#30 tag 24jam
Bom Nuklir Bisa Selamatkan Bumi dari Hantaman Asteroid Raksasa
Asteroid raksasa yang bisa menghancurkan bumi bisa dihalau dengan bom nuklir [546] url asal
#bom-nuklir #asteroid #bom-nuklir-hancurkan-asteroid
(Bisnis.Com - Teknologi) 24/09/24 09:35
v/15476702/
Bisnis.com, JAKARTA - Para ilmuwan, dan peneliti di fasilitas pemerintah AS mengungkapkan ledakan bom nuklir dapat menyelamatkan dunia dari tabrakan asteroid raksasa.
Hal ini terungkap dalam demonstrasi komprehensif pertama pertahanan planet dengan bantuan nuklir.
Fisikawan di Sandia National Laboratories, yang misi utamanya adalah memastikan keselamatan dan keamanan persenjataan nuklir AS, mencatat dalam rincian nanodetik bagaimana gelombang besar radiasi yang dilepaskan oleh ledakan nuklir dapat menguapkan sisi asteroid di dekatnya.
Peristiwa tersebut sangat dahsyat hingga memanaskan permukaan hingga puluhan ribu derajat, menghasilkan bola gas yang mengembang dengan cepat yang mampu mendorong asteroid keluar jalur. Lakukan penjumlahan dengan benar dan shuntnya harus cukup untuk menunda hari kiamat.
“Bahan yang menguap keluar dari satu sisi, mendorong asteroid ke arah yang berlawanan. Ini seperti mengubah asteroid menjadi roketnya sendiri.” ujar kata Dr Nathan Moore, penulis pertama studi tersebut dilansir dari Guardian.
Tabrakan asteroid yang menghancurkan jarang terjadi dalam sejarah bumi, namun manusia telah mengambil pelajaran dari 66 juta tahun yang lalu bahwa batuan luar angkasa dapat menimbulkan bencana. Asteroid yang mengakhiri masa dinosaurus memiliki lebar sekitar 6 mil, namun batuan yang jauh lebih kecil masih berbahaya.
Meteor selebar 60 kaki yang meledak di kota Chelyabinsk di Rusia pada tahun 2013 melukai lebih dari 1.200 orang.
Mengingat sifat ancaman yang ada, para peneliti sedang menjajaki strategi untuk melindungi Bumi dari dampak besar. Pada tahun 2022, wahana Dart milik NASA dengan sengaja menabrak Dimorphos, sebuah bulan kecil dari asteroid bernama Didymos. Misi tersebut menunjukkan bahwa dampak kinetik dapat melindungi Bumi, namun dorongan tersebut perlu diberikan bertahun-tahun sebelum dampak yang akan terjadi.
Opsi nuklir adalah untuk asteroid yang lebih besar, terutama ketika waktunya terbatas. Hal ini tidak melibatkan penembakan asteroid, atau mengambil pendekatan Bruce Willis dalam film Armageddon yaitu menjatuhkan bom ke dalam lubang bor. Yang lebih efektif adalah ledakan kebuntuan, yang menguapkan sebagian permukaan asteroid dan menyerahkan sisanya pada hukum gerak ketiga Newton.
Untuk menguji gagasan tersebut, Moore dan rekan-rekannya membuat eksperimen yang belum pernah terjadi sebelumnya yang memaparkan potongan-potongan asteroid tiruan ke gelombang sinar-X yang kuat serupa dengan yang dilepaskan dalam ledakan nuklir. Denyut nadi pertama-tama melenyapkan penyangga yang menahan material di tempatnya dan kemudian dengan cepat menguapkan permukaan target, menciptakan gas yang mengembang dan membuatnya terbang.
Menulis di Nature Physics, para peneliti menjelaskan bagaimana asteroid tiruan tersebut terkena gravitasi segera setelah penyangganya dihancurkan, namun mereka jatuh kurang dari 2 sepersejuta milimeter sebelum eksperimen 20 mikrodetik selesai. Potongan-potongan asteroid tiruan tersebut terlempar hingga kecepatan hampir 200 mph.
Strategi ini seharusnya bisa diterapkan pada asteroid yang lebarnya mencapai 2,5 mil, kata para ilmuwan, namun hal tersebut bukanlah batasan yang pasti. “Jika ada waktu peringatan yang cukup, asteroid yang lebih besar pasti bisa dibelokkan,” kata Moore.
Prof Colin Snodgrass dari tim sains misi Dart di Universitas Edinburgh mengatakan penting untuk memahami bagaimana menskalakan hasil ke asteroid berukuran penuh. Misi Hera Badan Antariksa Eropa, yang akan diluncurkan bulan depan, akan membantu dengan mensurvei dampak Dart terhadap Dimorphos.
Prof Gareth Collins, ilmuwan planet di Imperial College, menyebut eksperimen Moore “spektakuler”. “Saya masih memiliki preferensi yang kuat terhadap opsi non-nuklir, khususnya penabrak kinetik tunggal atau ganda, karena kita tahu bahwa hal tersebut dapat dicapai secara teknologi,” katanya. “Tetapi untuk asteroid yang sangat besar atau waktu peringatan yang singkat, pendekatan seperti ini mungkin merupakan satu-satunya pilihan kami.”
Bikin Geger Dunia, Jet Tempur Jerman Kepergok Bawa Bom Nuklir Buatan AS
Dunia dihebohkan dengan foto yang memperlihatkan jet tempur Jerman membawa bom nuklir AS. [356] url asal
#viral #jerman #jet-tempur #bom-nuklir #as #amerika-serikat
(Bisnis.Com) 07/09/24 13:21
v/14927750/
Bisnis.com, JAKARTA - Dunia dihebohkan dengan foto yang memperlihatkan jet tempur Jerman membawa bom nuklirAS.
Dilansir dari Newsweek, jet tersebut terlihat membawa bom nuklir buatan AS selama penerbangan di pangkalan angkatan udara di California minggu lalu.
Jet tempur itu adalah "Tornado" yang ditugaskan ke angkatan udara Jerman. Untuk diketahui, ini merupakan salah satu pesawat tempur non-AS yang bersertifikat di Eropa di bawah pembagian nuklir NATO.
Foto tersebut, yang diambil pada tanggal 27 Agustus di Pangkalan Angkatan Udara Edwards di California, menunjukkan pesawat Jerman itu membawa pelatih bom nuklir B61-12 di bawah perutnya, menurut Hans Kristensen, direktur Proyek Informasi Nuklir di Federasi Ilmuwan Amerika.
B61-12 memiliki empat daya ledak yang dapat dipilih hingga 50 kiloton TNT dan merupakan varian terbaru dari keluarga senjata nuklir B61.
Dua bom atom Amerika yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki di Jepang pada tahun 1945, satu-satunya penggunaan senjata nuklir dalam konflik bersenjata, masing-masing memiliki daya ledak 15 dan 25 kiloton.
Buletin Ilmuwan Atom memperkirakan bahwa sekitar 100 bom gravitasi nuklir B61-3 dan B61-4, dengan hasil masing-masing berkisar antara 0,3 kiloton hingga 170 dan 50 kiloton, diperkirakan ditempatkan di enam pangkalan Eropa, termasuk pangkalan udara Büchel di Jerman barat.
B61-12 memiliki masa pakai yang diperpanjang setidaknya dua dekade dan akan menggantikan semua senjata nuklir Amerika yang berbasis di Eropa selama beberapa tahun ke depan.
Dilengkapi dengan perangkat ekor berpemandu yang meningkatkan akurasi, bom tersebut dapat dipilih untuk menghasilkan daya ledak yang lebih rendah guna menyerang target yang ada, sehingga mengurangi kerusakan tambahan.
Di sisi lain, pesawat berkemampuan ganda milik Jerman tersebut mampu membawa senjata nuklir dan non-nuklir sehingga dapat mengirimkan senjata nuklir Amerika dalam suatu konflik.
NATO mengonfirmasi bahwa AS telah mengerahkan sejumlah bom gravitasi nuklir B61 di Eropa sebagai pencegahan lanjutan, yang sering digambarkan sebagai penyediaan "payung nuklir."
Senjata nuklir ini, yang tetap berada di bawah pengawasan dan kendali AS, menjamin keamanan aliansi.
Pengerahan senjata nuklir Amerika di Eropa akan berfungsi sebagai kemampuan nuklir NATO, yang bertujuan untuk mencegah agresi.
Pada bulan Maret, Kantor Direktur Intelijen Nasional di AS memperingatkan bahwa Rusia terus membangun persenjataan nuklirnya untuk mencegah musuh potensial.
Fokus Nuklir: Perkembangan Senjata Penghancur Massal, Siapa Punya Apa?
Data menunjukkan sejumlah negara menyiagakan bukan hanya senjata nuklir, tapi senjata kimia dan senjata biologis. [544] url asal
#nuklir #bom-nuklir #senjata-nuklir #bom-hiroshima-dan-nagasaki #update-me #educate-me #fokus-nuklir
(Katadata - BERITA) 15/08/24 16:16
v/14453609/
Lebih dari 12.100 unit senjata nuklir tersebar di berbagai belahan dunia sekarang ini. Senjata ini milik sembilan negara yaitu Amerika Serikat (AS), Rusia, Prancis, China, Inggris, Pakistan, India, Israel, dan Korea Utara. Namun, hampir 90 persennya kepunyaan AS dan Rusia.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan saat Perang Dingin 1947, ketika terdapat sekitar 60.000 senjata di seluruh dunia, namun ancaman terhadap kemanusiaan tidak berkurang. Pasalnya, daya ledak senjata nuklir modern bisa ratusan kali lipat bom atom atau bom primitif yang menghancurkan Hirosima dan Nagasaki pada 1945.
Berdasarkan catatan sejarah, senjata nuklir paling mematikan yang pernah dibuat dan diuji adalah Tsar Bomba, yang dikembangkan oleh Uni Soviet. Bom ini merupakan bom nuklir terbesar yang pernah diledakkan, dengan daya ledak sebesar 50 megaton TNT, sekitar 3.300 kali lebih kuat dibandingkan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima.
Meskipun memiliki daya ledak yang luar biasa, Tsar Bomba tidak pernah menjadi senjata praktis karena ukurannya yang besar dan berat. Bom ini dikembangkan sebagai bentuk unjuk kekuatan selama Perang Dingin. Tidak ada bom lain dengan skala sebesar ini yang dibuat setelahnya.
Perjanjian pengendalian senjata internasional, seperti Perjanjian Pelarangan Uji Coba Sebagian (Partial Test Ban Treaty) tahun 1963 dan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (Nuclear Non-Proliferation Treaty) tahun 1968, turut mencegah pengembangan dan pengujian senjata nuklir super besar seperti Tsar Bomba. Namun, daya ledak senjata nuklir yang ada saat ini tak kalah mengerikan dari Tsar Bomba.
Saat ini, inventori senjata nuklir negara-negara lebih ke jenis rudal balistik antarbenua (Intercontinental Ballistic Missiles) dan rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam (Submarine-Launched Ballistic Missiles). Rudal-rudal ini biasanya membawa hulu ledak termonuklir, yang memanfaatkan fusi nuklir dan fisi atom untuk menghasilkan ledakan besar. Meskipun lebih kecil dari Tsar Bomba, hulu ledak ini tetap memiliki daya hancur yang luar biasa dan mampu meluncur dengan presisi tinggi.
Hulu ledak termonuklir yang juga dikenal sebagai bom Hidrogen atau "H-bomb" bisa menciptakan ledakan ratusan kali lebih kuat dari bom atom. Dalam sebuah podcast tahun 2005, Siegfried Hecker, mantan Direktur Laboratorium Nasional Los Alamos, laboratorium pengembangan nuklir AS, menyebut bom hidrogen sebagai “Bagian utama dari persenjataan nuklir AS juga Rusia.”
Mengacu pada Union of Concerned Scientist, lembaga nirlaba di bidang ilmu pengetahuan yang berbasis di AS, hulu ledak di satu kapal selam nuklir AS saja memiliki kekuatan penghancur tujuh kali lipat dari semua bom yang dijatuhkan selama Perang Dunia II, termasuk dua bom atom yang dijatuhkan di Jepang. AS memiliki setidaknya sepuluh kapal selam tersebut di laut. “Hampir semua kekuatan nuklir utama — termasuk AS, Rusia, dan China — tengah meningkatkan secara signifikan persenjataan nuklir mereka dalam ukuran maupun kemampuan.”
Ancaman Serius dari Senjata Kimia dan Biologis
Selain senjata nuklir, dunia dibayangi senjata pemusnah massal berupa senjata biologis dan kimia. Senjata biologis menggunakan patogen, seperti bakteri, virus, dan jamur, atau racun yang dihasilkan oleh organisme, untuk menyebabkan penyakit, kematian atau kerusakan luas. Sedangkan senjata kimia memanfaatkan bahan kimia beracun yang menimbulkan efek mematikan atau melumpuhkan pada manusia dan lingkungan.
Kedua jenis senjata ini dilarang keras oleh hukum internasional melalui Konvensi Senjata Biologis (Biological Weapons Convention/BWC) tahun 1972 dan Konvensi Senjata Kimia (Chemical Weapons Convention/CWC) tahun 1997. Namun, sejumlah negara dilaporkan masih memiliki dan mengembangkan senjata-senjata ini. Di bawah ini, sejarah aktivitas senjata kimia dan biologis hingga 2022, mengacu pada Our World in Data.
Fokus Nuklir: Risiko Peledakan Nuklir di Ruang Angkasa Gentarkan Pentagon
Uji coba peledakan misil nuklir di ruang angkasa pada 1967 menyebabkan radiasi jangka panjang di Orbit Bumi Bawah, tempat mayoritas satelit mengorbit. [518] url asal
#nuklir #senjata-nuklir #bom-nuklir #bom-hirosima-dan-nagasaki #perang-rusia-ukraina #update-me #educate-me #fokus-nuklir
(Katadata - BERITA) 15/08/24 16:14
v/14453610/
Dalam beberapa tahun ini, para pejabat Pentagon alias Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) telah beberapa kali memperingatkan soal ancaman peledakan nuklir di ruang angkasa. Pada 2020, Dokumen Strategi Pertahanan Ruang Angkasa menyebut bahwa ancaman serius terhadap operasi ruang angkasa AS datang dari Rusia dan China, selain Iran dan Korea Utara.
Pada awal Mei, Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Robert A. Wood mengungkapkan Rusia telah memiliki beberapa senjata anti-satelit di orbit, salah satunya diuji coba pada 2019. Hal ini disampaikan dalam sidang pleno PBB yang membahas resolusi larangan senjata nuklir di ruang angkasa. Resolusi ini untuk mengukuhkan Perjanjian Ruang Angkasa 1967. “Ada informasi yang kredibel bahwa Rusia mengembangkan satelit baru yang membawa perangkat nuklir,” ujarnya.
Sebelumnya pada April, dalam sidang Dewan Keamanan PBB, resolusi tersebut gagal disahkan meski disetujui mayoritas anggota karena Rusia menggunakan hak veto. Rusia dan China menawarkan resolusi tandingan yang intinya melarang segala jenis senjata di ruang angkasa. Namun, AS dan negara aliansinya menolak sehingga resolusi tandingan ini pun gagal disahkan.
Seberapa Berbahaya Peledakan Senjata Nuklir di Ruang Angkasa?
Minggu malam, 9 Juli 1962, Amerika Serikat meledakkan misil nuklir pada ketinggian 400 kilometer di atas Laut Pasifik. Beberapa surat kabar melaporkan ledakan nuklir tersebut menciptakan bola api raksasa. Cahayanya berpendar menghasilkan “eerie sunset” alias langit senja yang mengerikan dan bentaran cahaya mirip aurora. Fenomena tersebut terlihat ribuan kilometer jauhnya dari Kepulauan Hawai hingga New Zealand.
Itu bukan uji coba peledakan nuklir pertama maupun terakhir di ruang angkasa, tapi tercatat sebagai yang paling berdampak. Dikenal dengan nama Starfish Prime, uji coba tersebut melepas misil nuklir berkekuatan 1,45 megaton atau 100 kali lipat lebih besar dari bom yang dijatuhkan militer Amerika Serikat pada 6 Agustus 1945 di Hirosima, Jepang.
Tak ada catatan korban jiwa akibat Starfish Prime, sedangkan dampak kesehatan sulit ditelusuri. Namun, di Orbit Bumi Bawah atau Low Earth Orbit dimana misil meledak, sejumlah satelit dilaporkan mengalami kerusakan saat peledakan maupun pascapeledakan akibat radiasi yang bertahan dalam waktu panjang. Di bumi, gelombang elektromagnetik menyebabkan listrik padam, kerusakan pada peralatan elektronik, dan gangguan telekomunikasi.
Meski daya ledak lebih besar, kerusakan yang dihasilkan dari peledakan di ruang angkasa lebih kecil dibandingkan peledakan di darat. Namun, di dunia modern yang banyak bergantung pada satelit dan serba elektronik, serangan semacam itu bisa menyebabkan kekacauan. Satelit digunakan untuk telekomunikasí, navigasi, observasi astronomi, pemantauan cuaca untuk kepentingan beragam sektor, hingga misi pertahanan keamanan, termasuk kegiatan spionase.
Dalam rapat parlemen Amerika Serikat, Asisten Sekretaris Kebijakan Pertahanan Angkasa AS John Plumb pernah mengungkapkan, peledakan nuklir di angkasa bisa membuat Orbit Bumi Bawah dimana mayoritas satelit mengorbit tidak bisa dipakai dalam waktu yang lama, kemungkinan setahun.
Mengacu pada data orbiting.com, saat ini terdapat lebih dari 10.000 satelit yang mengorbit bumi, kebanyakan di Orbit Bumi Bawah atau Low Earth Orbit yang berada pada ketinggian kurang dari 2.000 kilometer, terbanyak milik pemerintah ataupun perusahaan AS. Ini termasuk sekitar 6.000 satelit Starlink yang menyediakan jaringan berkecepatan tinggi, termasuk untuk militer Ukraina yang tengah menghadapi perang dengan Rusia. Jumlah ini jauh lebih banyak dibandingkan tahun 1960-an saat uji coba Starfish Prime dilakukan.
Fokus Nuklir: Risiko Perang Nuklir Meningkat di Eropa, Timur Tengah, dan Asia
Negara-negara saling-ancam menggunakan senjata nuklir. Penyebaran senjata nuklir terus meluas. [1,387] url asal
#nuklir #bom-nuklir #bom-hirosima #bom-nagasaki #perang #perang-rusia-ukraina #update-me #educate-me #fokus-nuklir
(Katadata - BERITA) 15/08/24 16:11
v/14453611/
Saat ini, dunia bisa jadi berada di masa dengan risiko tertinggi perang yang melibatkan senjata nuklir. Eropa tampak jadi pusat risiko di tengah perang Rusia dan Ukraina. Namun, risiko sebetulnya telah meningkat juga di Timur Tengah dan Asia Pasifik.
Pada Maret lalu, Vladimir Putin, dalam pidato pertama setelah terpilih sebagai presiden Rusia untuk kelima kalinya mengatakan, “Saya telah membuatnya terang untuk semua orang, bahwa (dunia) selangkah lagi menuju perang dunia ketiga.”
Pernyataan ini disampaikan Putin sebagai ancaman bagi negara-negara di belakang NATO yang ikut campur dalam perang Rusia dengan Ukraina. Perang Rusia dan Ukraina pecah pada 24 Februari 2022 setelah militer Rusia meluncurkan rudal ke berbagai kota di Ukraina. Putin menyalahkan NATO yang dipimpin Amerika Serikat yang terus memperluas aliansi militer ke Eropa Timur.
Pada Mei, Putin kembali mengancam dengan menyebut bakal ada “konsekuensi serius” terkait pasokan amunisi kepada Ukraina. Putin mengatakan negara-negara Eropa anggota NATO perlu waspada terhadap teritorinya yang kecil dan padat penduduk. Seraya memperjelas ancaman, Mantan presiden Rusia Dmitry Medvedev sempat mengatakan,“Bisa terjadi miskalkulasi dalam penggunaan senjata taktis nuklir dan ini akan berakibat fatal.”
Sepanjang Mei hingga Juli, militer Rusia telah melakukan setidaknya tiga kali latihan militer menggunakan senjata nuklir taktis. Latihan pada Juni lalu dilakukan bersama sekutunya Belarusia. Sebelum invasi Rusia ke Ukraina, Presiden Belarusia mengonfirmasi telah mendapatkan kiriman senjata nuklir dari Rusia dan siap meluncurkannya sewaktu-waktu. Ini telah membuat Ukraina dan negara tetangganya yang lain yang juga anggota NATO yaitu Polandia, Estonia, Latvia, dan Lithuania meningkatkan kewaspadaan.
Dibanjiri kecaman, Jenderal Senior Rusia balik menuduh aliansi NATO yang dipimpin Amerika Serikat juga telah menggelar latihan untuk menghadapi potensi perang nuklir dengan Rusia.
Saat berita ini ditulis, situasi semakin panas. Militer Ukraina berhasil memukul mundur militer Rusia di Kursk. Ini merupakan agresi militer Ukraina tersukses karena berhasil masuk cukup dalam ke teritori Rusia. Di sisi lain, Belarusia mengirimkan tank-tank militer ke perbatasan dengan Ukraina. Sementara itu, kebakaran terjadi di pembangkit listrik tenaga nuklir milik Ukraina yang terbesar di Eropa, Zaporizhzhia Nuclear Power Plant, yang telah dua tahun berada dalam tawanan Rusia.
Lokasi pembangkit tersebut telah berulang kali menjadi tempat baku tembak dan menciptakan kekhawatiran internasional bakal terjadinya tragedi yang lebih buruk dari Chernobyl. Pada 1986, pembangkit listrik tenaga nuklir Chernobyl meledak dan menyebabkan kebocoran radioaktif dan bencana radiasi yang mematikan di Ukraina, Rusia, dan Belarusia.
Perang yang melibatkan nuklir juga membayangi Timur Tengah. Iran dan Israel terlibat konfrontasi terbuka mulai April setelah Israel menyerang Kedutaan Besar Iran di Damascus, Suriah. Serangan tersebut membunuh tujuh anggota Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), termasuk dua jenderal yang memimpin Quds Force, ranting IRGC yang fokus pada perang npn-konvensional dan operasi intelijen. Serangan tersebut dibalas Iran dengan meluncurkan ratusan misil ke Israel.
Tensi politik semakin panas setelah pada akhir Juli lalu Komandan Hezbullah Fuad Shukr dan pemimpin politik Hamas Ismail Haniyeh tewas dibunuh. Israel mengakui telah membunuh Fuad Shukr dan diyakini berada di belakang pembunuhan Haniyeh.
Pada April, Iran sempat memberikan peringatan bahwa pihaknya bisa saja mengembangkan bom nuklir jika Israel mengancam keberlangsungan Iran dengan menyerang pembangkit listrik tenaga nuklirnya. “Kami belum memutuskan untuk membuat bom nuklir tapi bila keberlangsungan Iran terancam, tak ada opsi selain mengubah doktrin militer kami,” kata Kamal Kharrazi, Penasehat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, sebagaimana dilaporkan Iran’s Student News Network. Selama ini, Khamaeni melarang pengembangan senjata nuklir melalui fatwa haram.
Israel sendiri dipercaya luas memiliki senjata nuklir meskipun negara tersebut tidak pernah mengakuinya. Banyak yang memperkirakan bahwa Israel memiliki sekitar 90 hulu ledak nuklir berbasis plutonium dan telah memproduksi cukup plutonium untuk 100-200 senjata.
Di Asia Pasifik, terjadi peningkatan risiko konflik antara Amerika Serikat dan China terkait Taiwan. Posisi geografis Taiwan membuatnya berada di sentral pertarungan kekuasaan dan pengaruh antara China dengan Amerika Serikat dan sekutunya di Indo-Pasifik.
Dalam analisisnya yang diterbitkan Foreign Policy, mantan pejabat inteligen nasional AS Markus Garlauskas mengatakan, konflik antara AS dan China terkait Taiwan hampir pasti akan menjadi perang di seluruh wilayah, melibatkan Semenanjung Korea, dan menarik masuk Korea Utara serta Korea Selatan.
Titik Terendah Perjanjian Non-Proliferasi: Senjata Nuklir Menyebar Jauh
Negara-negara pemegang senjata nuklir semakin intens memainkan strategi saling gertak dan saling ancam lewat distribusi senjata nuklir hingga latihan-latihan menggunakan senjata pemusnah massal tersebut sebagai bagian dari strategi nuclear detterance. Perkembangan ini menandakan titik terendah perjanjian pembatasan dan pelucutan senjata nuklir atau non-proliferasi senjata nuklir (Nuclear Non-Proliferation Treaty/NPT) yang berumur lebih dari setengah abad.
Perjanjian yang diteken 190 negara tersebut membagi negara-negara dalam dua kelompok. Kelompok pertama negara-negara pemegang senjata nuklir (NWS) yang terdiri dari Amerika Serikat, Rusia, China, Prancis, dan Inggris. Kelompok kedua, negara-negara non pemegang senjata nuklir (NNWS). Lima negara tak ikut komiten ini yaitu Sudan Selatan, India, Israel, dan Pakistan. Satu lainnya, Korea Utara, mundur dari perjanjian pada 2003.
Di bawah perjanjian tersebut, lima negara NWS berkomitmen untuk mengurangi, membatasi, dan menghancurkan senjata nuklir dan senjata penghacur massal lainnya, sementara negara-negara NNWS sepakat untuk tidak mengembangkan dan mengadopsi senjata yang dimaksud.
Namun, di bawah kerja sama “berbagi nuklir” atau nuclear sharing NATO, Belgia, Jerman, Italia, Belanda, dan Turki bisa memperlengkapi tentaranya dengan senjata taktis nuklir B61 milik Amerika Serikat. Sebagian besar negara-negara tersebut juga sepakat untuk menyimpan senjata penghancur massal tersebut.
Terbaru, Polandia mengajukan diri untuk ikut dalam nuclear sharing NATO di tengah kekhawatiran akan Rusia dan aliansinya Belarusia. Sementara itu, Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson dalam wawancara beberapa waktu lalu mengungkapkan tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan senjata nuklir milik Amerika Serikat dalam kondisi perang.
Rusia juga mendistribusikan senjata nuklir ke aliansinya. Sebelum invasi Rusia ke Ukraina, Presiden Belarusia mengonfirmasi telah mendapatkan kiriman senjata nuklir dari Rusia dan siap meluncurkannya sewaktu-waktu. Dalam pertemuan dengan wartawan Juni lalu, Presiden Putin mengancam akan mendistribusikan senjata ke negara-negara aliansinya yang berdekatan dengan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, bila Ukraina kedapatan menggunakan senjata dari barat untuk menyerang teritori Rusia dan menyebabkan kerusakan parah.
Persebaran senjata nuklir di Asia Pasifik juga makin mengkhawatirkan. Pada 2021, Australia, Inggris, dan Amerika Serikat mengumumkan pakta AUKUS yang berisi kerja sama teknologi untuk keamanan Indo-pasifik – wilayah yang meliputi Samudra Hindia, Samudera Pasifik bagian barat dan tengah, serta laut-laut pedalaman di wilayah Indonesia dan Filipina. Pakta ini banyak dimaknai sebagai langkah strategis Amerika Serikat dan aliansinya untuk merespons agresi dan ambisi Cina di wilayah tersebut.
Salah satu isi pakta tersebut adalah pengembangan bersama kapal selam bertenaga nuklir untuk angkatan laut Australia. Meski bukan kapal selam yang bersenjatakan nuklir, namun biasanya digerakkan oleh material fisil yang diperkuat ke level yang mendekati atau cukup untuk menciptakan reaktor nuklir di senjata nuklir. Tak ayal, kesepakatan ini ditentang banyak negara karena dianggap melanggar pakta Non-Proliferasi Nuklir. Pada akhir tahun lalu, parlemen Amerika Serikat telah memberikan restu penjualan kapal selam yang dimaksud ke Australia. Kapal selam pertama dijadwalkan tiba pada 2030.
Pada Mei lalu, Senator Amerika Serikat Roger Wicker, pejabat tinggi Partai Republik di Komite Militer, dalam laporan berjudul "Peace Through Strength" menyarankan agar Amerika Serikat mempertimbangkan opsi baru, seperti nuclear sharing di Indo-Pacific and distribusi senjata nuklir taktis di Semenanjung Korea. Alasannya, Korea Utara terus mengembangkan senjata nuklir termasuk misil balistik yang bisa menyerang Amerika Serikat dan sekutu di Indo-Pasifik.
Juru Bicara Departemen Dalam Negeri AS membantah adanya rencana tersebut. Namun, pada Juni lalu, Korea Selatan menggelar pertemuan dengan Amerika Serikat di Seoul dalam rangka Nuclear Consultative Group Meeting. Dalam pertemuan yang melibatkan departemen pertahanan dan otoritas hubungan luar negeri, intelijen, dan militer kedua negara dibahas opsi integrasi kemampuan militer konvensional Korea Selatan dengan operasi nuklir AS untuk merespons ancaman misil dan nuklir Korea Utara.
Di tengah situasi ini, Putin yang baru memperbaharui sumpah sebagai Presiden Rusia melakukan lawatan-lawatan penting ke Cina dan Korea Utara. Pada Mei, Putin terbang ke Beijing menemui Presiden Xi Jin Ping dan menghasilkan pernyataan bersama. Berbeda dengan pertemuan di 2022, keduanya tak lagi bicara soal dukungan untuk non-proliferasi senjata nuklir. Keduanya juga tidak lagi mempertanyakan komiten non-proliferasi Amerika Serikat, Inggris, dan Australia terkait pakta pertahanan AUKUS.
Berikutnya, pada Juni, Putin dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menandatangani perjanjian kemitraan strategis baru di Pyongyang. Pakta ini disebut-sebut sebagai kesepakatan paling signifikan yang ditandatangani oleh Rusia dan Korea Utara dalam beberapa dekade. Menurut teks pakta tersebut, Pasal 4 menyatakan bahwa jika salah satu negara "memasuki keadaan perang akibat agresi bersenjata," maka negara lainnya "harus segera memberikan bantuan militer dan lainnya dengan segala cara."
79 Tahun Tragedi Hirosima Nagasaki, Dunia Dikepung Senjata Nuklir
Di langit malam, Anda bisa jadi melihat senjata nuklir berotasi. [650] url asal
#nuklir #bom-nuklir #bom-hirosima #bom-nagasaki #rusia-ukraina #update-me #educate-me #fokus-nuklir
(Katadata - BERITA) 15/08/24 16:10
v/14453612/
“Bapak Presiden, saya merasa ada darah di tangan saya.” Kalimat itu keluar dari mulut Direktur proyek bom nuklir Amerika Serikat “Manhattan Project” Robert Oppenheimer dalam pertemuan dengan Presiden Harry S. Truman setelah negara Paman Sam menjatuhkan bom nuklir di Hirosima dan Nagasaki pada 6 dan 9 Agustus 1945, tujuh puluh sembilan tahun silam.
Lebih dari 200 ribu orang tewas, termasuk mereka yang selamat dari ledakan namun mati karena radiasi. Ini merupakan pertama kali dan sejauh ini terakhir kali senjata nuklir digunakan dalam perang. Tragedi yang memilukan tersebut tak membuat pengembangan senjata nuklir berhenti. Di bawah kecurigaan, negara-negara semakin aktif melakukan uji coba senjata nuklir.
Baru di akhir 1960-an, sebagian negara pengembang senjata nuklir sepakat menandatangani Perjanjian Non-proliferasi Nuklir (Nuclear Non-Proliferation Treaty/NPT) yaitu perjanjian untuk mewujudkan dunia tanpa senjata nuklir. Ironisnya, pengembangan, penimbunan, dan pendistribusian senjata penghancur massal tersebut tak pernah benar-benar berhenti hingga sekarang.
Sembilan negara tercatat sebagai pengembang senjata nuklir yaitu Amerika Serikat, Prancis, Rusia, China, Inggris, Pakistan, India, Israel, dan Korea Utara. Jumlah senjata nuklir aktif dilaporkan jauh berkurang dari sejak perang dingin 1947, namun daya ledaknya ratusan kali lipat bom primitif yang menghancurkan Hirosima dan Nagasaki -- cukup untuk menghabisi peradaban manusia.
Saat ini, ada lebih dari 12.100 rudal nuklir siap ledak, berdasarkan laporan Arms Control Association. Beberapa tahun belakangan, berkembang kecurigaan soal misi rahasia penempatan senjata pemusnah massal tersebut di ruang angkasa. Hal ini jadi topik utama dalam sidang-sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Senjata Nuklir di Ruang Angkasa
“Ada informasi yang kredibel bahwa Rusia mengembangkan satelit baru yang membawa perangkat nuklir,” ujar Duta Besar Amerika Serikat Robert A. Wood di depan sidang pleno PBB, pada awal Mei. Sidang pleno yang dihadiri seluruh perwakilan negara anggota tersebut membahas resolusi larangan senjata nuklir di ruang angkasa. Sebelumnya pada April, dalam sidang Dewan Keamanan, resolusi gagal disahkan meski disetujui mayoritas anggota karena hak veto Rusia.
Beberapa menit sebelum Wood bicara, Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia membacakan pidato pembelaan atas veto-nya. Nebenzia menyebut negara-negara barat yang mensponsori draf resolusi itu “hipokrit” alias munafik dan menerapkan standar ganda. Pasalnya, mereka telah mengembangkan berbagai senjata di ruang angkasa.
Rusia dan China sempat menyodorkan draf resolusi tandingan yang isinya melarang peluncuran semua jenis senjata ke ruang angkasa maupun penempatannya di orbit, tidak terbatas pada senjata nuklir. Namun, draf ini balik ditolak Amerika Serikat dan aliansinya Prancis, Jepang, Malta, Korea Selatan, Slovenia, dan Inggris atau separuh anggota Dewan Keamanan PBB. Dengan Swiss abstain, resolusi ini juga gagal disahkan.
Ruang angkasa telah berkembang menjadi medan pertarungan sengit militer negara-negara yang punya kemampuan menjangkau ruang angkasa. November 2023 lalu, Center for Arms Control and Non-Proliferation merilis lembaran fakta atau fact sheet berjudul senjata ruang angkasa atau space weapons. Isinya membahas soal sistem persenjataan baru yang berkembang seiring meningkatnya ketertarikan negara-negara terhadap ruang angkasa.
Persenjataan baru yang dimaksud yaitu senjata yang ditempatkan di bumi untuk menarget objek di ruang angkasa (bumi ke angkasa); senjata yang ditempatkan di ruang angkasa untuk menarget objek di ruang angkasa (angkasa ke angkasa); dan senjata yang ditempatkan di ruang angkasa untuk menarget objek di bumi (angkasa ke bumi). “Senjata dari bumi ke angkasa adalah ancaman terdekat saat ini,” demikian tertulis dalam lembaran fakta tersebut.
Senjata dari bumi ke angkasa ini termasuk senjata perusak atau penghancur satelit yang sudah diuji coba oleh Amerika Serikat, Cina, India, dan Rusia. Selain itu, senjata energy-directed laser yang bertujuan merusak atau menghancurkan target dengan energi yang difokuskan serta jammer atau pengacak sinyal.
Dua jenis senjata lainnya – senjata dari angkasa ke angkasa dan senjata dari angkasa ke bumi -- diyakini bukan ancaman dalam waktu dekat karena teknologinya lebih sulit. Namun, jika informasi yang disampaikan Duta Besar AS untuk PBB benar soal Rusia yang mengembangkan satelit yang membawa perlengkapan nuklir, maka dunia sudah memasuki era senjata ini.
Tujuh puluh sembilan tahun setelah tragedi Hirosima dan Nagasaki, dunia masih bahkan semakin dikepung senjata nuklir.
Sejarah dan Fakta dari Bom Hiroshima dan Nagasaki yang Jarang Diketahui
Kode bom Hiroshima dan Nagashaki yakni Little Boy dan Fat Man, yang diambil dari film The Maltese Falcon. [538] url asal
#fakta-fakta-bom-hiroshima #bom-hiroshima #bom-nagasaki #bom-nuklir
(Bisnis.Com) 05/08/24 18:05
v/13399098/
Bisnis.com, JAKARTA - Bom Hiroshima dan Nagasaki menjadi sejarah yang tidak pernah dilupakan dunia. Peristiwa ini juga menjadi kejatuhan Jepang di Indonesia.
Bom Hiroshima terjadi pada 6 Agustus 1945. Peristiwa tersebut terjadi karena Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, pada bulan Agustus 1945, tahap akhir Perang Dunia II.
Sejarah mencatatkan bahwa Amerika Serikat menjatuhkan bom dengan persetujuan dari Britania Raya sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Quebec.
Dilansir dari laman historyhit.com, Senin (5/8/2024), pengeboman yang diyakini telah memainkan peran penting dalam mengakhiri Perang Dunia II ini memiliki fakta-fakta lain dibaliknya.
Berikut 10 fakta tentang bom Hiroshima:
1. Kota Nagasaki bukanlah salah satu dari 5 target awal Amerika Serikat
Target tersebut awalnya adalah Kokura, Hiroshima, Yokohama, Niigata, dan Kyoto. Nagasaki akhirnya menggantikan Kota Kyoto yang dikeluarkan dari target karena Menteri Perang Amerika Serikat, Henry Stimson, sangat menyukai ibu kota Jepang kuno itu – setelah menghabiskan bulan madunya di sana.
2. Kode bom diambil dari film noir ‘The Maltese Falcon’
Nama kode bom ‘Little Boy’ dan ‘Fat Man’ dipilih oleh penciptanya, Robert Serber, yang terinspirasi dari film ‘The Maltese Falcon’ karya John Huston tahun 1941. ‘Fat Man’ merupakan nama panggilan untuk karakter Sydney Greenstreet – Kasper Gutman, sementara nama ‘Little Boy’ berasal dari julukan yang digunakan karakter Humphrey Bogart – Sam Spade.
3. Bom Hiroshima dan Nagasaki bukanlah serangan paling merusak di Jepang pada Perang Dunia II
Pengeboman Tokyo yang diberi nama ‘Operation Meetinghouse’ pada tanggal 9 Maret 1945 oleh Amerika Serikat, dianggap sebagai serangan bom paling mematikan dalam sejarah. Serangan napalm yang dilakukan oleh 334 pembom B-29 ini menewaskan lebih dari 100.000 orang.
4. Amerika Serikat menjatuhkan pamflet sebelum serangan atom
Pamflet-pamflet tersebut tidak secara khusus memperingatkan tentang serangan nuklir yang akan terjadi di Hiroshima atau Nagasaki, tetapi hanya menjanjikan kehancuran total dan mendesak warga sipil untuk mengungsi.
5. Bayangan orang dan benda tercetak di tanah
Ledakan bom di Hiroshima yang sangat besar bahkan membentuk bayangan orang dan benda-benda yang terbakar di tanah. Bayangan-bayangan ini kemudian dikenal sebagai ‘Hiroshima Shadows’.

6. Korban meninggal berkisar 150.000-246.000 orang
Bom di Kota Hiroshima menewaskan sekitar 90.000 hingga 166.000 orang, sementara bom di Kota Nagasaki diperkirakan menewaskan sekitar 60.000-80.000 orang.
7. Di ‘Peace Memorial Park Hiroshima’ api terus menyala sejak dinyalakan pada tahun 1964
‘Peace Flame’ atau api perdamaian di taman ini akan tetap menyala sampai semua bom nuklir di bumi dihancurkan dan bumi bebas dari ancaman nuklir.
8. Bom Hiroshima dan Nagasaki didasarkan pada desain yang sangat berbeda
Bom ‘Little Boy’ yang dijatuhkan di Kota Hiroshima terbuat dari uranium-235, sementara bom ‘Fat Man’ yang dijatuhkan di Kota Nagasaki terbuat dari plutonium, yang dianggap memiliki desain yang lebih rumit.
9. Bom mungkin bukan penyebab utama Jepang menyerah dalam Perang Dunia II
Menurut penelitian terkini, berdasarkan hasil rapat yang diadakan antara pejabat pemerintah Jepang menjelang penyerahan diri, menunjukkan bahwa keterlibatan Uni Soviet yang tak terduga dalam perang lebih menentukan menyerahnya Jepang dibanding bom oleh Amerika Serikat.
10. Oleander adalah bunga resmi Kota Hiroshima
Bunga oleander atau bunga mentega dikenal sebagai bunga pertama yang tumbuh dan berbunga di Kota Hiroshima usai ledakan bom nuklir tersebut. Bunga oleander ini juga bisa dijumpai di India dan beberapa negara di Asia. (Yoga Al Kemal)
