. Sisa makanan dan tulang-tulang ditinggalkan di atas batu-batu ini untuk anjing dan kucing jalanan. Saat anjing-anjing berbagi makanan ini, mereka tidak berkelahi di jalanan.
Meskipun anjing-anjing jalanan di Istanbul zaman dahulu sangat terkenal, pemerintah kota mengumpulkan mereka semua pada 1909, mengangkutnya ke sebuah pulau di Laut Marmara dan menelantarkannya. Mereka tidak diberi makanan dan air bersih, dan tangisan mereka terdengar di seluruh kota.
Orang-orang yang iba melemparkan makanan kepada mereka, tetapi ketika semua anjing ini mati di pulau itu, penduduk kota merasa terganggu dengan bau bangkai mereka. Perang yang terjadi dan kekalahan kekaisaran setelah kejadian ini dipandang sebagai hukuman atas apa yang dilakukan terhadap hewan-hewan tersebut.
Sumber: dailysabah
Di Jalanan Kota Turki Banyak Hewan Liar dari Anjing Hingga Kucing, Ini Akar Sejarahnya | Republika Online
Kesultanan Ottoman menghormati keberadaan binatang [840] url asal
#kota-istanbul #istanbul-turki #anjing-di-turki #kucing-di-turki #anjing-di-jalanan-istanbul #anjing-di-jalanan-turki #ottoman #utsmaniyah #kesultanan-ottoman
(Republika - Khazanah) 05/07/24 22:33
v/9790390/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Jika Anda pernah mengunjungi kota-kota di Turki, akan mendapati banyaknya binatang liar seperti anjing dan kucing hidup dengan aman dan nyaman di jalan. Pemandangan ini pun banyak diceritakan banyak media.
Pemandangan ini, ternyata tak lepas dari tradisi yang kuat dari Kesultanan Ottoman atau Utsmaniyah. Dikutip dari Daily Sabah, Jumat (5/7/2024), selama era Ottoman, orang-orang biasa meringkas iman sebagai "menghormati firman Allah dan makhluk-Nya"; oleh karena itu, mereka tidak mengabaikan hewan, sementara mereka membantu orang yang membutuhkan.
Menurut budaya Islam, orang harus menghindari ketidakadilan terhadap orang lain, dan menempatkan hak-hak hewan di atas hak asasi manusia karena manusia dapat mengkompensasi kesalahan terhadap orang lain dengan meminta maaf, tetapi hal itu tidak mungkin dilakukan terhadap hewan karena mereka tidak memiliki akal.
Nabi Muhammad SAW menceritakan kisah tentang dua orang wanita ta yang hidup jauh sebelum zamannya. Seperti yang beliau ceritakan, seorang wanita jahat masuk surga karena dia memberi minum seekor anjing, sementara wanita baik masuk neraka karena dia membuat seekor kucing kelaparan sampai mati.
Karena takut akan cerita ini, orang-orang di masa lalu memberi makan hewan-hewan mereka sebelum mereka duduk untuk makan dan tidak tidur sebelum mereka membersihkan hewan-hewan di kandang mereka dan memeriksa apakah mereka memiliki air dan pakan.
Selain itu, pemerintah menghukum mereka yang membawa unggas di kandang secara terbalik atau membawa kuda atau keledai dengan beban berlebih, dan orang-orang yang menyakiti hewan akan diasingkan dari komunitas mereka di Kekaisaran Ottoman.
Masjid Kediler (Kucing)
Utsmaniyah mendirikan yayasan untuk memberi makan anjing jalanan dan serigala di pegunungan, menyediakan air untuk burung pada hari-hari musim panas, dan merawat bangau yang sayapnya patah atau kuda yang terluka.
Mereka juga membangun sangkar burung di halaman gedung-gedung seperti masjid, madrasah dan istana serta menempatkan tempat air di atas batu nisan untuk burung.
Dalam arsip Utsmaniyah, kita dapat menemukan catatan-catatan menarik tentang yayasan yang mengungkapkan kecintaan dan kasih sayang masyarakat terhadap hewan pada masa itu.
Müreselli İbrahim Ağa dari İzmir menyumbangkan...
Müreselli İbrahim Ağa dari İzmir menyumbangkan 100 kuruş setiap tahun ke Masjid Ödemiş Yeni untuk memelihara burung bangau di sekitar masjid pada 1307.
Pada 1544, Lütfi Pasha menghadiahkan air mancur, lubang air, dan kolam untuk para pelancong dan hewan-hewan mereka yang melewati distrik Tirus di İzmir, dan pada 1558, gubernur Adana, Ramazanoğlu Piri Pasha, menyumbangkan padang rumput untuk hewan-hewan tunggangan dan ternak untuk digembalakan.
Dalam piagam sertifikat Yayasan Hacı Seyyid Mustafa di Rumelihisarı, tertulis, "Anjing-anjing liar harus diberi makan dengan roti segar seharga 30 akçe (koin perak) setiap hari." Selain itu, Yayasan Çandarluzade Mehmed Bey menyumbangkan sebuah rumah pertanian untuk merawat merpati pada 1707.
Ada juga Masjid Kediler di Damaskus, Suriah, yang juga merupakan yayasan yang didirikan untuk anak kucing jalanan. Pengurus masjid memberi makan ratusan anak kucing dengan hati.
Selain itu, area dari Marjeh Square ke Mezzeh, termasuk Universitas Damaskus dan Damascus Fair, adalah milik sebuah yayasan yang didirikan untuk menampung hewan tunggangan yang sudah tua atau terluka. Alih-alih menembak atau membiarkannya mati, pemiliknya menitipkan hewan-hewan tersebut di sini untuk mendapatkan perawatan profesional.
Terletak di distrik Beyazıt, Istanbul, Perpustakaan Nasional Istanbul dulunya disebut "Perpustakaan Kucing", karena mantan manajernya, İsmail Saib Sencer, merawat ratusan kucing jalanan pada abad ke-20.
Selalu ada orang-orang yang merawat dan memberi makan ratusan kucing, terutama orang-orang yang tidak memiliki anak atau tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari mereka untuk menyalurkan kasih sayang dan cinta mereka kepada hewan-hewan yang membutuhkan.
Rumah Sakit Bangau
Selama periode Ottoman, setiap rumah di kota-kota memiliki taman kecil dan kandang unggas. Kucing adalah bagian tak terpisahkan dari rumah-rumah kayu tua, yang dipenuhi tikus, dan mereka seperti anak-anak dari rumah-rumah tersebut, yang kebanyakan membuat iri.
Burung bangau, merpati, burung pipit, dan burung layang-layang juga dapat membangun sarang mereka di atap rumah mana pun tanpa rasa takut. Meskipun mereka adalah burung yang dagingnya bisa dimakan, tidak ada yang pernah berpikir untuk memburunya.
Rumah Sakit Bangau di provinsi Bursa, yang juga dikenal sebagai "Gurabahâne-i Laklakan" (Rumah untuk Bangau yang Terluka), didirikan untuk bangau yang sayapnya patah. Bangunan yang masih berdiri ini juga ditampilkan dalam banyak cerita sejarah. Setelah bangau-bangau tersebut dirawat dan disembuhkan, mereka kemudian dibebaskan.
Anda dapat melihat batu berbentuk piring yang diletakkan di depan beberapa rumah tua untuk memberi makan hewan jalanan. Sisa makanan dan tulang-tulang ditinggalkan di atas batu-batu ini untuk anjing dan kucing jalanan. Saat anjing-anjing berbagi makanan ini, mereka tidak berkelahi di jalanan.
Meskipun anjing-anjing jalanan di Istanbul zaman dahulu sangat terkenal, pemerintah kota mengumpulkan mereka semua pada 1909, mengangkutnya ke sebuah pulau di Laut Marmara dan menelantarkannya. Mereka tidak diberi makanan dan air bersih, dan tangisan mereka terdengar di seluruh kota.
Orang-orang yang iba melemparkan makanan kepada mereka, tetapi ketika semua anjing ini mati di pulau itu, penduduk kota merasa terganggu dengan bau bangkai mereka. Perang yang terjadi dan kekalahan kekaisaran setelah kejadian ini dipandang sebagai hukuman atas apa yang dilakukan terhadap hewan-hewan tersebut.
Sumber: dailysabah
