#30 tag 24jam
Cerita Toko Grosir Bertahan Tiga Generasi di Tengah Serbuan Digital
Di bilangan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, terletak Toko Kiem Tek, sebuah toko grosir yang sudah berdiri selama puluhan tahun. [643] url asal
#solusi-ukm #bisnis #toko-ritel
(detikFinance - SolusiUKM) 13/08/24 14:00
v/14361877/
Jakarta - Di bilangan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, terletak Toko Kiem Tek, sebuah toko grosir yang sudah berdiri selama puluhan tahun. Sekarang, roda bisnis toko ini diteruskan oleh cucu dari sang pendiri. Indra ialah generasi ketiga Toko Kiem Tek, yang kini menjalankan operasional toko itu sehari-hari.
Ia berkisah, sang kakek membuka Toko Kiem Tek di Pasar Cibinong. Kemudian, diteruskan ayahnya, dan kini estafet berlanjut ke Indra.
"Toko ini dimulai oleh kakek saya di Pasar Cibinong. Sudah bertahun-tahun lalu diturunkan ke ayah saya. Dan saya merupakan generasi ketiga yang berusaha melanjutkan usaha ini," kata Indra, mengenang perjalanan panjang Toko Kiem Tek.
Upaya untuk menjaga kelangsungan usaha ini salah satunya Indra lakukan dengan membawa Toko Kiem Tek menyambut digitalisasi. Toko ini merupakan salah satu Mitra Sampoerna Retail Community (SRC), pedagang grosir yang berperan untuk memasok produk ke Toko SRC dan toko-toko kelontong lainnya.
Mitra SRC mendapatkan pendampingan pengembangan usaha dan dukungan digitalisasi dari PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna) sebagai bagian dari program pemberdayaan SRC yang ditujukan bagi toko kelontong maupun grosir. Kini, terdapat 6.300 Mitra SRC yang aktif berkolaborasi dengan lebih dari 250.000 toko kelontong anggota SRC di seluruh Indonesia.
Indra mengatakan, saat tim Sampoerna memperkenalkan Mitra SRC pada tahun 2015, Toko Kiem Tek tak menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Toko kami dibina untuk menjadi lebih maju. Selain itu, kami juga diberikan peluang untuk membina toko-toko kelontong," ujar Indra.
Ketertarikan Indra untuk bergabung dengan Mitra SRC salah satunya didasari oleh fokus Sampoerna mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ke arah pemanfaatan digitalisasi. Hal ini rupanya juga sejalan dengan visi dari Indra dan sang ayah sejak sembilan tahun yang lalu.
"Pada saat itu, dunia online masih minim. Tapi menurut kami, dunia online itu harus dikembangkan dan merupakan peluang yang bagus," kata Indra.
"dulu hanya Sampoerna yang menawarkan untuk mengembangkan UMKM lewat digitalisasi. Oleh karena itu, saya tertarik untuk bergabung menjadi Mitra SRC dan memutuskan untuk coba menjalankannya," sambungnya.
Menurutnya, para pelaku bisnis memang harus dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman. Toko Kiem Tek terbukti mampu melakukannya. Indra menyebut ini tidak terlepas dari keputusan untuk mengambil kesempatan menjadi Mitra SRC.
"Kita mendapatkan berbagai pelatihan dan pembinaan, termasuk bagaimana mengoptimalkan penggunaan aplikasi AYO by SRC dalam menjalankan usaha. Kami juga dibina agar bisa mempromosikan produk-produk di toko kami untuk selanjutnya dijual ke toko-toko kelontong," aku Indra.
Berbagai perubahan pun dirasakan Indra. Salah satunya karena jaringan Mitra SRC dan toko kelontong anggota SRC yang begitu luas.
"Dulu, kami jualan secara konvensional, menunggu pelanggan datang. Dengan menjadi Mitra SRC, kami bisa meng-cover wilayah yang lebih luas. Sebab, kami tidak hanya, menjual kepada orang yang datang, tetapi juga (ke orang-orang) dari banyak daerah yang ada dalam jaringan SRC. Kami bisa menjual produk di aplikasi AYO Mitra dan mereka bisa memesan secara online," kata Indra.
Tak hanya pasar yang semakin luas, sistem operasional pencatatan dan pembayaran Toko Kiem Tek pun sudah dilakukan secara digital. "Yang dulunya kita jualan menggunakan kalkulator, sekarang sudah menggunakan komputer dan mesin kasir," lanjut Indra.
Kini Indra pun merasakan kemajuan berkat adaptasi digital yang ia lakukan. Pendapatan dan keuntungan Toko Kiem Tek ia sebut semakin meningkat. Bahkan, Indra kini mempekerjakan karyawan dengan jumlah yang lebih banyak. Sebelum bergabung sebagai Mitra SRC, ia memiliki 7 karyawan. Kini, jumlah karyawan Toko Kiem Tek berjumlah 15 orang, yang kebanyakan merupakan warga sekitar.
Indra pun mengaku senang, bisnisnya tak hanya membawa dampak bagi keluarga, tetapi juga bagi orang lain. "Berkat adanya Mitra SRC ini, kami bisa mengembangkan ekonomi di sekitar kami dengan menyerap tenaga kerja yang ada di dekat toko," ujarnya.
Indra pun bertekad akan menjaga roda bisnis Toko Kiem Tek terus berputar. Bahkan hingga generasi-generasi selanjutnya. Sedangkan untuk saat ini, ia berkomitmen untuk terus mengikuti berbagai inisiatif pengembangan usaha yang diberikan oleh Sampoerna lewat program Mitra SRC. Proses yang sudah Indra jalani selama sembilan tahun dengan hasil yang sebanding.
(fdl/fdl)
12 Ide Jualan Online yang Laku Saat ini, Bisa Dicoba Pemula!
Menemukan ide jualan online saat ini yang laku menjadi kunci utama, dan langkah awal mencapai keberhasilan bisnis. Intip beberapa contoh bisnisnya. [1,061] url asal
#bisnis-online #ecommerce #belanja-online
(detikFinance - SolusiUKM) 11/08/24 14:00
v/14146013/
Era digital saat ini memberikan banyak peluang untuk kita memulai bisnis, melalui platform online. Punya pasar yang cukup luas, karena sudah banyak konsumen yang beralih ke belanja online.
Oleh sebab itu, penting untuk mengeksplorasi berbagai ide jualan yang tidak hanya menarik tapi juga bisa memenuhi kebutuhan pasar. Barang apa yang cocok untuk jualan online?
Ide Jualan Online 2024
Memasuki dunia bisnis online juga memerlukan strategi yang cermat, terutama dalam memilih produk yang tepat untuk dijual.
Berikut adalah rekomendasi ide jualan online untuk pemula yang paling laku saat ini:
1. Pakaian
ide jualan online yang pertama ada pakaian, di mana ada banyak variasi produk yang bisa ditawarkan. Mulai dari pakaian kasual, santai, hingga busana formal.
Hal ini memungkinkan para penjual untuk menargetkan macam segmen pasar. Ditambah lagi, dengan adanya media sosial dan e-commerce, memasarkan produk pakaian secara online bisa jadi lebih efektif dan efisien.
Ini adalah cara membuka peluang besar bagi kamu yang ingin memulai bisnis di bidang fashion.
2. Product Skincare
Dikutip dari Shopify, produk perawatan kulit menjadi kategori produk tren yang punya daya tarik pasar yang luas. Produk skincare yang bisa kamu jual di antaranya pembersih muka, pelembap, serum, dan masker.
Pasalnya, kini produk tersebut bisa relevan untuk semua usia dan jenis kelamin. Penelusuran untuk tren skincare seperti retinol, hyaluronic acid serum, hingga snail slime, terus meningkat dan jadi sorotan di awal tahun 2024.
3. Makeup
Makeup atau riasan jadi kategori produk yang sedang tren, sejalan dengan alat-alat dan teknik-teknik baru yang memperbarui industri di tiap tahunnya.
Sejak pertengahan 2022, aneka produk makeup menunjukkan akan terus menjadi tren hingga 2024.
4. Produk Parfum dan Cologne
Saat ini, konsumen mulai meninggalkan wewangian yang dipasarkan massal/bergender. Mereka telah beralih ke wewangian androgini yang premium, alami, dan personal.
Pencarian di internet untuk parfum dan cologne sering kali memuat nama merek dan produk. Itulah salah satu alasan yang menjadikan optimasi mesin pencari sebagai strategi utama bagi bisnis parfum.
5. Scented Candles (Lilin Beraroma)
Scented candles belakangan ini populer sepanjang tahun. Dilansir laman Forbes Advisor, kata kunci dicari scented candles bahkan dicari lebih dari 10.000-100.000 kali di Google setiap bulan.
Selain untuk mengharumkan ruangan, lilin beraroma juga dipakai untuk menenangkan ini.
Pembuatan produk ini pun muatan mudah, lilin yang dijual dengan minyak esensial, dan sumbu yang berbeda. Kamu juga bisa membelinya secara grosir dan menjualnya kembali untuk mendapatkan keuntungan.
7. Press-on Nails (Kuku Tempel)
Kuku tempel merupakan produk yang cocok bagi seseorang menyukai tampilan kuku buatan, tanpa harus pergi ke salon kuku. Warna dan desainnya pun beragam.
Di pencarian Google, istilah press-on nails atau "kuku tempel"dicari 100.000- 1 juta pencarian global per bulan. Dari situ, diketahui bahwa ada pasar untuk jualan barang yang satu ini.
Ditambah lagi, kuku tempel ini mudah dikirim dan disimpan. Jika kamu memutuskan untuk menjual kuku tempel, pastikan kamu menawarkan banyak pilihan warna dan desain. Tujuannya untuk memenuhi preferensi dan kepribadian dari setiap calon pembeli.
8. Jasa Desain Grafis dan Cetakannya
Kebutuhan desain untuk web atau branding produk di era digital ini, benar-benar membuka peluang bagi orang-orang kreatif.
Salah satu manfaat besar dari penjualan karya seni atau desain grafis secara online adalah kemampuan untuk menawarkan desain sesuai permintaan.
9. Aksesoris HP
Pasar aksesori smartphone menjadi peluang bisnis menjanjikan, apalagi bersamaan dengan setiap peluncuran HP baru. Ini akan membawa permintaan baru juga terhadap aksesori yang kompatibel.
Barang apa yang cocok untuk dijual onlinenya seperti, casing, pelindung layar, gantungan HP, pegangan telepon, maupun kabel pengisi daya.
10. Sembako
Sembako dan kebutuhan pokok adalah pilihan jualan yang bisa laku setiap hari. Sekarang, sudah banyak kok warung, toko grosir, dan swalayan menjual produk-produk mereka secara online lewat marketplace.
Beli kebutuhan pokok secara online merupakan cara praktis dan terkadang harganya lebih murah. Ini adalah salah satu peluang bisnis yang bisa dicoba.
11. Merchandise K-Pop
Tren K-Pop telah merambah Indonesia bahkan di seluruh dunia. Dengan popularitas grup K-Pop yang terus meningkat, permintaan akan barang-barang atau merchandise seperti album, light stick, dan pakaian bertema idol favorit pun tinggi.
Para penggemar tak hanya melihat merchandise ini sebagai koleksi, tetapi juga sebagai bentuk dukungan dan koneksi emosional dengan idola mereka. Memen ini bisa jadi kesempatan meraih cuan.
12. Celana Kargo
Celana kargo adalah celana longgar dengan kantong besar di bagian pinggul (mirip celana militer). Baik pria ataupun wanita bisa bergaya dengan celana ini, terutama jika mereka menghabiskan banyak waktu di luar ruangan.
Volume pencarian global Google terkait celana bergo bulanan sekitar 923.000, dan terus meningkat sejak awal tahun 2020.
Bagi kamu yang tertarik menjual produk ini, kamu bisa menyimpannya di tempat penyimpanan dan tas jinjing berdasarkan warna, pola, gaya, atau ukuran.
Supaya berhasil dalam jualan online, kita harus menjual produk yang tepat kepada orang yang tepat dan waktu yang tepat.
Dengan beberapa contoh ide jualan online 2024 tadi, semoga bisa memicu kreativitas dan mengarahkan kamu menuju usaha yang menguntungkan tahun ini dan seterusnya.
(khq/fds)
Awalnya Karyawan, Jastiper, Pria Ini Kini Jadi Pengusaha Sneakers
Banting setir dari karyawan kantor menjadi pengusaha butuh keberanian. Inilah yang dialami Influencer Jeffry Jouw. [173] url asal
#pengusaha #banting-setir-jadi-pengusaha #jeffry-jouw #bni #wondr-by-bni
(detikFinance - SolusiUKM) 03/08/24 14:00
v/13174546/
Tangerang - Banting setir dari karyawan kantor menjadi pengusaha butuh keberanian. Inilah yang dialami Influencer Jeffry Jouw, berawal dari karyawan pabrik hingga memilih menjadi pengusaha. Kini Jeffey merupakan salah satu pendiri Kick Avenue, aplikasi jual beli sneakers otentik, streetwear, dan produk luxury.
Pria yang akrab dipanggil Jejo ini bercerita, usai lulus kuliah bekerja sebagai karyawan di pabrik milik orang tuanya.
Dalam perjalanan sebagai karyawan, ia ditawarkan berinvestasi di bisnis minuman Thailand milik kawannya.
Ketakutan dan keraguan masih meliputi dirinya. Sejak saat itulah ia terpikir untuk membalikkan nasib dengan memiliki usaha.
"Akhirnya aku miss the chance buat investasi di dia. Semenjak dari situ kalau ada kesempatan aku pengen coba," katanya dalam BNI Expo 2024 pada Sabtu (3/8/2024) di ICE BSD.
Setelah itu, ia memutar otak dengan memanfaatkan masa-masa travelling-nya. Jejo pun membuka jasa titip atau jastip ketika ke luar negeri.
Dengan keuntungan dari usahanya, ia mengelola keuangannya dan perlahan membangun usahanya.
"Bisa punya usaha gimana? Financial planningnya benerin dulu. Keluar megeri jangan cuma belanja, nabung dong. Jastip dong," katanya.
(hns/hns)
Bumbu Rempah RI Laku hingga Australia, Wanita Ini Raup Omzet Ratusan Juta
Libri Annisa menginisiasi pembuatan bumbu rempah-rempah kemasan saset dengan harga terjangkau [509] url asal
#saatnya-jadi-bos #peluang-usaha #solusi-ukm #bumbu #rempah
(detikFinance - SolusiUKM) 02/08/24 14:00
v/12977221/
Jakarta - Indonesia dianugerahi dengan kekayaan rempah-rempahnya hingga diminati pasar global. Hal tersebut menjadi peluang usaha salah satu perempuan asal Mojokerto, Jawa Timur bernama Libri Annisa.
Berawal dari keresahannya, siapa sangka bisnis rempah-rempah yang dijalaninya bisa terbang lintas benua. Mulanya, Annis, sapaan akrabnya, merasa resah lantaran bumbu rempah, seperti lada masih tersisa banyak usai digunakan untuk memasak. Selain itu, kemasan saset tidak bisa mempertahankan aroma bumbu rempah-rempah.
Untuk itu, dia menginisiasi pembuatan bumbu rempah-rempah kemasan saset dengan harga terjangkau. Dia menyebut bumbu-bumbu rempah miliknya dijual dengan harga Rp 500 per sachet.
"Kalau abis penggunaan masih ada sisa, aromanya bisa hilang, kalau penyimpanannya kurang bagus. Nah melihat peluang market juga. Waktu itu belum ada main di harga Rp 500-an. Rata-rata harganya Rp 1000-an. Kita coba main di harga Rp 500 karena bisa jadi market-nya lebih banyak, kebutuhannya juga pas sesuai dengan sekali masak," katanya kepada detikcom, Rabu (31/7/2024) kemarin.
Bumbu Rempah RI Laku hingga Australia, Wanita Ini Raup Omzet Ratusan Juta Foto: Dok. Pribadi |
Bisnis yang dibangun sejak 2017 ternyata tidak terdampak Covid-19, justru bumbu rempah-rempah laku keras di pasaran. Produk yang paling laku, seperti jahe, kunyit, hingga lada. Namun, usai semua kembali normal, penjualannya juga ikut seperti sebelum pandemi. Dia bilang, konsumen memang masih membeli, tapi frekuensinya tidak sesering saat pandemi covid-19.
Lebih lanjut, Annis berujar belakangan ini bisnis yang dijalaninya tengah menghadapi tantangan. Menurutnya, saat ini harga komoditas bahan baku yang disuplai dari petani mengalami kenaikan. Hal tersebut membuat dirinya mau tidak mau juga menaikkan harga jual.
Meski begitu, untuk kemasan saset, dia masih mempertahankan dengan harga Rp 500. Adapun menyiasatinya dengan mengurangi berat bersih.
"Jadi, kami terutama yang main di kemasan kecil, seperti botol pasti harus menyesuaikan harga lagi dan harus menerima konsumen yang mungkin agak protes harganya naik. Kalau yang sachet itu harga-nya tetap di Rp 500 tapi gramasinya yang berubah," jelasnya.
Namun, kenaikan harga bahan baku tidak menghentikan langkah Annisa. Siapa sangka produk dengan merek 'Labuna Nusantara' dapat terbang ke negara-negara lain, seperti Malaysia, Makau, Hongkong, hingga Australia.
Bahkan Annisa rutin ekspor bumbu rempah-rempah ke Makau dan Hong Kong tiap bulannya. Dalam sebulan, Annisa bisa mengeluarkan 1 kuintal per varian produk.
"Sudah pernah ekspor, sudah sampai Makau, Hong Kong, Malaysia dan Australia, permintaannya dalam bentuk kemasan boks atau kiloan. Australia pernah dua kali, Makau dan Hong Kong rutin satu bulan. Kalau, Makau Hong Kong paling banyak kunyit. Kalau Malaysia rata semuanya, lada, kunyit, dan lain-lain. Australia mintanya lada dan pala," imbuhnya.
Dari bisnisnya ini, dia berhasil meraup omzet sekitar Rp 500 juta per bulan. Ke depan ada beberapa produk yang bertambah. Saat ini, dia masih dalam tahap riset dan pengembangan. Dia pun masih membidik negara lain untuk tujuan ekspor, seperti Jerman dan Belanda. Pasalnya, dia melihat potensi bahwa pasar rempah-rempah diminati global.
Saat ini, Labuna Nusantara mempunyai tiga varian produk dengan berbagai kemasan. Adapun varian produknya, seperti kunyit bubuk, lada bubuk, dan ketumbar bubuk. Produk bumbu rempahnya mulai dijual dari harga Rp 500-28.000.
(ara/ara)
Kisah Puguh Bikin Karpet Handmade hingga Laku Dibeli Artis Luar Negeri
Siapa yang sangka, baru seminggu menjalankan usaha, Locarpet menerima pesanan dari artis luar negeri. [872] url asal
#peluang-usaha #karpet #solusi-ukm #saatnya-jadi-bos
(detikFinance - SolusiUKM) 30/07/24 14:00
v/12610836/
Jakarta - Bisnis karpet buatan tangan ternyata bisa mendulang banyak cuan bahkan laku hingga mancanegara. Namun, semua ini tidak datang cuma-cuma, konsistensi terhadap detail dan pengembangan produk menjadi kunci suksesnya.
Adi Puguh Pangeksi adalah pelopor Locarpet Craft. Diproduksi di Magelang, Jawa Tengah, Locarpet sukses menyulap produk yang terkesan sepele menjadi bernilai tinggi. Mayoritas pembelinya berasal dari luar negeri bahkan merek fesyen dan musisi internasional. Di antaranya seperti Post Malone, Pleasures, Jonah Hill, Travis Barker, Blink 182, sampai David Beckham.
Kepada detikcom, Puguh, sapaan karibnya, mengaku merintis bisnis karpet buatan tangan setelah curhat dengan salah seorang temannya pada akhir Mei 2020. Kala itu, ia sedang gundah gulana karena bisnis pakaiannya runtuh imbas gempuran pandemi COVID-19.
"Sewaktu pandemi bisnisku kolaps dan tidak bisa dilanjutkan lagi, sampai merumahkan pegawai. Akhirnya aku curhat sama temenku yang punya pabrik karpet. Selang tiga hari aku kepikiran, kayaknya bisa deh ya berbisnis karpet buatan tangan biar bisa survive," ungkapnya, Sabtu (27/7/2024) lalu.
Artis Luar Negeri Kepincut Karpet Made in RI Foto: Dok. Pribadi |
Berangkat dari keluh kesah tersebut, Puguh menggandeng kawannya untuk membantu Locarpet Craft. Konsepnya sederhana, Puguh membuat desain karpet, portfolio, dan mengelola akun medsosnya, sementara kawannya mengurus produksi.
Siapa yang sangka, baru seminggu menjalankan usaha, Locarpet menerima pesanan dari artis luar negeri. Artis tersebut adalah rapper Post Malone. Salah seorang tim kreatif Post Malone menjelaskan rapper asal New York, Amerika Serikat itu tertarik memesan ratusan karpet. Jumlah totalnya sekitar 900 pcs dalam kurun enam bulan.
"Mereka mengirim pesan lewat direct message Instagram. Setelah dari Post Malone ini, alhamdulillah, orderan semakin bertambah banyak," jelasnya.
Belasan musisi dan merek internasional beramai-ramai menghubungi Locarpet. Jumlahnya bisa mencapai 500 pesanan dalam sehari. Puguh sukses bangkit dari keterpurukan bahkan merekrut kembali pegawai bisnis lamanya.
Artis Luar Negeri Kepincut Karpet Made in RI Foto: Dok. Pribadi |
Tidak sampai setahun, Locarpet mendapat eksposur dari berbagai media internasional. Dua di antaranya adalah akun media streetwear rakasasa seperti Hypbeast dan Complex. Karena kualitas dan keunikan karpet buatan tangan, Locarpet sempat dikira berasal di California, AS. Padahal, bisnis itu berada di Indonesia.
"Mereka sepertinya mengira kita brand dari California karena 85% follower-nya adalah orang luar negeri, padahal aslinya di Magelang. Sampai kita di posting di Complex, Hypebeast, media Rusia ada juga, media Asia, media Eropa, eksposurnya sangat besar," jelasnya.
Dalam kurun 2021 sampai 2022, Puguh mengaku beruntung karena omzet usahanya cukup besar. Ia mengaku bisa memperoleh omzet miliaran rupiah dalam sebulan.
"Kita bisa mendapatkan sekitar ratusan juta sebulan, dan miliaran setahun omzetnya. Pernah pula sebulan kita mendapatkan miliaran. Itu paling besar," bebernya.
Resep Sukses Tembus Pasar Internasional
Puguh mengatakan salah satu kunci keberhasilan pada bisnisnya adalah positioning di pasar, upskilling, adaptasi, dan inovasi produk. Locarpet bisa berkembang pesat karena kala itu belum ada usaha khusus yang bergerak di bidang pembuatan karpet custom dengan tangan di pasar Indonesia bahkan AS secara masif.
Namun, dia menjelaskan pemaknaan karpet di AS dan Indonesia berbeda. Jika karpet sering diasosiasikan dengan alas kaki di Tanah Air, karpet justru identik dengan karya seni di 'Negeri Paman Sam'. Inilah yang membuat produk Locarpet memiliki tempat tersendiri di mata kliennya.
Karena faktor ini pula, Puguh menjelaskan mayoritas pembeli produk Locarpet berasal dari luar negeri. "Kalau di Indonesia mungkin karpet ya karpet saja, permadani, karpet turki, tapi bagi warga AS sesuai yang spesial, apalagi jika dibuat custom dengan tangan. Tidak masalah bagi mereka untuk membeli karpet yang juga punya estetika alias nilai seni tinggi. Karpet menjadi barang koleksi," bebernya.
Meskipun demikian, Puguh mengatakan Locarpet berjalan bukan tanpa tantangan. Mereka sempat terkendala masalah persaingan harga dengan China yang produk-produknya dijual dengan harga murah, ongkos logistik, sampai persoalan regulasi pemerintah.
Puguh menjelaskan bisnisnya bisa melesat cepat karena menempuh tiga strategi. Pertama adalah branding serta pengemasan, kedua adalah komunikasi untuk bisa melayani klien dari berbagai negara dengan bahasa yang baik agar mau melakukan repeat order, dan strategi ketiga adalah inovasi.
Dalam aspek inovasi, Puguh menuturkan bahwa inovasi menjadi aspek kunci. Diferensiasi produk atau dalam bahasa sederhananya menciptakan produk berbeda diperlukan agar karpet tidak sekedar menjadi alas kaki. Karena itu, ia mengatakan Locarpet juga membuat produk karpet untuk di dinding, plafon, lantai, bahkan ring basket.
Locarpet bahkan membuat karpet dari berbagai bahan premium seperti acrylic, wool, dan viscous. Berbagai fitur khusus seperti karpet yang menyala di kegelapan (glow in the dark), ilusi tiga dimensi, bahkan Augmented Reality (AR) turut dihadirkan untuk menarik pembeli.
"Termasuk juga karpet untuk fashion, kemudian coffee table. Berbagai produk ini membuat brand value yang menunjukan karpet bukan cuma bisa digunakan sebagai fungsional, tapi juga media seni yang memiliki nilai jual lebih selain kanvas. Itu added valuenya," jelasnya.
Di sisi lain, Puguh juga membeberkan bahwa usahanya tidak akan berjalan sejauh ini jika tidak dikerjakan dari hati. Menurutnya, bisnis apapun pasti memiliki tujuan akhir menghasilkan keuntungan. Tapi, hal ini dinilainya tidak akan bisa tercapai tanpa kesabaran dan kemauan untuk berinovasi.
Dengan inovasi, Puguh mengatakan bahwa usaha yang dirintis pada akhirnya kelak bisa menciptakan pasar dan tidak melulu mengikuti apa yang diinginkan oleh orang lain.
"Bisnis itu tidak bisa diburu-buru, mending didalami, sukai, pahami, nikmati perjalanannya. Kalau produknya bagus, aku yakin pasar akan mengikuti sendirinya. Kuncinya di produk," pungkasnya.
Sebagai informasi, produk Locarpet Craft sendiri bisa diakses di media sosial lewat Instagram @locarpet_indonesia. Usaha tersebut juga bisa diakses di situs locarpet.com.
(ara/ara)
Wanita Ini Bangkit dari Kemiskinan Berkat Eceng Gondok, Begini Kisahnya
Di tangan Wiwit Manfaati, eceng gondok berhasil disulap menjadi aneka kerajinan seperti tas dan hampers bernilai tinggi. [678] url asal
#peluang-usaha #eceng-gondok #saatnya-jadi-bos #solusi-ukm
(detikFinance - SolusiUKM) 23/07/24 14:00
v/11762592/
Jakarta - Eceng gondok kerap dianggap sebagai tanaman gulma yang dapat mengancam keberlanjutan ekosistem perairan. Namun, di tangan Wiwit Manfaati, eceng gondok berhasil disulap menjadi aneka kerajinan seperti tas dan hampers bernilai tinggi.
Wiwit bercerita bagaimana tanaman berwarna hijau ini mampu menghidupi dirinya dan keluarganya. Padahal sebelum memutuskan berbisnis, keluarganya dilanda kemiskinan dan ia hanyalah ibu rumah tangga.
"Saya itu memulai usaha tahun 2008, berangkat dari pelatihan di kelurahan kami. Jadi di Kelurahan Kebraon ada pelatihan untuk warga, ada 30 orang, saya satu di antaranya itu. Selama 10 hari bikin kerajinan eceng gondok," ujar Wiwit kepada detikcom, ditulis, Selasa (23/7/2024).
Lulusan sarjana Teknik Informatika ini menyebut bisnis kerajinannya tidak langsung berjalan mulus. Kerap kali ia merasa tak puas dengan hasil karyanya namun terus melakukan perbaikan.
Meski sudah mengikuti beberapa pameran di pusat perbelanjaan, produk buatannya tak kunjung laku. Kritik pedas sempat dilontarkan Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya kala itu.
"Tahun 2010 itu saya kan sering dikasih pameran gratis di mal sama Dinas di sini, tapi nggak laku. Mungkin karena kurang menarik ya, makanya nggak banyak yang beli. Dari situ saya perbaiki produk saya. Sampai ketemu lah sama Bu Risma, terus dikasih tantangan. 'Lah masa kok kayak gini'. Dia kan bilang 'kok jelek sih'. Saya tertantang, saya perbaiki, saya pakai handle kulit, pakai yang berkelas gitu lah, akhirnya mulai bisa diterima pasar," sambung Wiwit.
Ia juga mengaku sempat dibantu Risma untuk rebranding hingga diberi desainer gratis untuk usahanya. Lalu sejak 2012, nama Witrove mulai digunakan, desain terus diperbaiki hingga akhirnya produknya dapat diterima di pasar. Witrove kini lebih fokus melayani pasar kelas menengah atas.
"Awalnya tidak mudah begitu saja. Jungkir baliknya juga banyak. Awalnya saya berangkat dari keluarga miskin, modal pelatihan itu saja. Akhirnya juga bisa usaha ini, bisa menghidupi kami sekeluarga, dan kami bisa branding nama, toko, dan tawaran makin banyak," terang dia.
Foto: Dok. Pribadi |
Wanita yang berdomisili di Kota Surabaya ini bercerita, modal awal merintis bisnis eceng gondok hanya Rp 20 ribu untuk pembuatan kerajinan tas. Modal tersebut dipakai membeli eceng gondok hingga perlengkapan dasar produksi tas.
"Rp 20.000 doang. Kan waktu itu eceng gondok masih Rp 1.500, nah Rp 20 ribu itu saya pakai beli eceng gondok 1 kilo. Terus kemudian saya pakai untuk beli handle tas, kain dalemannya. Terus abis itu, begitu dapat uang saya belanjakan lagi, ya diputar di situ uangnya," imbuhnya.
"Dan itu berhasil menghidupi keluarga sampai sekarang. Penghasilan saya di situ semua. Suami saya pernah ketipu bisnis sama temannya, kita terjerat utang banyak, sekarang kita hidup dari eceng gondok. Ya walaupun awalnya susah payah, apalagi anak tiga, sekolah semua," katanya lagi.
Ia mengaku bisa meraup omzet hingga puluhan juta rupiah per bulan dengan mengolah eceng gondok. Bahkan ia pernah menerima Rp 1,5 miliar pada 2018 untuk pengerjaan proyek selama delapan bulan dari Risma dalam pengerjaan 7.000 buah produk. Namun Wiwit mengaku penjualannya saat ini tidak sebagus seperti sebelum pandemi Covid-19.
Wiwit sempat menjelaskan proses pengolahan eceng gondok menjadi produk kerajinan. Awalnya eceng gondok diambil dari waduk yang berlokasi tak jauh dari rumahnya untuk kemudian dijemur selama satu minggu. Eeceng gondok juga harus melalui proses pengasapan selama satu hari satu malam.
"Kemudian kita asap pakai belerang sama arang. Kita ambil asapnya doang, itu sehari semalam. Abis itu kita jemur lagi supaya nggak lembab. Abis dijemur baru dibawa pulang untuk dianyam," sebutnya.
Ia menjelaskan, banyak tidaknya eceng gondok yang diolah tergantung dari pesanan yang masuk. Wanita yang dulunya aktivis ini memanfaatkan tenaga kerja lokal lewat sistem pemberdayaan. Adapun produk yang dihasilkan mencakup tas, tempat tisu, meja, kursi, sandal, hingga pembatas ruangan.
"Kisaran harga dari Rp 25 ribu sampai Rp 2 juta. Yang paling mahal itu pembatas ruangan, karena besar. Yang paling murah itu kayak piring yang gitu-gitu lah," sebut dia.
Saat ini produk Wiwit dengan brand-nya Witrove berhasil mejeng di gerai Gramedia, MR. DIY, hingga Sarinah. Produk Witrove juga dijual online di media sosial dan e-commerce, hingga berhasil tembus ke pasar luar negeri. Witrove beberapa kali mengikuti pameran di luar negeri, seperti Guangzhou, China, Seoul, Korea Selatan, Belanda, Inggris, hingga Dubai.
(ily/ara)
60 Ide Nama Toko Aesthetic untuk Bisnis Makanan hingga Skincare
Lagi bingung cari nama toko? Simak ide dan tips memilih nama toko aesthetic yang menarik dan unik untuk inspirasi bisnis kamu di sini. [486] url asal
#bisnis #strategi-bisnis #online-shop #ide-usaha
(detikFinance - SolusiUKM) 21/07/24 14:00
v/11505537/
Memberikan nama toko yang aesthetic bisa jadi langkah untuk menarik perhatian calon pelanggan, sekaligus menciptakan citra yang kuat bagi bisnis kita.
Pasalnya, nama toko juga bisa mencerminkan karakter dan identitas dari produk/layanan yang kita tawarkan. Itu sebabnya, memilih nama toko yang aesthetic bisa jadi strategi pemasaran efektif untuk membangun brand.
Dirangkum dari laman Touchbistro, Nichepursuits, Ecomstart, dan Upflip berikut adalah referensi nama toko aesthetic dalam bahasa Inggris, mulai dari toko makanan, toko baju, hingga toko skincare.
Nama Toko Aesthetic Makanan
- Homestyle Hero
- Speedy Grill
- Quik Chicken
- Sandwich Slinger
- In-N-Out Makan
- Queen of Nasi Goreng
- Spicy N' Sweet
- Gold Spoons
- High Street Cafe
- Snooze Eatery
- Sashimi Central
- Seblak Corner
- Cheese Please Pizza
- Mozza Heaven Chicken
- Fu Noodle Bar
Nama Toko Aesthetic Skincare
- Glow Up Galore Esthetics
- Shine and Clean
- Flawless Focus
- Beauty Boost
- Glitz and Glam
- Enchanted Beauty
- Glow Goals Studio
- Beauty Brigade Studio
- Flawless Sensation
- Auroral Glow
- Inventive Skincare Studio
- Enchanting Radiance
- Imaginative Beauty Haven
- Creative Glow-Up
- Polished Serenity
Nama Toko Aesthetic Toko Baju
- Style Sensation
- Fashionable Faces
- Style Savvy Esthetics
- Trendy Icon
- So Classy
- Honey Twig
- Elevenendress
- Sundry
- Trendify You
- The Moon Looker
- Wardrobe U
- Trendy Signature
- Outerwear Weave
- Fabric Addict
- Unique
Nama Toko Aesthetic Toko Online
- Little Apple
- Daily Shop
- Fabulous Thrift
- Pieces of Things
- Magic Taken
- The Rolling Warehouse
- Time Factory
- Cutie & Smiles
- Kingdom Snack
- Spot 24/7
- Needy Plus
- The Picky
- Java Charming Gang
- Vintage Corner
- Foodie's Kingdom
Cara Membuat Nama Usaha
Dikutip dari Shopify, berikut adalah hal yang perlu dipertimbangkan dalam membuat nama usaha atau mencari nama brand:
- Pertimbangkan apa yang mau kamu sampaikan kepada target pelanggan.
- Teliti ada apa saja merek/brand yang tersedia.
- Bertukar pikiranlah dengan rekan bisnis, teman, atau keluarga untuk mendapatkan saran nama toko usahamu.
- Fokus pada keunikan merek kamu.
- Jaga supaya nama bisnis kamu pendek dan sederhana, namun punya makna.
- Atur dan tinjau ide nama bisnis yang kamu buat.
- Uji ide nama bisnis kamu.
Itu tadi beberapa contoh nama toko aesthetic bahasa Inggris yang bisa jadi referensi detikers, untuk menentukan nama bisnis kamu.
(khq/fds)
Kisah Putri Si Penjual Mochi Pinggir Jalan Beromzet Ratusan Juta
"Kalau bersihnya itu sampai puluhan juta, kalau omzet kotornya itu sampai ratusan juta per bulan," ujar Putri. [601] url asal
#peluang-usaha #solusi-ukm #saatnya-jadi-bos #mochi
(detikFinance - SolusiUKM) 17/07/24 14:00
v/11044879/
Jakarta - Putri, perempuan asal Jambi mencari pundi-pundi uang sendiri untuk membiayai dirinya berkuliah dan keperluan keluarga. Perjuangannya kini berbuah manis, dari kerja serabutan, jualan produk apapun, saat ini dirinya sukses menjalani bisnisnya sendiri yakni menjual mochi yang dinamakan Mochilicious.
Putri mengatakan lebih dari setahun bisnisnya itu dijalankan sudah bisa membiayainya kuliah dan keperluan untuk orang tuanya. Omzet yang dia dapatkan sebulannya bisa mencapai ratusan juta.
"Kalau bersihnya itu sampai puluhan juta, kalau omzet kotornya itu sampai ratusan juta per bulan," ujar Putri kepada detikcom, ditulis Rabu (17//7/2024).
Namun, hasilnya itu tidak semudah membalikkantelapak tangan. Putri mengatakan, selain dia harus mencari sendiri biaya sekolahnya, sebagai tulang punggung keluarga, dia juga harus membantu orang tuanya.
Kisah Putri Si Penjual Mochi Pinggir Jalan Beromzet Ratusan Juta Foto: Dok. Pribadi |
Semasa dia kuliah, dirinya memang sudah sering berjualan. Produk apapun dia jual demi memenuhi biaya pendidikannya. "Dari dulu aku tuh suka coba coba jualan, cuma belum jalannya dulu. Dulu banyak jualan sate taichan, jual pokoknya semua yang bisa dijual aku jual," ujarnya.
Selain berjualan, dia juga bekerja sampingan di salah satu perusahaan. Dari gaji yang ia dapatkan Rp 1 juta, dia harus memenuhi kebutuhan biaya kuliah dan orang tuanya.
Putri putar otak agar penghasilannya bisa bertambah. Akhirnya dengan modal Rp 300.000 saja, dia mencoba membuat mochi secara otodidak.
"Tahun lalu 2023 mulai bulan 9 aku mulai coba bikin mochi. Dan itu aku melihat mochi ini nggak ada matinya gitu loh, selalu eksis. Kaya salah satu brand ice cream yang ada mochinya, itu laku terus. Aku mikir kalau aku basic-nya dari kue nantikan ke depan buka bakery aku memutuskan jualan mochi," ujar dia.
Dia mencoba berjualan mochi di pinggir jalan. Namun, saat itu bisnis itu jadi sampingannya karena masih harus kuliah di pagi hari dan bekerja di siang harinya.
"Aku jualan dulu, itu mulai jam 7 malam. Kenapa? Karena pagi sampai siang aku kuliah. Siang ke sore aku kerja di perusahaan tadi. Nah sorenya itu aku bisa bikin mochi itu cuma 2 jam 3 jam, habis magrib aku langsung on the way jualan. Itu aku sendiri, mochinya aku taruh di motor, berangkat sendiri," ungkapnya.
Penjualan mochinya melesat gara-gara kontenya di TikTok viral. Sebanyak 40 pcs mochi laku hanya dalam waktu satu jam.
Namun, Putri mengaku sempat vakum berjualan karena orang tuanya sakit dan berdampak ke penjualan mochi. Namun, ia tidak menyerah dan tetap mempromosikan produknya itu di TikTok.
Putri tidak menyerah, dia tetap melanjutkan bisnisnya dan terus membuat konten di TikTok. Hingga akhirnya salah satu videonya tembus 5 juta penonton. Hasil dari video tersebut, membuat penjualannya terus meningkat hingga 1.000 pcs mochi bisa habis terjual kurang dari 2 jam.
"Dulu produksinya dari 40 an pcs, sekarang sudah lebih dari 1.000 pcs. Dulu aku sendiri buat mochinya, sekarang sudah ada yang bantuin 10 orang. Aku utamain (karyawan) dari tetangga sekitar," jelas dia.
Kisah Putri Si Penjual Mochi Pinggir Jalan Beromzet Ratusan Juta Foto: Dok. Pribadi |
Selain di pinggir-pinggir jalan, Putri telah membuka Mochilicious di mini toko seperti kontainer booth. Hal itu menjadi kemajuan baginya setelah lama berjualan hanya menggunakan meja biasa.
Saat ini pembelinya juga dari berbagai macam daerah. Menurutnya ada beberapa juga yang dari luar kota seperti, Bengkulu hingga Jakarta sedang berada di Jambi untuk membeli mochi miliknya.
"Sekarang mochi aku, dari yang sebelumnya hanya empat varian rasa, sekarang ada 15 varian rasa. Jadi mochinya lumayan besar, harganya mulai dari Rp 5.000 sampai Rp 8.000 saja," pungkasnya.
Dia berharap bisnis akan terus berkembang hingga dia bisa membuka toko sendiri. Jadi produk yang dia jual juga tidak hanya mochi, tetapi bisa membantu UMKM lain menjualkan produknya.
(ada/ara)
Resign dari Bank BUMN, Pasutri Ini Rintis Bisnis Kue Beromzet Puluhan Juta
Rian dan Delli memilih berbisnis makanan Dapur CK & Cool Kedai yang berbasis di Ciamis. Usaha itu pertama kali berjalan pada 2017 usai keduanya menikah. [405] url asal
#peluang-usaha #solusi-ukm #saatnya-jadi-bos #kue
(detikFinance - SolusiUKM) 16/07/24 14:00
v/10951322/
Jakarta - Menjadi pegawai di salah satu bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mungkin menjadi impian banyak orang. Keputusan berbeda diambil Rian (34) dan Delli (38), pasangan suami istri yang memilih resign untuk membuka usaha sendiri.
Rian dan Delli memilih berbisnis makanan Dapur CK & Cool Kedai yang berbasis di Ciamis. Usaha itu pertama kali berjalan pada 2017 usai keduanya menikah.
"Mulai kenal dari bekerja di sana, sama-sama pegawai bank. Karena menikah saya resign, terus kita mulai mikir kayaknya mending usaha aja, akhirnya kita memutuskan untuk fokus di usaha ini," kata Rian saat berbincang dengan detikcom, Selasa (16/7/2024).
Rintis Usaha Kue Beromzet Puluhan Juta, Pasutri Ini Resign dari BUMN Foto: Dok. Dapur CK & Cool Kedai |
Cool Kedai merupakan sebuah usaha yang awalnya menyajikan minuman seperti thai tea dan green tea gerobakan. Sementara Dapur CK membuat kue ulang tahun, donat, hingga roti kukus yang telah memiliki outlet dan tempat produksi sendiri.
"Jadi Dapur CK sama Cool Kedai tidak bisa dipisahkan. Meskipun core bisnisnya sama di dunia kuliner, tapi kita memberikan spesifik yang berbeda. Ketika bicara Cool Kedai adalah sebuah kedai lebih ke fast food, sementara Dapur CK kita coba membuat kuliner tradisional, modern, di dalamnya itu cake and bakery," tuturnya.
Rian mengaku awalnya hanya membuat kue ulang tahun untuk anak yang kemudian diunggah di sosial media. Tanpa disangka ternyata ada peminat yang diminta untuk dibuatkan juga.
"Sampai sekarang akhirnya kita buka untuk agen dan reseller buat kue-kue kering, selain di marketplace karena untuk menjangkau kayak kemarin dari Sulawesi, Kalimantan. Kita sudah ada pengiriman dan permintaan dari luar pulau," bebernya.
Rintis Usaha Kue Beromzet Puluhan Juta, Pasutri Ini Resign dari BUMN Foto: Dok. Dapur CK & Cool Kedai |
Dengan modal awal Rp 500 ribu, kini Rian dan Delli bisa mengantongi Rp 50-70 juta/bulan. Omzet itu sudah meningkat pesat dibandingkan saat awal-awal usaha dirintis.
"Pertama buka di 2017 dalam satu hari pernah hanya dapat Rp 30 ribu, Rp 100 ribu per hari saja sudah sangat bersyukur. Seiring berkembangnya usaha kita mulai memaksimalkan digitalisasi sebagai salah satu channel pemasaran. Melalui marketplace, pemasaran Dapur CK sudah menjangkau hampir seluruh Indonesia," ucapnya.
Rian berpesan agar jangan takut untuk memulai bisnis. Khusus di bidang kuliner, menurutnya hal terpenting yang harus ada yakni rasanya enak, harga sebanding dan memberikan pelayanan baik.
"Kita upgrade diri, upgrade ilmu, bangun hubungan sama siapapun kita welcome. Kita banyak bertemu orang untuk membangun, itu adalah satu kunci yang mungkin bisa sampai saat ini," ucapnya.
(aid/ara)
Cerita Paino, Sukses Jadi Petani Tembakau Hingga Kuliahkan Anak
Petani yang juga menanam padi ini akhirnya memutuskan ikut bergabung menjadi mitra, meskipun tidak pernah bersentuhan dengan pertanian tembakau sebelumnya. [679] url asal
#petani #solusi-ukm #peluang-usaha
(detikFinance - SolusiUKM) 11/07/24 14:00
v/10418262/
Jakarta - Kesejahteraan Paino (55), seorang petani tembakau dari Dukuh Ngepoh, Desa Sumberharjo, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, meningkat sejak dirinya mengikuti program kemitraan dengan Sampoerna melalui perusahaan pemasok.
Paino menceritakan, ia telah menjadi petani mitra dalam program yang dijalankan melalui pemasok sejak tahun 2016. Awalnya, pemasok tersebut mengadakan sosialisasi program kemitraan petani tembakau di desanya.
Petani yang juga menanam padi ini akhirnya memutuskan ikut bergabung menjadi mitra, meskipun tidak pernah bersentuhan dengan pertanian tembakau sebelumnya.
"(Sebelumnya) saya belum pernah tanam tembakau. Tapi karena ajakan teman-teman petani lain yang sudah lebih dulu ikut dan keluarga yang sangat mendukung sekali, saya akhirnya juga ikut program kemitraan," kata Paino, ditulis Kamis (11/7/2024).
Rupanya tidak adanya pengalaman itu bukan masalah. Sebab Paino mendapatkan berbagai pelatihan terkait bertani tembakau. "Ada pelatihan tentang bagaimana cara mengolah tanah, pembibitan, proses tanam, sampai panen dan pasca-panen," jelasnya.
Paino mengenang, pertama kali ikut program kemitraan, ia memulai dengan jumlah bibit tanaman yang lebih sedikit daripada petani tembakau lain pada umumnya. Itu pun dengan diiringi kekhawatiran tanaman tembakaunya tidak berhasil tumbuh dengan baik. Setelah mendapat berbagai pelatihan sebagai bagian dari program kemitraan, Paino akhirnya mengetahui cara tanam yang optimal, sehingga selanjutnya ia menanam tembakau di seluruh lahan miliknya hingga kini.
Sawah menjadi produktif
Program kemitraan Sampoerna bagi Paino adalah berkah. Sebelum ikut program ini, Paino setiap tahunnya hanya melakukan satu kali panen padi. Setelah itu lahannya ditanami jagung.
Bahkan, jika tidak turun hujan atau musim kemarau, lahan sawahnya dia biarkan kosong tidak ditanami tanaman apa pun. Dengan demikian, jika sedang musim kering, Paino tidak memperoleh pendapatan dari lahannya.
"Padi cuma sekali. Habis padi, kadang-kadang kasih jagung. Itu saja kalau hujan. Kalau tidak ada hujan, tidak panen. Jadi sawah nganggur," ungkap Paino.
Sejak ada program kemitraan petani tembakau, jelas Paino, lahan sawah miliknya menjadi produktif saat musim kemarau. Ia tetap dapat mengolah lahan sawahnya untuk ditanami tembakau. "Sekarang lahan sawah saya tidak pernah nganggur. Tiap tahun pasti ditanami tembakau," terang dia.
Diakui Paino, banyak manfaat yang diperoleh sejak ikut menjadi mitra petani tembakau. Penghasilannya jauh meningkat dibandingkan sebelum ikut program kemitraan. Berkat ini, kata Paino, dirinya bisa merenovasi rumah dan membiayai anaknya, Nina Nur Oktavia (24), hingga selesai kuliah. Saat ini, kata Paino anaknya sudah bekerja.
Selain itu, karena pertanian tembakaunya terus berkembang, Paino mengatakan saat ini ia juga mempekerjakan dua orang tetangganya untuk membantu menggarap lahannya selama musim tanam tembakau. Mereka diminta untuk membantu saat pengolahan tanah, pemupukan dan musim panen. Dengan demikian, selain lahan menjadi produktif, program kemitraan pertanian tembakau juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitarnya.
Salah satu pekerja tani tembakau, Setiyono (40) mengaku telah menggeluti pertanian tembakau sejak 2017. Sebelumnya, warga Dukuh Ngepoh, Desa Sumberharjo, Kecamatan Eromoko ini merupakan buruh serabutan.
Sejak menjadi pekerja tani tembakau, penghasilan Setiyono mengalami peningkatan. Ia juga mendapatkan kepastian kesejahteraan dari pekerjaannya sebagai pekerja tani tembakau. "Waktu saya mencoba, hasilnya bermanfaat bagi saya. Terus bisa mencukupi kebutuhan saya," ungkapnya.
Sebagai pekerja tani tembakau, Setiyono mengaku turut mendapat pelatihan sebagai bagian dari program kemitraan Sampoerna. Pelatihan ini meliputi cara merawat tanaman tembakau yang baik dan benar dengan menggunakan alat pelindung diri (APD), proses panen hingga pasca-panen.
Meski tidak setiap hari, jelas Setiyono, hasil dari pekerja tani tembakau bisa mencukupi kebutuhan keluarga. "Bahkan, jika mau juga bisa untuk membeli kendaraan," katanya.
Program kemitraan petani tembakau Sampoerna di Wonogiri pertama kali dimulai tahun 2009. Saat ini, ada sekitar 2.000 petani tembakau yang bergabung ke dalam program tersebut. Mereka tersebar di tiga kecamatan, yaitu Pracimantoro, Eromoko, dan Wuryantoro.
Program yang dijalankan melalui perusahaan pemasok tembakau ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas tembakau dan kesejahteraan petani.
Melalui program kemitraan, para petani binaan mendapatkan pendampingan, bimbingan teknis, akses yang mudah terhadap permodalan serta prasarana produksi pertanian, hingga jaminan pembelian bagi petani sesuai dengan kesepakatan.
Selain pendampingan proses budidaya, para petani binaan juga menerima berbagai pelatihan guna mengurangi dampak terhadap lingkungan dan menciptakan kondisi bekerja yang aman dan berkeadilan.
Beragam program pemberdayaan perempuan dan pendampingan usaha juga diimplementasikan untuk para istri petani tembakau. Rangkaian kegiatan ini bertujuan agar dampak positif program kemitraan dapat juga dirasakan bagi komunitas di sekitar petani.
(fdl/fdl)
Cerita Nur Gandeng Petani Lokal Hingga Bikin Program Menabung Kopi
Keputusan membangun usaha Kopi Gucialit tak dilakukan dengan tiba-tiba. Ia tetap melakukan pengamatan, riset, hingga melihat potensi besar produknya. [770] url asal
#kopi #peluang-usaha #solusi-ukm
(detikFinance - SolusiUKM) 03/07/24 14:00
v/11402346/
Jakarta - Sejak kecil, Nur Kholifah (32) sudah diajak kakek neneknya ke kebun kopi. Dari situ, kecintaan Nur pada kopi bertumbuh, hingga ia punya mimpi ingin membawa produk kopi asal kampung halamannya, Gulacit, Lumajang, Jawa Timur, bisa dikenal dan membuat petani lebih sejahtera.
Nur cerita, keputusan membangun usaha Kopi Gucialit tak dilakukan dengan tiba-tiba. Meski sejak kecil sudah karib dengan perkebunan kopi, Nur tetap melakukan pengamatan, riset, hingga melihat potensi besar yang dimiliki kopi Gucialit.
Selama dua tahun ia berkeliling di Kecamatan Gucialit, berinteraksi dengan petani, dan menyusun apa yang bisa dilakukan dengan kenyataan yang ia jumpai di lapangan.
"Yang aku lihat, potensi kopi banyak banget, tapi belum ada yang mengolah kopi dan dijual produknya. Dari situ, aku melihat ada peluang, dan akhirnya coba mengolah biji kopi dari petani lokal," kisah Nur, ditulis Rabu (3/7/2024).
Ia pun mulai merintis dengan peralatan seadanya, berbekal alat grinding manual. Untuk me-roasting kopi pun Nur dan suaminya harus ke wilayah kota karena tidak memiliki mesin roasting sendiri.
Tak patah semangat, Nur menunjukkan keseriusannya membangun usaha ini. Orang tuanya pun akhirnya turut berkontribusi dengan memberikan sebuah mesin roasting kopi dengan kapasitas 1 kilogram. Dengan adanya alat ini, kapasitas produksi pun bertambah, meski kala itu hanya mampu membeli kopi petani sebanyak maksimal 50 kilogram.
Lalu di 2019, Nur dan suaminya menggagas program Menabung Kopi. Program ini berawal dari fenomena banyaknya petani kopi di Gucialit yang tak langsung menjual produksi kopinya. Sebagian besar memilih menyimpan kopinya sehingga berisiko terhadap kualitas produk.
"Petani kopi di Gucialit itu punya kebiasaan menyimpan kopinya. Kalau enggak butuh mendesak, enggak akan dijual itu kopinya. Kebiasaan ini punya kelemahan, terkait penyimpanan kopi. Kalau tempat penyimpanan kurang bagus, kemasan waktu menyimpan tidak kedap udara, ada risiko kopi rusak. Akibatnya, harga murah," ujar Nur.
Kala itu, ada petani yang menawarkan 100 kilogram kopi hasil panennya. Namun, modal dan kapasitas produksi Kopi Gucialit belum mampu membeli kopi sebanyak itu. Kemudian, Nur menawarkan agar kopinya dititipkan, dan jika sudah terjual, uangnya akan diberikan kepada si petani. Inilah awal mula Menabung Kopi. Untuk memberikan keuntungan lebih, Nur membuat kesepakatan harga dengan petani dengan angka di atas harga pasar.
Menurut dia, hal ini untuk memberikan penghargaan lebih terhadap kopi dan jerih payah para petani.
"Seiring perjalanan, petani mitra merasakan manfaat dari program ini. Ada yang menitipkan kopi untuk biaya kuliah anaknya. Saat itu, dia menabung ketika anaknya kelas 3 SMA, dan terus ikut program ini sampai sekarang anaknya sudah lulus kuliah," cerita Nur.
Dari pengalaman satu petani ini, akhirnya petani mitra yang mengikuti program Menabung Kopi terus bertambah. Bahkan, para petani ini memanfaatkan hasil Menabung Kopi untuk berbagai kebutuhan. Ada petani perempuan yang ikut Menabung Kopi untuk biaya persalinan. Nur juga memberikan pendampingan terhadap petani mitra terkait standar panen, pasca panen, agar kopi yang dihasilkan lebih baik.
Kopi Gucialit pun semakin dikenal, hingga pada 2023, ada 12 petani mitra di Kecamatan Gucialit yang ikut program Menabung Kopi.
Nur mengakui, tak banyak mengantongi ilmu seputar bisnis. Oleh karena itu, berbagai kesempatan mengikuti berbagai pelatihan soal bisnis diikutinya. Nur pernah menjadi peserta inkubasi bisnis untuk memperdalam teori bisnisnya. Inovasi Menabung Kopi juga pernah menjadi juara dalam Lumajang Innovation Award dan bersaing di tingkat Provinsi Jawa Timur hingga masuk Top 15.
Pada ajang Women Ecosystem Catalyst (WEC) 2024, Nur dengan Kopi Gucialit-nya terpilih sebagai Most Impactful Participant. Nur tak menyangka bisa mendapatkan penghargaan ini di WEC 2024.
"Saya tidak menyangka karena peserta-peserta lain juga luar biasa membawa dampak sosial dari bisnisnya. Saya bersyukur. Alhamdulillah," kata dia.
Bagi Nur, penghargaan ini semakin meneguhkan motivasi yang membuatnya ingin mengangkat derajat kopi dan petani kopi di Gucialit. Tak semata bisnis, tetapi yang berdampak bagi sekitarnya.
Dari proses mentoring selama WEC, Nur juga mendapatkan masukan yang berguna untuk pengembangan bisnisnya. Ia berkesempatan didampingi Asri Saraswati Iskandar (Chief Marketing Officer Agradaya). Pengalaman Asri dan Agradaya menginspirasi Nur untuk tak patah semangat membangun Kopi Gucialit dengan memberdayakan masyarakat sekitar.
"Dari pengalaman Mbak Asri, aku merasa tidak sendiri. Memang tak semudah itu memberdayakan masyarakat desa. Tetapi, aku harus terus berjuang dan konsisten dengan tujuan awal," ujar Nur.
Berbagai pengalaman dari para mentor dan berbagai materi yang didapatkan selama WEC akan digunakan Nur untuk mengembangkan usahanya. Ia masih memegang kuat impian agar Kopi Gucialit memiliki rumah produksi yang mumpuni.
Sesuai prinsipnya dalam berbisnis, sak dedeg sak pengawe yang menurut Nur memiliki arti setinggi badan dan setinggi gapaian tangan. Maknanya, lakukan sesuatu sesuai kemampuan dan tahu batas kapasitas yang dimiliki. Nur akan menjalani proses mewujudkan mimpi itu dengan sabar.
"Tetap berusaha maksimal, tetapi tidak memaksakan diri. Kalau memaksakan di luar batas kemampuan, kita bisa cedera atau jatuh. Yang penting jangan gampang menyerah!" kata Nur.
(fdl/fdl)
Sampah Bisa Diolah Jadi Perhiasan hingga Hasilkan Jutaan Rupiah, Kok Bisa?
Di Rubysh, sampah plastik diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual seperti perhiasan, jam tangan, kacamata, dan lain-lain. [441] url asal
#peluang-usaha #saatnya-jadi-bos #solusi-ukm #perhiasan
(detikFinance - SolusiUKM) 02/07/24 14:00
v/11402348/
Jakarta - Sampah, terutama sampah plastik selama ini menjadi barang yang tidak ada nilainya. Di Rubysh, sampah plastik diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual seperti perhiasan, jam tangan, kacamata, dan lain-lain.
Encep Amir adalah orang di balik Rubysh. Dia bercerita, cikal bakal bisnis ini dimulai pada 2013. Saat itu, pria yang menempuh kuliah di bidang Ilmu Lingkungan ini tengah mengerjakan tugas akhir yang fokus pada pengelolaan sampah.
"Saya pernah ada program penelitian di Bandung mengolah sampah jadi berbagai produk mulai dari biogas, pupuk cair dan juga kerajinan. Karena dulu memang gol awalnya mengolah sampahnya. Jadi bukan bikin brand, kaya bikin community recycling center di tengah Kota Bandung," katanya kepada detikcom, ditulis Selasa (2/7/2024)
Seiring berjalannya waktu, tugas akhirnya tiba-tiba dipresentasikan di Kementerian Pendidikan Tinggi (Kemendikti). Saat itu, ia sudah lulus kuliah. Dari situ, kemudian, pihaknya mendapat dana hibah dari Pemerintah Australia.
"Pemerintah Australia punya dana hibah diberikan kepada ide-ide sosial startup. Jadi inisiatif-inisiatif yang sekiranya itu bisa berdampak sosial tapi juga jadikan bisnis," ujarnya.
Lewat dana itu, kemudian ide tadi dibuat serius melalui pengembangan produk. Amir sendiri baru benar-benar meluncurkan produknya pada tahun 2019.
"Prototyping ini lumayan lama, karena memang saya nggak full time. Jadi kadang vakum berapa bulan, lanjut lagi," ungkapnya.
Amir menerangkan, pihaknya saat ini mengolah berbagai limbah. Sebutnya, sampah plastik PET seperti botol minuman kemasan. Lalu, plastik HDPE seperti botol oli, sampo, kosmetik dan lain-lain. Hingga, limbah gelas kaca.
Di Rubysh, sampah plastik diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual seperti perhiasan, jam tangan, kacamata, dan lain-lain. Foto: Dok. Rubysh |
Dalam hal pemasaran, ia menjual produknya secara online dan offline. Untuk online terdapat 3 saluran yakni di website dan dua e-commerce. Sementara, untuk offline ia menjalin kerja sama dengan beberapa toko yang berlokasi Pantai Indah Kapuk (PIK), Tangerang dan Bali.
Produk paling murah yang ia jual yakni ialah cincin di harga Rp 40.000 yang merupakan hasil daur ulang gelas. Sementara, produk yang paling mahal ialah kacamata yang menggunakan daur ulang plastik HDPE yakni mulai Rp 1,2 juta.
"Tapi sebenarnya kalau dibilang penjualan terbesar itu lebih ke produk custom, karena custom jadi kan sifatnya special design, dari segi harganya memang lebih mahal," katanya.
Di Rubysh, sampah plastik diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual seperti perhiasan, jam tangan, kacamata, dan lain-lain. Foto: Dok. Rubysh |
Amir mengaku, pada tahun lalu ia mencatatkan omzet Rp 170 juta setahun. Jika dihitung secara kasar, maka sebulan omzetnya sekitar Rp 14,16 juta.
"Kalau saya berani terang-terangan profitnya juga nggak begitu besar. Tapi memang secara social value-nya aja sih, karena saya selalu mem-branding perusahaan saya social startup," katanya.
(acd/ara)










