#30 tag 24jam
Saat Sastrawan hingga Tokoh Lintas Agama Suarakan Keresahan Lewat Puisi - kumparan.com
Saat Sastrawan hingga Tokoh Lintas Agama Suarakan Keresahan Lewat Puisi [373] url asal
(Kumparan.com - News) 31/08/24 01:09
v/14838687/
Sejumlah sastrawan dan tokoh lintas agama berkumpul di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Jumat (30/8) malam. Mereka berpuisi dalam kegiatan bertajuk 'Malam Gembira Puisi Merdeka'.
Puisi itu dibacakan berganti-gantian oleh para tokoh yang hadir. Ada yang membacakan puisi karyanya sendiri, ada juga yang membacakan puisi karya orang lain.
Tetapi, apa yang ingin disampaikan adalah sama: keresahan dan harapan untuk bangsa Indonesia yang telah masuk usia 79 tahun.
Konferensi Waligereja Indonesia Romo Agustinus Heri Wibowo, misalnya. Ia membaca puisi berjudul 'Merdeka Itu Adalah' karya Kyai Cepu.
"Merdeka itu adalah saat kita rasis memandang diri paling baik, lalu kita terbuka terhadap perbedaan," bunyi penggalan puisi itu saat dibacakan Agustinus, Jumat (30/8) malam.
Ketua Umum Persatuan Umat Budha Indonesia Philip Wijaya, membacakan puisi karyanya sendiri berjudul '2045'. Puisi itu berisikan tentang harapan untuk Indonesia menatap 100 tahun kemerdekaannya.
"Wahai saudara-saudara kita semua, bangun, bangun, dan bangun. Sadarlah tidak ada kue yang turun dari langit. Mari kita sisihkan hal-hal yang kotor," ucap Philip membacakan puisinya.
Puisi itu juga tak berbeda jauh dengan yang dibacakan oleh Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia, Budi Santoso Tanuwibowo. Puisi karyanya sendiri itu berjudul 'Mimpi Indah yang Terlalu Dini'.
Dalam puisi itu, ia menyuarakan sejumlah persoalan yang dihadapi Indonesia menjelang mencapai visi Indonesia Emas 2045 mendatang.
"Tuhan mencipta Indonesia dengan penuh cinta. Tapi, mengapa Tuhan lupa ataukah sengaja tidak mencipta insan berkarakter jujur dan bijaksana," kata Budi dalam puisinya.
Tak hanya itu, puisi juga dibacakan oleh Ketua PP Muhammadiyah Irwan Akib. Puisi itu diberi judul 'Runtuhnya Jembatan Emas'.
"Di seberang jembatan emas berharap di sana ada rasa cinta terhadap Tanah Air, ada persatuan dalam kebhinekaan, ada kekeluargaan dan gotong royong," ucap Irwan melantunkan puisinya.
"Dan ada kepentingan umum di atas kepentingan pribadi, keluarga, dan kroni," sambungnya.
Adapun dalam acara tersebut, sejumlah pengurus PP Muhammadiyah juga turut hadir. Di antaranya, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti dan Ketua PP Muhammadiyah Irwan Akib.
Kemudian, juga hadir perwakilan PBNU yakni Gus Ulil Abshar Abdalla. Lalu, sejumlah tokoh perwakilan lintas agama, rektor UHAMKA Gunawan Suryoputro, rektor UMJ Makmun Murod, hingga sastrawan seperti Joze Rizal Manua dan Kyai Cepu.
Acara itu juga dimeriahkan oleh penampilan grup band Goesplus pimpinan rektor Universitas Teknologi Muhammadiyah Jakarta, Agus Suradika.
Sastrawan hingga Ilmuwan Muda Raih Achmad Bakrie XX 2024, Ini Daftarnya
Lima tokoh meraih penghargaan Achmad Bakrie XX 2024. [820] url asal
#achmad-bakrie-award #sastrawan #ilmuwan-muda #ilmuwan #sastra #seni-dan-budaya #bakrie #grandprix #jusuf-wanandi #zawawi-imron #afriyanti-sumboja
(MedCom) 16/08/24 15:59
v/14488720/
Jakarta: Penghargaan Achmad Bakrie kembali digelar. Tahun ini, penghargaan diberikan kepada lima orang, yaitu: Jusuf Wanandi (Pemikiran Sosial), D. Zawawi Imron (Seni dan Budaya: Sastra), Afriyanti Sumboja (Sains dan Teknologi), Harapan (Kesehatan), dan Grandprix Thomryes Marth Kadja (Penghargaan Khusus: Ilmuwan Muda).Penghargaan Achmad Bakrie merupakan inisiatif Keluarga Bakrie untuk mengapresiasi putra-putri Indonesia yang memiliki pencapaian serta karya inspiratif yang bermanfaat bagi Indonesia, bahkan dunia. Dalam penyelenggaraannya, acara ini didukung oleh Kelompok Usaha Bakrie melalui Bakrie Untuk Negeri, bekerjasama dengan Universitas Bakrie, Freedom Institute, dan VIVA Group.
Penghargaan ini digelar setiap tahun di Agustus, bersamaan dengan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia. Sejak digelar pertama kali pada tahun 2003, penghargaan Achmad Bakrie telah diberikan kepada 86 penerima yang terdiri dari 82 perorangan dan 4 lembaga atau kelompok.
Ditambah dengan tahun ini, maka total penerima penghargaan saat ini berjumlah 91 penerima. Kembali menjadi Ketua Penyelenggara Penghargaan Achmad Bakrie XX 2024, Aninditha Anestya Bakrie (Ditha), mengungkapkan para penerima penghargaan dipilih oleh dewan juri yang kompeten dengan berbagai latar belakang dan kepakaran.
“Untuk tahun ini profil dewan jurinya kami buka agar masyarakat juga dapat mengetahui bahwa para penerima dipilih oleh dewan juri yang sangat kompeten dan kredibel,” jelas Ditha dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 16 Agustus 2024.
Dewan juri Penghargaan Achmad Bakrie XX 2024 dipimpin Rektor Universitas Bakrie, Sofia W. Alisjahbana sebagai Ketua Dewan Juri. Sementara anggota Dewan Juri terdapat Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng., IPU, ASEAN Eng. (Rektor UGM 2017-2022 dan Ketua Forum Rektor Indonesia 2021-2022), Dr. Laksana Tri Handoko, M.Sc. (Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN, yang juga penerima Penghargaan Achmad Bakrie 2008).
Kemudian Dr. Ninik Rahayu (Ketua Dewan Pers Indonesia 2022 – 2025 dan Komisioner Komnas Perempuan 2006- 2009 dan 2010-2014), Yose Rizal Damuri, Ph.D.(Direktur Eksekutif CSIS), Luthfi Assyaukanie, Ph.D. (Freedom Institute), Nong Darol Mahmada (Freedom Institute).
Di tahun ini, juga dilakukan rekategorisasi bidang penghargaan menjadi lima bidang, yaitu: Pemikiran Sosial, Seni dan Budaya, Sains dan Teknologi, Kesehatan, dan Penghargaan Khusus. Bidang ini akan menjadi kategori tetap untuk penghargaan tahun-tahun berikutnya.
Setelah melalui seleksi ketat dan pertimbangan yang matang dengan memperhatikan berbagai aspek, akhirnya diputuskan Penghargaan Achmad Bakrie XX 2024 akan diberikan kepada para penerima dengan detail berikut.
Pemikiran Sosial
Jusuf Wanandi S.H.
Intelektual lintasgenerasi yang karya-karyanya berpengaruh dalam membentuk tradisi pemikiran sosial di Indonesia, khususnya seputar demokrasi, pemerintahan, dan hubungan internasional.Seni dan Budaya: Sastra
D. Zawawi Imron
Sastrawan asal Madura yang puisi-puisinya kerap memotret lanskap alam yang polos dan imaji halus tentang kehidupan pedesaan. Metafora dalam karya-karyanya menghadirkan berbagai segi dan watak manusia yang tak terduga.Sains dan Teknologi
Afriyanti Sumboja B.Eng., Ph.D.
Periset yang menjadi representasi aktif Indonesia di kancah global dalam bidang riset fundamental dan terdepan di bidang Teknik Material untuk pengembangan baterai generasi mendatang dengan performa penyimpanan energi yang lebih besar.Kesehatan
dr. Harapan, DTM&H., M.Infect.Dis., Ph.D.
Virolog dan Pakar Kesehatan Masyarakat asal Aceh dengan kontribusi riset pengembangan kajian epidemiologi molekuler dan investigasi kesehatan masyarakat terkait Arbovirus (virus dengue dan chikungunya), serta ekuitas dan penerimaan vaksinasi di Indonesia.Penghargaan Khusus: Ilmuwan Muda
Dr. Ir. Grandprix Thomryes Marth Kadja
Ilmuwan Muda (31 tahun) Pengembang Material Nano sebagai Katalis untuk Energi Berkelanjutan.Pada tahun ini, para penerima penghargaan juga akan menerima tropi baru Penghargaan Achmad Bakrie yang didesain khusus oleh seniman dan influencer seni, Nabil Muhdor alias Bill Mohdor. Tropi menggambarkan Trimatra Bakrie: Keindonesiaan, Kemanfaatan dan Kebersamaan.
Trimatra Bakrie masih terus dijalankan, sebagai bentuk komitmen pada pembangunan bangsa dan negara Indonesia untuk menghargai karya-karya terbaik, kreatif, dan inovatif yang ditujukan bagi kemajuan dan perkembangan positif bangsa Indonesia.
Ketua Dewan Juri Prof. Sofia W. Alisjahbana mengungkapkan, meskipun ada perdebatan dalam proses penjurian, namun para juri yang berasal dari berbagai latar belakang ini cukup kompak. Dalam memilih kandidat dan memutuskan penerima, dewan juri tidak hanya menilai karya dan prestasi saja, namun juga aspek kemanfaatannya bagi masyarakat.
“Sesuai dengan nilai yang ada pada Penghargaan Achmad Bakrie, dalam melakukan penjurian kami juga memperhatikan aspek kemanfaatan,” jelas Sofia.
Karenanya, penerima penghargaan adalah orang Indonesia yang selama ini mengabdikan hidupnya untuk berkarya serta bermanfaat bagi orang banyak. “Alhamdulillah semua penerima bersedia menerima penghargaan dan akan hadir di acara Penganugerahan Penghargaan Achmad Bakrie XX 2024. Kami berharap para penerima terus berkarya dan berkontribusi untuk mendorong Indonesia menjadi negara maju dan sejahtera,” tutup Ditha.
Malam Penganugerahan Penghargaan Achmad Bakrie XX 2024
Sesuai tradisi Penghargaan Achmad Bakrie, sebelum acara utama diselenggarakan para penerima penghargaan akan diundang dalam sesi ramah-tamah dengan Keluarga Bakrie. Hal ini ditujukan untuk menjalin keakraban, serta sebagai bentuk penghormatan kepada para penerima penghargaan.Sementara Malam Penganugerahan Penghargaan Achmad Bakrie XX 2024 akan diadakan di tempat yang sama dengan tahun sebelumnya, yaitu di Ciputra Artpreneur Theatre. Acara akan dipandu oleh Andromeda Mercury dan Anna Thaeleta.
Dimeriahkan oleh Penyanyi Bulan Sutena dan Novia Bachmid, dan diiringi musik komposisi dari Magenta Orchestra, serta dancer JLDC.
| Baca juga: Anggaran Pendidikan di RAPBN 2025 Capai Rp722,6 Triliun, Termasuk untuk Peningkatan Gizi Siswa |
(CEU)
Solidaritas 100 Sastrawan dan Budayawan di Parade Puisi untuk Gaza
Kegiatan ini diselenggarakan untuk menyuarakan solidaritas atas situasi dan kondisi kemanusiaan di Palestina. [956] url asal
#parade-puisi-untuk-gaza #puisi #gaza #sastrawan #budayawan #palestina #suharti
(MedCom) 28/07/24 15:41
v/12430708/
Jakarta: Sebanyak lebih dari 100 orang sastrawan, budayawan menghadiri Parade Puisi Untuk Gaza yang digelar Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Kegiatan ini diselenggarakan untuk menyuarakan solidaritas atas situasi dan kondisi kemanusiaan di Palestina.Kegiatan ini dihadiri sejumlah sastrawan, seniman, dan budayawan terkemuka yang turut membacakan puisi bertema Palestina. Beberapa nama besar yang berpartisipasi antara lain Taufiq Ismail, Putu Wijaya, Eka Budianta, Aspar Paturusi, Jose Rizal Manua, Ahmadun Yosi Herfanda, Dewi Motik Pramono, Jajang C Noer, Fadli Zon, Ratna Riantiarno, Helvy Tiana Rosa, Fatin Hamama, Linda Djalil, Clara Sinta, Abrori Jabbar, Jamal D Rahman, Sastri Sweeney, Tami, Nissa Rengganis, Riri Fitri Sari, serta sastrawan dan budayawan lainnya.
Selain itu, turut hadir membacakan puisi berjudul Tanah Air Gaza, Sekretaris Jenderal Kemendikbudristek, Suharti.
Kepala Badan Bahasa, E. Aminudin Aziz, dalam sambutannya mengatakan gambaran tentang Palestina adalah heroiknya perjuangan akibat penindasan Israel. Solidaritas Indonesia untuk Palestina dibangun berdasarkan kesamaan nasib sebagai negara yang pernah mengalami penjajahan.
“Ketika mendengar tentang Palestina, dunia tidak berpihak kepada mereka. Keinginan Indonesia untuk membela kemerdekaan dan memberi hak-hak bagi Palestina sesuai Pembukaan UUD 1945 bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan,” ujarnya.
Aminudin menambahkan, Indonesia telah banyak melakukan diplomasi, negosiasi, dan mengirimkan bantuan, namun, hingga kini belum ada titik terang. Kekuatan di luar jauh lebih besar daripada kekuatan Palestina.
Indonesia tidak bisa berdiam diri tanpa melakukan sesuatu meskipun hanya hal-hal kecil yang kini dapat dilakukan. Mendengar Palestina harus dengan mata hati dan perasaan.
Oleh karena itu, inisiasi yang disampaikan oleh Majalah Horison dengan mengajak bekerja sama Badan Bahasa bertujuan untuk memberikan sebuah pandangan terkait hal-hal yang dirasakan oleh para sastrawan Indonesia guna menunjukkan solidaritasnya kepada warga Palestina. “Badan Bahasa menyambut baik dan berterima kasih atas insiatif ini,” ungkapnya.
Ia berharap, puisi-puisi yang disampaikan dapat membawa pesan yang mendunia dan didengar oleh masyarakat yang sadar atas nasib Palestina serta menjadi doa yang didengar oleh Allah SWT, sehingga Palestina bisa mendapatkan kemerdekaannya. “Terima kasih para sastrawan yang sudah berpartisipasi dan menyampaikan puisi-puisi dukungannya terhadap Palestina,” pungkas Aminudin sekaligus mengakhiri sambutannya.
Tujuan utama dari acara ini adalah untuk menyerukan dukungan terhadap kemerdekaan penuh bagi Palestina dan mengajak masyarakat untuk bersimpati dan berempati terhadap situasi yang terjadi di Gaza. Melalui puisi-puisi yang dibacakan, para sastrawan berharap dapat menyentuh hati masyarakat dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya solidaritas kemanusiaan. Kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak orang untuk peduli dan bertindak dalam memperjuangkan hak-hak kemanusiaan di Palestina.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Majalah Horison, Fadli Zon, mengatakan bahwa hampir 40.000 jiwa telah menjadi korban karena penjajahaan Israel (70% adalah perempuan dana anak-anak). Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) sudah berkali-kali mengeluarkan resolusi, namun masih belum bisa menghentikan pembantaian atau genosida di Gaza.
Sampai sekarang Indonesia seolah-olah tidak dapat berbuat apa-apa. “Bantuan kemanusiaan dari warga Indonesia tidak dapat masuk ke wilayah Gaza. Melalui Kementerian Pertahanan, Indonesia berusaha mengirimkan 900 parasut dari udara, kapal yang memuat obat-obatan, dan lain sebagainya. Meskipun tidak efektif, lebih baik ada daripada tidak ada sama sekali” ucapnya.
Fadli Zon menyebut, sudah ada 149 negara yang mengakui negara Palestina dan kini mendukung Palestina menjadi negara anggota PBB. Semoga dalam waktu dekat Palestina dapat menjadi negara yang merdeka.
Selain itu, dalam waktu dekat diharapkan makin banyak negara lain yang ikut mendukung Palestina. Indonesia adalah negara yang paling konsisten untuk tidak melakukan hubungan diplomatik dengan Israel.
Hal itu merupakan konsekuesi dan komitmen Indonesia untuk menghapuskan penjajahan di atas dunia. “Parade Puisi untuk Gaza adalah solidaritas para sastrawan dan seniman Indonesia bagi warga Gaza. Warga Indonesia tidak akan berhenti menyuarakan solidaritas sampai Palestina merdeka. Indonesia akan terus membantu perjuangan Palestina bertahan terhadap penjajahan yang tengah dihadapi,” kata Fadli Zon.
Turut hadir dalam kegiatan Parade Baca Puisi untuk Gaza, Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Zuhair S. M. Alshun. Dalam sambutannya ia mengapreasi negara Indonesia yang selalu bersama dan berjuang dengan Palestina.
Perjuangan bukan dengan mengangkat senjata, melainkan, melalui diplomasi dan menyuarakan kemerdekaan Palestina melalui banyak organisasi dunia. “Suara Indonesia selalu ada. Saya mewakili Palestina mengucapkan terima kasih atas solidaritas pemerintah dan masyarakat Indonesia,” imbuh Zuhair.
Zuhair menuturkan, Palestina selalu mencari kedamaian, namun krisis perang masih terjadi. Palestina memiliki hak untuk merdeka dan Yerusalem sebagai bagian penting dari Palestina pasti kembali ke pangkuan. Komunitas-komunitas internasional terus melakukan perjuangan untuk menyuarakan kemerdekaan atas Palestina.
“Sayangnya, banyak politikus yang tidak peduli dan banyak aksi demonstrasi sudah dilakukan, baik di Amerika dan Eropa. Namun, para politisinya tidak menanggapi, bahkan Presiden Amerika, Joe Biden menyatakan untuk bersama Israel,” sambungnya.
Lebih lanjut, Zuhair menilai Palestina memiliki hak untuk berjuang dan melawan sampai mendapat kemerdekaan. Tanah Palestina harus bebas dari penjajahan dan Yerusalem kembali ke naungan Palestina. “Oleh karena itu, warga Palestina akan terus berjuang sampai Palestina memperoleh kemerdekaannya atas penjajahan. Terima kasih atas dukungan Indonesia bagi Palestina,” tutup Zuhair.
Selanjutnya, Taufiq Ismail, salah satu penggagas acara ini, menekankan pentingnya menyuarakan persoalan kemanusiaan di Palestina secara terus-menerus. Parade Puisi untuk Gaza ini merupakan bagian dari upaya komunitas internasional untuk mendesak Israel agar segera mengakhiri pendudukannya di wilayah Palestina, termasuk menarik diri dari Jalur Gaza dan memulihkan wilayah-wilayah Palestina yang telah diduduki.
Puisi adalah suara kemanusiaan. Melalui puisi ini kita menyampaikan pesan perdamaian dan solidaritas kepada dunia.
"Kita berharap agar suara-suara ini dapat menjadi bagian dari tekanan internasional yang mendesak Israel untuk menghormati hak-hak rakyat Palestina dan mengakhiri penderitaan mereka,” ucap Taufiq.
Parade puisi ini tidak hanya menjadi wadah ekspresi bagi para sastrawan dan budayawan, tetapi juga menjadi pengingat bahwa perjuangan untuk kemerdekaan dan hak asasi manusia adalah tanggung jawab bersama. Melalui karya-karya sastra, semangat solidaritas dan perjuangan untuk keadilan dapat terus disuarakan dan dihidupkan.
| Baca juga: Frans Ekodhanto Luncurkan Buku Puisi Monolog Hujan |
(CEU)