#30 tag 24jam
Ekonomi Lesu, VW Berencana Tutup 3 Pabrik di Jerman
Langkah penutupan tersebut diambil seiring lesunya ekonomi Jerman dan tingginya biaya produksi yang harus ditanggung produsen. [479] url asal
#dw-news #dw-news #jerman #thomas-schfer #vw-berencana-tutup-3-pabrik #pabrik-vw #tindakan #serikat #daniela-cavallo #jerman-dpa #biaya-pabrik #eropa #wolfsburg #ig-metall #dewan-pekerja-volkswagen #wednesday
(detikFinance) 29/10/24 12:25
v/17149890/
Jakarta - Produsen otomotif Jerman Volkswagen (VW) berencana menutup sedikitnya tiga pabrik di Jerman, kata dewan pekerja perusahaan tersebut pada hari Senin (28/10).
Rencana penutupan pabrik tersebut merupakan tindakan yang menurut VW tidak dapat dihindari di tengah penjualan yang menurun.
"Manajemen benar-benar serius tentang semua ini. Ini bukan gertakan dalam putaran perundingan kolektif," kantor berita Reuters mengutip Daniela Cavallo, kepala dewan pekerja Volkswagen, yang mengatakan kepada beberapa ratus karyawan di Wolfsburg.
Cavallo tidak menyebutkan pabrik VW mana yang akan terpengaruh atau berapa banyak dari hampir 300.000 staf perusahaan di Jerman yang akan diberhentikan.
"Semua pabrik VW Jerman terpengaruh oleh rencana ini. Tidak ada yang aman," kata Cavallo saat berbicara kepada para pekerja VW di kantor pusat perusahaan di Wolfsburg.
Cavallo mengatakan bahwa VW juga menuntut pemotongan gaji sebesar 10% dan tidak ada kenaikan gaji selama dua tahun ke depan. Cavallo dan para pemimpin serikat buruh lainnya di VW bertekad untuk melakukan menentang keras rencana pemotongan tersebut.
Serikat pekerja VW sangat kecewa
Serikat pekerja IG Metall, yang mewakili sebagian besar tenaga kerja perusahaan itu, telah menyatakan ketidakpuasannya dengan berita tersebut.
"Ini adalah tikaman mendalam ke jantung para pekerja VW yang telah bekerja keras," kantor berita Jerman DPA mengutip pernyataan Manajer Distrik IG Metall Thorsten Grger.
Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
"Kami berharap Volkswagen dan jajaran manajemennya menguraikan konsep-konsep yang layak untuk masa depan di meja perundingan, alih-alih berkhayal tentang pemangkasan, yang sejauh ini pihak pengusaha hanya melontarkan omongan kosong."
CEO VW Thomas Schfer mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa biaya operasional di pabrik-pabrik di Jerman telah menjadi sangat tinggi. "Kami tidak dapat melanjutkan seperti sebelumnya," kata Schfer.
"Kami tidak cukup produktif di lokasi-lokasi di Jerman dan biaya pabrik saat ini 25% hingga 50% lebih tinggi dari yang kami prediksi. Ini berarti ongkos operasi pabrik-pabrik Jerman masing-masing dua kali lebih mahal daripada pesaingnya."
Produsen mobil Eropa menghadapi persaingan yang semakin ketat dari mobil-mobil listrik Cina yang lebih murah.
VW melaporkan penurunan laba bersih sebesar 14% pada paruh pertama tahun ini dan terpaksa mengakhiri perjanjian keamanan kerja yang telah berlangsung puluhan tahun dengan serikat pekerja di Jerman.
Bagaimana reaksi pemerintah Jerman?
Juru bicara pemerintah Jerman Wolfgang Bchner mengatakan bahwa Berlin menyadari tantangan VW dan telah berkomunikasi erat dengan perusahaan dan perwakilan pekerja.
"Posisi kanselir mengenai hal ini jelas, yaitu bahwa kemungkinan keputusan manajemen yang salah dari masa lalu tidak boleh merugikan karyawan. Tujuannya sekarang adalah untuk mempertahankan dan mengamankan pekerjaan," kata juru bicara tersebut dalam sebuah pengarahan rutin.
Secara total, VW mengoperasikan 10 pabrik di Jerman, dengan enam terletak di Niedersachsen, tiga di negara bagian Sachsen di timur, dan satu di Hessen di barat.
Sebelumnya, Volkswagen belum pernah menutup pabrik di Jerman, dan tidak pernah menutup pabrik di mana pun di dunia selama lebih dari tiga dekade.
ae/yf (Reuters, dpa AFP)
Ancaman Sanksi Perdagangan Trump Guncang Otomotif Jerman
Produsen mobil Jerman mulai khawatir dengan pemilu AS setelah kandidat Donald Trump menginginkan lebih banyak produksi di AS. [667] url asal
#dw-news #dw-news #jerman #donald-trump #asosiasi-industri-otomotif-jerman #perjanjian-as-meksiko-kanada #tennessee #usmcs #great-again #merek-mobil-jerman #as-meksiko-kanada #retorika-trump #pilpres-amerika
(detikFinance) 24/10/24 17:38
v/16991031/
Jakarta - Donald Trump, kandidat presiden dari Partai Republik pada Pilpres Amerika Serikat (AS) tahun 2024 ini, dalam kampanyenya di Georgia pada bulan lalu, mengatakan: "Saya ingin perusahaan mobil Jerman menjadi perusahaan mobil Amerika."
Trump berjanji, apabila kembali berkuasa di Gedung Putih, setiap produsen mobil asing yang memilih untuk meningkatkan produksi mereka di AS, akan mendapat insentif berupa pajak yang rendah, biaya energi murah, dan birokrasi sederhana.
Muncul pula ancaman baru, berupa "tarif yang sangat besar" pada kendaraan yang tidak dibuat di negara itu. Retorika Trump itu menggaung kuat dari janji kampanye pemilihan Trump tahun 2016 dengan slogan Make America Great Again dengan membawa kembali manufaktur dari luar negeri.
Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Bagi sebagian orang, seperti analis otomotif yang berkantor di Detroit, John McElroy, pernyataan baru itu tidak lebih dari sekadar hiperbola khas Trump yang menurutnya akan sulit ia terapkan. "Ia mengatakan banyak hal gila. Jika ia menang, kita akan mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang apa yang ingin ia lakukan."
Perusahaan otomotif Jerman tingkatkan investasi di AS
Sebelumnya, produsen mobil Jerman berhasil menghindari ancaman tarif 35% dengan menegosiasikan investasi baru dalam produksi AS, termasuk perluasan pabrik kendaraan listrik (EV) Volkswagen di Tennessee, $1 miliar (€930 juta) yang dijanjikan oleh Mercedes Benz di Alabama dan peningkatan produksi BMW di South Carolina.
Namun Jacob Kirkegaard, peneliti senior di lembaga pemikir Bruegel yang berpusat di Brussels, mengatakan kepada DW bahwa produsen mobil Jerman seharusnya "sangat khawatir," karena rencana baru Trump bisa jadi lebih merugikan bagi mereka.
Masalahnya adalah janji Trump untuk mencabut subsidi kendaraan listrik, yang secara jor-joran jadi rencana investasi hijau Presiden AS Joe Biden. Sebagian besar uang tunai yang digelontorkan oleh produsen mobil Jerman di AS selama enam tahun terakhir telah membantu meningkatkan produksi EV.
"Jadi, setiap langkah untuk membalikkan arah kebijakan ini perlu rantai pasokan terpisah untuk produksi kendaraan bermesin pembakaran yang berkelanjutan di Amerika Serikat," kata Kirkegaard.
"Kita telah melihat apa yang terjadi di Jerman ketika subsidi dihilangkan - penjualan kendaraan listrik langsung anjlok," kata McElroy, yang juga merupakan presiden Blue Sky Productions, yang menciptakan Autoline Network yang menangani berita dan analisis industri otomotif.
Trump bidik produksi mobil asing berbasis di Meksiko
Merek-merek Jerman, utamanya yang berbasis produksi di Meksiko, dapat semakin terperangkap dalam ultimatum Trump. Negara Amerika Latin tersebut adalah pusat manufaktur utama bagi merek-merek seperti Volkswagen, BMW, dan Audi, yang sebagian besar dijual di pasar AS. Trump sering mengancam produsen mobil yang memindahkan produksi mereka ke Meksiko dengan tarif 200%. Meksiko dipilih karena rendahnya biaya produksi dibandingkan dengan AS.
"Meksiko merupakan lokasi yang sangat penting bagi industri otomotif Jerman," kata Asosiasi Industri Otomotif Jerman (VDA) dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan di surat kabar Die Welt pada bulan Oktober. "Perusahaan Jerman memiliki pabrik sendiri di sana, di lokasi rekor produksi baru dicapai dengan 716.000 mobil penumpang pada tahun lalu."
Pabrikan mobil Jerman yang beroperasi di Meksiko juga diuntungkan oleh kondisi perdagangan regional berkat Perjanjian AS-Meksiko-Kanada (USMCS), yang sebelumnya disebut NAFTA. Perjanjian ini dinegosiasikan di bawah kepemimpinan Trump saat ia menjadi presiden dan dijadwalkan untuk ditinjau ulang pada 2026.
Seperti di Jerman, di mana produsen mobil mengeluhkan kekurangan pekerja terampil, Amerika Serikat juga mengalami kesenjangan keterampilan setelah puluhan tahun mengalihkan produksi ke luar negeri dan karena pekerja otomotif yang lebih tua memasuki usia pensiun.
Perebutan pasar di Eropa, Cina, dan AS
Dengan ancaman pengetatan proteksionisme oleh Trump, merek mobil Jerman kini menghadapi badai dahsyat di sektor otomotif global yang sudah sangat kompetitif. Mereka juga menghadapi pertumbuhan yang lebih lambat di Eropa dan karena pasar direbut oleh merek dari Cina.
Namun, berbeda dengan merek mobil dari Cina, merek mobil Jerman dinilai masih sangat kuat dan punya tempat yang kuat di antara konsumen. Ini dinilai akan terus membantu mereka mengatasi rintangan perdagangan ini.
"Saya pribadi tentu tidak ingin meremehkan merek-mereka ini," kata Kirkegaard. "Mereka akan melewati ini, tetapi kemungkinan besar mereka akan berakhir dengan jumlah lapangan pekerjaan yang secara signifikan akan lebih kecil."
Diadaptasi dari artikel DW berbahasa Inggris
Apakah Ekonomi AS Terpengaruh pada Siapa yang Akan Jadi Presiden?
Dalam 15 tahun terakhir, ekonomi AS berjalan cukup baik dibanding negara lain. Jutaan lapangan kerja bertambah. Apakah keadaan ini perlu dibuat lebih baik lagi? [993] url asal
#dw-news #dw-news #pilpres-as #amerika-serikat #peran-presiden-as #pdb-as #the-economist #federal-reserve #akibat-krisis-keuangan-as #perekonomian-as #kongres #kongres-as #indeks-harga-konsumen #biro-sensus-as
(detikFinance) 22/10/24 13:35
v/16836021/
Jakarta - Banyak waktu, tenaga, dan uang yang dihabiskan dalam pemilihan presiden dan pemilihan umum di Amerika Serikat (AS), tidak terkecuali penyelenggaraan tahun ini.
Namun, data sejak 2009 menunjukkan bahwa siapa pun yang berkuasa, ekonomi AS tampaknya sama-sama terdampak oleh peristiwa global, perkembangan demografis, dan keputusan yang dibuat oleh Gedung Putih.
Periode tersebut mulai dari 2009 hingga 2024, mencakup dua kali masa jabatan Barack Obama, ditambah satu masa jabatan Donald Trump dan Joe Biden, yang masa kepresidenannya akan segera berakhir.
Melihat kembali era Obama, Trump, dan Biden
Ada dua kendala utama bagi perekonomian AS selama periode ini. Yang pertama adalah krisis keuangan yang dimulai sebelum Obama menjabat pada Januari 2009, dan yang kedua adalah pandemi COVID-19 pada tahun 2029 di masa terakhir pemerintahan Trump.
Krisis keuangan membuat beberapa pihak khawatir akan runtuhnya seluruh sistem perbankan AS. Segera setelah itu, GM dan Chrysler, dua produsen mobil terbesar di AS, menyatakan kebangkrutan untuk menata ulang bisnis mereka. Pasar perumahan, khususnya hipotek, juga menjadi tidak terkendali.
Pandemi COVID-19 memiliki dampak yang nyata terhadap ekonomi AS dan global. Pembatasan publik, krisis pasokan makanan karena rantai pasokannya yang rumit dan penutupan perbatasan negara mengakibatkan banyak kematian, kekacauan ekonomi, dan hilangnya pekerjaan secara besar-besaran.
Namun, AS berhasil dengan cepat keluar dari kemerosotan pandemi dan melanjutkan pemulihan ekonominya, serta menciptakan pemulihan yang kuat.
PDB AS versus raksasa ekonomi lainnya
Salah satu masalah dalam membandingkan dampak yang dihasilkan oleh peran presiden AS dan kebijakannya adalah jeda waktu yang dibutuhkan agar keputusan itu menghasilkan suatu perbedaan.
Berinvestasi dalam infrastruktur atau industri seperti pembuatan chip dirasa perlu, tetapi manfaatnya baru akan terasa jauh di masa depan. Memperketat perbatasan dengan Meksiko juga mungkin dapat mencegah beberapa migran untuk masuk ke AS, tetapi dampak dari hilangnya pekerja justru lebih membutuhkan waktu dan berdampak pada harga-harga di supermarket.
Masalah lainnya adalah menilai dampak dari peran presiden itu secara terpisah dari keputusan yang dibuat bersama dengan para pembuat kebijakan di Kongres AS atau lembaga independen lain seperti Federal Reserve.
Sejak 1990, produk domestik bruto (PDB) per kapita AS tumbuh setiap tahunnya kecuali pada 2009, dan itu adalah efek lanjutan dari krisis keuangan. Tahun lalu, PDB per kapita negara ini mencapai lebih dari $81.000 (sekitar Rp1,26 miliar).
Pada saat yang sama, dalam hal persentase pertumbuhan tahunan per kapita, Cina dan India justru terlihat memiliki pertumbuhan yang lebih kuat. Meski tingkat pertumbuhan kedua negara itu lebih tinggi, PDB per kapita AS masih tiga kali lebih tinggi dibanding Cina, dan bahkan delapan kali lebih tinggi dibanding India.
Pada 2023, PDB AS secara keseluruhan mencapai $27,36 triliun (sekitar Rp426 triliun), menjadikannya negara dengan ekonomi terbesar di dunia. Cina berada di urutan kedua dengan $17,66 triliun (sekitar Rp275 triliun), diikuti oleh Jerman dan Jepang di urutan ketiga dan keempat.
Pekerjaan bagi banyak orang
Beberapa bulan pertama masa kepresidenan Obama, angka pengangguran meningkat akibat krisis keuangan AS. Dari April 2009 hingga September 2011, angka pengangguran itu mencapai 9% atau lebih.
Setelah itu, tingkat pengangguran di AS perlahan merayap turun hingga mencapai level terendahnya sejak 1960-an, sebelum terjadi lonjakan singkat selama pandemi COVID-19, yang membuat banyak orang kehilangan pekerjaan. Tahun ini, tingkat pengangguran AS berada di kisaran 4%.
Di sisi lain, pekerja di AS memang lebih produktif dibanding pekerja di negara lain. Itu semua berkat dari inovasi, pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan, serta kemauan para pekerja untuk berganti pekerjaan atau pindah ke jenjang yang lebih baik.
Ketidaksetaraan upah di tingkat bawah
Masalah lainnya yang juga meningkat adalah ketidaksetaraan gaji atau upah di AS, negara yang paling tidak memiliki kesetaraan updah dalam kelompok G7. 1% orang Amerika memegang sebagian besar kekayaan negara.
Di Amerika Serikat, untuk masuk ke dalam 1% orang berpenghasilan tinggi dibutuhkan pendapatan rumah tangga tahunan sekitar $1 juta per tahun (sekitar Rp15,5 miliar) sebelum pajak. Sedangkan di Inggris, hanya dibutuhkan sekitar $250.000 (sekitar Rp3,9 miliar).
Gaji para bos perusahaan juga lebih dari 250 kali lipat dari rata-rata gaji karyawan mereka, tulis Obama dalam sebuah surat terbuka kepada penggantinya di The Economist pada Oktober 2016.
Selain itu, pada 1979, "1% keluarga kelas atas di AS menerima 7% dari seluruh pendapatan setelah pajak. Pada 2007, jumlah itu meningkat dua kali lipat menjadi 17%," tulis Obama lebih lanjut. Hal yang lebih positif lagi, proporsi orang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem justru menurun.
Migrasi mengubah ekonomi AS
Migrasi tidak resmi di AS sangat sulit untuk diukur, tetapi migrasi yang tercatat mudah untuk dihitung. Salah satu ukurannya adalah jumlah kartu hijau yang diberikan pemerintah AS dari 2009 hingga 2022, di mana tercatat ada lebih dari 14 juta penerima.
Populasi kelahiran warga asing yang tinggal di AS, baik secara legal maupun tidak, telah berkembang pesat dalam lima dekade terakhir dalam hal jumlah dan pangsa populasinya, menurut laporan yang dikeluarkan oleh Biro Sensus AS pada April tahun ini.
Sementara pada 1970, terdapat 9,6 juta kelahiran pada penduduk asing. Di mana pada 2022, juga terdapat lebih dari 46 juta, atau hampir 14% dari total populasi warga AS.
Dari total keseluruhan, hampir sepertiga dari populasi kelahiran warga asing di AS terjadi pada 2010 atau setelahnya, dan setengahnya tinggal di empat negara bagian AS, seperti California, Texas, Florida, dan New York. Lebih dari setengahnya juga telah menjadi warga negara.
Inflasi tinggi menghantam AS
Sejak Januari 2009, inflasi telah meningkat pesat, lapor Indeks Harga Konsumen.
Ketika Obama mulai menjabat, inflasi berada di angka nol, lalu masuk ke wilayah negatif dan akhirnya naik ke level tertinggi 9,1% pada Juni 2022. September lalu, inflasi turun menjadi 2,4%, angka terendah sejak Februari 2021.
Periode inflasi yang relatif singkat ini memiliki dampak yang panjang dan telah menyebabkan kenaikan biaya hidup yang cukup besar bagi banyak warga AS.
Harga-harga konsumen naik, dan para pemilih sangat tidak senang akan hal itu. Ini adalah salah satu isu terpenting tahun ini dan dapat menentukan hasil pemilu di negara-negara bagian yang masih belum menentukan suara mayoritasnya. Ini juga merupakan salah satu hal yang paling sulit untuk dikendalikan oleh presiden manapun.
Artikel ini diadaptasi dari DW berbahasa Inggris
Ratan Tata, Taipan Industri India Tutup Usia
Ratan Tata, mantan ketua Tata Group, yang menjadi salah satu konglomerat terbesar di dunia, meninggal dunia di Mumbai, India, di usia 86 tahun. [647] url asal
#dw-news #dw-news #tata #ratan-tata #wednesday-bite #mantan-ketua-tata-group #vibhushan #afp #tata-nano #land-rover #jamsetji-tata #anglo #sundar-pichai #jaguar #tata-grup #alih-pimpinan #mumbai #universitas-corne
(detikFinance) 10/10/24 18:25
v/16261916/
Jakarta - Dalam sebuah pernyataannya Tata Grup India menyampaikan bahwa Ratan Tata, mantan ketua Tata Group, meninggal dunia pada hari Rabu (09/10) di usia 86 tahun.
"Dengan rasa kehilangan mendalam, kami mengucapkan selamat tinggal kepada Tn. Ratan Naval Tata, seorang pemimpin yang benar-benar luar biasa, yang kontribusinya tak terukur dan telah membentuk tidak hanya Tata Group tetapi juga tatanan negara kita," tulis N. Chandrasekaran, Ketua Tata Sons.
Sebelumnya, pada hari Senin (07/10), Tata mengatakan di media sosial bahwa ia menjalani pemeriksaan medis rutin karena usianya dan kondisi medis yang tidak disebutkan di sebuah rumah sakit Mumbai.
PM Modi sebut Tata sebagai pemimpin visioner
Perdana Menteri India Narendra Modi menggambarkan Tata sebagai pemimpin visioner dan manusia yang luar biasa.
"Ia memberikan kepemimpinan yang stabil kepada salah satu rumah bisnis tertua dan paling bergengsi di India. Pada saat yang sama, kontribusinya jauh melampaui ruang rapat," kata Modi di X.
Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
CEO Google Sundar Pichai mengatakan Ratan Tata "sangat peduli untuk menjadikan India lebih baik." Ia memuji warisan bisnis dan filantropi Tata, menyoroti peran pentingnya dalam membimbing dan mengembangkan kepemimpinan bisnis modern di India.
Ratan Tata lahir di Bombay, sekarang Mumbai, pada tahun 1937, dalam keluarga Parsi Zoroaster.
Setelah lulus arsitektur dari Universitas Cornell di Amerika Serikat, Tata kembali ke India tahun 1962. Ia kemudian bergabung dalam bisnis keluarga, yang didirikan di bawah kekuasaan kolonial Inggris, bekerja di perusahaan baja dan motor Tata.
Tata mengambil alih pimpinan Tata Group dari pamannya pada tahun 1991. Saat itu juga ekonomi India terbuka untuk reformasi pasar bebas yang radikal.
Mengubah Tata Group jadi konglomerat global
Tata Sons pertama kali didirikan pada tahun 1868 sebagai perusahaan perdagangan oleh Jamsetji Tata. Pada tahun 2023-24, perusahaan ini membukukan pendapatan sebesar $165 miliar (sekitar Rp2,8 kuadriliun).
Saat ini, grup ini terdiri dari lebih dari 30 perusahaan di sepuluh sektor, yang beroperasi di lebih dari 100 negara. Secara keseluruhan, perusahaan-perusahaan ini mempekerjakan lebih dari 1 juta orang, menurut situs web grup tersebut.
Selama lebih dari 20 tahun kepemimpinannya, Ratan Tata dianggap berjasa memperluas dan mendiversifikasi perusahaan menjadi salah satu konglomerat terbesar di dunia, dan perusahaan global utama.
Sebagian besar dari upaya ini adalah dengan merambah pasar global dengan melakukan akuisisi besar tepat saat India mulai membuka ekonominya bagi dunia.
Pada tahun 2000, grup itu membeli perusahaan teh Inggris Tetley. Pada tahun 2007, ia mengatur pengambilalihan perusahaan asing terbesar di India, dengan menambahkan pembuat baja Anglo-Belanda Corus ke portofolio Tata senilai $13 miliar.
Pada tahun 2008, Tata Motors membeli merek mobil mewah Inggris Jaguar dan Land Rover dari Ford Motor Co. seharga $2,3 miliar. Pada tahun 2021, Tata Group membeli Air India milik negara.
Ingin terus bertumbuh
"Itu adalah upaya untuk terus bertumbuh dan mengubah aturan dasar untuk mengatakan bahwa kita dapat tumbuh melalui akuisisi yang sebelumnya tidak pernah kita lakukan," kata Tata dalam sebuah wawancara dengan Stanford Graduate School of Business pada tahun 2013.
Tata juga membangun Indica, model mobil pertama yang dirancang dan dibuat di India. Tata Nano kemudian menjadi mobil termurah di dunia, dengan harga sekitar $1.200 atau sekitar Rp18 juta.
Mobil ini disebut-sebut sebagai model transportasi pribadi yang terjangkau bagi masyarakat umum. Namun, produksinya dihentikan setelah 10 tahun karena masalah keselamatan.
Ratan Tata resmi mengundurkan diri sebagai ketua Tata Sons pada ulang tahunnya yang ke-75 pada bulan Desember 2012. Ia digantikan oleh Cyrus Mistry.
Namun di tahun 2016, ia kembali dari dari masa pensiun untuk menjabat sebagai ketua Tata Sons, hingga penggantinya, N. Chandrasekaran, diangkat pada awal tahun 2017.
Setelah pensiun, lelaki yang tidak pernah menikah ini berfokus pada kepemimpinan lembaga amal grup dan berinvestasi di beberapa perusahaan rintisan paling menjanjikan di India.
Tata menerima Padma Bhushan, salah satu penghargaan sipil paling terhormat di India, pada tahun 2000 dan "Padma Vibhushan" pada tahun 2008.
ae/yf (Reuters, AFP, AP)
Dapatkah Stimulus Ekonomi China Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Jerman?
Selama bertahun-tahun, pesanan industri China membantu menciptakan dan mendukung ribuan pekerjaan bergaji tinggi di Jerman. [793] url asal
#dw-news #dw-news #jerman #china #stimulus-ekonomi #amerika-serikat #wto #beijing #berlin #amerika #dialog-global-berlin #kementerian-keuangan-cina #badan-perdagangan-dunia #dampak-ekonomi-paket-stimulus-cina
(detikFinance) 08/10/24 10:29
v/16182993/
Jakarta - Ekonomi Jerman terperangkap dalam krisis selama dua tahun terakhir, di tengah pertumbuhan yang stagnan dan tantangan struktural yang terus meningkat.
Harga energi yang tinggi, birokrasi yang berbelit-belit, investasi yang lambat dalam infrastruktur fisik dan digital, serta melemahnya permintaan di pasar-pasar utama luar negeri telah menghantam perusahaan-perusahaan Jerman dengan keras.
Perlambatan ekonomi di Cina, khususnya, telah memberikan dampak yang besar.
Raksasa Asia tersebut telah lama menjadi pasar utama bagi perusahaan-perusahaan industri Jerman, terutama di sektor otomotif, permesinan, dan kimia. Dan pesanan dari Cina membantu menciptakan lapangan kerja dengan gaji yang baik di Jerman.
Namun, berbagai tantangan ekonomi, termasuk krisis pasar properti, ketegangan perdagangan, dan masalah demografi, telah mengguncang kepercayaan konsumen di ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut dan memperlambat pertumbuhan. Hal ini juga menyebabkan permintaan yang lebih rendah untuk barang-barang buatan Jerman.
"Ekspor Jerman ke Cina meningkat dua digit pada 1990-an dan 2000-an, tetapi pertumbuhannya mulai melambat satu dekade lalu," menurut laporan yang diterbitkan oleh Rhodium Group pada Februari 2024.
"Setelah mencapai puncaknya pada 2022, ekspor turun sembilan persen pada 2023 meskipun ekonomi Cina terus tumbuh — sejauh ini merupakan penurunan paling tajam sejak Cina bergabung dengan Badan Perdagangan Dunia (WTO)," katanya.
Berjuang menghadapi lingkungan bisnis yang menantang, banyak perusahaan Jerman — termasuk nama-nama besar seperti Volkswagen, BASF, Continental, dan ZF, antara lain — telah mengumumkan langkah-langkah restrukturisasi dan pemangkasan biaya, termasuk ribuan pemutusan hubungan kerja di Jerman.
''Suasana yang sangat tenang' di Cina
Dalam Dialog Global Berlin minggu lalu, pimpinan Mercedes-Benz, Ola Källenius, mengatakan ada "suasana yang sangat tenang" di Cina dalam hal sentimen konsumen dan banyak pengusaha yang "menunggu dan mengamati."
"Sentimen saat ini, pada sebagian besar pengusaha dan konsumen yang membeli barang-barang mahal, barang modal yang lebih mahal atau bahkan barang mewah, sangat hati-hati," katanya, seraya menambahkan, "Pasar itu telah menyusut pada tingkat yang mengkhawatirkan."
Källenius menunjukkan bahwa kesehatan sektor properti sangat penting bagi ekonomi Cina.
"Bagi banyak orang di Amerika Serikat, orang-orang bisa memiliki 400 ribu dollar untuk masa pensiun. Di Cina, Anda memiliki apartemen. Jika nilai ekuitas apartemen itu selama 24 bulan terakhir telah turun sebesar 30%, Anda tidak merasa kaya. Anda tidak liburan dan membeli [Mercedes-Benz] kelas S," katanya.
Untuk membalikkan perlambatan ekonomi, Cina baru-baru ini mengeluarkan serangkaian langkah stimulus moneter baru yang mengejutkan, termasuk pemotongan suku bunga. Para pemimpin negara juga mengisyaratkan dukungan fiskal untuk menghidupkan kembali pertumbuhan yang lesu dan menstabilkan pasar real estate yang bermasalah.
Sebagai bagian dari dorongan fiskal, Kementerian Keuangan Cina berencana untuk menerbitkan obligasi pemerintah khusus senilai 2 triliun yuan ($284 miliar) tahun ini, demikian dilaporkan Reuters.
Paket stimulus tersebut dipandang sebagai langkah awal yang penting dalam menghidupkan kembali pertumbuhan Cina dan mengangkat sentimen investor, yang memicu reli besar-besaran pada ekuitas Cina minggu lalu.
Kepala ekonom di Mercator Institute for Cina Studies, Max J. Zenglein mengatakan kepada DW bahwa serangkaian langkah telah diumumkan untuk mendukung ekonomi, terutama ditujukan untuk stabilisasi.
"Sektor real estate yang mandek, dan akibatnya konsumsi yang lemah, telah bertahan dengan keras kepala sepanjang tahun 2024," katanya, seraya menambahkan, "Karena tidak ada perbaikan yang diharapkan pada kuartal ketiga, fokus telah bergeser untuk membangun landasan bagi pasar real estate."
Apakah langkah stimulus baru akan cukup?
Namun, masih terlalu dini untuk mengatakan apakah langkah yang diumumkan akan menghasilkan pemulihan ekonomi dengan meningkatkan kepercayaan konsumen dan mendorong permintaan, yang dapat memberikan efek limpahan positif pada ekonomi global, termasuk Jerman.
Dalam Dialog Global Berlin, CEO Mercedes-Benz Källenius mengatakan situasi di Cina adalah kunci bagi perusahaan selama beberapa tahun ke depan.
"Bisakah Cina mengatasi krisis kepercayaan itu? Itu adalah hal terpenting bagi kami dari sudut pandang bisnis, dalam jangka pendek hingga menengah."
Peneliti dan koordinator Program Cina di Peterson Institute for International Economics, Tianlei Huang menulis dalam sebuah laporan bahwa "dampak ekonomi paket stimulus Cina mungkin akan terbatas."
"Langkah-langkah yang diumumkan sejauh ini tidak mengatasi masalah yang mengakar dalam ekonomi Cina yang membebani pertumbuhannya, termasuk prioritas Beijing yang semakin tinggi pada keamanan nasional daripada pembangunan ekonomi, diskriminasi terhadap sektor swasta, dan kebijakan fiskal yang tidak memadai."
Tren ini menyoroti pentingnya pasar Cina bagi perusahaan-perusahaan Jerman meskipun ada seruan dari para pembuat kebijakan agar bisnis-bisnis melakukan diversifikasi dan mengurangi investasi mereka di Cina.
Sementara langkah-langkah moneter yang diumumkan dan dukungan fiskal yang dijanjikan meningkatkan harapan akan pemulihan ekonomi Cina, pakar MERICS Zenglein mengatakan "stimulus tidak akan difokuskan pada area-area yang khususnya relevan bagi Jerman."
"Siapa pun yang sekarang percaya bahwa pertumbuhan ekonomi di Cina meningkat tajam lagi dan bahwa ini akan memperbaiki situasi mereka di pasar Cina adalah salah — dan telah salah selama tiga tahun," tegasnya.
"Perusahaan-perusahaan yang jungkir balik dalam beberapa tahun terakhir tidak akan berhasil sekarang, terutama karena perubahan lingkungan pasar dengan persaingan Cina yang lebih kuat."
Google Investasi Rp15,2 T di Thailand, Bagaimana dengan Indonesia?
Google berencana investasi $1 miliar (sekitar Rp15,2 triliun) untuk membangun infrastruktur digital di Thailand, termasuk membangun pusat data baru. [807] url asal
#dw-news #dw-news #google #thailand #indonesia
(detikFinance) 01/10/24 13:54
v/15812863/
Jakarta - Pusat baru yang akan dibangun di Bangkok dan kawasan industri Chonburi ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat akan komputasi awan (cloud computing) di Asia Tenggara, menurut pernyataan resmi Google pada Senin (01/10).
Investasi Google ini muncul setelah Microsoft pada Mei lalu mengumumkan akan membangun pusat data pertama di Thailand guna memperkuat infrastruktur cloud dan kecerdasan buatan.
"Investasi ini akan membantu bisnis, inovator, dan komunitas di Thailand untuk memanfaatkan teknologi cloud dan kecerdasan buatan (AI)," ujar Ruth Porat, presiden sekaligus kepala investasi Google dan perusahaan induknya, Alphabet.
Rincian investasi ini diungkapkan setelah pertemuan antara Porat dan Perdana Menteri Thailand, Paetongtarn Shinawatra, di Bangkok. Shinawatra menyebut langkah ini sebagai bukti bahwa Thailand sedang berkembang menjadi pusat digital utama di Asia Tenggara.
Pusat data Google akan dibangun di Chonburi, kawasan industri besar di sebelah tenggara Bangkok, sementara fasilitas cloud akan berada di Bangkok.
Apa dampak bagi ekonomi Thailand?
Ekspansi Google ini diperkirakan akan menambah $4 miliar (sekitar Rp60,81 triliun) ke PDB Thailand pada 2029 dan menciptakan 14.000 lapangan kerja antara 2025 hingga 2029, berdasarkan laporan dari konsultan Deloitte.
Pengumuman ini terjadi setahun setelah mantan Perdana Menteri Srettha Thavisin mencoba menarik investasi dari perusahaan-perusahaan teknologi AS, seperti Google, Microsoft, dan Tesla milik Elon Musk, selama kunjungannya ke New York.
Meskipun Thailand adalah ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara, sektor teknologinya masih tertinggal dari Singapura dan Indonesia.
Selama ini, ekonomi Thailand lebih berfokus pada manufaktur, pertanian, dan pariwisata, yang belum pulih sepenuhnya sejak pandemi Covid-19. Pemerintah Thailand berharap investasi dari Google dan Microsoft dapat membantu memodernisasi dan mendiversifikasi ekonominya.
Kantor Komisi Ekonomi Digital dan Masyarakat Nasional Thailand menyebutkan bahwa ekonomi digital bisa menyumbang hingga 30 persen dari PDB pada 2027.
Asia Tenggara gaet investasi digital
Beberapa negara di Asia Tenggara, seperti Vietnam, juga sedang berusaha menarik investasi dari perusahaan-perusahaan teknologi AS. Vietnam berencana meningkatkan posisinya di sektor teknologi tinggi, setelah sebelumnya dikenal sebagai pusat produksi sepatu, pakaian, dan furnitur.
Pekan lalu, media Vietnam melaporkan bahwa SpaceX milik Elon Musk berencana menginvestasikan $1,5 miliar (sekitar Rp22,8 triliun) di Vietnam, sebagai bagian dari langkah AS untuk mengurangi ketergantungan pada Cina.
Pada awal Mei 2024, CEO Microsoft Satya Nadella umumkan akan menginvestasikan US$2,2 miliar (sekitar Rp33,44 triliun) dalam empat tahun ke depan untuk mendukung transformasi digital Malaysia. Investasi ini menjadi yang terbesar dalam sejarah 32 tahun keberadaan Microsoft di Malaysia.
Pada April 2024, Microsoft akan menginvestasikan US$1,7 miliar (sekitar Rp25,84 triliun) di Indonesia untuk memperkuat layanan cloud dan kecerdasan buatan (AI), termasuk dengan membangun pusat data.
Microsoft akan memperluas investasinya dalam pusat data dan komputasi awan di Indonesia sebesar US$1,7 miliar "untuk menghadirkan infrastruktur AI terbaru dan terbaik ke Indonesia," papar CEO Microsoft Satya Nadella dalam kunjungannya di Jakarta pada 30 April silam.
Microsoft menargetkan akan melatih 2,5 juta orang di Asia Tenggara dalam penggunaan AI hingga 2025. Pilihan Microsoft untuk berinvestasi di Indonesia tidak lepas dari kondisi Indonesia yang memiliki populasi yang besar dan melek teknologi. Hal ini menjadikan negara Asia Tenggara ini sebagai target pasar utama untuk investasi terkait teknologi.
Potensi Indonesia untuk bidik AI sebagai pintu investasi
Investasi digital dipercaya masih dapat menjadi pendongkrak pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Pada Agustus lalu, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia merekomendasikan investasi di sektor kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan transisi energi guna mencapai pertumbuhan ekonomi 8% yang ditargetkan presiden terpilih Prabowo Subianto, demikian seperti dikutip dari Detik.
Kepala Badan Ekonomi dan Financial Technology Kadin Indonesia, Pandu Sjahrir menyebut pemerintah seharusnya mempermudah investasi di dunia digital dan pembangunan infrastruktur digital. Menurutnya, Indonesia menjadi negara potensial yang dapat menarik investasi asing, mengingat Indonesia terletak di Asia Tenggara dengan pertumbuhan ekonomi dan situasi politik yang stabil.
"Pertanyaan besarnya adalah can we use this as an opportunity, as a place di mana kita bisa menarik lebih banyak lagi investasi di Indonesia. Makanya angle dari sisi artificial intelligence, di sisi pembangunan infrastruktur digital menjadi satu angle untuk bisa mencapai angka 8% lagi," papar Pandu.
Kadin menilai Indonesia membutuhkan investasi US$ 20 miliar atau Rp 313 triliun untuk membangun satu pusat data. Perhitungan ini didapatkannya saat Pandu Sjahrir membandingkan dengan Malaysia.
"Satu data center yang digunakan untuk AI sama dengan 8-10 juta megawatt. Indonesia butuh untuk minimum aja dalam waktu beberapa tahun ke depan, dua tahun itu, paling tidak 2 gigawatt. Malaysia jumlah penduduknya 25 juta, seperduabelas belas Indonesia. Their backlog today is about 1,5 gigawatt. Indonesia, dengan penduduk 300 juta. Ya at least sedikit di atas Malaysia 2 gigawat. Jadi, kalau 2 gigawatt, ya sekitar US$ 20 miliar untuk digital infrastruktur," imbuhnya.
Berdasarkan hasil laporan berjudul "Hamessing the Power of Gen (AI) in Indonesian Financial Services" menunjukkan 49% bisnis di sektor keuangan Indonesia memprioritaskan penggunaan AI untuk meningkatkan layanan pelanggan. Selain itu, 51% institusi keuangan di Indonesia menggunakan AI untuk pekerjaan sehari-sehari.
rs/gtp (AFP, Reuters, Detik)
Industri Otomotif Eropa Guncang, Apa Dampaknya Buat Indonesia?
Industri otomotif di Eropa kini tengah terguncang akibat menurunnya daya beli dan persaingan dengan Cina. Bagaimana pengaruhnya bagi Indonesia? [607] url asal
(detikFinance) 25/09/24 12:37
v/15535757/
Jakarta - Di tengah sulitnya industri otomotif Eropa, khususnya di Jerman, Menteri Ekonomi Jerman Robert Habeck mengundang perwakilan dari industri otomotif Jerman ke "konferensi tingkat tinggi otomotif" virtual pada hari Senin (23/09).
Habeck ingin mencari cara membantu produsen mobil yang tengah berjuang untuk bertahan hidup ini. Konferensi tingkat tinggi tersebut diadakan di tengah seruan untuk mengambil langkah lebih lanjut untuk meningkatkan permintaan mobil listrik.
Produsen mobil Eropa hanya bisa menjual lebih sedikit produknya dari target semula. Model kendaraan listrik (EV) baru juga masih berjuang menarik minat konsumen. Penurunan penjualan bukan hanya dihadapi produsen mobil terbesar Eropa yakni Volkswagen dari Jerman, produsen mobil Prancis, Renault, dan Stellantis (grup mobil Italia yang punya 14 merek), juga mengalami kelesuan pasar serupa.
Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Situasi sangat buruk khususnya dihadapi di pabrik Stellantis di Mirafiori, Italia, tempat produksi mobil listrik Fiat 500e. Produksi di sana turun lebih dari 60% pada paruh pertama tahun 2024. Sementara itu, pabrik mobil premium Audi di Belgia, yang memproduksi model mewah Q8 e-tron, berisiko ditutup.
Masalah penjualan juga menghantui pabrik Renault di Douai, Prancis utara, dan di VW di Dresden, Jerman. Mobil listrik yang mereka produksi kesulitan menemukan pembeli.
Tekanan terhadap produsen mobil Eropa semakin meningkat, khususnya dari Cina. Sejumlah produsen mobil Listrik dari Cina sebelumnya diberitakan juga ingin membuka pabrik di Eropa. Ini menambah saingan bagi industri Eropa.
Diversifikasi pasar olahan nikel Indonesia terancam
Lantas apa dampaknya pelemahan pasar otomotif ini terhadap Indonesia? Rencana penutupan pabrik VW dinilai pengamat sebagai hal yang paling berisiko bagi diversifikasi pemasaran produk olahan nikel Indonesia.
Dikutip dari Kompas pada akhir 2023, Menteri Investasi Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa VW berencana membangun industri baterai kendaraan listrik secara terpadu di Indonesia. Hal ini rencananya akan direalisasikan lewat anak Perusahaan VW yakni PowerCo.
Kepada DW Indonesia, Direktur Center of Economic and Law Studies, CELIOS, Bhima Yudhistira, mengatakan rencana ini berisiko gagal karena perubahan kondisi keuangan di perusahaan induknya. Ia mengatakan, apabila pabrik VW di Jerman tutup, Indonesia berisiko makin bergantung kepada Cina untuk menjual nikel olahan sebagai bahan baku baterai.
"Pemerintah kan ingin agar ada diversifikasi pasar olahan nikel, tidak hanya dominan ke China namun bisa masuk ke negara lain termasuk ke rantai pasok industri otomotif di Eropa," kata Bhima kepada DW Indonesia.
Selain untuk memperbaiki harga, diversifikasi ke pasar Eropa juga penting supaya nikel Indonesia punya standarisasi lingkungan dan perlindungan pekerja yang lebih baik.
Begitu mendengar kabar VW berisiko tutup pabrik, Bhima khawatir perusahaan smelter nikel di Indonesia kurang tertarik meningkatkan standarisasi pengelolaan nikelnya.
Otomotif Indonesia punya peluang
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyebutkan, di tengah lemahnya ekonomi global, industri otomotif di Indonesia juga cenderung menurun.
Pada tahun ini, penjualan mobil di Indonesia mencapai sekitar 484,000 unit, atau turun 17,5% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, menurut Gaikindo. Penyebabnya adalah daya beli Masyarakat yang tertekan inflasi dan ketidakpastian ekonomi global.
Namun menariknya, penjualan whole sales mobil listrik justru melonjak pesat. Pada periode Januari-Agustus, penjualan mobil listrik dari pabrikan ke dealer di Indonesia mencapai lebih dari 23 ribu unit. Ini berarti ada kenaikan sebesar 177,32% dibandingkan periode yang sama tahun 2023. Demikian tulis Gaikindo dalam laman web mereka.
Sejumlah produsen bahkan mengutarakan rencana untuk berinvestasi di Indonesia, Citron misalnya. Brand otomotif asal Prancis, pada Juli 2024 justru malah mengumumkan akan membangun pabrik di Purwakarta, Jawa Barat.
"Peresmian produksi dalam negeri ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) untuk memproduksi model Citron -C3 All Electric secara lokal yang akan dimulai pada bulan Agustus 2024," tulis Citron Indonesia dalam laman web mereka. Total investasinya mencapai Rp381 milliar.
Sebagian diadaptasi dari artikel DW Jerman
Dinilai Ancam Keamanan, AS Larang Teknologi Mobil Otonom China-Rusia
Departemen Perdagangan AS akan melarang teknologi China dan Rusia di dalam kendaraan otonom yang diproduksi di AS karena dinilai mengancam keamanan nasional. [265] url asal
#dw-news #dw-news #rusia #china #amerika-serikat
(detikFinance) 24/09/24 14:51
v/15487687/
Jakarta - Amerika Serikat (AS) bergerak untuk melarang kendaraan otonom yang menggunakan teknologi asal Cina atau Rusia. Hal ini dirilis dalam pengumuman Departemen Perdagangan AS pada Senin (23/9).
Langkah ini muncul di tengah persaingan ketat antara industri otomotif AS dan Cina, tetapi Washington menegaskan bahwa pelarangan ini adalah tindakan pencegahan terkait keamanan.
"Ini bukan tentang perdagangan atau keuntungan ekonomi," kata Menteri Perdagangan AS, Gina Raimondo.
"Ini murni tindakan keamanan nasional. Kabar baiknya, saat ini kita tidak memiliki banyak mobil Cina atau Rusia di jalan kita."
Apa saja yang akan dilarang?
Selain impor, pelarangan ini juga mencakup kendaraan yang diproduksi di AS, tetapi menggunakan teknologi dari Cina atau Rusia.
Ini termasuk perangkat lunak dan perangkat keras yang menghubungkan kendaraan otonom dengan dunia luar.
Menurut laporan AFP, pelarangan perangkat lunak dapat berlaku secepatnya pada 2027, sementara pelarangan perangkat keras akan ditunda hingga 2029 untuk memberikan waktu kepada rantai pasokan AS agar bisa menyingkirkan teknologi Cina.
"Hari ini, mobil memiliki kamera, mikrofon, pelacakan GPS, dan teknologi lain yang terhubung ke internet," kata Raimondo.
"Tidak sulit untuk membayangkan bagaimana musuh asing dengan akses ke informasi ini dapat menimbulkan risiko serius terhadap keamanan nasional kita serta privasi warga negara AS."
Cina mengutuk 'tindakan diskriminatif'
Pemerintahan Biden telah terlibat dalam perang tarif yang tajam terhadap impor Cina, dan kendaraan listrik secara umum telah menjadi titik konflik berulang kali.
Meskipun belum secara resmi diumumkan, Beijing membalas laporan media tentang pelarangan ini.
"Cina menentang perluasan konsep keamanan nasional oleh AS dan tindakan diskriminatif yang diambil terhadap perusahaan dan produk Cina," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina.
rs/gtp (AP, AFP)
Perang Dagang dengan AS, China Bidik Afrika Pasarkan Panel Surya
Penerapan tarif ekspor panel surya milik Cina di Asia Tenggara oleh AS merepotkan Cina. Negara itu kini membidik Afrika sebagai pasarnya. [900] url asal
#dw-news #dw-news #china #afrika #amerika-serikat
(detikFinance) 17/09/24 12:16
v/15131461/
Jakarta - Cina tengah mendekat ke sejumlah negara di Afrika untuk memasarkan dan menjadi mitra investasi untuk produksi panel surya mereka. Langkah ini muncul setelah perusahaan panel surya milik Cina yang beroperasi di Asia Tenggara, khususnya di Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Kamboja, berpotensi menghadapi peningkatan tarif oleh Amerika Serikat (AS).
Cina menyetujui pinjaman senilai $4,61 miliar untuk Afrika pada 2023. Ini adalah peningkatan tahunan pertama sejak mencapai puncaknya pada $28,4 miliar pada tahun 2016. Sekitar 68% dari dana ini diberikan hanya ke Angola saja.
Sejak keluar dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada bulan Desember, Angola telah mencari cara untuk memperkuat keuangan dan ketahanan pangannya.
Salah satunya dengan mengembangkan sektor perikanan dan menarik lebih banyak investasi yang menciptakan lapangan kerja di pedalaman, Menteri Keuangan Angola, Vera Daves De Sousa, mengatakan kepada kantor berita Reuters.
Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Negara itu sebenarnya kaya akan cadangan logam dan limpahan sumber daya pertanian seperti tebu, kopi, kapas, dan ternak. Namun, sumber daya tersebut selama ini diabaikan karena Angola 95% bergantung kepada minyak sebagai sumber pendapatan ekspor.
Menurut De Sousa, Beijing seharusnya menawarkan lebih dari sekadar pendanaan lebih lanjut untuk membantu Angola menurunkan inflasi tinggi dan menambah lapangan kerja dalam jangka pendek, tetapi juga memastikan negara itu memiliki industri tangguh yang dapat diandalkan di masa depan.
Jika tidak, Cina terancam kalah bersaing dengan Eropa. Menurut Daves De Sousa, Eropa mengharuskan Angola membeli produknya, dan sebagai imbalannya akan menyalurkan pendanaan baru dengan lebih mudah.
"Kami akan membeli lebih banyak panel surya dari Eropa karena pendanaannya berasal dari sana."
Pembatasan ekspor oleh AS dan Eropa telah membuat Cina kelebihan kapasitas dalam produksi kendaraan listrik dan panel surya. Mencari pembeli untuk barang-barang tersebut menjadi agenda utama bagi Beijing saat menjadi tuan rumah Forum Kerja Sama Cina-Afrika awal September.
Sebagai pemberi pinjaman bilateral terbesar di dunia, Cina mulai mengubah ketentuan pinjamannya ke Afrika, menyisihkan lebih banyak untuk ladang tenaga surya dan pabrik kendaraan listrik, sambil mengurangi infrastruktur besar-besaran.
Sementara itu, dalam pernyataan bersama dengan Afrika Selatan, kedua negara berupaya memperluas kerja sama dalam energi terbarukan, penyimpanan energi, transmisi, dan distribusi, kata pernyataan itu. Namun, dokumen itu tidak menyertakan investasi baru atau janji pembiayaan tertentu.
Asia Tenggara produksi 40% modul surya milik Cina
Negara-negara ini menyumbang sekitar 40% kapasitas produksi modul surya di luar Cina. AS kemungkinan akan segera mengenakan tarif tambahan kepada negara-negara itu dengan tuduhan membantu Cina menghindari bea masuk AS.
Akibatnya, banyak perusahaan asal Cina mengurangi operasional mereka di Asia Tenggara. Langkah ini ditengarai akan mempersulit upaya Uni Eropa dalam memperluas kapasitas panel surya mereka.
Setelah Cina, Asia Tenggara adalah wilayah terbesar kedua yang memproduksi panel surya. Wilayah ini menyumbang lebih dari 80% impor panel surya AS pada kuartal keempat 2023, menurut S&P Global Market Intelligence.
Pada tahun 2022, pemerintahan Biden memerintahkan penangguhan tarif selama dua tahun untuk impor panel surya dari Malaysia, Thailand, Kamboja, dan Vietnam untuk mencegah gangguan dalam penyebaran panel surya domestik. Hal ini dilakukan sembari meningkatkan manufaktur AS. Namun, moratorium ini berakhir pada Juni 2024, yang langsung memicu reaksi dari produsen panel surya utama milik Cina.
Pada bulan yang sama, perusahaan fotovoltaik asal Cina, Longi Green, mengumumkan penangguhan produksi di pabrik baterai di Vietnam, sementara Trina Solar memulai penutupan pemeliharaan di fasilitas produksi mereka di Thailand dan Vietnam.
Beberapa produsen telah mengalihkan produksi ke Indonesia dan Laos, yang untuk saat ini belum terancam penetapan tarif oleh AS. Indra Overland, Kepala Pusat Penelitian Energi di Institut Urusan Internasional Norwegia, mengatakan kepada DW bahwa tarif dapat mendorong diversifikasi industri lebih lanjut di kawasan tersebut. Menurutnya, ini belum tentu negatif.
Produksi dari Asia Tenggara berpindah?
Kekhawatiran tentang masa depan industri ini tetap tinggi. Awal tahun ini, Departemen Perdagangan AS meluncurkan penyelidikan apakah produsen solar di empat negara Asia Tenggara yang disebutkan di atas menerima subsidi pemerintah dan melakukan dumping produk di pasar AS.
Pada bulan Agustus, Bloomberg melaporkan bahwa beberapa perusahaan AS melobi tarif setinggi 272% untuk semua impor solar dari negara-negara ini.
"Ada kekhawatiran, apalagi bila Donald Trump kembali terpilih, tentang stabilitas pilihan manufaktur alternatif ini," kata Deborah Elms, kepala kebijakan perdagangan di Hinrich Foundation di Singapura, kepada DW.
"Jika AS mengintensifkan tindakan kerasnya terhadap produk dengan konten Cina, hal itu akan mempersulit pabrik-pabrik di Vietnam dan tempat lain untuk mengirimkan panel surya jadi ke AS," tambahnya. "Meski saat ini kecil kemungkinannya, bisa jadi UE akan melakukan hal yang sama, yang akan melemahkan bisnis untuk investasi di Asia Tenggara."
Tahun lalu, dua perusahaan surya terbesar di dunia, Jinko Solar dan TCL Zhonghuan, telah mengumumkan investasi signifikan di Timur Tengah.
Namun, analis percaya bahwa produsen surya utama Cina ini tidak akan meninggalkan Asia Tenggara dalam waktu dekat. Meskipun tarif AS lebih tinggi, perusahaan-perusahaan ini masih diprediksi mendapat untung dari pasar Amerika.
UE juga telah mengenakan tarif pada impor surya Cina, tapi EU juga bersikap lebih lunak terhadap impor dari Asia Tenggara. Meskipun beberapa produsen panel surya telah menutup operasi mereka di Malaysia, Vietnam, dan Thailand, banyak yang tetap buka dan ingin meningkatkan ekspor ke India dan Eropa.
Para analis memperingatkan bahwa kelebihan panel surya yang diproduksi di Asia Tenggara dapat merusak industri manufaktur surya domestik UE. Menurut Wood Mackenzie, modul surya buatan UE berharga sekitar $0,34 (€0,31) per watt, dibandingkan dengan $0,15 per watt di Cina dan Asia Tenggara.
Laporan tambahan oleh Reuters.
Diadaptasi dari artikel DW Inggris
Krisis Volkswagen Gambaran Tantangan Perekonomian Jerman Masa Kini
PHK massal dan kemungkinan penutupan pabrik di Volkswagen (VW), produsen mobil terbesar Jerman, mencerminkan gejala kelesuan ekonomi yang lebih luas di Jerman. [792] url asal
#dw-news #dw-news #jerman #volkswagen
(detikFinance) 13/09/24 13:16
v/14980324/
Jakarta - Volkswagen (VW) awal September mengeluarkan peringatan mengenai PHK massal dan kemungkinan penutupan pabrik di Jerman. Ini untuk pertama kalinya dalam 87 tahun sejarahnya, VW mengeluarkan peringatan semacam itu. Sebelumnya, VW menjadi acuan di Jerman karena memberikan jaminan tempat kerja dan tidak pernah melakukan PHK massal.
Tapi saat ini, VW menghadapi krisis yang sudah berlangsung selama beberapa tahun terakhir, akibat melonjaknya biaya produksi, melemahnya perekonomian dalam negeri pasca COVID-19, dan ketatnya persaingan dengan produsen mobil dari Cina. Strategi pindah ke mobil listrik juga menambah kerentanan perusahaan mobil dengan angka penjualan tertinggi secara global setelah Toyota.
VW sekarang harus melakukan penghematan biaya sebesar €10 miliar selama tiga tahun ke depan, yang bisa berarti ribuan pekerjaan akan hilang dan kemungkinan penutupan 10 jalur perakitannya di Jerman.
VW mengatakan hari Selasa (10/9), perusahaan secara resmi mengakhiri kesepakatan keamanan kerja yang telah berlaku selama tiga dekade dengan serikat pekerja. Artinya, VW sekarang bisa melakukan PHK massal.
VW bukan satu-satunya perusahaan otomotif yang harus berjuang keras di pasar global. BMW baru-baru ini mengumumkan penarikan besar-besaran 1,5 juta kendaraan, karena "masalah teknis". Saham BMW langsung anjlok 11% setelah pengumuman itu.
Para pesaing otomotif Jerman mulai unjuk gigi
Langkah restrukturisasi besar-besaran yang diumumkan VW adalah bagian dari tantangan yang lebih luas lagi yang dihadapi perekonomian Jerman, di mana gangguan rantai pasokan, krisis energi – terutama akibat berkurangnya pasokan gas Rusia – dan hilangnya keunggulan kompetitif telah menghambat pertumbuhan.
"Volkswagen mewakili keberhasilan industri Jerman selama sembilan dekade terakhir," kata Carsten Brzeski, kepala ekonom ING bank di Jerman, kepada DW pekan lalu. "Tetapi krisis sekarang adalah dampak stagnasi ekonomi selama empat tahun dan penurunan daya saing internasional selama 10 tahun terhadap perekonomian. Hal-hal tersebut membuat investasi menjadi kurang menarik."
Perekonomian Jerman mengalami kontraksi 0,3% tahun lalu, menurut badan statistik nasional, Destatis. Tiga lembaga ekonomi terkemuka memperkirakan kenaikan produk domestik bruto (PDB) pada 2024 haya sebesar 0%. Hal ini kontras dengan pertumbuhan 10 tahun berturut-turut yang dialami Jerman sebelum pandemi virus corona – periode pertumbuhan terpanjang sejak reunifikasi pada tahun 1990.
"Pengumuman VW tentu saja merupakan gejala kelesuan yang lebih luas di industri Jerman, bukan hanya satu kasus saja," kata Franziska Palmas, ekonom senior Eropa di Capital Economics yang berbasis di London, kepada DW. Dia juga menunjuk pada angka produksi industri pada bulan Juli yang hampir 10% di bawah level dari awal tahun 2023. Output industri Jerman berada dalam tren penurunan selama 6 tahun, katanya.
Bangkitnya populisme di Jerman hambat reformasi dan investasi
Sudha David-Wilp, direktur lembaga pemikir Marshall Fund Jerman di Berlin, berpendapat bahwa permasalahan yang dihadapi negara ini adalah akibat dari keengganan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya melakukan reformasi yang menyakitkan namun diperlukan. Salah satu alasannya, kata dia, adalah bangkitnya partai-partai populis kanan seperti Alternatif untuk Jerman (AfD) selama dekade terakhir.
"Tahun-tahun Merkel cukup nyaman, dan Jerman cukup kaya untuk melewati krisis COVID-19," kata David-Wilp kepada DW. "Tetapi dengan bangkitnya populisme, partai-partai mapan ingin memastikan masyarakat Jerman merasa aman secara ekonomi, sehingga mereka tidak lari ke partai-partai yang menyebarkan rasa takut."
Namun strategi seperti ini hanya menunda hal-hal yang tidak dapat dihindari, karena hambatan ekonomi yang disebabkan oleh pesaing-pesaing berbiaya rendah terus menggerogoti pangsa Jerman dalam perekonomian global. Sementara itu, permasalahan geopolitik yang semakin memburuk – khususnya antara negara-negara Barat, Rusia dan Cina – mengancam akan semakin menghambat globalisasi. Padahal Jerman sebagai negara pengekspor merupakan salah satu penerima manfaat utama dari globalisasi.
"Dunia sedang berubah, dan sumber pertumbuhan ekonomi kita juga berubah," kata Carsten Brzeski dari ING. "[Permasalahan VW] harus menjadi peringatan terakhir bagi para pembuat kebijakan di Jerman untuk mulai berinvestasi dan melakukan reformasi, sehingga negara ini dapat kembali menjadi lebih menarik."
Seberapa cepat reformasi ini dapat terwujud masih belum pasti, karena apa yang disebut "rem utang Jerman" – yang membatasi defisit anggaran struktural tahunan hingga 0,35% dari PDB, berarti hanya ada sedikit ruang untuk melakukan reformasi lebih lanjut. stimulus fiskal.
Bioteknologi, teknologi ramah lingkungan, kecerdasan buatan (AI), dan pertahanan adalah sektor-sektor lain yang sedang berkembang dalam perekonomian Jerman, kata David-Wilp kepada DW, yang dapat didukung lebih lanjut oleh pemerintah saat mereka menyusun strategi industri baru.
"Tidak semuanya merupakan malapetaka dan kesuraman. Masih ada jalan menuju pertumbuhan," katanya. "Segala sesuatunya harus menjadi buruk sebelum menjadi lebih baik, dan rasa inovasi ini perlu dihidupkan kembali."
Tapi di kalangan pemerintahan koalisi tiga partai, yaitu SPD, Partai Hijau dan FDP, masih ada pertikaian mengenai anggaran federal tahun 2025. Terutama FDP menolak defisit anggaran yang terlalu besar. Di hadapan delegasi di Forum Ekonomi Dunia pada bulan Januari, Menteri Keuangan Christian Lindner (FDP) mengakui, Jerman saat ini seperti "orang yang lelah" yang membutuhkan "secangkir kopi yang enak" untuk melakukan reformasi struktural.
Lihat juga Video 'Polisi Jerman Tembak Mati Pria yang Bawa Senapan Dekat Konsulat Israel':
Google dan Apple Kalah di Pengadilan Eropa
Tidak mematuhi standar Eropa, Pengadilan Eropa memvonis Google untuk membayar denda 1,49 miliar Euro. Sementara Apple membayar kekurangan pajak 13 miliar euro. [403] url asal
#dw-news #dw-news #apple #google
(detikFinance) 11/09/24 15:45
v/14962193/
Jakarta - Google harus membayar denda sebesar 2,4 miliar euro yang dijatuhkan oleh Komisi Uni Eropa (UE) pada tahun 2017. Pengadilan Eropa ECJ di Luksemburg pada hari Selasa mengkonfirmasi keputusan serupa dari pengadilan sebelumnya, yaitu keputusan Pengadilan Umum Uni Eropa.
ECJ berpendapat bahwa meskipun memegang posisi pasar yang dominan tidak bertentangan dengan hukum Uni Eropa, mengeksploitasi posisi ini untuk menghalangi persaingan dilarang. Mereka menekankan bahwa perilaku yang menghalangi persaingan berdasarkan prestasi dan berpotensi merugikan perusahaan lain dan konsumen tidak diperbolehkan.
Menurut Komisi UE, Google secara tidak adil mengarahkan pengunjung ke layanan Google Shopping miliknya sendiri sehingga merugikan para pesaing. Oleh karena itu Google dianggap menyalahgunakan posisi dominannya, demikian argumen otoritas Brussels pada tahun 2017.
Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Google terancam denda berikutnya
Pengawas persaingan usaha Komisi Uni Eropa telah menjatuhkan denda beberapa miliar dolar kepada Google dalam beberapa tahun terakhir, meskipun hal ini tidak menimbulkan masalah besar bagi perusahaan tersebut karena bisnis periklanan daringnya sedang booming.
Pengadilan Uni Eropa akan memutuskan kasus serupa pada awal minggu depan. Pertanyaannya adalah apakah Google dalam layanan "AdSense for Search" secara tidak adil telah menghalangi penyedia lain, dan apakah denda Komisi UE sebesar 1,49 miliar euro dapat dibenarkan.
Pengawas persaingan usaha dari Komisi Eropa telah menjatuhkan denda beberapa miliar dolar kepada Google dalam beberapa tahun terakhir, meskipun hal ini tidak menimbulkan masalah besar bagi perusahaan tersebut karena bisnis periklanan daringnya sedang booming.
Kesepakatan Apple dengan Irlandia - mendistorsi persaingan?
Komisi UE juga meraih kemenangan dalam perselisihan dengan Apple yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Dalam pertarungan mengenai diskon pajak ilegal di Irlandia. ECJ memutuskan bahwa Apple harus membayar kekurangan pajak total 13 miliar euro.
Apple memiliki kantor pusat Eropa di Irlandia. Negara ini mengenakan tarif pajak yang sangat rendah kepada Apple, yaitu 0,005 persen. Menurut Komisi UE, hal ini melanggar pedoman bantuan negara bagi komunitas internasional dan juga mendistorsi persaingan. Pada tahun 2016, otoritasdi Brussels memerintahkan Apple untuk membayar pajak sebesar 13 miliar euro ditambah bunga, namun Apple menolaknya.
Perusahaan teknologi tersebut selalu menekankan bahwa pendapatan kedua anak perusahaan Apple di Irlandia tersebut terutama dikenakan pajak di AS. Itu sebabnya Apple menganggap harus membayar dua kali lipat. Pada tahun 2020, kelompok tersebut menang pada tingkat pertama di pengadilan Uni Eropa, yang menyatakan bahwa tuntutan tambahan tersebut tidak sah. Komisi tEropa lalu mengajukan banding ke ECJ dan kini berhasil.
yf/hp (dpa, afp, Reuters)
Dilanda Krisis, VW Harus PHK Massal atau Tutup Pabrik?
VW mengatakan tidak tertutup kemungkinan adanya PHK massal atau penutupan pabrik. Di masa lalu, PHK adalah hal tabu bagi VW. [587] url asal
(detikFinance) 06/09/24 17:41
v/14906778/
Jakarta - Pengumuman perusahaan otomotif terbesar Jerman, Volkswagen (VW) pada Senin (2/9) menjadi kejutan besar. VW menyatakan mereka kemungkinan harus menutup salah satu pabrik di Jerman, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam 87 tahun sejarah VW.
Manajemen VW juga mengumumkan, terpaksa mengakhiri program jaminan tempat kerja yang dijalankan sejak tahun 1994. Produsen otomotif terbesar Eropa itu saat ini memiliki sekitar 680.000 karyawan di seluruh dunia.
VW selama ini dikendalikan oleh pemiliknya, keluarga Porsche, dan oleh pemerintah negara bagian Niedersachsen, yang memegang seperlima saham perusahaan dan punya kursi permanen di Dewan Komisaris.
Sejak beberapa tahun terakhir, VW dilanda krisis karena salah urus dan perubahan di pasar mobil global. Tahun lalu, VW meluncurkan program penghematan biaya, yang bertujuan untuk menghemat €10 miliar sampai tahun 2026. Namun menurut harian ekonomi Jerman Handelsblatt, VW masih harus menghemat €4 miliar lagi untuk bisa bertahan.
Rencana penghematan dan restrukturisasi yang gagal
Dalam sebuah surat kepada karyawannya hari Senin, Direktur VW Thomas Schäfer menggambarkan situasi saat ini sebagai "sangat tegang" dan di luar cakupan "langkah-langkah pemotongan biaya yang sederhana." Direktur Utama Group Oliver Blume menambahkan, pasar otomotif Eropa secara keseluruhan sedang berada dalam "situasi yang sangat menantang dan serius," dan Jerman telah tertinggal dalam hal daya saing.
Akibatnya, 10 merek mobil dalam Grup VW harus direstrukturisasi secara komprehensif, dan "penutupan pabrik tidak lagi dikecualikan," kata Blume, seraya menambahkan bahwa PHK melalui pensiun dini dan paket pesangon juga tidak lagi memadai. Oleh karena itu, VW merasa "terpaksa mengakhiri perjanjian perlindungan tenaga kerja yang telah berlaku sejak tahun 1994".
VW belum memberikan angka-angka spesifik mengenai berapa banyak dari sekitar 120.000 tempat kerja yang ada di Jerman yang harus ditutup. VW juga belum mengidentifikasi, unit pabrik mana yang mungkin ditutup. Namun menurut pernyataan serikat pekerja VW, manajemen menganggap setidaknya satu pabrik kendaraan dan satu pabrik komponen di Jerman harus ditutup.
Serikat pekerja VW mengecam keras keengganan manajemen untuk memberikan klarifikasi, pabrik mana dan siapa saja yang mungkin terkena dampak langkah penghematan ini, dan bagaimana kelanjutannya. "Hal ini menempatkan semua lokasi di Jerman dalam garis bidik – terlepas dari apakah itu lokasi VW atau anak perusahaannya, di Jerman bagian barat atau bagian timur," kata Daniela Cavallo, kepala serikat pekerja VW. Dia menyatakan pihak pekerja akan melakukan "perlawanan sengit".
Awal transformasi rumit industri otomotif Jerman
Banyak ahli percaya bahwa penutupan pabrik VW di Jerman tidak dapat dihindari. Helena Wisbert, direktur Pusat Penelitian Otomotif CAR di Duisburg, Jerman, berpendapat, memang "tidak ada jalan lain". Dia mengatakan kepada majalah berita "Spiegel" pada hari Selasa (4/9) bahwa hingga saat ini, pemanfaatan kapasitas yang rendah di pabrik dapat diimbangi dengan penghematan dari pemasok. "Itu jelas tidak cukup lagi," tambahnya.
Moritz Schularick, presiden Institut Kiel untuk Ekonomi Dunia, IfW Kiel, melihat langkah-langkah pemotongan biaya yang diumumkan sebagai awal dari transformasi industri otomotif Jerman. Dia mendesak pemerintah untuk tidak melakukan intervensi terhadap produsen mobil yang sedang kesulitan. "Kita tidak boleh menghalangi perubahan struktural. Industri-industri baru sedang putus asa mencari pekerja," katanya kepada mingguan bisnis Jerman, Wirtschaftswoche, mengacu pada kelangkaan pekerja terampil di Jerman.
Pendiri dan direktur CAR, Ferdinand Dudenhöffer, melihat "masalah VW yang sudah lama ada" karena produsen mobil tersebut "lebih seperti perusahaan negara ketimbang perusahaan yang digerakkan oleh pasar". Masalahnya akan terus berlanjut, katanya kepada DW, selama struktur perusahaan VW masih "cacat". Pemerintah Daerah Negara Bagian Niedersachsen saat ini memegang 20% saham dan kursi di dewan direksi VW. Selain itu, mereka juga diberikan hak minoritas dalam pengambilan keputusan penting.
(hp/yf)
Simak juga Video: Keuangan Buruk, Intel Bakal PHK 15 Ribu Karyawan