#30 tag 24jam
Guru Besar UI Sebut Target Ekonomi Prabowo Bisa Terwujud, Asalkan...
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI mengatakan target ekonomi pemerintahan Prabowo Subianto bisa tercapai. Namun, ini syaratnya. [473] url asal
#prabowo-subianto #pemerintahan-prabowo #prabowo-gibran #target-ekonomi-prabowo #fakultas-ekonomi-dan-bisnis-ui #universitas-indonesia
(Bisnis.Com - Ekonomi) 05/10/24 13:15
v/16012444/
Bisnis.com, JAKARTA – Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia Telisa Aulia Falianty menilai bahwa pemerintah mendesak perlu tambahan pasokan listrik untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi di era Presiden terpilih Prabowo Subianto.
Menurutnya, sejak Indonesia berhasil lepas dari pandemi Covid-19, berbagai sektor kembali beroperasi normal termasuk industri-industri. Dampak positif dari ekonomi yang normal kembali, permintaan terhadap listrik justru mengalami peningkatan signifikan.
“Hal itu tentu harus diantisipasi oleh semua pihak guna memastikan pasokan listrik dalam beberapa bulan kedepan ini, tahun 2025 dan tahun-tahun mendatang apalagi ingin mencapai target pertumbuhan ekonomi,” ujarnya, Sabtu (5/10/2024)
Telisa menjelaskan bahwa situasi demand dan supply listrik ini tidak bersifat statis, melainkan dinamis yaitu dengan pertumbuhan ekonomi digital dan tren mobil listrik sebagai pendorong utama. Apalagi saat ini meningkatnya konsumsi listrik pascapandemi Covid-19 dan sasaran pertumbuhan ekonomi.
"Perkembangan ekonomi digital yang sangat pesat, ditambah dengan tren mobil listrik, akan menjadi faktor yang meningkatkan permintaan terhadap listrik secara signifikan, jadi istilah oversupply tidak benar," tuturnya.
Dia menekankan bahwa saat ini masyarakat mengalami peningkatan konsumsi listrik yang sejalan dengan pemulihan ekonomi. Telisa juga mengingatkan bahwa seiring dengan kenaikan permintaan, perlu ada langkah konkret untuk membuat Pembangkit Listrik.
Dirjen Ketenagalistrikan Jisman P Hutajulu juga menyebutkan senada. Dia menyebut kebutuhan listrik terus meningkat. Dia terang menyebut kondisi kelistrikan kini tidaklah pas jika disebut oversupply.
Bahkan, dengan sasaran pertumbuhan ekonomi 8%, tentu pasokan listriknya juga didorong lebih besar lagi sehingga makin besar. RUPTL 2024 harus mengakomodir kebutuhan ini.
"Growth cukup tinggi ya," tandas Jisman.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan pemerintah bakal menggenjot konsumsi listrik per kapita hingga 6.500 kilowatt per hour (kWh).
Dalam Opening Ceremony The 10th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2024 beberapa waktu lalu, Bahlil menerangkan target itu dipatok untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8% per tahun pada era Presiden Terpilih Prabowo Subianto.
Saat ini, target konsumsi listrik per kapita hanya di kisaran 4.000 kWh-5.000 kWh. Angka tersebut dinilai hanya mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 5%.
"Jadi kami target konsumsi listrik per kapita kemarin di angka 4.000 sampai 5.0000 (kWh). Tapi itu kita lihat pertumbuhan ekonominya hanya sampai dengan 5%," kata Bahlil.
Dewan Energi Nasional (DEN) sendiri telah menghitung jika konsumsi listrik per kapita hanya ditargetkan sebesar 5.500 kWh, maka pertumbuhan ekonomi hanya bisa tercapai sebesar 6% per tahun.
"Saya sebagai Ketua Harian DEN sudah memutuskan kalau di angka 5.500 kWh itu hanya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi 6%," tambahnya.
Karena itu, pemerintah memutuskan untuk mendorong konsumsi listrik per kapita setidaknya di angka 6.000 kWh hingga 6.500 kWh untuk mewujudkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% yang dicanangkan Prabowo Subianto.
"Ini sejalan dengan arah kebijakan Pak Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Mas Gibran. Jadi nanti kita breakdown dia di RUPTL, seterusnya ini nanti Dirut PLN, kita akan bicarakan," pungkas Bahlil.
FEB UI Jadikan Transformasi sebagai Kunci Dongkrak Kualitas
FEB UI banyak melakukan pembaruan akreditasi internasional untuk berbagai program studi. Hal ini merupakan salah satu upaya transformasi. [644] url asal
#feb-ui #fakultas-ekonomi-dan-bisnis-ui #akreditasi-perguruan-tinggi
(Bisnis.Com) 16/09/24 13:40
v/15132105/
Bisnis.com, JAKARTA— Dari masa ke masa, dunia pendidikan tinggi selalu menghadapi tantangan yang tidak mudah untuk melakukan tugas dan fungsinya menjalankan tri dharma perguruan tinggi demi membangun bangsa. Untuk itu, transformasi dinilai menjadi salah satu upaya utama agar dunia kampus dapat selalu berbenah menghasilkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas dan berprestasi untuk kemajuan negeri.
Hal tersebut disadari betul oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI). Seperti diketahui, FEB UI memiliki peran tersendiri dalam catatan sejarah pembangunan bangsa ini.
Adalah Teguh Dartanto sosok di balik transformasi FEB UI, yang membawa perkembangan kampus itu ke arah lebih baik pada era ini. Menurut Teguh, untuk bertransformasi menjadi lebih baik di antaranya pihaknya menempuh akreditasi internasional.
Seperti diketahui, pada 2022 FEB UI memperbarui akreditasi Internasional Association of MBAs (AMBA) untuk program studi Magister Manajemen (MM FEB UI). Selanjutnya, FEB UI memperoleh akreditasi internasional Association to Advance Collegiate School of Business (AACSB), yang merupakan salah satu penilaian paling bergengsi di dunia untuk sekolah bisnis.
Hal ini menjadikan FEB UI sebagai satu-satunya sekolah bisnis di Indonesia yang memiliki ‘Double Crown’ yaitu tingkat tertinggi pengakuan internasional atas pendidikan tinggi sekolah bisnis (AACSB dan AMBA). Saat ini, FEB UI berupaya menggapai the last crown of EQUIS accreditation. Harapannya, FEB UI bisa menjadi bagian dari 1% sekolah bisnis di dunia yang memiliki triple crown accreditation.
“Kami merasakan bahwa akhirnya dengan transformasi melalui akreditasi itu memaksa untuk meningkatkan kualitas. Akreditasi membantu transformasi secara struktural di dalam pengelolaan pendidikan yang kami jalani. Pengelolaan pendidikan terstandardisasi dan dengan standar itu bisa memiliki prestis. Tanpa adanya tekanan dari luar transformasi itu biasanya sulit dijalankan. Dengan seperti itu ranking FEB UI melonjak,” ujar Teguh, dikutip pada Senin (16/9/2024).
Sebab, kata dia, proses akreditasi adalah bagian dalam membangun reputasi. Adapun reputasi perlu direkognisi oleh pihak luar yang memiliki kredibilitas. Oleh karena itu badan akreditasi tersebut adalah yang akan memberikan rekognisi bahwa proses bisnis FEB UI sudah terstandardisasi.
Adapun pada QS WUR 2024, FEB UI mengalami peningkatan peringkat secara signifikan pada ranking bidang Business and Management Studies dari 201-250 (2023) ke 151-200 (2024) dan Economics and Econometrics dari 251-300 (2023) ke 151-200 (2024). Sementara, bidang Accounting and Finance masih menempati posisi yang sama unggulnya, yaitu 101-150.
Teguh menegaskan, melalui transformasi dan mengejar akreditasi, ranking itu akan mengikuti. Melalui transformasi, kata dia, peningkatan kualitas pendidikan terjadi secara berkelanjutan dan peringkat yang diperoleh tidak instan.
“Saya rasa pemerintah perlu mendorong transformasi universitas itu sendiri untuk bisa mengikuti standar global karena itu penting. Dengan mengikuti akreditasi internasional sebagai standarnya. Transformasi itu memang berat karena mengubah kebiasaan, tradisi, hingga mindset,” kata Teguh.
Kemudian, transformasi yang tak kalah menantang dalam peningkatan kualitas yang berkelanjutan ditempuh FEB UI adalah di internal organisasi yang salah satunya mencakup SDM. Transformasi ini memiliki tantangan tersendiri karena mendorong shifting dari paradigma perguruan tinggi yang selama ini dianut, yaitu teaching university menjadi research university dan akan menjadi entrepreneur university.
“Itu membutuhkan shifting dari paradigma atau pemikiran dari pada dosen. Dosen sekarang harus S3, setelah S3 dia harus punya publikasi, paradigma ini yang kami dorong ke dosen-dosen. Perubahan ini mendorong transformasi internal. Beban shifting paradigm-nya itu perlu waktu untuk transformasi,” ujarnya.
Melalui transformasi pula FEB UI ingin mengubah pandangan bahwa universitas sering kali dianggap seperti ‘menara gading’. FEB UI diharapkan selalu melahirkan SDM yang unggul di bidang ekonomi dan bisnis dengan karakter inclusive, relevant dan reputable. Dengan demikiian SDM lulusan maupun akademisi FEB UI mampu mengawal berbagai tantangan ekonomi dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
“Transformasi menjadi upaya sekolah bisnis ini bisa relevan dan berdampak terhadap industri, pengembangan kebijakan dan mampu menyentuh permasalahan sosial yang dihadapi masyarakat maupun pemerintah. Dengan karakter inclusive, relevant dan reputable, para lulusan maupun akademisi yang dihasilkan akan siap menghasilkan solusi yang relevan terhadap berbagai permasalahan, serta menjunjung tinggi nilai-nilai inklusif yang sangat menghargai keberagaman dan kemajemukan selain juga senantiasa menjaga integritas dan kredibilitas,” imbuhnya.
Beri Kuliah Perdana, Menkeu Ingatkan Mahasiswa FEB UI Soal Integritas dan Karakter
Di almamaternya itu, Menteri Sri Mulyani menyampaikan pentingnya belajar ekonomi dan membangun karakter agar mampu menjaga integritas sebagai profesional. [757] url asal
#sri-mulyani #fakultas-ekonomi-dan-bisnis-ui #menkeu-sri-mulyani
(Bisnis.Com) 26/08/24 20:16
v/14779955/
Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati kembali menyambangi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) pada Senin (26/8/2024) untuk mengisi kuliah perdana Pengantar Ekonomi bagi mahasiswa baru 2024.
Berbicara di hadapan para mahasiswa, Menkeu Sri Mulyani tampak santai menggunakan kemeja putih dengan celana panjang bahan berwarna hitam. Mengisi kuliah yang dimulai pada pukul 09.00 WIB, terlebih dahulu Sri Mulyani mengucapkan selamat bagi para mahasiswa baru yang terpilih di FEB UI.
Sebab, menjadi mahasiswa di FEB UI merupakan sebuah hak istimewa karena almamaternya itu memiliki peran luar biasa di Indonesia. Menurut Menkeu Sri Mulyani, FEB UI merupakan fakultas yang identik dengan banyak sekali peran dalam sejarah perjuangan republik ini.
“Kalian itu mendapat privilege dan kalian terpilih (menjadi mahasiswa FEB UI). Sehingga saya harapkan kalian bisa mulai hari pertama kuliah menyemaikan bibit tidak hanya kebanggaan, tetapi juga tanggung jawab,” kata Sri Mulyani menegaskan, yang disambut tepuk tangan para mahasiswa yang hadir di Auditorium Soeria Atmadja, FEB UI.
Kemudian lanjut pada sesi kuliah, Menkeu Sri Mulyani memulai dengan pertanyaan besar ‘kenapa harus belajar ekonomi?’ Pada prinsipnya, kata dia, ekonomi adalah bagaimana mengelola ‘rumah tangga’ (household) yang memiliki banyak kebutuhan.
Pada dasarnya, setiap household pasti harus membuat keputusan dengan pendapatan yang ada, sumber daya yang dimiliki, biaya yang dikeluarkan, dan sebagainya. Kebanyakan household atau bahkan semuanya, lanjut dia, selalu memiliki keterbatasan sumber daya namun dengan kebutuhan yang banyak.
“Kalau negara makin maju household-nya barangkali relatif kaya tapi tetap akan membuat keputusan resources-nya harus dipakai untuk apa saja. Negara yang miskin biasanya income household-nya minimal tapi kebutuhannya banyak. Sehingga membuat keputusannya makin complicated. Jadi ilmu ekonomi adalah ilmu mengelola household. It’s actually about making decision,” ujar Menkeu menerangkan.
Oleh karena itu, menurutnya para mahasiswa harus sangat berterima kasih mendapatkan pengajaran ilmu ekonomi di FEB UI. Dengan belajar ilmu ekonomi secara mendasar para mahasiswa akan dilatih untuk membuat sebuah keputusan ekonomi yang rasional.
Pentingnya mempelajari ilmu ekonomi pun menurutnya akan menentukan bagaimana sebuah masyarakat dan perekonomian akan perform. Tujuannya jelas, bahwa dalam perekonomian diharapkan tercipta kondisi yang adil serta sejahtera.
Tujuan tersebut adalah cita-cita semua negara. Menkeu mengatakan, dalam mengelola perekonomian sebuah negara selalu dicari sistem yang dianggap paling tepat dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat di negara tersebut.
Oleh karena itu, ilmu ekonomi adalah nyata, keren dan menyenangkan. Secara mendasar ilmu ekonomi itu harus bisa disederhanakan dengan berbagai model. Agar mahasiswa atau masyarakat yang mempelajarinya tidak kesulitan dan mendapatkan banyak manfaat.
“Jadi basically ekonomi walaupun kompleks you can model them in a simple way. Itu untuk membuat kalian mudah untuk memikirkan tentang ekonomi. Ini adalah ilmu yang luar biasa penting, karena kalian akan bisa menerapkan dalam banyak hal,” lanjutnya menekankan.
Selain itu, Sri Mulyani juga menekankan pentingnya membangun karakter, sehingga sumber daya manusia (SDM) yang dibentuk FEB UI mampu menjaga integritas sebagai profesional.
“Makanya saya sampaikan pada kalian, apa pun profesi kalian pasti diajar dengan value yang baik. Integrity tidak usah muluk-muluk nanti tidak korupsi segala macam, sekarang bagi kalian jangan menyontek, tepati janji, itu integrity. Kalau kalian harus mengerjakan sesuatu lakukan dengan sepenuh hati, itu adalah bagian dari integrity. Sebagai student kalian terus membangun karakter yang baik, itu akan terbawa sampai kalian akan besar. Pegang terus prinsip yang baik karena itu adalah currency kalian yang tidak bisa dijual belikan,” ujar Sri Mulyani menyemangati.
Adapun acara tersebut dimoderatori oleh Plh. Dekan FEB UI Arief Wibisono Lubis. Dalam kesempatan ini, Arief yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian dan Kemahasiswaan FEB UI mengamini Menkeu Sri Mulyani.
Menurut Arief, pembelajaran ekonomi dan bisnis di FEB UI dibarengi dengan pembentukan karakter yang beretika untuk menciptakan SDM yang memiliki integritas tinggi.
"Terkait pembangunan karakter, di mana ditegaskan bahwa teman-teman harus menjaga integritas," kata Arief menegaskan.
Dengan menghadirkan sosok alumni yang bisa dijadikan tauladan seperti Menkeu Sri Mulyani, menurut Arief, akan menguatkan niat untuk belajar terkait ekonomi dan bisnis di FEB UI, serta semangat dalam menjaga integritas.
Seperti diketahui, Sri Mulyani adalah sosok perempuan berpengaruh di bidang ekonomi baik dalam maupun luar negeri. Sri Mulyani meraih gelar MSc in Policy Economics and PhD in Economics dari University of Illinois Urbana-Champaign (UIUC). Spesialisasi Sri Mulyani adalah Ekonomi Moneter, dan Labour Economics.
Sebelumnya, Sri Mulyani pernah menempati berbagai posisi, termasuk sebagai Wakil Kepala LPEM di berbagai bidang, kepala LPEM, executive director di IMF, kepala Bappenas, Plt. Menko Perekonomian, Managing Director World Bank, dan Menteri Keuangan.
Di FEB UI sendiri, pada 2024 mahasiswa baru S1 berjumlah 950 orang. Sedangkan total mahasiswa baru tahun ini baik S1, S2 dan program doktoral berjumlah sekitar 1.600 orang.
FEB UI Luncurkan Kode Etik dan Kebijakan Pemanfaatan Generative AI
Perguruan tinggi atau institusi pendidikan harus mengadopsi dan memanfaatkan generative AI dalam proses pembelajaran, secara benar dan beretika. [495] url asal
#feb-ui #fakultas-ekonomi-dan-bisnis-ui #ai #artificial-intelligence
(Bisnis.Com - Teknologi) 26/07/24 09:56
v/12282240/
Bisnis.com, JAKARTA - Pemanfaatan generative artificial intelligence (generative AI) atau kecerdasaan buatan generatif harus beretika, bertanggung jawab, dengan daya kreatifitas dan inovasi yang tinggi, sebagai respon dalam menghadapi era digital yang semakin berkembang.
Hal tersebut diungkapkan oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Teguh Dartanto, terkait bagaimana upaya menyikapi era digital yang semakin kompleks terlebih dengan kehadiran generative AI (Artificial Intelligence).
Banyak muncul kekhawatiran bahwa AI akan mengambil alih peranan manusia karena banyak pekerjaan yang bisa tergantikan dan tenaga kerja atau lulusan perguruan tinggi seolah-olah akan berkompetisi dengan AI dalam memperebutkan pekerjaan.
Teguh menegaskan, “mahasiswa atau pencari kerja tidak berkompetisi dengan AI, tetapi mereka akan berkompetisi dengan sesama mahasiswa atau pencari kerja yang memanfaatkan AI untuk meningkatkan keterampilan dan produktivitas”.
Teguh menambahkan, perguruan tinggi atau institusi pendidikan harus mengadopsi dan memanfaatkan generative AI dalam proses pembelajaran.
Menurut Teguh, di FEB UI sendiri setidaknya sejak 3 tahun lalu telah menyiapkan dan menetapkan kebijakan dalam merespon segala perubahan termasuk generative AI melalui Center for Education and Learning in Economics and Business (CELEB) FEB UI.
“Dan alhamdulillah FEB UI sudah menjadi sekolah bisnis yang terakreditasi internasional yang sangat concern juga mengenai generative AI ini. Oleh karena itu, di FEB UI kami sudah meluncurkan dan juga membuat policy terkait dengan generative AI bagaimana kami memanfaatkan secara etis dan bertanggung jawab. Ini yang akan kami ajarkan kepada mahasiswa dalam memanfaatkan AI,” tuturnya, dikutip dari siaran pers, Jumat (26/7/2024).
Di sisi lain, kata dia, dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni dalam pemanfaatan generative AI, mahasiswa perlu didorong berpikir kritis. Harapannya, SDM yang dipersiapkan FEB UI dapat memanfaatkan keunggulan generative AI secara optimal dengan memilah efek negatifnya.
Contohnya, seperti memastikan kebenaran sumber data yang kredibel. Kemudian, generative AI tidak digunakan dalam memanipulasi untuk mengklaim sesuatu yang bukan karya sendiri. FEB UI pun sudah melakukan benchmarking dengan universitas di dunia terkait dengan pemanfaatan AI.
“Bagaimana kami ajari memanfaatkan AI yang beretika dan juga bertanggung jawab karena tidak semuanya generative AI ini juga benar. Artinya perlu didorong bagaimana harus kreatif inovatif dalam memanfaatkan AI bukan kita didikte oleh AI. Dan kami FEB UI sudah ke sana dan saya yakin FEB UI salah satu yang di depan baik di UI maupun di universitas lain di Indonesia. Karena kami bagian dari sekolah bisnis jaringan global yang sudah mendapatkan double crown accreditation,” papar Teguh.
Seperti diketahui, pada 2022 FEB UI memperbarui akreditasi Internasional Association of MBAs (AMBA) untuk program studi Magister Manajemen (MM FEB UI). Selanjutnya, FEB UI memperoleh akreditasi internasional Association to Advance Collegiate School of Business (AACSB), yang merupakan salah satu penilaian paling bergengsi di dunia untuk sekolah bisnis.
Hal ini menjadikan FEB UI sebagai satu-satunya sekolah bisnis di Indonesia yang memiliki ‘Double Crown’ yaitu tingkat tertinggi pengakuan internasional atas pendidikan tinggi sekolah bisnis (AACSB dan AMBA). Saat ini, FEB UI berupaya menggapai the last crown of EQUIS accreditation. Harapannya, FEB UI bisa menjadi bagian dari 1% sekolah bisnis di dunia yang memiliki triple crown accreditation.
Peneliti Ungkap Penyebab Penjualan Mobil Cenderung Stagnan di Masa Pemerintahan Jokowi
Mobil bekas menjadi pilihan ketika harga yang baru semakin tinggi [618] url asal
#penjualan-mobil #stagnasi-pasar-mobil #pendapatan-per-kapita #harga-mobil-baru #lpem-ui #fakultas-ekonomi-dan-bisnis-ui #kemenperin #kementerian-perindustrian
(Republika - Ekonomi) 12/07/24 13:59
v/10529396/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hasil riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia atau LPEM FEB UI menunjukkan bahwa stagnasi pasar mobil baru setidaknya disebabkan oleh dua faktor, yaitu kenaikan harga mobil serta kondisi pendapatan per kapita.
"Jadi, temuannya sudah jelas. Pertama, pendapatan per kapitanya tidak naik cukup besar, hanya tiga persen naik dalam 10 tahun terakhir, dan harga mobil naiknya juga di atas inflasi, 5-6 persen. Inflasi kita kan sekarang empat persen," kata peneliti senior dari LPEM FEB UI Riyanto di Jakarta, Selasa (9/7) malam.
Riyanto menjelaskan bahwa penjualan mobil berkaitan erat dengan faktor ekonomi seperti harga mobil, suku bunga kredit, kurs, harga bahan bakar, dan ketersediaan stok mobil. Namun, faktor yang berpengaruh paling signifikan terhadap penjualan mobil adalah harga mobil dan pendapatan per kapita.
Hanya saja berdasarkan riset yang dilakukan oleh LPEM FEB UI bekerja sama dengan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), penjualan kendaraan cenderung stagnan semenjak 2013. Padahal tahun sebelumnya, yaitu di 2012 terjadi kenaikan penjualan yang signifikan bahkan mendekati penjualan satu juta kendaraan.
"Penjualan kendaraan menurun di era Jokowi, yaitu hanya 5,6 persen, alasannya karena pendapatan per kapita jauh dari Harga kendaraan. Apalagi struktur ekonomi Indonesia yang di drive oleh belanja pemerintah dan konsumsi public,"tutur dia.
LPEM UI, menurut dia, melaporkan pendapatan per kapita hanya naik rata-rata 3,65 persen per tahun dari 2013 hingga 2022. Hanya saja pertumbuhan penjualan mobil selama kurun itu menurun rata-rata 1,64 persen per tahun. Sementara periode 2000 hingga 2013 pendapatan per kapita naik rata-rata 28,26 persen per tahun dan penjualan mobil meningkat 21,23 persen per tahun.
Peningkatan penjualan mobil bekas, terutama di Jawa, juga berpengaruh terhadap pertumbuhan penjualan mobil baru. Pada tahun 2022, sekitar 65 persen pembeli mobil di Jawa memilih mobil bekas, antara lain karena beda harga yang semakin lebar antara mobil baru dan mobil bekas.
Ketika harga mobil baru semakin tinggi dan pendapatan per kapita kenaikannya tidak sebanding, mobil bekas menjadi pilihan bagi yang menginginkan kendaraan dengan harga terjangkau. "Pilihannya itu mungkin karena pendapatannya tidak naik tinggi, harga mobil barunya juga cukup besar naiknya, pilihannya akhirnya mobil bekas," kata Riyanto.
"Apalagi, pasar mobil bekas di 10 tahun terakhir ini pembelinya itu tidak beli kucing dalam karung. Sekarang cacatnya dikasih tahu sekarang, digaransi. Jadi sudah relatif transparan," kata dia.
Stagnasi dalam penjualan mobil baru, menurut pendapat Riyanto, dapat diatasi menggunakan pendekatan jangka panjang dan jangka pendek.
Dalam jangka panjang, peningkatan pendapatan per kapita dapat dicapai melalui re-industrialisasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
"Meningkatkan nilai tambah dalam perekonomian dan pertumbuhan ekonomi minimal enam persen dengan re-industrialisasi agar porsi sektor manufaktur terhadap PDB bisa mencapai 25 persen hingga 30 persen, mendorong pendapatan per kapita kelompok menengah ke atas naik ke kelas makmur," Riyanto menjelaskan.
Solusi jangka pendek yang dapat dijalankan untuk mengatasi stagnasi dalam penjualan mobil, menurut dia, antara lain penurunan komponen pajak pada harga mobil.
Komponen pajak saat ini mencapai 40 persen dari harga off the road mobil. Penurunan pajak bisa membuat harga mobil menjadi lebih terjangkau bagi konsumen.
Selain itu, keberhasilan relaksasi pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) tahun 2021 dalam mendorong peningkatan penjualan mobil merupakan contoh bagaimana kebijakan fiskal yang tepat dapat mendorong pertumbuhan pasar.
Riyanto juga mengemukakan perlunya stimulus fiskal agar kelompok menengah ke atas yang hampir masuk ke kategori makmur dapat membeli mobil baru, misalnya dengan insentif pajak untuk kendaraan mobil ramah lingkungan (Low Cost Green Car/LCGC) dan 4x2 low.
Di samping itu, dia menyarankan penyegaran kembali program mobil murah pemerintah serta mendorong efisiensi produksi mobil dan pemberian diskon dalam pembelian mobil.
"Nah untuk produsen ini sudah seberapa efisien dalam produksi? Apakah mungkin pemberian diskon? Pameran dan pemberian diskon itu kan program untuk mendorong pasar sebetulnya," katanya.