#30 tag 24jam
Tekanan Ekonomi Gen Z, Kelas Menengah dan Solusinya - kumparan.com
Tulisan ini mengulas bagaimana menghadapi persoalan ekonomi yang dihadapi oleh Gen Z dan Kelas Menengah [753] url asal
(Kumparan.com - Bisnis) 17/10/24 10:39
v/16596532/
Generasi Z, yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, kini memasuki fase dewasa dan menghadapi tantangan ekonomi yang unik. Sebagai bagian dari kelas menengah, mereka dihadapkan pada berbagai tekanan yang berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
Berdasarkan data di Pefindo Biro Kredit atau Idscore, outstanding pinjaman kredit paylater mencapai Rp 30,14 triliun. Sementara pengguna BNPL sebesar 14,37 juta per Juni 2024, naik 9,35% secara tahunan (yoy). Rata-rata debitur memiliki hingga 3 kontrak aktif. Artinya, satu pengguna BNPL bisa meminjam hingga tiga kali dalam setiap transaksi.
Dari belasan juta pengguna tersebut, 48,06% di antaranya berusia kurang dari 20 tahun hingga 30 tahun. Kemudian, usia kurang dari 30 tahun hingga 40 tahun sebesar 29,3%. Dengan demikian pasar paylater saat ini didominasi oleh generasi Z dan milenial. Dua kelompok ini juga menjadi penyumbang terbesar kredit macet.
Belum lagi fakta kelas menengah yang sedang terhimpit kondisi ekonomi saat ini. Rencana kenaikan tarif transportasi umum dan PPN sebesar 12%, harga-harga yang semakin naik, semakin mendorong Gen Z yang masuk dalam kelas menengah ini semakin kesulitan.
Dalam tulisan ini, kita akan mengeksplorasi bagaimana Gen Z berinteraksi dengan kondisi ekonomi saat ini, faktor penyebab tekanan ekonomi kepada mereka, dampak yang ditimbulkan terhadap gaya hidup mereka dan beberapa usulan penulis agar keluar dari masalah ini.
Sebab Kelas Menengah Turun
Salah satu penyebab kelas menengah turun adalah pandemi COVID-19. COVID-19 telah melumpuhkan sejumlah sektor, terutama sektor perdagangan internasional. Penurunan permintaan global ini memaksa perusahaan mengurangi jumlah pekerja atau memotong jam kerja, yang berdampak langsung pada pendapatan karyawan.
Penyebab lain kelas menengah turun adalah kondisi inflasi. Kenaikan harga barang dan jasa yang lebih cepat daripada pendapatan dapat menggerus daya beli kelas menengah. Selain itu adalah perubahan teknologi. Otomatisasi dan digitalisasi dapat menghilangkan beberapa pekerjaan yang umumnya dipegang oleh kelas menengah, sehingga mengurangi kesempatan kerja.
Kebijakan Pemerintah. Kebijakan fiskal dan perpajakan yang tidak mendukung kelas menengah juga dapat berkontribusi pada penurunan ini. Rencana kenaikan PPN 12% dan kenaikan tarif transportasi umum ikut mendorong menurunnya kelas menengah.
FOMO Buat Ekonomi Gen Z Semakin Sulit
FOMO (Fear of Missing Out), telah menjadi fenomena di kalangan Gen Z, dan dampaknya terhadap ekonomi mereka tidak dapat diabaikan. Generasi ini sering kali merasa tertekan untuk mengikuti tren dan gaya hidup yang terlihat di media sosial. Hal ini mendorong mereka untuk melakukan pengeluaran impulsif demi memenuhi ekspektasi sosial. Akibatnya, banyak dari mereka yang menghabiskan uang untuk barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan, hanya untuk merasa termasuk dalam komunitas atau status yang diinginkan.
Selain pengeluaran yang tidak terencana, FOMO juga menyebabkan banyak Gen Z terjebak dalam utang. Dalam upaya untuk tampil sesuai dengan standar yang mereka lihat di platform digital, mereka sering kali menggunakan kartu kredit atau pinjaman untuk mendanai gaya hidup yang lebih mewah. Ketidakmampuan untuk mengontrol pengeluaran ini tidak hanya menggerus tabungan, tetapi juga dapat menyebabkan beban utang yang sulit dilunasi, mengganggu kestabilan keuangan mereka di masa depan.
Lebih lanjut, FOMO dapat mendorong Gen Z untuk terlibat dalam investasi yang berisiko. Dengan banyaknya informasi tentang investasi yang cepat menghasilkan uang di media sosial, banyak dari mereka yang tergoda untuk berinvestasi dalam tren jangka pendek tanpa pemahaman yang mendalam.
Ini dapat mengakibatkan kerugian finansial yang signifikan, yang semakin memperburuk kondisi ekonomi mereka. Untuk itu, penting bagi Gen Z untuk belajar mengelola keuangan mereka dengan lebih bijak dan memprioritaskan kebutuhan jangka panjang daripada sekadar mengikuti arus.
Mendorong Gaya Hidup Frugal Living
Frugal living adalah gaya hidup yang fokus pada penghematan dan pemanfaatan sumber daya secara efisien. Beberapa prinsip utamanya adalah:
Pertama, Penganggaran. Membuat anggaran bulanan untuk mengontrol pengeluaran. Kedua, Pembelian Cerdas. Pembelian cerdas mengutamakan kebutuhan daripada keinginan dan mencari diskon. Ketiga, Do It Yourself (DIY). DIY membuat barang atau menyelesaikan tugas sendiri untuk menghemat biaya. Keempat, Hindari Utang. Mengurangi penggunaan kartu kredit dan pinjaman online. Kelima, Mengurangi Pemborosan. Memanfaatkan kembali barang dan meminimalkan limbah. Keenam, Membeli Barang Prioritas. Membeli barang yang prioritas, tidak membeli barang barang yang tidak perlu. Ketujuh, Investasi pada Kualitas. Membeli barang berkualitas tinggi yang tahan lama meski harganya lebih mahal di awal.
Dengan konsep hidup frugal living dan menjalankan prinsip-prinsip ini, seseorang dapat mencapai keseimbangan keuangan yang lebih baik dan kualitas hidup yang lebih baik.
Kesimpulan
Generasi Z menghadapi tantangan ekonomi yang kompleks, termasuk tekanan FOMO, inflasi, dan perubahan struktural akibat pandemi. Dominasi penggunaan layanan paylater di kalangan mereka menunjukkan kecenderungan pengeluaran impulsif yang dapat menambah beban utang. Untuk mengatasi kesulitan ini, menerapkan gaya hidup frugal living dengan penganggaran yang bijak, prioritas pada kebutuhan, dan menghindari utang menjadi langkah penting dalam mencapai stabilitas keuangan dan meningkatkan kualitas hidup.[]
RI Pilih Masuk OECD atau BRICS? Menlu Minta Dikaji Mendalam, Jangan FOMO - kumparan.com
Pemerintah tengah mengejar target agar bisa gabung di keanggotan OECD. Tapi Rusia-China juga merayu agar Indonesia masuk BRICS. Pilih mana? [422] url asal
#oecd #brics #fomo #makroekonomi #internasional
(Kumparan.com - Bisnis) 16/10/24 10:34
v/16547169/
Pemerintah Indonesia tengah mengerjakan sederet tugas untuk menjadi anggota Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), di antaranya, perbaikan-perbaikan public service sebagai upaya agar standar pelayanan dapat setara dengan negara maju.
Di tengah proses itu, pemerintah juga berambisi masuk ke keanggotaan BRICS atau blok ekonomi Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi mengatakan ambisi tersebut tujuannya bagus, tapi harus dikaji secara mendalam termasuk efek positif dan negatifnya buat Indonesia setelah bergabung.
"Seperti OECD, Pak Menko Ekonomi (Airlangga) mengatakan harus mengkaji dengan saksama negatif dan positifnya seperti apa, demikian dengan BRICS. Jangan sampai keputusan yang kita ambil hanya karena kita ikut-ikutan atau FOMO (Fear Out Missing Out)," katanya dalam wawancara kumparan Info A1, Senin (14/15).
OECD atau Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan merupakan organisasi multilateral dengan 38 negara anggota yang bekerja sama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, kemakmuran, dan pembangunan berkelanjutan. Organisasi ini dipegang kendali negara-negara maju Eropa yang berkantor pusat di Prancis.
Sebelumnya Menko Perekonomian Airlangga Hartarto meluncurkan Peluncuran Portal Aksesi OECD, Kamis (3/10/2024) atau dikenal dengan INA OECD. Saat ini, platform https://inadigital.co.id masih dalam proses pengembangan oleh pemerintah.
Saat peluncuran platform tersebut, Sri Mulyani selaku Wakil Ketua Tim Nasional OECD, mengatakan pemerintah terus melakukan reformasi. Mulai dari pengelolaan APBN, fiskal, perpajakan, belanja, pembiayaan maupun reformasi yang tercantum dalam UU No.4/2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (PPSK).
“Jadi banyak yang masuk di dalam OECD itu sebetulnya sudah masuk di dalam reform yang sudah kita kerjakan,” kata Sri Mulyani.
Sementara BRICS menjadi blok ekonomi baru antara Rusia dan China yang dibangun Presiden Vladimir Putin. Selain lima negara yang sudah bergabung, Thailand pernah mengungkapkan keinginannya masuk. Sementara Indonesia belum.
BRICS, kata Putin, hadir untuk menunjukkan keberhasilan mereka dalam melawan upaya AS dan sekutunya akibat perang di Ukraina dan ancaman militer terhadap Taiwan, Filipina, Korea Selatan, dan Jepang.
Mantan Menteri Luar Negeri Malaysia Saifuddin Abdullah dalam sebuah wawancara mengatakan salah satu keuntungan negara Asia masuk BRICS adalah untuk memitigasi risiko ekonomi, imbas semakin ketatnya persaingan AS-Tiongkok.
Jika bergabung ke organisasi ini, kata dia, juga bisa menunjukkan rasa frustrasi yang semakin meningkat terhadap tatanan internasional yang dipimpin AS dan lembaga-lembaga utama yang masih tetap berada dalam kendali negara-negara Barat, seperti Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF).
“Beberapa dari kita, termasuk orang-orang seperti saya, berpikir bahwa kita perlu menemukan solusi terhadap arsitektur keuangan dan ekonomi internasional yang tidak adil. Jadi BRICS mungkin akan menjadi salah satu cara untuk menyeimbangkan beberapa hal,” imbuhnya.
Hari Kesehatan Mental Sedunia, Reku Ingatkan Tingkat Stres Investor Kripto Indonesia
Terkait Hari Kesehatan Mental Sedunia, Bos Reku ingatkan tingkat stres investor kripto di Indonesia tertinggi se-Asia Tenggara. [535] url asal
#fomo #fud #investor #kesehatan-mental #stres
(BlockChain-Media) 10/10/24 20:51
v/16267156/
Terkait Hari Kesehatan Mental Sedunia yang diperingati setiap 10 Oktober, Bos Reku ingatkan tingkat stres investor kripto di Indonesia yang cukup tinggi se-Asia Tenggara.
Investasi seringkali memicu rasa cemas dan khawatir. Reku menekankan pentingnya kesiapan mental dalam berinvestasi. Literasi keuangan membantu mengelola emosi saat pasar fluktuatif.
Dalam memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia, Reku sebagai platform investasi aset global menggarisbawahi pentingnya membangun kesiapan mental dalam menghadapi fluktuasi pasar. Jesse Choi, selaku Co-CEO Reku, menekankan bahwa hubungan antara psikologi dan investasi menjadi sangat erat, khususnya dalam situasi pasar yang dinamis.
“Psikologi investasi merupakan faktor penting yang menentukan kesiapan berinvestasi. Kesiapan mental dalam berinvestasi perlu dimiliki investor, termasuk investor kripto dan di semua instrumen investasi. Sebab, fluktuasi harga terjadi di semua instrumen. Sehingga terdapat tendensi investor tertekan dengan kondisi pasar yang sedang kurang baik, serta FOMO saat aset tertentu sedang naik harga,” ungkap Jesse dalam keterangan tertulisnya, Kamis (10/10/2024) terkait momen Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober 2024 ini.
Ia juga menambahkan bahwa kesiapan mental berinvestasi membantu investor kripto secara khusus agar membuat keputusan lebih bijak, baik saat pasar sedang menghijau maupun terkoreksi.
Indonesia di Peringkat ke-2 di Dunia untuk Minat Kripto RWA
Hari Kesehatan Mental Sedunia, Investor Kripto Indonesia Cukup Stres Se-Asia Tenggara!Menyoal relasi mental investasi dan investor kripto, Jesse mengutip laporan dari Coinkickoff yang terbit pada April 2024 lalu, yang menyebutkan bahwa Indonesia mencatat tingkat stres tinggi terkait kripto di Asia Tenggara, yaitu sebesar 19,2 persen.
“Kendati riset tersebut berfokus pada relasi investor kripto dan nilai aset kripto yang cenderung lebih volatil, fenomena serupa juga berpotensi terjadi pada investor di instrumen lain seperti saham, reksadana, emas, serta aset lainnya,” jelas Jesse.

Ia menambahkan bahwa literasi keuangan memainkan peran penting dalam membantu investor mengelola emosi.
“Literasi investasi semestinya bukan hanya mencakup cara kerja aset tertentu, namun juga mengedukasi pengelolaan emosi dan disiplin dalam menerapkan strategi investasi,” kata Jesse. Ia juga menekankan pentingnya mengetahui tipe investor untuk menentukan instrumen yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan.
Salah satu cara Reku membantu investor adalah melalui fitur Investor Personality Test, yang memungkinkan pengguna untuk memahami kepribadian finansial dan alokasi investasi yang ideal.
Jesse menyebutkan, fitur ini memberikan panduan yang membantu investor lebih percaya diri dalam berinvestasi, tetapi tetap waspada terhadap risiko keputusan yang terlalu berani tanpa analisis yang matang, serta menghindari panic selling saat pasar terkoreksi.
Selain itu, Jesse juga menyoroti peran penting literasi dalam edukasi keuangan. Ia menyatakan bahwa Reku bekerja sama dengan berbagai pegiat finansial untuk mengedukasi masyarakat, tidak hanya tentang aset kripto, tetapi juga manajemen keuangan dan strategi alokasi dana.
Indonesia Masuk 12 Besar Negara Pemilik Kripto Terbanyak di Dunia Tahun 2024
“Kami mengadakan kegiatan seperti roadshow di 10 kota Indonesia dengan berbagai mitra, termasuk Tether, serta mengadakan diskusi di komunitas Telegram yang memiliki puluhan ribu anggota,” tambah Jesse.
Dengan adanya inisiatif ini dan terkait Hari Kesehatan Mental Sedunia, Jesse berharap bahwa investor dapat lebih siap dalam menghadapi dinamika pasar, khususnya dalam berinvestasi pada aset kripto dan Saham AS.
“Ini juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong edukasi bagi masyarakat. Ke depannya, mudah-mudahan investor dapat lebih membangun manajemen emosional terhadap fluktuasi investasi sehingga bisa terus mengambil keputusan investasi yang strategis dan terukur,” tutup Jesse. [ps]
Hindari YOLO dan FOMO, OJK Ajak Generasi Muda Manfaatkan Layanan Jasa Keuangan dengan Bijak
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengajak generasi muda dan zommers (Gen Z) untuk memanfaatkan produk dan layanan jasa keuangan secara bijak sebagai bagian dari perencanaan ke depan. Langkah ini menurut O [362] url asal
#ojk #fomo #yolo #jasa-keuangan
(Bisnis Tempo) 06/10/24 17:16
v/16067961/
TEMPO.CO, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengajak generasi muda memanfaatkan produk dan layanan jasa keuangan secara bijak sebagai bagian dari perencanaan masa depan untuk menghindari penipuan. “Literasi keuangan yang baik dan inklusi keuangan yang bijak akan menjadikan generasi muda cerdas mengelola keuangan, terhindar dari kejahatan keuangan dan dapat menjadi agen literasi di tengah-tengah masyarakat," kata Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi dalam acara pembukaan Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2024 di Balikpapan, Kalimantan Timur, lewat keterangan tertulis, Sabtu, 5 Oktober 2024.
Friderica mengatakan literasi keuangan bagi Gen Z menjadi penting karena jumlah mereka mendominasi populasi Indonesia yaitu 27,94 persen dari total penduduk. Friderica juga mengatakan Gen Z juga dihadapkan dengan berbagai fenomena sosial seperti takut tertinggal soal sesuatu yang sedang tren, atau takut terhadap opini orang lain yang biasanya dikenal dengan istilah-istilah semacam you only live once (YOLO), fear of missing out (FOMO), dan fear of other people opinion (FOPO).
“Cenderung mengarahkan generasi muda ke pola hidup konsumtif dan bisa berdampak pada pengelolaan keuangan yang tidak bijaksana,” kata Friderica.
Selain itu, Friderica mengatakan Gen Z juga dihadapkan dengan fenomena doom spending. Yakni, kondisi seseorang berbelanja impulsif tanpa mempertimbangkan penting atau tidaknya suatu barang. Fenomena serupa yang marak adalah instant gratification yang merupakan perilaku untuk mendapatkan keinginan tanpa mencoba melakukan penundaan. Fenomena tersebut perlu diimbangi dengan perilaku delayed gratification yaitu menunda pemenuhan kesenangan saat ini untuk masa depan yang lebih baik.
“Generasi muda diimbau lebih bijak menggunakan produk dan layanan jasa keuangan. Kemampuan membedakan antara need and want juga harus dimiliki agar terhindar dari pola hidup konsumtif," kata Friderica.
OJK menggelar acara Like IT series kedua di Kota Balikpapan dengan mengusung tema “Gencarkan Investasi bagi Generasi Muda Menuju Indonesia Maju". Like It merupakan kolaborasi OJK bersama Kemenkeu RI dan Bank Indonesia serta Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) dalam Forum Koordinasi Pembiayaan Pembangunan melalui Pasar Keuangan (FK-PPPK).
Kegiatan ini bertujuan untuk menyebarluaskan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya literasi keuangan dan memupuk budaya berinvestasi melalui pemanfaatan produk dan layanan jasa keuangan baik konvensional maupun syariah. Rangkaian acara Like It 2024 akan berlangsung dalam 3 (tiga) seri dan diselenggarakan secara bergantian oleh anggota FK-PPPK.
Usai Yolo dan Fomo, Ada Fopo yang Bikin Keuanganmu Seret, Apa Itu?
FOPO, atau ketakutan terhadap pendapat orang lain, merujuk pada perasaan cemas yang mendalam mengenai bagaimana orang lain menilai diri kita. [824] url asal
#fomo #tips-keuangan #generasi-milenial #generasi-z
(MedCom - Ekonomi) 01/10/24 18:08
v/15834310/
Jakarta: Setelah marak istilah YOLO (You Only Live Once) dan FOMO (Fear of Missing Out), kini muncul lagi tren baru yang patut diwaspadai, yaitu FOPO (Fear of Other People’s Opinions).Banyak orang merasa cemas terhadap pandangan atau penilaian orang lain, hingga akhirnya mengorbankan keputusan finansial mereka demi tampil sesuai harapan sosial.
Fenomena ini bisa berdampak besar pada kesehatan keuangan seseorang, membuat pengeluaran menjadi tidak terkendali hanya demi kesan yang diinginkan. Jadi, apa sebenarnya FOPO dan bagaimana hal ini bisa mengganggu keuangan?
Mengutip laman HSB Investasi, simak beberapa penjelasan tentang FOPO yang harus kamu ketahui.
Mengenal FOPO (Fear of Other People's Opinion)
FOPO, atau ketakutan terhadap pendapat orang lain, merujuk pada perasaan cemas yang mendalam mengenai bagaimana orang lain menilai diri kita. Fenomena ini bisa berdampak pada banyak aspek kehidupan, mulai dari cara kita mengambil keputusan hingga interaksi sosial dan kualitas hubungan dengan orang lain.Kecenderungan ini sering kali menghambat kita untuk mencapai potensi maksimal, karena bisa menyebabkan kita berusaha terlalu keras untuk memenuhi ekspektasi orang lain, sehingga melupakan siapa diri kita yang sebenarnya.
| Baca juga: FOMO Adalah: Pengertian, Penyebab, dan Cara Mengatasinya |
Faktor-Faktor Penyebab FOPO
1. Pengalaman masa lalu
Trauma atau pengalaman tidak menyenangkan yang dialami di masa lalu sering kali menjadi akar dari FOPO. Misalnya, tekanan sosial yang dialami saat di sekolah atau penolakan yang menyakitkan bisa meninggalkan dampak mendalam, membuat seseorang terus-menerus merasa cemas terhadap pandangan orang lain.2. Standar sosial
Tekanan untuk memenuhi ekspektasi sosial dari lingkungan dapat memperkuat FOPO. Dalam budaya yang kompetitif atau lingkungan kerja yang sangat memperhatikan penilaian atasan, individu mungkin merasa terpaksa untuk selalu menunjukkan performa terbaik agar diterima oleh orang lain.3. Kecemasan sosial
Orang yang mengalami FOPO seringkali memiliki tingkat kecemasan sosial yang tinggi. Rasa takut berlebihan terhadap interaksi sosial atau situasi saat mereka dapat dinilai oleh orang lain dapat berdampak buruk pada kesehatan mental dan kualitas hidup secara keseluruhan.4. Rendahnya rasa percaya diri
Perasaan kurang percaya diri dapat memperburuk FOPO. Ketika seseorang merasa tidak berharga, mereka lebih rentan terhadap penilaian negatif dari orang lain, sehingga menjadi semakin khawatir tentang bagaimana orang lain melihat mereka.5. Ketakutan akan penolakan
FOPO seringkali dipicu oleh ketakutan akan penolakan atau kritik dari orang lain. Individu yang mengalami FOPO mungkin merasa perlu untuk menyenangkan orang lain atau mencari persetujuan agar terhindar dari kemungkinan ditolak atau dinilai negatif oleh lingkungan sekitar.| Baca juga: Beginilah, Tips Mudah Menabung Harian Beserta Manfaatnya |
Dampak FOPO terhadap Keuangan
FOPO, atau ketakutan terhadap pendapat orang lain, dapat memengaruhi pengelolaan keuangan individu dengan signifikan.Salah satu dampaknya adalah pengeluaran tidak terencana, dengan individu merasa tertekan untuk menunjukkan gaya hidup atau barang-barang yang diinginkan oleh orang lain. Berikut dampak dari FOPO terhadap keuangan:
1. Pengeluaran yang berlebihan
Individu yang terpengaruh FOPO cenderung menghabiskan uang untuk barang-barang tidak penting demi memenuhi harapan sosial, sehingga menciptakan ketidakseimbangan dalam keuangan mereka.2. Keputusan investasi yang tidak tepat
Ketakutan akan penilaian orang lain dapat mendorong individu untuk melakukan investasi berisiko tinggi tanpa pertimbangan matang, merugikan rencana keuangan jangka panjang.3. Menghindari risiko yang sehat
FOPO juga membuat seseorang ragu untuk mengambil risiko finansial yang konstruktif, seperti memulai usaha atau investasi yang menjanjikan, sehingga terjebak dalam zona nyaman.4. Menumpuk utang
Ketakutan ini dapat menyebabkan individu mengambil pinjaman lebih dari kemampuan mereka untuk membayar, yang akhirnya berpotensi menciptakan masalah finansial serius dan siklus utang yang sulit diatasi.| Baca juga: 3 Gaya Gen Z Atur Finansial |
Lalu bagaimana cara mengatasi FOPO?
Langkah pertama adalah mengenali pola pikir dan perilaku yang muncul akibat FOPO untuk memahami pengaruhnya dalam hidup. Berikut cara mengatasi FOPO :1. Kenali dan sadar diri
Identifikasi situasi yang memicu ketakutan akan penilaian orang lain. Dengan memahami diri sendiri, kita bisa mengubah pola pikir negatif dan mencari dukungan dari orang terdekat.2. Tetap fokus pada tujuan
Fokus pada tujuan dan nilai-nilai pribadi sangat penting. Kenali apa yang berarti bagi kita, sehingga keputusan yang diambil sesuai dengan keinginan kita, bukan hanya harapan orang lain.3. Lakukan pendekatan rasional
Hadapi FOPO secara rasional dengan melihat situasi objektif. Ambil keputusan berdasarkan pertimbangan matang, seperti membuat daftar pro dan kontra atau berkonsultasi dengan orang terpercaya.4. Perkuat kepercayaan diri
Tingkatkan kepercayaan diri dengan mengakui nilai dan pencapaian diri sendiri. Tetapkan tujuan kecil untuk mencapai keberhasilan yang dapat meningkatkan keyakinan dalam mengambil keputusan.5. Perluas lingkaran sosial
Pertimbangkan untuk bergabung dalam komunitas yang mendukung nilai-nilai kita. Mendapatkan dukungan dari orang-orang positif dapat mengurangi rasa terasing dan meningkatkan kepercayaan diri dalam menghadapi FOPO.FOPO semakin relevan di tengah tekanan sosial setelah munculnya istilah YOLO dan FOMO. Ketakutan terhadap pendapat orang lain dapat merusak kesehatan keuangan, mendorong pengeluaran berlebihan dan keputusan investasi buruk.
Namun, dengan mengenali diri sendiri, fokus pada tujuan, dan memperkuat kepercayaan diri, individu dapat mengatasi FOPO dan mengelola keuangan dengan lebih bijaksana.
Bergabung dengan komunitas positif juga membantu mengurangi dampak negatif FOPO, menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan pribadi dan finansial Langkah-langkah ini membantu kita hidup dengan lebih nyata dan seimbang. (Nanda Sabrina Khumairoh)
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(ANN)
Usai Yolo dan Fomo, Ada Fopo yang Bikin Keuanganmu Seret, Apa Itu?
FOPO, atau ketakutan terhadap pendapat orang lain, merujuk pada perasaan cemas yang mendalam mengenai bagaimana orang lain menilai diri kita. [824] url asal
#fomo #tips-keuangan #generasi-milenial #generasi-z
(MedCom) 01/10/24 18:08
v/15823740/
Jakarta: Setelah marak istilah YOLO (You Only Live Once) dan FOMO (Fear of Missing Out), kini muncul lagi tren baru yang patut diwaspadai, yaitu FOPO (Fear of Other People’s Opinions).Banyak orang merasa cemas terhadap pandangan atau penilaian orang lain, hingga akhirnya mengorbankan keputusan finansial mereka demi tampil sesuai harapan sosial.
Fenomena ini bisa berdampak besar pada kesehatan keuangan seseorang, membuat pengeluaran menjadi tidak terkendali hanya demi kesan yang diinginkan. Jadi, apa sebenarnya FOPO dan bagaimana hal ini bisa mengganggu keuangan?
Mengutip laman HSB Investasi, simak beberapa penjelasan tentang FOPO yang harus kamu ketahui.
Mengenal FOPO (Fear of Other People's Opinion)
FOPO, atau ketakutan terhadap pendapat orang lain, merujuk pada perasaan cemas yang mendalam mengenai bagaimana orang lain menilai diri kita. Fenomena ini bisa berdampak pada banyak aspek kehidupan, mulai dari cara kita mengambil keputusan hingga interaksi sosial dan kualitas hubungan dengan orang lain.Kecenderungan ini sering kali menghambat kita untuk mencapai potensi maksimal, karena bisa menyebabkan kita berusaha terlalu keras untuk memenuhi ekspektasi orang lain, sehingga melupakan siapa diri kita yang sebenarnya.
| Baca juga: FOMO Adalah: Pengertian, Penyebab, dan Cara Mengatasinya |
Faktor-Faktor Penyebab FOPO
1. Pengalaman masa lalu
Trauma atau pengalaman tidak menyenangkan yang dialami di masa lalu sering kali menjadi akar dari FOPO. Misalnya, tekanan sosial yang dialami saat di sekolah atau penolakan yang menyakitkan bisa meninggalkan dampak mendalam, membuat seseorang terus-menerus merasa cemas terhadap pandangan orang lain.2. Standar sosial
Tekanan untuk memenuhi ekspektasi sosial dari lingkungan dapat memperkuat FOPO. Dalam budaya yang kompetitif atau lingkungan kerja yang sangat memperhatikan penilaian atasan, individu mungkin merasa terpaksa untuk selalu menunjukkan performa terbaik agar diterima oleh orang lain.3. Kecemasan sosial
Orang yang mengalami FOPO seringkali memiliki tingkat kecemasan sosial yang tinggi. Rasa takut berlebihan terhadap interaksi sosial atau situasi saat mereka dapat dinilai oleh orang lain dapat berdampak buruk pada kesehatan mental dan kualitas hidup secara keseluruhan.4. Rendahnya rasa percaya diri
Perasaan kurang percaya diri dapat memperburuk FOPO. Ketika seseorang merasa tidak berharga, mereka lebih rentan terhadap penilaian negatif dari orang lain, sehingga menjadi semakin khawatir tentang bagaimana orang lain melihat mereka.5. Ketakutan akan penolakan
FOPO seringkali dipicu oleh ketakutan akan penolakan atau kritik dari orang lain. Individu yang mengalami FOPO mungkin merasa perlu untuk menyenangkan orang lain atau mencari persetujuan agar terhindar dari kemungkinan ditolak atau dinilai negatif oleh lingkungan sekitar.| Baca juga: Beginilah, Tips Mudah Menabung Harian Beserta Manfaatnya |
Dampak FOPO terhadap Keuangan
FOPO, atau ketakutan terhadap pendapat orang lain, dapat memengaruhi pengelolaan keuangan individu dengan signifikan.Salah satu dampaknya adalah pengeluaran tidak terencana, dengan individu merasa tertekan untuk menunjukkan gaya hidup atau barang-barang yang diinginkan oleh orang lain. Berikut dampak dari FOPO terhadap keuangan:
1. Pengeluaran yang berlebihan
Individu yang terpengaruh FOPO cenderung menghabiskan uang untuk barang-barang tidak penting demi memenuhi harapan sosial, sehingga menciptakan ketidakseimbangan dalam keuangan mereka.2. Keputusan investasi yang tidak tepat
Ketakutan akan penilaian orang lain dapat mendorong individu untuk melakukan investasi berisiko tinggi tanpa pertimbangan matang, merugikan rencana keuangan jangka panjang.3. Menghindari risiko yang sehat
FOPO juga membuat seseorang ragu untuk mengambil risiko finansial yang konstruktif, seperti memulai usaha atau investasi yang menjanjikan, sehingga terjebak dalam zona nyaman.4. Menumpuk utang
Ketakutan ini dapat menyebabkan individu mengambil pinjaman lebih dari kemampuan mereka untuk membayar, yang akhirnya berpotensi menciptakan masalah finansial serius dan siklus utang yang sulit diatasi.| Baca juga: 3 Gaya Gen Z Atur Finansial |
Lalu bagaimana cara mengatasi FOPO?
Langkah pertama adalah mengenali pola pikir dan perilaku yang muncul akibat FOPO untuk memahami pengaruhnya dalam hidup. Berikut cara mengatasi FOPO :1. Kenali dan sadar diri
Identifikasi situasi yang memicu ketakutan akan penilaian orang lain. Dengan memahami diri sendiri, kita bisa mengubah pola pikir negatif dan mencari dukungan dari orang terdekat.2. Tetap fokus pada tujuan
Fokus pada tujuan dan nilai-nilai pribadi sangat penting. Kenali apa yang berarti bagi kita, sehingga keputusan yang diambil sesuai dengan keinginan kita, bukan hanya harapan orang lain.3. Lakukan pendekatan rasional
Hadapi FOPO secara rasional dengan melihat situasi objektif. Ambil keputusan berdasarkan pertimbangan matang, seperti membuat daftar pro dan kontra atau berkonsultasi dengan orang terpercaya.4. Perkuat kepercayaan diri
Tingkatkan kepercayaan diri dengan mengakui nilai dan pencapaian diri sendiri. Tetapkan tujuan kecil untuk mencapai keberhasilan yang dapat meningkatkan keyakinan dalam mengambil keputusan.5. Perluas lingkaran sosial
Pertimbangkan untuk bergabung dalam komunitas yang mendukung nilai-nilai kita. Mendapatkan dukungan dari orang-orang positif dapat mengurangi rasa terasing dan meningkatkan kepercayaan diri dalam menghadapi FOPO.FOPO semakin relevan di tengah tekanan sosial setelah munculnya istilah YOLO dan FOMO. Ketakutan terhadap pendapat orang lain dapat merusak kesehatan keuangan, mendorong pengeluaran berlebihan dan keputusan investasi buruk.
Namun, dengan mengenali diri sendiri, fokus pada tujuan, dan memperkuat kepercayaan diri, individu dapat mengatasi FOPO dan mengelola keuangan dengan lebih bijaksana.
Bergabung dengan komunitas positif juga membantu mengurangi dampak negatif FOPO, menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan pribadi dan finansial Langkah-langkah ini membantu kita hidup dengan lebih nyata dan seimbang. (Nanda Sabrina Khumairoh)
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(ANN)
YOLO hingga FOMO Incar Kesehatan Keuangan Anak Muda RI
Beberapa fenomena yang berpotensi merugikan keuangan anak muda, seperti YOLO, FOMO, hingga FOPO. [768] url asal
#yolo #fomo #fopo #you-only-live-once #fear-of-missing-out #keuangan-anak-muda #literasi-keuangan #kesehatan-keuangan #ojk
(Bisnis.Com - Finansial) 28/09/24 07:00
v/15657195/
Bisnis.com, JAKARTA - Generasi muda, khususnya gen Z, merupakan kelompok besar dalam demografi Indonesia dengan jumlah sekitar 75 juta jiwa atau 27% dari total penduduk Indonesia. Namun, tren you only live once (YOLO) hingga fear of missing out (FOMO) bisa mengancam kesehatan keuangan anak muda.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK Hasan Fawzi mengatakan tak jarang muncul berbagai kasus yang berpotensi merugikan masyarakat, khususnya gen Z, akibat pemahaman atau literasi terkait dengan pemanfaatan produk dan layanan keuangan digital yang kurang.
Hasan menyebut dengan era digital saat ini, literasi keuangan makin terasa dibutuhkan, karena teknologi tidak hanya mengubah cara masyarakat untuk melakukan transaksi keuangan, tetapi juga memberikan dan menghadirkan kompleksitas tersendiri dalam penggunaan layanan keuangan.
Beberapa fenomena yang berpotensi merugikan keuangan anak muda yaitu, pertama tren YOLO. “Jangan sekarang ikut-ikutan dan terbawa-bawa arus gaya seperti YOLO misalnya. You only live once,” ujarnya dalam Festival Literasi Finansial 2024 “Kami Generasi Siap Finansial”, Jumat (27/9/2024).
Di mana, lanjutnya, ketika seseorang mendapat kelebihan uang sedikit, langsung menghabiskan uang, tanpa berpikir bagaimana merencanakan pengelolaan uang dan investasi untuk kebutuhan-kebutuhan yang akan datang.
Kedua, Hasan juga menyinggung soal fenomena FOMO, fear of missing out, kondisi bahwa anak muda kerap memilih produk dan layanan keuangan digital hanya atas dasar takut jika tidak mengikuti tren dan cenderung tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan.
Ketiga, kata Hasan, anak muda harus menghindari FOPO, fear of public opinion, fenomena yang kini marak terlihat dalam penggunaan media sosial.
“Di mana teman-teman adik-adik mahasiswa dalam memilih suatu produk dan layanan keuangan digital ini hanya berdasarkan perasaan untuk takut jika mendapatkan kritik dari orang-orang sekitar atau tidak mendapatkan tanda like yang banyak gitu ya. Ini juga tentu harus kita hindari,” ujarnya.
Lebih lanjut, OJK juga menyebut untuk selalu waspada terhadap modus penawaran layanan keuangan, jangan mudah percaya dengan orang lain dan berhati-hati dalam membagikan informasi dan data pribadi kepada orang lain termasuk media sosial.
“Jadi, ini biasanya ada upaya social engineering di mana teman-teman tanpa sadar membagikan data pribadi rahasia yang tidak seharusnya dibagikan,” ucapnya.
Menurutnya, modus yang terjadi biasanya menjadi celah masuk penggunaan data untuk keperluan layanan ilegal atau tindakan yang merugikan kelompok masyarakat. Selain itu, dia mengingatkan untuk selalu memeriksa setiap produk dan layanan keuangan yang ditawarkan haruslah memiliki izin yang resmi dari otoritas yang berwenang.
“Kalau ditawarkan sesuatu yang menggiurkan dan tidak masuk akal misalnya berikan imbal hasil atau tawaran bunga yang sangat tinggi 10%-20% sebulannya gitu. Tentu ini sesuatu yang harus kita periksa lebih lanjut dan kita curigai lebih awal,” ujarnya.
Kesehatan Finansial Anak Muda Indonesia
OJK juga mengungkapkan bahwa skor kesehatan finansial generasi muda Indonesia masih tergolong rendah. Menurut OCBC NISP Financial Fitness Index, skor kesehatan finansial generasi muda di Indonesia hanya mencapai 40,06, jauh di bawah Singapura yang memiliki skor 62.
Sekretariat Satgas Pasti OJK Hudiyanto menjelaskan meski kondisi keuangan belum stabil, akan tetapi anak muda Indonesia kerap berperilaku konsumtif yang cenderung menghabiskan uang untuk hiburan dan gaya hidup.
“Anak-anak muda di Indonesia ini mohon maaf ya, ekonominya belum kuat, uangnya masih pas-pasan. Tapi gayanya minta ampun. [Sementara] anak muda di Singapura yang mungkin orang tuanya mapan dan lain-lain itu angkanya 62,” ujarnya.
Dia pun menyoroti data yang menunjukkan 56,6% generasi Z belum mulai menyisihkan uang untuk kebutuhan di masa depan.
Berdasarkan Indonesia Gen Z Report (2022), pembelanjaan impulsif, seperti makanan dan hiburan, menghabiskan 18,69% hingga 70,59% pengeluaran Gen Z
Padahal, untuk saat ini penduduk Indonesia didominasi oleh generasi Z dan milenial. Dalam tujuh tahun ke depan, seluruh generasi Z akan memasuki usia produktif. Hal ini dinilai sebagai peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Melihat kondisi yang ada, Hudiyanto berharap agar generasi muda bisa bangkit dan mulai memperbaiki kebiasaan keuangan demi masa depan yang lebih baik, terutama dengan memperhatikan literasi dan inklusi keuangan.
Tercatat, saat ini indeks literasi keuangan di Indonesia berada di angka 65,43%, sementara indeks inklusi keuangan mencapai 75,02%, menciptakan kesenjangan (gap) sebesar 9,59%.
Kesenjangan ini berpotensi meningkatkan risiko, seperti masyarakat yang salah dalam menggunakan produk keuangan, mudah tertipu, atau tidak bisa mengelola penghasilannya dengan baik.
Bahkan, menurutnya risiko tersebut akan makin meningkat karena rendahnya literasi digital di Indonesia, yang berada di peringkat 56 dari 63 negara.
Dia pun menekankan pentingnya belajar mengelola keuangan sejak dini, dengan cara tidak konsumtif, memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, membiasakan diri untuk berhemat, dan jika terpaksa berutang, memastikan utang tersebut untuk hal produktif.
Selain itu, generasi muda harus mulai belajar berinvestasi yang aman dan menghindari pinjaman online (pinjol) ilegal dan judi online (judol).
OJK Minta Anak Muda Hindari YOLO hingga FOMO, Ini Alasannya!
OJK mengimbau anak muda atau Gen Z menghindari fenomena YOLO, FOMO, hingga FOPO dalam aktivitas keuangan. [589] url asal
#ojk #festival-literasi-finansial-2024 #literasi-keuangan #literasi-finansial #gen-z #anak-muda #yolo #fomo #fopo
(Bisnis.Com - Finansial) 27/09/24 11:23
v/15620846/
Bisnis.com, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong peningkatan literasi keuangan masyarakat, terutama bagi kelompok anak muda. Hal ini sejalan dengan data regulator bahwa Generasi Z merupakan kelompok yang signifikan dengan jumlah sekitar 75 juta jiwa atau 27% dari total penduduk Indonesia.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK Hasan Fawzi mengatakan Gen Z yang lahir antara 1997 hingga 2012 ini juga mendominasi dalam hal adaptasi internet yaitu sebanyak 34,4%.
“Adaptasi terhadap layanan internet ini akan menghasilkan kontribusi besar bagi perekonomian baik dari sisi sebagai konsumen aktif, sebagai pengusaha muda, maupun dapat sebagai penggiat media online,content creator, youtuber, dan sebagainya,” ungkapnya dalamFestival Literasi Finansial 2024 “Kami Generasi Siap Finansial”, Jumat (27/9/2024).
Menurutnya, tingginya adaptasi internet di Indonesia ini turut mendorong terus inovasi di sektor keuangan, termasuk digitalisasi perbankan hingga sektor pembiayaan seperti P2P lending alias pinjaman online (pinjol).
Bahkan, kini pengguna dan jumlah investor yang meminati instrumen aset kripto sebagai alternatif sarana investasinya tercatat makin meningkat.
OJK menyebut, dengan beragam inovasi di sektor keuangan, diharapkan terus terobosan ini dapat menghadirkan solusi yang better, faster, and cheaper, yang memberikan kemudahan lebih baik, lebih cepat dalam layanannya, dan juga lebih efisien, lebih murah.
Meski demikian, dia menyorot tidak jarang juga muncul berbagai kasus yang berpotensi merugikan masyarakat pengguna, khususnya bagi gen Z, akibat kurangnya pemahaman atau literasi terkait dengan pemanfaatan produk dan layanan keuangan digital.
Dengan demikian, literasi keuangan merupakan kemampuan penting untuk memahami dan mengelola keuangan pribadi secara efektif. Hal ini mencakup konsep dasar, seperti kebiasaan menabung, berinvestasi, mengelola keuangan dan utang serta merencanakan berbagai rencana keuangan di masa mendatang.
Lebih lanjut, Hasan menyebut dengan era digital saat ini, literasi keuangan makin terasa dibutuhkan, karena teknologi tidak hanya mengubah cara masyarakat untuk melakukan transaksi keuangan, namun juga memberikan dan menghadirkan kompleksitas tersendiri dalam penggunaan layanan keuangan.
“Jangan sekarang ikut-ikutan dan terbawa-bawa arus gaya seperti YOLO misalnya. You only live once,” ujarnya.
Di mana, ketika seseorang mendapat kelebihan uang sedikit, langsung menghabiskan uang, tanpa berpikir bagaimana merencanakan pengelolaan uang dan investasi untuk kebutuhan-kebutuhan yang akan datang.
Kedua, Hasan juga menyinggung soal fenomena FOMO, fear of missing out, kondisi bahwa anak muda kerap memilih produk dan layanan keuangan digital hanya atas dasar takut jika tidak mengikuti tren dan cenderung tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan.
Ketiga, kata Hasan, anak muda harus menghindari FOPO, fear of public opinion, fenomena yang kini marak terlihat dalam penggunaan media sosial.
“Di mana teman-teman adik-adik mahasiswa dalam memilih suatu produk dan layanan keuangan digital ini hanya berdasarkan perasaan untuk takut jika mendapatkan kritik dari orang-orang sekitar atau tidak mendapatkan tanda like yang banyak gitu ya. Ini juga tentu harus kita hindari,” ujarnya.
Lebih lanjut, OJK juga menyebut untuk selalu waspada terhadap modus penawaran layanan keuangan, jangan mudah percaya dengan orang lain dan berhati-hati dalam membagikan informasi dan data pribadi kepada orang lain termasuk media sosial.
“Jadi ini biasanya ada upaya social engineering di mana teman-teman tanpa sadar membagikan data pribadi rahasia yang tidak seharusnya dibagikan,” ucapnya.
Menurutnya, modus yang terjadi biasanya menjadi celah masuk penggunaan data untuk keperluan layanan ilegal atau tindakan yang merugikan kelompok masyarakat.
Selain itu, dia mengingatkan untuk selalu memeriksa setiap produk dan layanan keuangan yang ditawarkan haruslah memiliki izin yang resmi dari otoritas yang berwenang.
“Kalau ditawarkan sesuatu yang menggiurkan dan tidak masuk akal misalnya berikan imbal hasil atau tawaran bunga yang sangat tinggi 10%-20% sebulannya gitu. Tentu ini sesuatu yang harus kita periksa lebih lanjut dan kita curigai lebih awal,” tandasnya.
Pengamat Sosial: Fenomena FOMO Jadi Kesempatan Pebisnis Raup Keuntungan
Banyaknya orang yang FOMO, justru menjadi kesempatan bagi para pebisnis meraup lebih banyak keuntungan. Pasalnya, orang FOMO rela membeli produknya. [435] url asal
#fomo #dampak-fomo #fomo-menyebabkan-keuntungan #keuntungan-bagi-pebisnis
(Kompas.com) 19/09/24 22:01
v/15253777/
KOMPAS.com - FOMO (fear of missing out) atau ketakutan tertinggal suatu tren, kerap melanda masyarakat. Fenomena FOMO ini, menjadi kesempatan para pebisnis untuk meraup lebih banyak keuntungan.
Apalagi, menurut Pengamat Sosial Devie Rahmawati, pada dasarnya semua manusia memiliki keinginan untuk menjadi pusat perhatian.
"Keinginan untuk menjadi pusat perhatian adalah basic instinct manusia," ujarnya ketika diwawancarai Kompas.com, Rabu (18/9//2024).
Namun, mendapat perhatian bukanlah hal yang mudah. Salah satu kunci untuk mendapat perhatian adalah pengalaman yang berbeda.
"Pengalaman yang berbeda yang tidak bisa dimiliki oleh orang lain. Ini yang kemudian dibaca betul oleh para pebisnis," ungkap Devie.
Misalnya, dalam industri budaya Korea Selatan atau yang lebih dikenal sebagai K-POP.
Industri K-POP kerap membuat produk seri terbatas, yang hanya bisa didapatkan dengan membeli barang tertantu. Misalnya, photocard yang hanya bisa didapatkan dengan membeli album.
"Hal tersebut memberikan kesan, bahwa anda tidak bisa memiliki kesempatan kedua untuk memiliki barang atau pengalaman tersebut," ujarnya.
Kesan tersebut menimbulkan perasaan FOMO, di mana orang tidak mau ketinggalan untuk ikut merasakan atau memiliki hal baru tersebut.
Oleh sebab itu, orang-orang yang FOMO rela melakukan apa saja demi mendapatkan barang tersebut.
Mereka bahkan rela mengantre selama berjam-jam dan mengeluarkan uang yang tidak sedikit.
"Bahkan ada studi global yang menyatakan, bahwa penggemar K-POP menghabiskan sekitar 20 juta per orang untuk idola," jelas Devie.
Mereka menghabiskan sejumlah besar uang tersebut untuk membeli tiket konser, album, serta cendera mata idolanya.
Semua hal tersebut adalah pengalaman berbeda yang tidak dapat dimiliki oleh semua orang. Sehingga, mereka yang bisa mendapatkannya, merasa istimewa dan harga dirinya naik.
"Scarcity atau kelangkaan itu menjadi currency. Itu yang kemudian dikelola baik oleh para pebisnis," tangkas Devie.
Kelangkaan pengalaman yang menyebabkan FOMO itulah, yang kemudian memberikan keuntungan bagi para pebisnis.
"Jadi seperti yang sekarang kita lihat, segala sesuatu yang berhubungan dengan idola Korea lakunya bukan main," tutup Devie.
Pengamat Sosial: Perasaan FOMO Jadi Kesempatan Pebisnis Raup Keuntungan
Banyaknya orang yang FOMO, justru menjadi kesempatan bagi para pebisnis meraup lebih banyak keuntungan. Pasalnya, orang FOMO rela membeli produknya. [435] url asal
#fomo #dampak-fomo #fomo-menyebabkan-keuntungan #keuntungan-bagi-pebisnis
(Kompas.com) 19/09/24 22:01
v/15253776/
KOMPAS.com - FOMO (fear of missing out) atau ketakutan tertinggal suatu tren, kerap melanda masyarakat. Fenomena FOMO ini, menjadi kesempatan para pebisnis untuk meraup lebih banyak keuntungan.
Apalagi, menurut Pengamat Sosial Devie Rahmawati, pada dasarnya semua manusia memiliki keinginan untuk menjadi pusat perhatian.
"Keinginan untuk menjadi pusat perhatian adalah basic instinct manusia," ujarnya ketika diwawancarai Kompas.com, Rabu (18/9//2024).
Namun, mendapat perhatian bukanlah hal yang mudah. Salah satu kunci untuk mendapat perhatian adalah pengalaman yang berbeda.
"Pengalaman yang berbeda yang tidak bisa dimiliki oleh orang lain. Ini yang kemudian dibaca betul oleh para pebisnis," ungkap Devie.
Misalnya, dalam industri budaya Korea Selatan atau yang lebih dikenal sebagai K-POP.
Industri K-POP kerap membuat produk seri terbatas, yang hanya bisa didapatkan dengan membeli barang tertantu. Misalnya, photocard yang hanya bisa didapatkan dengan membeli album.
"Hal tersebut memberikan kesan, bahwa anda tidak bisa memiliki kesempatan kedua untuk memiliki barang atau pengalaman tersebut," ujarnya.
Kesan tersebut menimbulkan perasaan FOMO, di mana orang tidak mau ketinggalan untuk ikut merasakan atau memiliki hal baru tersebut.
Oleh sebab itu, orang-orang yang FOMO rela melakukan apa saja demi mendapatkan barang tersebut.
Mereka bahkan rela mengantre selama berjam-jam dan mengeluarkan uang yang tidak sedikit.
"Bahkan ada studi global yang menyatakan, bahwa penggemar K-POP menghabiskan sekitar 20 juta per orang untuk idola," jelas Devie.
Mereka menghabiskan sejumlah besar uang tersebut untuk membeli tiket konser, album, serta cendera mata idolanya.
Semua hal tersebut adalah pengalaman berbeda yang tidak dapat dimiliki oleh semua orang. Sehingga, mereka yang bisa mendapatkannya, merasa istimewa dan harga dirinya naik.
"Scarcity atau kelangkaan itu menjadi currency. Itu yang kemudian dikelola baik oleh para pebisnis," tangkas Devie.
Kelangkaan pengalaman yang menyebabkan FOMO itulah, yang kemudian memberikan keuntungan bagi para pebisnis.
"Jadi seperti yang sekarang kita lihat, segala sesuatu yang berhubungan dengan idola Korea lakunya bukan main," tutup Devie.
Awas, FOMO Dapat Menyebabkan Narsis
FOMO menyebabkan seseorang merasa harga diri dan statusnya naik. Ia juga jadi mengharapkan pujian yang berlebihan, sehingga membuatnya narsis. [426] url asal
#fomo #dampak-fomo #fomo-adalah #fomo-menyebabkan-narsis
(Kompas.com) 19/09/24 17:03
v/15240309/
KOMPAS.com - FOMO atau fear of missing out adalah fenomena di mana seseorang takut ketinggalan tren.
Seseorang yang FOMO merasa cemas dan takut tertinggal, saat orang memiiki pengalaman yang tidak dimiliki olehnya.
Menurut Sosiolog Sunyoto Usman, ingin memiliki segala sesuatu yang baru adalah FOMO.
"Ingin memiliki produk baru, informasi baru, dan gosip baru. Semua yang serba baru tersebut adalah simbol supaya status dirinya berharga sekaligus dihargai oleh orang lain," ujarnya ketika diwawancarai Kompas.com, Rabu (18/9/2024).
Artinya, seseorang FOMO untuk menaikkan nilai dirinya dan merasa dihargai orang lain. Hal tersebut dikarenakan ia memiliki pengalaman yang berbeda daripada orang lain.
Namun, FOMO dapat menyebabkan dampak negatif pada seseorang.
"Dampak negatif FOMO adalah menyebabkan perilaku narsistik," ungkap Sunyoto.
Menurut Muhammad Wahyu Ismail dalam jurnal Hubungan FoMO (Fear of Missing Out) dengan Kecenderungan Narsistik Remaja Pengguna Instagram (2023), narsistik adalah pola kepribadian yang didominasi oleh perasaan dirinya hebat, senang dipuji dan dikagumi, serta tidak ada rasa empati.
Seseorang yang narsis, merasa dirinya lebih dari orang lain dan kerap menunjukkan kehidupan dan kelebihannya di media sosial.
"Ketika mengalami FOMO, seseorang akan merasa harga diri dan statusnya naik. Ia juga jadi mengharapkan pujian yang berlebihan," ujar Sunyoto.
Akhirnya, orang akan merasa dirinya lebih menonjol daripada orang lain, sehingga menimbulkan perilaku narsistik.
Misalnya, seseorang yang FOMO akan suatu benda yang dimiliki oleh seorang idola. Benda tersebut kemudian menjadi popular dan diinginkan oleh banyak orang.
Orang yang FOMO akan berusaha mendapatkan benda tersebut. Setelah berhasil memilikianya, ia akan merasa dirinya memiliki pengalaman yang berbeda dengan orang lain.
Ia kemudian akan lebih sering mengekspos dirinya dan menyebabkannya lebih narsis.
Hal ini dipertegas oleh penelitian Pristaliona, dkk dalam Are Fear of Missing Out and Loneliness a Symptom of Narcisstic Behaviour? (2022) yang menyebutkan, bahwa makin tinggi FOMO yang dialami oleh seseorang, maka makin tinggi pula kecenderungan orang tersebut berperilaku narsistik.
Riset Terbaru OCBC Ungkap Lifestyle dan Finansial Generasi Muda Belum Seimbang - kumparan.com
Bank OCBC bekerja sama dengan NielsenIQ Indonesia merilis laporan Financial Fitness Index (FFI) 2024 bertajuk FUNanciallyFIT. [500] url asal
#generasi-muda #finansial #fomo #bank
(Kumparan.com) 21/08/24 08:00
v/14519464/
Bank OCBC bekerja sama dengan NielsenIQ Indonesia kembali merilis laporan Financial Fitness Index (FFI) 2024 bertajuk FUNanciallyFIT. Laporan FFI kali ini membawa pesan bahwa generasi muda termasuk perempuan bisa menjalani gaya hidup yang menyenangkan (fun) namun secara bersamaan mereka tetap sehat secara finansial (fit).
Berdasarkan laporan FFI, skor kesehatan finansial generasi muda Indonesia pada 2024 naik tipis 0,09 poin menjadi 41,25 dibanding tahun sebelumnya, yakni 41,16. Dibandingkan Singapura, angka ini jauh dari ideal, sebab Singapura ada di angka 60 poin. Namun secara tak langsung, skor ini menandakan bahwa masyarakat Indonesia telah berhasil mempertahankan kesehatan finansialnya, Ladies.
Executive Director Marketing & Lifestyle Business OCBC Amir Widjaya mengatakan pencapaian ini patut diapresiasi sebab artinya bagi generasi muda mulai paham memanfaatkan produk perbankan untuk keputusan finansial yang cerdas.
“Hal ini bisa menjadi indikator adanya perubahan sikap dan mindset, terutama di kalangan muda yang tetap ingin menikmati hidup,” ujar Amir di Nyala Fest 2024, Pondok Indah Mall 3, Jakarta, Jumat (16/8).
Meski skor kesehatan finansial menunjukkan perbaikan, namun masih ada hal yang perlu diperhatikan oleh generasi muda, Ladies. Laporan FFI 2024 mengungkapkan bahwa gaya hidup Fear of Missing Out (FOMO) masih jadi jebakan di kalangan muda.
Hasil riset FFI 2024 menunjukkan 80 persen anak muda menghabiskan uang mereka untuk mengikuti gaya hidup teman-temannya. Tingginya lifestyle FOMO pada generasi muda juga menunjukkan bahwa generasi ini masih fokus pada kesenangan jangka pendek.
Sebanyak 39 persen generasi muda mengaku bahwa tujuan utama mereka menabung adalah untuk memenuhi kebutuhan lifestyle seperti membeli barang mewah, hobi mewah, dan travelling.
Meski masih sering FOMO, namun generasi muda ternyata sudah cukup melek soal menyisihkan uang untuk dana darurat, lho, Ladies.
Director Consumer Insights di NielsenIQ (NIQ) Indonesia Inggit Primadevi mengungkapkan bahwa, anak muda Indonesia sebenarnya sudah menunjukkan perubahan positif dalam perilaku keuangan. Hal ini terlihat dari tingkat literasi keuangan yang tinggi, mulai mencatat keuangan, dan memiliki dana darurat.
Dari mereka yang sudah mencatat keuangan, 41 persen di antaranya sudah memiliki dana darurat sebesar 6 bulan gaji, angka ini naik sebesar 12 persen dari tahun sebelumnya. Sementara anak muda yang belum melakukan pencatatan keuangan, baru 21 persen yang punya dana darurat.
“Hal ini menandakan peningkatan kesadaran akan literasi keuangan, bukan hanya dalam pengetahuan tapi juga dalam praktik, dengan memiliki dana darurat dan menerapkan kebiasaan mencatat keuangan mereka,” ujar Inggit.
Temuan-temuan dalam FFI 2024 ini menunjukkan bahwa generasi muda masih memerlukan literasi keuangan yang lebih baik agar bisa membuat keputusan pengeluaran yang lebih bijak. Salah satu caranya yaitu dengan memahami produk dan layanan perbankan sehingga generasi muda bisa mendapat manfaat secara maksimal.
Amir mengatakan generasi muda bisa memilih OCBC sebagai layanan perbankan yang mudah diakses dan dipahami. Selain itu, OCBC juga berkomitmen untuk membantu generasi muda agar disiplin finansial dalam jangka panjang.
Dengan demikian, generasi muda tetap dapat memiliki gaya hidup yang menyenangkan sekaligus mengelola keuangan dengan tepat. “Gaya hidup yang melek finansial, bisa menabung, melek investasi, bukan berarti nggak bisa bersenang-senang. Generasi muda tetap bisa enjoy, bisa nonton konser, tapi kondisi finansialnya tetap sehat,” tutup Amir.