Hal yang menjadi pertanyaan adalah apakah rumah susun ataupun apartemen yang paling diincar masyarakat ketimbang rumah tapak? Halaman all [321] url asal
JAKARTA, KOMPAS.com - Memiliki hunian impian tentu menjadi dambaan setiap orang. Namun, banyak kendala yang dihadapi.
Dari sisi regulator, Pemerintah terus mendorong pengembang untuk membangun lebih banyak hunian vertikal atau rumah susun (rusun).
Kebijakan ini dinilai sebagai solusi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan rumah layak huni disamping adanya keterbatasan lahan di kawasan perkotaan.
Sedangkan dari sisi masyarakat, mereka kesulitan mendapatkan rumah karena harganya yang semakin melambung tinggi.
Kendati demikian, hal yang menjadi pertanyaan adalah apakah rumah susun ataupun apartemen yang paling diincar masyarakat ketimbang rumah tapak?
Wakil Ketua Umum (Waketum) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Real Estat Indonesia (REI) Bambang Ekajaya pun menjawabnya kepada Kompas.com, Selasa (16/7/2024).
"Sebenarnya orang lebih suka rumah tapak," tegas Bambang.
Namun sayangnya, harga rumah tapak yang berada di dalam kota atau lokasi strategis sangatlah mahal atau tak dapat dijangkau beberapa masyarakat.
Oleh karenanya, beberapa golongan masyarakat memilih tinggal di apartemen atau rusun lantaran harganya lebih dapat dijangkau.
Bambang membeberkan, misalnya ada salah satu calon pembeli dengan budget Rp 500 juta.
Jika dirinya membeli rumah tapak, maka akan mendapatkan lokasi yang jauh dari tempat kerja karena berada di pinggiran.
"Sedangkan dengan budget yang sama sudah bisa dapat apartemen Transit Oriented Deevlopment (TOD) di area strategis dengan akses transportasi yang mumpuni," tandas Bambang.