JAKARTA, investor.id – Paket stimulus terbaru China bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi negara itu menjadi 5%. Lantas, apa dampaknya terhadap Indonesia khususnya para penambang logam seperti TINS, NCKL, MDKA, MBMA, ANTM, dan INCO, mengingat China merupakan negara tujuan utama ekspor?
Sebagai informasi, Bank Sentral China, People Bank of China (PBoC) memangkas suku bunga loan policy tenor 1 tahun, yang dikenal sebagai medium term lending facility (MLF), sebesar 30 bps menjadi 2% pada 25 September lalu. Selain pemangkasan MLF, paket stimulus China juga mencakup beberapa hal.
Pertama, pemangkasan suku bunga 7-day reverse repo rate sebanyak 20 bps menjadi 1,5%. Kedua, pemangkasan rasio cadangan kas minimum bank (reserve requirement ratio/RRR) sebesar 50 bps menjadi 9,5%.
Ketiga, rasio down payment minimum untuk pembeli rumah kedua dipotong dari 25% menjadi 15%. Keempat, suku bunga loan prime dan deposito akan turun 20-25 bps. Kelima, PBoC akan menanggung 100% pinjaman untuk pemerintah daerah yang membeli rumah yang tidak terjual dengan pendanaan murah.
“Meski kebijakan itu diharapkan dapat meningkatkan permintaan komoditas, kami yakin tambahan stimulus di sektor properti dan konstruksi diperlukan untuk mendukung harga logam dasar,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Timothy Wijaya dan Christian Sitorus dalam risetnya.
Pada Agustus 2024, ekspor timah olahan Indonesia melonjak 89% mom menjadi 6,4 kt, terutama karena penjualan yang tertunda pada Juli 2024 setelah penerapan SIMBARA (sistem manajemen online). Pasar ekspor utama adalah China, Singapura, dan Korea.
“Penjualan ke negara-negara lain juga meningkat signifikan 487% mom, yang menunjukkan pemulihan penjualan PT Timah Tbk (TINS) setelah merosot pada Juli 2024,” jelas Timothy.
Sementara itu, ekspor Indonesia (quarter to date/qtd) hingga Agustus 2024 mencapai 9,8 kt. Secara tahunan, ekspor tersebut tergerus 17%. Sedangkan ekspor year todate (ytd) sebanyak 24,3 kt atau terpangkas 44% secara tahunan. Itu menunjukkan aktivitas yang lebih kuat pada kuartal III-2024 dibandingkan semester I-2024, yang diperkirakan didorong oleh peningkatan ekspor pada smelter swasta setelah persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB).
“Meski demikian, karena pasokan yang ketat di pasar, harga timah LME (London Metal Exchange) tetap kuat dengan rata-rata sebesar US$ 31.350/ton pada September, turun 0,6% mom,” ungkap dia.
Rekomendasi dan Target Harga Saham
Di logam lainnya, yaitu nikel, menjelang musim pengisian ulang stok untuk baja tahan karat (stainless steel), harga NPI (nickel pig iron) tetap flat pada September 2024, yang menunjukkan permintaan hilir yang masih lemah. Tren tersebut sejalan dengan PMI manufaktur China yang lesu sejak Mei 2024.
Selain itu, harga stainless steel telah turun sejak Agustus 2024, yang memberi tekanan pada pabrik dengan margin rendah. “Kami mengantisipasi koreksi harga NPI dalam beberapa bulan mendatang, terutama karena premi bijih mereda, rilis RKAB lebih lanjut, dan peningkatan produksi domestik,” sebut Timothy.
Dengan berbagai pertimbangan, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan peringkat overweight untuk sektor pertambangan logam, dengan pilihan utama PT Timah Tbk (TINS).
Urutan dalam memilihnya sebagai berikut: PT Timah Tbk (TINS), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam, dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO).
Rekomendasi untuk saham-saham pertambangan logam tersebut adalah buy. Target harga saham TINS sebesar Rp 1.400, NCKL Rp 1.300, MDKA Rp 3.100, MBMA Rp 700, ANTM Rp 2.000, dan INCO Rp 5.700.
Editor: Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News