Wawancara kerja seringkali menimbulkan stres. Selain harus memberikan kesan pertama yang baik, mereka juga menghadapi pertanyaan yang tak terduga. [412] url asal
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bagi banyak pelamar, wawancara kerja seringkali menimbulkan stres.
Selain harus memberikan kesan pertama yang baik, mereka juga perlu siap menghadapi berbagai pertanyaan yang tak terduga.
Beberapa perusahaan bahkan menerapkan metode tertentu untuk menguji sikap dan karakter pelamar secara halus, salah satunya adalah “tes cangkir kopi.”
Apa Itu Tes Cangkir Kopi?
Mengutip unilad.com, tes cangkir kopi merupakan taktik wawancara yang diperkenalkan oleh Trent Innes, mantan direktur pelaksana platform akuntansi Xero, yang kini menjabat sebagai Chief Growth Officer di SiteMinder.
Dalam wawancaranya di podcast The Ventures, Innes menjelaskan bahwa ia selalu mengajak kandidat untuk berjalan ke dapur kantor dan memberikan mereka minuman, biasanya dalam bentuk secangkir kopi.
Setelah kembali ke ruang wawancara dan selesai berdiskusi, Innes memperhatikan apakah pelamar tersebut secara sukarela mengembalikan cangkir kosongnya ke dapur atau meninggalkannya di ruang wawancara.
Menurut Innes, sikap ini adalah hal penting yang ia perhatikan, karena secara langsung menunjukkan karakter dasar pelamar.
Mengapa Mengembalikan Cangkir Penting?
Bagi Innes, sikap untuk “mengembalikan cangkir” melambangkan rasa tanggung jawab, kesediaan untuk melakukan hal-hal kecil, dan tingkat kesadaran akan kebersihan serta keteraturan di lingkungan kerja.
Ia percaya bahwa meskipun keterampilan dan pengalaman dapat dikembangkan, sikap yang baik adalah landasan penting dalam menciptakan budaya kerja yang positif.
Dengan melakukan hal kecil seperti membawa kembali cangkir ke dapur, pelamar menunjukkan bahwa mereka menghargai kebersihan dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan kantor.
Kesesuaian dengan Budaya Perusahaan
Budaya perusahaan menjadi aspek yang semakin diperhatikan oleh perusahaan modern. Innes menekankan bahwa lingkungan di Xero dan SiteMinder mengutamakan tanggung jawab kolektif dalam menjaga kerapian kantor.
Melalui tes ini, Innes ingin memastikan bahwa kandidat dapat menyesuaikan diri dengan budaya kerja yang mengedepankan kolaborasi dan kontribusi, bahkan dalam hal-hal kecil seperti membersihkan cangkir sendiri.
“Kebiasaan untuk mengembalikan cangkir ke dapur adalah bagian dari budaya wash your coffee cup, yaitu kesadaran untuk menjaga lingkungan kerja tetap bersih dan tertata,” ujar Innes.
Sikap Lebih Penting daripada Keterampilan
Menurut Innes, banyak hal teknis bisa dipelajari seiring waktu, tetapi sikap baik harus sudah dimiliki sejak awal.
Hal ini mendorong perusahaan untuk mencari pelamar yang tidak hanya memiliki kemampuan dan pengalaman, tetapi juga kesadaran etis serta tanggung jawab.
Pelamar yang menunjukkan sikap inisiatif dalam hal-hal sederhana, seperti mengembalikan cangkir ke dapur, dinilai lebih cocok dengan budaya perusahaan yang menerapkan konsep “wash your coffee cup.”
Tes cangkir kopi ini mengingatkan kita bahwa terkadang, hal-hal kecil yang tidak terucap dalam wawancara justru bisa menjadi penentu apakah kita layak untuk posisi tersebut atau tidak.
Saat wawancara kerja, HR atau pewawancara akan bertanya kepada kandidat tentang banyak hal. Bahkan, ada sejumlah pertanyaan yang membuat kandidat perlu hati-hati dalam menjawabnya, misalnya saat ditanya apakah memilih keluarga atau pekerjaan.
Pertanyaan ini biasanya muncul ketika kandidat sudah berkeluarga dan memiliki anak. Sejumlah kandidat kerap kebingungan dalam menjawab pertanyaan ini karena sulit untuk memutuskan mana yang lebih utama, keluarga atau pekerjaan.
Lantas, bagaimana cara menjawabnya saat ditanya pilih keluarga atau pekerjaan? Simak penjelasannya dalam artikel ini.
Tips Menjawab Pertanyaan "Pilih Keluarga atau Pekerjaan?"
Pertanyaannya sederhana, tapi terkadang membuat kandidat bingung saat menjawabnya. Sebab, jika memilih keluarga maka kamu akan kesulitan mendapat pekerjaan. Sebaliknya, jika memilih pekerjaan maka kamu akan sulit untuk lebih dekat dengan keluarga.
Mengutip laman University of The People, sebenarnya tidak ada jawaban pasti mengenai pilihan antara keluarga atau pekerjaan. Banyak HR yang menanyakan hal tersebut untuk meyakinkan kandidat bahwa ia bisa membagi waktu antara keduanya.
Saat menjawab pertanyaannya, detikers bisa menjelaskan bagaimana cara kamu membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan. Dalam beberapa hal, kamu bisa mengutamakan keluarga dahulu dibandingkan pekerjaan dan begitupun sebaliknya.
Sebagai contoh, ketika anak kesayanganmu sakit parah dan harus dilarikan ke rumah sakit. Dalam kondisi tersebut, kamu harus mengutamakan keluarga dibandingkan pekerjaan.
Namun, bukan berarti kamu melepas pekerjaan begitu saja karena masih memiliki tanggung jawab terhadap perusahaan. Jadi, kamu bisa meminta kepada atasan untuk mempertimbangkan work from home (WFH), melakukan meeting online, atau mengundurkan deadline dari jadwal yang seharusnya.
Jawaban tersebut bisa menggambarkan dirimu sebagai kandidat yang bertanggung jawab. Artinya, kamu bertanggung jawab sebagai orang tua dalam keluarga sekaligus karyawan yang patuh terhadap aturan perusahaan.
Banyak Pekerja yang Dilema saat Memilih Karier atau Keluarga
Salah satu tantangan besar yang dihadapi para pekerja yang sudah berkeluarga adalah membagi waktu antara karier dan keluarga. Hal ini membuat beberapa pekerja dilema saat membagi waktu antara keduanya.
Dilansir Times of India, sebuah survei di Amerika Serikat pada 2013 lalu mengungkapkan bahwa 42 persen wanita karier mengurangi waktu kerja mereka demi keluarga, sedangkan 33 persen perempuan tidak bekerja sama sekali demi mengasuh anak di rumah. Sementara hanya 10 persen pria yang keluar dari pekerjaannya untuk mengasuh seseorang dalam keluarga.
Dr James Tooley, seorang profesor di bidang edukasi dari University of Newcastle mengatakan, banyak wanita karier yang merasa kurang bahagia ketika tidak mengutamakan keluarga dan anak-anaknya.
Berdasarkan temuannya lewat analisis data yang dikumpulkan lebih dari 100.000 pria dan wanita di Inggris dan AS, Tooley menemukan bahwa banyak orang tua yang lebih puas jika mereka tinggal di rumah dan membesarkan anak-anaknya.
Lalu, hasil studi terhadap 1.200 wanita karier yang telah menikah di beberapa kota besar menunjukkan bahwa 650 responden memilih menunda rencana untuk memiliki anak. Alasannya karena mereka terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Tips Membagi Waktu antara Karier dan Keluarga
Meski jadi dilema bagi banyak orang, tapi sebenarnya membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga tidak terlalu sulit. Kembali mengutip situs University of The People, berikut cara membagi waktu antara karier dan keluarga:
1. Fokus dengan Apa yang Dihadapi
Ketika sedang bekerja, jangan terobsesi atau membayangkan bahwa kamu bisa pulang cepat ke rumah. Tetaplah fokus bekerja agar pekerjaan cepat selesai.
Nah, ketika sudah di rumah dan bersama keluarga, cobalah untuk tidak memikirkan pekerjaan di kantor. Sisakan waktu luang untuk bercengkrama bersama istri dan anak-anak, sebelum kembali tidur dan melanjutkan aktivitas di esok hari.
2. Sisakan Waktu Luang untuk Keluarga
Terkadang, tuntutan pekerjaan bisa membuatmu terasa jauh dari keluarga. Saat memasuki akhir pekan, gunakan waktu tersebut untuk bersantai bersama keluarga, mulai dari jalan-jalan, liburan ke luar kota, atau staycation untuk menghabiskan waktu bersama.
Itu dia tips menjawab pertanyaan 'pilih keluarga atau pekerjaan?' ketika sedang wawancara. Semoga dapat membantu detikers.
Saat wawancara kerja, biasanya HR atau pewawancara akan bertanya kepada kandidat tentang motivasi kerja. Bagi sebagian orang pertanyaan ini terbilang mudah untuk dijawab, padahal detikers harus hati-hati karena bisa menjadi pertanyaan 'jebakan'.
Perlu diingat, jika muncul pertanyaan tentang motivasi kerja maka kandidat harus menjawab secara jujur, singkat, padat, dan jelas. Jawaban yang terlalu pendek ataupun panjang justru bisa membuat HR sedikit ragu.
Selain itu, jawaban juga harus berhubungan dengan pekerjaan yang dilamar. Jangan sampai melenceng jauh sehingga membuat HR tidak yakin dengan kamu.
Lantas, bagaimana cara menjawab pertanyaan tentang motivasi kerja saat interview? Simak contoh jawaban yang baik dalam artikel ini.
Contoh Jawaban Motivasi Kerja saat Interview
Pertanyaan yang muncul saat interview kerja sangat beragam, salah satunya tentang motivasi kerja. Meski pertanyaannya terdengar sepele, tapi tak bisa dijawab secara sembarangan.
Agar bisa menjawab pertanyaannya dengan baik, simak beberapa contoh jawaban motivasi kerja yang dilansir dari Indeed Career, Top Resume, dan Cultivated Culture.
Contoh 1
"Saya adalah orang yang teratur dan tak suka membuang waktu. Menjadi orang yang teratur di tempat kerja dan di rumah telah membantu saya untuk mengelola waktu dalam mencapai tujuan dan target.
Hal ini juga bisa membantu saya agar pekerjaan saya bisa terselesaikan dengan baik tanpa harus membebani diri secara berlebihan. Dengan begitu, saya bisa fokus melakukan pekerjaan dengan hasil yang berkualitas.
Manajemen waktu yang baik itu sangat membantu saya dalam mempertahankan standar yang sangat baik secara konsisten."
Contoh 2
"Memberikan pelayanan kepada pelanggan menjadi hal yang memotivasi saya dalam bekerja. Sebab, saya bekerja sebagai sales associate, sehingga dalam sehari-harinya saya sibuk dengan penyelesaian masalah pelanggan.
Saya berupaya untuk memahami pertanyaan mereka dan menjelaskan bagaimana prosedur operasional kami dalam bekerja.
Hal ini benar-benar memotivasi saya dan meningkatkan kepercayaan diri. Terlebih saat setiap kali pelanggan memberikan ulasan bagus dan penilaian tinggi terhadap kinerja saya."
Contoh 3
"Di tempat kerja dahulu, saya adalah pemimpin tim yang terdiri dari 10 orang. Tugas kami yaitu meningkatkan hasil produksi, sehingga tim harus bekerja secara efisien untuk memberikan hasil yang akurat dan konsisten.
Saya memiliki tujuan untuk menyederhanakan proses tim, sehingga tim menjadi lebih produktif tanpa harus terbebani oleh beban dan ritme kerja yang berlebihan.
Bekerja dalam tim serta menyelesaikan tugas secara akurat dan cepat dari jadwal merupakan target yang saya lakukan setiap hari. Saya ingin membantu perusahaan ini agar selalu mencapai keuntungan."
Contoh 4
"Saya jelas termotivasi oleh hasil. Oleh karena itu, saya selalu bersemangat ketika memiliki tujuan nyata untuk dicapai.
Dalam pekerjaan saya saat ini, kami memiliki sasaran triwulanan dan tahunan yang sangat jelas dan terukur. Jadi, saya ditugaskan untuk bekerja dengan manajer dan tim dalam membuat strategi bulanan agar memenuhi angka akhir kuartal dan akhir tahun kami.
Mencapai target-target perusahaan merupakan sebuah target yang luar biasa. Hal ini bisa membuat saya ingin lebih berorientasi pada hasil yang lebih baik lagi."
Contoh 5
"Mempelajari sebuah keterampilan baru adalah motivasi saya. Saya sangat senang jika nantinya keterampilan dan pengetahuan saya bisa berkembang melalui posisi pekerjaan yang saya lamar ini.
Selain dari pengalaman kerja, saya juga mengembangkan keahlian saya secara konsisten melalui berbagai pelatihan dan kursus. Bahkan, sebagian pembayaran kursus berasal dari kantong saya sendiri.
Jadi, saya sangat yakin bahwa dengan semangat saya yang selalu ingin belajar, saya bisa lebih inovatif dan sangat berguna di tempat kerja nantinya."
Contoh 6
"Saya sudah menyukai dan melakukan kegiatan yang berhubungan coding sejak SMA hingga kuliah. Ayah saya adalah seorang software developer, beliau sudah membantu saya dan mempelajari saya terkait bidang itu.
Hal ini membuat saya berhasil menjadi ahli dalam Java dan C++. Memecahkan masalah dengan coding merupakan hal yang menantang bagi saya sekaligus alasan saya untuk meraih kesuksesan dalam bidang ini."
Contoh 7
"Saya punya pengalaman dalam bertanggung jawab untuk mengarahkan tim software development di berbagai perusahaan.
Saya pernah berhasil membawa tim saya mencapai pengiriman produk 100% tepat waktu selama enam bulan berturut-turut. Tantangan untuk menyelesaikan proyek lebih cepat dari jadwal adalah hal yang selalu memotivasi saya untuk bisa lebih baik lagi."
Contoh 8
"Saya suka angka. Menganalisis data dan memberikan hasil yang akurat adalah hal yang memotivasi saya. Saya senang menggunakan perangkat untuk mengolah data dan angka seperti Spreadsheet dan Microsoft Excel.
Di posisi saya saat ini, saya bekerja membuat laporan analisis penjualan bulanan. Memberikan informasi penting dari data sangat memotivasi saya, karena dengan begitu saya bisa membantu perusahaan bisa menentukan sasaran penjualannya.
Saya yakin, keberadaan saya di perusahaan ini akan membantu memberikan kontribusi besar terhadap hal tersebut."
Contoh 9
"Saya termotivasi untuk bekerja di sini karena dapat membantu saya untuk terus belajar dan mengembangkan keahlian saya.
Saya selalu berupaya menjadi orang yang paling terlibat dan memberikan manfaat positif ketika mengerjakan proyek-proyek menantang.
Selain itu, saya juga termotivasi oleh kesempatan untuk bekerja dengan rekan-rekan yang berpengalaman dan berpengetahuan luas. Hal ini dapat membantu saya belajar dan berkembang dalam karir saya."
Contoh 10
"Saya sangat termotivasi dengan pekerjaan yang saya lakukan sebagai guru. Saya akan merasa sangat puas ketika melihat siswa saya berhasil dan berkembang seiring berjalannya waktu.
Selain itu, saya juga termotivasi untuk memberikan kontribusi yang baik dalam kehidupan orang lain. Oleh sebab itu, saya selalu merasa terinspirasi ketika melihat dampak positif dari hasil didikan saya terhadap siswa dan keluarga mereka."
Contoh 11
"Sebagai seorang marketer, saya selalu termotivasi untuk bekerja kreatif, bekerja dalam tim, serta berupaya untuk meningkatkan keuntungan perusahaan.
Salah satu hal yang saya sukai dari pekerjaan terakhir saya yaitu menyaksikan hasil kampanye tim dan melihat alur bagaimana orang-orang yang kami prospek berhasil menjadi pelanggan tetap.
Memiliki kesempatan untuk pembuatan ide hingga peluncuran produk menjadi salah satu alasan yang membuat saya sangat bersemangat untuk melamar pekerjaan ini."
Contoh 12
"Saya termotivasi ketika membantu pasien saat masih dirawat, terutama setelah menyelesaikan pekerjaan di shift malam.
Walaupun shift malam itu berat dan membuat saya harus terjaga sepanjang malam, tetapi melihat senyum di wajah pasien dan keluarganya, melihat pasien semakin pulih dari penyakitnya. Itu semua membuat saya semakin bersemangat untuk bekerja. Hal itulah yang memotivasi saya menjadi seorang perawat."
Contoh 13
"Kepuasan dalam mengatasi rintangan menjadi motivasi terbesar saya.
Sebagai contoh, matematika bukanlah mata pelajaran terbaik saya, namun saya memilih untuk mengambil kalkulus di perguruan tinggi. Meski hal itu tidak diwajibkan untuk jurusan saya, tapi saya ingin membuktikan pada diri sendiri bahwa saya bisa melakukannya.
Materi pelajarannya tidaklah mudah bagi saya. Saya harus menghabiskan banyak waktu hingga begadang setiap malam untuk belajar. Hingga pada akhirnya saya bisa lulus dengan nilai A.
Perasaan berhasil setelah melalui tantangan inilah yang menjadi dorongan saya untuk berkarir di bidang penjualan."
Contoh 14
"Saya merasa lebih termotivasi saat berada dalam lingkungan yang positif, terutama ketika saya dikelilingi oleh rekan kerja yang memiliki pandangan yang terbuka dan tujuan yang sejalan, yaitu mencapai hasil terbaik untuk perusahaan.
Kerjasama tim yang baik, serta kontribusi aktif dari setiap individu akan mendorong saya untuk lebih produktif dan tetap fokus. Saya yakin bahwa perusahaan XYZ adalah tempat yang ideal untuk berkembang bersama."
Contoh 15
"Saya tertarik dengan posisi ini karena sesuai dengan latar belakang pendidikan dan minat saya. Menjadi penulis skenario merupakan tanggung jawab yang melibatkan pembuatan naskah untuk konten video dan artikel sesuai kebutuhan produksi perusahaan.
Hal tersebut membuat saya lebih konsisten di bidang multimedia. Oleh karena itu, saya merasa antusias untuk bergabung dengan tim di perusahaan ini."
Pertanyaan Tentang Motivasi Kerja
Agar lebih meyakinkan, HR sebagai pewawancara akan menanyakan kepada kandidat tentang motivasi kerja. Mengutip situs The Balance Money, berikut sejumlah pertanyaan yang umum ditanyakan oleh HR:
Apa motivasi Anda untuk bekerja di bidang ini?
Hal apa yang membuat Anda tertarik dengan posisi pekerjaan dan perusahaan ini?
Apa yang dapat Anda berikan untuk perusahaan ini?
Strategi apa yang akan Anda gunakan untuk memotivasi tim Anda?
Tips Menjawab Pertanyaan Motivasi Kerja
Dari contoh di atas, detikers bisa mengetahui bagaimana cara menjawab pertanyaan tentang motivasi kerja. Agar lebih tenang dan bisa menjawab dengan baik, simak tipsnya berikut ini yang mengutip laman Bright Network:
Lakukan riset terhadap posisi dan perusahaan yang dilamar.
Sesuaikan dengan pengalaman kerja di perusahaan sebelumnya.
Jawab pertanyaan secara jujur dan terbuka.
Hindari menjawab pertanyaan dengan berbohong atau melebih-lebihkan.
Hindari menjawabnya karena ingin gaji lebih besar
Hindari menjawabnya karena ingin mengisi waktu luang.
Itu dia 15 contoh jawaban motivasi kerja saat interview agar tidak kagok. Semoga bermanfaat!
Ingatlah bahwa HRD mungkin akan khawatir tentang persepsi tentang terlalu sering berganti pekerjaan dan mengapa Anda tidak dapat atau tidak bertahan cukup lama di pekerjaan atau perusahaan sebelumnya.
PEXELS/VISUALTAG MX Ilustrasi pegawai, bekerja di kantor.
Untuk melawan stigma tersebut, dikutip dari Forbes, Selasa (17/9/2024), jujurlah tentang alasan Anda melakukan setiap perpindahan pekerjaan atau perusahaan
Hindari menyalahkan mantan atasan dan rekan kerja Anda, karena strategi itu akan menjadi bumerang dan memperkuat kecurigaan mereka bahwa Anda mungkin masalahnya, bukan perusahaan tempat Anda bekerja.
Fokus pada sisi positif dari memegang berbagai pekerjaan yang berbeda. Bicarakan tentang seberapa banyak yang Anda pelajari di setiap peluang baru.
Anda dapat tampil sebagai konsultan manajemen tingkat tinggi yang belajar di setiap perusahaan tentang strategi apa yang berhasil dan yang tidak.
Anda dapat memberikan wawasan tentang operasional perusahaan pesaing mereka dan belajar dari mereka.
Pastikan untuk memberi tahu HRD bahwa ini bukan sekadar pekerjaan, tetapi Anda benar-benar mencintai perusahaan, orang-orang, peluang, pernyataan misi, produk, dan layanan perusahaan.
Ceritakan pula bagaimana Anda akan memberikan nilai tambah bagi perusahaan. Jangan berbohong dengan mengatakan, "Kali ini berbeda, dan saya berjanji tidak akan pindah."
Jika ditanya langsung tentang pandangan Anda terhadap masa jabatan Anda di perusahaan tersebut, jujurlah. Tetaplah tenang, karena mereka akan terus mengkritisi narasi Anda, mencari alasan apa pun untuk tidak melanjutkan.
Yang terpenting, lihatlah segala sesuatunya dari perspektif yang tepat.
Ingatlah bahwa HRD mungkin akan khawatir tentang persepsi tentang terlalu sering berganti pekerjaan dan mengapa Anda tidak dapat atau tidak bertahan cukup lama di pekerjaan atau perusahaan sebelumnya.
PEXELS/VISUALTAG MX Ilustrasi pegawai, bekerja di kantor.
Untuk melawan stigma tersebut, dikutip dari Forbes, Selasa (17/9/2024), jujurlah tentang alasan Anda melakukan setiap perpindahan pekerjaan atau perusahaan
Hindari menyalahkan mantan atasan dan rekan kerja Anda, karena strategi itu akan menjadi bumerang dan memperkuat kecurigaan mereka bahwa Anda mungkin masalahnya, bukan perusahaan tempat Anda bekerja.
Fokus pada sisi positif dari memegang berbagai pekerjaan yang berbeda. Bicarakan tentang seberapa banyak yang Anda pelajari di setiap peluang baru.
Anda dapat tampil sebagai konsultan manajemen tingkat tinggi yang belajar di setiap perusahaan tentang strategi apa yang berhasil dan yang tidak.
Anda dapat memberikan wawasan tentang operasional perusahaan pesaing mereka dan belajar dari mereka.
Pastikan untuk memberi tahu HRD bahwa ini bukan sekadar pekerjaan, tetapi Anda benar-benar mencintai perusahaan, orang-orang, peluang, pernyataan misi, produk, dan layanan perusahaan.
Ceritakan pula bagaimana Anda akan memberikan nilai tambah bagi perusahaan. Jangan berbohong dengan mengatakan, "Kali ini berbeda, dan saya berjanji tidak akan pindah."
Jika ditanya langsung tentang pandangan Anda terhadap masa jabatan Anda di perusahaan tersebut, jujurlah. Tetaplah tenang, karena mereka akan terus mengkritisi narasi Anda, mencari alasan apa pun untuk tidak melanjutkan.
Yang terpenting, lihatlah segala sesuatunya dari perspektif yang tepat.
Ingatlah bahwa HRD mungkin akan khawatir tentang persepsi tentang terlalu sering berganti pekerjaan dan mengapa Anda tidak dapat atau tidak bertahan cukup lama di pekerjaan atau perusahaan sebelumnya.
PEXELS/VISUALTAG MX Ilustrasi pegawai, bekerja di kantor.
Untuk melawan stigma tersebut, dikutip dari Forbes, Selasa (17/9/2024), jujurlah tentang alasan Anda melakukan setiap perpindahan pekerjaan atau perusahaan
Hindari menyalahkan mantan atasan dan rekan kerja Anda, karena strategi itu akan menjadi bumerang dan memperkuat kecurigaan mereka bahwa Anda mungkin masalahnya, bukan perusahaan tempat Anda bekerja.
Fokus pada sisi positif dari memegang berbagai pekerjaan yang berbeda. Bicarakan tentang seberapa banyak yang Anda pelajari di setiap peluang baru.
Anda dapat tampil sebagai konsultan manajemen tingkat tinggi yang belajar di setiap perusahaan tentang strategi apa yang berhasil dan yang tidak.
Anda dapat memberikan wawasan tentang operasional perusahaan pesaing mereka dan belajar dari mereka.
Pastikan untuk memberi tahu HRD bahwa ini bukan sekadar pekerjaan, tetapi Anda benar-benar mencintai perusahaan, orang-orang, peluang, pernyataan misi, produk, dan layanan perusahaan.
Ceritakan pula bagaimana Anda akan memberikan nilai tambah bagi perusahaan. Jangan berbohong dengan mengatakan, "Kali ini berbeda, dan saya berjanji tidak akan pindah."
Jika ditanya langsung tentang pandangan Anda terhadap masa jabatan Anda di perusahaan tersebut, jujurlah. Tetaplah tenang, karena mereka akan terus mengkritisi narasi Anda, mencari alasan apa pun untuk tidak melanjutkan.
Yang terpenting, lihatlah segala sesuatunya dari perspektif yang tepat.
Saat interview, kamu perlu mengetahui cara menjelaskan alasan resign kerja dengan baik. Sebab hal ini bisa berpengaruh pada pandangan perekrut. [1,146] url asal
Menjalani wawancara kerja setelah memutuskan untuk resign bisa menjadi tantangan tersendiri. Salah satu pertanyaan yang sering diajukan oleh perekrut adalah alasan di balik keputusan resign dari pekerjaan sebelumnya.
Jawaban ini begitu penting, sebab akan memberi gambaran tentang profesionalisme, komitmen, dan motivasi kamu sebagai pelamar kerja. Jadi, penting untuk mempersiapkan jawaban yang tepat.
Cara Jelaskan Alasan Resign Kerja saat Interview
Saat ingin menjelaskan alasan resign ketika interview, kamu perlu mempertimbangkan alasan resign dengan baik, memberikan jawaban yang singkat, tetap positif, dan jujur. Menurut laman Indeed, begini penjelasannya.
1. Pertimbangkan Memilih Alasan Ingin Resign
Luangkan waktu untuk menulis semua alasanmu ingin mencari pekerjaan baru. Kamu bisa memikirkannya dengan mempertimbangkan pertanyaan berikut ini
Apa tujuan karirmu? Dalam 5 tahun apa rencanamu?
Apa saja kebutuhanmu di lingkungan kerja? Apa yang kamu tidak suka
Bagaimana hubungan dengan teman kerja?Atasan?
Kamu ingin berkecimpung di industri apa?
Setelah menuliskan jawaban, lingkari beberapa alasan utama yang ingin disampaikan dalam wawancara. Pilih alasan yang lebih bersifat profesional daripada pribadi.
2. Buat Jawaban Singkat
Meski penting untuk menjawab pertanyaan pewawancara secara lengkap, batasi responmu dalam satu atau dua kalimat. Kemudian arahkan kembali pembicaraan mengapa kamu adalah orang yang tepat untuk pekerjaan tersebut.
3. Tetap Positif
Sekalipun ada pengalaman tak mengenakkan, penting untuk menemukan cara positif untuk menjelaskan alasanmu resign. Sebab, perusahaan ingin mempekerjakan karyawan yang sikap positifnya bisa meningkatkan moral.
4. Jujur Tanpa Terlalu Mendetail
Saat menjawab pertanyaan terkait alasan resign, kamu tidak perlu memberikan semua detailnya. Jika kamu merasa pekerjaan sebelumnya tidak memuaskan, jangan pernah merendahkan atasan di perusahaan sebelumnya.
Pastikan jawaban tetap fokus dan singkat. Alihkan pembicaraan kembali ke alasan mengapa kamu bersemangat dengan peluang yang ada di perusahaan yang akan dilamar.
7 Alasan Resign Kerja dan Contoh Jawabannya
Ada berbagai macam alasan resign, mulai dari ingin memajukan karir, mendapat suasana yang baru, sampai karena urusan pribadi. Begini contoh menjawabnya.
1. Ingin memiliki Peluang untuk Kemajuan Karir
Bergantung pada struktur perusahaan, ada beberapa perusahaan yang mungkin memberikan lebih banyak peluang untuk berkembang. Sehingga, keinginan untuk pindah ke perusahaan baru menjadi alasan umum untuk meninggalkan pekerjaan.
Contoh jawabannya yaitu:
"Saya menyukai pekerjaan dan rekan saya, tapi saya sudah sampai pada itik di mana tidak ada lagi peluang untuk berkembang dalam tim saya." Setelah itu, kamu bisa menemukan peluang untuk berkembang di perusahaan yang baru.
2. Ingin Memiliki Suasana Kerja yang Lebih Baik
Mungkin pekerja ingin resign karena memiliki pilihan yang lebih baik. Bisa jadi lingkungan kerja dan gaji yang lebih baik atau misi perusahaan yang lebih sesuai. Sehingga, masuk akal untuk meninggalkan perusahaan sebelumnya.
Contoh jawaban:
"Meski saya sudah belajar banyak di perusahaan sebelumnya, dari penelitian tentang peluang ini, saya melihat bahwa posisi ini lebih cocok untuk tujuan karir saya. Saya bisa berkolaborasi dengan tim untuk mengembangkan produk inovatif bagi pengguna."
3. Ingin Mendapat Pekerjaan yang Berbeda
Banyak orang yang menjajaki beberapa pekerjaan dan karir yang berbeda dalam hidup mereka. Sehingga, ingin mengubah jalur karir atau pekerjaan yang berbeda bisa menjadi alasan untuk resign dari perusahaan.
Contoh jawaban:
"Saya mencari peluang baru yang belum ada di perusahaan saya sebelumnya, tempa saya mengembangkan dan memperluas keterampilan manajemen saya."
4. Menempuh Pendidikan Tambahan
Banyak orang-orang yang meninggalkan pekerjaan untuk sekolah dan mengejar gelar atau kualifikasi lainnya. Ini menjadi alasan yang baik selama jawabanmu menjelaskan bahwa keputusan ini membantu mengembangkan karirmu ke depannya.
Contoh jawaban:
"Saya menikmati peran saya sebagai asisten hukum, tapi saya merasa akan menemukan peluang yang lebih menantang untuk menyelesaikan persyaratan pendidikan paralegal. Menempuh pendidikan lagi secara full time memungkinkan saya menyelesaikan studi lebih cepat. Selain itu juga menjaga tujuan karir jangka panjang saya tetap pada jalurnya."
5. Menginginkan Work-life Balance
Mengutip laman Jobstreet, dalam era modern ini, mencapai keseimbangan dunia kerja dan kehidupan sehari -hari atau disebut work-life balance menjadi sangat penting. Work-life balance bisa mengurangi stres dan mencegah burnout atau kelelahan saat bekerja.
Sehingga, mencari work life balance bisa dijadikan alasan resign dari perusahaan. Dengan menyampaikan alasan tersebut, bisa jadi perekrut akan menjelaskan bagaimana ritme kerja di perusahaan serta apa saja keuntungan yang didapatkan.
Contoh jawaban:
"Saya percaya bahwa saya bisa bekerja lebih efektif saat dapat menyeimbangkan kehidupan pribadi dan pekerjaan. Dalam bekerja, komitmen menjadi aspek penting, sehingga pekerjaan bisa selesai dengan baik dan tepat waktu. Jadi, bagi saya, penting untuk bekerja di perusahaan yang menghargai waktu bekerja dan waktu pribadi."
6. Alasan Keluarga
Menurut laman Novoresume, terkadang memiliki kewajiban untuk mengurus keluarga harus membuat perubahan pada ritme pekerjaan. Misalnya, ada orang tua yang tinggal di rumah, mengurus anak yang masih kecil, atau membutuhkan pekerjaan yang lebih fleksibel.
Apapun keadaannya, mengutamakan keluarga bisa menjadi alasan yang tepat untuk meninggalkan pekerjaan. Sebagian besar perekrut akan memahami dan menghargai dedikasimu kepada keluarga.
Contoh jawaban:
"Pekerjaan saya sebelumnya membuat saya sering bepergian. Itu membuat saya semakin susah menyeimbangkan tanggung jawab saya di rumah setelah anak saya lahir. Sekarang, saya mencari pekerjaan yang lebih fleksibel, sehingga saya bisa lebih dekat dengan keluarga."
7. Masalah Pribadi
Kesehatan dan kehidupan pribadi begitu penting. Jadi, jika ada keadaan darurat mengenai masalah pribadi yang berpengaruh pekerjaan, hal ini bisa menjadi alasan untuk resign.
Contoh jawaban:
"Dulu saya sering bekerja pada shift malam, tapi kebiasaan itu mengganggu kesehatan saya sehingga saya harus berhenti. Sekarang, saya mencari pekerjaan yang sesuai dengan jam kerja siang hari."
Tulisan seputar penjelasan resign kerja ini semoga bisa memperluas peluang dan kesempatan kamu di dunia kerja.
JAKARTA, KOMPAS.com - Saat wawancara kerja, mengajukan pertanyaan memiliki dua fungsi. Pertama, ini adalah ajang Anda menunjukkan kepada HRD perusahaan bahwa Anda ingin diterima.
Kedua, mengajukan pertanyaan memberi Anda informasi yang dibutuhkan untuk memutuskan apakah Anda benar-benar menginginkan pekerjaan tersebut.
Dikutip dari CNBC, Minggu (25/8/2024), menurut Itu perekrut Google dan CEO perusahaan data gaji FairComp saat ini Nolan Church, kesalahan yang kerap terjadi adalah kandidat cenderung mengajukan pertanyaan yang sangat umum dan tidak penting yang bisa didapatkan secara daring.
Meskipun ini adalah pertanyaan yang relevan untuk mencari tahu apakah Anda menginginkan pekerjaan tersebut, wawancara kerja bukanlah waktu yang tepat untuk menanyakannya.
"Pertanyaan itu menunjukkan kepada saya bahwa Anda tidak ingin bekerja keras," kata Church.
Alih-alih menanyakan tentang misi perusahaan dan menunjukkan bahwa Anda sudah berusaha mencapai kesuksesan internal, Anda malah menanyakan berapa lama satu hari kerja.
"Itu tanda bahaya," tutur dia.
Menurut Church, pertanyaan ini harus diajukan setelah Anda menerima tawaran kerja. Itulah saat ketika Anda sudah mendapatkan pengaruh dan membuktikan bahwa Anda memiliki kemampuan untuk melakukan pekerjaan itu.
SHUTTERSTOCK/FIZKES Ilustrasi wawancara kerja atau interview kerja.
"Jika tidak, saya rasa Anda tidak berhak bertanya," ujar dia.
2. "Peluang pengembangan profesional apa yang ditawarkan perusahaan?"
Church menyatakan, ada beberapa masalah dengan pertanyaan ini.
Pertama, pertanyaan itu menunjukkan alih-alih memberi kesan bahwa Anda adalah pemain tim yang ingin memecahkan masalah dan memajukan semua orang, Anda membuatnya terdengar seperti Anda hanya peduli dengan kemajuan Anda sendiri.
Masalah lain dengan pertanyaan ini adalah pertanyaannya cukup luas. Hal ini tidak serta merta memaksa HRD perusahaan untuk memberikan contoh spesifik yang pada akhirnya dapat membantu Anda membuat keputusan.
"Pertanyaan yang samar akan memberikan jawaban yang samar," sebut Church.
"Pertanyaan yang bagus biasanya sangat spesifik, sangat relevan, dan sangat tepat waktu," katanya.
Alih-alih bertanya tentang pengembangan profesional, tanyakan tentang sifat unggul dari para pekerja terbaik di perusahaan tersebut. Itu akan memberi Anda gambaran tentang apa yang dapat Anda upayakan dan menunjukkan bahwa Anda ingin berhasil.
Sebab, jika jawaban yang diberikan terkesan aneh, bisa saja Anda kehilangan kesempatan bekerja di perusahaan impian.
"Bursa kerja benar-benar brutal dan sangat kompetitif. Jadi, saat wawancara kerja, Anda perlu menjawab dan mengatakan hal dengan benar," kata Joel Lalgee yang berpengalaman sebagai perekrut selama sekitar satu dekade, dikutip dari Business Insider, Jumat (9/8/2024).
SHUTTERSTOCK/FIZKES Ilustrasi wawancara kerja atau interview kerja.
Lalgee mengatakan, ia tidak menganjurkan untuk berbohong tentang keterampilan atau pengalaman. Namun, saat wawancara kerja, kandidat harus bersikap strategis tentang pesan yang mereka sampaikan.
Berikut beberapa "kebohongan demi kebaikan" yang disarankan Lalgee untuk dilakukan saat wawancara kerja.
1. Alasan Anda ingin bekerja di perusahaan itu
Lalgee menyatakan, semua orang tentu tahu alasan seseorang ingin bekerja di sebuah perusahaan adalah untuk menghasilkan uang, dan ini terutama berlaku untuk generasi muda.
Akan tetapi, Anda sebaiknya tidak menyebut soal gaji dalam jawaban saat ditanya alasan Anda ingin bekerja di perusahaan itu.
Menurut Lalgee, perusahaan harus berempati terhadap kesulitan keuangan dan inflasi yang tinggi.
Namun, ia memperingatkan bahwa menjadikan pekerjaan sebagai hal yang mengutamakan uang dapat menciptakan persepsi orang yang ingin pindah kerja demi gaji yang lebih tinggi.
Sebab, jika jawaban yang diberikan terkesan aneh, bisa saja Anda kehilangan kesempatan bekerja di perusahaan impian.
"Bursa kerja benar-benar brutal dan sangat kompetitif. Jadi, saat wawancara kerja, Anda perlu menjawab dan mengatakan hal dengan benar," kata Joel Lalgee yang berpengalaman sebagai perekrut selama sekitar satu dekade, dikutip dari Business Insider, Jumat (9/8/2024).
SHUTTERSTOCK/FIZKES Ilustrasi wawancara kerja atau interview kerja.
Lalgee mengatakan, ia tidak menganjurkan untuk berbohong tentang keterampilan atau pengalaman. Namun, saat wawancara kerja, kandidat harus bersikap strategis tentang pesan yang mereka sampaikan.
Berikut beberapa "kebohongan demi kebaikan" yang disarankan Lalgee untuk dilakukan saat wawancara kerja.
1. Alasan Anda ingin bekerja di perusahaan itu
Lalgee menyatakan, semua orang tentu tahu alasan seseorang ingin bekerja di sebuah perusahaan adalah untuk menghasilkan uang, dan ini terutama berlaku untuk generasi muda.
Akan tetapi, Anda sebaiknya tidak menyebut soal gaji dalam jawaban saat ditanya alasan Anda ingin bekerja di perusahaan itu.
Menurut Lalgee, perusahaan harus berempati terhadap kesulitan keuangan dan inflasi yang tinggi.
Namun, ia memperingatkan bahwa menjadikan pekerjaan sebagai hal yang mengutamakan uang dapat menciptakan persepsi orang yang ingin pindah kerja demi gaji yang lebih tinggi.
Daripada menyebutkan gaji saat ditanya tentang ketertarikan pada suatu pekerjaan, Lalgee menyarankan kandidat untuk menyiapkan jawaban yang menyoroti misi atau budaya perusahaan.
"Jika Anda benar-benar berkomitmen pada misi dan budaya, banyak orang akan percaya bahwa Anda akan lebih berdedikasi pada pekerjaan," sebut Lalgee.
2. Mengapa Anda meninggalkan perusahaan sebelumnya
Hal terburuk yang dapat dilakukan kandidat adalah berbicara tentang perusahaan sebelumnya atau saat ini, tutur Lalgee.
Dia mengatakan bahwa mudah untuk terbawa suasana saat Anda sedikit gugup.
"Itu akan selalu menjadi tanda bahaya saat mereka mempertimbangkan Anda dibandingkan kandidat lain," kata Lalgee.
Menurut dia, kandidat harus berbicara positif tentang pengalaman masa lalu sambil menambahkan bahwa mereka mencari tantangan baru. Jika seorang kandidat merasa harus jujur tentang pengalaman negatif, ia dapat mengatakan bahwa itu bukan kecocokan atau budaya.
Lalgee kemudian merekomendasikan untuk mengubah pembicaraan untuk menjelaskan bagaimana perusahaan saat ini lebih selaras dengan tujuan atau nilai yang dicari kandidat.
3. Rencana masa depan
Lalgee mengatakan, Anda mungkin tergoda untuk jujur ketika ditanya tentang rencana jangka panjang, apakah itu melanjutkan sekolah, menikah, atau berganti haluan karier.
Meski demikian, ketika HRD menanyakan hal ini, mereka ingin Anda berbicara tentang masa depan Anda di perusahaan, saran Lalgee. Ia menambahkan, rekrutmen itu mahal dan perusahaan tidak menginginkan orang yang akan mereka investasikan yang akhirnya akan keluar.
Lalgee mengatakan, HRD tidak boleh bertanya berapa gaji Anda. Pun jika mereka bertanya, Anda tidak boleh mengatakan yang sebenarnya.
"Sebaliknya, Anda harus menyebutkan kisaran gaji yang Anda targetkan," kata Lalgee.
Kandidat harus memberikan kisaran lebih dari apa yang mereka cari, saran Lalgee. Ia juga memperingatkan untuk tidak merendah dan pastikan angka awal adalah titik tengah Anda.
"Dengan begitu, jika mereka merendah, yang banyak mereka lakukan saat ini karena keadaan pasar, setidaknya Anda tidak benar-benar merendah," tutur Lalgee.
5. Apakah Anda sedang melamar di tempat lain
Lalgee mengatakan, jika Anda menyebut sedang melamar kerja atau diwawancarai di perusahaan lain, ini dapat memberi Anda kekuatan negosiasi.
"Kandidat harus menjawab "ya" atau mengatakan bahwa mereka "sedang dalam proses," ketika ditanya apakah mereka akan diwawancarai di tempat lain," sebut Lalgee
"Semakin banyak Anda diminati, semakin baik," imbuh dia.
Meskipun tidak perlu membagikan detail spesifik, Lalgee mengatakan dia belum pernah melihat strategi ini menjadi bumerang dan memperingatkan terhadap pendekatan sebaliknya dengan memberi tahu perusahaan bahwa semua telur Anda ada di keranjang mereka.
JAKARTA, KOMPAS.com - Selama wawancara kerja, Anda kemungkinan akan ditanya terkait alasan meninggalkan pekerjaan yang sebelumnya.
Anda harus menyiapkan jawaban yang jujur dan menggambarkan kondisi spesifik. Namun, sebaiknya menghindari kesan negatif.
Dilansir dari The Balance, Selasa (23/7/2024), alasan pertanyaan tersebut disampaikan HRD kepada pelamar lantaran ingin mengetahui apakah pelamar meninggalkan pekerjaan sebelumnya karena keinginan sendiri, diberhentikan atau alasan lainnya.
SHUTTERSTOCK/THECORGI Ilustrasi resign kerja, surat resign kerja yang diajukan one month notice.
Pertanyaan tersebut bisa menjadi sulit dijawab lantaran Anda meninggalkan pekerjaan dengan beberapa alasan seperti, jam kerja yang panjang dan tenggat waktu yang tidak memungkinkan.
Jika Anda tidak menjelaskan dengan hati-hati, Anda mungkin tampak malas sehingga HRD perusahaan menjadi tidak senang.
Berikut ini tips menjawab pertanyaan tentang alasan resign dari pekerjaan saat wawancara kerja.
1. Bersikap positif
Hindari mengeluh tentang perusahaan, rekan kerja, dan atasan sebagai alasan Anda meninggalkan pekerjaan sebelumnya. Tanggapan yang bebas dari emosi akan lebih baik dalam situasi ini.
Misalnya, Anda bisa menyampaikan alasan meniggalkan pekerjaan sebelumnya lantaran tertarik pada tantangan baru dan ingin menggunakan keterampilan dan pengalaman dengan cara yang berbeda dari sebelumnya.
2. Jujur dan bersikap strategis
SHUTTERSTOCK/FIZKES Ilustrasi wawancara kerja atau interview kerja.
Jika alasan resign adalah karena gaji, Anda bisa mulai dengan menjelaskan beberapa hal yang telah Anda capai, lalu beralihlah dengan mengatakan bahwa Anda mengalami hambatan dalam hal kemampuan untuk mencapai lebih banyak hal.
Anda akan mendapat nilai tambahan jika dapat mengaitkan jawaban dengan alasan mengapa pekerjaan yang Anda lamar lebih cocok lantaran Anda akan diberikan lebih banyak kesempatan.
3. Tidak perlu penjelasan yang panjang
Jika Anda meninggalkan pekerjaan sebelumnya lantaran dipecat, tidak perlu memberikan penjelasan panjang lebar tentang apa yang terjadi.
Contohnya, Anda bisa mengatakan bahwa pekerjaan itu tidak berjalan dengan baik, sehingga atasan sepakat bahwa sudah saatnya Anda dipindah ke posisi yang akan memberikan hasil yang lebih baik bagi perusahaan.
JAKARTA, KOMPAS.com - Para pelamar kerja pasti melewati tahap wawancara atau job interview setelah mengirimkan berkas kepada perusahaan yang dilamar.
Biasanya, manajemen atau HRD perusahaan menanyakan pertanyaan tentang manajemen waktu. Hal ini ditanyakan untuk mengetahui seberapa bisa pelamar kerja mengelola waktu serta memprioritaskan pekerjaan dengan tepat.
Salah satu pertanyaan yang muncul terkait manajemen waktu yaitu, "Bagaimana kamu memastikan pekerjaanmu selesai tepat waktu?". Kemudian pertanyaan lainnya seperti "Bagaimana kamu memprioritaskan proyek besar dapat selesai tepat waktu?".
Menurut The Balance Money, ada beberapa tips untuk menjawab pertanyaan tersebut sebagai berikut:
Prioritas harian
Kamu dapat mengatakan, akan membuat daftar tugas baru setiap hari kerja yang diurutkan berdasarkan tenggat waktu dan tingkat kepentingannya.
Pasalnya, kamu tahu bahwa hambatan atau pekerjaan tambahan dapat terjadi secara tidak terduga. Kamu juga dapat menjelaskan strategi lain untuk mengelola prioritas, seperti menggunakan perangkat lunak manajemen proyek, membuat pengingat di kalender, dan lainnya.
Bekerja lebih awal
Saat manajemen perusahaan atau HRD bertanya bagaimana kamu menangani proyek besar yang memiliki tenggat waktu, tekankan pemahamanmu tentang proses dan pentingnya bekerja lebih awal.
Misalnya, kamu bisa menjawab dengan bekerja lebih awal dari tenggat waktu saat merencanakan pendekatanmu terhadap sebuah proyek, memecahnya menjadi tugas-tugas yang lebih kecil dan menetapkan tenggat waktu mini untuk setiap tugas yang mengarah ke tanggal jatuh tempo keseluruhan proyek.
Dengan cara itu, kamu terus membuat kemajuan setiap hari, dan memastikan proyek selesai tepat waktu.
Pamerkan keterampilan komunikasi kamu
Manajemen perusahaan mungkin bertanya bagaimana kamu menangani situasi di mana kamu memiliki terlalu banyak tugas, tenggat waktu yang tumpang tindih, dan pekerjaan yang lebih banyak daripada yang dapat diselesaikan oleh satu orang.
Jawabannya di sini bukanlah bahwa kamu akan bekerja lebih keras. Sebaliknya, di sinilah kamu dapat berbicara tentang bagaimana kamu akan memberi tahu manajer bahwa kamu kewalahan, dan bersiap dengan solusi yang memungkinkan.
Demikian tips untuk menjawab pertanyaan terkait manajemen waktu saat wawancara kerja.