ASIA bersama negara-negara di Afrika bukanlah teman baru, hubungan baik Asia dan Afrika sudah berlangung sangat lama. Hubungan ini didasari oleh senasib dan sepenanggungan dalam hal melawan kolonialisme dan imperialisme.
Hubungan baik ini diwujudkan dengan dilaksanakan konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika 1955 di Bandung.
Soekarno sebagai tuan rumah ketika itu dalam pidatonya yang berapi-api mengulang kata-kata “Bahwa sesungguhnya, saya merasa bangga negeri saya menjadi negeri penerima Tuan-tuan sekalian, kita bersama Imperialisme dan Kolonialisme”.
Pidato ini menunjukan bahwa Indonesia merasa terhormat bagian dari pelopor pertemuan perwakilan 29 negara perwakilan dari Asia maupun Afrika dan meneguhkan prinsip harus memiliki kekuatan di mana solidaritas bersama antara gerakan negara di Asia dan Afrika harus diwujudkan dan menjadi kekuatan dunia baru.
Namun, kekuatan dunia baru yang sudah disepakati bersama pada KTT Asia -Afrika tidak berlanjut dengan baik terutama untuk Indonesia sendiri.
Kerja sama diplomasi politik, ideologis, dan ekonomi yang dicanangkan dalam gerakan kekuatan dunia baru Asia -Afrika tidak disertai kebijakan-kebijakan yang baik di Indonesia. Khususnya dalam diplomasi ekonomi di Afrika dalam memanfaatkan peluang di pasar non-tradisional.
Afrika kawasan yang kini sedang tumbuh pesat dengan potensi ekonomi besar terabaikan karena Indonesia terlihat masih fokus kepada peluang pasar di Asia dan Eropa.
Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan besar mengapa kawasan potensi seperti Afrika tidak mendapatkan perhatian lebih besar, terutama di tengah gejolak ekonomi global yang memerlukan diversifikasi mitra dagang.
Diplomasi ekonomi antara Indonesia dan Afrika perlu diperbaiki di era pemerintahan Prabowo Subianto. Pemerintahan baru diuji dalam menjawab tantangan tersebut, sehingga harapan gebrakan diplomasi ekonomi di Afrika akan berjalan dengan baik.
Potensi besar pasar non-tradisional
Saat ini Benua Afrika menjadi salah satu kawasan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.
Bahkan negara di Afrika, seperti Nigeria, Kenya, dan Ethopia mengalami pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, karena dorongan dari urbanisasi yang cepat, peningkatan populasi muda yang diprediksi akan meningkat menjadi 2,5 miliar orang pada 2050, serta peningkatan daya beli masyarakat di Afrika.
Belum lagi sumber daya alam melimpah, khususnya di sektor energi, pertanian dan mineral memberikan potensi besar bagi investasi asing.
Laporan dari African Development Bank menyebutkan bahwa rata-rata produk domestik bruto (PDB) riil rata-rata kawasan Afrika bisa mencapai empat persen dua tahun kedepan.
Peluang ini dimanfaatkan dengan baik oleh negara-negara besar seperti China dan Amerika Serikat dengan investasi besar-besaran di kawasan Afrika. Sementara Indonesia masih tertinggal memanfaatkan peluang ini.
Walaupun Indonesia sudah mencoba melaksanaka program seperti Forum Parlemen Indonesia-Afrika (Indonesia Africa Parliamentary Forum/IAPF), Penandatanganan Preferential Trade di Mozambik, Belt and Road Initiative (BRI) dan Bilateral Investment Treaties (BIT), tapi belum menunjukan pengaruh signifikan.
Ini terlihat dari data total nilai perdagangan bilateral Indonesia dengan 54 negara Afrika yang dilaporkan oleh Menteri Luar Negeri Retno mencapai sektar 17,4 miliar dollar AS. Sebesar 7,2 miliar dollar AS nilai ekspor Indonesia dan 10,2 miliar dollar AS dari impor.
Meskipun terjadi peningkatan dari tahun sebelumnya atau dianggap stabil, angka tersebut masih relatif kecil dibandingkan negara-negara besar lainnya yang berinvestasi di Afrika.
Sebagai perbandingan, China mampu mencapai total nilai perdagangan 282 miliar dollar AS pada 2023. Perdagangan yang dilakukan China di Afrika meliputi sektor energi, mineral, dan infrastruktur.
Selain itu, Amerika Serikat mencatat angka perdagangan sebesar 50 miliar dollar AS pada 2022.
Sementara di Asia Tenggara, Singapura menjadi negara terbesar dalam perdagangan di Afrika mencapai 19 miliar dollar AS.
Indonesia sebenarnya menjadi prioritas dalam mitra di Afrika untuk mencapai tujuan Pembanguan Afrika 2063 untuk mengubah Afrika menjadi kekuatan global di masa depan.
Populasi terbesar di dunia yang terus berkembang membuat permintaan terhadap barang konsumsi, teknologi, dan infastruktur meningkat, diversifikasi ekonomi serta potensi Indonesia memiliki potensi besar dalam perdagangan bahan mentah dan produk setengah jadi yang sejalan dengan kebutuhan industrialisasi di Indonesia.
Peluang yang tidak dimanfaatkan secara optimal menunjukan minimnya inisiatif inovasi dalam diplomasi ekonomi Indonesia.
Kecenderungan pendekatan konvensional fokus kepada perjanjian perdagangan dan investasi bilateral tanpa adanya solusi inovatif yang berbasis teknologi atau model bisnis baru.
Misalnya, Jepang dan Korea Selatan melakukan pendekatan diplomasi modern seperti mendukung start-up lokal, K-Pop, dan pelatihan teknologi untuk membangun ekosistem digital di Afrika.
Dalam melakukan inovasi diplomasi ekonomi, perlu memperhatikan sektor teknologi, energi hijau, dan ekonomi digital yang saat ini menjadi prioritas utama negara maju dalam membangun hubungan perdagangan internasional.
Sektor-sektor ini masih kurang diperhatikan dalam diplomasi ekonomi Indonesia, termasuk di Afrika.
Saat ini sedang berkembang sektor teknologi informasi sektor yang tumbuh pesat di banyak negara di Afrika. Misalnya, Kenya dengan ekosistem start-up ‘Silicon Savannah” menjadi pusat inovasi digital di Afrika Timur.
Indonesia bisa ikut menjadi mitra strategis dalam sektor ini dengan membangun hubungan kerja sama di bidang teknologi informasi, pendidikan digital dan fintech.
Dengan adanya diplomasi ekonomi yang lebih inovatif seperti program pertukaran teknologi akan memperkuat posisi Indonesia di pasar yang sedang berkembang.
Di sektor energi hijau, Indonesia juga bisa memanfaatkan potensi energi terbarukan yang saat ini sedang berkembang di Ehtopia dan Kenya.
Potensi energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin di Indonesia bisa dikembangkan di Afrika dengan transfer teknologi dan juga pengalaman dalam mengembangkan kapasitas energi terbarukan.
Tantangan dan harapan
Kebijakan dan strategi apapun yang dilakukan jika masalah infrastuktur diplomatik tidak diperhatikan akan menghambat tujuan yang sudah ditetapkan.
Indonesia hanya memiliki kantor perwakilan di 16 negara Afrika dan satu Konsulat jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Cape Town, Afrika Selatan.
Hal ini tentu membuat jangkauan diplomasi Indonesia terbatas. Dengan tidak adanya perwakilan langsung di negara tersebut akan membuat ruang gerak untuk melakukan negosiasi ekonomi dan menjalin perdagangan terhambat.
Apalagi ditambah dengan jarak dan infastuktur dan juga situasi politik di negara Afrika berbeda-beda.
Sementara China memiliki lebih dari 50 kantor perwakilan yang memungkinkan negara tersebut bisa membangun hubungan yang lebih kuat dan menjalin kerja sama dengan mudah di berbagai sektor yang ada.
Tantangan lainnya yang harus diperhatikan adalah kebijakan perdagangan dan investasi di Afrika memiliki iklim investasi yang unik.
Negara-negara di Afrika memiliki sistem hukum yang kompleks dan berbeda-beda. Sehingga, butuh pendekatan diplomasi antarnegara untuk memahami dan menavigasi kebijakan tersebut.
Pemerintah saja tidak cukup dalam pengembangan diplomatik ekonomi di Afrika. Perlu dukungan perusahaan swasta Indonesia dalam menavigasikan pasar Afrika.
Peran kamar dagang dan industri di negara-negara Afrika juga bisa dilakukan dengan penguatan hubungan kerja yang baik saling menguntungkan sehingga terjadi kesepakatan dalam melakukan aktifitas bisnis antara Indonesia dan Afrika.
Harapan terlaksananya diplomasi ekonomi Indonesia yang lebih inovatif di Afrika tergantung kepemimpinan pemerintahan Prabowo.
Afrika seperti rumah kita, 330 tahun melalui Syech Yusuf Al-Makassari Indonesia sudah membangun hubungan baik dengan negara-negara di Afrika. Sekitar 1,2 juta warga Cape Malay merupakan keturunan Indonesia yang menjadi diaspora perekat hubungan erat di negara Afrika.
Benua hitam bukanlah kawasan tertinggal seperti stigma masyarakat selama ini. Afrika adalah benua masa depan dengan kekayaan alamnnya.