#30 tag 24jam
Korupsi dan Kuasa Netizen - kumparan.com
Melalui sumber daya media sosial, netizen sudah terbukti mampu berperan sebagai elemen masyarakat yang aktif membongkar kasus korupsi. Artikel ini memperkuat potensi besar itu. [1,127] url asal
#korupsi #netizen #pemerintah #flexing #kpk #hoaks
(Kumparan.com - News) 08/09/24 08:40
v/14925722/
Korupsi telah lama menjadi salah satu masalah terbesar di Indonesia. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk menanggulanginya, baik melalui hukum maupun reformasi birokrasi. Namun, laku koruptif terus bertahan dalam berbagai bentuk, dari praktik suap hingga penyalahgunaan anggaran publik.
Di era digital ini, kekuatan muncul dari masyarakat, yaitu netizen atau yang sering diistilahkan sebagai warganet. Mereka menggunakan media sosial untuk mengawasi, mengungkap, dan memviralkan kasus-kasus korupsi, menggeser fokus pemberitaan dan memaksa pemerintah serta aparat hukum bertindak lebih cepat membongkarnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga alat penting dalam gerakan sosial dan politik.
Korupsi di Indonesia tidak hanya terjadi di kalangan elite dan tidak hanya bersifat sentralistik , namun juga merambah ke berbagai sektor dan lintas geografis. Jika sebelumnya kasus korupsi cenderung tertutup dan sulit terungkap, kini dengan kemajuan teknologi, ruang yang dapat diakses semakin lebar bagi elemen masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengawasan publik. Dalam konteks ini, sudah menjadi rahasia umum bagaimana media sosial membuka ruang luas bagi netizen untuk mengekspos tindakan-tindakan yang mencurigakan, memperluas akses ke informasi yang sebelumnya tersembunyi.
Salah satu contoh yang menonjol adalah kasus Rafael Alun Trisambodo, pejabat pajak yang ketahuan memiliki kekayaan luar biasa yang tidak wajar. Gaya hidup hedonis yang ditampilkan keluarganya, termasuk flexing kekayaan anaknya, Mario Dandy, menjadi viral di media sosial dan memicu kemarahan publik sepanjang paruh pertama 2023 lalu.
Peran netizen dalam menyebarkan informasi ketika itu lantas tidak hanya menyadarkan publik akan potensi penyalahgunaan kekuasaan, tetapi juga memaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk segera bertindak. Kasus ini menjadi bukti nyata bagaimana kuasa netizen mampu mengkatalisasi proses hukum dan memperbesar tekanan terhadap pelaku korupsi.
Athina Karatzogianni (2006) dalam salah satu bukunya The Politics of Cyberconflict, menekankan bahwa media sosial memiliki kekuatan yang unik sebagai instrumen untuk menyebarkan ide, kampanye, protes, hingga hasutan. Dengan kemampuannya yang tak terbatas untuk menyebar informasi dalam hitungan detik, media sosial memungkinkan netizen untuk membentuk arus besar dalam pergerakan sosial, termasuk dalam isu-isu pemberantasan korupsi. Kasus-kasus seperti Rafael Alun atau gaya hidup mewah keluarga Mario Dandy menunjukkan bagaimana netizen tidak hanya berperan sebagai pengamat pasif, tetapi juga sebagai watch dog, aktor yang aktif mengawasi perilaku pejabat publik beserta kroni dan keluarganya,
Ditilik dari perspektif komunikasi, teori agenda setting relevan dalam memahami fenomena ini. Teori ini menyatakan bahwa media memiliki kemampuan untuk mengatur agenda publik dengan menentukan isu-isu apa yang layak dibahas. Dalam konteks korupsi, netizen melalui media sosial memainkan peran sebagai pembentuk agenda baru.
Kasus yang sebelumnya mungkin hanya tersebar di lingkup terbatas mengemuka menjadi sorotan nasional, memaksa media arus utama dan pemerintah untuk meresponsnya. Proses ini mengkonstruksi tekanan politik yang luar biasa terhadap pelaku korupsi dan institusi yang terkait, sehingga mengkatalisasi penanganan kasus-kasus tersebut.
Selain agenda setting, teori spiral keheningan (spiral of silence) juga membantu menjelaskan bagaimana netizen mampu mengatasi tekanan sosial untuk berbicara lantang tentang korupsi. Menurut teori ini, individu cenderung diam ketika mereka merasa pandangan mereka minoritas atau tidak didukung oleh mayoritas. Namun, melalui sumber daya yang ada pada platform media sosial, netizen diproyeksikan menemukan komunitas yang berpikiran sama dan membangun keberanian untuk berbicara menentang korupsi.
Lebih jauh, kasus flexing gaya hidup mewah di kalangan pejabat dan keluarganya membuka mata publik realitas ketidakadilan yang bagaikan fenomena gunung es. Netizen yang sebelumnya lebih memilih diam dan bahkan apatis, kini lebih berani untuk berbicara melalui platform-platform media sosial.
Munculnya suara-suara lantang ini mengubah dinamika sosial, di mana mereka yang sebelumnya berada dalam posisi minoritas kini memperoleh dukungan publik yang lebih besar. Sebagai hasilnya, suara-suara tersebut menjadi kekuatan signifikan dalam menggugat perilaku korup para pejabat beserta antek-anteknya.
Dalam konteks korupsi, keberanian netizen untuk membongkar kasus-kasus yang melibatkan pejabat negara memberikan tekanan besar terhadap institusi hukum. Ketika berita tentang flexing dan kekayaan pejabat viral di media sosial, KPK dan aparat hukum lainnya tidak bisa mengabaikannya. Tekanan dari masyarakat yang diwakili oleh netizen mendorong investigasi yang lebih mendalam dan mempercepat proses hukum.
Kekuatan dan potensi netizen dalam mengungkap kasus-kasus korupsi melalui media sosial semakin tak terbantahkan. Dengan jaringan yang luas, netizen mampu menciptakan gerakan massa dalam hitungan jam, bahkan menit. Informasi tentang dugaan korupsi dapat menyebar secara viral, melibatkan jutaan orang dalam diskusi tentang isu tersebut. Namun, “berita baik” bukan tanpa risiko.
Salah satu risiko terbesar adalah penyebaran informasi yang tidak akurat atau hoaks. Dalam beberapa kasus, netizen dapat terjebak dalam narasi yang keliru, menyebarkan tuduhan tanpa bukti yang kuat. Hoaks semacam ini dapat merusak reputasi seseorang atau lembaga, tanpa adanya dasar yang valid.
Sebagai contoh, pada beberapa kasus netizen menuduh seseorang terlibat dalam korupsi hanya berdasarkan penampilan mewah mereka, tanpa mengetahui latar belakang atau sumber kekayaan tersebut. Berdasarkan ini, semestinya netizen perlu lebih berhati-hati dalam menyebarkan informasi, memastikan validitas dan kredibilitas sumber sebelum memviralkan isu dan memverifikasinya secara objektif.
Selain itu, media sosial juga rawan digunakan oleh pihak tertentu untuk mengarahkan opini publik demi kepentingan politik. Misalnya, dalam beberapa kasus, politisi mungkin memanfaatkan sentimen netizen untuk menyerang lawan politik mereka, dengan menyebarkan narasi korupsi yang belum tentu benar. Fenomena ini menunjukkan bahwa kuasa netizen, meskipun memiliki potensi positif dalam memerangi korupsi, juga dapat dimanfaatkan secara manipulatif.
Untuk memaksimalkan dampak positif kuasa netizen dalam pemberantasan korupsi, diperlukan kolaborasi yang kuat antara masyarakat dan pemerintah. Pemerintah perlu membuka ruang akses informasi yang lebih luas dan transparan kepada masyarakat, sehingga netizen dapat berperan lebih efektif sebagai pengawas. Selain itu, literasi digital perlu ditingkatkan, agar kemampuan kritis netizen mengalami peningkatan dalam menyaring informasi yang beredar di media sosial.
Kolaborasi juga dapat dilakukan melalui platform-platform pelaporan korupsi yang dikelola oleh pemerintah. Misalnya, aplikasi seperti Lapor! dapat dioptimalkan dengan melibatkan partisipasi aktif netizen dalam melaporkan dugaan tindak pidana korupsi di daerah mereka. Belum lagi melalui kanal KPK di media daring yang juga tersedia sepanjang waktu bagi pelaporan tindak korupsi lengkap dengan lampiran bukti. Intinya, melalui dukungan teknologi, netizen mestinya secara pro-aktif dalam sistem pengawasan publik, mendorong penegakan hukum yang lebih transparan dan cepat.
Pemerintah juga harus melihat netizen sebagai mitra dalam upaya pemberantasan korupsi, bukan sebagai ancaman. Kolaborasi dan sinergi yang solid dan efektif antara pemerintah dan masyarakat dapat menciptakan iklim yang lebih kondusif untuk memerangi korupsi, dengan memanfaatkan potensi besar media sosial sebagai instrumen pengawasan.
Ringkasnya, korupsi tetap menjadi ancaman serius bagi kemajuan Indonesia. Eksistensi netizen yang berdaya melalui media sosial membawa angin segar dalam upaya pemberantasan korupsi. Dengan jaringan tak terbatas dalam menyebarkan informasi, membentuk opini publik, dan menekan institusi untuk bertindak, netizen kini memiliki kuasa yang besar dalam mengungkap kasus-kasus korupsi.
Meskipun demikian, kekuatan ini harus digunakan dengan hati-hati dan penuh tanggung jawab. Netizen perlu memastikan bahwa informasi yang disebarkan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, untuk menghindari dampak negatif seperti hoaks atau manipulasi politik.
Dengan kolaborasi yang kuat antara masyarakat dan pemerintah, kuasa netizen dapat menjadi alat yang efektif dalam memerangi korupsi dan menciptakan Indonesia yang lebih bersih dan transparan. [*]
Belajar dari Flexing Erina Gudono di Media Sosial - kumparan.com
Flexing Erina Gudono di media sosial memicu kehebohan warganet Erina dinilai tidak sensitif dengan kondisi Indonesia. Erina sepatutnya bisa belajar dari konglomerat yang tajir namun tetap sederhana. [853] url asal
#media-sosial #flexing #bisnis #konglomerat #taipan #kaesang #medsos #belajar
(Kumparan.com) 31/08/24 12:01
v/14842574/
Publik dunia maya di X (dahulu bernama Twitter) beberapa waktu lalu ramai memperbincangkan negatif putra Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep bersama istrinya Erina Gudono. Percakapan ini dipicu oleh Erina yang mengunggah foto dan video selama liburannya di Amerika Serikat (AS) ke Instagram miliknya.
Foto yang dibagikan menantu Presiden Joko Widodo ini dinilai warganet tidak sensitif dengan kondisi Indonesia saat ini yang mana telah terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah daerah dan demonstrasi berbagai elemen masyarakat menolak upaya Badan Legislasi (Baleg) DPR RI yang emoh menerapkan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 60/PUU-XXII/2024.
Erina mengunggah sejumlah dokumentasi, salah satunya momen keduanya memakan roti setara Rp400 ribu atau belanja kereta dorong bayi diduga seharga Rp20 juta. Pada kesempatan lain Erina membagikan foto jendela pesawat yang ia tumpangi dan bagian hotel saat dirinya menginap di AS.
Warganet yang gerah dengan perilaku Erina ini mencari tahu dan menemukan informasi keduanya diduga menggunakan jet pribadi serta menginap di Four Season Hotel di Las Vegas dan Four Season Beverly Willshire di Los Angeles. Warganet mengkalkulasi, biaya sewa jet pribadi bisa mencapai Rp8.6 miliar. Menurut laman agoda.com, harga kamar Four Season Beverly Willshire dibandrol mulai Rp17 juta per malamnya.
Topik ini kemudian melebar membahas hal lain, mulai dari siapa pemilik jet pribadi, bisnis-bisnis milik Kaesang, risakan warganet terhadap Erina, hingga sejumlah pihak meminta Kaesang memberikan penjelasan perihal jet yang ia gunakan. Erina sendiri akhirnya sudah tidak lagi membagikan dokumentasinya selama di AS.
Apa yang dilakukan oleh Erina sebenarnya merupakan bentuk dari flexing di media sosial. Menurut Dictionary.com, flex (kata dasar flexing) merupakan kata slang yang memiliki arti "untuk pamer", baik itu fisik, barang-barang, atau hal lain yang dianggap lebih unggul dibandingkan orang lain.
Flex sendiri berasal dari bahasa Inggris Vernakular Afrika-Amerika atau AAVE. Menurut AAVE, flexing untuk menggambarkan tindakan pamer atau membual. Lebih lanjut AAVE menjelaskan, flexing merupakan tindakan memamerkan pencapaian, keterampilan, atau harta benda seseorang sebagai cara untuk menegaskan status atau dominasi seseorang dalam kelompok sosial (later.com).
Tujuan flexing adalah keinginan untuk diakui bahwa dirinya termasuk dalam status sosial yang lebih tinggi (Susanto, dkk). Susanto menambahkan perilaku flexing tidak hanya dilakukan oleh kalangan atas tetapi juga kalangan menengah dan kalangan bawah.
Apabila kalangan menengah dan atas memamerkan barang-barang atau bergaya hidup mewah, kalangan bawah mempertontonkan motor atau telepon genggam terbaru. Sebagian orang memanfaatkan peluang itu dengan membuka jasa penyewaan telepon genggam merek Iphone, guna dipamerkan saat bertemu teman atau menghadiri acara tertentu.
Flexing di media sosial sebenarnya lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaatnya. Setidaknya ada dua kerugian bagi pelaku flexing.
Pamer di media sosial juga dapat memicu kecemburuan sosial. Di kondisi masyarakat yang ekonominya masih timpang, memamerkan kemewahan di media sosial membuat iri atau cemburu sebagian mereka yang tidak berpunya. Pada tingkat dan akumulasi tertentu, kecemburuan itu menimbulkan kegeraman publik.
Tahun lalu, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB), Abdullah Azwar Anas sampai perlu melarang pegawai negeri sipil (PNS) memamerkan harta di media sosial. Pelarangan ini dipicu kemarahan publik atas perilaku gaya hidup glamor sejumlah pejabat. salah satunya eks pejabat eselon III Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Rafael Alun Trisambodo dan Kepala Kantor Bea Cukai Yogyakarta Eko Darmanto.
Mereka yang flexing lebih rentan menjadi korban kejahatan. Foto atau video yang dibagikan di media sosial bisa memancing penjahat melancarkan aksinya. Dengan melihat konten yang dibagikan, mereka bisa menemukan target, mencari celah, hingga menentukan kapan kejahatan dilaksanakan.
Kasus perampokan yang dialami artis kenamaan AS, Kim Kardashian pada 2016 lalu jadi salah satu contoh bagaimana unggahan media sosial bisa dijadikan sarana memperlancar aksi kejahatan. Perhiasan senilai US$ 10 juta milik Kim dirampok kawanan penjahat bersenjata di hotel dia menginap di Paris.
Salah satu pelaku mengaku merencanakan perampokan itu dengan memperhatikan media sosial sang pesohor. Kim memang aktif menggunggah sejumlah foto dan video jelang dan saat di Paris Fashion Week. Pada waktu itu, ia juga memamerkan perhiasan dan pakaian mewah yang ia kenakan di acara tersebut (Newsweek).
Agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, pengguna media sosial perlu menjaga privasinya. Diperlukan kesadaran foto atau video mana yang perlu dibagikan ke khalayak, dibatasi teman terdekat, atau hanya dinikmati diri sendiri. Dengan begitu, kejadian seperti yang menimpa Kim Kardashian dapat dihindari.
Mereka yang kerap menunjukkan kemewahannya seharusnya berguru pada para orang terkaya Indonesia. Alih-alih menunjukkan barang mewah dan bermerek, para konglomerat tanah air justru terlihat sederhana dan tidak mau menunjukkan hartanya.
Publik tentu masih ingat saat pemilik Djarum dan BCA, Michael Bambang Hartono makan di warung tahu pong Semarang pada 2019 silam. Penampilannya biasa, tanpa mengenakan barang mewah, seperti pengunjung pada umumnya.
Padahal, Forbes menaksir Michael memiliki total kekayaan sebesar US$ 25.8 Miliar atau setara Rp398 triliun (kurs Rp15.440/US$1). Maka, tidak mengherankan foto crazy rich asal Semarang saat menyantap makanan kesukaannya itu viral di media sosial.
Terbaru, pada perayaan HUT Kemerdekaan ke-79 RI di Ibu Kota Nusantara (IKN), para konglomerat yang hadir dalam peringatan tersebut juga berpenampilan biasa. Padahal, para taipan itu sangat mampu membeli barang mewah mengingat kekayaan mereka di angka puluhan hingga ratusan triliun rupiah. Para taipan itu adalah Sugianto Kusuma, Prajogo Pangestu, Franky Oesman Widjaya, Garibaldi Thohir, Eka Tjandranegara, Joko Susanto, dan Pui Sudarto.
Riset: Konten Olahraga Gen Z Bukan Buat Flexing
Dalam hal menjaga kebugaran tubuh secara aktif, Gen Z mendapatkan hasil lebih baik. [582] url asal
#gen-z #flexing #konten-olahraga #generazi-z #milenial #kantar #kantar-indonesia #generasi-x #manfaat-olahraga
(Republika - News) 18/07/24 22:28
v/11229769/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Riset terbaru menunjukkan hobi generasi Z di Indonesia membuat konten olahraga dan dibagikan di beragam platform media sosial ternyata bukan semata-mata ingin pamer atau flexing. Pembuatan konten itu dipengaruhi oleh trait atau ciri khas generasi Z yang merupakan digital native dan suka menginspirasi orang lain.
Hal ini diungkap dalam riset yang dilakukan oleh Kantar Indonesia bertajuk "360:GenZ Data" melibatkan 4.000 responden dari berbagai generasi secara spesifik 1.200 responden Gen Z di 40 lebih kota yang ada di Indonesia. "Nah ini yang paling penting dari motivasi mereka posting konten olahraga di sosial media ialah untuk inspiring the others. Karena awalnya mereka juga merasa terinspirasi dari postingan teman-temannya. Akhirnya mereka juga ikut dan ingin menginspirasi lewat olahraga ini sehingga ini harus diapresiasi," kata Director of Kantar Indonesia Dwi Anggraeni di Jakarta, Kamis (18/7/2024).
Riset tersebut mengungkap dominasi peserta riset yakni 64 persen generasi Z memang selalu mengunggah konten mengenai kegiatan sehari-harinya termasuk mengenai hobi olahraga. Secara lebih rinci, riset tersebut menunjukkan bahwa 80 persen Generasi Z menjadikan kesehatan dan kebugaran tubuhnya sebagai suatu makna kebahagiaan dalam menjalani kehidupan.
Maka dari itu tidak heran, dalam hal menjaga kebugaran tubuh secara aktif generasi Z mendapatkan hasil 1,8 kali lebih baik dibanding generasi pendahulunya baik dari generasi milenial dan generasi X. Ketika membahas jenis olahraganya, gen Z rupanya memiliki minat olahraga di luar ruangan seperti futsal, sepak bola, basket, dan olahraga lainnya 1,9 kali lebih besar dibandingkan dengan generasi X.
Meski begitu, untuk generasi Z juga termasuk golongan yang menyukai juga kegiatan olahraga di dalam ruang seperti olahraga yoga hingga pilates yang sedang tren. Tercatat minat mereka 2,3 kali lebih besar daripada generasi X terhadap olahraga-olahraga yang sedang tren tersebut.
Selain ingin menginspirasi, alasan generasi Z kerap mengunggah konten-konten olahraga di media sosialnya ialah untuk melakukan dokumentasi untuk setiap capaian baru yang dikerjakannya. "Ada salah satu responden dia bilang dia bisa ingat kapan pertama kali di berhasil 5K, 10K, dan pertama kali maraton karena postingan media sosial. Ada juga yang dulu melihat progresnya dalam headstand, kalau dulu dia butuh berkali-kali jatuh, sekarang ternyata cuma satu kali coba sudah berhasil. Nah posting-posting konten ini artinya sangat impactful dan memotivasi mereka," kata Dwi.
Tidak berhenti sampai di situ, kebiasaan generasi Z mengunggah konten olahraga juga dipengaruhi faktor bahwa mereka merasa bisa mendapatkan dukungan dari pengikutnya sehingga akhirnya merasa lebih semangat menjaga kebugaran dan mereka juga merasa bisa terhubung dengan komunitas yang memiliki minat yang sama. Salah satu platform media sosial yang menangkap animo positif dari generasi Z terhadap olahraga ialah TikTok. Head of Brand Partnership TikTok Indonesia Haswar Hafid menyebutkan khusus di Indonesia saja kata kunci #olahraga pada konten-konten di platformnya telah mencapai satu juta dengan 11 miliar kali ditonton oleh pengguna TikTok.
Lalu untuk olahraga lain yang lebih spesifik jenis-jenisnya, biasanya memiliki jumlah konten dan penonton yang lebih banyak. Sebagai contoh misalnya untuk konten mengenai lari, tercatat ditemukan ada sebanyak empat juta kata kunci #running di konten-konten TikTok asal Indonesia dengan total penayangan sebanyak 39 miliar kali.
Haswar menyebutkan tidak sedikit dari konten-konten olahraga tersebut yang pesannya memberikan motivasi sehingga tentunya hal itu membuat TikTok menjadi platform yang positif untuk mendukung komunitas yang menyukai olahraga. Ia pun melihat meningkatnya konten-konten bertemakan olahraga di Indonesia juga sebanding dengan semakin banyak generasi muda yang menyadari pentingnya kesehatan tubuh.
"Trennya sendiri tentu konten meningkat seiring dengan banyak yang sadar bahwa gaya hidup sehat juga penting," kata Haswar.
Flexing Hedonisme dan Identitas Baru
Tentu flexing hedonisme yang dilakukan selebriti tanah air dapat mempengaruhi penggemar mereka, terutama remaja dan anak muda yang mungkin merasa terdorong untuk meniru gaya hidup tersebut. [479] url asal
#pamer #flexing #hedon #identitas
(Kumparan.com) 16/07/24 07:46
v/10930725/
Fenomena flexing hedonisme merujuk pada perilaku memamerkan gaya hidup mewah dan konsumsi berlebihan yang sering kali dilakukan untuk menunjukkan status sosial atau kekayaan. Fenomena ini semakin marak dengan perkembangan media sosial, di mana individu dapat dengan mudah membagikan gambar atau video yang menampilkan barang-barang mewah, perjalanan eksklusif, dan pengalaman hedonistik lainnya.
Salah satu contoh fenomena flexing hedonisme di kalangan selebriti Indonesia juga menjadi perhatian, terutama dengan meningkatnya fyp di media sosial terkait dengan pamer barang mewah. Banyak selebriti yang memamerkan gaya hidup mewah mereka, yang sering kali dianggap sebagai cara untuk menunjukkan kesuksesan dan status sosial. Selain selebriti, kehidupan keluarga pejabat negara juga banyak yang memamerkan gaya hidup berlebihan.
Tentu flexing hedonisme yang dilakukan selebriti tanah air dapat mempengaruhi penggemar mereka, terutama remaja dan anak muda yang mungkin merasa terdorong untuk meniru gaya hidup tersebut. Meskipun tidak memiliki kemampuan finansial yang sama. selain itu, Penggemar mungkin merasa adanya tekanan sosial untuk menunjukkan kesuksesan dan kekayaan yang serupa, yang bisa berujung pada pengeluaran berlebihan dan stres finansial.
Hal ini menjadikan beberapa penggemar mungkin mengagumi dan mengidolakan gaya hidup mewah selebriti. Sedangkan lainnya mengkritik karena dianggap tidak realistis dengan ekonomi masyarakat Indonesia.
Selebriti yang terlibat dalam flexing hedonisme sering kali menerima berbagai respons dari publik. Beberapa memuji keberhasilan mereka dan menikmati konten glamor tersebut, sementara yang lain mengkritik mereka karena dianggap mempromosikan materialisme dan ketidakpekaan sosial.
Habitus flexing hedonisme di tengah-tengah masyarakat membentuk sebuah kebudayaan baru yang populer. Realitas yang dibangun melalui kontruksi sosial untuk menghasilkan Identitas, gaya hidup serta budaya konsumerisme.
Kemunculan selebriti baru di media hiburan tanah air, menjadikan masyarakat latah dan narsistik dalam sebuah eksistensi kelas sosial. Identitas yang kuat dalam fenomena flexing hedonisme yang dilakukan selebriti menjadikan pola konsumtif masyarakat untuk dijadikan eksistensi dirinya.
Identitas merupakan hal yang dihasilkan dari penampilan para artis, begitu pula dengan artis-artis yang flexing hedonisme. Identitas berkaitan dengan diri sedangkan identitas sosial merupakan pendapat orang lain yang menilai diri kita. Menurut Giddens menjelaskan bahwa identitas diri terbentuk oleh kemampuan untuk melanggengkan narasi tentang diri, sehingga membentuk sebuah citra tentang dirinya, sedangkan identitas sosial ditampilkan dengan pemakaian atribut badaniah.
Kalau melihat beberapa selebriti dalam fenomena flexing hedonisme, bahwa selebriti tersebut memiliki emotional signifikan yang bisa membedakan dirinya dengan orang lain sehingga mudah dikenal. Selain itu, selebriti tersebut juga memiliki orientasi personal yang bagus, sehingga dapat menggambarkan dirinya dalam berkomunikasi dengan orang lain. Tak heran jika banyak penggemar kagum dan mengikuti tren gaya hidup yang mewah.
Selain orientasi personal, flexing hedonisme selebriti juga memiliki nilai personal yang tinggi, hal ini terlihat kepercayaan dirinya ketika ada di tengah publik. Dengan gaya hidup yang berbeda, menjadikan selebiriti tersebut mampu mempertahankan dan menjaga kepercayaan dirinya saat berinteraksi dengan orang lain.
Selain orientasi personal dan nilai personality, mereka juga memiliki ekspresi diri yang bagus. Ekspresi diri merupakan ciri individu dalam mencitrakan dirinya di masyarakat, sehingga individu tersebut memiliki daya tarik serta popularitas dalam melanggengkan kekuasaan.
Ramai Joki Strava, Tawarkan Jasa Lari Rp 2.000 per Kilometer
Joki Strava sedang ramai diperbincangkan di media sosial. Mereka menerima permintaan lari dengan bayaran untuk memalsukan aktivitas lari di Strava. Halaman all [966] url asal
#olahraga #lari #tren #strava #flexing #joki-strava
(Kompas.com) 05/07/24 07:00
v/9717672/
KOMPAS.com - Olahragalari kini sedang digemari di Indonesia. Ini terlihat dari masyarakat yang ramai-ramai flexingalias memamerkan outfit lari, performa larinya di media sosial, baik ketika sedang fun run, atau mengikuti maraton atau kompetisi lari.
Salah satu aplikasi yang ramai digunakan di kalangan pelari adalah Strava. Bahkan ada meme viral di internet berbunyi "If it's not on Strava, it didn't happen". Meme ini memiliki makna, jika lari tidak dilacak dengan Strava, berarti Anda tidak lari.
Di aplikasi berbasis GPS ini, orang bisa melacak beberapa hal seperti kecepatan, rute, pace, jarak tempuh, durasi, elevation gain, denyut jantung, hingga kalori yang terbakar.
Munculnya #JokiStrava di media sosial
Saking ramainya olahraga lari dan flexing Strava saat ini, ada warganet yang membuka jasa joki Strava di media sosial. Joki Strava ini pun langsung viral dan menjadi perbincangan di jagat maya, utamanya platform X/Twitter.
Salah satu twit viral karena menawarkan joki Strava adalah milik akun dengan handle @hahahiheho. Harga joki Strava yang ditawarkan tersebut menyesuaikan pace, jarak, dan faktor lain.
KompasTekno sudah berusaha mengirim DM ke akun tersebut untuk mengetahui harga dan informasi lain. Sayangnya, kami belum mendapatkan jawaban.
Dari twit @hahahiheho, beberapa pengguna lain jadi terinspirasi membuka joki Strava. Misalnya, seperti akun @Irgsyhs. Ia mengaku siap membuka jasa joki Strava sambil flexing empat riwayat larinya yang dilacak menggunakan Strava.
Akun @spencerrade juga terinspirasi membuka joki Straba untuk online race 5K dan 10K. Menurut akun ini, pembayaran bisa dalam bentuk uang atau dalam bentuk energi bar/gel atau minuman isotonik.
Kami mencoba menghubungi akun lain yang menawarkan jasa #JokiStrava di Instagram dengan handle @jasajokilari. Akun yang dikelola El (nama samaran) ini menawarkan joki untuk acara lari atau jasa menemani lari.
Tidak cuma Strava, ia juga menerima joki untuk aplikasi kebugaran lain, seperti Nike Run Club. Di akunnya, ia ini mengaku sudah lari sebanyak 538 kali, sejauh 2.109 kilometer dengan pace rata-rata 6, sejak 2022.
Ia juga membagikan performa lari terbaiknya, yakni berjarak 5,26 km dengan pace 4 (4 menit 13 detik per kilometer) pakai aplikasi Nike Run Club. Untuk yang belum familiar, pace merupakan istilah untuk waktu yang dibutuhkan untuk menempuh satu kilometer atau satu mil.
Ketika ditanya lewat DM Instagram, @jasajokilari merinci menawarkan joki lari dengan harga sebagai berikut:
- Pace 7 ke atas - Rp 2.000 per kilometer
- Pace 6-7 - Rp 2.500 per kilometer
- Pace 5-6 - Rp 3.000 per kilometer
Untuk memesan @jasajokilari milik El yang berdomisili di Tangerang ini, calon konsumen bisa langsung menghubungi akun tersebut di Instagram. Kemudian, mereka bisa memilih opsi pace dan jarak tempuh yang diinginkan.
Hanya saja, akun Strava yang digunakan untuk merekam data lari adalah milik El, selaku pemberi jasa.
Pembayaran baru dilakukan setelah pemesan menerima tangkapan layar data lari dari aplikasi Strava.
Jadi sampingan
El, yang saat ini masih berstatus mahasiswa ini membuka jasa joki Strava sebagai sampingan. Sebenarnya, ia sudah melakukan perjokian lari sejak tahun lalu. Hanya saja, sifatnya masih sukarela.
"Kalau buka jasa ini baru kemarin, kalau yang dulu-dulu itu lebih ke jokiin temen yang emang butuh data lari buat di-report ke coach (pelatih) nya," katanya ketika dihubungi KompasTekno, Kamis (4/7/2024).
"Ada juga yang pas race day ingin mendapatkan time/waktu finish yang bagus jadi aku bantu, imbuhnya.
Meskipun sedang marak, namun, El mengatakan bahwa peminat jasa joki Strava belum begitu besar. Akan tetapi, dia memutar otak untuk menawarkan jasa lain yang dianggap lebih menarik.
"Karena cuma sebatas data Strava gitu orang sebetulnya kurang tertarik. Aku sih rencananya juga mau jadi pacer (pengatur pace/kecepatan saat lari)," jelasnya.
Ide joki Strava ini muncul lantaran El sendiri memang hobi berlatih lari. Bahkan, ia juga pernah menjuarai kompetisi lari. Skill ini lah yang kemudian ia monetisasi.
"Hitung-hitung daripada setiap hari latihan lari tapi enggak menghasilkan, jadi lebih baik sekalian latihan sekalian nambah pemasukan," ujarnya.
Menurut El, selama ia membuka jasa joki lari, kebanyakan pelanggannya adalah perempuan yang menargetkan pace di angka 7-8, serta jarak terjauh yang pernag ditempuh adalah 10 kilometer.
Terkait fenomena joki lari, El mengatakan bahwa jasa ini bisa membantu orang yang memang ingin mencapai target tertentu untuk tujuan khusus, namun kemampuannya belum ada.
Sebab, tidak semua orang memiliki ketahanan fisik yang tangguh, meskipun lari dengan jarak tempuh pendek.
Demi validasi di media sosial?
App Store Ilustrasi aplikasi Strava.Banyak warganet yang merasa lucu dengan adanya joki Strava ini. Namun, banyak juga warganet yang heran dan tak habis fikir dengan tren joki Strava ini, dengan menyebut "tren macam apa ini".
Warganet lain berpendapat bahwa tren joki Strava ini ada karena olahraga hanya dilakukan karena ikut-ikutan alias FOMO (fear of missing out) dan dijadikan ajang mencari validasi atau pengakuan sosial.
"FOMO olahraga gapapa sih, mencari pengakuannya yang salah. Trendnya harusnya berhenti di pamer olahraganya, ga mesti ada kompetisi semu pake Strava ini," twit salah satu warganet di X.
Warganet lain menyebut, fenomena joki Strava ini ada ketika orang mau kelihatan sehat dan kuat, tapi ingin instan dan tanpa proses.
Warganet lain menyebut olahraga itu mencari sehat dan paling nikmat jika dilakukan sendiri, bukan pakai joki Strava untuk validasi dari orang lain di media sosial.