Wakil Menteri Pertanian (Wamentan),Sudaryono mendukung visi Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat kemandirian dan ketahanan pangan nasional. [252] url asal
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan),Sudaryono mendukung visi Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat kemandirian dan ketahanan pangan nasional. Ia optimistis program-program yang telah direncanakan dapat terealisasi dalam waktu dekat.
Sudaryono atau yang akrab disapa Mas Dar ini menekankan pentingnya kebersamaan dan kekompakan di semua unit kerja Kementerian Pertanian untuk mencapai tujuan tersebut. Tak hanya itu, lanjutnya, sinergi dan kolaborasi lintas sektor pun menjadi variabel keberhasilan dalam mewujudkan swasembada pangan nasional.
"Jelas program kita itu adalah melaksanakan visi Presiden. Presiden Prabowo memiliki visi besar dalam kaitannya kemandirian pangan, ketahanan pangan dan juga swasembada pangan," ujar Sudaryono dalam keterangan tertulis, Selasa (22/10/2024).
Sudaryono juga menggarisbawahi keberlanjutan program antara pemerintahan Joko Widodo dan Prabowo, terutama dalam hal intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian. Ia menilai keberlanjutan program di sektor pertanian ini membuktikan keduanya memiliki komitmen yang kuat terhadap ketahanan pangan nasional.
"Program intensifikasi terbukti meningkatkan indeks pertanaman (IP) dari satu kali menjadi dua atau bahkan tiga kali," ungkapnya.
Ia menjelaskan selama empat bulan sebagai Wakil Menteri Pertanian, ia telah menjalin kolaborasi dengan Menteri Pertanian Amran Sulaiman untuk memperkuat sistem pangan nasional.
"Saya sudah 4 bulan jadi Wamen. Sudah juga berkolaborasi dengan Pak Menteri. Jadi saya sangat paham bagaimana menjalankan birokrasi," jelasnya.
Sebelumnya, Sudaryono resmi dilantik menjadi Wakil Menteri Pertanian bersama wakil menteri lainnya dalam Kabinet Merah Putih periode 2024-2029, yang dilaksanakan di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (21/10). Ia kembali diamanatkan mengemban tugas sebagai Wamentan oleh Prabowo, setelah sebelumnya ditunjuk Presiden Joko Widodo di sisa masa jabatan pada 18 Juli 2024.
Bamsoet menuturkan visi Presiden Prabowo Subianto mewujudkan proses tranformasi ekonomi nasional harus dipahami sebagai jawaban terhadap perubahan zaman. [657] url asal
Anggota DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) menuturkan visi dan tekad Presiden Prabowo Subianto mewujudkan proses tranformasi ekonomi nasional harus dipahami sebagai jawaban terhadap perubahan zaman.
Menurutnya, proses tranformasi ekonomi yang lebih bersungguh-sungguh dan terencana harus dimulai dari sekarang. Sebagai sebuah proses yang berkelanjutan, transformasi ekonomi yang dimulai sejak sekarang akan menjadi warisan dari generasi saat ini yang akan diteruskan oleh generasi milenial, Gen-Z, dan generasi Alpha.
"Keinginan merealisasikan transformasi ekonomi nasional dimulai ketika dunia sudah menapaki era industri 4.0 dan semakin meluasnya pemanfaatan AI. Berbasis kekayaan negara-bangsa, disepakati bahwa perekonomian Indonesia akan bertransformasi dengan hilirisasi ragam sumber daya alam," ujar Bamsoet, dalam keterangannya, Minggu (20/10/2024).
"Presiden Prabowo telah bertekad memperluas kebijakan hilirisasi hingga mencakup 12 komoditas. Semua elemen bangsa diharapkan mendukung agenda transformasi ekonomi nasional ini," sambungnya.
Bamsoet memaparkan transformasi dengan agenda hilirisasi sumber daya alam menuntut perubahan pola pikir pada aspek tata kelola sumber daya alam. Agar tranformasi dan hilirisasi bisa berproses dengan efektif, semua institusi negara yang terkait harus didorong untuk responsif dengan gagasan dan inisiatif yang relevan.
"Selain itu, perhatian terhadap urgensi meningkatkan kompetensi sumber daya manusia Indonesia harus masuk skala prioritas. Sebab faktor paling utama dalam hilirisasi sumber daya alam adalah sumber daya manusia lokal yang kompeten untuk kerja pemrosesan, produksi dan rekayasa material," kata Ketua DPR RI ke-20 itu.
"Pada waktunya nanti, semua pihak tentu berharap hilirisasi sumber daya alam tidak lagi mengagendakan kebutuhan akan tenaga kerja asing," lanjutnya.
Bamsoet menjelaskan tantangan lain adanya fakta bahwa hilirisasi sumber daya alam memiliki ketergantungan akan barang modal berharga sangat mahal yang harus diimpor. Itu sebabnya investasi untuk proyek hilirisasi saat ini sangat mahal.
Karenanya, perlu dilakukan eskalasi bagi kegiatan penelitian dan pengembangan (Litbang) di dalam negeri, untuk keperluan memproduksi barang modal serta peningkatan maupun perluasan nilai tambah setiap komoditas sumber daya alam.
"Pemerintah dan para ilmuwan hendaknya semakin komunikatif dan memberi ruang lebih leluasa bagi para periset dan inovator. Dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pun diharapkan tampil dengan ide dan temuan-temuan baru yang relevan. Misalnya, terkait dengan mekanisme baru untuk optimalisasi proses produksi yang ramah lingkungan, aspek pengelolaan limbah, aspek mutu produk, hingga strategi meningkatkan partisipasi masyarakat lokal," urai Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Politik dan Keamanan KADIN Indonesia tersebut.
Bamsoet menambahkan hilirisasi harus dilaksanakan dengan konsisten. Mata rantai hilirisasi sumber daya alam akan menghadirkan manfaat berlipat ganda, karena dimulai dengan proses pengadaan bahan baku untuk kemudian diolah industri manufaktur menjadi barang jadi dengan nilai tambah yang tinggi.
Apabila mata rantai hilirisasi terwujud di sektor pertambangan, pertanian, perkebunan hingga sektor perikanan, akan terbuka puluhan juta lapangan kerja.
"Bangsa Indonesia sangat diuntungkan karena memiliki sejumlah komoditas sumber daya alam sangat dibutuhkan pasar global. Mulai dari emas, tembaga, bauksit, nikel, timah, batu bara, kelapa sawit, karet, kelapa, kopi, kakao, rumput laut, teh dan rempah-rempah lainnya," ujar Wakil Ketua Umum FKPPI itu.
"Dengan tidak lagi menjual bahan mentah, perekonomian nasional segera bertransformasi dalam memperbesar nilai tambah semua komoditas SDA tersebut. Saya optimis dibawah kepemimpinan Presiden Prabowo, mampu mewujudkan transformasi ekonomi nasional demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia," pungkasnya.