Modus penipuan digital di perbankan, seperti tagihan pajak palsu, meningkat. BRI imbau nasabah waspada dan tingkatkan keamanan data serta dana. [529] url asal
Modus penipuan digital atau social engineering (soceng) di bidang perbankan masih marak. Baru-baru ini, media sosial diramaikan dengan modus penipuan tagihan pajak dengan file APK.
Terkait hal ini, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mengimbau masyarakat khususnya nasabah BRI untuk berhati-hati dan meningkatkan awareness. Pasalnya, soceng ini dapat mengelabui nasabah dan berpotensi bocornya data-data transaksi perbankan serta berdampak pada keamanan dana nasabah.
BRI pun terus menggencarkan edukasi dan langkah praktis menghindari diri menjadi korban penipuan modus ini. Direktur Digital dan Teknologi Informasi BRI, Arga M Nugraha menegaskan keamanan data yang pada akhirnya berujung pada keamanan dana nasabah, menjadi fokus utama BRI.
"Pengamanan dilakukan mulai dari sisi network, server, data center, dengan tujuan yang komprehensif dan end to end. Keamanan dari pemantauan juga dilakukan," ujar Arga, dalam keterangan tertulis, Sabtu (9/11/2024).
"Namun bagian utamanya, kami meng-encourage user, jangan sampai hal yang dianggap sederhana, justru berbalik menyerang. Jadi misalnya jangan pernah sekali-kali menyerahkan username, password, dan OTP kepada orang lain, bahkan pihak yang mengaku sebagai BRI sekalipun," sambungnya.
Menurut Arga, keamanan siber adalah perjuangan yang terus menerus. Oleh karena itu, BRI akan terus berinovasi dan meningkatkan sistem keamanannya untuk memastikan bahwa data dan dana nasabah tetap aman.
Arga menambahkan masyarakat juga dapat memerangi cybercrime, dengan melakukan beberapa tips berikut ini:
Jangan pernah membagikan informasi pribadi seperti username, password, atau OTP kepada siapapun
Hati-hati dengan pesan atau email yang mencurigakan yang mengatasnamakan BRI atau instansi resmi lainnya. Untuk memastikan kebenarannya agar menghubungi Call Center resmi instansi tersebut
Gunakan koneksi internet yang aman saat mengakses BRImo
Aktifkan fitur keamanan tambahan yang disediakan oleh BRImo
Lakukan verifikasi dua faktor (2FA) untuk setiap transaksi penting
Perbarui aplikasi BRImo secara berkala
Laporkan segera jika menemukan aktivitas mencurigakan.
"Jadi prinsip kehati-hatian nasabah dan praktik keamanan wajib dilakukan, seperti jangan install APK sembarangan, install game gratisan. Kami coba mengamankan sejauh yang kami bisa, tapi device nasabah itu kan sifatnya personal," ujar Arga.
"Jadi kerahasiaan itu menjadi komitmen dua belah pihak, kami tidak bisa menjaga keamanan ini tanpa awareness dari nasabah, dinamika ini yang harus dijaga bersama," sambungnya.
Tak hanya tagihan pajak, beberapa modus penipuan digital juga marak dan berpotensi merugikan masyarakat, seperti undangan pernikahan digital, pemberitahuan penutupan rekening, pemberitahuan tagihan BPJS, foto paket dari kurir, surat atau blangko tilang, hingga yang terbaru adalah surat tagihan pajak.
TD Bank setuju membayar denda US$ 3 miliar karena gagal mencegah pencucian uang. CEO mengakui kesalahan dan berkomitmen untuk perbaikan sistem. [312] url asal
Salah satu bank terbesar di Kanada, TD Bank, setuju untuk membayar denda lebih dari US$ 3 miliar atau setara Rp 46,76 triliun karena mengizinkan kartel narkoba dan penjahat lainnya melakukan transaksi dana ilegal dengan total hingga triliunan dolar AS.
Melansir BBC, Jumat (11/10/2024), TD Bank adalah pemberi pinjaman terbesar dalam sejarah AS yang mengaku bersalah atas kegagalan dalam mengantisipasi praktik pencucian uang berdasarkan Undang-Undang Kerahasiaan Bank.
Departemen kehakiman AS menjelaskan pada 2018 lalu bank asal Kanada yang juga beroperasi di Negeri Paman Sam tersebut gagal memantau lebih dari 90% transaksi di jaringannya, aktivitas yang bernilai lebih dari US$ 18 triliun.
Bahkan seorang pejabat lembaga itu mengatakan seorang nasabah berhasil menggunakan TD Bank untuk mencuci lebih dari US$ 470 juta hasil penjualan narkoba, menyetor uang tunai dalam jumlah besar, dan menyuap staf dengan kartu hadiah.
Skema pencucian uang di TD Bank tersebut memungkinkan pembayaran dari pengguna narkotika masuk ke jaringan narkoba di Meksiko dan China.
"Skema lain melibatkan partisipasi lima staf bank, yang membantu menerbitkan lusinan kartu ATM, memfasilitasi transfer dana gelap senilai US$ 39 juta ke Kolombia," kata pejabat itu dalam konferensi pers kasus TD Bank.
Secara terpisah, Kepala eksekutif TD Bank Bharat Masrani mengatakan pihaknya akan bertanggung jawab penuh atas kegagalan mereka mencegah tindakan pencucian uang dan transaksi jaringan narkoba.
"Perbankan memiliki kekuatan finansial untuk menghadapi situasi tersebut dan akan melakukan investasi, perubahan, dan peningkatan yang diperlukan untuk memenuhi komitmen kami (agar kasus serupa tak terulang kembali)," kata Masrani dalam keterangan resminya.
Ia mengatakan proses perbaikan sistem pencegahan pencucian uang ini akan berlangsung selama beberapa tahun. Namun pihaknya telah mengambil beberapa langkah dengan menambah lebih dari 700 staf baru yang mengkhususkan diri dalam masalah pencegahan pencucian uang.
"Ini adalah babak yang sulit dalam sejarah bank kami. Kegagalan ini terjadi saat saya menjabat sebagai CEO dan saya minta maaf kepada semua pemangku kepentingan kami," pungkasnya.