Riset HSBC Quality of Life 2024 menunjukkan 50% individu kelas atas di Indonesia berencana bekerja di usia tua karena kekhawatiran finansial dan kesehatan. [626] url asal
Riset dari HSBC Quality of Life 2024 mengungkapkan sebanyak lima dari sepuluh individu kelas atas di Indonesia berencana untuk tetap bekerja di usia tua. Alasan mereka untuk tetap bekerja di masa pensiun disebabkan oleh kekhawatiran terhadap sejumlah hal.
Kekhawatiran terbesar nasabah kelas atas adalah tidak memiliki dana yang cukup untuk mengatasi penurunan kesehatan fisik dan biaya perawatan kesehatan yang terus meningkat.
Mereka juga khawatir inflasi akan mengalahkan nilai dana pensiun yang telah dikumpulkan untuk menikmati masa pensiun yang nyaman, terlebih bagi mereka yang akan menyekolahkan anaknya di luar negeri.
Menurut riset HSBC Quality of Life 2024, nasabah kaya (affluent) di Indonesia memprioritaskan perencanaan masa pensiun sebagai satu dari tiga tujuan utama rencana keuangan mereka saat ini. Namun, 32% nasabah affluent di Indonesia masih berada di luar jalur perencanaan pensiun yang komprehensif. Penyebabnya adalah ketidakpastian tentang dana pensiun yang dibutuhkan dan pengelolaan dana pensiun yang tidak konsisten.
"Riset HSBC Quality of Life 2024 menunjukkan bahwa kelas affluent di Indonesia memiliki kesenjangan antara aspirasi dan kesiapan terkait rencana pensiun mereka. Meskipun dianggap sebagai salah satu prioritas, namun aspirasi lain seperti menyekolahkan anak ke luar negeri, tekanan ekonomi global dan meningkatnya biaya hidup dapat menjadi aspek yang membuat rencana pensiun tidak tercapai atau bahkan belum memiliki rencana yang komprehensif," papar Lanny Hendra, Direktur Wealth and Personal Banking HSBC Indonesia, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (7/11/2024).
Fakta lain mengungkapkan bahwa kesehatan keuangan, kesehatan mental dan kebugaran jasmani merupakan faktor-faktor yang saling berkaitan dan saling memengaruhi dalam menentukan kualitas hidup. Kekurangan dalam satu faktor dapat berdampak pada yang lain.
Riset menunjukkan, nasabah kelas atas di Indonesia mendapat skor Indeks Kualitas Hidup sebesar 81, lebih tinggi dari Singapura di angka 74 dan Amerika Serikat di angka 73.
Riset HSBC Quality of Life 2024 dilakukan melalui survei daring di 11 negara. Survei dilakukan terhadap 11,000 individu dengan aset yang siap diinvestasikan mulai dari USD 100.000 hingga US$ 2 juta. Kesehatan finansial di dalam survey mengukur empat area: kebiasaan finansial, pengetahuan finansial, perencanaan finansial, dan keamanan finansial.
Sementara itu, Head of Network Sales and Distribution HSBC Indonesia Sumirat Gandapraja, memaparkan beberapa cara untuk menyiapkan rencana pensiun yang akan membantu meningkatkan kualitas kehidupan di masa tua.
"Mulailah sedini mungkin. Semakin awal memulai perencanaan pensiun, semakin besar peluang untuk memaksimalkan pertumbuhan investasi dan mencapai tujuan keuangan. Menurut survei, 77% Gen Z dan Milenial yang masuk kategori nasabah kelas atas menyadari pentingnya perencanaan pensiun, tetapi 50% tidak memiliki rencana yang komprehensif," terang Sumirat.
Selain itu, Sumirat bilang perlu untuk menyusun rencana komprehensif seperti menetapkan tujuan pensiun, hitung kebutuhan dana, dan pilih instrumen investasi yang sesuai dengan profil risiko dan jangka waktu pensiun. Evaluasi juga diperlukan dan sesuaikan secara berkala, karena kondisi keuangan dan tujuan hidup dapat berubah seiring waktu.
"Pastikan untuk meninjau dan menyesuaikan rencana pensiun secara berkala. Cari bantuan profesional, jika merasa kesulitan mengembangkan rencana pensiun, konsultasikan dengan perencana keuangan profesional untuk mendapatkan panduan dan saran yang tepat," tandasnya.
Riset HSBC Quality of Life 2024 menunjukkan 50% individu kelas atas di Indonesia berencana bekerja di usia tua karena kekhawatiran finansial dan kesehatan. [626] url asal
Riset dari HSBC Quality of Life 2024 mengungkapkan sebanyak lima dari sepuluh individu kelas atas di Indonesia berencana untuk tetap bekerja di usia tua. Alasan mereka untuk tetap bekerja di masa pensiun disebabkan oleh kekhawatiran terhadap sejumlah hal.
Kekhawatiran terbesar nasabah kelas atas adalah tidak memiliki dana yang cukup untuk mengatasi penurunan kesehatan fisik dan biaya perawatan kesehatan yang terus meningkat.
Mereka juga khawatir inflasi akan mengalahkan nilai dana pensiun yang telah dikumpulkan untuk menikmati masa pensiun yang nyaman, terlebih bagi mereka yang akan menyekolahkan anaknya di luar negeri.
Menurut riset HSBC Quality of Life 2024, nasabah kaya (affluent) di Indonesia memprioritaskan perencanaan masa pensiun sebagai satu dari tiga tujuan utama rencana keuangan mereka saat ini. Namun, 32% nasabah affluent di Indonesia masih berada di luar jalur perencanaan pensiun yang komprehensif. Penyebabnya adalah ketidakpastian tentang dana pensiun yang dibutuhkan dan pengelolaan dana pensiun yang tidak konsisten.
"Riset HSBC Quality of Life 2024 menunjukkan bahwa kelas affluent di Indonesia memiliki kesenjangan antara aspirasi dan kesiapan terkait rencana pensiun mereka. Meskipun dianggap sebagai salah satu prioritas, namun aspirasi lain seperti menyekolahkan anak ke luar negeri, tekanan ekonomi global dan meningkatnya biaya hidup dapat menjadi aspek yang membuat rencana pensiun tidak tercapai atau bahkan belum memiliki rencana yang komprehensif," papar Lanny Hendra, Direktur Wealth and Personal Banking HSBC Indonesia, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (7/11/2024).
Fakta lain mengungkapkan bahwa kesehatan keuangan, kesehatan mental dan kebugaran jasmani merupakan faktor-faktor yang saling berkaitan dan saling memengaruhi dalam menentukan kualitas hidup. Kekurangan dalam satu faktor dapat berdampak pada yang lain.
Riset menunjukkan, nasabah kelas atas di Indonesia mendapat skor Indeks Kualitas Hidup sebesar 81, lebih tinggi dari Singapura di angka 74 dan Amerika Serikat di angka 73.
Riset HSBC Quality of Life 2024 dilakukan melalui survei daring di 11 negara. Survei dilakukan terhadap 11,000 individu dengan aset yang siap diinvestasikan mulai dari USD 100.000 hingga US$ 2 juta. Kesehatan finansial di dalam survey mengukur empat area: kebiasaan finansial, pengetahuan finansial, perencanaan finansial, dan keamanan finansial.
Sementara itu, Head of Network Sales and Distribution HSBC Indonesia Sumirat Gandapraja, memaparkan beberapa cara untuk menyiapkan rencana pensiun yang akan membantu meningkatkan kualitas kehidupan di masa tua.
"Mulailah sedini mungkin. Semakin awal memulai perencanaan pensiun, semakin besar peluang untuk memaksimalkan pertumbuhan investasi dan mencapai tujuan keuangan. Menurut survei, 77% Gen Z dan Milenial yang masuk kategori nasabah kelas atas menyadari pentingnya perencanaan pensiun, tetapi 50% tidak memiliki rencana yang komprehensif," terang Sumirat.
Selain itu, Sumirat bilang perlu untuk menyusun rencana komprehensif seperti menetapkan tujuan pensiun, hitung kebutuhan dana, dan pilih instrumen investasi yang sesuai dengan profil risiko dan jangka waktu pensiun. Evaluasi juga diperlukan dan sesuaikan secara berkala, karena kondisi keuangan dan tujuan hidup dapat berubah seiring waktu.
"Pastikan untuk meninjau dan menyesuaikan rencana pensiun secara berkala. Cari bantuan profesional, jika merasa kesulitan mengembangkan rencana pensiun, konsultasikan dengan perencana keuangan profesional untuk mendapatkan panduan dan saran yang tepat," tandasnya.
Kaluna dalam film Home Sweet Loan menabung Rp 4 juta/bulan, total Rp 330 juta dalam 7 tahun. Temukan investasi ideal seperti reksadana dan ORI! [270] url asal
Kaluna, tokoh utama dalam film Home Sweet Loan memiliki gaji Rp 6 juta per bulan mampu memiliki tabungan Rp 330 juta dalam 7 tahun. Dirinya menabung Rp 4 Juta tiap bulannya di rekening bank. Ternyata masih ada tempat berinvestasi yang paling ideal untuk menambah nilai uangmu detikers, ini rekomendasinya!
Perencana Keuangan Andy Nugroho mengatakan bahwa untuk berinvestasi itu kita harus membuat skala prioritas dengan membagi kedua hal mana membedakan kebutuhan dan keinginan.
"Kebutuhan seperti kos, makan, internet, dan transportasi itu kebutuhan dan kalau keinginan itu seperti kita pengin jalan-jalan misalnya. Pokoknya jangan dibalik, pentingin kebutuhan dulu baru keinginan," kata Andy saat dihubungi detikcom, Jumat 11/10/2024.
Menurutnya, idealnya berinvestasi itu 10% dari penghasilan kita. Misal dengan gaji Rp 6 juta itu nominal yang dapat diinvestasikan sebesar RP 600 ribu.
"Ada empat tempat yang ideal untuk investasikan uangmu diantaranya reksadana, pasar saham, logam mulia, dan obligasi negara ritel (ORI)," kata Andy.
Jika di reksadana, menurutnya lebih aman dan murah karena reksadana itu dibelinya mulai dari Rp 100.000 di aplikasi fintech. Adapun menginvestasikannya di pasar saham dengan memerhatikan fundamental perusahaannya.
Apabila di logam mulia itu menurutnya juga ideal mengingat konsepnya juga sama seperti menabung namun lebih prospektif. Terakhir ada obligasi negara ritel (ORI) yang bisa masuk mulai dari satu jutaan.
"Misalnya kita punya 4 juta per bulan, udah masukin ke (ORI) aja. Itu nanti kita bakal dapet bunganya lebih tinggi daripada deposito. Tapi perlu dicatat, kalo investasi itu sesuai profil kita kan ada yang agresif, moderat, dan konservatif. Kita mesti paham diri kita, baru kemudian kita cari produk yang sesuai dengan profil psiko kita itu," tutupnya.