#30 tag 24jam
Masih Belajar Berdemokrasi - kumparan.com
Pentingnya pengetahuan akan negaranya sebagai bahan belajar bernegara oleh para aktor politik berdasarkan pandangan Gusdur. [816] url asal
#respons #masih #berdemokrasi #demokrasi #negara #bangsa #belajar
(Kumparan.com) 28/08/24 07:08
v/14784778/
Judul ini bukanlah semata bentuk respons dari adanya pergolakan belakangan ini. Tidak. Tidak pula karena terbawa arus media yang terus menyoroti langkah-langkah para politikus. Apalagi dibuat karena disebut "memancing di air yang keruh", tidak sama sekali. Jikapun dianggap relevan, kembali saja kepada petikan Philip Guedalla (1889-1944) bahwa "sejarah berulang dengan sendirinya, sejarawan saling mengulang satu sama lain".
Judul ini adalah penggalan ungkapan seorang tokoh ulama cum negarawan. Tokoh ini, pada 2001 dihadapkan pada sebuah turbulensi politik yang cukup dahsyat. Meski demikian, publik terus mengabadikan namanya sebagai guru bangsa dan seorang pluralis nan humanis. Tokoh tersebut adalah KH Abdurrahman Wahid atau yang biasa dikenal dengan Gus Dur, presiden Republik Indonesia keempat.
Tatkala ditempa banyak tekanan tak berarah dari parlemen dan lawan politiknya, Gus Dur membuat sebuah konferensi pers di istana guna menjelaskan situasi terkini berikut pandangannya dalam mengurai masalah kenegaraan yang terjadi. Adapun Gus Dur menyebut;
"Saya tetap pada pendirian bahwa kita perlu mencari kompromi secara damai. Kompromi secara damai ini kita perlukan, karena kita masih belajar berdemokrasi.." -Gus Dur, 2001-
Mengingat gentingnya keadaan, video rilis Gus Dur ini juga dimuat oleh stasiun televisi AP asal Amerika Serikat atau Associated Press (AP). Kantor berita yang didirikan sejak tahun 1846 ini memang sejak lama berada di Indonesia, menyimpan banyak sumber visual yang bisa dipakai oleh para pengamat ataupun sejarawan sebagai sumber sejarah. Salah satunya adalah ketika Gus Dur masih memimpin sebagai presiden.
Dari pandangan Gus Dur ini kita bisa melihat sebuah realitas zaman, bahwa keniscayaan pada negara yang menginginkan berdemokrasi dapat terimplementasi dengan baik. Harapannya ini pula yang selalu digoreskan dalam pandangannya melalui kolom-kolom media ataupun esai-esai yang dituliskan Gus Dur, dan bisa kita telusuri hingga kini.
Diksi "belajar" pada ungkapan Gus Dur di atas adalah kata kunci pada tulisan ini. Belajar, sebagaimana makna lema-nya berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu atau berlatih (KBBI, 2024), membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Membutuhkan latihan, trial and error tiada usai. Sebuah diksi yang menyiratkan gairah mengembalikan makna berdemokrasi sesuai para porosnya dengan keadaan apapun: mengembalikan suara rakyat sebagai suara Tuhan (vox populi vox dei).
Sebagaimana dipahami, bahwa setiap kata selalu hadir menggambarkan ruang waktunya. Sebagaimana demikian pula kita dapat melihat kata "belajar" itu dimunculkan di tahun 2001 tersebut, menyimpan adanya sebuah upaya luhur Gus Dur mempertahankan norma kepentingan umum di atas kepentingan politik atau golongannya. Mengokohkan prinsip dan pondasi damai yang sudah dianutnya secara fundamen.
Gus Dur tidak menggunakan istilah "menerapkan", "mengupayakan", apalagi "memaksakan" demokrasi. Sebab memang konteks "belajar" selalu lebih luas dan berulang. Karenanya, keinginan akan penerapan demokrasi itu tidak bisa berhenti pada masa itu saja, tapi berkesinambungan melintasi lintas kekuasaan.
Seiring berjalannya waktu, gejolak yang hilang-timbul perlu dipertemukan dengan kearifan pembelajaran yang matang dipersiapkan. Lafaz "belajar" perlu dikembalikan kepada makna asalnya, tidak berhenti pada pemahaman kita akan rumusan teoritis di atas menara gading. Pemahaman akan belajar berdemokrasi harus tetap dilakukan, agar ketika hendak menghadapi kesalahan langkah, kita semua mau bercermin kepada kesalahan-kesalahan sebelumnya. Serta menyelesaikannya berasakan kepada kemaslahatan orang banyak, tashorruf al-Imam ala ar-Ra’iyah manuthun bi al-Maslahah” (kebijakan Pemerintah atas rakyat harus didasarkan pada prinsip kemaslahatan).
Memang secara faktual, ungkapan Gus Dur adalah istilah di zaman itu, di mana bentuk pemerintahan masih berlandaskan pemilihan parlemen. Namun kenyataan lainnya menunjukkan bahwa ungkapan itu mampu menjadi renungan tidak terbatas pada dimensi waktu tertentu.
Maksudnya, proses penerapan sistem kenegaraan kita yang terus bergulir sejak masa revolusi, demokrasi liberal, demokrasi terpimpin, orde lama, orde baru hingga reformasi juga merupakan ruang pembelajaran. Pengadopsian dari satu sistem ke sistem lainnya bukanlah bentuk pertimbangan sederhana. Ruang belajar itulah yang kiranya dimaksudkan Gus Dur sebagai titik temu dari pentingnya mempertemukan kegaduhan rakyat dengan kepentingan politis.
Sederhananya, negara kita sudah memiliki banyak sekali bahan pembelajaran. Pembentukan keputusan bernegara haruslah berlandaskan spirit pembelajaran. Negara perlu belajar dari negara lain, atau terhadap kekacauan negaranya sendiri yang pernah dialami. Terlebih, sejarah bernegara kita sudah luber dibanjiri darah, baik dimulai pasca dibacakannya teks Proklamasi, maupun rentang jauh sebelum itu di masa kerajaan. Sejauh mana kegaduhan yang kerap terjadi perlu diperhitungkan sebagai bagian dari proses menemukan pengetahuan. Adakah mau kembali diulang?
Pengetahuan inilah yang seringkali luntur (atau dilupakan?). Kita tidak kembali berpijak pada tujuan akhir (berdemokrasi), atau tidak pula menggunakan langkah-langkah menujunya (baca: belajar). Ibarat seorang siswa, belum sampai di ruang kelas untuk berdiskusi, sudah sibuk tertahan oleh godaan menggosip di meja kantin. Lebih nahasnya, tidak berangkat sama sekali ke sekolah untuk berprestasi sebab sibuk dengan di rumah bermain dengan hewan peliharaan.
Di lain hal, lema "belajar berdemokrasi" juga adalah simbol reflektif bagi rakyat secara umum. Bahwa sebagai rakyat, titel rakyat pembelajar sudah secara otomatis tersematkan. Temali pemerintah dan rakyat yang pembelajar adalah konjungsi kokoh dalam menyangga setiap kepentingan apa pun. Dengannya, keduanya pihak ini dapat secara sukarela melihat problem sebagai cerminan bersama menuju visi besar bernegara, sebagaimana pesan pidato Bung Karno (1953),
"Sebab kita tidak bertujuan bernegara hanya satu windu saja, kita bertujuan bernegara seribu windu lamanya, bernegara buat selama-lamanya..".
Heboh Megathrust: Mengapa Komunikasi Risiko Kita Masih Gagal? - kumparan.com
Gempa Gunung Kidul mengingatkan kita akan ancaman megathrust. Artikel ini membahas kegagalan komunikasi risiko yang memicu kepanikan, serta menawarkan solusi untuk memberdayakan masyarakat. [946] url asal
#heboh #gagal #masih #jam #megathrust #bencana #komunikasi
(Kumparan.com - Tekno & Sains) 27/08/24 05:55
v/14768633/
Beberapa jam yang lalu, gempa berkekuatan cukup kuat mengguncang wilayah Gunung Kidul dan dirasakan oleh warga Yogyakarta dan sekitarnya. Peristiwa ini kembali mengingatkan kita akan ancaman nyata yang dihadapi wilayah Indonesia, terutama terkait potensi gempa megathrust yang dapat terjadi kapan saja. Kejadian ini menyoroti betapa pentingnya memiliki kesiapsiagaan yang baik dan sistem komunikasi risiko yang efektif.
Kehebohan terkait potensi gempa megathrust bukanlah hal baru di Indonesia. Pada tahun 2020, publik sempat dihebohkan dengan peringatan tentang potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Jawa, serta ancaman badai dahsyat yang mengancam Jabodetabek pada tahun 2022. Meskipun peringatan ini didasarkan pada analisis ilmiah, penyampaian informasi yang tidak diimbangi dengan panduan mitigasi risiko yang jelas dan tindakan pencegahan, telah berulang kali menyebabkan kepanikan yang tidak perlu di kalangan masyarakat.
Masalah ini menyoroti kelemahan mendasar dalam cara komunikasi risiko bencana dilakukan di Indonesia, terutama oleh BMKG. Informasi mengenai potensi bencana sering kali disampaikan dengan cara yang menakutkan, tanpa diikuti dengan penjelasan yang memadai tentang langkah-langkah yang dapat diambil oleh masyarakat untuk melindungi diri mereka. Alih-alih meningkatkan kesiapsiagaan, komunikasi yang kurang efektif ini justru menciptakan ketakutan massal yang berdampak buruk pada berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Kepanikan yang dipicu oleh informasi bencana yang disampaikan secara kurang tepat memiliki berbagai dampak negatif, termasuk:
1. Kepanikan Massal
Ketika masyarakat mendengar potensi bencana besar tanpa panduan yang jelas, mereka cenderung bereaksi secara tidak rasional. Dalam suasana panik, berita palsu atau informasi yang salah juga mudah menyebar, terutama melalui media sosial. Hal ini memperburuk situasi, dengan masyarakat yang semakin bingung tentang apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang seharusnya mereka lakukan.
2. Efek Cry Wolf: Berkurangnya Kepercayaan Publik terhadap Pihak Berwenang
Jika komunikasi risiko terus-menerus menimbulkan ketakutan tanpa disertai dengan kejadian nyata atau tanpa dampak yang dirasakan, masyarakat mungkin mulai melihat peringatan sebagai hal yang berlebihan atau tidak relevan. Ini dikenal sebagai efek "cry wolf", di mana peringatan yang sering kali tidak disertai kejadian nyata akhirnya diabaikan. Ketika ancaman yang sebenarnya terjadi, masyarakat mungkin tidak merespons dengan serius karena mereka telah terbiasa mengabaikan peringatan sebelumnya.
3. Dampak Ekonomi
Kehebohan terkait ancaman bencana dapat menyebabkan gangguan dalam kegiatan bisnis, seperti turunnya minat untuk berwisata, pengurangan aktivitas ekonomi, penurunan kepercayaan investor, atau bahkan penundaan proyek, yang berdampak negatif pada ekonomi lokal.
4. Kesehatan Mental
Informasi yang disampaikan tanpa mempertimbangkan dampak psikologisnya dapat meningkatkan tingkat stres dan kecemasan di masyarakat. Bagi mereka yang pernah mengalami bencana sebelumnya, informasi yang menakutkan tanpa solusi praktis dapat memicu kembali trauma lama. Ketika banyak orang merasa takut dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, ketakutan ini dapat menyebar dalam komunitas, menciptakan apa yang disebut sebagai "ketakutan kolektif."
Terdapat beberapa kelemahan utama dalam komunikasi risiko yang dilakukan oleh BMKG dan instansi terkait:
1. Penekanan pada Ancaman tanpa Panduan Tindakan
Informasi yang disampaikan terlalu fokus pada potensi ancaman tanpa memberikan panduan yang jelas tentang langkah-langkah mitigasi yang dapat diambil masyarakat. Hal ini menciptakan rasa takut yang tidak diimbangi dengan rasa aman dari pengetahuan dan kesiapsiagaan.
2. Bahasa yang Terlalu Teknis
Informasi ilmiah sering kali disampaikan dalam bahasa yang sulit dipahami oleh masyarakat umum. Penggunaan istilah teknis tanpa penjelasan yang sederhana menyebabkan kesalahpahaman dan kebingungan.
3. Kurangnya Koordinasi dengan Media dan Pihak Lain
Komunikasi risiko sering kali dilakukan secara terpisah dari kementerian dan lembaga lain, pemerintah daerah, serta kelompok masyarakat. Jika informasi disampaikan tanpa adanya koordinasi yang baik dengan media dan pihak berwenang lainnya, ada risiko informasi tersebut dipotong-potong, disalahartikan, atau disebarkan tanpa konteks yang tepat. Ini bisa memperburuk kekhawatiran di kalangan masyarakat.
4. Respons Lambat terhadap Kepanikan
Ketika kepanikan mulai menyebar, sering kali tidak ada respons cepat dari BMKG atau otoritas terkait untuk memberikan klarifikasi atau menenangkan masyarakat. Ini menyebabkan kepanikan berlanjut dan sulit dikendalikan.
Untuk mengatasi masalah komunikasi risiko ini, beberapa langkah penting perlu diambil:
1. Perubahan Pendekatan Komunikasi
BMKG perlu beralih dari sekadar menjadi pemberi informasi ancaman menjadi mitra aktif dalam upaya mitigasi bencana. Informasi tentang potensi ancaman harus selalu diiringi dengan langkah-langkah yang jelas dan mudah diikuti oleh masyarakat.
2. Kolaborasi dengan Media dan Pihak-pihak Lainnya
BMKG harus berhenti menjadi "Badan Membuat Kecemasan berGerombolan" dan mulai merangkul serta berkolaborasi dengan kementerian dan lembaga terkait, pemerintah daerah, serta kelompok masyarakat. Ini termasuk bekerja sama dengan tokoh masyarakat, pemimpin agama, dan organisasi masyarakat sipil untuk menyampaikan informasi secara lebih efektif dan kontekstual.
3. Penyederhanaan Bahasa dan Pesan
Informasi yang disampaikan harus dikemas dalam bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat umum. Penggunaan infografis, video, dan media interaktif lainnya dapat membantu menjelaskan konsep-konsep ilmiah yang kompleks dengan cara yang lebih mudah dimengerti.
4. Pelatihan dan Edukasi
BMKG dan instansi terkait perlu memperluas program edukasi dan pelatihan tentang kesiapsiagaan bencana di komunitas-komunitas. Melalui simulasi dan latihan tanggap darurat yang rutin, masyarakat dapat merasa lebih siap dan tidak mudah panik ketika menerima informasi tentang potensi bencana.
5. Respons Cepat dan Proaktif
Ketika muncul kepanikan di masyarakat, BMKG dan otoritas terkait harus segera memberikan klarifikasi dan informasi tambahan yang dapat menenangkan situasi. Ini bisa berupa konferensi pers, pernyataan resmi di media sosial, atau bahkan menggandeng para kepala daerah, LSM, dan tokoh masyarakat untuk melakukan klarifikasi.
Masyarakat Indonesia hidup di wilayah yang rawan bencana, dan kesiapsiagaan adalah kunci untuk mengurangi dampak dari bencana tersebut. Penting untuk diingat bahwa salah satu alasan Indonesia berhasil meredam pandemi COVID-19 adalah karena adanya komunikasi risiko yang efektif, di mana seluruh pihak terkait bekerja sama dalam mengedukasi warga. Pendekatan ini perlu diterapkan juga dalam komunikasi risiko terkait ancaman bencana lainnya.
BMKG memiliki peran krusial dalam menyediakan informasi yang dapat menyelamatkan nyawa, tetapi informasi tersebut harus disampaikan dengan cara yang tidak hanya memberi tahu tentang ancaman, tetapi juga memberdayakan masyarakat untuk bertindak dengan tepat. Dengan pendekatan komunikasi risiko yang lebih efektif dan kolaboratif, BMKG, bersama dengan kementerian, lembaga, dan masyarakat, dapat menciptakan masyarakat yang lebih tanggap dan tangguh terhadap bencana.
Saat Nabi Isa Melenyapkan Dajjal dari Muka Bumi | Republika Online
Dajjal ketakutan begitu melihat Nabi Isa. [515] url asal
#tanda-tanda-kiamat #kemunculan-dajjal #kedatangan-dajjal #turunnya-nabi-isa #isa-al-masih #hari-kiamat
(Republika - Khazanah) 05/07/24 10:09
v/9729860/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Salah satu rukun iman adalah meyakini adanya para nabi dan rasul Allah. Salah seorang utusan-Nya di muka bumi adalah Nabi Isa AS. Putra Maryam binti Imran itu ditugaskan untuk menyebarkan risalah kebenaran di tengah kaum Bani Israil.
Dalam kitab Bidayah wa Nihayah, Imam Ibnu Katsir mengatakan, Nabi Isa AS lahir di Batul Lahm atau Betlehem, Tepi Barat, Palestina. Lokasinya dekat dengan Baitul Makdis atau Masjid al-Aqsha.
Saat kelahirannya, orang-orang Yahudi justru mengolok-olok dan memfitnah Maryam. Sebab, perempuan mulia itu telah melahirkan seorang bayi, padahal tidak menikah.
Banyak orang Yahudi bertanya-tanya tentang siapa bayi itu, tetapi Maryam tidak menjawab pertanyaan mereka. Sebelumnya, dengan ilham yang diberikan Allah, Maryam sudah bernazar untuk tidak berbicara dengan siapa pun.
Orang-orang yang menudingnya tidak jua diam. Maryam lalu menunjuk kepada putranya. Ini isyarat bahwa mereka berbicara langsung saja kepada anaknya itu. Sontak mereka geram dan bingung, bagaimana mungkin berbicara dengan bayi.
فَاَشَارَتْ اِلَيْهِۗ قَالُوْا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِى الْمَهْدِ صَبِيًّا
"Maka dia (Maryam) menunjuk kepada (anak)-nya. Mereka berkata, 'Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?'" (QS Maryam: 29).
Atas karunia Allah SWT, Nabi Isa yang masih bayi dan dalam gendongan ibunya itu berbicara dengan fasih. Ia menjelaskan kepada orang-orang Yahudi itu bahwa dirinya merupakan seorang hamba Allah. Dan, bahwa Allah akan memberikan kepadanya kitab Injil serta menjadikannya seorang nabi.
قَالَ اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗاٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا ۙ
"Dia (Isa) berkata, 'Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi (QS Maryam: 30).
Saat berusia 40 tahun, Isa AS diangkat menjadi nabi dan rasul Allah. Ia memiliki sejumlah pengikut. Di tengah Bani Israil, putra Maryam itu juga menunjukkan pelbagai mukjizat, atas izin Allah SWT.
Kemudian, sejumlah orang yang dengki kepadanya membuat persekongkolan. Ini agar penguasa Palestina saat itu, Kerajaan Romawi, menganggapnya sebagai perusuh dan lalu memburunya.
Rencana jahat itu tidak berhasil. Allah menyelamatkan Nabi Isa dengan jalan mengangkatnya ke langit. Kemudian, Allah menjadikan seseorang tampil dengan wajah atau rupa yang seperti putra Maryam tersebut. Alhasil, para pemburu menyangka bahwa lelaki yang mereka salib adalah Isa AS, padahal bukan beliau.
Turunnya Isa AS dari langit ke bumi adalah salah satu tanda kiamat besar. Momen ini terjadi sesudah kedatangan Dajjal, yang menyesatkan banyak manusia dan membuat huru-hara di nyaris seluruh penjuru dunia--yakni kecuali Makkah dan Madinah.
Palestina, negeri tempat dilahirkannya Nabi Isa, kelak akan menjadi lokasi bertarungnya putra Maryam itu dengan Dajjal. Seperti dijelaskan dalam sebuah hadis Nabi Muhammad SAW, Isa AS diturunkan Allah di timur Damaskus.
Rasulullah SAW bersabda:
فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذْ بَعَثَ اللَّهُ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ فَيَنْزِلُ عِنْدَ الْمَنَارَةِ الْبَيْضَاءِ شَرْقِىَّ دِمَشْقَ بَيْنَ مَهْرُودَتَيْنِ وَاضِعًا كَفَّيْهِ عَلَى أَجْنِحَةِ مَلَكَيْنِ إِذَا طَأْطَأَ رَأَسَهُ قَطَرَ وَإِذَا رَفَعَهُ تَحَدَّرَ مِنْهُ جُمَانٌ كَاللُّؤْلُؤِ فَلاَ يَحِلُّ لِكَافِرٍ يَجِدُ رِيحَ نَفَسِهِ إِلاَّ مَاتَ وَنَفَسُهُ يَنْتَهِى حَيْثُ يَنْتَهِى طَرْفُهُ فَيَطْلُبُهُ حَتَّى يُدْرِكَهُ بِبَابِ لُدٍّ فَيَقْتُلُهُ ثُمَّ يَأْتِى عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ قَوْمٌ قَدْ عَصَمَهُمُ اللَّهُ مِنْهُ فَيَمْسَحُ عَنْ وُجُوهِهِمْ وَيُحَدِّثُهُمْ بِدَرَجَاتِهِمْ فِى الْجَنَّةِ
“Saat Dajjal seperti itu, tiba-tiba ‘Isa putra Maryam turun di sebelah timur Damaskus di menara putih dengan mengenakan dua baju (yang dicelup wars dan za’faran) seraya meletakkan kedua tangannya pada sayap dua malaikat.
Bila ia menundukkan kepala, air pun menetes. Ketika ia mengangkat kepala, air pun bercucuran seperti mutiara. Tidaklah orang kafir mencium wangi dirinya melainkan ia akan mati. Sungguh aroma nafasnya (menjangkau) sejauh mata memandang.
Isa mencari Dajjal hingga menemuinya di pintu Ludd, lalu membunuhnya. Setelah itu, Isa bin Maryam mendatangi suatu kaum yang dijaga oleh Allah dari Dajjal. Ia mengusap wajah-wajah mereka dan menceritakan tingkatan-tingkatan mereka di surga” (HR Muslim).