Tren industri otomotif roda empat di Indonesia mengalami pergeseran. Banyak orang Indonesia lebih memilih mobil bekas ketimbang mobil baru. [588] url asal
Tren industri otomotif roda empat di Indonesia mengalami pergeseran. Banyak orang Indonesia lebih memilih mobil bekas ketimbang mobil baru.
"Pasar kita 1 juta mobil baru, ada shifting dari orang kemampuan terbatas mau beli mobil baru nggak cukup, jadi beli mobil bekas," kata Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Kukuh Kumara dalam Forum Editor Otomotif di ICE BSD City, Tangerang, Senin (22/7/2024).
Kukuh melanjutkan pergeseran minat terhadap mobil bekas itu semestinya bisa dimanfaatkan utilisasi pabrik yang terpasang. Saat ini dengan kapasitas terpasang sekitar 2,3 juta unit, utilisasi hanya berada di sekitar 1,4 juta unit.
Paparan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia atau LPEMFEB UI mengungkapkan tren penjualan mobil bekas lebih tinggi dari mobil baru.
Peneliti senior dari LPEM FEB UI Riyanto menjelaskan, stagnansi pasar mobil baru di Indonesia disebabkan lantaran harga mobil yang naik lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan inflasi.
"Daya beli nggak dapat, harga mobil baru mahal orang ingin tetap beli mobil," kata Riyanto.
"Pasar mobil bekas makin transparan," kata dia.
Dia menjelaskan selain mobil dan pendapatan per kapita, faktor ekonomi makro lainnya seperti nilai tukar dan tingkat suku bunga juga berpengaruh signifikan terhadap penjualan mobil.
Pasar mobil Indonesia menunjukkan stagnasi pada level penjualan sekitar 1 jutaan unit per tahunnya. Padahal rasio kepemilikan mobil masih sekitar 99 mobil per 1.000 penduduk.
Penjualan mobil tertinggi di Indonesia terjadi pada tahun 2013 yang mencapai 1.229.811 unit, kemudian terus merosot di tahun berikutnya namun tetap berada di level satu jutaan.
Pendapat per kapita yang naik tipis tersebut disebabkan pertumbuhan ekonomi yang berkisar antara lima persen dalam kurun waktu periode 2015-2022. Ini menjadi salah satu penyebab penjualan mobil di Indonesia stagnan di level satu juta unit.
"Memang mobil bekas dari tahun 2013 ke 2023 naik tiga kali lipat, dari cuma 500 ribu unit jadi sekarang sudah 1,4 juta unit. Ini pergeseran mobil bekas, ini akibat dari tidak terjangkaunya, karena harga mobil dan pendapatan per kapita makin jauh gap-nya," kata Riyanto.
Riyanto membeberkan, berdasarkan data yang diolah pada 2022 lalu, terdapat sejumlah wilayah yang punya rasio kepemilikan mobil masih rendah namun tingkat pendapatan per kapitanya oke. Berikut ini lima besar daftarnya:
Kalimantan Timur: Rasio kepemilikan mobil 131 dari 1.000 penduduk, PDRP per kapita Rp 239 juta
Kalimantan Utara: Rasio kepemilikan mobil 34 dari 1.000 penduduk, PDRB per kapita Rp 191 juta
Riau: Rasio kepemilikan mobil 90 dari 1.000 penduduk, PDRB per kapita Rp 150 juta
Kepulauan Riau: Rasio kepemilikan mobil 86 dari 1.000 penduduk, PDRB per kapita Rp 142 juta
Sulawesi Selatan: Rasio kepemilikan penduduk 84 dari 1.000 penduduk, PDRB per kapita Rp 106 juta.
Wajar saja jalanan Jakarta begitu macet. Sebab Jakarta menjadi kota dengan rasio kepemilikan mobil tertinggi. Nah penasaran nggak dengan daerah mana saja yang pendapatan per kapitanya tinggi tapi rasio mobilnya masih rendah?
PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) per kapita adalah total penghasilan dibagi jumlah seluruh penduduknya. PDRB per kapita biasanya menjadi salah satu indikator untuk mengukur jumlah uang yang diperoleh tiap orang di suatu wilayah.
Peneliti Senior LPEM UI Riyanto, pasar otomotif Indonesia masih begitu seksi. Ada beberapa daerah yang potensinya masih bisa ditingkatkan.
"Pendapatan (per kapita Indonesia) 2021 masih 4.135 (US$) sekarang (2023) sudah 4.800 hampir 5.000 USD. Dibandingkan Malaysia dan Thailand kita masih kalah dari sisi itu," kata Riyanto saat di Gedung Kementerian Perindustrian, belum lama ini.
"(Di Indonesia) dari 261 penduduk baru 1 mobil terjual, coba bandingkan Thailand, mobil barunya setiap 82 penduduk itu satu terjual, Malaysia setiap 45 penduduk, itu satu terjual," tambah dia.
"Coba kita naikkan di 200 penduduk, apalagi 150, nggak usah seperti Malaysia dan Thailand, karena jumlah penduduk kita 273 juta- 275 juta, itu tentu market-nya akan berkembang luar biasa," tambahnya lagi.
Jakarta terbukti menjadi wilayah dengan jumlah mobil terbanyak yang tercermin dari hasil rasio kepemilikan mobil. Saat data ini disampaikan, Produk Domestik Regional Bruto(PDRB) per kapita Jakarta mencapai Rp 298 juta.
"Kalau di Jakarta sudah 426 dari 1.000 orang sudah punya mobil," kata Riyanto.
Sedangkan daerah tetangga Jakarta, seperti Jawa Barat rasionya 86 per 1.000 penduduk, dan Banten 29 per 1.000 penduduk.
Riyanto membeberkan, berdasarkan data yang diolah pada 2022 lalu, terdapat sejumlah wilayah mana yang punya rasio kepemilikan mobil masih rendah namun tingkat pendapatan per kapitanya oke, berikut ini lima besar daftarnya:
Kalimantan Timur: Rasio kepemilikan mobil 131 dari 1.000 penduduk, PDRP per kapita Rp 239 juta
Kalimantan Utara: Rasio kepemilikan mobil 34 dari 1.000 penduduk, PDRB per kapita Rp 191 juta
Riau: Rasio kepemilikan mobil 90 dari 1.000 penduduk, PDRB per kapita Rp 150 juta
Kepulauan Riau: Rasio kepemilikan mobil 86 dari 1.000 penduduk, PDRB per kapita Rp 142 juta
Sulawesi Selatan: Rasio kepemilikan penduduk 84 dari 1.000 penduduk, PDRB per kapita Rp 106 juta
Menariknya terdapat wilayah yang PDRB per kapitanya di bawah rata-rata nasional. Meski PDRB per kapitanya rendah,Tapi kepemilikan mobilnya tinggi.
"Ada daerah pendapatan per kapita rendah, tapi rasio kepemilikan mobilnya tinggi, yaitu Jogja dan Bali," ujar Riyanto.
"Daerah wisata, mereka mungkin pendapatan masyarakatnya rendah, tapi daerah wisata, kepemilikan mobilnya termasuk tinggi. Nggak tau ini, mungkin pemiliknya dari luar (daerah). Tapi paling tidak mobilnya di sana, jadi Bali dan Jogja," tambahnya lagi.
Dalam data yang disampaikan Riyanto, Yogyakarta memiliki PDRB per kapita Rp 42 juta, sedangkan rasio kepemilikan mobilnya 119 per 1.000 penduduk. Sedangkan Bali punya PDRB per kapita Rp 56 juta, namun rasio kepemilikan mobilnya 145 per 1.000 penduduk.
Seperti diketahui pendapatan per kapita di Indonesia pada 2023 meningkat dibandingkan 2022, di mana PDB per kapita Rp 71,03 juta atau US$ 4.783,9.
Sementara itu, terdapat juga lima wilayah dengan rasio kepemilikan terendah di Indonesia, berikut ini daftarnya;