BOGOR, KOMPAS.com - Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bogor, Agustian Syach, mengaku kesulitan membongkar lapak pedagang kaki lima (PKL) di atas trotoar Jalan Abdullah Bin Nuh, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor.
Petugas sulit membongkar bangunan semipermanen milik PKL itu karena jumlah personel yang terbatas.
Satpol PP memiliki banyak tugas lain di berbagai lokasi di Kota Bogor, sehingga tidak mungkin untuk menjaga satu lokasi terus menerus.
“Jadi gini kendalanya, kita lakukan penertiban, setelah itu apa, setelah kita kosongkan Satpol PP harus ngejagain, tapi Satpol PP tidak mungkin ngejagain di situ terus karena kerjaan di Bogor banyak,” ucap Agustian saat diwawancarai Kompas.com, Rabu (7/8/2024).
Satpol PP di setiap kecamatan hanya memiliki enam hingga 10 anggota.
Dengan jumlah tersebut, Agustian merasa tak mungkin petugas hanya berjaga di titik tertentu.
Kedua, trotoar Jalan Abdullah Bin Nuh yang harus diawasi cukup luas, sehingga PKL bisa kembali muncul setelah penertiban meski petugas terus patroli.
“Orang kita monitor patroli, tapi itu tadi, karena panjangnya area yang diawasi bisa juga akhirnya PKL muncul lagi, muncul lagi,” ujar dia.
Ketiga, lokasi trotoar Jalan Abdullah Bin Nuh dekat dengan rumah sakit, perlintasan kereta, dan perumahan.
Hal ini membuat PKL terus bermunculan kembali karena adanya potensi pembeli yang besar.
“Memang di sana demainnya tinggi. Ada rumah sakit, kawasan perlintasan, perumahan, sehingga demainnya tinggi otomatis PKL akan naik (trotoar) ini musti kita kaji,” tutur Agustian.
Meski dicecar berbagai kendala, Satpol PP Kota Bogor sudah mengagendakan penertiban di bulan ini untuk membongkar PKL yang berdiri di atas trotoar tersebut.
“Tapi yang pasti kita sudah agendakan di bulan ini lakukan pembongkaran,” tutur Agustian.
Pengamatan Kompas.com di lokasi, Rabu (10/7/2024), di sepanjang trotoar dari arah Jalan Abdullah Bin Nuh ke arah Jalan Sholeh Iskandar hampir dipenuhi bangunan semipermanen milik PKL.
Bangunan bermaterial kayu digunakan para pedagang untuk membuka usaha, mulai dari warung kopi, rumah makan, penjual duplikat kunci, hingga menjual buah-buahan.
Bahkan, ada beberapa PKL yang sengaja membuat kursi dan meja dari bambu untuk digunakan pembeli saat makan di tempat.
Jika dilihat, tidak ada ruang untuk para pejalan kaki melintasi trotoar tersebut sehingga mau tak mau warga yang melintas terpaksa harus berjalan di bahu jalan.
Namun, bahu jalan pun digunakan para pemilik motor dan mobil untuk memarkirkan kendaraan mereka.