#30 tag 24jam
Sejarah Houthi, dari Penyebar Ajaran Syiah ke Kelompok Bersenjata
Inilah sejarah ringkas kelompok Houthi di Yaman. [728] url asal
#kelompok-houthi #gerakan-houthi #serangan-houthi #israel-serang-houthi #houthi-di-yaman #sejarah-houthi
(Republika - News) 23/07/24 16:32
v/11810059/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Houthi atau al-Huutsiyuun adalah sebuah kelompok oposisi yang berkembang di Yaman. Bernama resmi Ansharullah, gerakan ini pertama kali muncul di negara tersebut pada periode 1990-an.
Mengutip Aljazeera, Prof Ahmed Addaghashi dari Sanaa University mengatakan, Houthi pada mulanya adalah gerakan keagamaan yang moderat. Para dai atau mubalighnya kerap menyampaikan pesan-pesan pentingnya toleransi dan keluasan wawasan berpikir kepada masyarakat lokal.
Asy-Syabab al-Mu`min (Gerakan Pemuda Mukmin) yang berada di Saada merupakan cikal bakal Houthi. Berdiri sejak 1990 (atau 1992), basis dakwah tersebut dibentuk untuk mengimbangi dakwah-dakwah yang dilakukan kelompok Wahabi di Yaman.
Asy-Syabab al-Mu`min dirintis oleh Hussein al-Houthi. Sosok ini adalah putra dari seorang ulama Syiah Zaidi yang karismatik, Badruddin al-Houthi (wafat 2010). Ia pun masih bersaudara dengan Abdul Malik al-Houthi, pemimpin Houthi saat ini.
Asy-Syabab al-Mu`min memasuki sekolah-sekolah dan bahkan mengadakan perkemahan pemuda. Tujuannya untuk memantapkan ideologi Syiah Zaidi di tengah generasi muda.
Asy-Syabab al-Mu`min menjadikan Saada, kawasan di Yaman utara, sebagai basis. Hingga kini pun, Houthi masih berpusat di distrik tersebut.
Badruddin al-Houthi merupakan pengajar di Ittihad asy-Syabab (Persatuan Pemuda), sebuah lembaga pendidikan untuk anak-anak muda Syiah Zaidi sejak 1986. Memasuki periode 1990-an, perpolitikan nasional di Yaman kian memunculkan friksi yang tajam. Orang-orang Syiah merasa tidak cukup terwakili di parlemen.
Kemudian, Ittihad asy-Syabab berubah menjadi partai politik bernama Hizbul Haqq (Partai Kebenaran). Tujuannya, menghimpun sebanyak-banyaknya suara komunitas Syiah Zaidi agar wakil mereka bisa masuk parlemen.
Cita-cita ini akhirnya terwujud. Badruddin al-Houthi duduk dalam DPR Yaman pada tahun 1993 dan lagi di tahun 1997.
Perpecahan
Sejak Hussein al-Houthi bin Badruddin al-Houthi duduk di DPR, para tokoh Syiah Yaman mengalami perpecahan. Penyebabnya, ayahanda legislator tersebut dituding mulai menyebarkan paham Syi'ah Itsna Asyariah, yang merupakan bagian dari Syi'ah Imamiyah. Akibat terus menuai penolakan, Badruddin pun hijrah ke Tehran, Iran.
Walaupun sudah ke luar negeri, pengaruh Badruddin al-Houthi dengan Itsna Asyariah-nya terus menyebar. Lambat laun, Saada dan sekitarnya pun terbelah. Ada yang bertahan dengan paham Syiah Zaidi tradisional, tetapi sebagian besar kian berpihak pada pemahaman Itsna Asyariah.
Sejak 1994, negara Yaman tenggelam dalam perang saudara. Ini memperhadapkan antara kubu utara, yang menginginkan penyatuan Yaman di satu sisi dan kubu selatan, yang menghendaki Yaman Selatan terpisah. Pada akhirnya, kubu selatan yang berhaluan sosialis kalah. Banyak tokohnya yang kemudian kabur ke luar negeri.
Iran turut campur, hingga Houthi kuasai dua pertiga Yaman ....
Hizbul Haqq yang dipimpin Hussein al-Houthi mendukung kelompok separatis selatan. Terutama sejak kemenangan kubu utara dalam perang saudara, Hussein pun melarikan diri ke Suriah. Kembali ke Yaman pada 1997, ia lantas menyatakan mundur dari Hizbul Haqq.
Dua tahun kemudian, situasi kian memanas. Bahkan, pemerintah pusat berhasil membunuh Hussein al-Houthi dalam sebuah operasi militer. Lusinan milisi Ansharullah juga ikut ditangkap.
Langkah tegas pemerintah pusat Yaman itu dijawab Houthi dengan perlawanan yang kian keras. Sejak 2005, Houthi kian mengintenskan serangan-serangan bersenjata ke bangunan-bangunan pemerintah.
Selain itu, laskar berideologi Syiah ini juga menuding bahwa Sana'a telah menjadi pelayan kepentingan Amerika Serikat (AS). Houthi pun kerap menyoroti timpangnya pembangunan. Tidak seperti Yaman selatan--termasuk ibu kota Yaman: Sana'a--yang maju, Yaman utara tampak tertinggal.
Pada 2006, tampuk kepemimpinan Ansharullah alias Houthi berada di tangan Abdul Malik al-Houthi. Ia tak lain merupakan adik dari Hussein al-Houthi.
Sebelum tahun 2011, ketegangan Houthi versus pemerintah Yaman semakin membahayakan kondisi negeri. Akhirnya, presiden Ali Abdullah Saleh meminta bantuan AS untuk mengatasi kelompok oposisi itu. Namun, Arab Spring terlebih dahulu muncul di Timur Tengah sehingga menghambat masuknya intervensi Negeri Paman Sam.
Sejak 2012, Yaman dipimpin presiden Abdrabbuh Mansur Hadi. Namun, Houthi dengan dukungan Iran terus melancarkan serangan ke istana kepresidenan. Puncaknya, pada 22 Januari 2015 milisi bersenjata itu dapat menguasai kompleks VVIP tersebut.
Mansur Hadi lantas melarikan diri ke Aden. Kekosongan kekuasaan pun terjadi, sehingga dimanfaatkan oleh Houthi. Konflik pun kian menjadi di Yaman.
Sejak 2015, sekira dua pertiga Yaman dapat dikuasai Houthi. Sementara itu, ISIS dan al-Qaeda menyatakan terlibat di Yaman dengan ditandai pengeboman di masjid sekitar istana kepresidenan di Sana'a. Ini membuat keadaan semakin kalut.
Hingga kini, Houthi menjadi sayap militer Yaman yang terus berkembang. Tujuannya, menguasai Yaman dan menjadikan Iran sebagai poros politik, militer, dan sekaligus budaya. Sejak 2005, Tehran terus memasok bantuan kepadanya, sehingga membuat pertentangan dengan Riyadh kian sengit.
Siap Perangi Israel, Begini Detail Kekuatan Tempur Houthi
Kelompok Houthi berhasil mengembangan sejumlah senjata dengan lekas belakangan. [1,246] url asal
#israel-serang-houthi #perang-israel-houthi #houthi-perang-lawan-israel #kekuatan-temput-houthi #senjata-houthi #rudal-houthi
(Republika - News) 23/07/24 04:00
v/11750944/
REPUBLIKA.CO.ID, SANAA – Saling serang antara kelompok Houthi alias Ansar Allah dari Yaman dengan Israel kian menjadi-jadi. Pimpinan Ansar Allah menjanjikan perang panjang dengan Israel jika Jalur Gaza terus dibombardir. Mampukah Houthi melayani perang dengan Israel?
Ancaman eskalasi lebih lanjut Houthi memiliki dampak berbeda setelah menargetkan Tel Aviv dengan drone Jaffa. Diperkirakan laju eskalasi akan meningkat, dan langit negara pendudukan akan dipenuhi dengan kawanan drone dari generasi ke generasi yang telah dikembangkan oleh kelompok Ansar Allah selama bertahun-tahun.
Kemampuan militer dan strategis apa yang dimiliki kelompok Houthi? Apakah mereka benar-benar dapat memasuki pertempuran besar? Bagaimana rudal dan drone mereka mencapai Israel? Investigasi Aljazirah Arabia memaparkan hal tersebut.
Sistem rudal
Rudal pertama, yang diyakini ikut serta dalam serangan berturut-turut terhadap Irael, adalah rudal balistik jarak menengah "Taufan", dengan jangkauan 1.350-1.950 kilometer, yang desainnya mirip dengan rudal Iran, rudal Ghadr. Rudal ini diyakini memiliki tahap pertama yang menggunakan bahan bakar cair, dan tahap kedua yang menggunakan bahan bakar padat, yang memungkinkannya memiliki jangkauan yang jauh. Rudal tersebut memiliki panjang sekitar 16 meter dan lebar sekitar satu setengah meter.
Rudal balistik bekerja berdasarkan prinsip sederhana: mereka diluncurkan dalam bentuk busur, keluar dari atmosfer dan kemudian kembali ke Bumi untuk mencapai sasaran, dalam jalur yang telah ditentukan (yang membuatnya relatif mudah untuk diprediksi dan dicegat), dan begitu tiba, rudal tersebut akan ditembakkan. rudal melepaskan muatannya.
Rudal jenis ini dapat diluncurkan dari berbagai platform seperti platform darat, kapal selam atau silo, dan dalam kasus rudal Taufan, diluncurkan dari platform darat bergerak, yang siap dioperasikan hanya dalam waktu 30 menit. Rudal ini saat ini dirancang untuk membawa hulu ledak konvensional, namun mampu dipersenjatai dengan hulu ledak kimia atau nuklir, yang beratnya mencapai sekitar 800 kilogram. Jika rudal mampu mencapai sasarannya, tingkat kesalahan lokasi sasaran spesifiknya berada dalam lingkaran dengan diameter 80-100 meter.
Kelompok Houthi belakangan memperbarui jangkauan persenjataan rudal mereka dengan sangat cepat. Pada 2015, Houthi mengumumkan peluncuran rudal Qaher-1 dan Qaher-M2, yang merupakan bagian dari keluarga rudal permukaan-ke-udara Soviet jenis SAM V-755, yang dimodifikasi untuk misi serangan darat. Rudal ini mampu mencapai jangkauan 250-400 km.
Pada Maret 2017, rudal Qaher-2 digunakan secara operasional, yang pada saat itu memiliki jangkauan dan kapasitas muatan yang lebih besar daripada versi pertama. Rudal Soviet yang sebelumnya ada di gudang senjata tentara Yaman telah dimodifikasi untuk memuat hulu ledak seberat 350 kg, bukan hulu ledak asli seberat 195 kg. Perkembangan ini memicu kontroversi di kalangan peneliti tentang sifat konversi ini.
Rudal Burkan-1 diumumkan pada 2016, dan kemungkinan merupakan versi modifikasi dari rudal Shahab-1 Iran dengan jangkauan hingga 800 kilometer. Diikuti oleh Burkan-2H, yang diluncurkan pada 2017, sebuah rudal balistik jarak pendek yang berasal dari rudal Qiam Iran dengan jangkauan 1.000 kilometer. Pada September 2023, turunan lain dari rudal Qiam Iran yang juga memiliki jangkauan 1.000 kilometer ditampilkan, yang diberi nama Aqeel.
Sejak 2019, Houthi telah mengumumkan kepemilikan mereka atas rudal Burkan 3, yang merupakan rudal jarak jauh di gudang senjata Houthi (sebelum munculnya Taufan), melebihi ambang 1.200 kilometer, dan diyakini telah digunakan untuk pertama kalinya pada 1 Agustus 2019.
Pertahanan udara
Kemampuan Houthi tidak berhenti sampai disitu saja, namun telah berkembang lebih dari itu. Sebelumnya pada November 2023, Houthi mengumumkan bahwa mereka berhasil menembak jatuh drone MQ-9 Amerika di perairan teritorial Yaman. Juru bicara militer Houthi mengatakan dalam sebuah pernyataan resmi: "Pertahanan udara kami mampu menembak jatuh sebuah pesawat Amerika ketika pesawat itu melakukan tindakan permusuhan, memantau dan memata-matai wilayah udara perairan teritorial Yaman, dan dalam kerangka dukungan militer Amerika untuk entitas Israel."
MQ-9 Reaper merupakan drone serang utama Angkatan Udara AS, mengingat daya tahannya yang lama (sekitar 27 jam) dan ketinggian lebih dari 15 kilometer, serta kemampuan jangkauannya yang luas, yang tentunya membuat kita bertanya-tanya bagaimana Houthi bisa menembaknya hingga jatuh. Setelah menguasai Sana'a pada tahun 2014, Houthi mampu mengendalikan sebagian besar sisa persenjataan rudal permukaan-ke-udara SAM buatan Soviet dan radar yang menyertainya, yaitu rudal yang diluncurkan dari darat untuk mencegat dan menghancurkan. pesawat atau rudal musuh.
Namun persenjataan itu menghadapi beberapa masalah besar. Yang pertama adalah banyak bagiannya yang rusak atau setidaknya perlu diperbaiki, dan yang kedua adalah karena umumnya sudah tua sehingga akurasinya buruk dalam menetralisir ancaman udara.
Houthi telah memecahkan masalah ini dengan beberapa trik, seperti mengubah rudal udara-ke-udara pencari panas buatan Rusia seperti AA-10 Alamo B dan AA-11 menjadi rudal permukaan-ke-udara. AA-10 Alamo khususnya telah menjadi rudal yang paling banyak digunakan oleh Houthi, dan sejak tahun 2017 telah menjadi ancaman nyata dan menjadi penyebab sejumlah serangan kuat terhadap sasaran udara.
Ini adalah sistem yang sangat canggih, awalnya ditujukan untuk digunakan pada pesawat tempur generasi keempat Rusia seperti MiG-29 dan Sukhoi-35, namun dirancang untuk menyerang semua jenis pesawat, helikopter, rudal jelajah, dan sistem drone, dan dapat menyerang semua jenis pesawat, helikopter, rudal jelajah, dan sistem drone. melibatkan target udara dalam kondisi cuaca apapun siang dan malam.
Badan rudal berbentuk silinder dan memiliki permukaan simetris yang mengontrol pitch dan yaw rudal sehingga memberikan kelancaran saat terbang, dengan hulu ledak seberat 39 kg yang dioperasikan di dekat sasaran dengan kemampuan beroperasi dengan sinar infra merah yang sulit dideteksi.
Namun, kendala dari rudal ini adalah jangkauannya yang pendek hingga 40 kilometer, namun Houthi menggunakannya dengan cerdas. Setelah mengubahnya menjadi senjata permukaan-ke-udara untuk pertahanan udara, mereka melakukan penyergapan tersembunyi di lipatan pegunungan dan di tepinya, yang memungkinkan mereka memburu pesawat, drone, dan rudal jelajah dalam jarak yang relatif dekat. jarak.
Selain itu, Houthi mengumumkan beberapa tahun yang lalu bahwa mereka telah mengembangkan Barq, sebuah rudal pertahanan canggih yang hadir dalam dua versi, Barq-1 dan Barq-2 dan mirip dengan Sayyad Iran. -sistem rudal ke udara, yang merupakan pengembangan dari sistem S-75 Soviet yang disebutkan di atas, namun lebih baik di beberapa bidang, termasuk akurasi, jangkauan, dan kekuatan destruktif.
Barq-2 memiliki hulu ledak fragmentasi seberat 200 kilogram, sejenis hulu ledak eksplosif yang dirancang untuk menghasilkan dan melepaskan pecahan peluru pada saat ledakan. Sebab itu tidak perlu mengenai sasaran udara secara langsung tetapi hanya dapat dijatuhkan oleh pecahan peluru dari rudal tersebut. Rudal tersebut diluncurkan dari platform bergerak atau stasioner yang memerlukan waktu sekitar 5 menit untuk memuatnya, dan terbang dengan kecepatan hingga 3.600 kilometer per jam, dengan jangkauan hingga 100 kilometer.
Sistem radar canggih
Selain itu, Houthi diyakini kini memiliki “penerima radar virtual”, yang dapat menerima sinyal ADS-B, sebuah sistem pengawasan yang digunakan untuk mengontrol dan memecahkan kode lalu lintas udara pesawat.
Sistem ini memungkinkan pesawat untuk menyiarkan posisi, kecepatan, ketinggian, dan informasi lainnya kepada pengontrol lalu lintas udara dan pesawat lain di sekitarnya dalam konteks kekuatan ofensif atau intelijen. Penerima radar virtual dapat menggunakan antena dan penerima radio untuk menangkap sinyal-sinyal ini dan mengirimkannya ke komputer untuk memproses sinyal dan menampilkannya di layar.
Hal ini memberikan operasi pertahanan udara tingkat siluman, dan memungkinkan Houthi mendeteksi target dalam radius 500 kilometer. Akibatnya, mengidentifikasi lokasi target udara memungkinkan Houthi mengatur serangan dengan rudal pertahanan udara kelas Barq, misalnya. Integrasi antara rudal paling canggih dan sistem penerima radar virtual inilah yang memberikan kehadiran kelompok ini secara menonjol di langit Yaman dan sekitarnya.
Mengingat kemampuan militer yang dimiliki Houthi, Aljazirah mencatat bahwa perencanaan strategis mereka didasarkan pada pembangunan perang asimetris dengan lawan seperti Israel atau Amerika Serikat, di mana pihak yang lebih lemah secara militer dan teknis mencari cara untuk mencari keuntungan relatif dalam pertempuran tersebut. yang mencapai tingkat keseimbangan dan pencegahan, terutama dalam perang jangka panjang.
Houthi Tegaskan tak Ada Batasan dalam Merespons Serangan Israel
Houthi rencanakan serangan balik ke Israel usai kota pelabuhan Hudaydah dibombardir. [250] url asal
#israel-serang-houthi #israel-gempur-houthi #perang-israel-houthi #houthi-perang-lawan-israel #kelompok-houthi #militan-houthi
(Republika - News) 22/07/24 21:19
v/11709085/
REPUBLIKA.CO.ID, SANAA -- Militan Houthi tidak memiliki "garis merah" (batasan) dalam menanggapi serangan udara Israel di pelabuhan Laut Merah Hudaydah di Yaman barat. Hal itu ditegaskan juru bicara gerakan tersebut pada Ahad (21/7/2024).
"Tidak ada 'garis merah' dalam tanggapan kami terhadap agresi Zionis," kata Mohammed Abdessalam kepada saluran berita Al Jazeera.
Israel melancarkan serangan udara yang belum pernah terjadi sebelumnya di pelabuhan Hudaydah pada Sabtu (20/7/2024). Serangan itu menewaskan setidaknya enam orang dan melukai lebih dari 80 lainnya.
Pemberontak Houthi Yaman bersumpah pada musim gugur untuk menyerang kapal-kapal yang terkait dengan Israel sampai Israel menghentikan tindakan militernya di Jalur Gaza. Serangan-serangan ini mendorong Amerika Serikat untuk membentuk koalisi multinasional guna melindungi pengiriman di wilayah Laut Merah, serta menyerang sasaran Houthi di darat.
Juru Bicara Kementeria Luar Negeri Iran, Nasser Kanaani dikutip IRNA mengutuk serangan udara Israel ke Yaman pada Sabtu. Menurutnya, serangan Israel ke kota pelabuhan Hodeidah, menunjukkan, "Sifat agresif alamiah dari rezim pembunuh-anak Israel."
Kanaani mengatakan, bahwa berlanjutnya pembunuhan warga tak bersalah di Gaza adalah akar permasalahan dari tensi tinggi terus-menerus di Timur Tengah. Perdamaian di kawasan, Kanaani menekankan, tidak akan terjadi hingga rezim Israel menghentikan agresi terhadap rakyat Palestina, khususnya di Jalur Gaza.
Kanaani mengingatkan potensi meluaskan eskalasi akibat limpahan perang di kawasan akibat dari tindakan berbahaya Zionis. Rezim Zionis dan pendukungnya termasuk AS, kata Kanaani, akan secara langsung bertanggung jawab atas "konsekuensi berbahaya yang tak bisa diprediksi" akibat dari kejahatan berlanjut di Gaza dan serangan terhadap Yaman.
Houthi Ancam Serang Saudi, Muhammadiyah Imbau Negara-negara Arab Silaturahim
Negara-negara Arab kini seperti kehilangan arah, tak jelas siapa lawan, siapa kawan. [611] url asal
#serangan-houthi #israel-serang-houthi #gaza #genosida-israel-di-gaza #genosida-israel #arab-saudi
(Republika - Khazanah) 22/07/24 20:57
v/11704975/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kelompok bersenjata Houthi di Yaman mengancam akan menyerang infrastruktur penting di Arab Saudi jika Riyadh dinilai terus membantu Israel. Dalam rilis terbaru, Houthi menyatakan, tidak akan ragu mengincar Bandara Internasional King Khalid di ibu kota Suadi dan Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah.
Menanggapi hal itu, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Buya Anwar Abbas mendesak negara-negara Arab agar bersatu. Alih-alih saling bersitegang, Houthi-Yaman dan Riyadh sebaiknya bersilaturahim dan merapatkan barisan untuk melawan Israel.
"Saya berkeyakinan, adalah sangat sulit sekali bagi rakyat Palestina dan negara-negara Arab untuk menghadapi dan membendung gerak dari Israel karena mereka berpecah belah," ujar Buya Anwar saat dihubungi Republika.co.id, Senin (22/7/2024).
Dia pun mengutip perkataan tokoh Tentara Nasional Indonesia (TNI), Jenderal Besar Sudirman. Pak Dirman pernah menyatakan, kunci kemenangan terletak pada soal ketersambungan hati antarsatu warga dengan warga lainnya.
"Seperti dikatakan Jenderal Sudirman, jika kalian ingin menang, maka kalian harus kuat. Untuk bisa kuat, kalian harus bersatu; dan untuk bisa bersatu, maka silaturahim antara kalian harus kuat. Yang terakhir inilah yang tidak ada dan tidak dimiliki oleh dunia Arab saat ini. Menyedihkan sekali," ujar Buya Anwar menjelaskan.
Ketua PP Muhammadiyah ini memandang, negara-negara Arab sekarang ini seperti kehilangan arah. Tidak jelas lagi bagi mereka siapa lawan dan siapa kawan, serta apa yang harus mereka lakukan.
"Semestinya yang mereka jadikan musuh itu adalah tindak penjajahan dan tindak yang menginjak-injak nilai-nilai perikemanusiaan dan perikeadilan," kata Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini.
Sejak tahun 1948 hingga kini, Israel terus menjajah Palestina. Terkini, milter zionis (IDF) masih saja melancarkan genosida atas penduduk Jalur Gaza. Karena itu, menurut Buya Anwar, negara-negara Arab seharusnya berfokus untuk menghadapi Israel secara bersama-sama.
"Seandainya negara-negara Arab tidak berhasil mengendalikan pergerakan Israel, maka nanti pada waktunya bagian dari negara Arab tersebut akan dicaplok oleh Israel yang berkeinginan untuk membentuk sebuah negara baru yang lebih luas: Israel Raya. Ini mencakup bukan hanya Palestina, tetapi juga Jordania, sebagian Arab Saudi, Suriah, dan Lebanon," kata dia.
"Kelihatannya, mereka (negara-negara Arab) baru akan tersadar setelah negara Israel Raya berdiri. Di saat itulah mereka menyesal, mengapa dahulu tidak bersatu sehingga hal pahit yang mereka alami itu tidak harus terjadi," sambung Buya Anwar.
Sebelumnya, lewat cuplikan video yang dirilis Departemen Media Houthi, Ahad (21/7/2024), pihak Houthi mengancam akan menyerang objek-objek vital milik Saudi, seperti Bandara Internasional King Khalid, Bandara Internasional King Abdulaziz, Bandara Internasional King Fahd, serta beberapa pelabuhan di Ras Tanura, Jizan, dan Jeddah.
Seperti dikutip Middle East Monitor, video itu berlatar narasi dari pemimpin Houthi, Abdul Malik Al-Houthi, yang mengatakan, "Amerika mengirimkan pesan kepada kami bahwa mereka akan menekan rezim Saudi agar mengambil langkah agresif."
Menyinggung langsung kerajaan Saudi, Houthi menambahkan, "Amerika berusaha untuk menjerat kalian (Saudi), dan jika Anda mau, coba saja. Jika Anda menginginkan kebaikan pada diri Anda, stabilitas negara dan ekonomi Anda, maka hentikan konspirasi melawan negara kami."
Israel membombardir kota pelabuhan Hodeidah di Yaman pada Sabtu (20/7/2024). IDF melakukannya sebagai balasan atas serangan drone Houthi ke Tel Aviv sehari sebelumnya. Beberapa analis mempertanyakan, bagaimana mungkin Israel bisa membombardir wilayah Yaman tanpa bantuan ruang-udara di negara-negara Arab sekitar Yaman, termasuk Arab Saudi.
Juru Bicara Kementerian Pertahanan Arab Saudi, Brigadir Jenderal Turki al-Maliki, seperti dikutip Saudi Gazette, menegaskan bahwa pihak Kerajaan tidak akan mempersilakan entitas manapun menyalahi aturan batas ruang-udara Saudi. Ia juga menampik isu bahwa Saudi berkaitan dengan serangan atas Pelabuhan Hodeidah, Sabtu lalu.
"Kerajaan tidak memiliki hubungan atau keterlibatan dalam penargetan Hodeidah, dan Kerajaan tidak akan mengizinkan entitas mana pun melanggar wilayah udaranya," kata Al-Maliki dalam sebuah pernyataan di media sosial X pada Ahad (21/7/2024).
Houthi Ancam Bom Saudi, Ini Respons PBNU
Pejuang Houthi akan menyerang Arab Saudi jika negara itu tebukti membantu Israel. [324] url asal
#houthi #israel #gaza #israel #israel-serang-houthi #yaman #islam #pbnu
(Republika - Khazanah) 22/07/24 18:27
v/11694468/
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Fahrur Rozi atau Gus Fahrur berharap ancaman Houthi di Yaman untuk membom beberapa infrastruktur penting di Arab Saudi tidak terjadi. Pejuang Houthi akan menyerang Arab Saudi jika negara itu tebukti membantu Israel menyerang Yaman.
"Kita berharap agar tidak terjadi, semoga Allah melindunginya dan mencegah pertumpahan darah umat Islam," ujar Gus Fahrur saat dihubungi Republika.co.id, Senin (22/7/2024).
Saudi Arabia sebagai negara Islam, kata dia, tentu akan berpikir dua kali untuk mendukung agresi militer Israel yang telah membantai rakyat Palestina. Karena itu, menurut dia, para ulama dunia juga harus mencegah serangan dari Houthi tersebut.
"Semua ulama harus mencegah, ikatan akidah Islam saya yakin masih mampu menyatukan hati para pemimpin dunia Islam," ucap Gus Fahrur.
Sebelumnya, Israel membombardir kota pelabuhan Hodeidah di barat Yaman pada Sabtu (20/7/2024), sebagai balasan atas serangan drone Houthi ke Tel Aviv sehari sebelumnya. Beberapa analis mempertanyakan bagaimana Israel bisa membombardir wilayah Yaman tanpa bantuan ruang udara di negara-negara Arab di kawasan.
Lantas pejuang Houthi di Yaman mengancam akan membom infrastruktur penting di Arab Saudi jika negara itu membantu Israel dan negara-negara Barat terkait esklasi konflik beberapa hari terkahir ini.
Lewat cuplikan video yang dirilis departemen media mereka, pada Ahad (21/7/2024), Houthi mengincar objek-objek vital seperti Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah, Bandara Internasional King Fahd di Dammam, dan juga beberapa pelabuhan di Ras Tanura, Jizan, dan Jeddah.
Sementara, Juru Bicara Kementerian Pertahanan Arab Saudi, Brigadir Jenderal Turki Al-Maliki menegaskan bahwa pihak Kerajaan tidak akan mempersilakan entitas manapun menyalahi aturan batas ruang udara mereka.
Al-Maliki pun menegaskan, Arab Saudi tidak memiliki kaitan dengan serangan di pelabuhan Hodeidah, Yaman.
"Kerajaan tidak memiliki hubungan atau keterlibatan dalam penargetan Hodeidah, dan Kerajaan tidak akan mengizinkan entitas mana pun melanggar wilayah udaranya," kata Al-Maliki dalam sebuah pernyataan di media sosial X pada Ahad (21/7/2024).
Mengapa Houthi dari Negara Miskin Berani Lawan Israel, Sedangkan Negara Kaya Teluk Diam?
Drone Houthi berhasil melintasi sejumlah negara sebelum jatuh ke Tel Avi. [884] url asal
#israel-serang-houthi #israel-gempur-houthi #perang-israel-houthi #houthi-perang-lawan-israel #israel-serang-gaza #kelompok-houthi
(Republika - News) 22/07/24 15:37
v/11677589/
REPUBLIKA.CO.ID, HUDAYDAH -- Sebuah pesawat tak berawak Yaman menyerang bangunan di ibu kota Israel, Tel Aviv pada Kamis pekan lalu dan menewaskan sedikitnya satu orang. Pasukan Houthi menyebut drone mereka melewati pertahanan udara Israel dan menyatakan bahwa Tel Aviv sebagai zona tidak aman dan target utama senjata mereka.
Israel pun tak menampik dengan serangan tersebut dan menyebut pertahanan mereka bobol karena kesalahan manusia.
Video di media sosial menunjukkan drone jenis layang terbang di atas garis pantai dekat Tel Aviv sebelum tiba di kota tersebut dan menyebabkan sebuah ledakan besar.
Kelompok Houthi mengatakan, drone baru tersebut tidak dapat dideteksi oleh pertahanan udara Israel dan menamakannya Jafa, diambil dari nama Palestina untuk Tel Aviv sebelum diduduki oleh Israel.
Jalur drone menunjukkan bahwa pesawat tanpa awak itu melewati lebih dari sekedar pertahanan Israel, menempuh jarak hampir 1000 mil atau sekitar 1600 km.
“Drone Yaman tidak hanya melewati pertahanan udara Israel, tetapi juga melewati Angkatan Laut AS, Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Rudal ini berhasil melewati pertahanan udara Saudi… melewati Yordania, melewati segalanya, dan berhasil menyerang ibu kota negara pendudukan Israel,” kata jurnalis dan editor The Cradle Esteban Carrillo kepada Sputnik.
“[Israel] menyebutnya akibat kesalahan manusia. Kami melihat sesuatu masuk melalui selatan dan (mereka) tidak menganggapnya sebagai ancaman. Ya, mereka salah.”
Kelompok Houthi telah menegaskan bahwa tindakan terhadap Israel dilakukan sebagai solidaritas terhadap warga Palestina di Gaza yang menderita akibat kampanye militer Israel yang digambarkan sebagai genosida oleh banyak pemimpin dunia dan organisasi hak asasi manusia.
Ironisnya, Yaman merupakan salah satu negara termiskin di dunia yang berani dengan gagah melawan Israel. Sementara di sekitarnya,terdapat beberapa negara Arab kaya di wilayah tersebut, yang memiliki sumber daya untuk berbuat lebih banyak.
Carrillo mengatakan dia tidak terkejut bahwa negara-negara Teluk menolak berbuat lebih banyak. “Saat ini, ini sudah menjadi status quo selama beberapa dekade, bukan? Kapan Saudi pernah membantu Palestina? Kapan Irak? Kapan orang Yordania, kan? Seperti, sejak [Perang Enam Hari], [yang] sepertinya sudah lama sekali, mereka pada dasarnya telah menormalisasi [hubungan dengan Israel], begitu pula dengan Mesir.”
Carrillo mencatat bahwa meskipun banyak negara di kawasan ini belum secara resmi menormalisasi hubungan dengan Israel, hal ini seolah telah menjadi normalisasi de facto karena keinginan negara-negara Teluk untuk menjaga hubungan hangat dengan Barat.
“Mereka masih percaya pada supremasi dan keunggulan AS, dan Israel," kata Carrillo.
“Israel selalu menjadi nomor satu. Saat ini ada kandidat presiden AS yang bersaing untuk menunjukkan siapa yang paling Zionis di antara mereka semua.”
Meskipun negara-negara Teluk tertentu lebih bersedia mengambil tindakan yang membuat marah AS, seperti ketika OPEC+ memangkas produksi minyak yang bertentangan dengan keinginan Presiden AS Joe Biden, tapi tindakan tersebut biasanya memberikan keuntungan finansial bagi negara-negara Arab. Sementara membantu Palestina hanya memberikan manfaat moral sebagai bentuk sikap etis.
“Tidak ada yang bisa diperoleh dari [membantu Palestina] kecuali sikap moralnya, bukan? Sikap etis untuk menunjukkan bahwa Anda peduli terhadap umat manusia yang dikucilkan hari demi hari selama sembilan bulan,” jelas Carrillo, seraya menambahkan bahwa ini bukanlah sesuatu yang menarik bagi para pemimpin Teluk.
Adapun gerakan kelompok Yaman dan Hizbullah di Lebanon telah memberikan dampak yang signifikan terhadap Israel. Hizbullah telah memaksa evakuasi di wilayah utara. Sementara Houthi telah menghentikan pengiriman ke Israel dan negara-negara lain.
Kekuatan gabungan Amerika dan Inggris tidak mampu menghentikan mereka. Serangan terhadap Tel Aviv membuktikan bahwa Houthi memiliki kemampuan yang lebih besar dari perkiraan sebelumnya, dan mewakili fase baru dalam perang tersebut.
“[Surat kabar Israel] Harian Walla mengatakan insiden pesawat tak berawak membuktikan bahwa 'rasa hormat telah runtuh'. Haaretz… mengatakan bahwa insiden drone ini – begitulah mereka menyebutnya – mencerminkan wajah baru dalam perang. Surat kabar Maariv mengatakan ini adalah langkah awal dari Yaman,” kenang Carrillo.
Harian Walla juga menanyakan apakah ini adalah awal perang dengan Yaman, namun secara terbuka bertanya-tanya apakah Angkatan Pertahanan Israel mampu melakukan tugas tersebut. “Dalam hal ini, muncul pertanyaan apakah IDF memiliki sarana yang tepat untuk melakukan serangan signifikan [terhadap Yaman],” tulis surat kabar tersebut (diterjemahkan).
Keberanian Houthi
Israel membalas serangan Houthi dengan menggempur Pelabuhan Hudaidah di Yaman. Juru bicara militer Houthi Yehya Saree berjanji akan menanggapi serangan tersebut, dengan mengatakan, Houthi tidak akan ragu untuk menyerang 'target vital' Israel. Houthi juga memperingatkan bahwa Tel Aviv – kota besar yang menampung sejumlah misi diplomatik – masih belum aman.
“Kami telah bersiap untuk perang jangka panjang melawan musuh ini sampai agresi berhenti dan blokade terhadap rakyat Palestina dicabut,” kata Saree.
“Respons terhadap agresi Israel atas serangan terhadap negara kami pasti akan datang dan akan sangat besar,” kata pemberontak Houthi.
Mereka juga memperingatkan akan melanjutkan operasi terhadap kapal-kapal Israel, Amerika, dan Inggris sampai Zionis menghentikan aksi pengepungan di Gaza.
Pada Ahad Israel mengatakan mereka mencegat rudal yang diluncurkan dari Yaman. Proyektil tersebut tidak melintasi wilayah Israel. Sirene roket dan rudal dibunyikan menyusul kemungkinan jatuhnya pecahan peluru. "Insiden telah selesai,” kata IDF.
Netanyahu mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Sabtu bahwa Hudaidah bukanlah pelabuhan yang 'tidak punya salah'.
“Itu digunakan untuk tujuan militer, digunakan sebagai pintu masuk senjata mematikan yang dipasok ke Houthi oleh Iran,” kata Netanyahu, seraya menambahkan bahwa Hudaidah juga telah digunakan untuk menyerang pelayaran internasional di Laut Merah.
Netanyahu juga mengatakan operasi tersebut, yang mencapai sasaran 1.800 km (1.118 mil) dari perbatasan Israel, menunjukkan musuh Israel serius dalam menanggapi ancaman.
“Hal ini memperjelas kepada musuh-musuh kita bahwa tidak ada tempat yang tidak dapat dijangkau oleh negara Israel,” kata Netanyahu.
Militer Houthi: Kami Siap Perang Jangka Panjang Lawan Israel
Houthi menyatakan tidak ragu untuk menyerang target vital Israel. [530] url asal
#israel-serang-houthi #israel-gempur-houthi #perang-israel-houthi #pejuang-houthi #houthi-perang-lawan-israel
(Republika - News) 22/07/24 08:43
v/11641059/
REPUBLIKA.CO.ID, HUDAIADAH -- Kelompok Houthi mengatakan sedikitnya enam orang tewas, tiga orang hilang, dan 83 orang lainnya terluka dalam serangan yang menghantam fasilitas minyak di Pelabuhan Hudaidah. Serangan dilancarkan oleh Israel sebagai balasan atas pengeboman di Tel Avin.
Juru bicara Houthi Mohammed Abdulsalam mengatakan serangan itu juga mengenai sasaran sipil dan pembangkit listrik. Dia mengecam apa yang disebutnya sebagai “agresi brutal Israel” yang bertujuan untuk meningkatkan penderitaan rakyat Yaman. Israe juga menekan kelompok tersebut untuk menghentikan dukungannya terhadap Gaza.
Juru bicara militer Houthi Yehya Saree berjanji akan menanggapi serangan tersebut, dengan mengatakan, Houthi tidak akan ragu untuk menyerang 'target vital' Israel. Houthi juga memperingatkan bahwa Tel Aviv – kota besar yang menampung sejumlah misi diplomatik – masih belum aman.
“Kami telah bersiap untuk perang jangka panjang melawan musuh ini sampai agresi berhenti dan blokade terhadap rakyat Palestina dicabut,” kata Saree.
“Respons terhadap agresi Israel atas serangan terhadap negara kami pasti akan datang dan akan sangat besar,” kata pemberontak Houthi.
Mereka juga memperingatkan akan melanjutkan operasi terhadap kapal-kapal Israel, Amerika, dan Inggris sampai Zionis menghentikan aksi pengepungan di Gaza.
Pada Ahad Israel mengatakan mereka mencegat rudal yang diluncurkan dari Yaman. Proyektil tersebut tidak melintasi wilayah Israel. Sirene roket dan rudal dibunyikan menyusul kemungkinan jatuhnya pecahan peluru. "Insiden telah selesai,” kata IDF.
Netanyahu mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Sabtu bahwa Hudaidah bukanlah pelabuhan yang 'tidak punya salah'.
“Itu digunakan untuk tujuan militer, digunakan sebagai pintu masuk senjata mematikan yang dipasok ke Houthi oleh Iran,” kata Netanyahu, seraya menambahkan bahwa Hudaidah juga telah digunakan untuk menyerang pelayaran internasional di Laut Merah.
Netanyahu juga mengatakan operasi tersebut, yang mencapai sasaran 1.800 km (1.118 mil) dari perbatasan Israel, menunjukkan musuh Israel serius dalam menanggapi ancaman.
“Hal ini memperjelas kepada musuh-musuh kita bahwa tidak ada tempat yang tidak dapat dijangkau oleh negara Israel,” kata Netanyahu.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan dalam sebuah pernyataan PBB bahwa dia sangat prihatin dengan laporan serangan tersebut.
Juru bicara IDF Daniel Hagari mengatakan serangan ke Yaman merupakan respons terhadap sekitar 200 rudal dan drone yang diluncurkan kelompok pemberontak ke Israel sejak Oktober, ketika perang Israel dengan Hamas di Gaza dimulai.
Sejak awal perang, pemberontak Yaman secara teratur menargetkan negara tersebut dengan drone dan rudal, yang sebagian besar telah dicegat oleh pertahanan Israel atau sekutunya.
Namun, kelompok Houthi mengklaim serangan pesawat tak berawak mereka di Tel Aviv pada hari Jumat – yang juga melukai 10 orang – dilakukan oleh pesawat tak berawak baru yang mampu 'melewati sistem intersepsi musuh.'
Houthi juga secara teratur menyerang sasaran AS dan kapal komersial di Laut Merah.
Baik Inggris maupun AS telah menanggapi serangan terhadap kapal tersebut dengan melakukan serangan terhadap sasaran Houthi di Yaman. Namun, Israel belum mengambil bagian dalam tanggapan tersebut.
Seorang pejabat pertahanan Israel mengatakan kepada CNN bahwa ini adalah 100% serangan Israel. Pejabat itu mengatakan Israel sebelumnya membiarkan AS dan Inggris memimpin dalam menanggapi serangan Houthi tetapi kali ini memutuskan untuk merespons sendiri karena kematian warga Israel di Tel Aviv.
Sejak 7 Oktober, pemberontak Houthi telah melakukan banyak serangan rudal dan drone terhadap kapal-kapal di Laut Merah dan Teluk Aden, dengan menyatakan bahwa kapal-kapal tersebut terkait dengan Israel dan sekutunya, sehingga meningkatkan ketegangan di seluruh Timur Tengah.
Houthi Ancam Bom Bandara Internasional di Arab Saudi Jika Riyadh Bantu Israel Serang Yaman
Di X, Houthi merilis video ancaman menyerang objek vital, bandara-bandara Arab Saudi. [520] url asal
#israel-bom-yaman #israel-bombardir-yaman #israel-serang-houthi #pejuang-houthi #perang-israel-hamas #gaza
(Republika - News) 22/07/24 05:02
v/11625498/
REPUBLIKA.CO.ID, Pejuang Houthi di Yaman mengancam akan membom infrastruktur penting di Arab Saudi jika negara itu membantu Israel dan negara-negara Barat terkait esklasi konflik beberapa hari terkahir ini. Lewat cuplikan video yang dirilis departemen media mereka, pada Ahad (21/7/2024), Houthi mengincar objek-objek vital seperti Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah, Bandara Internasional King Fahd di Dammam, dan juga beberapa pelabuhan di Ras Tanura, Jizan, dan Jeddah.
Seperti dikutip Middle East Monitor, video itu berlatar narasi dari pemimpin Houthi, Abdul Malik Al-Houthi, yang mengatakan, "Amerika mengirim kami pesan kepada kami bahwa mereka akan menekan rezim Saudi agar mengambil langkah agresif." Menyinggung langsung kerajaan Saudi, Al-Houthi menambahkan, "Amerika berusaha untuk menjerat kalian, dan jika anda mau, coba saja. Jika anda menginginkan kebaikan pada diri anda, stabilitas negara dan ekonomi anda, hentikan konspirasi melawan negara kami."
Israel membombardir kota pelabuhan Hodeidah di barat Yaman pada Sabtu (20/7/2024), sebagai balasan atas serangan drone Houthi ke Tel Aviv sehari sebelumnya. Beberapa analis mempertanyakan bagaimana Israel bisa membombardir wilayah Yaman tanpa bantuan ruang udara di negara-negara Arab di kawasan.
Di tengah spekulasi Israel mendapat bantuan dari Arab Saudi yang secara geografis bersebelahan dengan Yaman, Juru Bicara Kementerian Pertahanan Arab Saudi, Brigadir Jenderal Turki Al-Maliki dikutip Saudi Gazette, menegaskan, bahwa pihak Kerajaan tidak akan mempersilakan entitas manapun menyalahi aturan batas ruang udara mereka.
Al-Maliki pun menegaskan, Arab Saudi tidak memiliki kaitan dengan serangan di pelabuhan Hodeidah, di Yaman pada Sabtu.
Pejuang Houthi di Yaman pun sepertinya tak gentar usai militer Israel membombardir kota pelabuhan Hodeidah di barat Yaman pada Sabtu (20/7/2024), sebagai balasan atas serangan drone Houthi ke Tel Aviv sehari sebelumnya. Menurut laporan beberapa media, salah satunya Al-Mayadeen dilansir Jerusalem Post, Houthi merencanakan serangan balasan ke pelabuhan Eliat.
"Satu sumber di pasukan khusus Yaman kepada Al-Mayadeen mengonfirmasi bahwa terjadi koordinasi terus-menerus antara Yaman, pejuang di Jalur Gaza, dan poros militan di kawasan, di mana koordinasi itu membahas (serangan) level lanjutan," demikan bunyi laporan itu.
Ini artinya Houthi bersiap mengkoordinasikan serangan lanjutan bersama milisi di Irak dan Hizbullah di Libanon. Pejabat Houthi kepada wartawan mengatakan, bahwa serangan Israel ke Hodeidah tidak mencegah Houthi untuk melancarkan serangan balasan.
Houthi malah mengklaim serangan pada Sabtu menguatkan koordinasi mereka. Sementara, artikel lain yang dilansir Jerusalem Post menyoroti klaim bahwa, pelabuhan Eliat telah kehilangan banyak pemasukan bahkan nyaris bangkrut akibat operasi sabotase Houthi selama sembilan bulan terakhir terhadap kapal-kapal terafiliasi Israel yang melintas di perairan Yaman.
"Pejuang Houthi melancarkan dua operasi kualitatif di Eilat dan Laut Merah, lewat serangan misil balistik dan drone, demi kemenangan atas ketidakadilan terhadap rakyat Palestina dan mujahid mereka, dan sebagai respons kepada penjajahan AS-Inggris-Israel terhadap rakyat Yaman," laporan ketiga menyebutkan.
Al-Mayadeen juga membuat laporan bahwa Arab Saudi tidak akan membuka ruang udaranya sehingga bisa digunakan oleh Israel dalam rangka menyerang Yaman. Houthi juga sudah memperingatkan Riyadh untuk tetap berada di luar konflik. Diketahui, Arab Saudi pernah turut campur dalam perang saudara di Yaman pada 2015 dan ikut memerangi Houthi selama beberapa tahun sebelum akhirnya mencapai kesepakatan gencatan senjata.
KBRI Muscat: Tidak Ada WNI Korban Serangan Israel ke Pelabuhan Yaman
Dua korban tewas dan 80 orang lainnya terluka akibat serangan udara Israel di Yaman. [280] url asal
#yaman-diserang #israel-serang-yaman #israel-serang-houthi #israel-bombardir-yaman #al-hudaidah #wni #kbri-muscat
(Republika - News) 21/07/24 13:21
v/11543539/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Luar Negeri (Kemlu) memastikan tidak ada warga negara Indonesia (WNI) yang jadi korban akibat serangan udara Israel ke Pelabuhan Hudaidah, Yaman pada Sabtu (20/7/2024).
“KBRI Muscat telah berkomunikasi dengan para WNI yang tinggal di wilayah Hudaidah. Hingga saat ini tidak ada WNI yang menjadi korban serangan,” kata Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemlu Judha Nugraha melalui pesan singkat, Ahad (21/7/2024).
Berdasarkan catatan lapor diri KBRI Muscat, terdapat 19 orang WNI yang menetap di wilayah Hudaidah. Sedikitnya dua korban tewas dan 80 orang lainnya terluka akibat serangan udara Israel di pelabuhan Al Hudaidah di Yaman barat, Sabtu.
"Kejahatan musuh Israel yang menargetkan provinsi Al Hudaidah telah menewaskan dua orang dan melukai 80 lainnya, sebagian besar dari mereka mengalami luka bakar parah," kata Kementerian Kesehatan yang berafiliasi dengan Houthi, menurut kantor berita SABA milik kelompok tersebut.
Sebelumnya, penyiar Al-Masirah melaporkan bahwa serangan udara tersebut menargetkan fasilitas penyimpanan minyak di pelabuhan Al Hudaidah. Stasiun televisi tersebut juga menayangkan gambar kebakaran besar yang diklaim terjadi setelah serangan udara di pelabuhan kota tersebut.
"Angkatan Udara Israel menyerang sasaran di kota Al Hudaidah di Yaman," situs Israel Walla mengutip seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya.
Sementara itu, tentara Israel mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pesawat tempurnya melakukan serangan udara yang menargetkan posisi Houthi di pelabuhan Al Hudaidah di Yaman.
"Serangan udara tersebut merupakan respons terhadap ratusan serangan terhadap Israel selama beberapa bulan terakhir," kata Israel.
Kelompok Houthi telah menargetkan kapal-kapal milik, berbendera, dioperasikan oleh Israel, atau menuju pelabuhan Israel di Laut Merah dan Teluk Aden dengan rudal dan drone. Aksi ini sebagai bentuk solidaritas terhadap Gaza, yang telah diserang Israel sejak 7 Oktober 2023.
Kata Houthi Setelah Israel Serang Pelabuhan Hudaidah Yaman
Houthi akan balas serangan Israel. [404] url asal
#houthi #israel-serang-houthi #israel-serang-yaman #palestina #gaza #tel-aviv #netanyahu #amerika-serikat #operasi-badai-al-aqsa #thufan-al-aqsa #two-state-solution-israel-dan-palestina #solusi-dua-neg
(Republika - Khazanah) 21/07/24 11:00
v/11534790/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kelompok Houthi Yaman, Sabtu (20/7), berjanji untuk menanggapi serangan udara Israel di Yaman barat.
Serangan Israel terhadap Al Hudaydah "bertujuan untuk memperburuk penderitaan rakyat dan menekan Yaman untuk berhenti mendukung Gaza," kata Mohammed Abulsalam, juru bicara Houthi dalam sebuah postingan di platform X.
"Kami menegaskan bahwa agresi brutal ini hanya akan meningkatkan tekad dan ketabahan rakyat Yaman dan angkatan bersenjata mereka yang berani, melanjutkan dan meningkatkan dukungan mereka terhadap Gaza," tambah juru bicara tersebut.
Mohammed al-Houthi, anggota Dewan Politik kelompok tersebut, mengancam akan melakukan operasi yang akan "mengganggu" Israel sebagai tanggapan atas serangan terhadap Al Hudaydah.
Sebelumnya pada hari yang sama, saluran Al-Masirah yang berafiliasi dengan Houthi melaporkan korban jiwa akibat serangan udara Israel di pelabuhan Al Hudaydah.
Serangan tersebut menargetkan fasilitas penyimpanan minyak di pelabuhan Al Hudaydah, serta pembangkit listrik di wilayah tersebut.
Militer Israel dalam pernyataan resminya mengonfirmasi serangan terhadap sasaran di Al Hudaydah di Yaman, mengklaim bahwa mereka terkait dengan kelompok Houthi.
Pernyataan tersebut adalah respons langsung Israel yang pertama terhadap serangan Houthi baru-baru ini.
Serangan udara Israel terjadi setelah serangan pesawat tak berawak kelompok Houthi di Tel Aviv, Jumat dini hari (19/7), yang mengakibatkan kematian satu warga Israel dan melukai sembilan lainnya.
Korban serangan Israel
Setidaknya dua orang tewas dan 80 lainnya terluka, Sabtu (20/7), dalam serangan udara Israel di pelabuhan Al Hudaydah di Yaman barat.
"Kejahatan musuh Israel yang menargetkan provinsi Al Hudaydah telah menewaskan dua orang dan melukai 80 lainnya, sebagian besar dari mereka mengalami luka bakar parah," kata Kementerian Kesehatan yang berafiliasi dengan Houthi, menurut kantor berita SABA milik kelompok tersebut.
Sebelumnya, penyiar Al-Masirah melaporkan bahwa serangan udara tersebut menargetkan fasilitas penyimpanan minyak di pelabuhan Al Hudaydah.
Stasiun televisi tersebut juga menayangkan gambar kebakaran besar yang diklaim terjadi setelah serangan udara di pelabuhan kota tersebut.
"Angkatan Udara Israel menyerang sasaran di kota Al Hudaydah di Yaman," situs Israel Walla mengutip seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya.
Sementara itu, tentara Israel mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pesawat tempurnya melakukan serangan udara yang menargetkan posisi Houthi di pelabuhan Al Hudaydah di Yaman.
"Serangan udara tersebut merupakan respons terhadap ratusan serangan terhadap Israel selama beberapa bulan terakhir," tambahnya.
Kelompok Houthi telah menargetkan kapal-kapal milik Israel, berbendera, dioperasikan atau menuju pelabuhan Israel di Laut Merah dan Teluk Aden dengan rudal dan drone sebagai bentuk solidaritas terhadap Gaza, yang telah berada di bawah serangan gencar Israel sejak 7 Oktober 2023.
Balas Serangan, Jet Tempur Israel Bombardir Houthi di Pelabuhan Hodeidah Yaman
Serangan Israel ke Yaman menewaskan sedikitnya 3 orang dan melukai 87 warga Yaman. [386] url asal
#israel-serang-yaman #israel-serang-houthi #israel-vs-yaman #israel-vs-houthi #israel-serang-pelabuhan-hodeidah-yaman #perang-israel-yaman #perang-israel-houthi
(Bisnis.Com - Terbaru) 21/07/24 09:43
v/11522190/
Bisnis.com, JAKARTA — Jet tempur Israel menyerang sasaran militer Houthi di dekat pelabuhan Hodeidah Yaman pada Sabtu (20/7/2024) waktu setempat.
Serangan Israel ke Yaman tersebut menewaskan sedikitnya 3 orang dan melukai 87 lainnya. Serangan itu diluncurkan sehari setelah pesawat nirawak (drone) yang diluncurkan oleh Houthi menyerang pusat ekonomi Israel, di Tel Aviv.
Kementerian Kesehatan Yaman dikutip TV Al-Masirah menyatakan bahwa sebagian besar yang terluka menderita luka bakar parah akibat serangan udara yang menargetkan fasilitas minyak dan pembangkit listrik itu.
Penduduk Hodeidah mengatakan bahwa ledakan terdengar di seluruh kota selama pemboman intensif, dan TV Al-Masirah mengatakan pasukan pertahanan sipil dan petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api di tangki minyak pelabuhan.
Juru bicara militer Israel mengatakan pelabuhan itu telah digunakan oleh Houthi untuk menerima pengiriman senjata dari Iran.
Dilansir Reuters, dia mengatakan bahwa sasarannya adalah yang berjarak lebih dari 1.700 km (1.056 mil) dari Israel, termasuk lokasi dengan fungsi ganda seperti infrastruktur energi.
Israel telah memberitahu sekutu sebelum serangan itu dilakukan, yang menurut militernya serangan itu dilakukan oleh jet tempur F-15 Israel, dan semuanya telah kembali dengan selamat.
Dewan Politik Tertinggi Houthi mengatakan akan ada respons terhadap serangan tersebut. Juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengatakan Houthi tidak akan ragu untuk menyerang target vital musuh Israel.
Serangan terhadap Yaman, yang menurut pejabat Israel terjadi setelah lebih dari 200 serangan Houthi terhadap Israel, dipicu kekhawatiran perang di Palestina. Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant mengatakan bahwa kebakaran yang saat ini berkobar di Hodeidah terlihat dari seluruh Timur Tengah.
"Kelompok Houthi menyerang kami lebih dari 200 kali. Pertama kali mereka melukai warga negara Israel, kami menyerang mereka. Dan kami akan melakukan ini di tempat mana pun yang mungkin diperlukan," katanya.
Seperti diketahui sebelumnya, sebuah pesawat drone jarak jauh buatan Iran yang diluncurkan dari Yaman menghantam pusat Kota Tel Aviv dalam serangan yang diklaim oleh pihak Houthi, menewaskan 1 orang dan melukai 4 lainnya, pada Jumat (19/7/2024).
Serangan itu menyusul meningkatnya baku tembak harian antara pasukan Israel dan milisi Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon Selatan dan terjadi saat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bersiap untuk melakukan perjalanan ke Washington, di mana dia akan berpidato di hadapan Kongres AS.
Netanyahu menghimbau masyarakat internasional untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran dan proksinya Houthi, Hamas, dan Hizbullah, dengan demikian dia mengklaim dapat membantu mengamankan rute perdagangan internasional.