Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat laba Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) atau pinjaman online (pinjol) semakin meningkat. [189] url asal
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat laba Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) atau pinjaman online (pinjol) semakin meningkat. Sampai September 2024, laba pinjol tercatat tembus Rp 806,05 miliar.
Hal ini diungkapkan oleh Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK Agusman. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan laba Agustus 2024 yang mencapai Rp 656,80 miliar.
"Per September 2024, laba industri LPBBTI meningkat sebesar 66,15% yoy menjadi Rp 806,05 miliar. Peningkatan laba ini antara lain karena adanya peningkatan pendapatan operasional," terang dia dalam keterangannya, dikutip Kamis (7/11/2024).
Sementara jumlah pinjaman dari pinjol sendiri juga tercatat meningkat. OJK mencatat sampai September 2024, outstanding pendanaan industri LPBBTI meningkat 33,73% secara tahun ke tahun menjadi sebesar Rp 74,48 triliun.
"Dengan pendanaan yang diberikan oleh Lender institusi adalah sebesar 89,98%, sementara Lender perorangan sebesar 10,02%," lanjut Agusman.
Agusman mengatakan pertumbuhan tersebut menunjukkan peningkatan partisipasi dari para Lender terhadap industri LPBBTI.
"OJK terus akan mendorong pengembangan dan penguatan terhadap industri LPBBTI ke depan agar lebih berintegritas dan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat," pungkasnya.
Bisnis.com, JAKARTA -- Platform financial technology peer-to-peer (fintech P2P) lending atau pinjaman online (pinjol) PT Inovasi Terdepan Nusantara atau 360Kredi menargetkan tahun ini bisa mencatatkan profit untuk pertama kali sejak didirikan pada September 2019.
Chief Executive Officer (CEO) 360Kredi Kuseryansyah menjelaskan terdapat 3 pilar penting yang membuat fintech P2P lending berhasil mencetak profit. Tiga pilar tersebut adalah pertumbuhan pencairan dana pinjaman, keandalan proses bisnis, dan efisiensi biaya di ekosistem pendukung.
Kuseryansyah mengatakan apabila 3 pilar ini dijaga maka tren positif peningkatan laba industri P2P lending sebesar Rp656,80 miliar pada Agustus 2024 bisa dijaga sampai akhir tahun.
"Berusaha secara disiplin dalam mengelola 3 pilar di atas kami yakin bahwa profitabitas dapat dipertahankan hingga akhir tahun 2024, dan tahun ini akan menjadi tahun pertama bagi 360Kredi mencatatkan profit," kata Kuseryansyah kepada Bisnis, Selasa (8/10/2024).
Adapun untuk mendukung peningkatan pencairan dana pinjaman, Kuseryansyah mengatakan pihaknya harus terus melakukan inovasi produk yang sesuai dengan kebutuhan pengguna dana.
Apalagi, sementasi pengguna dana 360Kredi adalah mereka yang masuk dalam kategori pengguna pinjaman pertama atau unbanked dengan profil resiko lebih tinggi jika dibandingkan dengan pengguna yang telah terakses pinjaman bank.
Selain itu, 360Kredi juga memprioritaskan melakukan penyempurnaan efektivitas proses bisnis untuk menghasilkan pengalaman terbaik bagi pengguna. Ditambah, 360Kredi juga terus memperkuat penggunaan variasi electronic know your customer (e-kyc), kemudian juga inovasi credit scoring untuk membantu melakukan profiling resiko kredit yang lebih akurat.
"Selanjutnya, efisiensi di semua lini, mulai dari aktivitas pemasaran digital, e-kyc, scoring, penyimpanan data hingga proses penagihan harus terus kami lakukan untuk menjaga profitabilitas platform," kata Kuseryansyah.
Dikutip dari laman 360Kredi, total akumulasi pinjaman yang telah disalurkan sejak perusahaan berdiri tercatat sebesar Rp3,33 triliun kepada 860.928 peminjam. Sementara untuk tahun berjalan, sampai 29 September 2024 360Kredi telah menyalurkan pinjaman sebesar Rp1,11 triliun kepada 335.621 peminjam.
Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat industri fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman online (pinjol) mulai mencatatkan peningkatan laba per Mei 2024, setelah sebelumnya mencatatkan kerugian pada awal tahun.
Adapun, fintech P2P lending kembali membukukan laba senilai Rp277,02 miliar per Mei 2024. Angka tersebut juga meningkat dari laba pada April 2024 yang mencapai Rp173,73 miliar.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK Agusman mengatakan kenaikan laba tersebut sejalan dengan penyaluran pendanaan bulanan yang meningkat.
Dengan perbaikan laba tersebut, Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) berharap pada paruh kedua masih tetap stabil. Namun demikian, mitigasi masih diperlukan industri untuk mempertahankan peningkatan laba.
“Kami masih tetap melakukan langkah-langkah konservatif untuk tetap konsentrasi pengetatan pada credit risk,” kata Ketua Umum AFPI Entjik S. Djafar kepada Bisnis, Selasa (16/7/2024).
Di sisi lain, PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia (Akseleran) mencatat perusahaan terus meraih laba setiap bulannya dari awal tahun ini.
Group CEO & Co-Founder Akseleran Ivan Nikolas Tambunan mengatakan perseroan justru membalikkan laba baik di operating company, maupun di holding group, setelah pada tahun lalu merugi.“Kami optimistis tahun ini targetnya bisa mencapai Rp18 miliar–Rp20 miliar,” kata Ivan saat dihubungi Bisnis pada Selasa (16/7/2024).
Ivan menyebut tantangan yang mungkin dihadapi perseroan pada paruh kedua yakni salah satunya suku bunga. Pihaknya berharap suku bunga tidak naik lagi karena dapat berimbas pada aktivitas usaha dan permintaan terhadap pinjaman usaha.
“Ini main challenge-nya [tantangan utamanya], juga bagaimana tetap menjaga risk dengan baik supaya NPL [nonperforming loan] tetap konsisten rendah. Ini jadi fokus kami ke depan agar terus jadi sustainable,” ungkapnya.
Diketahui pada Januari—Februari 2024, penyelenggara fintech P2P lending mencatatkan kerugian senilai Rp135,6 miliar dan Rp97,55 miliar. Setelah sebelumnya terus mencatatkan laba hingga Desember 2023 senilai total Rp478 miliar.
Direktur Eksekutif AFPI Yasmine Meylia Sembiring menyebut salah satu faktor yang menyebabkan kerugian tersebut salah satunya adalah aturan penurunan bunga fintech P2P lending.
Pegawai mencari informasi tentang pinjaman online (pinjol) di salah satu perkantoran, Jakarta pada Senin (14/8/2023). - Bisnis/Himawan L Nugraha
Menurut Surat Edaran OJK (SEOJK) Nomor 19 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI), keseluruhan bunga pinjaman yang semula maksimum 0,4% per hari turun bertahap per Januari 2024.
Adapun, berdasarkan pendanaan produktif, bunganya turun menjadi maksimum 0,1% pada Januari 2024. Sementara untuk pendanaan konsumtif, bunganya ditetapkan menjadi maksimum 0,3% per hari.
“Itu sendiri sudah cukup menggambarkan tren yang biasanya growth-nya tinggi sekali sekarang berkurang, karena dari manfaat ekonomi juga berkurang,” kata Yasmine dalam acara Media Gathering AdaKami di Jakarta, Senin (29/4/2024).
Yasmine mengatakan dengan penurunan bunga tersebut bukan hanya mempengaruhi jumlah yang dibayarkan oleh peminjam kepada penyelenggara fintech P2P lending. Namun, penyelenggara fintech P2P lending juga jadi lebih selektif untuk menawarkan pinjaman ke calon peminjam.
“Manfaat ekonomi itu kan pengaruh langsungnya ke risiko, makin tinggi manfaat ekonomi makin banyak borrower yang bisa kami tawarkan karena risikonya lebih luas,“ paparnya.
Yasmine menambahkan faktor lainnya adalah pembatasan jumlah pinjaman ke platform. Kini peminjam hanya dapat meminjam di tiga platform fintech P2P lending saja. Padahal sebelumnya peminjam bisa melakukan pinjaman ke lima hingga enam platform fintech P2P lending.
“Aturan yang baru juga membatasi peminjam untuk melakukan pinjaman lebih dari 50% penghasilan. Jadi, itu tiga faktor yang cukup berpengaruh,” tandasnya.