Jakarta:Rudi Soedjarwo dipercaya menyutradarai film Bila Esok Ibu Tiada. Para penonton penasaran dengan bagaimana Rudi dapat membangun karakter dari setiap pemainnya.
Rudi membeberkan rahasia bagaimana setiap karakter dalam film Bila Esok Ibu Tiada begitu natural dalam berakting. Kata Rudi, semua itu lebih pada kebebasan yang diberikannya kepada setiap pemeran.
“Saya sutradara yang gak mau rugi, maksudnya gini, kita dikasih pemain yang bagus, mereka harus ngasih dong ke saya, saya berikan halaman bermain, blocking aja gak saya kasih(atur) loh, terserah mereka mau ngapain, kamera ikutin,” ucap Rudi. Rudi mengaku ada sejumlah bagian dari film yang memang tidak ditulis dalam naskah. Para pemain dipersilakan untuk melakukan improvisasi. Dengan begitu Rudi bisa melihat kemampuan maksimal dari setiap pemainnya.
“Dengan aksi reaksinya sebagai manusia, keajaiban-keajaiban, spontanitas mereka bereaksi, itu tidak bisa kita dapat kalau terlalu steril (diatur-atur),” ungkap Rudi.
Film ini diperankan oleh deretan artis ternama tanah air, yakni Christine Hakim yang berperan sebagai Rahmi, Adinia Wirasti sebagai Ranika, Fedi Nuril sebagai Rangga, Amanda Manopo sebagai Rania, Yasmin Napper sebagai Hening, dan Slamet Rahardjo sebagai Haryo.
Film Bila Esok Ibu Tiada mengangkat kisah drama keluarga dari novel dengan judul yang sama karya Nagiga Nuy Ayati. Film ini bercerita tentang sosok Ibu Rahmi yang harus menghadapi keempat anaknya yang memiliki ego satu sama lain, dan sering kali tidak memiliki waktu bersamanya.
Rahmi selalu memberikan semua hal yang terbaik dan mendedikasikan diri untuk menjaga anak-anaknya. Namun hal yang tak diduga terjadi yang membuat keempat anaknya harus mengerti arti kehilangan. Karena kejadian itu, mereka harus saling mendukung untuk tetap kuat dan beradaptasi dengan keadaan.
Jakarta:Hana Saraswati yang berperan sebagai Thea mengaku terharu saat membaca naskah film Bila Esok Ibu Tiada. Hana tak bisa menahan tangis.
“Aku baca naskahnya, sampai akhir aku baca aku nangis gak berhenti-berhenti,” kata Hana di Jakarta.
Hana juga bercerita saat dirinya diajak untuk bergabung dalam film Bila Esok Ibu Tiada, dia langsung bertanya siapa sutradaranya. Mendengar nama Rudi Soedjarwo, Hana tak berpikir panjang dan langsung menerima tawaran itu. Hana mengatakan, dalam film ini dia belajar banyak hal soal dunia peran. Dia bersyukur bisa dipercayakan untuk bermain film ini bersama orang-orang hebat lainnya.
Seperti yang diketahui, film Bila Esok Ibu Tiada diperankan oleh deretan aktris ternama Indonesia, diantaranya Christine Hakim yang berperan sebagai Rahmi, Adinia Wirasti sebagai Ranika , Fedi Nuril sebagai Rangga, Amanda Manopo sebagai Rania, Yasmin Napper sebagai Hening, dan Slamet Rahardjo sebagai Haryo.
Film Bila Esok Ibu Tiada mengangkat kisah drama keluarga dari novel dengan judul yang sama karya Nagiga Nuy Ayati. Film ini bercerita tentang sosok Ibu Rahmi yang harus menghadapi keempat anaknya yang memiliki ego satu sama lain, dan sering kali tidak memiliki waktu bersamanya.
Rahmi selalu memberikan semua hal yang terbaik dan mendedikasikan diri untuk menjaga anak-anaknya. Namun hal yang tak diduga terjadi yang membuat keempat anaknya harus mengerti arti kehilangan. Karena kejadian itu, mereka harus saling mendukung untuk tetap kuat dan beradaptasi dengan keadaan.
Jakarta: Leo Pictures hadir dengan film barunya berjudul Bila Esok Ibu Tiada. Film yang disutradarai oleh Rudi Soedjarwo ini dibintangi oleh aktor-aktor ternama Indonesia, seperti Christine Hakim, Amanda Manodo, Slamet Rahardjo, Baim Wong dan masih banyak lagi.
Film ini mengangkat kisah drama keluarga dari novel dengan judul yang sama karya Nagiga Nuy Ayati. Film ini bercerita tentang sosok Ibu Rahmi (Christine Hakim) yang harus menghadapi keempat anaknya yang memiliki ego satu sama lain, dan sering kali tidak memiliki waktu bersamanya.
Fedi Nuril yang berperan sebagai Rangga dalam film ini menyebut, ada satu bagian dalam film Bila Esok Ibu Tiada yang membuat para pemainnya beneran frustasi. Hal ini karena para pemeran dibebaskan untuk berimprovisasi sampai mendapatkan rasa yang ingin ditampilkan. “Waktu syuting stres banget. Adegannya panjang, emosi, dan bisa dibilang ini adegan klimaks, jadi harus benar bukan hanya secara teknis, tapi bagaimana penonton tersentuh,” ucap Fedi, Rabu, 30 Oktober 2024.
Adegan yang dimaksud Fedi merupakan adegan ketika keempat anak Rahmi berkumpul di meja makan. Di situ ada Ranika (Adinia Wirasti), Rania (Amanda Manopo), Hening (Yasmin Napper), dan Fedi yang berperan sebagai Rangga. Pada adegan ini setiap karakter menunjukan emosinya dalam konflik yang ada.
Fedi mengatakan, Rudi memang membebaskan setiap dari mereka untuk melakukan improvisasi dalam memerankan karakter yang ada. Hal ini bisa menjadi hal baik maupun tidak. Baik saat para pemeran bisa mengeluarkan seluruh kemampuannya, sedangkan buruknya saat para pemeran harus berputar otak menampilkan akting yang terbaik.
“Adegan itu susah, semua ada di situ, adik kakak ini, ruangannya sempit, dan semua emosinya kan tinggi di situ, jadi kalau ada yang gak sesuai, ulangnya dari awal itu,” tutur Fedi.
Kebebasan para pemeran dalam berimprovisasi ternyata berdampak baik pada rasa dalam film ini. Hal tetsebut dibuktikan dengan air mata yang diteteskan para penonton saat film ini ditayangkan,
Penonton merasa alur cerita yang ditampilkan sesuai dengan apa yang dialami. Konflik antar kakak dan adik, masalah status pekerjaan, tanggung jawab rumah, semua itu memperkaya alur cerita film yang mudah untuk dipahami.
Bagi sobat medcom yang ingin mengetahui keutuhan dari film Bila Esok Ibu Tiada, film ini bisa ditonton di bioskop kesayangan mulai 14 November 2024.
Jakarta: Leo Pictures kembali mempersembahkan film terbarunya berjudul Bila Esok Ibu Tiada. Film yang mengangkat kisah drama keluarga ini akan rilis pada 14 November 2024.
Film diangkat dari salah satu novel dengan penjualan terbanyak dengan judul yang sama, karya Nagiga Nuy Ayati. Film ini mengisahkan seorang ibu bernama Rahmi (Christine Hakim) dengan keempat anaknya yang memiliki kesibukan sendiri-sendiri.
Rahmi selalu memberikan semua hal yang terbaik dan mendedikasikan diri untuk menjaga anak-anaknya. Namun hal yang tak diduga terjadi, yang membuat keempat anaknya harus mengerti arti kehilangan. Alhasil mereka harus saling mendukung untuk tetap kuat dan beradaptasi dengan keadaan. Sutradara, Rudi Soedjarwo berhasil menampilkan setiap kehidupan keempat anak yang diperankan Ranika (Adinia Wirasti), Rangga (Fedi Nuril), Rania (Amanda Manopo), dan Hening (Yasmin Napper), yang saling beradu ego dengan tidak memikirkan bagaimana nasib ibu mereka.
Rasanya tak mudah membuat film dengan latar tempat yang berubah-ubah setiap beberapa menit. Namun film ini berhasil membuat transisi yang baik, alur cerita pun dimengerti dengan mudah, tidak membuat penonton bingung, meski terjadi perpindahan-perpindahan latar tempat.
“Melalui film Bila Esok Ibu Tiada, saya ingin mengajak penonton untuk merenungkan kembali arti keluarga dan pentingnya kehadiran seorang ibu dalam hidup kita. Saya berharap film ini dapat menginspirasi banyak orang untuk lebih menghargai waktu bersama orang-orang yang kita cintai," kata Rudi Soedjarwo, Rabu, 30 Oktober 2024.
Film ini merupakan tipe film yang memiliki klimaks di tengah alur cerita. Secara emosional film Bila Esok Ibu Tiada berhasil membuat penonton tenggelam dalam kesedihan melalui setiap karakter yang coba ditampilkan. Ternyata semua itu berkat sang sutradara yang membebaskan setiap pemainnya melakukan improvisasi dalam film ini.
“Saya sutradara yang gak mau rugi, maksudnya gini, kita dikasih pemain yang bagus, mereka harus ngasih dong ke saya, saya berikan halaman bermain, blocking aja gak saya kasih (atur) loh, terserah mereka mau ngapain, kamera ikutin,” ucap Rudi.
Sutradara yang pernah menyutradarai film Ada Apa Dengan Cinta ini mengatakan, ada hal-hal dalam film yang memang tidak bisa dituliskan di naskah, biarkan pemeran melakukan tugasnya, dan hal itu soal rasa dalam memerankan karakter.
“Dari situ gw bisa melihat yang terbaik dari mereka, dengan aksi reaksinya sebagai manusia, keajaiban-keajaiban, spontanitas mereka bereaksi itu tidak bisa kita dapat kalau terlalu steril,” ungkap Rudi.
Apa yang dikatakan Rudi tercermin dalam film Bila Esok Ibu Tiada. Setiap pemeran memegang karakternya masing-masing, emosi ditampilan dengan begitu natural. Jalan cerita yang mudah dipahami juga membuat film ini mudah untuk dicerna, bahkan untuk anak kecil sekalipun.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, film ini memiliki alur cerita dengan klimaks yang berada di tengah. Hal itu membuat akhir-akhir film ini cenderung monoton dengan narasi yang seakan-akan dibuat untuk melengkapi keutuhan dari cerita.
Melalui akting dari para pemeran yang ada, film Bila Esok Ibu Tiada berhasil membuat para penonton yang hadir di acara Press Screening menitikan air mata. Semua Itu berkat kisah yang begitu relevan bagi kehidupan masyarakat Indonesia.
Penonton semakin tenggelam dalam sedih saat visual yang ditampilkan dipadupadankan dengan latar belakang lagu yang menyentuh hati.
Opini ini mengulas perjalanan pembangunan IKN yang dimulai dari tantangan hingga menjadi megaproyek nyata, dengan fokus pada keberlanjutan & inovasi teknologi. [1,514] url asal
Tiga tahun yang lalu, siapa yang menyangka hamparan hutan belantara dan lahan kosong di Kalimantan Timur akan menjadi cikal bakal ibu kota masa depan Indonesia? Kami, di Tim Transisi Ibu Kota Nusantara (IKN), tak pernah lupa bagaimana perjalanan ini dimulai dengan tantangan luar biasa.
Sumber daya manusia yang terbatas, fasilitas yang kurang memadai, kantor yang belum siap digunakan, hingga honorarium bulanan yang ditangguhkan hanyalah sebagian dari rintangan yang harus kami hadapi. Tak terhitung pula berapa banyak keraguan dan kritik yang menghujani kami-membangun sebuah kota dari nol bukanlah tugas yang mudah.
Namun, hari ini, dengan penuh kebanggaan, kita dapat melihat IKN tidak lagi hanya sebagai konsep, tetapi sebagai megaproyek nyata yang mulai diwujudkan.
Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN), bersama dengan dukungan luar biasa dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KPUPR) yang saat ini keduanya dipimpin oleh Pak Basuki Hadimoeljono, telah menunjukkan bahwa visi besar ini bukanlah mimpi kosong, melainkan sebuah tujuan nyata yang bisa dicapai.
Slogan "Tiada Hari Tanpa Cor" yang kini viral di kalangan anak muda dan terpampang di salah satu bangunan di IKN mencerminkan semangat kerja keras yang terus kami junjung setiap hari.
Secara fundamental, lahirnya IKN didorong oleh kebutuhan mendesak untuk menciptakan pemerataan pembangunan di luar Pulau Jawa. Keraguan dan pertanyaan mengenai relevansi serta keberhasilan IKN kerap muncul. Walaupun begitu, Presiden Jokowi memilih untuk tetap mengambil risiko besar ini karena beliau yakin bahwa untuk mengejar kemajuan bangsa, sering kali kita harus berani mempertaruhkan banyak hal.
Kami sejalan dengan keyakinan tersebut. Sebagai akademisi, kami berusaha memanfaatkan pengetahuan kami untuk membangun bangsa Indonesia, salah satunya dengan mempertaruhkan kredensial dengan mengambil risiko untuk memimpin pembangunan IKN, khususnya di bidang transformasi hijau dan digital.
Kala itu, kami menerima tantangan besar ini untuk mendampingi Pak Bambang Susantono dalam mengawal pembangunan IKN. Visi besar Presiden Jokowi inilah yang terus kami pegang teguh dalam setiap langkah, fokus pada keberlanjutan dan penerapan teknologi hijau serta digital.
Visi ini lebih dari sekadar pembangunan fisik infrastruktur semata; ini adalah fondasi untuk menopang Indonesia Emas 2045-sebuah cita-cita besar yang kini mulai diwujudkan melalui kebijakan-kebijakan strategis kami, seperti Cetak Biru Kota Cerdas, Pedoman Bangunan Gedung Cerdas, Roadmap Pembangunan Rendah Karbon, dan kebijakan-kebijakan lainnya.
Meski sempat mendapat cemoohan dari berbagai pihak, kami tetap teguh melangkah dan terus menyempurnakan yang sudah ada. Di bawah kepemimpinan Presiden Terpilih Prabowo, arah strategis ini akan terus kami lanjutkan, memastikan IKN berkembang menjadi pusat pertumbuhan baru bermanfaat nyata bagi seluruh rakyat Indonesia-bukan sekadar wacana kosong dan 'omon-omon' semata.
Membangun IKN bukan sekadar membangun infrastruktur fisik atau 'hardware' saja, tetapi juga menciptakan ekosistem teknologi atau 'software' dan, yang paling penting, mengembangkan sumber daya manusianya atau 'brainware'. Ketiga elemen ini menjadi pilar utama dalam visi pembangunan IKN, sejalan dengan komitmen Presiden Terpilih Prabowo yang menegaskan percepatan proyek IKN dalam Sidang Kabinet pada 12 Agustus 2024.
Kami telah mempelajari secara saksama visi dan misi Prabowo-Gibran, terutama dalam hal kesinambungan proyek-proyek yang sudah dibangun bersama Presiden Jokowi. Salah satu kunci utama yang menjadi landasan visi Presiden Terpilih Prabowo adalah keberlanjutan, dan ini menjadi fondasi yang akan terus kami pegang teguh dalam pembangunan IKN.
Filosofi keberlanjutan ini juga tercermin dalam salah satu pidato Presiden Terpilih Prabowo, di mana beliau menyampaikan bahwa, "Kalau pendekar terjatuh, dia tidak akan sedih, dia tidak akan kecewa, dia tidak akan menangis, (tetapi) dia akan berdiri lagi. Dijatuhkan lagi, berdiri lagi, dijatuhkan lagi, (tetap akan) berdiri lagi."
Filosofi ini sangat relevan dengan perjalanan kami di Kedeputian Transformasi Hijau dan Digital OIKN dalam membangun IKN yang penuh dengan tantangan-jatuh bangun adalah bagian dari proses. Namun, semangat pantang menyerah seperti yang diungkapkan Presiden Terpilih Prabowo itulah yang mendorong kami terus maju.
Kami di Kedeputian Transformasi Hijau dan Digital, yang mayoritas diisi oleh orang muda bangsa, bertekad memastikan bahwa visi besar IKN sebagai kota cerdas dan berkelanjutan akan tetap terwujud.
Berbagai teknologi canggih telah diterapkan untuk mendukung visi efisiensi dan keberlanjutan, mulai dari sensor perkotaan dan bangunan cerdas, hingga pengendalian pembangunan yang menggunakan drone dan kecerdasan buatan (AI).
Kami juga telah dengan tanggap mengantisipasi potensi risiko bencana dengan menerapkan sistem peringatan dini (early warning system) dan pengoperasian Nusantara Command Center di IKN sebagai forest city sesuai yang diarahkan oleh Presiden Terpilih Prabowo.
Nusantara Command Center tidak hanya akan berfungsi sebagai pengendali situasi darurat saja, melainkan juga meningkatkan efisiensi layanan publik serta menciptakan lingkungan yang lebih aman dan nyaman bagi seluruh penghuni kota.
Tak hanya itu, kami tengah mempersiapkan trem otonom dan taksi terbang sebagai moda transportasi cerdas unggulan masa depan, sebagai langkah strategis untuk menciptakan sistem transportasi publik yang ramah lingkungan dan efisien.
Selain itu, Nusantara Knowledge and Technology Hub juga sedang dikembangkan sebagai jembatan emas penghubung antara dunia pendidikan, pemerintahan, dan industri, menciptakan ekosistem inovasi yang kolaboratif guna mendukung terciptanya kota cerdas yang terintegrasi.
Kolaborasi dengan universitas, perusahaan, dan lembaga internasional dari berbagai negara-negara maju terus dijajaki untuk mendukung IKN sebagai pusat inovasi dan kemajuan teknologi, menjadikannya sebagai urban living lab yang ideal untuk menyerap best practices dari seluruh dunia.
Kolaborasi ini diwujudkan melalui uji coba atau Proof of Concept (PoC) teknologi, yang tidak hanya bertujuan membuktikan bahwa visi besar IKN dapat diimplementasikan, tetapi juga untuk menguji keandalan konsep serta kualitas teknologi tersebut. Melalui PoC, kami yakin bahwa akan terjadi transfer of knowledge dari inovasi terbaik dunia, baik kepada pemerintah maupun pelaku industri dalam negeri.
Hal ini penting agar kedepannya Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu untuk menciptakan inovasi-inovasi mandiri yang bersumber dari potensi sumber daya manusia terbaik bangsa. PoC juga sejatinya merupakan upaya preventif dan langkah strategis untuk menilai apakah suatu teknologi menawarkan harga terbaik-yakni harga termurah dengan kualitas tertinggi, untuk kemudian dapat dijadikan pertimbangan dalam proses pengadaan barang dan jasa yang terpisah.
Semua pencapaian ini menunjukkan bahwa IKN bukan sekadar gagasan atau wacana, melainkan sebuah kenyataan yang akan terwujud melalui kerja keras, inovasi, dan dedikasi yang kuat untuk masa depan Indonesia yang lebih hijau dan cerdas.
Kami percaya IKN adalah lompatan besar yang membawa Indonesia semakin dekat dengan cita-cita Indonesia Emas 2045. Ini bukan sekadar mimpi, melainkan bukti nyata dari tekad bangsa untuk menjadi lebih unggul, merangkul masa depan dengan keyakinan.
Di tengah laju globalisasi, IKN hadir sebagai simbol harapan, membawa Indonesia menuju era baru sebagai negara maju yang mendukung pertumbuhan ekonomi, perlindungan lingkungan, dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Dan semua ini hanya bisa dicapai dengan kepemimpinan yang visioner dan berorientasi pada kemajuan.
Di balik berbagai capaian kami di IKN, terdapat tim teknokrat yang luar biasa dalam merumuskan program-program unggulan. Ibarat seorang pendekar yang mahir menggunakan kemampuan fisik dan senjatanya, kami yang berkiprah di ranah sipil berusaha mengabdikan diri kepada negara dengan mengoptimalkan kajian, inovasi, dan teknologi.
Terbukti, per Oktober 2024, puluhan ribu orang berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk berkunjung ke IKN melalui aplikasi IKNOW, layanan terpadu yang kami kelola dan awasi. Untuk memastikan keamanan data pengguna, kami telah bekerja sama dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) melalui skema IT Security Assessment untuk meminimalisir risiko kebocoran data.
Dengan begitu, antusiasme yang luar biasa untuk menyaksikan langsung bagaimana kota masa depan Indonesia sedang dibangun, akan diiringi oleh teknologi tepat guna terbaik yang akan menjaga keamanan dan kenyamanan bagi semua penghuninya.
Menghadapi transisi pemerintahan, kami tetap berkomitmen mendukung penuh pembangunan IKN dan Indonesia, apa pun tantangan yang muncul di depan, dengan sumber daya yang tersedia - bahkan bila itu hanya sekedar "bambu runcing" saja. Karena kami yakin Presiden Jokowi dan Presiden Terpilih Prabowo memiliki tujuan mulia yang sama, yaitu untuk mencintai rakyat dan membangun Indonesia menjadi lebih adil dan makmur.
Kami percaya, perjuangan kami saat ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan perjuangan para pahlawan kita terdahulu-Pangeran Diponegoro, Jenderal Soedirman, Bung Tomo, dan lain-lain-yang rela bertaruh nyawa demi kemerdekaan Indonesia. Semangat merekalah yang menjadi inspirasi kami dalam mewujudkan visi Indonesia maju dengan membangun Indonesia yang terhormat dan bermartabat.
Jika suatu saat nanti garis tangan pengabdian kami dicukupkan atau bahkan diberikan amanah dan penugasan di tempat lain oleh pimpinan, komitmen kami tidak akan berubah, karena visi kami sejalan dengan Presiden Jokowi dan Presiden Terpilih Prabowo: membangun Indonesia yang mandiri dan berdikari, di mana rakyatnya bangga menggunakan produk-produk buatan negeri sendiri.
Mohammed Ali Berawi Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital Otorita Ibu Kota Nusantara Guru Besar Universitas Indonesia
Jakarta:Amanda Manopo mendapatkan pengalaman berbeda ketika membintangi film Bila Esok Ibu Tiada. Amanda merasa punya koneksi dengan cerita film yang disutradarai Rudi Soedjarwo itu.
Amanda mengaku begitu emosional ketika menjalani proses produksi film ini. Pasalnya, dia jadi teringat mendiang ibunya ketika hidup. Ibunda Amanda sendiri meninggal pada tahun 2021.
"Film ini sangat relate banget sama aku, apalagi ibu aku kan juga sudah tidak ada. Ini seperti menyuarakan hati aku ketika anak-anak sudah pada sibuk," ucap Amanda Manopo dalam Showcase Film dan Series Leo Pictures di Jakarta. Amanda memerankan karakter anak dari seorang ibu yang diperankan Christine Hakim. Ketika syuting, Amanda membayangkan perasaan ibunya dulu ketika anak-anaknya sibuk bekerja.
"Aku berperan sebagai Kania di sana. Pas pertama ada adegan nangis banget di skenario, itu sesuatu yang gak pernah aku lakukan di dunia nyata tapi aku tumpahkan di sana. Mungkin ini kali ya yang ibu aku rasain ketika anak-anaknya semua sibuk," lanjutnya.
Selain Amanda Manopo, Bila Esok Ibu Tiada dibintangi Fedi Nuril, Adinia Wirasti, Hana Saraswati, Yasmin Napper, Christine Hakim, Slamet Rahardjo dan lainnya.
"Selain horor, memang orang-orang Indonesia suka dengan film yang relate, ini kan diangkat dari novel ya saya bacanya berurai air mata," kata Produser Agung Saputra.
Tak hanya mengumumkan proyek Bila Esok Ibu Tiada, acara ini juga memperkenalkan film horor Thaghut yang akan tayang pada 29 Agustus. Ada juga serial Jangan Salahkan Jika Aku Selingkuh yang dibintangi Marshanda, Stefan William, Giorgino Abraham dan Dosma.
"Aku merasa penuh rasa syukur bisa diajak main ke sini. Sebagai seorang aktor setiap cerita yang baru yang aku ambil entah itu series, sinetron, film, itu selalu menjadi tantangan sendiri buat aku. Semoga semua juga ikutan suka," kata Marshanda.