Mendag Budi Santoso menanggapi kritik terhadap Permendag 8/2024, menegaskan bahwa peraturan tersebut melindungi industri tekstil dalam negeri. [261] url asal
Kementerian Perdagangan (Kemendag) menanggapi terkait kebijakan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 8 Tahun 2024 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor yang dinilai menjadi biang kerok industri tekstil terpuruk. Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengklaim peraturan tersebut telah melindungi industri tekstil dalam negeri.
Budi pun menegaskan tidak ada revisi untuk aturan tersebut. Namun, pihaknya akan mengkaji ulang setiap saat.
"Revisi apanya? Kalau Permendag 8/2024 itu memang review. Itu setiap saat bisa dilakukan. Ini kan sebenarnya ramai mengenai tekstil kan? Permendag 8/2024 itu justru melindungi industri tekstil," kata Budi saat ditemui di Park Hyatt, Jakarta Pusat, Senin (4/11/2024).
Budi menilai mungkin masih ada yang belum memahami sepenuhnya kebijakan impor tersebut. Karena tak memahami aturan itu, maka timbul tudingan tersebut.
Terkait tuduhan kebijakan impor tersebut sebagai biang kerok industri tekstil dalam negeri, Budi menekankan bahwa mereka tidak memahami dengan aturan yang tertuang di dalamnya. Dia juga menekankan tidak ada masalah terkait aturan tersebut.
"Permendag 8/2024 enggak ada masalah. Ini mungkin beliau belum paham ya aturannya seperti apa. Mungkin karena itu aja, tapi kan sekarang kalau sudah tahu ya sudah," jelas dia.
Lebih lanjut, Permendag 8/2024 telah mengatur impor tekstil dan produk tekstil (TPT) hanya dapat masuk ke Indonesia melalui pertimbangan teknis (Pertek) yang diterbitkan Kementerian Perindustrian. Kemudian ada juga Peraturan Dirjen Perdagangan Luar Negeri Nomor 7 Tahun 2004 telah mengatur kuota impor pakaian.
"Jadi kuotanya sudah dibatasi juga. Pakaian jadi juga dikenakan bea masuk pengamanan perdagangan. Jadi, sebenarnya Kemendag ini sudah membantu semaksimal mungkin dengan instrumen atau kewenangan yang kita miliki untuk melindungi industri dalam negeri," jelasnya.
Toyota Hilux Rangga resmi dijual di Indonesia. Namun mobil ini masih diimpor secara utuh alias Completely Built Up (CBU) dari Thailand. Apa alasan Toyota-Astra Motor (TAM) mengimpor utuh Hilux Rangga dari negeri Gajah Putih?
Dijelaskan Marketing Director PT Toyota-Astra Motor (TAM) Anton Jimmi Suwandy, Toyota Indonesia mengimpor Hilux Rangga dari Thailand lantaran pusat produksi seri Hilux untuk ekspor memang ada di sana.
"Kita perlu tahu bahwa Hilux memang pusatnya di Thailand. Mereka produksi cukup besar, baik untuk domestik maupun buat ekspor. Saat ini, kalau melihat volume impor dan melihat situasi, memang masih CBU dulu ya," buka Anton di JIExpo, Kemayoran, Jakarta (15/10/2024).
Di sisi lain, meski Hilux Rangga diimpor utuh dari Thailand. Ketika mobil ini sampai tangan konsumen lalu kemudian dikonversi menjadi berbagai macam kendaraan multiguna, maka konten lokalnya juga akan besar.
"Yang kita impor lebih banyak jenis pick-up dan cab-chassis. Walaupun impor, tapi kinerja untuk domestik income-nya juga besar. Kalau membeli produk yang bensin Rp 188 juta (Cab-Chassis 2.0 Standard M/T) karoseri domestiknya lebih besar dibandingkan nilai impornya. Kalau dibeli local content-nya bahkan bisa lebih tinggi dari 40-50%. Jadi, ini merupakan kesempatan yang baik untuk karoseri di Indonesia mengembangkan bisnisnya," bilang Anton sambil mengatakan kuota impor Hilux Rangga sebanyak 500 unit setiap bulannya.
Meski begitu, Toyota Indonesia tetap membuka peluang memproduksi Hilux Rangga di Indonesia. Terlebih Toyota Indonesia juga memiliki kemampuan memproduksi mobil dari platform IMV seperti yang digunakan pada model Innova dan Fortuner. Jadi bukan hal sulit memproduksi Hilux Rangga yang juga memakai platform serupa.
"Saat ini belum ada (rencana memproduksi lokal Hilux Rangga). (Peluang memproduksi lokal) terbuka saja, karena kan sebenarnya platform IMV di Indonesia juga diproduksi. Diskusi selalu ada. Ini dinamis dan tidak menutup kemungkinan," tambah Anton.
"Tapi untuk saat ini, melihat dari total cost, produksi, dan lain-lain, ya kita masih impor dulu ya. Dalam waktu dekat ini, kira-kira per bulan rata-rata sekitar 500 unit," ungkap Anton.