#30 tag 24jam
Doa saat Diteror Firaun
Firaun terus mengejar orang-orang yang menentangnya. [220] url asal
#firaun #ramses #piramida #zalim #pemimpin-zalim #islam
(Republika - Iqra) 24/08/24 19:01
v/14685365/
REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Nabi Musa Allaihissalam dan Bani Israil diburu oleh Firaun dan pasukannya karena menolak untuk tunduk. Saat dalam pengejaran Firaun, Nabi Musa menyeru pada Bani Israil untuk bertawakal kepada Allah SWT.
Artinya: Nabi Musa berkata "Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri," (Surat Yunus ayat 84).
Setelah nabi Musa menyeru bertawakal, Bani Israil kemudian berdoa. Ada dua doa yang dipanjatkan. Yakni memohon agar terhindar dari sasaran kaum yang zalim serta memohon keselamatan dari tipu daya orang kafir.
Artinya: Kepada Allah kami bertawakkal! Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sasaran fitnah bagi kaum yang zalim. (Surat Yunus ayat 85)
Bani Israil memohon pada Allah agar jangan sampai menjadi sasaran fitnah kaum yang zalim. Maksudnya agar jangan sampai Fir'aun dan tentaranya yang zalim itu mempunyai kesempatan berbuat keburukan kepada kaum nabi Musa dan Bani Israil. Setelah itu, bani Israil meneruskan doanya.
Artinya : dan selamatkanlah kami dengan rahmat Engkau dari (tipu daya) orang-orang yang kafir (surat Yunus ayat 86).
Ayat tersebut menggambarkan bahwa bani Israil mengharapkan rahmat Allah. Sebab hanya dengan rahmat Allah lah mereka dapat bisa selamat dari kejaran Fir'aun dan tentaranya yang kafir.
Allah memperkenankan doa-doa Bani Israil. Kemudian Allah menyelamatkan nabi Musa dan pengikutnya dan menenggelamkan Firaun dan tentaranya.
Tiga Bahaya Mengintai Pemimpin Zalim
Pemimpin yang zalim kepada rakyat tak hanya akan dilempar ke neraka. [477] url asal
#akibat-pemimpin-zalim #dosa-pemimpin-zalim #azab-pemimpin-zalim #siapakah-pemimpin-zalim
(Republika - Khazanah) 24/08/24 04:56
v/14607042/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sungguh berat beban seorang pemimpin. Sebab, pertanggungjawabannya tidak hanya di dunia yang fana ini, melainkan juga akhirat kelak.
Oleh karena itu, sifat amanah harus melekat pada dirinya. Allah SWT menebar ancaman kepada para pemimpin yang berbuat zalim kepada rakyat atau orang yang dipimpinnya.
Pertama, azab-Nya yang pedih. Ini dialamatkan kepada mereka yang terus-menerus menipu rakyat. Ingatlah bahwa Allah Mahamembuat perhitungan. Dia tak akan membiarkan penguasa yang zalim dan melampaui batas, tanpa balasan--baik di dunia maupun akhirat.
Nabi Muhammad SAW bersabda, "Siapapun pemimpin yang menipu rakyatnya, maka tempatnya di neraka” (HR Ahmad).
Neraka adalah seburuk-buruknya tempat kembali. Di sanalah orang-orang yang jauh dari ridha Allah memperoleh azab dan siksa. Bahkan, seperti disebut dalam sebuah hadis, siksaan paling ringan di sana adalah panas yang dapat membuat otak manusia mendidih.
Alquran memberi peringatan. “Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada sesama manusia dan melampaui batas di bumi tanpa (mengindahkan) kebenaran. Mereka itu mendapatkan siksa yang pedih” (QS asy-Syura: 42).
Seorang pemimpin yang zalim akan merasakan akibat dari perbuatannya pada Hari Pembalasan. Demikian pula, pemimpin yang adil akan menyaksikan hasil dari perbuatannya.
“Sungguh, manusia yang paling dicintai Allah pada Hari Kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah ialah pemimpin yang adil. Orang yang paling dibenci Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah pemimpin yang zalim” (HR Tirmidzi).
Hal kedua adalah, didoakan kesukaran. Rasulullah SAW sendiri yang mendoakan kesusahan bagi para penguasa yang menindas umat beliau.
“Ya Allah, siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku kemudian dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku dan memudahkan mereka, maka mudahkanlah dia,” demikian munajat beliau, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim.
Doa itu menyiratkan bahwa beliau menyebut adanya dua tipikal pejabat. Pertama, yang kerap menyusahkan rakyat. Selain itu, ada pula yang cenderung memudahkan hidup rakyat.
Semestinya, seorang pemimpin yang ingin selamat di dunia maupun akhirat berlomba-lomba masuk ke dalam kategori yang kedua. Ia pun seyogianya menjalankan tugas dengan baik dan seadil-adilnya. Bila ia terus berupaya, insya Allah, pertolongan dari-Nya akan datang.
Jika ia justru menyepelekan amanah, kesulitan akan menimpanya. “Tidaklah seseorang diamanahi memimpin suatu kaum kemudian ia meninggal dalam keadaan curang terhadap rakyatnya, maka diharamkan baginya surga” (HR Bukhari-Muslim).
Hal terakhir adalah dijauhi rakyat. Rasulullah SAW berpesan agar kaum Muslimin mematuhi pemimpin (ulil amri) dari kalangan mereka, selama pemimpin itu tidak menyuruh bermaksiat kepada Allah.
Jika rakyat diperintahkan untuk maksiat, maka hilanglah kewajiban untuk taat.
“Ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf,” sabda beliau, seperti diriwayatkan Imam Bukhari. Maka, pemimpin yang zalim akan cenderung dijauhi orang-orang yang masih berpegang teguh pada kebenaran.
Inilah pentingnya nasihat atau kritik. Kalangan ulama atau orang-orang berilmu dapat mengingatkan penguasa agar tetap amanah dan tak salah arah. Ujaran pun disampaikan dengan tegas, tetapi baik dan sopan. Tidak kemudian dibumbui niat ingin mempermalukan penguasa.
Tafsir Ayat Ini Jelaskan Cara Firaun Berkuasa
Kisah Firaun yang sempat berkuasa di Mesir diabadikan dalam Alquran. [718] url asal
#firaun #firaun-pemimpin-dzalim #kezaliman #islam #pemimpin-zalim
(Republika - Iqra) 23/08/24 14:00
v/14539441/
REPUBLIKA.CO.ID,KAIRO -- Kisah Firaun yang sempat berkuasa di Mesir diabadikan dalam Alquran sebagai pelajaran bagi umat manusia agar tidak berbuat zalim seperti Fir‘aun yang berakhir mati mengenaskan. Cara Fir‘aun berkuasa di Mesir adalah gambaran nyata dari para raja, penguasa dan pemimpin zalim dari masa ke masa, hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Surat Al-Qasas Ayat 4.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى الْاَرْضِ وَجَعَلَ اَهْلَهَا شِيَعًا يَّسْتَضْعِفُ طَاۤىِٕفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ اَبْنَاۤءَهُمْ وَيَسْتَحْيٖ نِسَاۤءَهُمْ ۗاِنَّهٗ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ
Inna fir‘auna ‘alā fil-arḍi wa ja‘ala ahlahā syiya‘ay yastaḍ‘ifu ṭā'ifatam minhum yużabbiḥu abnā'ahum wa yastaḥyī nisā'ahum, innahū kāna minal-mufsidīn(a).
Sesungguhnya Firʻaun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah. Dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil). Dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuannya. Sesungguhnya dia (Firʻaun) termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS Al-Qasas Ayat 4)
Pada ayat ini, Allah menerangkan kisah Fir‘aun yang berkuasa mutlak di negeri Mesir. Tidak ada satu kekuasaan pun yang lebih tinggi dari kekuasaannya. Apa saja yang disukai dan dikehendakinya harus terlaksana.
Semua rakyat tunduk dan patuh di bawah perintahnya sampai dia mengangkat dirinya menjadi tuhan. Dengan kekuasaan mutlak itu, ia dapat melakukan kezaliman dan penganiayaan dengan sewenang-wenang.
Pemerintahannya bukan berdasar keadilan dan akhlak yang mulia, tetapi berdasarkan kemauan dan keinginan semata. Politik yang dijalankannya adalah memecah belah kaumnya menjadi beberapa golongan.
Kemudian Fir‘aun menanamkan benih pertentangan dan permusuhan pada golongan-golongan itu agar dia tetap berkuasa terhadap mereka. Gerakan apapun yang dirasakan menentang kekuasaannya harus dibasmi dan dikikis habis.
Kalau ada berita atau isu yang mengatakan bahwa seseorang atau satu golongan berusaha untuk menumbangkan kekuasaan Fir‘aun atau mungkin menjadi sebab bagi kejatuhannya, pasti orang atau golongan itu dimusnahkannya.
Golongan yang dianggap setia dan selalu menunjang dan mengokohkan singgasananya akan dimuliakan. Mereka juga diberi berbagai macam fasilitas dan keistimewaan agar menjadi kuat dan jaya.
Fir‘aun telah menindas Bani Israil karena dianggap golongan yang berbahaya, bila dibiarkan pasti akan menggerogoti pemerintahannya. Dia memperlakukan golongan ini dengan sewenang-wenang, direndahkan dan dihinakan, serta dianggap sebagai golongan budak yang tidak mempunyai hak apa-apa.
Golongan ini bahkan dipaksa membangun piramida dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kasar dan berat lainnya. Apalagi setelah ia mendengar dari tukang-tukang tenungnya bahwa yang akan merobohkan kekuasaannya ialah Bani Israil. Semenjak itu Fir‘aun bertekad bulat untuk membasmi golongan ini.
Selain memperlemah dan memperbudak Bani Isra’il, Fir‘aun juga memutuskan setiap anak laki-laki yang lahir di kalangan Bani Israil harus dibunuh, tanpa belas kasihan. Ia tidak mempedulikan ratap tangis ibu yang kehilangan anak yang dikandungnya dengan susah payah selama sembilan bulan dan menjadi tumpuan harapannya.
Dengan tindakan ini, Fir‘aun menyangka bahwa Bani Israil akan punah dengan sendirinya karena tidak ada lagi keturunan anak laki-laki yang akan lahir dan berkembang. Adapun anak-anak perempuan dibiarkan hidup karena selain dianggap lemah dan tak mampu melawan, mereka juga digunakan sebagai pemuas nafsu.
Oleh karena itu, Allah mencap Fir‘aun sebagai orang yang berbuat kebinasaan di muka bumi.
Sebenarnya banyak cara lain yang tidak bertentangan dengan peri kemanusiaan yang dapat dilakukan Fir‘aun untuk menghalangi terjadinya apa yang ditakutkannya itu. Akan tetapi, karena hatinya sudah keras membatu dan pikirannya sudah gelap, tidak ada lagi jalan yang tampak olehnya kecuali membasmi semua anak laki-laki Bani Israil.
Fir‘aun lalu menyebarkan mata-mata ke seluruh pelosok negeri Mesir untuk menyelidiki semua perempuan. Bila ada di antara mereka yang hamil, langsung dicatat dan ditunggu masa melahirkannya. Bila yang dilahirkan anak perempuan akan dibiarkan saja, tetapi kalau yang dilahirkan anak laki-laki langsung diambil untuk dibunuh.
Apakah dengan tindakan itu Fir‘aun dapat mempertahankan ke-kuasaannya? Pasti tidak! Karena di balik kekuasaannya itu, ada kekuasaan yang jauh lebih perkasa yaitu kekuasaan Allah yang tak dapat dikalahkan oleh siapa pun. Dialah Maha Pencipta, Maha Kuasa, dan Maha Perkasa. Diriwayatkan oleh as-Suddi bahwa Fir‘aun bermimpi melihat api datang ke negerinya dari Baitul Maqdis. Api itu membakar rumah-rumah kaum Fir‘aun dan membiarkan rumah-rumah Bani Israil.
Lantas, Fir‘aun bertanya kepada orang-orang cerdik-pandai dan tukang-tukang tenung. Mereka menjawab bahwa takwil mimpi itu ialah akan lahir seorang anak laki-laki (dari Bani Israil) yang akan meruntuhkan kekuasaannya di Mesir. Takwil inilah yang mendorong Fir‘aun melakukan tindakan kejam dan ganas itu. (Tafsir Kementerian Agama RI)
Pemimpin Zalim dan Tanda Datangnya Kiamat
Islam menekankan pentingnya keadilan dalam kepemimpinan. [328] url asal
#zalim #pemimpin-zalim #kezaliman #islam #kiamat #tanda-kiamat
(Republika - Iqra) 23/08/24 14:00
v/14535627/
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Dalam berbagai tradisi agama dan kepercayaan, kemunculan pemimpin yang zalim sering dianggap sebagai salah satu tanda dari kiamat atau akhir zaman. Dalam Islam, misalnya, terdapat hadits-hadits yang menyebutkan bahwa salah satu tanda kiamat adalah munculnya para pemimpin yang tidak adil, korup, dan zalim.
Pemimpin-pemimpin ini disebut akan memperburuk keadaan dunia, mengabaikan keadilan, dan menindas rakyat. Disebutkan dalam kitab Kasyf al-Minan fi ‘Alamat as-Sa’ah wa al-Malahim wa al-Fitan karya Mahmud Rajab Hamady yang diterjemahkan oleh Ibnu Tirmidzi, di antara tanda-tanda kiamat yang dijelaskan Rasulullah SAW adalah munculnya pemerintah yang zalim.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Jika umurmu panjang, engkau akan segera melihat satu kaum membawa cambuk seperti ekor sapi di tangannya (pemimpin zalim), setiap pagi dan petang mereka dilaknati Allah SWT.” (HR Muslim).
Munculnya pemimpin zalim ini dilihat sebagai bagian dari ujian dan fitnah (cobaan) bagi umat manusia sebelum datangnya hari kiamat. Hadits-hadits juga menggambarkan bahwa pada masa-masa akhir ini, akan banyak terjadi kerusakan moral dan sosial yang disebabkan oleh para pemimpin yang tidak bertanggung jawab.
Dalam Shahih Al-Hakim disebutkan sebuah riwayat yang menyatakan bahwa orang-orang pilihan akan direndahkan, sedangkan orang-orang jahat akan diangkat juga menjadi salah satu tanda kiamat.
Hadits ini diriwayatkan dari Abdullah bin Amr RA secara marfu’: “Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat ialah orang-orang pilihan direndahkan, sedang orang-orang jahat diangkat.” (HR Al-Hakim).
Islam menekankan pentingnya keadilan dalam kepemimpinan, karena seorang pemimpin memegang tanggung jawab besar terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin yang tidak amanah dan berlaku zalim akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT di akhirat kelak.
Pemimpin yang zalim, yang mengabaikan keadilan dan hak-hak orang lain, diancam dengan hukuman berat, dan mereka bisa terhalang dari masuk surga jika tidak bertaubat dan memperbaiki kesalahan mereka sebelum mati.
عن معقل بن يسار رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم: ” ما من والٍ يلي رع ية من المسلمين ، فيموت وهو غاش لرعيته ، إلا حرم الله عليه الجنة ”
Artinya: “Barang siapa yang diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia tidak setia pada kesetiaannya, maka Allah haramkan surga baginya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Hadits Nabi SAW: Mengapa 'Melawan' Pemimpin Zalim adalah Jihad Paling Mulia?
Dampak pemimpin zalim sangat merusak tatanan masyarakat [569] url asal
#putusan-mk #putusan-mahkamah-konstitusi #putusan-mahkamah-kosntitusi #putusan-mk-pilkada #zalim #pemimpin-zalim #kezaliman-pemimpin #azab-penguasa-zalim
(Republika - Iqra) 22/08/24 21:25
v/14523938/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Rasulullah SAW menjelaskan tentang salah satu amalan baik yang agung dari jihad. Amalan tersebut adalah amar maruf nahi mungkar. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:
عن أبي سعيد الخدري أن النبي صلى الله عليه وسلم قال إن من أعظم الجهاد كلمة عدل عند سلطان جائر
Dari Abu Said Al Khudri RA, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya jihad yang paling agung adalah kalimat adil terhadap pemimpin yang zalim.” (HR Tirmidzi). Dalam riwayat lain menggunakan kata kalimat yang haq (kalimatu haqqin) dan kata amirin (pemimpin) menggantikan kata sulthan.
Makna jihad dalam hadits ini adalah amar makruf nahi munkar dan ibadah-ibadah lainnya dengan lisan. Perkataan yang benar, perkataan yang dilakukan dengan lisan. Ini bukan berarti menentang para pemimpin, tetapi menasihati mereka, sebagaimana sabda RasulullahSAW:
الدين النصيحة، قلنا: لمن؟ قال: لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم
“Agama adalah nasihat. Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau bersabda, “Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk para imam kaum muslimin, dan untuk masyarakat umum.” (HR Muslim).
Ini adalah salah satu jihad yang paling besar karena melibatkan risiko diri sendiri dan bersedia menanggung bahaya demi Allah, seperti yang dikatakan oleh Al-Khattabi dalam Maalim al-Sunnah:
“Ini adalah jihad yang paling utama, karena barangsiapa yang memerangi musuh dan ragu-ragu antara harapan dan ketakutan, maka ia tidak tahu apakah ia akan menang atau dikalahkan, sementara mereka para pemilik kekuasaan sangat digdaya, jika ia mengatakan kebenaran dan memerintahkannya untuk melakukan yang benar, ia akan membahayakan dirinya dan menjadikan dirinya sebagai sasaran kebinasaan, maka ini adalah jihad yang paling utama karena ketakutan yang sangat.”
Al-Thayibi, dalam tafsirnya atas Misykat, mengutip alasan lain yaitu karena kezaliman pemimpin berdampak pada semua orang yang berada di bawah kekuasaannya, yang jumlahnya banyak, maka jika ia menghentikannya dari kezaliman, ia akan memberi manfaat bagi banyak orang, tidak seperti membunuh seorang kafir.
Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, amar makruf nahi mungkar ini bukan berarti keluar untuk memerangi para pemimpin, akan tetapi mengubah kemungkaran dengan tangan selama tidak dilakukan dengan pedang dan peperangan, bukan berarti makar.
Jika tidak menimbulkan fitnah tetapi bahayanya hanya terbatas pada pelakunya dan tidak meluas kepada keluarga, sahabat, tetangga dan semisalnya, jika tidak, maka hal tersebut dilarang.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Rajab di dalam kitab Jami' al-'Ulum wa al-Hikam: “Perubahan dengan tangan tidak mengharuskan adanya peperangan, dan hal itu juga ditetapkan oleh Ahmad dalam riwayat yang benar dengan mengatakan, “Mengubah dengan tangan bukan dengan pedang dan senjata, dengan demikian (maksud) jihad kepada mara pemimpin dengan tangan adalah menghilangkan kemungkaran para pemimpin dengan tangannya, seperti menumpahkan minuman keras, merusak mesin-mesin permainan, dan sebagainya. Atau menghilangkan dengan tangan apa yang mereka perintahkan dari kezaliman, jika dia memiliki kemampuan untuk itu, kesemuanya diperbolehkan, dan ini bukan berarti memerangi mereka, dan juga tidak berarti makar yang dilarang. Ini paling banyak ditakuti adalah dia membunuh pemimpin sendiri. Sedangkan makar dengan mengangkat senjata, dikhawatirkan memicu huru-hara yang memicu pertumpahan darah umat Islam.”
Umat Islam...
Ketiga:
اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ
"Hindarilah kezaliman, karena kezaliman itu adalah mendatangkan kegelapan pada hari kiamat kelak! Jauhilah kekikiran, karena kekikiran itu telah mencelakakan (menghancurkan) orang-orang sebelum kalian yang menyebabkan mereka menumpahkan darah dan menghalalkan yang diharamkan." (HR Muslim)
Keempat:
مَنْ ظَلَمَ قِيدَ شِبْرٍ طُوِّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِينَ "Siapa yang pernah berbuat aniaya sejengkal saja (dalam perkara tanah) maka nanti dia akan dibebani (dikalungkan pada lehernya) tanah dari tujuh bumi." (HR Bukhari)
Kelima:
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى ثَلَاثَةٌ أَنَا خَصْمُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَجُلٌ أَعْطَى بِي ثُمَّ غَدَرَ وَرَجُلٌ بَاعَ حُرًّا فَأَكَلَ ثَمَنَهُ وَرَجُلٌ اسْتَأْجَرَ أَجِيرًا فَاسْتَوْفَى مِنْهُ وَلَمْ يُعْطِهِ أَجْرَهُ
"Allah Ta'ala berfirman, “Ada tiga jenis orang yang aku berperang melawan mereka pada hari kiamat, seseorang yang bersumpah atas namaku lalu mengingkarinya, seseorang yang berjualan orang merdeka lalu memakan (uang dari) harganya dan seseorang yang mempekerjakan pekerja kemudian pekerja itu menyelesaikan pekerjaannya namun tidak dibayar upahnya." (HR Bukhari)
Sumber: alukah
Firaun Berjalan di depan Para Pengikutnya Masuk ke Neraka
Firaun telah melakukan kerusakan di muka bumi. [298] url asal
#firaun #pemimpin-dzalim #dzalim #kedzaliman #penguasa-dzalim #zalim
(Republika - Iqra) 22/08/24 15:51
v/14522785/
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Alquran menjelaskan bahwa Firaun telah melakukan kerusakan di muka bumi, dan memimpin pengikutnya melakukan kedurhakaan serta kekufuran. Di akhirat kelak, Firaun akan berjalan di depan para pengikutnya dan membawa mereka masuk ke dalam neraka.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يَقْدُمُ قَوْمَهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فَاَوْرَدَهُمُ النَّارَ ۗوَبِئْسَ الْوِرْدُ الْمَوْرُوْدُ
Yaqdumu qaumahū yaumal-qiyāmati fa auradahumun-nār(a), wa bi'sal-wirdul-maurūd(u).
(Fir‘aun) berjalan di depan kaumnya di hari Kiamat, lalu membawa mereka masuk neraka. Itulah seburuk-buruk tempat yang dimasuki. (QS Hud Ayat 98)
Ayat di atas mengandung arti, Firaun kelak berjalan di depan kaumnya di hari Kiamat, sebagaimana yang ia lakukan ketika di dunia, memimpin kaumnya dalam kekufuran dan kedurhakaan, lalu Firaun membawa mereka masuk ke dalam neraka untuk merasakan pedihnya siksaan itu. Neraka yang penuh siksaan dan penderitaan itu adalah seburuk-buruk tempat yang dimasuki Firaun beserta para pengikutnya.
Tafsir Kementerian Agama menerangkan, dalam ayat ini dijelaskan bahwa Fir‘aun telah merusak di muka bumi dan menyesatkan kaumnya di dunia. Pada ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa di akhirat nanti, Firaun akan mengantar kaumnya ke tempat yang telah disediakan untuk mereka.
Firaun berjalan di depan dan kaumnya yang mengiringinya dari belakang sehingga mereka sampai ke neraka, lalu mereka dijebloskan ke dalamnya bersama-sama.
Alangkah celaka dan meruginya Fir‘aun dan kaumnya, karena neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi, bahkan sejak mereka meninggalkan dunia ini, tiap hari, pagi dan petang neraka itu selalu ditampakkan kepada mereka sebagaimana firman Allah SWT.
"Maka Allah memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, sedangkan Fir‘aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang sangat buruk. Kepada mereka diperlihatkan neraka, pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Lalu kepada malaikat diperintahkan), 'Masukkanlah Fir‘aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras!'" (QS Al-Mu'min Ayat 45-46)
Empat Pemimpin Zalim yang Diazab Tragis dan di Luar Nalar
Pemimpin seperti ini cenderung menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi [967] url asal
#abu-lahab #pemimpin-zalim #pemimpin-dzalim #para-pemimpin-zalim #kezaliman-pemimpin #qarun #kisah-qarun #kisah-firaun #azab-bagi-firaun #azab-yang-amat-pedih
(Republika - Khazanah) 22/08/24 15:26
v/14525480/
REPUBLIKA.CO.ID,Dalam sejarah Islam, terdapat beberapa pemimpin dan tokoh yang dikenal sebagai orang zalim dan diberi azab yang tragis oleh Allah SWT. Para pemimpin zalim ini menjalankan kekuasaannya dengan cara yang tidak adil, sewenang-wenang, dan menindas rakyatnya.
Pemimpin seperti ini cenderung menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu, tanpa memedulikan kesejahteraan, hak, dan keadilan bagi rakyat yang dipimpinnya. Tindakan zalim dapat berupa penindasan, kekerasan, pelanggaran hak asasi manusia, korupsi, serta pengambilan keputusan yang merugikan banyak orang.
Dalam sejarah, pemimpin zalim sering kali diingat karena kekejamannya, penindasan terhadap rakyat, dan tindakan tidak manusiawi lainnya yang mereka lakukan selama masa kekuasaan mereka. Akibatnya, mereka sering dianggap sebagai contoh buruk dalam kepemimpinan dan moralitas, dan dalam beberapa kasus, mereka diyakini mengalami akhir hidup yang tragis atau mendapatkan hukuman baik di dunia maupun di akhirat.
Berikut daftar pemimpin atau orang zalim yang diazab dengan tragis:
1. Fir'aun (Ramses II)
Fir'aun adalah penguasa Mesir yang menentang Nabi Musa dan memperbudak Bani Israil. Dia terkenal karena kezaliman dan kesombongannya. Dalam kisah Alquran, Fir'aun dan pasukannya tenggelam di Laut Merah ketika mereka mengejar Nabi Musa dan umatnya yang melarikan diri dari Mesir.
Puncak kezaliman penguasa Mesir kuno ini adalah ketika klaim dirinya sebagai tuhan. Dia berkata:
أَنَارَبُّكُمُالْأَعْلَىٰ
Artinya: "Aku tuhanmu yang paling tinggi." (QS an-Nazi'at: 24).
Di penghujung hidupnya, Raja zalim ini pun bernasib tragis. Ia tenggelam di laut Merah saat mengejar Nabi Musa dan kaum Bani Israil. Menjelang kematiannya, ia baru berserah diri dan mengakui Tuhan yang diimani oleh Bani Israil. “Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan (yang berkuasa dan berhak disembah) selain (Tuhan) yang telah dipercayai oleh Bani Israil dan aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri kepada-Nya),” (QS. Yunus [10]: 90).
Bahkan, dalam hadits riwayat at-Tirmidzi dari Ibnu Abbas, dikisahkan bahwa Firaun nyaris saja mengucap kalimat tauhid Lailahaillallah. Namun, karena kekesalannya, malaikat Jibril segera menjejali mulut Firaun dengan lumpur laut. Sehingga ia gagal beriman dan mengakui ketuhanan Allah.
2. Namrud
Namrud adalah raja yang berkuasa di Babilonia dan dikenal sebagai penguasa yang sangat zalim. Dia menantang Allah dan mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Menurut riwayat, Namrud diazab dengan seekor nyamuk yang masuk ke dalam hidungnya dan menggerogoti otaknya hingga dia meninggal dengan sangat menyakitkan.
Raja Namrud juga mengaku berkuasa atas kehidupan seseorang. Semasa hidupnya, dia bahkan mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Karena itulah Allah mengazabnya dengan cara yang tragis.
Dikisahkan bahwa Allah mengirimkan malaikat untuk memberi peringatan kepada raja Namrud yang diktator. Namun, hingga tiga kali peringatan diberikan, Namrud tetap menentang Allah SWT. Hingga malaikat pun menantang Namrud untuk mengumpulkan semua pasukannya.
Dalam buku 40 Kisah Akhir Hidup Kezaliman Makhluk-Makhluk Allah diceritakan, pada hari yang ditentukan, Raja Namrud kemudian mengumpulkan seluruh pasukan dengan seluruh kekuatannya, di sebuah tempat yang sangat luas. Allah lalu memerintahkan kepada malaikat yang menjadi utusan-Nya untuk membuka satu pintu yang menjadi jalan bagi datangnya nyamuk-nyamuk.
Selanjutnya, Allah mengirim nyamuk-nyamuk tersebut untuk menyerbu pasukan Namrud. Nyamuk itu menggigit kulit hingga tembus ke dalam daging dan membuat para pasukan Namrud tewas.
Sementara Namrud masih selamat dan menyaksikan kekalahan pasukannya oleh nyamuk. Tetapi, Allah mengirim nyamuk masuk ke lubang hidung Namrud. Nyamuk itu hidup dan tinggal di dalamnya selama 400 tahun. Hal itu membuat Namrud hidup penuh kesengsaraan karena nyamuk yang bersarang di kepalanya.
Namrud hidup seperti orang yang tidak waras. Setiap hari ia memukuli kepalanya sendiri dengan palu, hingga membuat orang merasa iba dan kasihan terhadapnya. Selama 400 tahun, Namrud hidup penuh penderitaan hingga kemudian dia tewas secara tragis.
Qarun dan Abu Lahab..
3. Qarun
Qarun adalah seorang yang sangat kaya raya pada zaman Nabi Musa, namun dia sangat sombong dan zalim. Crazy Rich ini dikenal karena keangkuhannya dan ketidaktaatannya terhadap perintah Allah. Alquran menyebutkan bahwa Qarun beserta kekayaannya ditelan oleh bumi sebagai azab atas kesombongannya.
Allah SWT berfirman bahwa Qarun menjadi tiran terhadap semua orang Bani Israil. Teman dekat Firaun ini juga merupakan salah satu orang yang banyak melakukan dosa pada masa Musa.
Dikutip dalam buku "40 Kisah Akhir Hidup Kezaliman Makhluk-Makhluk Allah", meskipun memiliki harta yang melimpah ruah, Qarun adalah manusia yang pelit dan kikir. Dia tidak mampu mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT.
Dengan harta kekayaan yang luar biasa banyak itu, Qarun justru menjelma menjadi manusia yang sangat sombong dan pongah. Dia merasa semua yang dimiliki adalah hasil usahanya sendiri.
Karena kekikiran dan kesombongannya, Allah SWT pun akhirnya menurunkan azab pada Qarun. Ia lenyap ditelan bumi bersama seluruh hartanya yang sangat banyak. Tokoh zalim ini pun mati dengan tragis.
4. Abu Lahab
Abu Lahab adalah paman Nabi Muhammad yang sangat menentang dakwah Islam dan kerap berbuat zalim. Dia dikenal karena kebenciannya yang besar terhadap Nabi dan umat Islam. Dalam Alquran, terdapat satu surah khusus yang menjelaskan kebinasaan Abu Lahab, yaitu Surah Al-Lahab. Dia meninggal dalam keadaan mengenaskan akibat penyakit yang parah, di mana tubuhnya penuh dengan bisul yang pecah-pecah.
Kematian Abu Lahab terjadi setelah Perang Badar. Saat itu, ia tidak mengikuti pertempuran tersebut. Dengan menyetor 4.000 dirham, dia meminta seorang temannya, al-Ashi bin Hisyam, untuk menggantikannya di medan perang.
Perang Badar lalu berakhir dengan kekalahan yang memalukan dari pihak musyrikin Quraisy. Sepekan setelah itu, Abu Lahab menderita sakit parah. Dia pun meregang nyawa dan tewas.
Jasadnya diabaikan orang-orang tiga hari berturut-turut. Bau busuk menyeruak. Para tetangganya memutuskan untuk menggali sebuah lubang besar dan memasukkan mayat Abu Lahab ke dalam boks kayu. Dimasukkanlah peti kayu dan isinya itu ke dalam lubang tersebut.
Cara menguburkannya begitu merepotkan. Orang-orang tidak tahan dengan bau busuk yang keluar dari jasad Abu Lahab, sehingga mereka memasukkan peti tadi dari kejauhan. Sesudah itu, lubang tadi dilempari dengan kerikil dan tanah sampai rata.
Itulah kisah empat tokoh zalim yang biasa dikemukakan. Tokoh-tokoh ini sering disebut dalam sejarah Islam sebagai contoh-contoh orang yang zalim dan mengalami akhir hidup yang tragis sebagai akibat dari perbuatan mereka.
Deretan Penguasa Zalim yang Diazab Tragis
Dalam sejarah Islam, dikenal beberapa penguasa yang zalim. [964] url asal
#azab #azab-penguasa-zalim #penguasa-zalim #islam-melarang-zalim #kezaliman #islam
(Republika - Khazanah) 22/08/24 13:22
v/14525483/
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Dalam sejarah Islam, terdapat beberapa pemimpin dan tokoh yang dikenal sebagai orang zalim dan diberi azab yang tragis oleh Allah SWT. Para pemimpin zalim ini menjalankan kekuasaannya dengan cara yang tidak adil, sewenang-wenang, dan menindas rakyatnya.
Pemimpin seperti ini cenderung menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu, tanpa memedulikan kesejahteraan, hak, dan keadilan bagi rakyat yang dipimpinnya. Tindakan zalim dapat berupa penindasan, kekerasan, pelanggaran hak asasi manusia, korupsi, serta pengambilan keputusan yang merugikan banyak orang.
Dalam sejarah, pemimpin zalim sering kali diingat karena kekejamannya, penindasan terhadap rakyat, dan tindakan tidak manusiawi lainnya yang mereka lakukan selama masa kekuasaan mereka. Akibatnya, mereka sering dianggap sebagai contoh buruk dalam kepemimpinan dan moralitas, dan dalam beberapa kasus, mereka diyakini mengalami akhir hidup yang tragis atau mendapatkan hukuman baik di dunia maupun di akhirat.
Berikut deretan pemimpin atau orang zalim yang diazab dengan tragis:
1. Fir'aun (Ramses II)
Fir'aun adalah penguasa Mesir yang menentang Nabi Musa dan memperbudak Bani Israil. Dia terkenal karena kezaliman dan kesombongannya. Dalam kisah Alquran, Fir'aun dan pasukannya tenggelam di Laut Merah ketika mereka mengejar Nabi Musa dan umatnya yang melarikan diri dari Mesir.
Puncak kezaliman penguasa Mesir kuno ini adalah ketika klaim dirinya sebagai tuhan. Dia berkata:
أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ
Artinya: "Aku tuhanmu yang paling tinggi." (QS an-Nazi'at: 24).
Di penghujung hidupnya, Raja zalim ini pun bernasib tragis. Ia tenggelam di laut Merah saat mengejar Nabi Musa dan kaum Bani Israil. Menjelang kematiannya, ia baru berserah diri dan mengakui Tuhan yang diimani oleh Bani Israil. “Aku percaya bahwa tidak ada tuhan (yang berkuasa dan berhak disembah) selain (Tuhan) yang telah dipercayai oleh Bani Israil dan aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri kepada-Nya),” (QS. Yunus [10]: 90).
Bahkan, dalam hadits riwayat at-Tirmidzi dari Ibnu Abbas, dikisahkan bahwa Firaun nyaris saja mengucap kalimat tauhid Lailahaillallah. Namun, karena kekesalannya, malaikat Jibril segera menjejali mulut Firaun dengan lumpur laut. Sehingga ia gagal beriman dan mengakui ketuhanan Allah.
2. Namrud
Namrud adalah raja yang berkuasa di Babilonia dan dikenal sebagai penguasa yang sangat zalim. Dia menantang Allah dan mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Menurut riwayat, Namrud diazab dengan seekor nyamuk yang masuk ke dalam hidungnya dan menggerogoti otaknya hingga dia meninggal dengan sangat menyakitkan.
Raja Namrud juga mengaku berkuasa atas kehidupan seseorang. Semasa hidupnya, dia bahkan mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Karena itulah Allah mengazabnya dengan cara yang tragis.
Dikisahkan bahwa Allah mengirimkan malaikat untuk memberi peringatan kepada raja Namrud yang diktator. Namun, hingga tiga kali peringatan diberikan, Namrud tetap menentang Allah SWT. Hingga malaikat pun menantang Namrud untuk mengumpulkan semua pasukannya.
Dalam buku "40 Kisah Akhir Hidup Kezaliman Makhluk-Makhluk Allah" diceritakan, pada hari yang ditentukan, Raja Namrud kemudian mengumpulkan seluruh pasukan dengan seluruh kekuatannya, di sebuah tempat yang sangat luas. Allah lalu memerintahkan kepada malaikat yang menjadi utusan-Nya untuk membuka satu pintu yang menjadi jalan bagi datangnya nyamuk-nyamuk.
Selanjutnya, Allah mengirim nyamuk-nyamuk tersebut untuk menyerbu pasukan Namrud. Nyamuk itu menggigit kulit hingga tembus ke dalam daging dan membuat para pasukan Namrud tewas.
Sementara Namrud masih selamat dan menyaksikan kekalahan pasukannya oleh nyamuk. Tetapi, Allah mengirim nyamuk masuk ke lubang hidung Namrud. Nyamuk itu hidup dan tinggal di dalamnya selama 400 tahun. Hal itu membuat Namrud hidup penuh kesengsaraan karena nyamuk yang bersarang di kepalanya.
Namrud hidup seperti orang yang tidak waras. Setiap hari ia memukuli kepalanya sendiri dengan palu, hingga membuat orang merasa iba dan kasihan terhadapnya. Selama 400 tahun, Namrud hidup penuh penderitaan hingga kemudian dia tewas secara tragis.
3. Qarun
Qarun adalah seorang yang sangat kaya raya pada zaman Nabi Musa, namun dia sangat sombong dan zalim. Crazy Rich ini dikenal karena keangkuhannya dan ketidaktaatannya terhadap perintah Allah. Alquran menyebutkan bahwa Qarun beserta kekayaannya ditelan oleh bumi sebagai azab atas kesombongannya.
Allah SWT berfirman bahwa Qarun menjadi tiran terhadap semua orang Bani Israil. Teman dekat Firaun ini juga merupakan salah satu orang yang banyak melakukan dosa pada masa Musa.
Dikutip dalam buku "40 Kisah Akhir Hidup Kezaliman Makhluk-Makhluk Allah", meskipun memiliki harta yang melimpah ruah, Qarun adalah manusia yang pelit dan kikir. Dia tidak mampu mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT.
Dengan harta kekayaan yang luar biasa banyak itu, Qarun justru menjelma menjadi manusia yang sangat sombong dan pongah. Dia merasa semua yang dimiliki adalah hasil usahanya sendiri.
Karena kekikiran dan kesombongannya, Allah SWT pun akhirnya menurunkan azab pada Qarun. Ia lenyap ditelan bumi bersama seluruh hartanya yang sangat banyak. Tokoh zalim ini pun mati dengan tragis.
4. Abu Lahab
Abu Lahab adalah paman Nabi Muhammad yang sangat menentang dakwah Islam dan kerap berbuat zalim. Dia dikenal karena kebenciannya yang besar terhadap Nabi dan umat Islam. Dalam Alquran, terdapat satu surah khusus yang menjelaskan kebinasaan Abu Lahab, yaitu Surah Al-Lahab. Dia meninggal dalam keadaan mengenaskan akibat penyakit yang parah, di mana tubuhnya penuh dengan bisul yang pecah-pecah.
Kematian Abu Lahab terjadi setelah Perang Badar. Saat itu, ia tidak mengikuti pertempuran tersebut. Dengan menyetor 4.000 dirham, dia meminta seorang temannya, al-Ashi bin Hisyam, untuk menggantikannya di medan perang.
Perang Badar lalu berakhir dengan kekalahan yang memalukan dari pihak musyrikin Quraisy. Sepekan setelah itu, Abu Lahab menderita sakit parah. Dia pun meregang nyawa dan tewas.
Jasadnya diabaikan orang-orang tiga hari berturut-turut. Bau busuk menyeruak. Para tetangganya memutuskan untuk menggali sebuah lubang besar dan memasukkan mayat Abu Lahab ke dalam boks kayu. Dimasukkanlah peti kayu dan isinya itu ke dalam lubang tersebut.
Cara menguburkannya begitu merepotkan. Orang-orang tidak tahan dengan bau busuk yang keluar dari jasad Abu Lahab, sehingga mereka memasukkan peti tadi dari kejauhan. Sesudah itu, lubang tadi dilempari dengan kerikil dan tanah sampai rata.
Itulah kisah empat tokoh zalim yang biasa dikemukakan. Tokoh-tokoh ini sering disebut dalam sejarah Islam sebagai contoh-contoh orang yang zalim dan mengalami akhir hidup yang tragis sebagai akibat dari perbuatan mereka.
Jika Membantu Penguasa Berbuat Zalim, Ingat Ancaman Rasulullah Ini
Bukan golongan Rasulullah jika membenarkan kebohongan penguasa. [257] url asal
#zalim #penguasa-zalim #islam #rasulullah-saw #pemimpin-zalim #hadits
(Republika - Iqra) 22/08/24 09:35
v/14522786/
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Nabi Muhammad SAW sudah mengetahui gambaran yang akan terjadi di masa mendatang setelah beliau wafat. Sehubungan dengan itu, Rasulullah SAW memperingatkan bahwa setelah beliau wafat, akan muncul para penguasa zalim.
Rasulullah SAW berpesan, siapapun yang berkunjung kepada penguasa, kemudian membenarkan kebohongannya dan membantu kezalimannya, maka mereka bukan termasuk golongan Nabi Muhammad SAW. Mereka yang membenarkan kebohongan penguasa dan membantu kezaliman penguasa, tidak akan mendapat air dari telaga Nabi Muhammad SAW di akhirat.
Demikian peringatan dan ancaman Rasulullah SAW bagi orang-orang yang mendukung penguasa yang zalim dan membenarkan kebohongan penguasa.
صحيح ابن حبان ٢٧٩: أَخْبَرَنَا أَبُو يَعْلَى، قَالَ: حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ إِسْحَاقَ الْهَمْدَانِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ، عَنْ مِسْعَرٍ، عَنْ أَبِي حَصِينٍ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ عَاصِمٍ الْعَدَوِيِّ، عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ، قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ تِسْعَةٌ: خَمْسَةٌ وَأَرْبَعَةٌ، أَحَدُ الْفَرِيقَيْنِ مِنَ الْعَرَبِ، وَالآخَرُ مِنَ الْعَجَمِ، فَقَالَ: اسْمَعُوا، أَوْ هَلْ سَمِعْتُمْ، إِنَّهُ يَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ، فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ، فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ، وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَلَيْسَ مِنِّي، وَلَسْتُ مِنْهُ، وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ، وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ، وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ، وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الْحَوْضَ.
Abu Ya’la mengabarkan kepada kami, dia berkata Harun bin Ishaq Al Hamdani menceritakan kepada kami, dia berkata Muhammad bin Abdul Wahhab menceritakan kepada kami dari Mis’ar dari Abi Hashin dari Asy-Sya’bi dari Ashim Al Adawi dari Ka’ab bin Ujrah.
Ka’ab bin Ujrah berkata, "Suatu ketika, Rasulullah SAW keluar menemui kami. Saat itu kami berjumlah sembilan orang, berlima dan berempat. Satu golongan terdiri dari orang Arab, sedangkan golongan yang lain dari kalangan non-Arab."
"Rasulullah SAW bersabda, 'Dengarkan oleh kalian, atau apakah kalian mendengar bahwa sesungguhnya setelah aku (wafat), akan muncul para penguasa. Siapa yang berkunjung kepada mereka, lalu membenarkan mereka dengan kebohongan mereka dan membantu mereka terhadap kezaliman mereka maka ia bukan termasuk golonganku, aku bukan bagian dari dirinya, dan tidak memperoleh aliran air telagaku. Siapa tidak membenarkan mereka dengan kebohongan mereka, dan tidak membantu kezaliman mereka, niscaya ia termasuk golonganku dan aku adalah bagian dari dirinya, dan kelak ia memperoleh air telagaku'." (Shahih Ibnu Hibban)
Doa Agar Firaun dan Kelompok Dzalimnya Binasa: Tafsir Surat Yunus Ayat 88
Alquran surat Yunus ayat 88 membahas soal doa Nabi Musa AS kepada Allah. [637] url asal
#firaun #nabi-musa #surat-yunus #islam #doa #makkah #doa-firaun-binasa #pemimpin-dzalim #zalim #kezaliman
(Republika - Iqra) 22/08/24 05:27
v/14522790/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Alquran surat Yunus ayat 88 membahas soal doa Nabi Musa AS kepada Allah. Yakni, agar membinasakan Firaun dan kelompoknya yang zalim dan berbuat sewenang-wenang. Berikut ini adalah surat Yunus ayat 88 dan tafsirnya yang dikutip dari quran.kemenag.go.id.
وَقَالَ مُوْسٰى رَبَّنَآ اِنَّكَ اٰتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَاَهٗ زِيْنَةً وَّاَمْوَالًا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ رَبَّنَا لِيُضِلُّوْا عَنْ سَبِيْلِكَۚ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلٰٓى اَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوْا حَتّٰى يَرَوُا الْعَذَابَ الْاَلِيْمَ
wa qâla mûsâ rabbanâ innaka âtaita fir‘auna wa mala'ahû zînataw wa amwâlan fil-ḫayâtid-dun-yâ, rabbanâ liyudlillû ‘an sabîlik, rabbanathmis ‘alâ amwâlihim wasydud ‘alâ qulûbihim fa lâ yu'minû ḫattâ yarawul-‘adzâbal-alîm
Musa berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberikan kepada Fir‘aun dan para pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan (yang banyak) dalam kehidupan dunia. Ya Tuhan kami, (akibat pemberian itu) mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Mu. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka dan kunci matilah hati mereka sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat azab yang sangat pedih.”
Tafsir Yūnus Ayat 88
وَقَالَ مُوْسٰى رَبَّنَآ اِنَّكَ اٰتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَاَهٗ زِيْنَةً وَّاَمْوَالًا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ رَبَّنَا لِيُضِلُّوْا عَنْ سَبِيْلِكَ ۚرَبَّنَا اطْمِسْ عَلٰٓى اَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوْا حَتّٰى يَرَوُا الْعَذَابَ الْاَلِيْمَ
Tafsir Ringkas Kemenag
Setelah membuat beberapa rumah untuk tinggal dan ibadah para pengikutnya, Nabi Musa berkata, yakni berdoa, “Ya Tuhan kami, Engkau telah memberikan kepada Fir'aun dan para pemuka kaumnya perhiasan yang banyak dan harta kekayaan yang berlimpah dalam kehidupan dunia, tetapi mereka tidak pernah bersyukur kepada-Mu. Ya Tuhan kami, dengan anugerah yang banyak itu, mereka justru menyesatkan manusia dari jalan-Mu. Ya Tuhan, binasakanlah harta mereka, dan kuncilah hati mereka, karena mereka telah mengunci hati mereka dari kebenaran, sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat dan merasakan azab yang pedih di dunia dan akhirat sebagai balasan kezaliman mereka.”
Dalam ayat ini dijelaskan pembangkangan dan perbuatan sewenang-wenang Fir‘aun dan pemuka-pemuka kaumnya, kecemasan dan ketakutan Bani Israil, dan pengaduan Musa kepada Allah tentang nikmat yang melimpah yang diberikan kepada Fir‘aun dan kaumnya seperti perhiasan emas permata, pakaian kebesaran yang mewah, dan kekayaan lainnya, namun segala nikmat yang diberikan Allah itu justru menjadikan mereka sesat dari jalan Allah.
Bahkan mereka bertambah sombong dan berbuat aniaya di atas harta kekayaan itu. Allah seakan membiarkan mereka dalam kesesatan sehingga mereka tidak beriman.
Lalu Nabi Musa mendoakan kehancuran Fir‘aun dan pemuka-pemuka kaumnya dengan alasan sebagai berikut: Pertama, Kufur terhadap nikmat Allah. Suatu kenyataan bahwa Fir‘aun dan pemuka-pemuka kaumnya memiliki kekuasaan dan kekuatan yang besar.
Di samping itu, ilmu pengetahuan dan teknologi mencapai puncaknya di zaman Fir‘aun di Mesir. Barang-barang peninggalan Fir‘aun, baik yang terdapat di museum Mesir ataupun di Eropa dan Amerika, menunjukkan ketinggian peradaban dan kebudayaan mereka. Demikian pula benda-benda purbakala dan bangunan-bangunan kuno yang terdapat di Mesir.
Dalam pemerintahan, Fir‘aun memegang kekuasaan mutlak bahkan kepada rakyatnya dia mengaku dirinya sebagai tuhan. Kedua, Menolak kebenaran. Kenyataan menunjukkan bahwa Fir‘aun dan pemuka-pemuka kaumnya telah jauh meninggalkan nilai-nilai moral kemanusiaan dan agama. Hak asasi manusia tidak dihargainya. Mereka hidup dalam kemewahan, di atas derita rakyat.
Musa a.s. telah berupaya membawa Fir‘aun dan pembesar-pembesarnya ke jalan Allah, dengan menunjukkan bukti-bukti kerasulannya. Dia berikan ajaran tentang kebenaran, keadilan, nasehat dan peringatan siksa Allah, dan malapetaka, akibat perbuatannya. Akan tetapi seruan Musa tidak mendapat sambutan yang baik bahkan mendapat tantangan serta permusuhan. Dengan demikian kemungkinan untuk menyeru Fir‘aun dan kaumnya ke jalan Allah telah tertutup serta keimanan mereka tidak dapat diharapkan lagi.
Membiarkan Fir‘aun dan pembesar-pembesarnya dengan kekuasaan, kejayaan dan kekuatannya yang besar sedangkan prinsip dasar hidup mereka jauh lebih rendah dari nilai-nilai moral kemanusiaan dan agama, sangat membahayakan perdamaian dunia dan kesejahteraan umat manusia. Mereka dengan kekuatan dan kekuasaannya, berbuat maksiat dan kerusakan di muka bumi, mengancam keselamatan umat manusia.
Oleh karena itu, Nabi Musa memanjatkan doa kepada Allah untuk kebahagiaan umat manusia, agar Allah melumpuhkan kekuatan Fir‘aun dengan membiarkan mereka dalam kesesatan, sebab kesesatan mereka akan mengakibatkan kehancuran mereka sendiri. Nabi Harun sebagai pembantu utama Nabi Musa, mengamini doa Nabi Musa itu
Doa Agar Firaun dan Kelompok Zalimnya Binasa: Tafsir Surat Yunus Ayat 88
Alquran surat Yunus ayat 88 membahas soal doa Nabi Musa AS kepada Allah. [637] url asal
#firaun #nabi-musa #surat-yunus #islam #doa #makkah #doa-firaun-binasa #pemimpin-dzalim #zalim #kezaliman
(Republika - Iqra) 22/08/24 05:27
v/14522789/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Alquran surat Yunus ayat 88 membahas soal doa Nabi Musa AS kepada Allah. Yakni, agar membinasakan Firaun dan kelompoknya yang zalim dan berbuat sewenang-wenang. Berikut ini adalah surat Yunus ayat 88 dan tafsirnya yang dikutip dari quran.kemenag.go.id.
وَقَالَ مُوْسٰى رَبَّنَآ اِنَّكَ اٰتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَاَهٗ زِيْنَةً وَّاَمْوَالًا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ رَبَّنَا لِيُضِلُّوْا عَنْ سَبِيْلِكَۚ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلٰٓى اَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوْا حَتّٰى يَرَوُا الْعَذَابَ الْاَلِيْمَ
wa qâla mûsâ rabbanâ innaka âtaita fir‘auna wa mala'ahû zînataw wa amwâlan fil-ḫayâtid-dun-yâ, rabbanâ liyudlillû ‘an sabîlik, rabbanathmis ‘alâ amwâlihim wasydud ‘alâ qulûbihim fa lâ yu'minû ḫattâ yarawul-‘adzâbal-alîm
Musa berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberikan kepada Fir‘aun dan para pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan (yang banyak) dalam kehidupan dunia. Ya Tuhan kami, (akibat pemberian itu) mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Mu. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka dan kunci matilah hati mereka sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat azab yang sangat pedih.”
Tafsir Yūnus Ayat 88
وَقَالَ مُوْسٰى رَبَّنَآ اِنَّكَ اٰتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَاَهٗ زِيْنَةً وَّاَمْوَالًا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ رَبَّنَا لِيُضِلُّوْا عَنْ سَبِيْلِكَ ۚرَبَّنَا اطْمِسْ عَلٰٓى اَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوْا حَتّٰى يَرَوُا الْعَذَابَ الْاَلِيْمَ
Tafsir Ringkas Kemenag
Setelah membuat beberapa rumah untuk tinggal dan ibadah para pengikutnya, Nabi Musa berkata, yakni berdoa, “Ya Tuhan kami, Engkau telah memberikan kepada Fir'aun dan para pemuka kaumnya perhiasan yang banyak dan harta kekayaan yang berlimpah dalam kehidupan dunia, tetapi mereka tidak pernah bersyukur kepada-Mu. Ya Tuhan kami, dengan anugerah yang banyak itu, mereka justru menyesatkan manusia dari jalan-Mu. Ya Tuhan, binasakanlah harta mereka, dan kuncilah hati mereka, karena mereka telah mengunci hati mereka dari kebenaran, sehingga mereka tidak beriman sampai mereka melihat dan merasakan azab yang pedih di dunia dan akhirat sebagai balasan kezaliman mereka.”
Dalam ayat ini dijelaskan pembangkangan dan perbuatan sewenang-wenang Fir‘aun dan pemuka-pemuka kaumnya, kecemasan dan ketakutan Bani Israil, dan pengaduan Musa kepada Allah tentang nikmat yang melimpah yang diberikan kepada Fir‘aun dan kaumnya seperti perhiasan emas permata, pakaian kebesaran yang mewah, dan kekayaan lainnya, namun segala nikmat yang diberikan Allah itu justru menjadikan mereka sesat dari jalan Allah.
Bahkan mereka bertambah sombong dan berbuat aniaya di atas harta kekayaan itu. Allah seakan membiarkan mereka dalam kesesatan sehingga mereka tidak beriman.
Lalu Nabi Musa mendoakan kehancuran Fir‘aun dan pemuka-pemuka kaumnya dengan alasan sebagai berikut: Pertama, Kufur terhadap nikmat Allah. Suatu kenyataan bahwa Fir‘aun dan pemuka-pemuka kaumnya memiliki kekuasaan dan kekuatan yang besar.
Di samping itu, ilmu pengetahuan dan teknologi mencapai puncaknya di zaman Fir‘aun di Mesir. Barang-barang peninggalan Fir‘aun, baik yang terdapat di museum Mesir ataupun di Eropa dan Amerika, menunjukkan ketinggian peradaban dan kebudayaan mereka. Demikian pula benda-benda purbakala dan bangunan-bangunan kuno yang terdapat di Mesir.
Dalam pemerintahan, Fir‘aun memegang kekuasaan mutlak bahkan kepada rakyatnya dia mengaku dirinya sebagai tuhan. Kedua, Menolak kebenaran. Kenyataan menunjukkan bahwa Fir‘aun dan pemuka-pemuka kaumnya telah jauh meninggalkan nilai-nilai moral kemanusiaan dan agama. Hak asasi manusia tidak dihargainya. Mereka hidup dalam kemewahan, di atas derita rakyat.
Musa a.s. telah berupaya membawa Fir‘aun dan pembesar-pembesarnya ke jalan Allah, dengan menunjukkan bukti-bukti kerasulannya. Dia berikan ajaran tentang kebenaran, keadilan, nasehat dan peringatan siksa Allah, dan malapetaka, akibat perbuatannya. Akan tetapi seruan Musa tidak mendapat sambutan yang baik bahkan mendapat tantangan serta permusuhan. Dengan demikian kemungkinan untuk menyeru Fir‘aun dan kaumnya ke jalan Allah telah tertutup serta keimanan mereka tidak dapat diharapkan lagi.
Membiarkan Fir‘aun dan pembesar-pembesarnya dengan kekuasaan, kejayaan dan kekuatannya yang besar sedangkan prinsip dasar hidup mereka jauh lebih rendah dari nilai-nilai moral kemanusiaan dan agama, sangat membahayakan perdamaian dunia dan kesejahteraan umat manusia. Mereka dengan kekuatan dan kekuasaannya, berbuat maksiat dan kerusakan di muka bumi, mengancam keselamatan umat manusia.
Oleh karena itu, Nabi Musa memanjatkan doa kepada Allah untuk kebahagiaan umat manusia, agar Allah melumpuhkan kekuatan Fir‘aun dengan membiarkan mereka dalam kesesatan, sebab kesesatan mereka akan mengakibatkan kehancuran mereka sendiri. Nabi Harun sebagai pembantu utama Nabi Musa, mengamini doa Nabi Musa itu
Viral Peringatan Darurat, Ini Doa Rasulullah Spesial untuk Pemimpin Zalim
Doa ini diucapkan Rasulullah untuk pejabat yang mempersulit rakyatnya. [618] url asal
#peringatan-darurat #peringatan-darurat-mk #putusan-mk-dianulir #anulir-putusan-mk #mahkamah-konstitusi #gambar-peringatan-darurat #doa-rasulullah-pemimpin-zalim #pemimpin-yang-zalim #doa-untuk-pemimpi
(Republika - Iqra) 21/08/24 22:57
v/14521083/
REPUBLIKA.CO.ID, Jagad maya pada Rabu (21/8/2024), ramai 'menyuarakan' alarm tanda bahaya menyikapi langkahDPR menggelar rapat pembahasan RUU Pilkada sehari setelah Mahkamah Konstitusi (MK) mengeluarkan putusan terkait persyaratan pencalonan calon kepala daerah. DPR dinilai melakukan akrobat politik untuk menafikkan putusan MKNomor 60/PUU-XXII/2024 mengubah syarat pengusungan pasangan calon pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2024.
Salah satu isi putusan tersebut, partai politik atau gabungan partai politik boleh mengusung pasangan calon gubernur dan wakil gubernur (cagub-cawagub) Jakarta dengan syarat 7,5 persen suara sah pemilu terakhir.
Gambar 'Peringatan Darurat' muncul pada Rabu siang dengan ilustrasi lambang garuda berlatar warna biru. Seiring dengan viralnya gambar 'Peringatan Darurat' itu, tagar #KawalPutusanMK menjadi topik trending bahkan di dunia.
Islam mengajarkan, para pemimpin di manapun berada hendaknya selalu takut kepada Allah SWT.Jika mindset ini menjadi fondasi kepemimpinannya, kerusakan dan segala bentuk kezaliman itu tidak akan terjadi. Ridha-Nya adalah tujuan utamanya.
عن ابن عمر رضي الله عنهماعن النبى - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - انه قَالَ – أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رعيته وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ ألا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Dari Ibnu Umar RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: "Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara adalah pemimpin atas rakyatnya dan akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin atas anggota keluarganya dan akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang istri adalah pemimpin atas rumah tangga dan anak-anaknya dan akan ditanya perihal tanggung jawabnya. Seorang pembantu rumah tangga adalah bertugas memelihara barang milik majikannya dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya atas pertanggungjawabannya." (HR Muslim).
Doa Rasulullah untuk pejabat yang mempersulit rakyat..
Seorang pemimpin negara maupun pejabat mengemban tugas mulia dan tanggung jawab yang besar dalam mengurusi rakyat di berbagai aspek kehidupan. Namun apa jadinya jika seorang pejabat justru malah mempersulit kehidupan rakyat?
Diriwayatkan dari Aisyah RA, disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah menyampaikan sebuah doa yang dikhususkan untuk orang-orang yang memegang jabatan. Dalam Shahih Muslim, Aisyah RA meriwayatkan bahwa dirinya pernah mendengar Rasulullah SAW mengucapkan doa di rumahnya. Beliau SAW berdoa sebagaimana berikut ini:
اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِن أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ، فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِن أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ، فَارْفُقْ بِهِ
Latin:
Allahumma man waliya min amri ummati syai'an fa syaqqo 'alaihim fasyquq 'alaihi, wa man waliya min amri ummati syai'an farofaqo bihim farfuq bihi
Terjemahan:
"Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan untuk mengurusi umatku lalu dia mempersulit mereka, maka persulit jugalah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan untuk mengurusi umatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia." (HR. Muslim).
Hadits tersebut memberikan petunjuk bahwa jabatan di pemerintahan yang diemban oleh seseorang merupakan amanah berdasarkan nilai dan kemampuan yang disertai ilmu dan pemahaman.
Jika seseorang yang memiliki jabatan yang dengannya dia memiliki kewenangan dan tanggung jawab, lalu malah mempersulit kehidupan rakyatnya, maka celakalah pula ia dalam berbagai urusannya sebagai balasan.
Sebaliknya, bila seseorang telah diberi amanah atau tanggung jawab memimpin rakyat lalu dengannya dia memberi pertolongan kepada rakyatnya sesuai perintah Allah dan rasul-Nya, maka urusan yang dihadapi dalam hidupnya juga akan diberi pertolongan.
Al Rifqu dalam hadits tersebut berarti memimpin rakyat dengan penuh ketakwaan kepada Allah dan mengikuti tuntunan rasul-Nya serta bersikap baik kepada rakyat. Tidak menyulitkan rakyat dan justru memberi kemudahan kepada rakyatnya.
Hadits itu juga mengandung doa untuk mempermudah urusan seorang pejabat sebagaimana ia memberikan kemudahan kepada rakyat. Dalam hadits itu juga terkandung peringatan untuk tidak mempersulit kehidupan rakyat, dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Juga berusaha mencegah datangnya kesulitan yang didera rakyat, serta tidak lalai terhadap keadaan rakyat.
Nabi Muhammad SAW bersabda, "Pekerjaan (pada sebuah jabatan pemerintahan) itu adalah amanah, yang pada hari kiamat kelak dipertanggungjawabkan dengan risiko penuh kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang memenuhi syarat dan dapat melaksanakan tugas yang diembankan kepadanya dengan baik." (HR Muslim).
Generasi saleh terdahulu selalu memegang hal tersebut. Merenungkan apa saja hak-hak yang mereka miliki, menjaga amanah yang diberikan, dan mengatasi berbagai ketidakadilan yang dialami orang-orang.