#30 tag 24jam
Kredit Menganggur Perbankan Kian Menumpuk, Ini Penyebabnya
Kredit menganggur di bank tercatat terus meningkat. [1,278] url asal
#bank-pembangunan-daerah #kredit-bank #undisbursed-loan #bank-umum #otoritas-jasa-keuangan #bank-kbmi #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #bank
(Kontan-Keuangan) 25/10/24 07:00
v/16351744/
Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Fasilitas kredit kepada nasabah yang belum ditarik atau yang disebut dengan kredit menganggur (Undisbursed Loan) tercatat terus meningkat.
Hal ini menandakan para pengusaha menahan untuk menarik fasilitas kreditnya yang telah disetujui oleh pihak perbankan.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, pada periode Juli 2024 Undisbursed Loan untuk Bank Umum naik 6,89% menjadi Rp 2.158,25 triliun secara tahunan (yoy), dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 2.019,16 triliun.
Dan meningkat secara bulanan (mtm) sebesar 0,28% dari periode Juni 2024 sebesar Rp2.152,19 triliun.
Meningkatnya Undisbursed Loan Bank Umum berasal dari kenaikan Undisbursed Loan Bank Umum KBMI 1,3 dan 4.
Berbeda dengan Bank KBMI 1,3 dan 4, Undisbursed Loan Bank Umum KBMI 2 justru turun 0,20% menjadi Rp 381,88 triliun secara tahunan (yoy) dari Juli 2023 mencapai Rp 382,63 triliun, walaupun tercatat naik secara bulanan 0,78% dari periode Juni 2024 sebesar Rp 384,90 triliun.
Sementara itu, Undisbursed Loan Bank Persero atau milik BUMN tercatat turun pada periode Juli 2024 sebesar 1,47% menjadi Rp 408,14 triliun yoy, dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 414,24 triliun. Namun angka tersebut naik secara bulanan 1,63% dari periode Juni 2024 sebesar Rp 401,58 triliun.
Adapun, Undisbursed Loan Bank Pembangunan Daerah (BPD) yang justru mencatat naik pada periode Juli 2024 sebesar 15,92% menjadi Rp31,39 triliun secara tahunan (yoy), dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp27,08 triliun. Akan tetapi, angka tersebut turun secara bulanan sebesar 0,41% dari periode Juni 2024 sebesar Rp31,52 triliun.
Selanjutnya, Undisbursed Loan Bank Swasta Nasional juga tercatat naik secara tahunan (yoy) pada periode Juli 2024 sebesar 13,97% menjadi Rp 1.442,36 triliun, dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 1.265,55 triliun. Angka tersebut juga naik secara bulanan sebesar 0,02% dari periode Juni 2024 sebesar Rp 1.442,05 triliun.
Pengamat perbankan & praktisi sistem pembayaran Arianto Muditomo menilai, pertumbuhan kredit menganggur kemungkinan berkaitan dengan pelemahan daya beli dan tren deflasi yang terjadi secara beruntun.
Indonesia memang mencatat deflasi lima bulan berturut-turut sejak Mei 2024. Deflasi beruntun tersebut merupakan pertama kali terjadi sejak 1999 atau 25 tahun terakhir.
Menurutnya, saat daya beli masyarakat melemah, permintaan kredit untuk investasi dan konsumsi cenderung berkurang, sehingga kredit yang telah disetujui oleh bank tidak langsung disalurkan (undisbursed).
"Tren deflasi juga bisa mencerminkan penurunan aktivitas ekonomi, yang membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam menggunakan fasilitas kredit untuk ekspansi atau operasional," kata Pria yang akrab disapa Didiet ini kepada Kontan.co.id, Kamis (3/10).
Di sisi lain, OJK juga mencatat pertumbuhan kredit perbankan mencapai 11,4% secara tahunan (yoy) atau Rp 7.508 triliun per Agustus 2024.
Didiet juga mengatakan, pertumbuhan dua digit baik dalam penyaluran kredit maupun undisbursed loan menunjukkan adanya keinginan dari pelaku usaha untuk mendapatkan akses pembiayaan, namun ada penundaan dalam realisasi penggunaan kredit tersebut.
"Ini bisa berarti bahwa meskipun ada pertumbuhan kredit yang baik, banyak nasabah yang belum menggunakan dana pinjaman mereka secara maksimal, mungkin karena ketidakpastian ekonomi atau masih lemahnya permintaan di pasar," ujar Didiet.
Hal ini disebut Didiet, secara umum, mengindikasikan adanya kepercayaan dalam mendapatkan kredit, tetapi ketidakpastian atau hambatan dalam pengambilan keputusan ekonomi yang menyebabkan tertahannya realisasi kredit.
Adapun, kredit menganggur kemungkinan besar berasal dari sektor-sektor yang terkait dengan investasi dan proyek infrastruktur, seperti konstruksi, manufaktur, dan properti.
"Sektor ini biasanya mengajukan kredit dalam jumlah besar, namun realisasi penggunaan dana bisa tertunda karena berbagai faktor, seperti perizinan yang tertunda, hambatan proyek, atau penundaan ekspansi," ucapnya.
Selain itu, sektor usaha yang terkait dengan komoditas atau perdagangan juga bisa mengalami keterlambatan dalam menggunakan kredit, tergantung kondisi pasar.
Hingga akhir 2024, tren undisbursed loan pun diproyeksikan akan tetap tinggi jika ketidakpastian ekonomi, baik global maupun domestik, masih berlangsung. Namun, kata Didiet jika ada perbaikan dalam daya beli, stabilisasi inflasi, dan kepercayaan pasar meningkat, maka sebagian kredit yang menganggur dapat terealisasi, terutama dari sektor-sektor yang menunggu sinyal pemulihan ekonomi.
"Namun demikian, jika kondisi ekonomi belum stabil, undisbursed loan bisa terus tumbuh seiring dengan penyaluran kredit yang juga meningkat," tandasnya.
Kredit menganggur atau undibursed loan di sejumlah bank juga terlihat masih menumpuk, meskipun rata-rata pertumbuhan kredit mereka meningkat dua digit.
Ambil contoh PT Bank Mandiri Tbk yang mencatatkan pertumbuhan kredit sebesr 23% hingga Agustus 2024, mencapai Rp 1.222,13 triliun. Namun kredit menganggur Bank Mandiri masih cukup besar, bahkan naik secara tahunan seiring dengan kredit yang bertumbuh.
Bank Mandiri mencatat total kredit menganggur mencapai Rp 236,28 triliun pada Agustus 2024, naik 15,04% yoy dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp205,39 triliun.
Tidak hanya Bank Mandiri, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga mencatatkan total kredit menganggur yang lebih besar, yakni Rp 405,04 triliun pada Agustus 2024, naik 11,19% yoy dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 364,27 triliun.
Kenaikan kredit menganggur tersebut seiring dengan pertumbuhan kredit BCA yang sebesar 16% yoy pada Agustus 2024 mencapai Rp 842,71 triliun.
EVP Corporate and Social Responsibility BCA, Hera F Haryn mengatakan, kenaikan undisbursed loan perseroan dikarenakan meningkatnya pembiayaan di semua segmen, seperti UKM, Korporasi, hingga kredit konsumer.
"Pada prinsipnya, BCA berkomitmen menyalurkan kredit ke berbagai sektor untuk menunjang program hilirisasi yang dicanangkan pemerintah," kata Hera.
Di sisi lain, bank di jajaran KBMI 3 juga mencatatkan kredit menganggur yang masih menggunung, seperti PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Danamon), kendati mencatatkan penurunan kredit sebesar 7,41% yoy pada Agustus 2024 mencapai Rp 2,00 triliun.
Tetapi total kredit menganggur Danamon justru meningkat, mencapai Rp 103,71 triliun pada semester I-2024, naik 31,43% yoy dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 78,91 triliun.
Sementara PT Bank CIMB Niaga Tbk mencatat total kredit sebesar Rp 4,36 triliun pada Agustus 2024, naik 4,31% yoy dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 4,18 triliun. Sejalan dengan itu, total kredit menganggur perseroan meningkat menjadi 6,71% menjadi Rp 105,13 triliun dari periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 98,52 triliun.
Presiden Direktur Bank CIMB Niaga, Lani Darmawan mengatakan, kebanyakan kredit menganggur tersebut berasal dari debitur segmen Usaha Kredit Menengah (UKM), Korporasi hingga Komersial.
"Saat ini kami tidak melihat ada pergerakan unused credit facility di CIMB Niaga karena pertumbuhan kredit non ritel juga selektif," ungkap Lani.
Adapaun di jajaran Bank Daerah juga mencatatkan kredit menganggur yang masih tinggi.
Edi Masrianto Direktur Keuangan, Treasury and Global Services Bank Jatim menjelaskan, untuk posisi di Agustus 2024, fasilitas kredit relatif sudah digunakan oleh debitur, hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan total kredit month to month (MtM) yang disalurkan oleh BJTM, yang menyentuh Rp 60.6 triliun, tumbuh Rp 1,2 triliun dari Juli 2024.
Walau demikian, Edi mengaku terdapat peningkatan undisbursed loan di bulan Agustus sebesar Rp 1,3 triliun dari bulan Juli 2024 sebesar Rp 1 triliun.
"Sehingga kondisi tersebut mencerminkan terdapat pengaruh deflasi yang terjadi antara bulan Mei-September 2024 ini," katanya.
Hingga agustus 2024, undisbursed loan BJTM disebut Edi mendekati nilai 1% dari total keseluruhan kredit yang telah disalurkan.
Dengan sektor yang mendominasi dalam kurangnya pemaksimalan pemanfaatan kredit BJTM yaitu yang berhubungan dengan kredit modal usaha dibidang perdagangan dan infrastruktur.
Kendati begitu, dengan kebijakan penurunan suku bunga dasar yang ditetapkan oleh BI, pihaknya optimistis akan berpengaruh pada pertumbuhan kredit BJTM secara keseluruhan, termasuk pemanfaatan kredit oleh debitur.
Selain itu, peningkatan demand kredit kepada BJTM, terutama dari sektor-sektor yang berhubungan terhadap biaya modal seperti usaha kecil dan menengah (UMKM).
"Jika kondisi makroekonomi Jawa Timur tetap stabil hingga akhir tahun 2024 ini, tren penyaluran kredit Bank Jatim berpotensi tumbuh hingga akhir tahun sesuai yang ditargetkan," ujar Edi.
Kredit Menganggur Perbankan Kian Menumpuk, Ini Penyebabnya
Kredit menganggur di bank tercatat terus meningkat. [1,278] url asal
#bank-pembangunan-daerah #kredit-bank #undisbursed-loan #bank-umum #otoritas-jasa-keuangan #bank-kbmi #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #bank
(Kontan-Keuangan) 14/10/24 19:25
v/16437024/
Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Fasilitas kredit kepada nasabah yang belum ditarik atau yang disebut dengan kredit menganggur (Undisbursed Loan) tercatat terus meningkat.
Hal ini menandakan para pengusaha menahan untuk menarik fasilitas kreditnya yang telah disetujui oleh pihak perbankan.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, pada periode Juli 2024 Undisbursed Loan untuk Bank Umum naik 6,89% menjadi Rp 2.158,25 triliun secara tahunan (yoy), dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 2.019,16 triliun.
Dan meningkat secara bulanan (mtm) sebesar 0,28% dari periode Juni 2024 sebesar Rp2.152,19 triliun.
Meningkatnya Undisbursed Loan Bank Umum berasal dari kenaikan Undisbursed Loan Bank Umum KBMI 1,3 dan 4.
Berbeda dengan Bank KBMI 1,3 dan 4, Undisbursed Loan Bank Umum KBMI 2 justru turun 0,20% menjadi Rp 381,88 triliun secara tahunan (yoy) dari Juli 2023 mencapai Rp 382,63 triliun, walaupun tercatat naik secara bulanan 0,78% dari periode Juni 2024 sebesar Rp 384,90 triliun.
Sementara itu, Undisbursed Loan Bank Persero atau milik BUMN tercatat turun pada periode Juli 2024 sebesar 1,47% menjadi Rp 408,14 triliun yoy, dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 414,24 triliun. Namun angka tersebut naik secara bulanan 1,63% dari periode Juni 2024 sebesar Rp 401,58 triliun.
Adapun, Undisbursed Loan Bank Pembangunan Daerah (BPD) yang justru mencatat naik pada periode Juli 2024 sebesar 15,92% menjadi Rp31,39 triliun secara tahunan (yoy), dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp27,08 triliun. Akan tetapi, angka tersebut turun secara bulanan sebesar 0,41% dari periode Juni 2024 sebesar Rp31,52 triliun.
Selanjutnya, Undisbursed Loan Bank Swasta Nasional juga tercatat naik secara tahunan (yoy) pada periode Juli 2024 sebesar 13,97% menjadi Rp 1.442,36 triliun, dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 1.265,55 triliun. Angka tersebut juga naik secara bulanan sebesar 0,02% dari periode Juni 2024 sebesar Rp 1.442,05 triliun.
Pengamat perbankan & praktisi sistem pembayaran Arianto Muditomo menilai, pertumbuhan kredit menganggur kemungkinan berkaitan dengan pelemahan daya beli dan tren deflasi yang terjadi secara beruntun.
Indonesia memang mencatat deflasi lima bulan berturut-turut sejak Mei 2024. Deflasi beruntun tersebut merupakan pertama kali terjadi sejak 1999 atau 25 tahun terakhir.
Menurutnya, saat daya beli masyarakat melemah, permintaan kredit untuk investasi dan konsumsi cenderung berkurang, sehingga kredit yang telah disetujui oleh bank tidak langsung disalurkan (undisbursed).
"Tren deflasi juga bisa mencerminkan penurunan aktivitas ekonomi, yang membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam menggunakan fasilitas kredit untuk ekspansi atau operasional," kata Pria yang akrab disapa Didiet ini kepada Kontan.co.id, Kamis (3/10).
Di sisi lain, OJK juga mencatat pertumbuhan kredit perbankan mencapai 11,4% secara tahunan (yoy) atau Rp 7.508 triliun per Agustus 2024.
Didiet juga mengatakan, pertumbuhan dua digit baik dalam penyaluran kredit maupun undisbursed loan menunjukkan adanya keinginan dari pelaku usaha untuk mendapatkan akses pembiayaan, namun ada penundaan dalam realisasi penggunaan kredit tersebut.
"Ini bisa berarti bahwa meskipun ada pertumbuhan kredit yang baik, banyak nasabah yang belum menggunakan dana pinjaman mereka secara maksimal, mungkin karena ketidakpastian ekonomi atau masih lemahnya permintaan di pasar," ujar Didiet.
Hal ini disebut Didiet, secara umum, mengindikasikan adanya kepercayaan dalam mendapatkan kredit, tetapi ketidakpastian atau hambatan dalam pengambilan keputusan ekonomi yang menyebabkan tertahannya realisasi kredit.
Adapun, kredit menganggur kemungkinan besar berasal dari sektor-sektor yang terkait dengan investasi dan proyek infrastruktur, seperti konstruksi, manufaktur, dan properti.
"Sektor ini biasanya mengajukan kredit dalam jumlah besar, namun realisasi penggunaan dana bisa tertunda karena berbagai faktor, seperti perizinan yang tertunda, hambatan proyek, atau penundaan ekspansi," ucapnya.
Selain itu, sektor usaha yang terkait dengan komoditas atau perdagangan juga bisa mengalami keterlambatan dalam menggunakan kredit, tergantung kondisi pasar.
Hingga akhir 2024, tren undisbursed loan pun diproyeksikan akan tetap tinggi jika ketidakpastian ekonomi, baik global maupun domestik, masih berlangsung. Namun, kata Didiet jika ada perbaikan dalam daya beli, stabilisasi inflasi, dan kepercayaan pasar meningkat, maka sebagian kredit yang menganggur dapat terealisasi, terutama dari sektor-sektor yang menunggu sinyal pemulihan ekonomi.
"Namun demikian, jika kondisi ekonomi belum stabil, undisbursed loan bisa terus tumbuh seiring dengan penyaluran kredit yang juga meningkat," tandasnya.
Kredit menganggur atau undibursed loan di sejumlah bank juga terlihat masih menumpuk, meskipun rata-rata pertumbuhan kredit mereka meningkat dua digit.
Ambil contoh PT Bank Mandiri Tbk yang mencatatkan pertumbuhan kredit sebesr 23% hingga Agustus 2024, mencapai Rp 1.222,13 triliun. Namun kredit menganggur Bank Mandiri masih cukup besar, bahkan naik secara tahunan seiring dengan kredit yang bertumbuh.
Bank Mandiri mencatat total kredit menganggur mencapai Rp 236,28 triliun pada Agustus 2024, naik 15,04% yoy dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp205,39 triliun.
Tidak hanya Bank Mandiri, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga mencatatkan total kredit menganggur yang lebih besar, yakni Rp 405,04 triliun pada Agustus 2024, naik 11,19% yoy dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 364,27 triliun.
Kenaikan kredit menganggur tersebut seiring dengan pertumbuhan kredit BCA yang sebesar 16% yoy pada Agustus 2024 mencapai Rp 842,71 triliun.
EVP Corporate and Social Responsibility BCA, Hera F Haryn mengatakan, kenaikan undisbursed loan perseroan dikarenakan meningkatnya pembiayaan di semua segmen, seperti UKM, Korporasi, hingga kredit konsumer.
"Pada prinsipnya, BCA berkomitmen menyalurkan kredit ke berbagai sektor untuk menunjang program hilirisasi yang dicanangkan pemerintah," kata Hera.
Di sisi lain, bank di jajaran KBMI 3 juga mencatatkan kredit menganggur yang masih menggunung, seperti PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Danamon), kendati mencatatkan penurunan kredit sebesar 7,41% yoy pada Agustus 2024 mencapai Rp 2,00 triliun.
Tetapi total kredit menganggur Danamon justru meningkat, mencapai Rp 103,71 triliun pada semester I-2024, naik 31,43% yoy dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 78,91 triliun.
Sementara PT Bank CIMB Niaga Tbk mencatat total kredit sebesar Rp 4,36 triliun pada Agustus 2024, naik 4,31% yoy dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 4,18 triliun. Sejalan dengan itu, total kredit menganggur perseroan meningkat menjadi 6,71% menjadi Rp 105,13 triliun dari periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 98,52 triliun.
Presiden Direktur Bank CIMB Niaga, Lani Darmawan mengatakan, kebanyakan kredit menganggur tersebut berasal dari debitur segmen Usaha Kredit Menengah (UKM), Korporasi hingga Komersial.
"Saat ini kami tidak melihat ada pergerakan unused credit facility di CIMB Niaga karena pertumbuhan kredit non ritel juga selektif," ungkap Lani.
Adapaun di jajaran Bank Daerah juga mencatatkan kredit menganggur yang masih tinggi.
Edi Masrianto Direktur Keuangan, Treasury and Global Services Bank Jatim menjelaskan, untuk posisi di Agustus 2024, fasilitas kredit relatif sudah digunakan oleh debitur, hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan total kredit month to month (MtM) yang disalurkan oleh BJTM, yang menyentuh Rp 60.6 triliun, tumbuh Rp 1,2 triliun dari Juli 2024.
Walau demikian, Edi mengaku terdapat peningkatan undisbursed loan di bulan Agustus sebesar Rp 1,3 triliun dari bulan Juli 2024 sebesar Rp 1 triliun.
"Sehingga kondisi tersebut mencerminkan terdapat pengaruh deflasi yang terjadi antara bulan Mei-September 2024 ini," katanya.
Hingga agustus 2024, undisbursed loan BJTM disebut Edi mendekati nilai 1% dari total keseluruhan kredit yang telah disalurkan.
Dengan sektor yang mendominasi dalam kurangnya pemaksimalan pemanfaatan kredit BJTM yaitu yang berhubungan dengan kredit modal usaha dibidang perdagangan dan infrastruktur.
Kendati begitu, dengan kebijakan penurunan suku bunga dasar yang ditetapkan oleh BI, pihaknya optimistis akan berpengaruh pada pertumbuhan kredit BJTM secara keseluruhan, termasuk pemanfaatan kredit oleh debitur.
Selain itu, peningkatan demand kredit kepada BJTM, terutama dari sektor-sektor yang berhubungan terhadap biaya modal seperti usaha kecil dan menengah (UMKM).
"Jika kondisi makroekonomi Jawa Timur tetap stabil hingga akhir tahun 2024 ini, tren penyaluran kredit Bank Jatim berpotensi tumbuh hingga akhir tahun sesuai yang ditargetkan," ujar Edi.
Kinerja Laba Bank KBMI III Beragam, Sebagian Catat Penurunan Per Agustus 2024
Sejumlah bank di jajaran Kelompok Bank berdasakan Modal Inti (KBMI) III mencatat kinerja yang beragam hingga Agustus 2024. [1,102] url asal
#laba-bank #kelompok-bank-berdasarkan-modal-inti-kbmi #bank-kbmi #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #bank
(Kontan-Uang) 08/10/24 19:20
v/16163404/
Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah bank di jajaran Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) III mencatat kinerja yang beragam hingga Agustus 2024. Sejumlah bank sukses mencapai pertumbuhan laba, namun di sisi yang lain harus terpuruk pada delapan bulan pertama 2024.
Berdasarkan laporan bulanan, anak usaha BUMN seperti PT Bank Syariah Tbk. alias BSI (BRIS) dan PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) mampu membukukan kenaikan laba bersih per Agustus 2024.
Tercatat laba BRIS mencapai Rp 4,47 triliun, tumbuh 20,59% dari sebelumnya Rp 3,71 triliun pada Agustus 2023.
Direktur Utama BSI Hery Gunardi pun optimistis dapat mempertahankan pertumbuhan laba bersih di atas 30% pada 2024.
BSI juga menargetkan penyaluran pembiayaan tumbuh 16%-18% pada 2024. Selain itu, BSI mendorong pendapatan berbasis komisi (fee based income) agar dapat tumbuh di atas 10% pada 2024.
Hery menyebut, fee based income akan bersumber dari transaksi treasury, investasi syariah, reksadana dan lainnya. Ada juga fee admin deposit hingga transaksi digital.
"BSI juga menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga pertumbuhan laba, salah satunya dengan mendongkrak pembiayaan yang menghasilkan margin bagi hasil," ujarnya.
Adapun BNGA membukukan laba mencapai Rp 4,36 triliun pada Agustus 2024, meningkat 4,23% dibanding periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 4,18 triliun.
Direktur Utama BNGA Lani Darmawan menerangkan, bahwa pihaknya fokus di dana pihak ketiga (DPK) dan CASA karena tahun ini cost of fund tetap tinggi. Sehingga kata Lani, baik DPK terutama CASA dan kredit tetap tumbuh positif.
"Utntuk kredit kami memilih fokus di UKM dan ritel, adapun penyaluran ke korporasi lebih hati-hati karena CoF masih tinggi," ujar Lani.
Selain itu, fokus penting lainnya, disebut Lani ada di efisiensi untuk menjaga CIR yang bagus dan asset quality NPL agar tidak terbebani dengan CKPN provisi yang bisa menghantam profit.
Tak mau kalah, kelompok keuangan Singapura PT Bank OCBC NISP Tbk. (NISP) membukukan pertumbuhan laba sebesar 29,90% menjadi Rp 3,58 triliun dari sebelumnya Rp 2,75 triliun di Agustus 2023.
Seperti diketahui, belum lama ini Bank OCBC NISP resmi mengumumkan penggabungan usaha atau merger dengan Bank Commonwealth. Langkah ini disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT Bank OCBC NISP Tbk yang berlangsung di OCBC Tower Jakarta, hari ini.
Presiden Direktur OCBC Parwati Surjaudaja menyampaikan optimisme usai merger dilakukan. Menurutnya ini adalah strategi yang menandai tahapan baru dalam industri perbankan Indonesia bagi OCBC.
Merger ini juga merupakan langkah strategis yang dilakukan oleh OCBC untuk terus tumbuh menjadi Bank swasta terkemuka di Indonesia. Hal ini juga mencerminkan komitmen dalam peningkatan layanan nasabah dan pemanfaatan peluang yang ada di pasar perbankan nasional.
"Kami percaya penggabungan ini akan membawa sinergi. Dengan menyatukan kekuatan yang dimiliki, OCBC siap melayani basis nasabah yang lebih luas dengan solusi perbankan yang lebih komprehensif," beber Parwati.
Lebih lanjut, integrasi nasabah ritel dan UKM Bank Commonwealth akan menguatkan posisi pasar OCBC, memperbesar portfolio, dan mengukuhkan OCBC menjadi salah satu bank swasta terdepan di Indonesia.
Sayangnya, sejumlah bank lain seperti PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) mengalami penurunan kinerja per Agustus 2024
Laba BBTN tercatat susut 9,75% secara tahunan per Agustus 2024 menjadi Rp 1,80 triliun dari Rp 2 triliun per Agustus 2023.
Selanjutnya, Panin Bank (PNBN) juga mencatatkan penurunan laba hingga 12,20% menjadi Rp 1,67 triliun pada Agustus 2024 dari sebelumnya Rp 1,91 pada Agustus 2023.
Di tengah penurunan kinerja, ada kabar terkait penjualan saham atau divestasi Bank Panin (PNBN) oleh ANZ. Tak hanya ANZ, keluarga Mu'min Ali Gunawan juga dikabarkan mempertimbangkan melepas saham pengendali.
Kabar terbaru menyebutkan, para pemegang saham PNBN telah menunjuk Citigroup untuk menjalankan rencana penjualan saham PNBN. Sumber Reuters yang mengetahui proses tersebut menyebutkan materi pemasaran telah dikirimkan kepada buyer potensial dan proses penjualan resmi masih beberapa pekan lagi.
Namun, Bank Panin membantah pernyataan tersebut datang dari manajemen perusahaan. Bank Panin memberikan pernyataan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) bahwa kabar tersebut bukan berasal dari manajemen Bank Panin, sehingga perseroan tidak mengetahui kebenaran berita yang dimaksud.
“Tidak terdapat informasi, fakta, dan/atau kejadian penting lainnya yang dapat mempengaruhi secara material kelangsungan kegiatan usaha Perseroan dan harga saham Perseroan yang belum diungkapkan oleh Perseroan kepada Bursa Efek Indonesia,” tulis manajemen PNBN.
Selain itu, PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) juga turun 6,99% menjadi Rp 2 triliun dari sebelumnya Rp 2,1 triliun.
Adapula PT Bank BTPN Tbk dan Maybank Indonesia yang membukukan penyusutan laba masing-masing sebesar 12,61% dan 65,53%. Di mana, per Agustus 2024 laba Bank BTPN mencapai Rp1,51 triliun dan Maybank sebesar Rp 350,59 miliar.
Penyusutan cuan pada awal tahun juga terjadi pada PT Bank Mega Tbk (MEGA) sebesar 31,98% menjadi Rp 1,72 triliun dari sebelumnya Rp 2,53 triliun.
Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengatakan, penyebab fluktuatifnya kinerja bank KBMI III karena peningkatan beban operasional sementara pertumbuhan pendapatan agak terhambat atau adanya kenaikan BOPO.
"Kinerja kuartal ketiga sepertinya juga tidak jauh berbeda, dan proyeksi sampai akhir tahun juga masih fluktuatif, ada yang mencatat pertumbuhan ada yang mengalami penurunan," kata Trioksa.
Adapun Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menilai, Bank KBMI III memang tengah menghadapi tantangan karena economic of scale-nya lebih terbatas dibandingkan dengan bank-bank besar.
"Sehingga memang kalau diperhatikan dari kinerjanya, ini akan cenderung lebih fluktuatif. Kalau dalam kondisi ekonomi yang kecenderungannya sedang melambat seperti hari ini, mereka akan lebih challenging, terutama dalam menyalurkan kredit yang sifatnya kredit jangka panjang atau kredit produktif," jelas Eko.
Bank KBMI III disebut Eko memang mengalami tantangan yang tidak ringan, karena economic of scale-nya membuat persaingan dengan bank-bank besar dengan menawarkan bunga yang lebih menarik.
Artinya, kata Eko kecenderungannya di KBMI 3 bunganya untuk simpanan lebih tinggi, tapi juga untuk penyaluran kreditnya, untuk skala ekonomi, skala likuiditas, biasanya jangkauannya tidak lebih luas dibandingkan dengan bank besar, sehingga itulah yang kadang-kadang menyebabkan pasang surut kinerja keuangannya.
"Kalau saya lihat sebetulnya untuk kuartal ketiga ini kinerja keuangannya tidak akan banyak berubah karena tidak ada hal kejutan atau ekonomi yang sangat akseleratif atau momen-momen yang sangat mendorong kredit di kuartal 3," kata Eko.
Sementara sampai akhir tahun, ia memperkirakan dari sisi penyaluran kredit, kemungkinan lajunya akan lebih rendah dibandingkan dengan bank besar. Menurut Eko, yang lebih menantang adalah cara mereka untuk bisa mendapatkan simpanan, karena dalam konteks perlambatan ekonomi tentu uang yang bisa disimpan atau dana pihak ketiga dari masyarakat itu juga kecenderungannya tumbuhnya moderat.
"Nah, ketika berebut mereka harus memberikan bunga yang lebih tinggi tadi untuk bisa mendapatkan liabilitas Itu kadang-kadang membuat cekaknya kinerja mereka begitu ketika situasi ekonomi cenderung turun," tandasnya.
Tren Deflasi Beruntun Sebabkan Kredit Menganggur Perbankan Kian Menumpuk
Fasilitas kredit kepada nasabah yang belum ditarik atau yang disebut dengan kredit menganggur tercatat terus meningkat. [1,269] url asal
#bank-pembangunan-daerah #undisbursed-loan #bank-umum #otoritas-jasa-keuangan #bank-kbmi #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Keuangan) 03/10/24 19:27
v/15922101/
Reporter: Selvi Mayasari | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Fasilitas kredit kepada nasabah yang belum ditarik atau yang disebut dengan kredit menganggur (Undisbursed Loan) tercatat terus meningkat.
Hal ini menandakan para pengusaha menahan untuk menarik fasilitas kreditnya yang telah disetujui oleh pihak perbankan.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, pada periode Juli 2024 Undisbursed Loan untuk Bank Umum naik 6,89% menjadi Rp 2.158,25 triliun secara tahunan (yoy), dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 2.019,16 triliun.
Dan meningkat secara bulanan (mtm) sebesar 0,28% dari periode Juni 2024 sebesar Rp2.152,19 triliun.
Meningkatnya Undisbursed Loan Bank Umum berasal dari kenaikan Undisbursed Loan Bank Umum KBMI 1,3 dan 4.
Berbeda dengan Bank KBMI 1,3 dan 4, Undisbursed Loan Bank Umum KBMI 2 justru turun 0,20% menjadi Rp 381,88 triliun secara tahunan (yoy) dari Juli 2023 mencapai Rp 382,63 triliun, walaupun tercatat naik secara bulanan 0,78% dari periode Juni 2024 sebesar Rp 384,90 triliun.
Sementara itu, Undisbursed Loan Bank Persero atau milik BUMN tercatat turun pada periode Juli 2024 sebesar 1,47% menjadi Rp 408,14 triliun yoy, dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 414,24 triliun. Namun angka tersebut naik secara bulanan 1,63% dari periode Juni 2024 sebesar Rp 401,58 triliun.
Adapun, Undisbursed Loan Bank Pembangunan Daerah (BPD) yang justru mencatat naik pada periode Juli 2024 sebesar 15,92% menjadi Rp31,39 triliun secara tahunan (yoy), dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp27,08 triliun. Akan tetapi, angka tersebut turun secara bulanan sebesar 0,41% dari periode Juni 2024 sebesar Rp31,52 triliun.
Selanjutnya, Undisbursed Loan Bank Swasta Nasional juga tercatat naik secara tahunan (yoy) pada periode Juli 2024 sebesar 13,97% menjadi Rp 1.442,36 triliun, dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 1.265,55 triliun. Angka tersebut juga naik secara bulanan sebesar 0,02% dari periode Juni 2024 sebesar Rp 1.442,05 triliun.
Pengamat perbankan & praktisi sistem pembayaran Arianto Muditomo menilai, pertumbuhan kredit menganggur kemungkinan berkaitan dengan pelemahan daya beli dan tren deflasi yang terjadi secara beruntun.
Indonesia memang mencatat deflasi lima bulan berturut-turut sejak Mei 2024. Deflasi beruntun tersebut merupakan pertama kali terjadi sejak 1999 atau 25 tahun terakhir.
Menurutnya, saat daya beli masyarakat melemah, permintaan kredit untuk investasi dan konsumsi cenderung berkurang, sehingga kredit yang telah disetujui oleh bank tidak langsung disalurkan (undisbursed).
"Tren deflasi juga bisa mencerminkan penurunan aktivitas ekonomi, yang membuat perusahaan lebih berhati-hati dalam menggunakan fasilitas kredit untuk ekspansi atau operasional," kata Pria yang akrab disapa Didiet ini kepada Kontan.co.id, Kamis (3/10).
Di sisi lain, OJK juga mencatat pertumbuhan kredit perbankan mencapai 11,4% secara tahunan (yoy) atau Rp 7.508 triliun per Agustus 2024.
Didiet juga mengatakan, pertumbuhan dua digit baik dalam penyaluran kredit maupun undisbursed loan menunjukkan adanya keinginan dari pelaku usaha untuk mendapatkan akses pembiayaan, namun ada penundaan dalam realisasi penggunaan kredit tersebut.
"Ini bisa berarti bahwa meskipun ada pertumbuhan kredit yang baik, banyak nasabah yang belum menggunakan dana pinjaman mereka secara maksimal, mungkin karena ketidakpastian ekonomi atau masih lemahnya permintaan di pasar," ujar Didiet.
Hal ini disebut Didiet, secara umum, mengindikasikan adanya kepercayaan dalam mendapatkan kredit, tetapi ketidakpastian atau hambatan dalam pengambilan keputusan ekonomi yang menyebabkan tertahannya realisasi kredit.
Adapun, kredit menganggur kemungkinan besar berasal dari sektor-sektor yang terkait dengan investasi dan proyek infrastruktur, seperti konstruksi, manufaktur, dan properti.
"Sektor ini biasanya mengajukan kredit dalam jumlah besar, namun realisasi penggunaan dana bisa tertunda karena berbagai faktor, seperti perizinan yang tertunda, hambatan proyek, atau penundaan ekspansi," ucapnya.
Selain itu, sektor usaha yang terkait dengan komoditas atau perdagangan juga bisa mengalami keterlambatan dalam menggunakan kredit, tergantung kondisi pasar.
Hingga akhir 2024, tren undisbursed loan pun diproyeksikan akan tetap tinggi jika ketidakpastian ekonomi, baik global maupun domestik, masih berlangsung. Namun, kata Didiet jika ada perbaikan dalam daya beli, stabilisasi inflasi, dan kepercayaan pasar meningkat, maka sebagian kredit yang menganggur dapat terealisasi, terutama dari sektor-sektor yang menunggu sinyal pemulihan ekonomi.
"Namun demikian, jika kondisi ekonomi belum stabil, undisbursed loan bisa terus tumbuh seiring dengan penyaluran kredit yang juga meningkat," tandasnya.
Kredit menganggur atau undibursed loan di sejumlah bank juga terlihat masih menumpuk, meskipun rata-rata pertumbuhan kredit mereka meningkat dua digit.
Ambil contoh PT Bank Mandiri Tbk yang mencatatkan pertumbuhan kredit sebesr 23% hingga Agustus 2024, mencapai Rp 1.222,13 triliun. Namun kredit menganggur Bank Mandiri masih cukup besar, bahkan naik secara tahunan seiring dengan kredit yang bertumbuh.
Bank Mandiri mencatat total kredit menganggur mencapai Rp 236,28 triliun pada Agustus 2024, naik 15,04% yoy dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp205,39 triliun.
Tidak hanya Bank Mandiri, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) juga mencatatkan total kredit menganggur yang lebih besar, yakni Rp 405,04 triliun pada Agustus 2024, naik 11,19% yoy dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 364,27 triliun.
Kenaikan kredit menganggur tersebut seiring dengan pertumbuhan kredit BCA yang sebesar 16% yoy pada Agustus 2024 mencapai Rp 842,71 triliun.
EVP Corporate and Social Responsibility BCA, Hera F Haryn mengatakan, kenaikan undisbursed loan perseroan dikarenakan meningkatnya pembiayaan di semua segmen, seperti UKM, Korporasi, hingga kredit konsumer.
"Pada prinsipnya, BCA berkomitmen menyalurkan kredit ke berbagai sektor untuk menunjang program hilirisasi yang dicanangkan pemerintah," kata Hera.
Di sisi lain, bank di jajaran KBMI 3 juga mencatatkan kredit menganggur yang masih menggunung, seperti PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Danamon), kendati mencatatkan penurunan kredit sebesar 7,41% yoy pada Agustus 2024 mencapai Rp 2,00 triliun.
Tetapi total kredit menganggur Danamon justru meningkat, mencapai Rp 103,71 triliun pada semester I-2024, naik 31,43% yoy dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 78,91 triliun.
Sementara PT Bank CIMB Niaga Tbk mencatat total kredit sebesar Rp 4,36 triliun pada Agustus 2024, naik 4,31% yoy dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 4,18 triliun. Sejalan dengan itu, total kredit menganggur perseroan meningkat menjadi 6,71% menjadi Rp 105,13 triliun dari periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 98,52 triliun.
Presiden Direktur Bank CIMB Niaga, Lani Darmawan mengatakan, kebanyakan kredit menganggur tersebut berasal dari debitur segmen Usaha Kredit Menengah (UKM), Korporasi hingga Komersial.
"Saat ini kami tidak melihat ada pergerakan unused credit facility di CIMB Niaga karena pertumbuhan kredit non ritel juga selektif," ungkap Lani.
Adapaun di jajaran Bank Daerah juga mencatatkan kredit menganggur yang masih tinggi.
Edi Masrianto Direktur Keuangan, Treasury and Global Services Bank Jatim menjelaskan, untuk posisi di Agustus 2024, fasilitas kredit relatif sudah digunakan oleh debitur, hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan total kredit month to month (MtM) yang disalurkan oleh BJTM, yang menyentuh Rp 60.6 triliun, tumbuh Rp 1,2 triliun dari Juli 2024.
Walau demikian, Edi mengaku terdapat peningkatan undisbursed loan di bulan Agustus sebesar Rp 1,3 triliun dari bulan Juli 2024 sebesar Rp 1 triliun.
"Sehingga kondisi tersebut mencerminkan terdapat pengaruh deflasi yang terjadi antara bulan Mei-September 2024 ini," katanya.
Hingga agustus 2024, undisbursed loan BJTM disebut Edi mendekati nilai 1% dari total keseluruhan kredit yang telah disalurkan.
Dengan sektor yang mendominasi dalam kurangnya pemaksimalan pemanfaatan kredit BJTM yaitu yang berhubungan dengan kredit modal usaha dibidang perdagangan dan infrastruktur.
Kendati begitu, dengan kebijakan penurunan suku bunga dasar yang ditetapkan oleh BI, pihaknya optimistis akan berpengaruh pada pertumbuhan kredit BJTM secara keseluruhan, termasuk pemanfaatan kredit oleh debitur.
Selain itu, peningkatan demand kredit kepada BJTM, terutama dari sektor-sektor yang berhubungan terhadap biaya modal seperti usaha kecil dan menengah (UMKM).
"Jika kondisi makroekonomi Jawa Timur tetap stabil hingga akhir tahun 2024 ini, tren penyaluran kredit Bank Jatim berpotensi tumbuh hingga akhir tahun sesuai yang ditargetkan," ujar Edi.
Saham Bank Jumbo BBCA, BMRI Cs Ramai Diborong Asing, Cek Rekomendasinya
Saham bank BBCA hingga BMRI ramai diborong investor asing dalam sepekan perdagangan. Analis menilai saham bank-bank jumbo masih berperingkat overweight. [533] url asal
#bank-jumbo #emiten-perbankan #saham-bank #bbca #bmri #bbni #bank-bca #bank-mandiri #modal-inti-iv #kbmi #kbmi-iv #rekomendasi-saham #kinerja-bbca #kinerja-bmri #kinerja-bbni #invesor-asing #diborong-a
(Bisnis.Com - Market) 07/07/24 10:45
v/9950079/
Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja harga saham bank jumbo atau kelompok bank dengan modal inti (KBMI) IV seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) moncer dalam sepekan perdagangan, dari 1 Juli 2024 sampai 5 Juli 2024.
Berdasarkan data RTI Business, harga saham BBCA naik 1,27% pada perdagangan akhir pekan, Jumat (5/7/2024), ditutup di level Rp9.950. Harga saham BBCA juga naik 0,25% dalam sepekan.
Harga saham BMRI naik 2,8% ke level Rp6.425 per lembar pada perdagangan akhir pekan. BMRI pun mencatatkan peningkatan harga saham 4,47% dalam sepekan.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mencatatkan kenaikan harga saham 4,35% dalam sepekan ke level Rp4.800. Lalu, harga saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) naik 0,86% dalam sepekan ke level Rp4.700.
Saham bank-bank jumbo ini pun banyak diborong investor asing dalam sepekan perdagangan. BBCA misalnya mencatatkan nilai beli asing atau net foreign buy sebesar Rp1,35 triliun dalam sepekan perdagangan terakhir.
Lalu, net foreign buy BBRI dan BMRI masing-masing mencapai Rp1,04 triliun serta Rp625,35 miliar dalam sepekan perdagangan.
Kinerja moncer harga saham bank jumbo terjadi seiring dengan kinerja laba yang masih tumbuh. BRI misalnya mencatatkan pertumbuhan laba 8,83% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp21,9 triliun per Mei 2024.
Kemudian, laba BCA naik 11,65% yoy menjadi Rp21,63 triliun hingga Mei 2024. BMRI mencatatkan pertumbuhan laba 6,4% yoy menjadi Rp19,62 triliun. Selain itu, laba BNI naik 1,51% yoy menjadi Rp8,56 triliun hingga Mei 2024.
Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim mengatakan kinerja laba bank ditopang oleh kredit yang juga moncer. Per Mei 2024, BCA mencatatkan pertumbuhan kredit 15,91% yoy menjadi Rp826,72 triliun.
Adapun, pada keseluruhan kuartal II/2024, BCA menurutnya menjaga pertumbuhan kredit di level 15%. “Kredit di kisaran 15% lebih, kalau bank alone 15,4%. Biasanya [kredit] konsolidasi lebih tinggi,” ujarnya pada awak media di Investor Network Summit 2024 pada beberapa waktu lalu (3/7/2024).
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan harga saham bank-bank jumbo moncer dipengaruhi sentimen proyeksi penurunan suku bunga The Fed. "Ini on the right track ada pelonggaran dan ada stimulus positif ke saham-saham perbankan," kata Nafan kepada Bisnis.
Dengan pelonggaran kebijakan suku bunga The Fed, Bank Indonesia (BI) pun akan mengikuti pelonggaran kebijakan moneternya. "BI bisa dua kali longgarkan kebijakan, dibanding The Fed dan ini mampu mendorong likuiditas di perbankan. Secara seasonal kredit juga tumbuh dobel digit apalagi semester kedua," katanya.
Analis Samuel Sekuritas Prasetya Gunadi dan Brandon Boedhiman menilai saham bank-bank jumbo masih berperingkat overweight. "BMRI dan BBCA sebagai pilihan utama kami," kata Prasetya dan Brandon dalam risetnya.
Menurut Prasetya dan Brandon, bank-bank jumbo itu sebagian besar telah diperhitungkan oleh pasar karena memiliki rasio dana murah atau current account saving account (CASA) yang tinggi. Dengan kondisi tersebut, bank jumbo akan terus menikmati biaya dana yang lebih rendah di tengah kondisi likuiditas yang semakin ketat.
__________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.