#30 tag 24jam
Guardian: Elon Musk Sebar Artikel Hoaks Soal Kerusuhan di Inggris, Dilihat 2 Juta Kali
Musk menghapus unggahannya setelah sekitar 30 menit tayang. [306] url asal
#kerusuhan-anti-muslim #kerusuhan-di-inggris #elon-musk #elon-musk-sebar-artikel-hoaks #elon-musk-dan-inggris #elon-musk-di-x
(Republika - News) 09/08/24 18:10
v/13942813/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemilik X, Elon Musk membagikan sebuah artikel palsu yang mengklaim bahwa Perdana Menteri Inggris Keir Starmer sedang mempertimbangkan untuk mengirim para perusuh sayap kanan ke "kamp penahanan darurat" di Falklands.
Musk menghapus unggahannya setelah sekitar 30 menit tayang. Meski demikian, tangkapan layar yang diambil oleh Politics.co.uk menunjukkan bahwa unggahan tersebut telah dilihat hampir dua juta kali sebelum dihapus, lapor Guardian.
Di dalamnya, Musk membagikan gambar yang diposting oleh salah satu pemimpin kelompok sayap kanan Britain First, Ashlea Simon, yang diberi judul, "kita semua dideportasi ke Kepulauan Falkland".
Berita palsu tersebut, yang dikatakan ditulis oleh seorang reporter berita senior untuk Telegraph dan dibuat dengan gaya surat kabar tersebut, mengatakan bahwa kamp-kamp di Falklands akan digunakan untuk menahan para tahanan dari kerusuhan yang sedang berlangsung karena sistem penjara di Inggris telah melebihi kapasitas.
The Telegraph mengatakan pada Kamis, mereka tidak pernah menerbitkan artikel yang dimaksud. Dalam sebuah pernyataan, juru bicara Telegraph Media Group mengatakan: "Ini adalah judul yang dibuat-buat untuk sebuah artikel yang tidak ada. Kami telah memberi tahu platform yang relevan dan meminta agar postingan tersebut diturunkan."
Dalam sebuah postingan di X, surat kabar tersebut mengatakan bahwa mereka menyadari adanya gambar yang beredar di X yang diklaim sebagai artikel Telegraph tentang kamp penahanan darurat." Tidak ada artikel seperti itu yang pernah diterbitkan oleh Telegraph."
Musk tidak meminta maaf karena membagikan laporan palsu tersebut, tetapi terus membagikan materi yang mengkritik tanggapan pemerintah Inggris dan otoritas penegak hukum terhadap kerusuhan itu.
The Guardian berupaya menghubungi X untuk memberikan komentar, namun hanya mendapatkan jawaban otomatis yang berbunyi: "Sibuk sekarang, silakan periksa kembali nanti."
Pada Kamis, Musk membagikan wawancara Sky News di mana Stephen Parkinson, direktur penuntutan umum di Inggris dan Wales, mengatakan bahwa petugas polisi sedang menjelajahi media sosial untuk mencari materi yang menghasut kebencian rasial. "Ini benar-benar terjadi," kata Musk.
Ada 'Tangan Israel' di Balik Kerusuhan Anti-Muslim di Inggris?
Ada peningkatan signifikan dalam sentimen anti Muslim terkait Gaza. [1,021] url asal
#aksi-anti-imigran #kerusuhan-anti-muslim #kerusuhan-anti-islam #kerusuhan-di-inggris #kerusuhan-inggris #inggris-dilanda-kerusuhan #kerusuhan-bakar-inggris #muslim-di-inggris #islamofobia-di-inggris
(Republika - Khazanah) 09/08/24 16:38
v/13931146/
REPUBLIKA.CO.ID, Inggris yang terbakar oleh kerusuhan sosial baru-baru ini mengejutkan dunia. Terlebih, kerusuhan tersebut dipicu oleh informasi hoaks yang muncul dari sejumlah akun aktivis sayap kanan di negeri Raja Charles tersebut. Tidak hanya menyerang petugas, para perusuh melakukan pembakaran, menyerang masjid, mengepung hotel imigran hingga mengintimidasi orang-orang yang mereka duga merupakan Muslim.
Jurnalis yang juga merupakan kontributor Palestine Chronicle, Robert Inlakesh menulis adanya dugaan pengaruh Israel dalam kerusuhan di Inggris lewat artikel bertajuk Anti-Muslim Crimes – Israel’s Hand in Instigating the Racist UK Riots atau Kejahatan Anti-Muslim - Tangan Israel dalam Memicu Kerusuhan Rasis di Inggris’ yang dimuat di Palestine Chronicle, Kamis (8/8/2024).
Dia mengungkapkan, para influencer sayap kanan yang memotivasi kerusuhan rasial tersebut mencoba untuk menghubungkan penyebab anti-imigran dengan Israel. Inlakesh bahkán menduga sebagian besar dari mereka adalah pendukung bayaran untuk perang Israel di Gaza.
Menurut Inlakesh, setelah serangan 7 Oktober yang dipimpin Hamas terhadap Israel, peningkatan retorika anti-Islam menjadi sangat tinggi.Dewan Hubungan Islam-Amerika (CAIR), jumlah pengaduan yang diterima atas insiden Islamofobia pada tahun 2023 - yang sebagian besar terjadi setelah 7 Oktober - merupakan terbesar dalam sejarah 30 tahun kelompok hak-hak sipil tersebut.
Menurut statistik yang diberikan pada tahun ini, insiden Islamofobia meningkat70% pada paruh pertama tahun 2024. Di Inggris, peningkatan Islamofobia jauh lebih buruk karena data Islamophobia Response Unit (IRU) menunjukkan peningkatan 365% dalam kejahatan kebencian anti-Muslim setelah 7 Oktober.
Data ini menunjukkan, ada peningkatan signifikan dalam sentimen anti-Muslim yang secara langsung terkait dengan pemberitaan terkait perang antara Gaza dan Israel, baik di media sosial maupun di media mainstream. Meskipun ada berbagai penelitian yang menunjukkan bias media mainstream, mayoritas opini garis keras saat ini dinilai dibentuksecara online.
Kontroversi Tommy Robinson..
Aktivis sayap kanan Tommy Robinson menjadi salah satu aktor kerusuhan sosial yang sedang berlangsung di Inggris. Robinson bahkan berkontribusi dalam menyebarkan nama Muslim yang dibuat-buat sebagai pelaku pembunuhan tiga anak perempuan di Southport pada akhir Juli lalu.
Tidak lama kemudian, nama palsu yang dirilis dan dipromosikan seolah-olah menjadi bukti adanya masalah dengan para pencari suaka Muslim yang kejam di Inggris, terbukti palsu, namun disinformasi ini menjadi katalisator bagi kerusuhan yang akan terjadi.
Tommy Robinson bahkan, mengatakan kepada 800.000 pengikutnya di X bahwa ada "lebih banyak bukti yang menunjukkan Islam adalah masalah kesehatan mental dan bukannya agama perdamaian".
Setelah memicu ketegangan, mengaitkan peristiwa penikaman massal yang mengerikan dengan "imigrasi ilegal" dan mendesak agar ada sesuatu yang dilakukan untuk mengatasinya, orang-orang seperti Tommy Robinson dengan cepat melompat ke dunia maya untuk menjauhkan diri mereka dari kekerasan.
Meski demikian, mereka membenarkan kerusuhan tersebut. Menariknya, poin pertama yang disampaikan Robinson dalam videonya mengenai kerusuhan tersebut bukanlah mengenai imigrasi ilegal, melainkan mengenai Hamas.
Tommy Robinson memberikan penjelasan pembuka mengenai kerusuhan anti-imigran:'Mengapa orang-orang marah? Saya akan memberi tahu Anda mengapa mereka marah - karena Hamas dibiarkan menguasai London. Mengambil alih ibu kota kita. Setiap minggu mengibarkan bendera ISIS, bendera Hamas. Menyerukan Jihad.Polisi tidak melakukan apa-apa. Tidak ada. Malah mereka menangkap saya."'
Dia kemudian melanjutkan dengan mengatakan bahwa "tindakan Anda dalam tiga minggu terakhir atau sejak tanggal 7 Oktober, Anda telah menciptakan ribuan Tommy Robinson".
Tommy Robinson punya rekam jejak hubungan dengan Israel. Inlakesh mengungkapkan, dia pernah dibawa dalam tur militer Israel, berpose untuk foto-foto dengan kaos tentara Israel dan di atas tank yang beroperasi di wilayah pendudukan. Dia bahkan pernah mengatakan bahwa ia akan bertempur dalam perang untuk Israel.
Tommy Robinson menjadi terkenal ketika ia ikut mendirikan 'Liga Pertahanan Inggris' (EDL) yang secara eksplisit anti-Islam, yang dikenal karena kerusuhan dan pawai rasis. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa salah satu pendiri EDL adalah seorang pria bernama Paul Ray, yang pernah bekerja untuk intelijen Israel untuk menyusup dan memata-matai Gerakan Solidaritas Internasional (ISM).
Dalam sebuah thread yang diposting ke X (sebelumnya Twitter), aktivist pro Palestina yang juga berprofesi sebagai rapper, Lowkey merinci hubungan EDL dengan gerakan Zionis, dengan mencatat bahwa "EDL English Defence League LTD didaftarkan di rumah perusahaan (situs web pemerintah Inggris) oleh mantan tentara Israel, Roberta Moore. Dia adalah kepala Unit Yahudi EDL, yang memiliki sekitar 100 anggota. Ketika ditanya apakah EDL mengeksploitasi Gerakan Zionis, ia menjawab, "Jika ada, kami yang mengeksploitasi mereka."
PadaFebruari 2013, Roberta Moore mengubah nama EDL di perusahaan-perusahaannya menjadi Liga Pertahanan Yahudi Inggris. Moore berfoto bersama pemimpin Liga Pertahanan Yahudi (JDL) di Kanada, Meir Weinstein.
JDL pernah dilarang sebagai organisasi teroris di Amerika Serikat. JDL secara luas dipahami sebagai sayap bersenjata dari Partai Kach, sayap kanan mantan anggota Knesset Israel, Meir Kahane. Ketika EDL pertama kali dibentuk, pembicara utama dalam aksi-aksi mereka adalah mantan pelatih militer Israel, Rabbi Nachum Shifren.
Menurut seorang mantan karyawan Tommy Robinson, Lucy Brown, tokoh media sayap kanan itu dibayar 10.000 poundsterling per bulan oleh Miliarder Zionis Robert Shillman.
Hal ini, sebagaimana sebuah investigasi yang diterbitkan oleh The Guardian menemukan bahwa dengan dana dari Shillman, outlet media sayap kanan Kanada yang disebut 'Rebel News' membayar Tommy Robinson dengan gaji 5.000 poundsterling per bulan. Selain itu, terungkap pula bahwa lembaga think tank yang berbasis di Philadelphia bernama 'Middle East Forum' (MEF) milik Zionis mengakui membayar Robinson sedikitnya 60.000 poundsterling.
"Oleh karena itu, tidak mengherankan jika dia menyuntikkan retorika anti-Palestina yang tidak relevan ke dalam komentarnya tentang kerusuhan yang dia bantu dorong, sambil terus membenarkan, meskipun berhati-hati untuk tidak mendukung kekerasan,"ujar Inlakesh.
Beberapa tokoh sayap kanan lainnya yang baru-baru ini muncul setelah peristiwa 7 Oktober dinilai kerap mengaitkanmengaitkan Israel dengan hal-hal anti-imigran yang mereka dukung.
Dia pun mencontohkan Douglas Murray, yang langsung diterbangkan ke Tel Aviv dan menjadi pembela genosida Israel di Gaza, sembari mempromosikan hoaks propaganda 7 Oktober.
Murray muncul untuk menyajikan propaganda yang dikemas dengan rapi tentang Timur Tengah, Muslim, Pencari Suaka, dan apa yang disebut sebagai nilai-nilai Barat. Meskipun kurang relevan, dia bahkan masuk untuk menjadi pembawa acara Piers Morgan tanpa disensor saat pembawa acara tersebut beristirahat.
"Jika kita ambil contoh orang lain, seperti Katie Hopkins, yang juga melakukan perjalanan ke Israel dan mengunggah foto dirinya mengenakan kaos tentara Israel, mereka juga mengemas pesan anti-Islam dan anti-imigran mereka dengan poin-poin pro-Israel."
430 Orang Ditangkap Terkait Kerusuhan di Inggris
Tiga gadis muda tewas dan 10 lainnya terluka parah. [164] url asal
#muslim-inggris-dermawan #kerusuhan-anti-muslim #inggris #kerusuhan-di-inggris #kerusuhan-anti-islam
(Republika - Khazanah) 08/08/24 23:02
v/13840663/
REPUBLIKA.CO.ID, LONDON --Hampir 430 orang telah ditangkap di Inggris sejak pecahnya kerusuhan menyusul serangan penikaman di kota Southport minggu lalu, kata Dewan Kepala Polisi Nasional (NPCC) pada Rabu.
"Sekitar 120 orang telah didakwa dan 428 penangkapan telah dilakukan, dengan jumlah itu diperkirakan akan meningkat secara signifikan hari demi hari," kata NPCC dalam sebuah pernyataan.
Aparat penegak hukum bekerja sama dengan sistem peradilan pidana untuk memastikan bahwa pelanggar akan ditahan dan dipenjara sesuai dengan tindakan mereka, kata polisi.
Tiga gadis muda tewas dan 10 lainnya terluka parah dalam serangan penikaman di klub tari anak-anak di Southport minggu lalu. Polisi menangkap seorang anak laki-laki berusia 17 tahun dan mendakwanya dengan tiga tuduhan pembunuhan dan 10 tuduhan percobaan pembunuhan. Serangan tersebut tidak dianggap sebagai tindakan terorisme.
Aparat penegak hukum Inggris menuduh Liga Pertahanan Inggris yang berhaluan kanan jauh memicu protes, sementara beberapa media negara tersebut melaporkan bahwa Rusia berada di balik kerusuhan tersebut. Kedutaan Besar Rusia di London dengan tegas menolak tuduhan tersebut.
Muslim Inggris Berderma ke Non Muslim, MUI: Cerminan Ajaran Allah
Muslim Inggris meski rajin berderma tapi kerap jadi sasaran kebencian. [385] url asal
#muslim-inggris-dermawan #kerusuhan-anti-muslim #muslim-inggris #islam #dermawan
(Republika - Khazanah) 08/08/24 22:57
v/13835081/
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Fakta menunjukkan meski kerap menjadi korban islamofobia, vandalisme tempat ibadah dan kuburan, tapi umat Islam di Inggris terbukti paling dermawan dibanding kelompok lainnya di inggris, bahkan mereka berderma bukan hanya ke umat Islam saja, tapi juga ke non Islam.
Merespons hal itu, Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof Sudarnoto Abdul Hakim mengatakan, apa yang dilakukan umat Islam di Inggris tersebut merupakan cerminan kehidupan sehari-hari umat Islam. Sehingga, sikap seperti itu harus dipertahankan.
"Tidak peduli Islam maupun bukan Islam jadi kemuliaan ini merupakan cerminan dari ajaran Allah," ujar Prof Sudarnoto saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (8/8/2024).
Dia menjelaskan, agama Islam memang menganjurkan pemeluknya untuk melakukan berbagai perbuatan yang mulia serta memperkokoh imannya. Menurut dia, umat Islam juga diwajibkan melaksanakan ibadah yang diajarkan Rasulullah.
"Semua ibadah yang diajarkan oleh Rasulullah kita lakukan. Ini untuk menggambarkan hubungan vertikal kita dengan Allah," ucap dia.
Sedangkan secara sosial, lanjut dia, umat Islam diajarkan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang baik dan bermanfaat untuk banyak kalangan masyarakat. Dalam hal ini, menurut dia, Islam mengajarkan untuk menghormati segala perbedaan, termasuk perbedaan agama.
"Nah itulah sebetulnya kita beruntung ajaran Islam kita mengajarkan hal-hal yang yang baik-baik itu memberikan pertolongan kepada siapa saja, tidak perlu berpikir siapa yang akan ditolong, agamanya apa dan sebagainya," kata dia.
Meskipun umat Islam di Inggris minoritas, menurut dia, mereka kerap melakukan kegiatan sosial yang memberikan manfaat kepada banyak orang. Bahkan, menurut dia, di Eropa bahkan di Amerika, komunitas muslim juga sering mengundang orang-orang non muslim ketika melaksanakan kegiataan seperti buka puasa bersama.
"Dan benar itu, saya jadi ingat pada masa Covid itu di Eropa, bahkan juga di Amerika, masjid itu menjadi tempat untuk humanitarian program, bantuan kemanusiaan. Dan itu digerakkan oleh orang-orang Islam," jelas Prof Sudarnoto.
Dia mengatakan, nilai-nilai toleransi juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam tradisi umat Islam. Karena itu, dia pun heran terhadap kelompok ekstrem kanan di beberapa negara barat yang justru memandang orang-orang Islam sebagai ancaman.
"Menurut saya memang aneh. Nah tetapi kan umat Islam tidak surut meskipun itu didera oleh oleh kebencia, didera oleh buli, didera oleh vandalisme bahkan juga tindakan-tindakan kekerasan," ujar Prof Sudarnoto.
"Itu untuk tidak menyurutkan orang-orang Islam untuk menghentikan perbuatan-perbuatan baiknya," ucap Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.
Tokoh Rekaan Bernama Ali al-Shakati yang Membakar Kerusuhan Anti Muslim di Inggris
Ada 27 juta tayangan di media sosial yang berspekulasi penyarang adalah Muslim. [895] url asal
#kerusuhan-inggris #kerusuhan-anti-imigran #kerusuhan-anti-muslim #kerusuhan-anti-islam #kerusuhan-di-inggris #kerusuhan-anti-migran-inggris #demonstran-inggris #pemicu-demonstrasi-anti-imigran #ali-al
(Republika - Khazanah) 08/08/24 21:46
v/13835082/
REPUBLIKA.CO.ID, Demonstrasi yang membakar kota-kota di Inggris berawal dari peristiwa penikaman yang menewaskan nyawa tiga gadis belia pada akhir Juli lalu. Para pengunjuk rasa yang termakan isu hoaks menyalahkan imigran Muslim sebagai pelaku pembunuhan. Padahal, polisi sudah menyatakan pembunuh bukanlah Muslim bahkan pelaku yang merupakan remaja Kristen muncul di pengadilan.
Di Southport pada Selasa lalu, para pengunjuk rasa melempari batu bata ke arah polisi dan masjid setempat, melukai lebih dari 50 polisi. Keesokan harinya di London,, protes serupa terjadi dengan para demonstran di dekat Downing Street meneriakkan, "Selamatkan anak-anak kami," dan "Kami ingin negara kami kembali."
Inti dari protes tersebut adalah keyakinan bahwa tersangka, yang diidentifikasi sebagai Axel Rudakubana, 17 tahun, dan lahir dari orang tua Rwanda di Cardiff, adalah seorang imigran Muslim, padahal bukan.
Pada Kamis, Hakim Andrew Menary di Liverpool Crown Court mencabut perintah untuk tidak menyebutkan identitas Rudakubana karena kerusuhan yang terjadi. Rudakubana juga didakwa pada Kamis lalu dengan tiga tuduhan pembunuhan, sepuluh tuduhan percobaan pembunuhan dan satu tuduhan kepemilikan benda tajam.
Lantas, darimana dan bagaimana informasi hoaks ini dimulai?
Pada Senin, tiga anak perempuan - berusia 6, 7 dan 9 tahun - tewas akibat penikaman di sebuah acara tarian dan yoga bertema Taylor Swift untuk anak-anak di Southport. Delapan anak dan dua orang dewasa juga terluka.
Tidak banyak informasi yang dirilis mengenai tersangka mengingat dia masih berusia 17 tahun. Hukum di Inggris menyatakan jika mengidentifikasi tersangka yang masih di bawah umur adalah sebuah tindak pidana sampai proses hukum dimulai.
Meski demikian, dengan tidak adanya informasi dari organisasi media dan Kepolisian Merseyside, spekulasi yang tidak berdasar menghasilkan banyak unggahan bernada Islamofobia dan anti-imigran di media sosial.
Klaim palsu tentang asal-usul tersangka menyebar dengan cepat. Diantara informasi hoaks yang beredar yakni munculnya nama Ali al-Shakati sebagai pelaku tanpa adanya sumber resmi. Aljazeera di Instagram resminya melaporkan, nama tersebut bahkan tidak pernah ada. Ada juga klaim bahwa pelaku telah tiba di Inggris dengan perahu kecil pada tahun 2023, yang juga palsu.
Menurut Marc Owen Jones, seorang profesor studi Timur Tengah di Universitas Hamad bin Khalifa di Doha, di mana penelitiannya berfokus pada strategi pengendalian informasi, kesalahan tersebut sangat besar.
Pada 30 Juli, sehari setelah kejadian, Jones telah melacak setidaknya 27 juta tayangan di media sosial untuk postingan yang menyatakan atau berspekulasi bahwa penyerang adalah seorang Muslim, seorang migran, pengungsi, atau orang asing, katanya lewat platform X.
Influencer Andrew Tate juga mengatakan dalam sebuah video di X bahwa seorang "migran tak berdokumen" yang "tiba dengan perahu" telah menyerang para gadis di Southport.
"Jiwa orang Barat begitu hancur sehingga ketika para penjajah membantai anak-anak perempuan Anda, Anda sama sekali tidak melakukan apa-apa," kata Tate.
Akun-akun lain di X juga menyalahkan Muslim atas serangan tersebut, termasuk Channel 3 Now, yang mengaku sebagai organisasi berita namun latar belakangnya masih belum jelas. Akun ini kemudian menyatakan permintaan maaf atas penyebaran informasi yang keliru tersebut, tulis Aljazeera.
Siapa penyebar informasi hoaks tersebut?
Pada Selasa, Tommy Robinson, seorang juru kampanye sayap kanan anti-Islam, mengatakan kepada 800.000 pengikutnya di X bahwa ada "lebih banyak bukti yang menunjukkan Islam adalah masalah kesehatan mental dan bukannya agama perdamaian".
"Mereka menggantikan bangsa Inggris dengan para pendatang yang bermusuhan, penuh kekerasan, dan agresif. ... Anak-anak Anda tidak penting bagi [pemerintah Partai Buruh]," kata dia.
Keterlibatan aktivis sayap kanan..
Menurut Kepolisian Merseyside, anggota Liga Pertahanan Inggris sayap kanan, yang didirikan Robinson, termasuk di antara mereka yang melakukan kerusuhan di Southport pada Selasa.
Pada saat yang sama, anggota parlemen sayap kanan Nigel Farage mengunggah video berdurasi satu menit di X yang mempertanyakan apakah polisi, yang mengatakan bahwa serangan itu tidak "terkait teror", mengatakan yang sebenarnya.
Dengan banyaknya disinformasi yang tersebar di dunia maya, anggota parlemen dari Southport, Patrick Hurley, mengatakan kepada program Radio 4 Today di BBC pada Rabu lalu bahwa aksi protes diinisiasi oleh orang-orang dari luar kota.
Dia menambahkan, para preman yang telah menguasai kereta api. Mereka menggunakan kematian tiga anak kecil untuk tujuan politik mereka sendiri.
Di X, Jones juga menjelaskan bahwa setelah serangan apa pun, ada upaya yang jelas untuk mengeksploitasi insiden tragis tersebut oleh para influencer dan grifter sayap kanan. Mereka mendorong agenda anti-imigran dan xenofobia meskipun tidak ada bukti.
Apa tanggapan dari polisi dan pemerintah?
Setelah protes digelar pada Rabu di Downing Street, Perdana Menteri Keir Starmer mengecam "preman-preman kejam" yang bentrok dengan polisi di London. Starmer mengatakan bahwa mereka akan merasakan kekuatan hukum.
Kepolisian Metropolitan London mengatakan pada Kamis bahwa 111 orang telah ditangkap atas pelanggaran termasuk kekacauan dengan kekerasan dan penyerangan terhadap petugas polisi.
Orang-orang di Southport juga mengecam protes kekerasan dan telah membantu membangun kembali bagian-bagian masjid setempat, yang diserang selama protes.
Pada Kamis, Starmer bertemu dengan para pemimpin polisi senior untuk menawarkan "dukungan penuh" setelah "insiden kekerasan ekstrem dan kekacauan publik".
"Meskipun hak untuk melakukan protes damai harus dilindungi dengan cara apa pun, kami akan menegaskan bahwa para penjahat yang mengeksploitasi hak tersebut untuk menebarkan kebencian dan melakukan tindakan kekerasan akan menghadapi kekuatan penuh dari hukum," kata kantornya sebelum pertemuan tersebut.
Dalam pertemuan tersebut, perdana menteri meminta para kepala polisi di seluruh negeri untuk meningkatkan koordinasi dalam menangani protes dengan kekerasan.
Starmer juga mengutuk aksi protes tersebut dalam sebuah konferensi pers pada hari Kamis, dengan mengatakan, "Sejauh menyangkut kelompok sayap kanan, ini terkoordinasi. Ini disengaja."
"Ini bukan protes yang lepas kendali. Ini adalah sekelompok individu yang benar-benar bertekad untuk melakukan kekerasan."
Tokoh Rekaan Bernama Ali al-Shakati yang Membakar Kerusuhan di Inggris
Ada 27 juta tayangan di media sosial yang berspekulasi penyarang adalah Muslim. [895] url asal
#kerusuhan-inggris #kerusuhan-anti-imigran #kerusuhan-anti-muslim #kerusuhan-anti-islam #kerusuhan-di-inggris #kerusuhan-anti-migran-inggris #demonstran-inggris #pemicu-demonstrasi-anti-imigran #ali-al
(Republika - Khazanah) 08/08/24 13:30
v/13785096/
REPUBLIKA.CO.ID, Demonstrasi yang membakar kota-kota di Inggris berawal dari peristiwa penikaman yang menewaskan nyawa tiga gadis belia pada akhir Juli lalu. Para pengunjuk rasa yang termakan isu hoaks menyalahkan imigran Muslim sebagai pelaku pembunuhan. Padahal, polisi sudah menyatakan pembunuh bukanlah Muslim bahkan pelaku yang merupakan remaja Kristen muncul di pengadilan.
Di Southport pada Selasa lalu, para pengunjuk rasa melempari batu bata ke arah polisi dan masjid setempat, melukai lebih dari 50 polisi. Keesokan harinya di London,, protes serupa terjadi dengan para demonstran di dekat Downing Street meneriakkan, "Selamatkan anak-anak kami," dan "Kami ingin negara kami kembali."
Inti dari protes tersebut adalah keyakinan bahwa tersangka, yang diidentifikasi sebagai Axel Rudakubana, 17 tahun, dan lahir dari orang tua Rwanda di Cardiff, adalah seorang imigran Muslim, padahal bukan.
Pada Kamis, Hakim Andrew Menary di Liverpool Crown Court mencabut perintah untuk tidak menyebutkan identitas Rudakubana karena kerusuhan yang terjadi. Rudakubana juga didakwa pada Kamis lalu dengan tiga tuduhan pembunuhan, sepuluh tuduhan percobaan pembunuhan dan satu tuduhan kepemilikan benda tajam.
Lantas, darimana dan bagaimana informasi hoaks ini dimulai?
Pada Senin, tiga anak perempuan - berusia 6, 7 dan 9 tahun - tewas akibat penikaman di sebuah acara tarian dan yoga bertema Taylor Swift untuk anak-anak di Southport. Delapan anak dan dua orang dewasa juga terluka.
Tidak banyak informasi yang dirilis mengenai tersangka mengingat dia masih berusia 17 tahun. Hukum di Inggris menyatakan jika mengidentifikasi tersangka yang masih di bawah umur adalah sebuah tindak pidana sampai proses hukum dimulai.
Meski demikian, dengan tidak adanya informasi dari organisasi media dan Kepolisian Merseyside, spekulasi yang tidak berdasar menghasilkan banyak unggahan bernada Islamofobia dan anti-imigran di media sosial.
Klaim palsu tentang asal-usul tersangka menyebar dengan cepat. Diantara informasi hoaks yang beredar yakni munculnya nama Ali al-Shakati sebagai pelaku tanpa adanya sumber resmi. Aljazeera di Instagram resminya melaporkan, nama tersebut bahkan tidak pernah ada. Ada juga klaim bahwa pelaku telah tiba di Inggris dengan perahu kecil pada tahun 2023, yang juga palsu.
Menurut Marc Owen Jones, seorang profesor studi Timur Tengah di Universitas Hamad bin Khalifa di Doha, di mana penelitiannya berfokus pada strategi pengendalian informasi, kesalahan tersebut sangat besar.
Pada 30 Juli, sehari setelah kejadian, Jones telah melacak setidaknya 27 juta tayangan di media sosial untuk postingan yang menyatakan atau berspekulasi bahwa penyerang adalah seorang Muslim, seorang migran, pengungsi, atau orang asing, katanya lewat platform X.
Influencer Andrew Tate juga mengatakan dalam sebuah video di X bahwa seorang "migran tak berdokumen" yang "tiba dengan perahu" telah menyerang para gadis di Southport.
"Jiwa orang Barat begitu hancur sehingga ketika para penjajah membantai anak-anak perempuan Anda, Anda sama sekali tidak melakukan apa-apa," kata Tate.
Akun-akun lain di X juga menyalahkan Muslim atas serangan tersebut, termasuk Channel 3 Now, yang mengaku sebagai organisasi berita namun latar belakangnya masih belum jelas. Akun ini kemudian menyatakan permintaan maaf atas penyebaran informasi yang keliru tersebut, tulis Aljazeera.
Siapa penyebar informasi hoaks tersebut?
Pada Selasa, Tommy Robinson, seorang juru kampanye sayap kanan anti-Islam, mengatakan kepada 800.000 pengikutnya di X bahwa ada "lebih banyak bukti yang menunjukkan Islam adalah masalah kesehatan mental dan bukannya agama perdamaian".
"Mereka menggantikan bangsa Inggris dengan para pendatang yang bermusuhan, penuh kekerasan, dan agresif. ... Anak-anak Anda tidak penting bagi [pemerintah Partai Buruh]," kata dia.
Keterlibatan aktivis sayap kanan..
Menurut Kepolisian Merseyside, anggota Liga Pertahanan Inggris sayap kanan, yang didirikan Robinson, termasuk di antara mereka yang melakukan kerusuhan di Southport pada Selasa.
Pada saat yang sama, anggota parlemen sayap kanan Nigel Farage mengunggah video berdurasi satu menit di X yang mempertanyakan apakah polisi, yang mengatakan bahwa serangan itu tidak "terkait teror", mengatakan yang sebenarnya.
Dengan banyaknya disinformasi yang tersebar di dunia maya, anggota parlemen dari Southport, Patrick Hurley, mengatakan kepada program Radio 4 Today di BBC pada Rabu lalu bahwa aksi protes diinisiasi oleh orang-orang dari luar kota.
Dia menambahkan, para preman yang telah menguasai kereta api. Mereka menggunakan kematian tiga anak kecil untuk tujuan politik mereka sendiri.
Di X, Jones juga menjelaskan bahwa setelah serangan apa pun, ada upaya yang jelas untuk mengeksploitasi insiden tragis tersebut oleh para influencer dan grifter sayap kanan. Mereka mendorong agenda anti-imigran dan xenofobia meskipun tidak ada bukti.
Apa tanggapan dari polisi dan pemerintah?
Setelah protes digelar pada Rabu di Downing Street, Perdana Menteri Keir Starmer mengecam "preman-preman kejam" yang bentrok dengan polisi di London. Starmer mengatakan bahwa mereka akan merasakan kekuatan hukum.
Kepolisian Metropolitan London mengatakan pada Kamis bahwa 111 orang telah ditangkap atas pelanggaran termasuk kekacauan dengan kekerasan dan penyerangan terhadap petugas polisi.
Orang-orang di Southport juga mengecam protes kekerasan dan telah membantu membangun kembali bagian-bagian masjid setempat, yang diserang selama protes.
Pada Kamis, Starmer bertemu dengan para pemimpin polisi senior untuk menawarkan "dukungan penuh" setelah "insiden kekerasan ekstrem dan kekacauan publik".
"Meskipun hak untuk melakukan protes damai harus dilindungi dengan cara apa pun, kami akan menegaskan bahwa para penjahat yang mengeksploitasi hak tersebut untuk menebarkan kebencian dan melakukan tindakan kekerasan akan menghadapi kekuatan penuh dari hukum," kata kantornya sebelum pertemuan tersebut.
Dalam pertemuan tersebut, perdana menteri meminta para kepala polisi di seluruh negeri untuk meningkatkan koordinasi dalam menangani protes dengan kekerasan.
Starmer juga mengutuk aksi protes tersebut dalam sebuah konferensi pers pada hari Kamis, dengan mengatakan, "Sejauh menyangkut kelompok sayap kanan, ini terkoordinasi. Ini disengaja."
"Ini bukan protes yang lepas kendali. Ini adalah sekelompok individu yang benar-benar bertekad untuk melakukan kekerasan."
Ribuan Turun ke Jalan di Inggris Lawan Aksi Anti-Islam dan Antiimigran
Kekacauan yang dijanjikan kelompok sayap kanan mereda semalam. [696] url asal
#kerusuhan-di-inggris #kerusuhan-inggris #kerusuhan-anti-imigran #kerusuhan-anti-muslim #kerusuhan-anti-islam #aksi-tandingan-inggris
(Republika - News) 08/08/24 06:51
v/13744700/
REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Ribuan pengunjuk rasa anti-rasisme berkumpul di seantero Inggris dan membentuk perisai manusia untuk melindungi pusat suaka. Ini merupakan aksi tandingan setelah polisi memperingatkan akan adanya kerusuhan dari lebih dari 100 demonstrasi sayap kanan.
Sambil memegang plakat bertuliskan “terima pengungsi” dan “tolak rasisme”, orang-orang turun ke jalan di kota-kota besar dan kecil sembilan hari setelah negara itu diguncang oleh penikaman fatal terhadap tiga gadis di Merseyside dan kerusuhan yang terjadi setelahnya. Namun hanya ada sedikit tanda-tanda kerusuhan seperti yang terlihat selama seminggu terakhir.
Polisi melancarkan mobilisasi terbesar mereka untuk mencegah kekacauan pada Rabu, dengan mengatakan bahwa banyak dari aksi protes sayap kanan yang direncanakan berpotensi berubah menjadi kekerasan.
Kantor pengacara untuk imigran ditutup, toko-toko di jalan raya ditutup, praktik dokter umum tutup lebih awal, dan anggota parlemen diminta untuk mempertimbangkan bekerja dari rumah karena 41 dari 43 wilayah kepolisian setempat di Inggris dan Wales bersiap menghadapi potensi gangguan.
Sekitar 6.000 petugas terlatih anti huru-hara direkrut untuk mengatasi demonstrasi yang diperkirakan terjadi dan sekitar 30 protes tandingan setelah firma hukum imigrasi dan pusat pengungsi terdaftar sebagai target potensial dalam grup obrolan sayap kanan di aplikasi pesan terenkripsi Telegram.
Namun sebaliknya, ribuan pengunjuk rasa tandingan turun ke jalan di Liverpool, Birmingham, Bristol, Brighton dan London untuk melindungi komunitas mereka. Pada pukul 7 malam di Liverpool, ratusan orang membentuk perisai manusia di luar gereja yang menjadi sasaran pusat saran imigrasi sementara para wanita memegang spanduk bertuliskan “Suster melawan Nazi”.
Pemandangan serupa juga terjadi di Hackney dan Walthamstow, keduanya di London timur, dan Finchley di utara ibu kota, ketika ribuan masyarakat lokal dan aktivis anti-fasis berkumpul dan memegang plakat bertuliskan “kita adalah satu ras manusia” dan “bersatu melawan kebencian".
Di Brighton, segelintir pengunjuk rasa anti-imigrasi yang berkumpul di luar kantor hukum yang menjadi sasaran dikepung oleh polisi demi perlindungan mereka setelah mereka kalah jumlah dengan sekitar 500 pengunjuk rasa tandingan yang meneriakkan: “Minggir dari jalanan kami, sampah Nazi.” Kemudian, acara tersebut diwarnai dengan suasana karnaval jalanan dengan iringan band samba dan nyanyian nyaring.
Ketegangan berkobar di Aldershot di Hampshire setelah kelompok yang meneriakkan “hentikan kapal” bentrok dengan pengunjuk rasa yang memegang plakat “menentang rasisme” yang meneriakkan “pengungsi diterima di sini”. Puluhan petugas polisi bergegas ke jalan untuk menghentikan kelompok tersebut agar tidak terlalu dekat satu sama lain. Ada juga laporan pertempuran kecil di Blackpool.
Polisi Orthomptonshire mengatakan tiga orang telah ditangkap karena pelanggaran ketertiban umum di Northampton, dan ditahan, dan tidak ada anggota masyarakat atau polisi yang terluka.
Polisi Metropolitan mengatakan 15 orang ditangkap di seluruh ibu kota, termasuk 10 orang di Croydon karena menyerang pekerja darurat, kepemilikan senjata ofensif, dan pelanggaran lainnya setelah sekitar 50 orang berkumpul “untuk menyebabkan gangguan dan kekacauan”. “Mereka menyeret dan melemparkan benda-benda ke jalan dan melemparkan botol ke arah petugas. Ini tidak terkait dengan protes, ini tampaknya murni perilaku anti-sosial,” tambah pasukan tersebut pada X.
Namun pada pukul 9 malam, hanya sedikit pengunjuk rasa sayap kanan yang terlihat di lokasi yang diduga menjadi sasaran, meskipun pengunjuk rasa tandingan masih tetap berada di jalan.
Meskipun ada kekhawatiran akan terjadinya kekerasan dan kekacauan di Inggris dalam skala yang belum pernah terjadi sejak kerusuhan tahun 2011, pada akhirnya jumlah pengunjuk rasa yang menentangnya melebihi jumlah mereka yang mendukung protes yang dipimpin oleh kelompok sayap kanan. Di beberapa tempat, para pengunjuk rasa menemukan bahwa tidak ada orang lain di pihak lain yang muncul.
Sumber kepolisian yang mengetahui gambaran nasional mengatakan diyakini ada pertemuan kecil yang dipimpin kelompok sayap kanan di Durham, Blackpool, Norwich, Northampton, Sheffield dan Brighton.
Sumber tersebut mengatakan: “Tampaknya proses hukum yang cepat dijatuhkan kepada mereka yang terlibat dalam kerusuhan selama seminggu terakhir telah membuat orang berpikir dua kali. Pasukan sepenuhnya siap menghadapi apa yang mungkin menimpa mereka dalam bentuk kekacauan. Namun, kita telah melihat malam itu berlalu dengan sedikit atau tanpa kekerasan sama sekali.
Polisi memperkirakan beberapa hari ke depan akan relatif tenang dan lebih banyak protes tandingan diperkirakan akan terjadi pada akhir pekan ini. Sekitar 15 peristiwa di Inggris dan Wales diketahui oleh polisi, sebagian besar melibatkan pengunjuk rasa tandingan. Diyakini beberapa pertemuan yang dipimpin kelompok sayap kanan sedang terjadi, meskipun dalam skala yang jauh lebih kecil dari yang diperkirakan.
Politisi Inggris Serukan Orang yang Ucapkan ‘Allahu Akbar’ Ditangkap
Pernyataan itu dikeluarkan di tengah maraknya kerusuhan anti-Islam di Inggris. [581] url asal
#kerusuhan-di-inggris #kerusuhan-inggris #kerusuhan-anti-imigran #kerusuhan-anti-muslim #robert-jenrick #penyeru-allahu-akbar-ditangkap #kerusuhan-anti-islam
(Republika - News) 07/08/24 21:35
v/13692124/
REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Robert Jenrick, calon pemimpin Partai Konservatif Inggris menyatakan bahwa orang-orang yang meneriakkan “Allahu Akbar” di jalan-jalan di London “harus segera ditangkap”. Pernyataan ini ia lontarkan di tengah merebaknya kerusuhan antiimigran dan anti-Islam di negara tersebut.
Hal itu ia sampaikan ketika menjawab pertanyaan soal tudingan bahwa kepolisian Inggris menerapkan pilih kasih dalam penangkapan belakangan. Kepolisian dituding lekas menangkap perusuh sayap kanan dan lama memproses unsur-unsur sayap kiri dan pendemo pro-Palestina.
“Saya sangat kritis terhadap polisi di masa lalu, terutama mengenai sikap beberapa pasukan polisi terhadap protes (pro-Palestina) yang kami saksikan sejak 7 Oktober. Saya pikir sangatlah salah jika seseorang berteriak 'Allahu Akbar' di jalan-jalan London dan tidak segera ditangkap. Atau memproyeksikan nyanyian genosida ke Big Ben dan orang tersebut tidak akan segera ditangkap. Sikap itu salah dan saya akan selalu mengkritisi polisi,” ujarnya kepada Sky News, Rabu (7/8/2024).
Merujuk the Independen, pada Februari, pengunjuk rasa pro-Palestina menyorotkan frasa “Dari Sungai ke Lautan” ke Parlemen selama demonstrasi. Hal ini memicu kemarahan dari beberapa pendukung pro-Israel yang berpendapat bahwa frasa yang disengketakan tersebut menyerukan pemberantasan negara Israel.
Jenrick saat ini adalah calon kuat pemimpin Partai Konservatif mendatang. Partai terbesar di Inggris itu baru saja kalah dari Partai Buruh setelah berpuluh tahun berkuasa di Inggris.
Selepas kemarahan atas komentarnya, Jenrick membagikan video di X yang menampilkan pria berbalaclava meneriakkan “Allahu Akbar”. Jenrick kemudian menambahkan: “’Allahu Akbar’ diucapkan dengan damai dan spiritual oleh jutaan Muslim Inggris dalam kehidupan sehari-hari mereka. Tetapi teriakan agresif di bawah ini bersifat mengintimidasi dan mengancam. Dan itu merupakan pelanggaran berdasarkan Pasal 4 dan 5 Undang-Undang Ketertiban Umum. Para ekstremis sering menyalahgunakan ekspresi umum demi tujuan mereka yang memalukan. Semua kekerasan harus diakhiri. Semua kekerasan harus disingkirkan.”
Asosiasi Muslim Inggris mengecam keras komentar Jenrick. “Ini murni Islamofobia yang murni dari Robert Jenrick dan justru itulah yang mendorong para ekstremis sayap kanan Islamofobia ini,” kata sebuah pernyataan di X. “Media dan politisi perlu dimintai pertanggungjawaban atas peran mereka dalam teror yang telah terjadi. telah dilepaskan di jalan-jalan Inggris.”
Dewan Muslim mengatakan komentar tersebut menunjukkan Islamofobia institusional masih hidup dan sehat di Partai Konservatif. “Sebagai calon pemimpin, Jenrick harus menunjukkan kepemimpinan, meyakinkan komunitas kita ketika rasa takut terlihat jelas,” kata seorang juru bicara Asosiasi Muslim Inggris.
“Dia harus meminta maaf, mencabut sepenuhnya komentarnya, dan berbicara kepada umat Islam untuk memahami mengapa pernyataannya begitu keterlaluan. Daripada mengobarkan ketegangan, ia harus fokus pada cara-cara untuk menyatukan masyarakat.”
Anggota Partai Buruh Naz Shah termasuk di antara anggota parlemen yang menuntut mantan menteri tersebut meminta maaf. “Ini benar-benar kebodohan dan contoh nyata Islamofobia dari Robert Jenrick. Mereka secara harfiah menyamakan setiap Muslim di dunia dengan ekstremisme. ‘Allahu Akbar’ artinya ‘Tuhan Maha Besar’. Ini adalah kalimat mendasar Islam yang diucapkan setiap Muslim di dunia dalam doa. Ini secara signifikan merupakan kalimat pembuka adzan dan kalimat pembuka setiap doa. Miliaran dari kami umat Islam menggunakannya setiap hari sebagai bagian dari iman kami dalam doa. Ini seperti ungkapan umum yang diucapkan orang Kristen bahwa Yesus adalah juru selamat,” tulisnya di X.
“Bayangkan dalam kondisi seperti ini, entah bersikap bodoh atau sengaja mencoba menstigmatisasi seluruh umat Islam. Dia harus meminta maaf dan berbicara kepada komunitas Muslim dan belajar lebih banyak tentang agama kita.” kata Afzal Khan, anggota parlemen Partai Buruh untuk Manchester.
“Keyakinan Jenrick saat tampil di TV nasional mengatakan bahwa orang harus ditangkap karena mengatakan Allahu Akbar memperlihatkan prasangka mendalamnya terhadap Muslim,” ujar rekannya dari Partai Konservatif Baroness Sayeeda Warsi.
Kesaksian Muslim Inggris, Toko Dibakar, Dilempar Bom Molotov dan Diserang Pria Bertopeng
Komunitas Muslim Inggris hidup dalam ketakutan usai kerusuhan ekstremis kanan. [542] url asal
#muslim-inggris #ketakutan-muslim-inggris #kekhawatiran-muslim-inggris #kerusuhan-di-inggris #kerusuhan-anti-imigran #kerusuhan-anti-muslim #anti-muslim-inggris
(Republika - News) 07/08/24 09:47
v/13629750/
REPUBLIKA.CO.ID, BELFAST -- Seorang karyawan di sebuah supermarket Suriah yang diserang oleh perusuh di kota Belfast, Inggris, mengatakan komunitas Muslim hidup dalam ketakutan. Beberapa orang mempertanyakan apakah mereka bisa hidup damai setelah kekerasan bersejarah tersebut.
Bashir, yang tidak menyebutkan nama belakangnya, mengecam kepolisian Irlandia Utara atas tanggapan mereka terhadap serangan massa pada akhir pekan lalu. Ia mengatakan pada pertemuan khusus Dewan Kota Belfast pada Senin bahwa supermarket Sham telah dibom pada tiga kesempatan terpisah oleh kelompok anti- massa imigran dan anti-Muslim.
“Sekitar jam 11 malam, salah satu teman saya menelepon saya dan mengatakan toko Anda terbakar, silakan datang,” kata Bashir pada pertemuan dewan.
"Semenit kemudian, enam pria bertopeng menyerang saya. Mereka datang entah dari mana dan mencoba menikam saya. Saya hampir terbunuh. Untuk apa? Tanpa alasan. Sesuatu yang tidak saya lakukan."
Kerusuhan telah melanda Inggris selama hampir seminggu setelah kampanye misinformasi anti-imigran dan anti-Muslim menyebar di media sosial, menyusul serangan penikaman yang menyebabkan tiga anak tewas di kota Southport, Inggris utara. Beredar berita disinformasi di media sosial yang menyebut penikam adalah seorang Muslim, padahal bukan.
Axel Rudakubana, remaja berusia 17 tahun yang lahir dari orang tua Kristen Rwanda, telah didakwa melakukan pembunuhan tersebut.
Bashir mengatakan kepada dewan bahwa setelah pembunuhan tersebut, pelecehan secara khusus ditujukan terhadap “komunitas Muslim”.
Dia mengatakan bahwa dia dan pemilik toko, Abdelkader Alloush, seorang pria yang datang ke Irlandia Utara pada tahun 2016 setelah melarikan diri dari perang di Suriah, harus berdiri berjam-jam menyaksikan gedung itu terbakar sebelum mereka bisa masuk ke dalam.
"Tidak ada apa-apa, tidak ada yang tersisa di dalam sana, hanya abu."
“Kita bisa membangunnya kembali, tidak apa-apa. Tapi pertanyaannya, apakah kita bisa aman? Bisakah kita hidup damai? Bisakah kita kembali bekerja tanpa merasa takut?
"Orang-orang bisa menunjukkan simpatinya kepada kita. Itu bagus, tapi saya ingin tindakan. Polisi harus melindungi kita... kita hidup dalam ketakutan, saya hidup dalam ketakutan ketika saya berjalan di jalan."
Kekerasan ini menghadirkan tantangan yang signifikan bagi masa jabatan Perdana Menteri Partai Buruh Keir Starmer yang baru berjalan selama sebulan.
Laporan juga menyoroti agitator sayap kanan yang terkait dengan hooliganisme sepak bola pada saat elemen anti-imigrasi meraih kesuksesan dalam politik Inggris.
Starmer menuduh penjahat telah membajak 'kesedihan negara' untuk menabur kebencian. Ia berjanji bahwa mereka yang melakukan tindakan kekerasan akan dihadapi hukum penuh.
Namun, pemerintahannya dikritik karena gagal menjangkau para pemimpin dan kelompok komunitas Muslim Inggris.
Pada Senin, anggota parlemen Partai Buruh Afzal Khan menerbitkan surat yang meminta Starmer untuk berdiskusi dengan Dewan Muslim Inggris (MCB).
Dia menulis bahwa dengan adanya serangan terhadap masjid dan perusuh sayap kanan meneriakkan kebencian Islamofobia, umat Islam Inggris merasa cemas dan tidak aman.
Para pemimpin Partai Buruh perlu bertemu dengan organisasi-organisasi Muslim nasional, termasuk MCB, untuk menunjukkan dukungan tegas terhadap komunitas Muslim.
Pada Ahad, Menteri Dalam Negeri Inggris Yvette Cooper mengumumkan bahwa masjid akan diberikan perlindungan yang lebih besar.
“Serangan yang ditargetkan yang kita lihat di masjid-masjid dalam beberapa hari terakhir benar-benar memalukan,” kata Cooper.
“Ini adalah bagian dari kejahatan premanisme dan kekerasan yang kita lihat di beberapa kota besar dan kecil yang tidak bisa kita toleransi.
Setelah kerusuhan terjadi, Starmer saling melontarkan kecaman dengan Elon Musk setelah miliarder teknologi itu mengklaim gelombang kekerasan sayap kanan yang melanda Inggris "tidak bisa dihindari".
Soal Kerusuhan di Inggris, MUI: Islamofobia Sudah Akut di Inggris
Kerusuhan anti Muslim terjadi di Inggris. [35] url asal
#kerusuhan #kerusuhan #kerusuhan-anti-islam #kerusuhan-anti-muslim #islam #kerusuhan-anti-migran-inggris
(Republika - Khazanah) 06/08/24 08:30
v/13487313/
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof Sudarnoto Abdul Hakim mengatakan, protes dan kerusuhan anti imigran di Inggris adalah peristiwa yang sangat buruk sekali.
Kerusuhan Inggris Picu Keresahan Mahasiswa Indonesia | Republika Online Mobile
Kerusuhan anti-Islam masih terus terjadi di Inggris hingga Senin malam. [497] url asal
#kerusuhan-inggris #kerusuhan-di-inggris #kerusuhan-anti-migran-inggris #kerusuhan-anti-muslim #kerusuhan-anti-islam #kerusuhan-anti-imigran
(Republika - News) 06/08/24 06:45
v/13474038/
REPUBLIKA.CO.ID, LONDON — Kerusuhan yang dipicu oleh ekstremis sayap kanan di Inggris telah menyebar ke banyak kota sejak insiden penusukan tiga anak perempuan di Southport, Merseyside, Senin (29/7) lalu. Di malam berikutnya (30/7), kerusuhan pecah dekat sebuah masjid di Southport dan mulai menyebar ke berbagai kota lain di Inggris.
Kerusuhan-kerusuhan yang masih berlanjut hingga Senin (5/8/2024) tersebut menimbulkan kekhawatiran tersendiri pada warga negara Indonesia yang sedang belajar di sana. Koresponden khusus RepublikaZainur Mahsir Ramadhan menuliskan kerisauan-kerisauan tersebut.
Bukannya meredam, kurang dalam sepekan Muslim di Inggris dibuat makin gamang. Mengapa bisa terjadi? Pelaku yang disebut masih bawah umur, tidak bisa diumumkan identitasnya menurut ketentuan negara. Spekulasi muncul, dan ekstremis sayap kanan menggembar-gemborkan jika pelaku adalah pencari suaka dan beragama Muslim. Konfirmasi jika tersangka bukan migran dan Muslim dari pihak berwajib tak dipedulikan. Kerusuhan kian meluas.
Kurang dalam sepekan, kerusuhan Southport digadang-gadang menjadi kerusuhan terburuk sejak satu dekade lalu, atau dikenal sebagai kerusuhan London. KBRI di London memang telah mengeluarkan anjuran untuk waspada kepada para WNI. Hal ini merujuk pada kondisi yang ada. Terlebih, di sosial media, ramai pula aksi-aksi susulan di kota-kota lain di Inggris, salah satunya targetnya London.
Mahasiswi Indonesia di London, Kamilah Aisyi, mengaku khawatir dengan kondisi yang ada. “Makin takut, parno kalau keluar,” kata dia, Senin waktu sekitar. Dalam beberapa hari terakhir, dia menjelaskan situasi terkesan lebih menakutkan dari biasanya meski dilaporkan belum ada kerusuhan di London. “Jadi lebih sensitif tiap ada apa-apa di luar. Lebih takut,” kata dia.
Dalam penuturannya, beberapa kawan mahasiswa WNI di London dan Inggris Raya juga telah membatalkan rencana perjalanan dengan pertimbangan kondisi terkini. Untuk memenuhi perkuliahan atau kebutuhan sehari-hari, Aisyi, sapaannya, memilih pergi bersama orang yang dikenal dan menghindari area tertentu.
Hal serupa dialami WNI lain di kota-kota yang lebih kecil. Di Norwich, Inggris, Firdaus Putra (33 tahun) mengatakan hal yang sama. Dirinya mengaku enggan melewati daerah atau jalan-jalan dengan penduduk yang mayoritasnya migran atau Muslim. “Kalau ke sana paling pas shalat Jumat aja nanti. Itu juga karena butuh ke masjid,” jelas Firdaus.
Meski kewaspadaan terus dia tingkatkan, kata Firdaus, Norwich memang masih relatif aman dan kondusif. Aral melintang, ekstremis sayap kanan yang menargetkan Muslim dia nilai mempersulit kondisi. “Tiap cek kehamilan istri, jadi lebih takut. Apalagi istri pakai hijab juga,” jelasnya.
Sementara pada Senin, petugas polisi di Devon dan Cornwall mengatakan “kekerasan berkelanjutan” telah terjadi menyusul protes di Plymouth. Tiga petugas terluka dalam bentrokan di kota tersebut.
Berbicara di tempat kejadian, Inspektur Ryan North Moore mengatakan kepada Sky News: “Ini bukan protes lagi. Menurut pendapat saya, ini adalah kekerasan. Ini adalah kekerasan yang berkelanjutan.
“Sejumlah besar batu dilemparkan ke arah kami, apakah itu ditujukan kepada kami atau orang lain atau kelompok lawan – kami belum tahu. Investigasi akan mengidentifikasi hal itu. “Tapi, ya, ada tiga petugas yang tumbang.”
Ketika ditanya betapa sulitnya mengawasi protes tersebut, Inspektur Moore menambahkan, hal itu kian tak masuk akal. “Dengan sumber daya yang kami miliki, hal ini sulit dilakukan.”
Ada Peran Israel terkait Kerusuhan Anti Muslim di Inggris?
Kerusuhan anti Muslim terjadi di Inggris. [449] url asal
#inggris #kerusuhan-anti-muslim #kerusuhan-anti-islam #islam #makkah #israel #islamofobia-di-inggris #islamofobia
(Republika - Khazanah) 06/08/24 06:16
v/13469419/
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Protes anti imigran di berbagai kota di Inggris dimanfaatkan kalangan ekstremis kanan untuk meningkatkan islamofobia. Menanggapi hal tersebut, Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai bahwa sedang terjadi polarisasi di dunia.
Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional MUI, Buya Bunyam Saptomo mengatakan, kerusuhan yang terjadi di Inggris menunjukkan dunia sedang tidak baik-baik saja. Dunia sedang mengalami polarisasi gara-gara masalah yang terjadi di Palestina, yakni zionis Yahudi menjajah Palestina.
"Media Barat yang umumnya dikuasai Yahudi selalu mencitrakan Islam dan Palestina sebagai pelaku kekerasan, hal ini mengakibatkan islamofobia yang meningkat tajam di Eropa dan Amerika, seperti rumput kering di musim panas mudah terbakar," kata Buya Bunyam kepada Republika, Senin (5/8/2024) malam.
Buya Bunyam mengatakan, begitu ada berita hoaks terkait pelaku penusukan di Southport adalah seorang Muslim imigran, hoaks tersebut langsung menyudutkan umat Islam. Maka timbul kerusuhan anti imigran dan anti Islam.
"Padahal kejadian yang sebenarnya pelaku penusukan adalah seorang Kristen keturunan imigran Rwanda di Benua Afrika," ujar Buya Bunyam.
Buya Bunyam menegaskan, sudah tugas pemerintah di Inggris, Eropa dan Amerika untuk membina kerukunan masyarakatnya.
Sebagaimana diberitakan The National News pada Senin (5/8/2024), kerusuhan di Inggris dipicu oleh berita palsu di media sosial (medsos) yang menyebutkan bahwa tersangka penusukan tiga anak di Southport adalah seorang imigran Muslim.
Penusukan atau pembunuhan tiga orang anak sebenarnya dilakukan Axel Rudakubana (17 tahun) yang lahir di Wales dari orang tua imigran Rwanda yang beragama Kristen, ia didakwa atas tiga pembunuhan dan 10 percobaan pembunuhan.
Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Inggris, Dyah Mustikaning Pitha Prawesti menceritakan latar belakang terjadinya protes anti imigran yang dimanfaatkan kalangan ekstremis kanan untuk meningkatkan islamofobia di Inggris.
Dyah mengatakan, protes anti imigran di Inggris sebenarnya sudah banyak letupan-letupan sebelumnya. Tapi pemicu terbesarnya adalah kejadian menyedihkan adanya penusukan yang dilakukan oleh seorang remaja berusia 17 tahun di Southport pekan lalu. Korbannya tiga anak usia di bawah 10 tahun meninggal dunia, sementara beberapa remaja dan gurunya terluka parah.
"Karena penyerangan itu maka membuat orang-orang marah, yang tidak menolong adalah hukum di Inggris ini, karena penyerangnya di bawah umur yakni baru berumur 17 tahun, jadi tidak disebutkan namanya dan identitasnya, memang hukumnya seperti itu," kata Dyah kepada Republika, Senin (5/8/2024)
Dyah mengatakan, kalau pelaku masih di bawah umur tidak boleh diumumkan identitasnya. Kemudian terjadilah di sosial media (medsos) spekulasi-spekulasi siapa pelakunya. Salah satu spekulasi yang santer itu adalah dari kalangan ekstremis kanan, tokohnya mengatakan bahwa pembunuhan anak-anak itu dilakukan oleh imigran. Sempat juga disebut-sebut namanya dan dispekulasikan sebagai imigran Muslim yang jadi pelakunya.
Dyah mengatakan, memang banyak disinformasi yang kemudian dijadikan alasan oleh kalangan ekstremis kanan untuk kemudian meningkatkan islamofobia.