JAKARTA, investor.id – Penjualan batu bara PT Bukit Asam Tbk (PTBA), anggota Holding BUMN Industri Pertambangan atau MIND ID, periode Januari-September 2024 menembus 31,28 juta ton, tumbuh 16% secara tahunan (yoy).
Sekretaris Perusahaan PTBA Niko Chandra merinci, penjualan batu bara tersebut berasal dari realiasi ekspor batu bara dan domestic market obligation (DMO). Pada sisi ekspor, PTBA menjual sebanyak 14,29 juta ton, naik 27% dibanding penjualan ekspor pada periode sama tahun lalu sebesar 11,25 juta ton.
Begitupun pada sisi penjualan batu bara di pasar domestik atau di dalam negeri, PTBA mencatatkan penjualan sebanyak 16,98 juta ton, tumbuh 8% dibanding kuartal III-2023 yang sebesar 15,76 juta ton.
Lalu, dari sisi produksi, Niko menyebut, produksi batu bara PTBA sampai September 2024 mencapai 32,97 juta ton, lebih tinggi 3% secara yoy dengan realisasi angkutan kereta api sebanyak 26,42 juta ton, tumbuh 11% secara yoy.
Kinerja positif PTBA ini menariknya dicapai PTBA di tengah beberapa tantangan seperti koreksi harga batu bara dan fluktuasi pasar. Niko mengatakan, rata-rata indeks harga batu bara ICI-3 terkoreksi sekitar 14% secara yoy dari US$ 86,32 per ton hingga kuartal III-2023, menjadi US$ 74,59 per ton sampai kuartal III-2024.
Sementara, rata-rata indeks harga batu bara Newcastle terkoreksi 28% secara yoy menjadi US$ 133,89 per ton sampai kuartal III-2024, dari US$ 185,45 per ton hingga kuartal III-2023.
Karena itu, Niko menekankan, PTBA terus berupaya memaksimalkan potensi pasar di dalam negeri dan peluang ekspor untuk mempertahankan kinerja baik.
Lebih jauh, PTBA juga konsisten mengedepankan cost leadership di setiap lini perusahaan, sehingga efisiensi berkelanjutan berjalan optimal. Ini tercermin dari penurunan cash cost per ton secara tahunan dari Rp 853 ribu menjadi Rp 835 ribu.
“Kami berharap, agar pembentukan Mitra Instansi Pengelola (MIP) dapat segera terealisasi dan berdampak baik bagi kinerja keuangan perseroan,” ujar dia.
Diversifikasi Bisnis
Menurut Niko, PTBA memiliki visi untuk menjadi perusahaan energi kelas dunia yang peduli lingkungan sejalan dengan target Net Zero Emission (NZE) pemerintah pada 2060 . Untuk itu, perseroan melakukan diversifikasi bisnis ke sektor energi baru dan terbarukan (EBT).
Pada 24 Oktober 2024, Niko bilang, PTBA meluncurkan Pilot Plant (pabrik percontohan) Wood Pellet dari Kaliandra Merah di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Pengembangan Wood Pellet yang merupakan bahan bakar campuran batu bara (co firing) di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), ini adalah tindak lanjut dari program budidaya Kaliandra Merah untuk biomassa yang dimulai PTBA pada 2023.
"Saat ini kapasitas produksi yang mampu dihasilkan dari Pilot Plant sebanyak 200 kg per jam," beber dia.
Diversifikasi juga dilakukan PTBA dengan membangun PLTS di Bandara Soekarno-Hatta bekerjasama dengan PT Angkasa Pura II (Persero), yang beroperasi penuh sejak Oktober 2020. Menurut NIko, PLTS tersebut berkapasitas maksimal 241 kilowatt-peak (kWp) dan terpasang di Gedung Airport Operation Control Center (AOCC).
Untuk mencapai target NZE pemerintah pada 2060, Niko menyampaikan, PTBA menjalankan sejumlah program untuk mendukung dekarbonisasi. Dari sisi operasional misalnya, selain implementasi good mining practice, PTBA juga menerapkan eco mechanized mining yaitu mengganti peralatan pertambangan yang menggunakan bahan bakar fosil menjadi elektrik.
Beberapa alat berbasis listrik yang digunakan PTBA seperti ekskavator listrik berjenis shovel PC-3000, dump truck sekelas 100 Ton hybrid (Diesel dan Listrik), dan pompa tambang berbasis Listrik.
PTBA juga mengoperasikan bus listrik di Pelabuhan Tarahan dan Unit Pertambangan Tanjung Enim. Perusahaan juga menerapkan E-Mining Reporting System, yaitu sistem pelaporan produksi secara real time dan daring sehingga mampu meminimalkan pemantauan konvensional yang menggunakan bahan bakar.
Inovasi lainnya, sambung Niko, PTBA mengembangkan lahan basah buatan (constructed wetland) untuk menghilangkan bahan pencemar seperti logam berat dan mampu menetralkan air asam tambang.
"Program-program dekarbonisasi ini merupakan bagian dari peta jalan manajemen karbon PTBA hingga 2060 yang akan terus dilaksanakan dan dikembangkan secara berkelanjutan di setiap lini perusahaan untuk memberikan hasil optimal," tutup Niko.
Editor: Muawwan Daelami (muawwandaelami@gmail.com)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News