#30 tag 24jam
Mengenal Bioavtur, Bahan Bakar Penerbangan Ramah Lingkungan
Bioavtur menjadi solusi pontensial untuk mengurangi jejak karbon di sektor penerbangan. Kenali apa itu Bioavtur, keunggulan, hingga produksinya. Halaman all [1,193] url asal
#pertamina #bioavtur #bioavtur-pertamina #apa-itu-bioavtur #green-avtur #sustainable-aviation-fuel-saf-pertamina #keunggulan-bioavtur
(Kompas.com) 29/10/24 22:35
v/17187856/
KOMPAS.com - Semakin meningkatnya kesadaran akan perubahan iklim yang terjadi, Bioavtur atau disebut sebagai Green Avtur muncul sebagai solusi potensial untuk mengurangi jejak karbon di sektor penerbangan.
Sebagai perusahaan energi nasional, PT Pertamina (Persero) memainkan peran penting dalam transisi energi hijau ramah lingkungan. Hal ini diwujudkan dengan adanya inovasi produk energi hijau salah satunya Bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Bioavtur menawarkan alternatif menjanjikan sebagai bahan bakar pesawat terbang, yang diharapkan dapat menjadi solusi utama dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.
Tidak hanya memanfaatkan sumber daya biomassa terbarukan, Bioavtur juga mendukung pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Apa itu Bioavtur?
Dilansir dari laman resmi Pertamina, Pertamina SAF atau Bioavtur adalah bahan bakar ramah lingkungan yang menggunakan campuran komponen minyak sawit dalam formulanya. Bioavtur merupakan bahan bakar pesawat yang dibuat dari campuran avtur dan kelapa sawit 2,4 persen.
Proses produksinya melibatkan konversi bahan baku menjadi molekul bahan bakar yang mirip dengan avtur konvensional, sehingga bisa digunakan dalam mesin pesawat tanpa modifikasi besar.
Bioavtur dibuat dari bahan baku minyak inti kelapa sawit, yang telah melalui proses refined, bleached, and deodorized (RBD). Aspek pemanfaatan komponen minyak sawit dapat mendorong perkembangan industri dan ekonomi di dalam negeri.
Keunggulan Bioavtur
Dikutip dari laman resmi Pertamina, avtur ramah lingkungan memiliki keunggulan utama pada pengurangan emisi karbon. Bioavtur bisa mengurangi emisi karbon hingga 80 persen dibandingkan avtur konvensional.
Hal ini tentunya membantu mengurangi dampak lingkungan industri penerbangan, yang menjadi salah satu penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca.
Sejauh ini, produk Bioavtur diproduksi di kilang minyak PT Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap. Proyek Strategis Nasional (PSN) Green Refinery Cilacap termasuk program unggulan energi transisi, dalam mewujudkan target pemerintah untuk bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) 23 persen pada tahun 2024.
"Proyek green refinery ini akan berdampak positif mendukung program bauran energi pemerintah, serta tercapainya pengurangan emisi menuju Net Zero Emmision," ujar Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso dalam keterangan resmi pada 10 Juli 2024.
Dok. Pertamina Patra Niaga Pertamina Patra Niaga menyalurkan produk bahan bakar bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) ke maskapai nasional Citilink.Perjalanan produksi Bioavtur
Pertamina RU IV Cilacap resmi melakukan uji coba produksi Biavtur atau Green Avtur pada akhir Desember 2020.
Uji coba dilakukan untuk memastikan kualitas Bioavtur, dengan co-processing injeksi 3 persen minyak kelapa sawit atau CPO yang telah diproses, sehingga hilang getah, impurities, dan baunya.
Pada 27 Oktober 2023, Garuda Indonesia melayani penerbangan komersil perdana memakai bahan bakar ramah lingkungan Green Avtur, dengan terbang dari Bandara Soekarno-Hatta Tangerang menuju Bandara Adi Soemarmo Solo, dan kembali ke Jakarta.
Dalam konteks pengembangan Bioavtur di Tanah Air, inisiasi Sustainable Aviation Fuel (SAF) telah dimulai sejak tahun 2010 melalui Research and Technology Innovation Pertamina, dengan riset pengembangan produk dan katalis.
Pada tahun 2021, PT Kilang Pertamina Internasional berhasil memproduksi SAF J2.4 di kilang RU IV Cilacap dengan teknologi minyak inti sawit yang telah mengalami proses pengolahan pemucatan, penghilangan asam lemak bebas dan bau, berkapasitas 1.350 kiloliter (KL) per hari.
Rangkaian uji coba produk SAF dimulai dari cell test di fasilitas milik Garuda Maintenance Facility (GMF), ground run, flight test pada pesawat militer CN-235 milik PT Dirgantara Indonesia.
Selanjutnya, pada 4 Oktober 2023, produk SAF diujicobakan ke pesawat komersial Boeing 737-800 NG milik PT Garuda Indonesia dan terakhir terhadap pesawat Boeing PK GFX Seri 727-800.
Dari serangkaian uji coba yang telah dilakukan, menunjukkan performa SAF J2.4 memiliki kualitas yang sama dengan avtur konvensional.
Sementara itu, dalam acara Bali International Airshow 2024 di Bandara Ngurah Rai, Pertamina Patra Niaga menyalurkan SAF kepada maskapai komersial nasional Citilink.
Pada tahap awal, Citilink telah berhasil melakukan uplifting SAF sebesar 30 KL untuk empat hari kegiatan selama perhelatan Bali International Airshow 2024.
Pencapaian tersebut menunjukkan potensi SAF sebagai bahan bakar alternatif lebih ramah lingkungan untuk dunia aviasi ke depan.
Dok.Pertamina Helikopter Bell 407 terlihat menjadi armada pertama di Indonesia yang menggunakan SAF pada perhelatan Bali International Airshow 2024 di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Kamis (19/9/2024). Dekarbonisasi penerbangan nasional
Pertamina terus mengembangkan bisnis energi hijau dengan terus membangun kerjasama dengan pihak lain, salah satunya Airbus. Kerjasama dilakukan untuk menjajaki peluang pengembangan ekosistem bahan bakar penerbangan berkelanjutan di Tanah Air.
Kerjasama ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang dilaksanakan di acara Bali International Air Show 2024 pada 18 September 2024 di Ngurah Rai International Airport, Bali.
Penandatanganan diwakili oleh Direktur Strategi, Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina Salyadi Saputra dan Presiden Airbus Asia Pasifik Anand Stanley.
Pertamina dan Airbus akan berkontribusi terhadap pengembangan kemampuan dalam negeri dan berbagai pengetahuan di bidang infrastruktur dan proses pencampuran Bioavtur, penanganan sertifikasi, hingga hal teknis lainnya di bandara.
Akan dilakukan pemetaan bahan baku dan pemeriksaan kebutuhan logistik, serta peluang pengembangan komersialnya.
Hasil studi akan mendukung pengembangan dan produksi SAF dalam negeri sesuai dengan ICAO-CORSIA (Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation) dan RED-EU (Renewable Energy Directive-European Union).
Ditegaskan bahwa Pertamina SAF atau Green Avtur telah memenuhi berbagai standar internasional, termasuk sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) untuk program CORSIA dan RED-UE.
Green Avtur atau Bioavtur juga telah dipastikan keamanannya, memenuhi standar yang ditetapkan American Society of Testing and Materials (ASTM), serta terdaftar sebagai Corsia Eligible Fuel (CEF) oleh International Civil Aviation Organization (ICAO).
Bioavtur menjadi langkah positif menuju penerbangan berkelanjutan yang mampu mengurangi emisi karbon dari bahan bakar fosil.
"Pertamina SAF merupakan campuran dari bahan baku terbarukan yaitu Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah," tutur Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Riva Siahaan pada 20 September 2024.
Untuk diketahui, Indonesia diproyeksikan sebagai salah satu pasar yang memiliki pertumbuhan tertinggi di dunia pada sektor industri penerbangan.
Diperkirakan peningkatan lalu lintas penumpang sekitar 7,4 persen per tahun. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat dari rata-rata pertumbuhan global yaitu sebesar 3,6 persen.
Selain itu, terdapat potensi besar sebagai sumber bahan baku SAF yang menjanjikan, seperti minyak goreng bekas, residu pertanian, dan sampah kota.
Pertamina akan terus berproses dan mengembangkan kilang menjadi green refinery untuk mendukung optimalisasi produksi SAF. Pengembangan SAF menjadi salah satu upaya transisi energi, sekaligus mencapai target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Pertamina berkomitmen mendukung target Net Zero Emission 2060 dengan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDG’s).
Seluruh upaya tersebut sejalan dengan penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina.
"Harapannya ke depan SAF akan semakin diminati dan tentunya akan memberikan dampak baik pengurangan emisi karbon di industri aviasi baik Indonesia dan global," pungkas Fadjar.
Mengenal Bioavtur, Bahan Bakar Penerbangan Ramah Lingkungan
Bioavtur menjadi solusi pontensial untuk mengurangi jejak karbon di sektor penerbangan. Kenali apa itu Bioavtur, keunggulan, hingga produksinya. Halaman all [1,193] url asal
#pertamina #bioavtur #bioavtur-pertamina #apa-itu-bioavtur #green-avtur #sustainable-aviation-fuel-saf-pertamina #keunggulan-bioavtur
(Kompas.com) 29/10/24 22:35
v/17178274/
KOMPAS.com - Semakin meningkatnya kesadaran akan perubahan iklim yang terjadi, Bioavtur atau disebut sebagai Green Avtur muncul sebagai solusi potensial untuk mengurangi jejak karbon di sektor penerbangan.
Sebagai perusahaan energi nasional, PT Pertamina (Persero) memainkan peran penting dalam transisi energi hijau ramah lingkungan. Hal ini diwujudkan dengan adanya inovasi produk energi hijau salah satunya Bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Bioavtur menawarkan alternatif menjanjikan sebagai bahan bakar pesawat terbang, yang diharapkan dapat menjadi solusi utama dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.
Tidak hanya memanfaatkan sumber daya biomassa terbarukan, Bioavtur juga mendukung pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Apa itu Bioavtur?
Dilansir dari laman resmi Pertamina, Pertamina SAF atau Bioavtur adalah bahan bakar ramah lingkungan yang menggunakan campuran komponen minyak sawit dalam formulanya. Bioavtur merupakan bahan bakar pesawat yang dibuat dari campuran avtur dan kelapa sawit 2,4 persen.
Proses produksinya melibatkan konversi bahan baku menjadi molekul bahan bakar yang mirip dengan avtur konvensional, sehingga bisa digunakan dalam mesin pesawat tanpa modifikasi besar.
Bioavtur dibuat dari bahan baku minyak inti kelapa sawit, yang telah melalui proses refined, bleached, and deodorized (RBD). Aspek pemanfaatan komponen minyak sawit dapat mendorong perkembangan industri dan ekonomi di dalam negeri.
Keunggulan Bioavtur
Dikutip dari laman resmi Pertamina, avtur ramah lingkungan memiliki keunggulan utama pada pengurangan emisi karbon. Bioavtur bisa mengurangi emisi karbon hingga 80 persen dibandingkan avtur konvensional.
Hal ini tentunya membantu mengurangi dampak lingkungan industri penerbangan, yang menjadi salah satu penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca.
Sejauh ini, produk Bioavtur diproduksi di kilang minyak PT Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap. Proyek Strategis Nasional (PSN) Green Refinery Cilacap termasuk program unggulan energi transisi, dalam mewujudkan target pemerintah untuk bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) 23 persen pada tahun 2024.
"Proyek green refinery ini akan berdampak positif mendukung program bauran energi pemerintah, serta tercapainya pengurangan emisi menuju Net Zero Emmision," ujar Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso dalam keterangan resmi pada 10 Juli 2024.
Dok. Pertamina Patra Niaga Pertamina Patra Niaga menyalurkan produk bahan bakar bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) ke maskapai nasional Citilink.Perjalanan produksi Bioavtur
Pertamina RU IV Cilacap resmi melakukan uji coba produksi Biavtur atau Green Avtur pada akhir Desember 2020.
Uji coba dilakukan untuk memastikan kualitas Bioavtur, dengan co-processing injeksi 3 persen minyak kelapa sawit atau CPO yang telah diproses, sehingga hilang getah, impurities, dan baunya.
Pada 27 Oktober 2023, Garuda Indonesia melayani penerbangan komersil perdana memakai bahan bakar ramah lingkungan Green Avtur, dengan terbang dari Bandara Soekarno-Hatta Tangerang menuju Bandara Adi Soemarmo Solo, dan kembali ke Jakarta.
Dalam konteks pengembangan Bioavtur di Tanah Air, inisiasi Sustainable Aviation Fuel (SAF) telah dimulai sejak tahun 2010 melalui Research and Technology Innovation Pertamina, dengan riset pengembangan produk dan katalis.
Pada tahun 2021, PT Kilang Pertamina Internasional berhasil memproduksi SAF J2.4 di kilang RU IV Cilacap dengan teknologi minyak inti sawit yang telah mengalami proses pengolahan pemucatan, penghilangan asam lemak bebas dan bau, berkapasitas 1.350 kiloliter (KL) per hari.
Rangkaian uji coba produk SAF dimulai dari cell test di fasilitas milik Garuda Maintenance Facility (GMF), ground run, flight test pada pesawat militer CN-235 milik PT Dirgantara Indonesia.
Selanjutnya, pada 4 Oktober 2023, produk SAF diujicobakan ke pesawat komersial Boeing 737-800 NG milik PT Garuda Indonesia dan terakhir terhadap pesawat Boeing PK GFX Seri 727-800.
Dari serangkaian uji coba yang telah dilakukan, menunjukkan performa SAF J2.4 memiliki kualitas yang sama dengan avtur konvensional.
Sementara itu, dalam acara Bali International Airshow 2024 di Bandara Ngurah Rai, Pertamina Patra Niaga menyalurkan SAF kepada maskapai komersial nasional Citilink.
Pada tahap awal, Citilink telah berhasil melakukan uplifting SAF sebesar 30 KL untuk empat hari kegiatan selama perhelatan Bali International Airshow 2024.
Pencapaian tersebut menunjukkan potensi SAF sebagai bahan bakar alternatif lebih ramah lingkungan untuk dunia aviasi ke depan.
Dok.Pertamina Helikopter Bell 407 terlihat menjadi armada pertama di Indonesia yang menggunakan SAF pada perhelatan Bali International Airshow 2024 di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Kamis (19/9/2024). Dekarbonisasi penerbangan nasional
Pertamina terus mengembangkan bisnis energi hijau dengan terus membangun kerjasama dengan pihak lain, salah satunya Airbus. Kerjasama dilakukan untuk menjajaki peluang pengembangan ekosistem bahan bakar penerbangan berkelanjutan di Tanah Air.
Kerjasama ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang dilaksanakan di acara Bali International Air Show 2024 pada 18 September 2024 di Ngurah Rai International Airport, Bali.
Penandatanganan diwakili oleh Direktur Strategi, Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina Salyadi Saputra dan Presiden Airbus Asia Pasifik Anand Stanley.
Pertamina dan Airbus akan berkontribusi terhadap pengembangan kemampuan dalam negeri dan berbagai pengetahuan di bidang infrastruktur dan proses pencampuran Bioavtur, penanganan sertifikasi, hingga hal teknis lainnya di bandara.
Akan dilakukan pemetaan bahan baku dan pemeriksaan kebutuhan logistik, serta peluang pengembangan komersialnya.
Hasil studi akan mendukung pengembangan dan produksi SAF dalam negeri sesuai dengan ICAO-CORSIA (Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation) dan RED-EU (Renewable Energy Directive-European Union).
Ditegaskan bahwa Pertamina SAF atau Green Avtur telah memenuhi berbagai standar internasional, termasuk sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) untuk program CORSIA dan RED-UE.
Green Avtur atau Bioavtur juga telah dipastikan keamanannya, memenuhi standar yang ditetapkan American Society of Testing and Materials (ASTM), serta terdaftar sebagai Corsia Eligible Fuel (CEF) oleh International Civil Aviation Organization (ICAO).
Bioavtur menjadi langkah positif menuju penerbangan berkelanjutan yang mampu mengurangi emisi karbon dari bahan bakar fosil.
"Pertamina SAF merupakan campuran dari bahan baku terbarukan yaitu Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah," tutur Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Riva Siahaan pada 20 September 2024.
Untuk diketahui, Indonesia diproyeksikan sebagai salah satu pasar yang memiliki pertumbuhan tertinggi di dunia pada sektor industri penerbangan.
Diperkirakan peningkatan lalu lintas penumpang sekitar 7,4 persen per tahun. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat dari rata-rata pertumbuhan global yaitu sebesar 3,6 persen.
Selain itu, terdapat potensi besar sebagai sumber bahan baku SAF yang menjanjikan, seperti minyak goreng bekas, residu pertanian, dan sampah kota.
Pertamina akan terus berproses dan mengembangkan kilang menjadi green refinery untuk mendukung optimalisasi produksi SAF. Pengembangan SAF menjadi salah satu upaya transisi energi, sekaligus mencapai target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Pertamina berkomitmen mendukung target Net Zero Emission 2060 dengan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDG’s).
Seluruh upaya tersebut sejalan dengan penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina.
"Harapannya ke depan SAF akan semakin diminati dan tentunya akan memberikan dampak baik pengurangan emisi karbon di industri aviasi baik Indonesia dan global," pungkas Fadjar.
Mengenal Bioavtur, Bahan Bakar Penerbangan Ramah Lingkungan Halaman all
Bioavtur menjadi solusi pontensial untuk mengurangi jejak karbon di sektor penerbangan. Kenali apa itu Bioavtur, keunggulan, hingga produksinya. Halaman all [1,193] url asal
#pertamina #bioavtur #bioavtur-pertamina #apa-itu-bioavtur #green-avtur #sustainable-aviation-fuel-saf-pertamina #keunggulan-bioavtur
(Kompas.com) 29/10/24 22:35
v/17176103/
KOMPAS.com - Semakin meningkatnya kesadaran akan perubahan iklim yang terjadi, Bioavtur atau disebut sebagai Green Avtur muncul sebagai solusi potensial untuk mengurangi jejak karbon di sektor penerbangan.
Sebagai perusahaan energi nasional, PT Pertamina (Persero) memainkan peran penting dalam transisi energi hijau ramah lingkungan. Hal ini diwujudkan dengan adanya inovasi produk energi hijau salah satunya Bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).
Bioavtur menawarkan alternatif menjanjikan sebagai bahan bakar pesawat terbang, yang diharapkan dapat menjadi solusi utama dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.
Tidak hanya memanfaatkan sumber daya biomassa terbarukan, Bioavtur juga mendukung pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Apa itu Bioavtur?
Dilansir dari laman resmi Pertamina, Pertamina SAF atau Bioavtur adalah bahan bakar ramah lingkungan yang menggunakan campuran komponen minyak sawit dalam formulanya. Bioavtur merupakan bahan bakar pesawat yang dibuat dari campuran avtur dan kelapa sawit 2,4 persen.
Proses produksinya melibatkan konversi bahan baku menjadi molekul bahan bakar yang mirip dengan avtur konvensional, sehingga bisa digunakan dalam mesin pesawat tanpa modifikasi besar.
Bioavtur dibuat dari bahan baku minyak inti kelapa sawit, yang telah melalui proses refined, bleached, and deodorized (RBD). Aspek pemanfaatan komponen minyak sawit dapat mendorong perkembangan industri dan ekonomi di dalam negeri.
Keunggulan Bioavtur
Dikutip dari laman resmi Pertamina, avtur ramah lingkungan memiliki keunggulan utama pada pengurangan emisi karbon. Bioavtur bisa mengurangi emisi karbon hingga 80 persen dibandingkan avtur konvensional.
Hal ini tentunya membantu mengurangi dampak lingkungan industri penerbangan, yang menjadi salah satu penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca.
Sejauh ini, produk Bioavtur diproduksi di kilang minyak PT Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap. Proyek Strategis Nasional (PSN) Green Refinery Cilacap termasuk program unggulan energi transisi, dalam mewujudkan target pemerintah untuk bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) 23 persen pada tahun 2024.
"Proyek green refinery ini akan berdampak positif mendukung program bauran energi pemerintah, serta tercapainya pengurangan emisi menuju Net Zero Emmision," ujar Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso dalam keterangan resmi pada 10 Juli 2024.
Dok. Pertamina Patra Niaga Pertamina Patra Niaga menyalurkan produk bahan bakar bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) ke maskapai nasional Citilink.Perjalanan produksi Bioavtur
Pertamina RU IV Cilacap resmi melakukan uji coba produksi Biavtur atau Green Avtur pada akhir Desember 2020.
Uji coba dilakukan untuk memastikan kualitas Bioavtur, dengan co-processing injeksi 3 persen minyak kelapa sawit atau CPO yang telah diproses, sehingga hilang getah, impurities, dan baunya.
Pada 27 Oktober 2023, Garuda Indonesia melayani penerbangan komersil perdana memakai bahan bakar ramah lingkungan Green Avtur, dengan terbang dari Bandara Soekarno-Hatta Tangerang menuju Bandara Adi Soemarmo Solo, dan kembali ke Jakarta.
Dalam konteks pengembangan Bioavtur di Tanah Air, inisiasi Sustainable Aviation Fuel (SAF) telah dimulai sejak tahun 2010 melalui Research and Technology Innovation Pertamina, dengan riset pengembangan produk dan katalis.
Pada tahun 2021, PT Kilang Pertamina Internasional berhasil memproduksi SAF J2.4 di kilang RU IV Cilacap dengan teknologi minyak inti sawit yang telah mengalami proses pengolahan pemucatan, penghilangan asam lemak bebas dan bau, berkapasitas 1.350 kiloliter (KL) per hari.
Rangkaian uji coba produk SAF dimulai dari cell test di fasilitas milik Garuda Maintenance Facility (GMF), ground run, flight test pada pesawat militer CN-235 milik PT Dirgantara Indonesia.
Selanjutnya, pada 4 Oktober 2023, produk SAF diujicobakan ke pesawat komersial Boeing 737-800 NG milik PT Garuda Indonesia dan terakhir terhadap pesawat Boeing PK GFX Seri 727-800.
Dari serangkaian uji coba yang telah dilakukan, menunjukkan performa SAF J2.4 memiliki kualitas yang sama dengan avtur konvensional.
Sementara itu, dalam acara Bali International Airshow 2024 di Bandara Ngurah Rai, Pertamina Patra Niaga menyalurkan SAF kepada maskapai komersial nasional Citilink.
Pada tahap awal, Citilink telah berhasil melakukan uplifting SAF sebesar 30 KL untuk empat hari kegiatan selama perhelatan Bali International Airshow 2024.
Pencapaian tersebut menunjukkan potensi SAF sebagai bahan bakar alternatif lebih ramah lingkungan untuk dunia aviasi ke depan.
Dok.Pertamina Helikopter Bell 407 terlihat menjadi armada pertama di Indonesia yang menggunakan SAF pada perhelatan Bali International Airshow 2024 di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, Kamis (19/9/2024). Dekarbonisasi penerbangan nasional
Pertamina terus mengembangkan bisnis energi hijau dengan terus membangun kerjasama dengan pihak lain, salah satunya Airbus. Kerjasama dilakukan untuk menjajaki peluang pengembangan ekosistem bahan bakar penerbangan berkelanjutan di Tanah Air.
Kerjasama ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang dilaksanakan di acara Bali International Air Show 2024 pada 18 September 2024 di Ngurah Rai International Airport, Bali.
Penandatanganan diwakili oleh Direktur Strategi, Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina Salyadi Saputra dan Presiden Airbus Asia Pasifik Anand Stanley.
Pertamina dan Airbus akan berkontribusi terhadap pengembangan kemampuan dalam negeri dan berbagai pengetahuan di bidang infrastruktur dan proses pencampuran Bioavtur, penanganan sertifikasi, hingga hal teknis lainnya di bandara.
Akan dilakukan pemetaan bahan baku dan pemeriksaan kebutuhan logistik, serta peluang pengembangan komersialnya.
Hasil studi akan mendukung pengembangan dan produksi SAF dalam negeri sesuai dengan ICAO-CORSIA (Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation) dan RED-EU (Renewable Energy Directive-European Union).
Ditegaskan bahwa Pertamina SAF atau Green Avtur telah memenuhi berbagai standar internasional, termasuk sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) untuk program CORSIA dan RED-UE.
Green Avtur atau Bioavtur juga telah dipastikan keamanannya, memenuhi standar yang ditetapkan American Society of Testing and Materials (ASTM), serta terdaftar sebagai Corsia Eligible Fuel (CEF) oleh International Civil Aviation Organization (ICAO).
Bioavtur menjadi langkah positif menuju penerbangan berkelanjutan yang mampu mengurangi emisi karbon dari bahan bakar fosil.
"Pertamina SAF merupakan campuran dari bahan baku terbarukan yaitu Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah," tutur Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Riva Siahaan pada 20 September 2024.
Untuk diketahui, Indonesia diproyeksikan sebagai salah satu pasar yang memiliki pertumbuhan tertinggi di dunia pada sektor industri penerbangan.
Diperkirakan peningkatan lalu lintas penumpang sekitar 7,4 persen per tahun. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat dari rata-rata pertumbuhan global yaitu sebesar 3,6 persen.
Selain itu, terdapat potensi besar sebagai sumber bahan baku SAF yang menjanjikan, seperti minyak goreng bekas, residu pertanian, dan sampah kota.
Pertamina akan terus berproses dan mengembangkan kilang menjadi green refinery untuk mendukung optimalisasi produksi SAF. Pengembangan SAF menjadi salah satu upaya transisi energi, sekaligus mencapai target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Pertamina berkomitmen mendukung target Net Zero Emission 2060 dengan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDG’s).
Seluruh upaya tersebut sejalan dengan penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina.
"Harapannya ke depan SAF akan semakin diminati dan tentunya akan memberikan dampak baik pengurangan emisi karbon di industri aviasi baik Indonesia dan global," pungkas Fadjar.
Menhub Akui Ada Monopoli Avtur di RI, Pertamina Dilindungi BPH Migas
Menhub menegaskan, monopoli pasar yang dilakukan oleh Pertamina itu dilindungi oleh BPH Migas. [371] url asal
#monopoli-harga-avtur #monopoli-avtur #avtur-pertamina #pertamina #bph-migas
(IDX-Channel - Economics) 01/10/24 19:30
v/15822319/
IDXChannel - Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengakui salah satu komponen yang membuat harga tiket pesawat di Indonesia mahal adalah beban belanja bahan bakar atau Avtur. Sebab, harga Avtur sendiri dimonopoli oleh PT Pertamina (Persero).
Menhub menegaskan, monopoli pasar yang dilakukan oleh Pertamina itu dilindungi oleh BPH Migas. Alhasil, hal tersebut membuat perusahaan lain menjadi sulit untuk berjualan Avtur di Indonesia.
"Harga monopoli itu saya buka, dilindungi oleh BPH Migas. Tolong ditulis gede-gede. Besok datang ke BPH Migas, tanya sama mereka. Saya sudah soft, sudah rapat dengan Pak Luhut, tidak dilaksanakan," kata Menhub dalam konferensi pers Capaian Kinerja Sektor Transportasi selama 10 Tahun, di Jakarta, Selasa (1/10/2024).
Menhub menerangkan, hal ini yang menyebabkan harga penerbangan dalam negeri terkadang punya harga lebih mahal ketimbang penerbangan ke beberapa bandara di luar negeri, utamanya di kawasan Asia Tenggara.
Sebab, dikatakan dia, penjualan Avtur pada industri penerbangan di luar negeri punya banyak provider atau diisi oleh beberapa pelaku usaha. Sehingga, harga Avtur bisa lebih kompetitif di pasar karena tidak terjadi praktik monopoli.
"(Tiket pesawat bisa murah) itu adalah Avtur yang sama dengan negara lain, dan negara lain itu ada multi-provider," ujar Menhub.
Sebelumnya, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mulai melakukan penyelidikan atas dugaan praktik monopoli dan penguasaan pasar bahan bakar Avtur oleh PT Pertamina Patra Niaga. Hal ini mengakibatkan pelaku usaha lain tidak dapat masuk ke dalam persaingan usaha penyediaan avtur di bandar udara (bandara).
Anggota KPPU Gopprera Panggabean mengatakan, diduga hal tersebut dilakukan antara lain dengan menolak penawaran kerja sama dengan pelaku usaha yang ingin masuk ke pasar avtur maupun dengan penjualan terbatas pada afiliasi.
Penyelidikan awal ini didasari dari fakta tingginya harga avtur di Indonesia, bahkan tertinggi di Asia Tenggara. Termasuk untuk harga avtur di Bandara Soekarno Hatta yang memiliki konsumsi terbesar untuk avtur di Indonesia.
Saat ini, hanya terdapat empat pelaku usaha yang mengantongi izin niaga avtur di Indonesia yakni PT AKR Corporindo, PT Dirgantara Petroindo Raya, PT Fajar PetroIndo, dan PT Pertamina Patra Niaga.
Dari jumlah tersebut, hanya dua pelaku usaha yang telah beroperasi dalam penyediaan avtur di bandar udara, yaitu PT Pertamina Patra Niaga yang memasok ke 72 bandara komersial dan nonkomersial, dan PT Dirgantara Petroindo Raya yang memasok ke dua bandara non-komersial.
(Dhera Arizona)
Pertamina Bantah Harga Avtur RI Paling Mahal: Lebih Murah dari Singapura
Pertamina menyatakan harga avtur miliknya lebih rendah jika dibandingkan dengan harga publikasi per liter di negara lain. [304] url asal
#harga-avtur #harga-avtur-indonesia-mahal #harga-avtur-pertamina #pertamina #pertamina-parta-niaga #perbandingan-harga-avtur
(Bisnis.Com - Ekonomi) 12/09/24 05:15
v/14967239/
Bisnis.com, JAKARTA - PT Pertamina Patra Niaga yang merupakan Subholding Commercial and Trading PT Pertamina (Persero) memastikan harga avtur di Indonesia khususnya yang dijual oleh Pertamina sudah paling kompetitif dan mengikuti aturan yang berlaku di Indonesia.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Heppy Wulansari, menyatakan bahkan harga avtur milik Pertamina lebih rendah jika dibandingkan dengan harga publikasi per liter di negara lain.
“Harga publikasi Avtur di Indonesia cukup kompetitif. Nilai kompetitif harga publikasi avtur milik Pertamina juga setara dan lebih rendah dibanding harga publikasi per liter di negara yang memiliki kemiripan lanskap geografis,” kata Heppy di Surabaya, Jawa Timur dikutip dari Antara, Rabu (11/9/2024).
Heppy menyebut avtur yang dijual Pertamina Patra Niaga selama periode 1-30 September adalah sebesar Rp13.211 per liter, harga tersebut jauh lebih rendah dibandingkan harga avtur di Singapura yang mencapai Rp23.212 per liter pada periode sama.
Harga avtur Pertamina ini pun sudah mengacu Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 17 K/10/MEM/2019 tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Avtur Yang Disalurkan Melalui Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU).
Heppy menuturkan penetapan harga avtur juga berdasarkan Mean of Plats Singapore (MOPS) yang menjadi patokan harga pasar terdekat.
Selain itu, harga avtur ini turut mempertimbangkan demand volume dari masing-masing bandara sesuai frekuensi pergerakan pesawat.
Heppy menjelaskan rantai pasok avtur di Indonesia lebih kompleks dibandingkan negara lain yakni Pertamina bertanggung jawab menyediakan avtur di 72 Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) di seluruh Indonesia.
Pertamina Patra Niaga pun tidak hanya berfokus melayani Avtur pada Bandara besar tetapi juga termasuk Bandara kecil yang secara komersial belum tentu menguntungkan.
“Rantai pasok Indonesia lebih kompleks dibanding negara lain termasuk untuk menjaga ketahanan pasokan di 72 DPPU. Kami terus memastikan kebutuhan avtur terpenuhi di seluruh Indonesia, bahkan bandara perintis sekalipun” kata Heppy.
Kata Pertamina soal Harga Avtur di Indonesia Termahal di ASEAN dan Bikin Harga Tiket Pesawat Tinggi Halaman all
Pertamina buka suara soal pernyataan CEO AirAsia yang nenyebut, harga avtur Indonesia paling mahal di Asia Tenggara dan membuat tiket peesawat mahal. Halaman all?page=all [485] url asal
#harga-avtur-indonesia #avtur-mahal #harga-avtur-indonesia-mahal #harga-avtur-pertamina #harga-avtur-per-liter
(Kompas.com) 09/09/24 19:30
v/14943493/
KOMPAS.com - PT Pertamina Patra Niaga Subholding Commercial and Trading PT Pertamina (Persero) buka suara merespons pernyataan CEO Capital A Berhad yang menaungi maskapai AirAsia, Tony Fernandes, soal harga avtur yang dijual Pertamina di Indonesia paling mahal di Asia Tenggara atau ASEAN.
Dalam pernyataannya, Tony juga menyampaikan, tingginya harga avtur di Indonesia menyebabkan harga tiket pesawat rute domestik menjadi lebih mahal daripada perjalanan ke luar negeri walau jaraknya lebih jauh.
Terkait hal tersebut, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Heppy Wulansari memastikan, harga avtur yang dijual Pertamina kompetitif.
Ia juga menyatakan, Pertamina menjual avtur sesuai dengan aturan yang berlaku di Indonesia.
“Harga publikasi avtur di Indonesia bisa dikatakan cukup kompetitif. Nilai kompetitif harga publikasi avtur milik Pertamina juga setara dan lebih rendah bila dibandingkan dengan harga publikasi per liter di negara yang memiliki kemiripan lanskap geografis,” ujar Heppy dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Minggu (8/9/2024).
Berapa harga avtur di Indonesia saat ini?
Heppy menjelaskan, harga avtur yang dijual Pertamina pada Minggu (1/9/2024) hingga Senin (30/9/2024) sebesar Rp 13.211 per liter.
Harga tersebut disebut Heppy lebih rendah dibandingkan harga avtur di Singapura yang mencapai Rp 23.212 per liter pada periode yang sama.
Ia menambahkan, harga avtur Pertamina sudah mengacu Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 17 K/10/MEM/2019 tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Avtur Yang Disalurkan Melalui Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU).
Penetapan harga avtur juga didasarkan pada Mean of Plats Singapore (MOPS) yang menjadi patokan harga pasar terdekat.
Selain itu, Pertamina menetapkan harga avtur dengan mempertimbangkan demand volume dari masing-masing bandara sesuai frekuensi pergerakan pesawat.
Heppy menegaskan, rantai pasok avtur di Indonesia lebih kompleks dibandingkan negara lain.
Pertamina bertanggung jawab menyediakan avtur di 72 DPPU yang tersebar di seluruh Indonesia.
Dari penjualan avtur, Pertamina tidak hanya berfokus melayani avtur di bandara besar, tetapi juga bandara kecil yang secara komersial belum tentu menguntungkan.
“Rantai pasok (supply chain) Indonesia lebih kompleks dibandingkan negara lain, termasuk untuk menjaga ketahanan pasokan di 72 DPPU,” jelas Heppy.
“Kami terus memastikan kebutuhan avtur terpenuhi di seluruh Indonesia, bahkan bandara perintis sekalipun,” tambahnya.
Kata Pertamina soal Harga Avtur di Indonesia Termahal di ASEAN dan Bikin Harga Tiket Pesawat Tinggi - Kompas.com
Pertamina buka suara soal pernyataan CEO AirAsia yang nenyebut, harga avtur Indonesia paling mahal di Asia Tenggara dan membuat tiket peesawat mahal. Halaman all [906] url asal
#harga-avtur-indonesia #avtur-mahal #harga-avtur-indonesia-mahal #harga-avtur-pertamina #harga-avtur-per-liter
(Kompas.com) 09/09/24 19:30
v/14942719/
KOMPAS.com - PT Pertamina Patra Niaga Subholding Commercial and Trading PT Pertamina (Persero) buka suara merespons pernyataan CEO Capital A Berhad yang menaungi maskapai AirAsia, Tony Fernandes, soal harga avtur yang dijual Pertamina di Indonesia paling mahal di Asia Tenggara atau ASEAN.
Dalam pernyataannya, Tony juga menyampaikan, tingginya harga avtur di Indonesia menyebabkan harga tiket pesawat rute domestik menjadi lebih mahal daripada perjalanan ke luar negeri walau jaraknya lebih jauh.
Terkait hal tersebut, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Heppy Wulansari memastikan, harga avtur yang dijual Pertamina kompetitif.
Ia juga menyatakan, Pertamina menjual avtur sesuai dengan aturan yang berlaku di Indonesia.
“Harga publikasi avtur di Indonesia bisa dikatakan cukup kompetitif. Nilai kompetitif harga publikasi avtur milik Pertamina juga setara dan lebih rendah bila dibandingkan dengan harga publikasi per liter di negara yang memiliki kemiripan lanskap geografis,” ujar Heppy dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Minggu (8/9/2024).
Berapa harga avtur di Indonesia saat ini?
Heppy menjelaskan, harga avtur yang dijual Pertamina pada Minggu (1/9/2024) hingga Senin (30/9/2024) sebesar Rp 13.211 per liter.
Harga tersebut disebut Heppy lebih rendah dibandingkan harga avtur di Singapura yang mencapai Rp 23.212 per liter pada periode yang sama.
Ia menambahkan, harga avtur Pertamina sudah mengacu Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 17 K/10/MEM/2019 tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Jenis Avtur Yang Disalurkan Melalui Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU).
Penetapan harga avtur juga didasarkan pada Mean of Plats Singapore (MOPS) yang menjadi patokan harga pasar terdekat.
Selain itu, Pertamina menetapkan harga avtur dengan mempertimbangkan demand volume dari masing-masing bandara sesuai frekuensi pergerakan pesawat.
Heppy menegaskan, rantai pasok avtur di Indonesia lebih kompleks dibandingkan negara lain.
Pertamina bertanggung jawab menyediakan avtur di 72 DPPU yang tersebar di seluruh Indonesia.
Dari penjualan avtur, Pertamina tidak hanya berfokus melayani avtur di bandara besar, tetapi juga bandara kecil yang secara komersial belum tentu menguntungkan.
“Rantai pasok (supply chain) Indonesia lebih kompleks dibandingkan negara lain, termasuk untuk menjaga ketahanan pasokan di 72 DPPU,” jelas Heppy.
“Kami terus memastikan kebutuhan avtur terpenuhi di seluruh Indonesia, bahkan bandara perintis sekalipun,” tambahnya.
Kenapa harga avtur di Indonesia mahal?
Sebelum Pertamina buka suara, Tony sempat menyebutkan, harga avtur Indonesia lebih mahal daripada negara lain karena minimnya kompetisi penyedia avtur di Tanah Air.
Menurut Tony, negara lain seperti Malaysia memiliki beberapa pemasok avtur dari perusahaan yang berbeda.
Sebagai gambaran, laman Jet A1 memuat harga avtur di Negeri Jiran per September 2024 mencapai 0,547 dollar AS atau sekitar Rp 8.453.
Karena penjualan Avtur di Indonesia sepenuhnya dipasok oleh Pertamina, maka maskapai tidak memiliki pilihan lain.
“Di Malaysia, ada dua atau tiga perusahaan. Di sebagian besar negara, ada pilihan (pemasok avtur). Jika hanya ada satu di Indonesia, mereka (Pertamina) dapat mengenakan biaya yang mereka inginkan,” kata Tony dikutip dari Kompas.com, Sabtu (7/9/2024).
Tony juga menilai, tingginya harga tiket pesawat di Indonesia dipengaruhi oleh PPN dan biaya impor suku cadang pesawat.
Senada dengan pernyataan Tony, Komisi Pengawas dan Persaingan Usaha (KPPU) juga menyebut, harga avtur yang dijual Pertamina relatif lebih mahal daripada negara tetangga.
Menurut Ketua KPPU M Fanshurullah Asa, kontribusi dari biaya avtur kepada tiket pesawat bisa mencapai 38-45 persen.
“Karena komponen biaya bahan bakar mencapai 38-45 persen dari harga tiket pesawat,” ungkap Fanshurullah pada Jumat (2/2/2024) lalu.
Ia menambahkan, perbedaan harga avtur Pertamina dengan harga avtur di 10 bandara internasional di negara lain bisa mencapai 43 persen pada Desember 2023.
Hal tersebut dinilai berpengaruh langsung kepada harga tiket pesawat terbang karena berdasarkan kajian harga tiket pesawat per kilometer di Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan negara ASEAN lain, seperti Thailand dan Malaysia.
Bagaimana cara menurunkan harga avtur di Indonesia?
Fanshurullah menyarankan supaya tingginya harga avtur di Indonesia diselesaikan lewat penyaluran avtur melalui sistem multi provider dengan open access dan co-mingle.
Cara tersebut dinilai Fanshurullah sesuai dengan prinsip-prinsip persaingan usaha.
“Keberadaaan multi provider ditujukan untuk menciptakan persaingan dalam pengadaan dan pendistribusian, yang diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan menurunkan harga BBM penerbangan,” jelasnya.
“Sehingga dengan demikian dapat terjadi penurunan harga tiket pesawat karena komponen biaya bahan bakar mencapai 38-45 persen dari harga tiket pesawat,” tambah Fanshurullah.
Selain itu, Fanshurullah juga meminta Peraturan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Nomor 13/P/BPH MIGAS/IV/2008, khususnya aturan mengenai ketentuan badan usaha yang dapat melakukan kegiatan penyediaan dan pendistribusian BBM penerbangan direvisi.
Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi perlu mendorong implementasi open access pada pasar penyediaan dan/atau pendistribusian BBM Penerbangan sebagaimana diatur dalam UU Migas dan peraturan pelaksanaannya.
Itulah kata Pertamina soal penyataan Tony Fernandes yang menyebut harga avtur di Indonesia paling mahal se-ASEAN.