#30 tag 24jam
Diplomasi Sambal: dari Perut ke Dunia
Kuliner memungkinkan kita menjalin hubungan yang kuat dengan masyarakat internasional tanpa paksaan. [667] url asal
#kolom #diplomasi-kuliner #gastrodiplomasi
(detikFinance) 07/09/24 11:30
v/14921542/
Jakarta - Ungkapan "dari perut turun ke hati" mungkin perlu lebih dipopulerkan. Menjadi perwakilan Indonesia dalam National Geographic Traveller Food Festival pada 20 - 21 Juli 2024 di London, Dapur CUK dan Ngopi UK menjadi saksi nyata tingginya minat khalayak internasional terhadap kuliner Indonesia.
Sambal, yang menjadi produk andalan mereka, berhasil memikat hati pengunjung dari berbagai negara. Bahkan Zefan Susanto, pendiri Dapur CUK, terkejut melihat antusiasme yang luar biasa terhadap sambal Indonesia di festival tersebut.
"Saya pikir mereka menghargai kemampuan sambal untuk meningkatkan hidangan dengan kombinasi unik dari rasa pedas, kompleks, umami, dan tidak hanya pedas saja. Meskipun sambal bawang yang paling populer, kami terkejut bahwa sambal roa yang merupakan sambal eksotik khas Sulawesi terjual habis dengan sangat cepat. Kami bahkan tidak sempat duduk karena sangat sibuk," ujarnya.
Tak bisa dipungkiri, tingginya minat terhadap kuliner Indonesia di luar negeri bukanlah hal baru. Kuliner seperti rendang dan nasi goreng sudah lama mendominasi daftar kuliner terlezat di dunia. Namun, bagaimana kita bisa memaksimalkan potensi ini?
Gastrodiplomasi
Istilah gastrodiplomasi pertama kali diperkenalkan oleh The Economist pada 2002. Gastrodiplomasi mengacu pada upaya pemerintah menggunakan makanan sebagai sarana meningkatkan brand awareness suatu negara. Thailand adalah pelopor dalam strategi ini. Melalui program pemerintah yang terstruktur untuk memperkenalkan kuliner negaranya di kancah internasional, Thailand berhasil menggandakan jumlah restoran Thailand di dunia hanya dalam waktu tujuh tahun. Pad thai pun menjadi comfort food banyak orang di dunia.
Begitu juga Korea Selatan, yang menggunakan kuliner sebagai pintu masuk untuk mengenalkan budaya mereka. Kini, Korea Selatan tidak hanya dikenal melalui merek besar seperti Hyundai dan Samsung, tetapi juga sebagai raksasa budaya pop yang mencakup film, musik, dan kuliner.
Indonesia memiliki potensi serupa. Dengan kekayaan kuliner yang beragam, kita bisa menggunakan gastrodiplomasi untuk memperkenalkan Indonesia tidak hanya dengan informasi rasional, tetapi juga melalui rasa dan keterkaitan emosional. Kuliner memungkinkan kita menjalin hubungan yang kuat dengan masyarakat internasional tanpa paksaan.
Memperkenalkan Cita Rasa Indonesia
Namun, perjalanan untuk memperkenalkan cita rasa Indonesia di Inggris bukanlah tanpa tantangan. Salah satu rintangan terbesar yang dihadapi Zefan adalah kenyataan bahwa kebanyakan orang Inggris tidak terbiasa dengan makanan pedas. "Mereka umumnya hanya tahan di level pedas merica," jelas Zefan. "Butuh waktu bagi mereka untuk menerima rasa yang begitu kompleks dan kuat," tambahnya.
Selain itu, memperkenalkan cita rasa Indonesia yang kaya akan rempah dan tekstur juga memerlukan upaya lebih. "Pasar kami saat ini masih didominasi oleh pelanggan Indonesia yang berdomisili di UK, sekitar 80%, sementara 20% sisanya adalah orang lokal dan non-Indonesia," kata Zefan.
Meskipun demikian, ada juga segmen pelanggan yang sangat menyukai sambal, seperti orang-orang Afrika. "Orang Afrika sangat menyukai sambal kami. Ada seorang pelanggan yang dulu tinggal di Cambridge, tempat di mana Dapur CUK didirikan. Setelah pindah ke kota lain, dia tetap menjadi pelanggan setia kami," cerita Zefan bangga.
Kesuksesan Dapur CUK di Inggris juga tidak lepas dari dukungan yang kuat dari Kedutaan Besar Indonesia di London serta berbagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti Bank Indonesia. "Mereka sangat memperhatikan dan membantu mengupayakan yang terbaik demi mendukung usaha kecil dan menengah (UKM) seperti kami di Inggris," kata Zefan. Dukungan ini memberi dorongan besar dalam menghadapi berbagai tantangan di negeri orang, serta membuka peluang lebih luas bagi Dapur CUK untuk terus berkembang.
Aset Soft Power
Zefan juga menuturkan, tantangan terbesar adalah hal-hal strategis yang membutuhkan pendekatan G2G. Misalnya untuk mengimpor material jadi ataupun setengah jadi, cukup banyak rintangan yang dirasakan tanpa adanya Free Trade Agreement ataupun fasilitas-fasilitas pembantu lainnya.
Nama Dapur CUK sendiri memiliki filosofi khusus. 'Dapur' dipilih agar masyarakat lokal di Inggris dapat mengenal kosakata dasar bahasa Indonesia. Sementara itu, CUK merupakan singkatan dari Cambridge, UK, kota di mana Zefan dan istrinya pertama kali memulai bisnis ini. "Namun, jika orang Indonesia, khususnya orang Jawa, pasti tahu arti dari kalimat khas Jawa Timur ini," tambahnya dengan senyum.
Usaha-usaha diaspora Indonesia seperti Dapur CUK di luar negeri merupakan duta besar Indonesia dalam menggunakan aset soft power terbesar kita. Bukan tidak mungkin, upaya diaspora Indonesia dalam memperluas kuliner Indonesia ini akan menelurkan sambaldiplomasi, sotodiplomasi, atau gastrodiplomasi lainnya.
Adrian Istanidiaspora Indonesia
(mmu/mmu)Gastrodiplomasi RI di Gala Dinner ISF 2024, Ada Sukun dan Rawon
Indonesia melakukan gastrodiplomasi kepada para delegasi dan tamu undangan ISF 2024 melalui berbagai kuliner Nusantara. [463] url asal
#isf-2024 #gastrodiplomasi #gala-dinner #ekonomi-karbon #update-me
(Katadata - EKONOMI HIJAU) 05/09/24 19:24
v/14903089/
Ratusan delegasi peserta Indonesia International Sustainability Forum atau ISF 2024 dari berbagai penjuru dunia akan dimanjakan dengan pengalaman kuliner dan visual di Gala Dinner yang digelar di Monumen Nasional (Monas), Jakarta pada Kamis (5/9) malam.
"Monas dipilih menjadi tempat jamuan makan malam tamu istimewa ISF 2024 karena monumen ini merefleksikan nilai-nilai luhur sejarah kebangkitan Indonesia yang menjadi pendorong semangat kolaborasi yang digandakan ajang ISF,” ujar Rachmat Kaimuddin, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi.
Saat ini dunia memerlukan semangat kolaborasi yang lebih nyata untuk mewujudkan berbagai aksi dan inovasi dengan harapan akan terwujud di ISF 2024. Para tamu akan dimanjakan dengan atraksi visual di dinding Monas yang menjulang tinggi saat mereka menikmati hidangan.
Perpaduan teknologi modern dengan bangunan bersejarah menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi 500 tamu VIP yang hadir di acara jamuan makan malam yang dihadiri Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin.
Pengalaman para tamu akan aneka menu makanan yang tersaji juga menjadi ajang bagi Indonesia melakukan gastrodiplomasi. “Dengan menjamu para delegasi, aneka makanan yang spesial seperti sukun telur asin dan rawon menjadi cara kita mengenalkan kuliner Indonesia ke seluruh dunia,” ujar Rahmat.
Jamuan makan malam di ISF 2024 dibuka dengan aneka menu, antara lain:
Pembuka: Nusantara Platter
1. Sate Ayam: Hidangan ikonik yang berasal dari hiruk-pikuk kuliner jalanan Jawa ini kini telah mendunia, menjadi duta cita rasa Indonesia yang membanggakan.
2. Sukun Telor Asin: Perpaduan unik antara sukun yang telah berabad-abad menjadi bagian penting kuliner Indonesia, dengan telur asin yang dihasilkan oleh produsen lokal di Brebes, Jawa Tengah.
3. Otak-Otak: Sajian seafood yang dibungkus daun pisang ini menampilkan keragaman rempah Indonesia, dengan setiap daerah memiliki versi uniknya sendiri.
4. Tumis Timun Jepang: Hidangan ringan yang menyegarkan, menampilkan keahlian memasak sayuran lokal dengan sentuhan modern.
Hidangan Utama: Rawon
Daging sapi yang dimasak dengan bumbu kluwak khas Jawa Timur ini menjadi bintang utama malam itu. Warnanya yang hitam pekat menyimpan rahasia rasa yang dalam dan kaya, mewakili kedalaman budaya kuliner Indonesia.
Penutup: Pandan Entremet
Terinspirasi dari Es Teler khas Jawa Barat, makanan penutup (dessert) ini menampilkan krim pandan yang sudah sangat akrab di lidah Indonesia. Perpaduan antara cokelat putih dan pandan menciptakan harmoni manis yang menyegarkan, menutup jamuan dengan sempurna.
Rachmat mengatakan jamuan makan malam ini bukan hanya tentang makanan. Ini merupakan pernyataan budaya serta sebuah undangan untuk menyelami kekayaan rasa Indonesia. Di tengah diskusi tentang keberlanjutan global, para tamu diajak untuk merasakan langsung keberlanjutan dalam konteks kuliner Indonesia.
Tradisi dan inovasi dapat berjalan beriringan, menciptakan hidangan yang tidak hanya lezat, tetapi juga penuh makna.
"Saat para pemimpin dunia berkumpul untuk membahas masa depan dunia, mereka akan diingatkan melalui setiap suapan bahwa keberlanjutan bukan hanya tentang teknologi dan kebijakan, tetapi juga tentang melestarikan warisan budaya dan kuliner yang telah berabad-abad memperkaya peradaban kita," ujarnya.