Pakar mewanti-wanti terkait transisi energi di Indonesia, termasuk dari sektor transportasi. Pemerintah memang gencar soal peralihan dari mobil bensin ke mobil listrik, namun sumber utama pembangkitnya juga perlu menjadi perhatian.
"Penelitian ERIA yang kami lakukan (di) lembaga saya bekerja, menunjukkan kalau energi bauran, energi pembangkit masih seperti sekarang, jadi 60 persen masih batu bara, lalu EBT masih di bawah 20 persen, itu walaupun penjualan mobil listrik kita bisa mencapai 100 persen pun, pengurangan (gas rumah kacanya) masih di bawah satu persen," ujar Dr. Alloysius Joko Purwanto, Energy Economist dari Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA) saat berbincang bersama detikOto di Jakarta Selatan, beberapa waktu yang lalu.
Manfaat mobil listrik untuk menurunkan emisi semakin sulit dicapai jika pembangkit energi yang dipakai berasal dari energi kotor, seperti PLTU batu bara, yang sedang terjadi di Indonesia.
"Memang ada efeknya. Impor bensin berkurang, atau polusi udara di kota berkurang. Tapi CO2 secara total nyaris tidak efektif," sambung Joko.
Mobil hybrid terbukti bisa menyedot perhatian masyarakat Indonesia. Tapi pakar mewanti-wanti jangan terlena lama-lama demi mengejar target NZE 2060.
Mobil hybrid itu bisa memangkas penggunaan konsumsi BBM. Emisi yang dikeluarkan juga lebih ramah lingkungan.
"Hybrid electric vehicles lebih optimum dari carbon dioxide yang dikeluarkan dan juga konsumsi bahan bakar. Jadi nilai ekonomisnya terbentuk," kata Guru Besar Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Deendarlianto dalam kesempatan yang sama.
"Saran saya jangan sampai kita tidak punya target kapan berhentinya, kapan kita switch-nya. Karena jangan sampai transisi terus, akhirnya tidak pernah berubah," jelas dia.
Kenapa emisi hybrid bisa lebih baik dari mobil listrik untuk saat ini?
Keunggulan mobil listrik bisa buat udara perkotaan yang bersih dari emisi gas buang. Namun sumber pembangkit listrik Indonesia mayoritas masih mengandalkan batu bara. Jika kondisinya demikian, mobil hybrid berfungsi untuk jadi transisi menuju kendaraan ramah lingkungan, meskipun di satu sisi hybrid juga sudah jauh lebih unggul dari mobil internal combustion engine.
"Kalau dari studi kami sendiri, pertama kami melihat HEV ini punya potensi yang besar untuk mengurangi gas rumah kaca dan konsumsi. Kalau bauran pembangkit listrik kita seperti saat ini (60 persen masih batu bara). HEV ini lebih bersih dibandingkan listrik yang full (battery). Itu lebih bersih," jelas Joko.
"Karena istilahnya emisi yang dikeluarkan oleh kendaraan listrik itu terutama di pembangkit begitu besar."
"HEV konsumsi bahan baker lebih efisien dibandingkan ICE. Itu potensinya besar untuk mengurangi GRK (Gas Rumah Kaca) dan konsumsi energi. Kalau kita 2040 sampai 2060 bauran kita (masih) 60 persen batu bara, EBT kita masih di bawah 20 persen, mendingan HEV saja daripada BEV. Hybrid saja daripada mobil listrik yang full EV," kata Joko.
Joko menambahkan ekonomi Indonesia masih tergantung dengan pembangkit batu bara karena harganya paling murah.
"Masih menempatkan prioritaskan ekonomi di atas tujuan iklim," kata Joko.
"Masih kurang mengubah tantangan itu menjadi peluang. Dampaknya apa? Salah satunya adalah penetrasi mobil listrik jadi kurang efisien dalam mengurangi gas emisi rumah kaca," jelasnya lagi.
Pemerintah menargetkan produksi Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) pada tahun 2030 sebesar 600 ribu unit untuk roda empat atau lebih dan 2,45 juta unit untuk roda dua.
Dengan target tersebut diharapkan akan mampu mengurangi emisi CO2 sebesar 2,7 juta ton untuk roda empat dan lebih dan sebesar 1,1 juta ton untuk roda dua.
Indonesia memiliki potensi sumber Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang besar. Jumlahnya mencapai 3,6 terawatt (TW) yang sebagian besar berasal dari tenaga surya 3,3 TW.
Plt Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jisman Parada Hutajulu mengungkap jumlah EBT yang sudah dimanfaatkan Indonesia belum mencapai 1%.
"Indonesia memiliki sumber energi terbarukan yang melimpah lebih dari 3,6 TW, yang sebagian besar berasal dari energi matahari yaitu 3,3 TW namun baru dapat dimanfaatkan kurang dari 1%," ucap Jisman di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Selasa (5/3/2024).
Bauran energi di Indonesia masih didominasi energi fosil yang berasal dari minyak, gas, dan batu bara. Padahal, pemerintah sudah menargetkan bauran EBT mencapai 23% pada 2025.
Chery International User Summit 2024 jadi kesempatan untuk Chery mengumumkan model baru. Termasuk model yang akan diluncurkan di masa depan. [439] url asal
Chery International User Summit 2024 jadi kesempatan untuk Chery mengumumkan model baru. Termasuk model yang akan diluncurkan di masa depan.
CEO (Chief Executive Officer) Brand Chery, Zhu Shaodong, menjelaskan Chery bakal memperbanyak produk New Energy Vehicles dari hybrid, plug in hybrid, dan calon mobil listrik baru.
Pertama model Tiggo 4 bakal menerima instalasi teknologi hybrid electric vehicles (HEV). Kemudian Tiggo 9 dilengkapi dengan sistem hibrida yang dapat diisi ulang (PHEV). Dan terbaru, Chery Tiggo 3 yang ringkas akan segera menjadi mobil listrik murni alias battery electric vehicles (BEV).
Spesifikasi Tiggo 3 belum terungkap. Namun di di luar negeri dikenal sebagai Chery Tiggo 2 Pro. Model ini memiliki dimensi panjang 4.200 mm, lebar 1.760mm, dan tinggi 1.570 mm dengan jarak sumbu roda 2.555 mm.
Sebagai perbandingan, mobil ini lebih pendek 118 mm, lebih sempit 71 mm dan 92 mm lebih rendah dari Chery Tiggo 4 Pro.
Chery mengumumkan seri baru bernama "Lepas". Dalam ajang Chery International User Summit 2024, Lepas akan bergabung dengan Omoda, Jaecoo, Exeed, Exlantix dan Jetour.
Lepas tiba-tiba dipresentasikan di Chery International User Summit. Pemilik mobil merek Chery dari seluruh dunia diundang.
Seperti yang diungkapkan pada presentasi, nama seri Tiggo diciptakan dari asosiasi dengan "harimau", namun Lepas diasosiasikan ke jenis lain, macan tutul. Hewan ini juga menginspirasi para desainer yang terlibat dalam pengembangan Lepas.
Mereka mengambil basis dari Chery Tiggo 8 Plus baru. Artinya Lepas tetap bergaya Sport Utility Vehicles (SUV).
Desain ini disebut Leopard Face di perusahaan. Inilah asal muasal nama Lepas. Mobil itu punya dimensi panjang 4.670 mm, lebar 1.920 mm, dan tinggi 1.679 mm.
Model manakah yang bakal diperkenalkan di Indonesia? Seperti diketahui, Tiggo 4 juga dikenal dengan Tiggo 5 X di Indonesia.
Chery menunjukkan kualitas produknya, dari lembaran pelat baja hingga jadi satu utuh mobil dibuat dengan presisi sampai ke tangan konsumen. [695] url asal
Chery menunjukkan kualitas produknya dibuat dengan sangat presisi dari lembaran pelat baja hingga jadi satu utuh mobil dibuat. Itu ditunjukkan dengan mengajak awak media berkunjung ke fasilitas pabrik di Anhui, Wuhu, China.
detikcom bersama rombongan lainnya berkesempatan untuk mampir ke dalam pabrik seluas 83.000 meter persegi atau setara 12 lapangan sepak bola, Kamis (17/10/2024). Chery mengawinkan fasilitas pabriknya dengan internet of thing (IoT).
Pabrik Chery di Wuhu Foto: Ridwan Arifin
Secara keseluruhan fasilitas utama pabrik ini meliputi bengkel stamping, bengkel las, bengkel pengecatan, bengkel perakitan umum, bengkel modular, bengkel mesin, bengkel transmisi, dan fasilitas pendukung yang relevan.
Pertama-tama, rombongan diajak masuk ke dalam ruang welding atau area pengelasan. Untuk area ini saja luasnya mencapai 50.000 meter persegi atau sekitar 7 lapangan sepak bola. Fasilitas ini dapat memenuhi 4 platform, 8 model jalur produksi, dan kapasitas produksi tahunan 200.000 unit.
Semua ini dilakukan nampak sangat teliti, cepat, komponen yang sudah dirancang, pengiriman logistik dan dipasang dalam hitungan menit. Salah satu tour guide menjelaskan dalam waktu satu jam bisa menghasilkan 40 unit.
Fasilitas ini memproduksi produk seri platform T2X baru dan produk inti platform T1X, seperti seri Tiggo 8 dan Tiggo 9.
Masuk ke dalam area ini, terlihat metode pengelasan bodi dilakukan oleh tangan-tangan robot. Totalnya sekitar 362 tangan-tangan robot yang bekerja.
Pabrik mobil Chery di Wuhu China Foto: dok. Chery International
Di sini tingkat otomatisasi mencapai 100 persen. Proses pemantauan dalam satu platform dan secara real time, misalnya kualitas sambungan las.
Pabrik Chery sudah mengadopsi kembaran digital atau digital twin. Dengan teknologi ini bisa membuat produksi jadi lebih efisien. Di sisi lain potensi kesalahan saat produksi bisa dihindari.
Chery menyebut sudah mengadopsi penggunaan teknologi pengelasan CMT (Cold Metal Transfer). Ini tidak hanya mengurangi percikan, tetapi juga menandakan evolusi dalam manufaktur mobil yang dapat meningkatkan keselamatan dan daya tahan.
Meskipun mayoritas pengelasan sudah robotik, namun ada beberapa posisi yang tetap harus dilakukan oleh pekerja manusia.
Selanjutnya lembaran besi plat yang sudah menjadi body mobil itu akan diangkut ke tempat pengecatan untuk dilakukan pengecatan.
Distribusi mesin, sasis, hingga pemasangan body. Semuanya diatur dalam waktu yang bersamaan secara otomatis. Dari penglihatan kami, pekerja manusia lebih banyak dibutuhkan untuk mengerjakan bagian yang sulit dijangkau oleh mesin otomatis tersebut.
Selanjutnya, kami diajak ke tempat perakitan akhir basis produksi Chery.
Terdapat total 164 stasiun kerja di jalur produksi utama, total 333 stasiun kerja termasuk jalur sub-perakitan). Kapasitas produksi tahunan bengkel ini adalah 300.000 mobil, satu menit dapat menghasilkan satu mobil.
Lebih spesifik terdapat 6 jalur produksi utama otomatis, 5 jalur sub-perakitan fleksibel, dan 3 jalur inspeksi untuk jenis mobil internal combustion engine (ICE), mobil hybrid, plug in hybrid electric vehicles (PHEV), dan battery electric vehicles. Saat melakukan kunjungan bengkel ini adalah Tiggo 8 dan Tiggo 9.
Chery telah melakukan ekspor kepada lebih dari 80 negara dan wilayah di seluruh dunia, memiliki 10 pabrik di luar wilayah China, serta 1.500 diler dan outlet yang melayani 11 juta pengguna di seluruh dunia, termasuk 1,9 juta pengguna di luar China.
Chery mengklaim pabrik ini secara keseluruhan bisa memproduksi 60 mobil per jam atau satu menit untuk satu mobil lengkap. Kinerja tinggi ini secara total mampu menghasilkan 300.000 unit kendaraan per tahun dan 200.000 suku cadang otomotif knockdown.