TOKYO, KOMPAS.com - Jepang mengalami kondisi kekurangan pasokan beras terbesar dalam beberapa dekade.
Dikutip dari CNBC, Kamis (26/9/2024), Jepang berjuang melawan kekurangan beras dalam beberapa bulan terakhir karena cuaca buruk dan peningkatan jumlah wisatawan, yang didukung oleh kebijakan beras yang ketat di negara tersebut.
"Sepanjang musim panas 2024, Jepang telah bergulat dengan kekurangan beras yang mengakibatkan supermarket kosong karena permintaan melampaui produksi selama tiga tahun terakhir yang menyebabkan stok menipis ke level terendah dalam lebih dari 20 tahun," tulis Departemen Pertanian AS (USDA) dalam laporan yang diterbitkan minggu lalu.
UNSPLASH/J Ilustrasi sushi.Konsumen juga menimbun lebih banyak beras sebagai persiapan menghadapi musim topan dan peringatan gempa bumi besar, USDA menambahkan.
Pada Agustus 2024, supermarket di Jepang dilaporkan sering kehabisan beras putih dan toko-toko membatasi pembelian.
Media lokal NHK mengaitkan kekurangan stok beras dengan masuknya wisatawan yang mendorong permintaan untuk sushi dan hidangan berbahan dasar nasi lainnya.
Harga beras di Jepang mencapai 16.133 yen atau sekitar Rp 1,6 juta (kurs Rp 104,45 per yen) per 60 kg pada Agustus 2024, naik 3 persen dari bulan sebelumnya dan 5 persen lebih tinggi sejak awal tahun.
Inventaris beras swasta Jepang mencapai 1,56 juta ton pada Juni 2024, menandai yang terendah dalam beberapa tahun, menurut data dari Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (MFAA) Jepang.
FREEPIK/FREEPIK ilustrasi berasSelain persiapan Jepang untuk menghadapi potensi bencana alam, MFAA juga mengaitkan peningkatan permintaan beras meja dengan masuknya wisatawan yang mendorong permintaan layanan makanan.
"Diperkirakan konsumsi beras oleh turis meningkat dari 19.000 ton antara Juli 2022 dan Juni 2023, menjadi 51.000 ton dari Juli 2023 hingga Juni 2024," kata Oscar Tjakra, analis senior di bank pangan dan pertanian global Rabobank.
Meskipun konsumsi turis meningkat lebih dari dua kali lipat, itu masih relatif kecil dibandingkan dengan konsumsi beras domestik tahunan Jepang yang lebih dari 7 juta ton, terang Tjakra.
Jepang menerima rekor 17,8 juta turis pada semester I 2024, jauh di atas tingkat sebelum pandemi.
Tren itu masih berlanjut, yakni sebanyak 3,3 juta wisatawan masuk pada bulan Juli, tertinggi yang pernah tercatat menurut statistik pariwisata Jepang.
"Produksi beras di Jepang juga telah menurun karena petani padi yang sudah tua pensiun dan lebih sedikit orang muda yang menekuni profesi tersebut," ungkap Tjakra.
Serangkaian gelombang panas dan kekeringan pada paruh kedua tahun lalu juga mengganggu panen, imbuh dia.
Meskipun panen padi yang lebih sedikit dan selera orang asing terhadap sushi berperan, kebijakan beras negara itu tetap menjadi faktor utama yang mendasari penurunan pasokan secara keseluruhan, kata Joseph Glauber, peneliti senior di International Food Policy Research Institute.
“Ekonomi beras Jepang sebagian besar masih terisolasi dari pasar dunia,” kata Glauber kepada CNBC.
Jepang mengenakan tarif 778 persen pada beras impor untuk melindungi petani.
iStockphoto/Oat_Phawat Ilustrasi beras.Meskipun Jepang berkomitmen untuk mengimpor minimal sekitar 682.000 ton beras per tahun berdasarkan kewajiban kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), beras tersebut sebagian besar diisolasi dari konsumen Jepang dan sebagian besar digunakan untuk pengolahan dan pakan.
Ekspor beras Jepang juga melonjak enam kali lipat dari tahun 2014 hingga 2022 menjadi hampir 30.000 ton, menurut pengamatan Tjakra.
Harga beras yang lebih tinggi mendorong inflasi utama Jepang lebih tinggi pada bulan Agustus, naik 2,8 persen secara tahunan karena biaya energi dan pangan yang lebih tinggi.