Kinerja produsen cetakan sarung tangan berbahan porselen PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK) melesat. Kinerja tersebut ditopang oleh tingginya permintaan global.
Hingga kuartal III-2024, laba bersih perusahaan meningkat 124% yoy menjadi Rp 221,2 miliar dari Rp 98,5 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Perusahaan optimistis peningkatan penjualan menuju kuartal IV.
Kenaikan permintaan ini didorong oleh lonjakan produksi sarung tangan dari Malaysia, menyusul langkah Amerika Serikat (AS) yang akan memberlakukan tarif masuk pada sarung tangan impor dari China.
"Perubahan kebijakan perdagangan ini menciptakan peluang baru bagi produsen sarung tangan Malaysia, yang menjadi salah satu konsumen utama produk kami," kata Direktur Utama MARK, Ridwan Goh dalam keterangan tertulis, Rabu (30/10/2024).
Dengan demikian, perusahaan siap mendukung peningkatan produksi sarung tangan di Malaysia guna memenuhi permintaan pasar AS. Lebih lanjut, pendapatan perusahaan meningkat 74% yoy menjadi Rp 698,1 miliar.
Penjualan ekspor meningkat pesat seiring dengan tingginya permintaan dari pasar internasional. Penjualan ekspor yang menjadi motor pertumbuhan utama perusahaan mengalami kenaikan tajam berkat tingginya permintaan global terhadap produk cetakan tangan.
Laba bruto perusahaan juga naik signifikan 98% menjadi Rp 357,3 miliar. Total aset perusahaan mencapai Rp 1,05 triliun, naik 10,1% dari Rp 951,6 miliar pada akhir 2023. Sementara kas dan setara kas melonjak 391% yoy mencapai Rp 121,6 miliar.
Lihat Video: Pengacara Sambo Soroti CCTV soal Kliennya Tak Pakai Sarung Tangan
Ekonom memperkirakan, pertumbuhan PDB pada 2Q24 akan melambat menjadi sekitar 5,02% yoy dari 5,11% yang tercatat pada triwulan I 2024. Kepala Ekonom Bank Permata... | Halaman Lengkap [309] url asal
JAKARTA - Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan, produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada triwulan II-2024 tumbuh sekitar 5,02% secara year on year (yoy). Josua meramal, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2Q24 akan melambat menjadi sekitar 5,02% yoy, melambat dari 5,11% yoy yang tercatat pada triwulan I 2024.
"Kami memperkirakan pertumbuhan PDB Indonesia akan melambat, namun tetap berkisar 5 persen year-on-year (yoy) di 2Q24," ujar Josua ketika dihubungi MNC Portal Indonesia, Senin (5/8/2024).
Pertumbuhan yang masih berada di kisaran 5% terutama didorong oleh permintaan domestik, yang relatif tetap kuat meskipun terjadi penurunan permintaan eksternal.
"Melemahnya permintaan eksternal sebagian besar disebabkan oleh perlambatan ekonomi global, terutama Tiongkok, negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia dan mitra dagang utama Indonesia, di mana pertumbuhannya melambat secara signifikan dari 5,3 persen yoy pada 1Q24 menjadi 4,7 persen yoy pada 2Q24, yang berdampak buruk pada kinerja ekspor," tutur Josua.
Sambung Josua menambahkan, permintaan domestik juga diperkirakan akan melambat di triwulan II 2024 karena beberapa faktor. Pertama, pergeseran bulan Ramadan dari kuartal pertama ke kuartal kedua tahun ini dapat mengurangi pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang biasanya mengalami lonjakan selama periode ini.
Mengingat konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh perekonomian Indonesia, pergeseran ini dapat berdampak pada PDB secara keseluruhan.
Kedua, belanja pemerintah diperkirakan akan melambat secara signifikan seiring dengan normalisasi belanja setelah Pemilu 2024 pada 24 Februari. Ketiga, investasi swasta kemungkinan akan tetap lemah, seperti yang ditunjukkan oleh PMI manufaktur yang menurun.
Menurutnya, hal ini mencerminkan pendekatan 'wait and see' yang terus berlanjut di kalangan produsen, didorong oleh ketidakpastian atas agenda kebijakan ekonomi pemerintah baru dan risiko yang terkait dengan perlambatan ekonomi global, dan dampak yang bersumber dari risiko suku bunga kebijakan 'higher for longer' oleh The Fed yang menyebabkan pelemahan Rupiah.
"Kami melihat bahwa hal ini memang menghambat rencana ekspansi bisnis," jelasnya.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengatakan proporsi penjualan kendaraan bermotor di pulau Jawa dan Bali mengalami penurunan. [162] url asal
IDXChannel - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengatakan proporsi penjualan kendaraan bermotor di pulau Jawa dan Bali mengalami penurunan. Hal tersebu lantaran permintaan pasar bergeser ke luar Jawa dan Bali
"Lima provinsi yang mengalami peningkatan pasar kendaraan bernotor yakni Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Sulawesi Barat, dan Kalimantan Tengah," kata Sekretaris Utama Gaikindo, Kukuh Kumara, dalam program Market Review IDX Channel, Jumat (12/7/2024).
Sebelumnya, Gaikindo juga mencatat geliat penjualan mobil nasional mengalami stagnasi dengan rata-rata penjualan hanya mencapai satu juta unit per tahun. Kondisi tersebut tidak beranjak naik setiap tahunnya, justru mengalami penurunan sebesar 21 persen menjadi 334 ribu unit saja pada periode Januari-Mei 2024.
Kukuh mengatakan stagnasi penjualan pasar mobil ini lantaran gap pendapatan rumah tangga dengan harga mobil baru terlalu lebar.
Tak hanya itu, kenaikan suku bunga global dan lonjakan kredit macet, memuat perusahaan pembiayaan di Indonesia melakukan pengetatan pemberian kredit.
"(Jadi) Ini diperlukan upaya keras kita untuk mengembalikan tingkat penjualan itu," kata Kukuh.
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia atau LPEM FEB UI mewanti-wanti jangan terlena dengan stagnasi pasar otomotif di Indonesia.
Peneliti senior dari LPEM FEB UI Riyanto menjelaskan dari segi supply Indonesia tidak memiliki masalah. Tapi permintaan pasar domestik cenderung tidak bertumbuh, padahal banyak merek-merek baru yang ikut bermain di sini.
"Untuk produksi bukan masalah supply sign jadi masalah permintaan industri atau pasar kita yang mengalami stagnasi." kata Riyanto saat diskusi Solusi Mengatasi Stagnasi Pasar Mobil di Gedung Kementerian Perindustrian, Rabu (10/7/2024).
"Market lokalnya memang mengalami problem, sudah 10 tahun. Ini penyakit kalau sudah 10 tahun, harus segera diobati, kalau tidak kan, nunggu apa? Nunggu parah akan berbahaya," tegas dia.
Dia mengurai salah satu penyebabnya adalah pertumbuhan ekonomi dan pendapatan per kapita masyarakat Indonesia yang melambat.
"Kita 2000 ke 2012 pendapatan per kapita itu naik cukup besar. Pendapatan per kapita di tahun 2000-an, sekitar 1.000 USD kita lower income country," kata dia.
"2013 meningkat sudah hampir belum 4.000 maksud saya meningkat 3 kali lipat. Sejak 2012 ke 2023, memang pendapatan per kapita kita melambat, karena pertumbuhan ekonomi melambat, akhirnya nanti kalau kita sandingkan dengan harga, kelihatannya tidak bisa menjangkau mobil, pendapatan perkapita yang tidak tumbuh dengan cukup," jelasnya lagi.
Rentetan sebab yang bikin pasar mobil mentok di angka satu juta unit saja adalah lantaran harga mobil yang naik lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan inflasi.
"Kenaikan harga mobil periode 2013-2022, misalnya kita ambil MPV entry low per tahun sudah 7 persenan, lebih besar dari rata-rata inflasi kita. Jadi ini masalahnya," kata Riyanto.
"Pertumbuhan per kapita dari 2000 ke 2013 itu pertumbuhannya 28,26 persen. Sementara periode 2013 ke 2022, pendapatan per kapita (tumbuh) hanya 3,65 persen. Itu kan jauh banget, karena itulah penjualan mobilnya 2013 ke 2022 itu minus 1,6 persen rata-rata per tahun," sambung dia.
Selain harga mobil yang tekerek naik namun tidak seimbang dengan pendapatan per kapita, terdapat juga faktor ekonomi makro lainnya seperti nilai tukar dan tingkat suku bunga berpengaruh signifikan terhadap penjualan mobil.
Pasar mobil Indonesia stagnan pada level penjualan satu jutaan unit mobil per tahunnya, padahal rasio kepemilikan mobil masih sekitar 99 mobil per 1.000 penduduk. Ini menjadi salah satu nilai jual industri otomotif Indonesia.
Namun faktanya penjualan mobil tertinggi di Indonesia terjadi pada tahun 2013 yang mencapai 1.229.811 unit, kemudian terus merosot di tahun berikutnya namun tetap berada di level satu jutaan.
Hal tersebut dipengaruhi oleh kenaikan pendapatan perkapita Indonesia pada tahun 2011-2013, serta diluncurkannya program Kendaraan Bermotor Roda Empat yang Hemat Energi dan Harga Terjangkau (KBH2).
Riyanto menjelaskan ada sejumlah wilayah yang masih memiliki potensi pasar yang besar antara lain :
- Kalimantan Timur: Pendapatan per kapita 239 juta (2022), rasio kepemilikannya baru 131 per 1000 orang yang memiliki mobil. - Kalimantan Utara: Pendapatan per kapita 191 juta (2022), rasio kepemilikannya baru 34 per 1000 orang yang memiliki mobil. - Riau: Pendapatan per kapita 150 juta (2022), rasio kepemilikannya baru 90 per 1000 orang yang memiliki mobil. - Kepulauan Riau: Pendapatan per kapita 142 juta (2022), rasio kepemilikannya baru 86 per 1000 orang yang memiliki mobil. - Sulawesi Selatan: Pendapatan per kapita 106 juta (2022), rasio kepemilikannya baru 84 per 1000 orang yang memiliki mobil.
Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan menyebutkan total piutang pembiayaan kendaraan bermotor mencapai Rp398,64 triliun per posisi April 2024 atau meningkat 13,02 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Jika dirinci, penyaluran pembiayaan pada mobil baru tercatat sebesar Rp150,69 triliun atau meningkat 10 persen yoy. Selanjutnya, peringkat kedua disalurkan pada pembiayaan mobil bekas senilai Rp83,72 triliun atau meningkat signifikan sebesar 25,82 persen yoy.
Di sisi lain, Riyanto mengatakan sudah ada pertumbuhan mobil ramah lingkungan di Indonesia. Meskipun pasarnya tahun ini tidak lebih baik dari tahun lalu.
"Kalau BEV dan Hybrid sebenarnya tumbuh, market share-nya saja, Hybrid per Mei sudah 6,4 persen, kemudian BEV hampir 3 persen, jadi total uyang ramah lingkungan BEV dan Hybrid hampir 10 persen," kata dia.
"Yang menarik sebenarnya begini, di tengah kelesuan itu, pertumbuhan LCEV baik yang BEV maupun hybrid itu tumbuh, kan. Dari yang cuma mungkin 10 ribuan di tahun 2022, itu BEV 2022 10 ribu, 2023 sudah 17 ribuan, hybrid 10 ribuan juga waktu itu, tahun 2023 sudah 52 ribu, jadi itu pertumbuhan," kata dia.
"ICE turun sekitar 100 ribu unit, tapi yang pindah ke BEV dan migerasi ke HEV itu tidak sampai 100 ribu, jadi memang ada penurunan pasar, terutama di ICE. Jadi cukup besar," sambungnya lagi.