Seiring kemajuan teknologi, kini semakin banyak merek mobil yang berseliweran di jalanan. Jika dahulu didominasi merek asal Jepang, tapi kini mulai muncul berbagai merek yang berasal dari China, Korea, hingga Eropa.
Dari sekian banyak pabrikan mobil, beberapa di antaranya berhasil meraih kesuksesan. Bahkan, sejumlah merek berhasil masuk ke dalam daftar perusahaan mobil terbesar di dunia per 2024.
Merek ternama seperti Toyota, Honda, atau Mercedes-Benz sudah dipastikan masuk ke dalam daftar ini. Selain itu, beberapa pabrikan mobil seperti Tesla, Ford, hingga BYD berhasil meraih predikat tersebut.
Penasaran, apa saja perusahaan mobil terbesar di dunia per 2024? Simak selengkapnya dalam artikel ini.
Perusahaan Mobil Terbesar di Dunia per 2024
Mengutip laman Investopedia, tercatat ada 10 perusahaan mobil terbesar di dunia per 2024. Hal itu berdasarkan pendapatan (revenue) perusahaan selama 12 bulan yang dihitung sejak 21 Desember 2022.
Simak daftar lengkap perusahaan mobil terbesar di dunia berikut ini:
1. Volkswagen
Volkswagen menempati urutan pertama sebagai perusahaan mobil terbesar di dunia. Merek asal Jerman itu berhasil meraih pendapatan sebesar US$ 284,34 miliar.
Volkswagen memproduksi berbagai jenis kendaraan, mulai dari mobil, bus, hingga truk. Di Indonesia, mobil Volkswagen yang cukup terkenal ada Tiguan, Golf, hingga Beetle.
Volkswagen sendiri memiliki anak perusahaan, yakni Audi dan Porsche. Kedua merek tersebut fokus dalam mengembangkan dan memproduksi mobil kelas mewah dan mesin bertenaga kencang.
2. Toyota
Toyota berhasil meraih pendapatan senilai US$ 270,58 miliar, sehingga menjadikannya salah satu pabrikan mobil terbesar di dunia. Tak heran jika Toyota masuk ke daftar ini karena penjualannya begitu laris manis di banyak negara.
Toyota juga memiliki anak perusahaan, yakni Daihatsu dan Lexus. Khusus Lexus, mereka memproduksi kendaraan mewah dari berbagai tipe, mulai dari sedan, MPV, SUV, hingga kendaraan listrik.
3. Stellantis
Perusahaan yang satu ini mungkin jarang didengar oleh masyarakat Indonesia. Namun jika menyebut merek seperti Peugeot, Citroen, Opel, hingga Jeep, sebagian detikers mungkin sudah tahu.
Yap, keempat merek di atas merupakan anak perusahaan dari Stellantis. Selain itu, perusahaan itu juga memiliki anak perusahaan lainnya, mulai dari Dodge, Vauxhall, RAM, FIAT, Alfa Romeo, Lancia, Maserati, dan Chrysler.
Banyaknya anak perusahaan yang dimiliki Stellantis membuat revenue yang didapat sangatlah besar, yakni mencapai US$ 181,58 miliar. Sedikit informasi, Stellantis adalah perusahaan otomotif multinasional yang berdiri pada 2021 lewat kerja sama Groupe PSA (Prancis) dan Fiat Chrysler Automobiles (Italia-AS).
4. Mercedes-Benz
Di posisi keempat ada Mercedes-Benz. Pabrikan asal Jerman itu berhasil meraih pendapatan sebesar US$ 156,23 miliar.
Mercedes-Benz dikenal sebagai produsen mobil mewah yang hadir untuk berbagai tipe, mulai dari sedan, SUV, hingga kendaraan listrik. Tak hanya itu, perusahaan ini juga memiliki divisi yang fokus di ajang balap mobil, yaitu AMG.
5. Ford Motor
Ford menempati urutan kelima sebagai pabrikan mobil terbesar di dunia. Total revenue yang didapat mencapai US$ 151,74 miliar.
Pabrikan asal Amerika Serikat ini memproduksi berbagai tipe kendaraan, mulai dari SUV, van, hingga truk. Beberapa mobil Ford yang populer ada Mustang dan F-150.
6. General Motors (GM)
General Motors merupakan produsen mobil multinasional yang berbasis di Detroit, Amerika Serikat. GM memiliki sejumlah anak perusahaan mulai dari Chevrolet, Cadillac, BUICK, dan GMC.
GM berhasil meraih pendapatan hingga mencapai US$ 147,21 miliar, sehingga menjadikannya salah satu pabrikan mobil asal AS yang sukses di dunia.
7. Honda
Di daftar selanjutnya ada Honda. Pabrikan asal Jepang ini berhasil meraih revenue sebesar US$ 126,17 miliar.
Honda fokus dalam menghadirkan berbagai tipe mobil, mulai dari sedan, SUV, hatchback, hingga MPV. Di Tanah Air, beberapa mobil Honda yang banyak berseliweran di jalanan di antaranya Honda Brio, CR-V, BR-V, HR-V, hingga Mobilio.
8. Tesla
Selain Ford dan GM, ada satu lagi pabrikan mobil asal AS yang masuk ke dalam daftar ini, yaitu Tesla. Perusahaan yang dipimpin oleh Elon Musk ini meraih pendapatan sebesar US$ 74,86 miliar.
Berbeda dengan pabrikan lainnya, Tesla fokus dalam mengembangkan kendaraan listrik. Beberapa model Tesla yang terkenal di antaranya ada Model Y, Model 3, dan Model S.
9. Nissan
Di tempat kesembilan ada Nissan yang berhasil meraih pendapatan senilai US$ 73,73 miliar. Nissan menjadi salah satu dari tiga pabrikan mobil asal Jepang yang masuk ke daftar ini, selain Toyota dan Honda.
Di Indonesia, beberapa mobil Nissan yang cukup populer ada Nissan Serena dan Nissan Livina. Lalu, Nissan juga memiliki divisi yang fokus dalam memproduksi mobil mewah, yakni Infiniti.
10. BYD
Di urutan terakhir ada BYD, menjadikannya salah satu merek otomotif asal China yang berhasil masuk ke dalam daftar ini. BYD berhasil meraih pendapatan sebesar US$ 51,37 miliar, padahal pabrikan ini baru dibentuk pada 2003 silam.
Saat ini, BYD tengah fokus dalam mengembangkan kendaraan listrik yang mumpuni dengan harga terjangkau. Beberapa tipe BYD yang populer di Indonesia yakni ada BYD Atto 3 dan BYD Seal.
Perusahaan yang berbasis di Shenzhen, China, itu juga memproduksi kendaraan listrik komersial seperti bus. Bahkan, bus listrik BYD telah digunakan oleh TransJakarta untuk mengangkut penumpang.
Itu dia 10 daftar perusahaan terbesar di dunia per 2024. Punya salah satu merek mobil di atas?
JAKARTA, KOMPAS.com - China benar-benar melakukan ekspansi besar-besaran di sektor otomotif dengan mengekspor banyak kendaraan ke berbagai negara. Bahkan, China tercatat berhasil menjadi pengekspor kendaraan terbesar pada 2023 dan kemungkinan besar di tahun ini.
Dikutip dari Carscoops.com, Kamis (8/8/2024), China mampu mengalahkan Jepang dalam jumlah ekspor kendaraan. Berdasarkan data dari Japan Automobile Manufacturers Association (JAMA), pada semester I/2024, total ekspornya mencapai 2,02 juta unit.
Jumlah tersebut menurun 0,3 persen dibandingkan tahun lalu. Detailnya sendiri terdiri dari 1,83 juta kendaraan penumpang dan 187.000 kendaraan niaga.
Dok. Asia.nikkei.com Kapal pengangkut mobil (car carrier) milik BYD yang bernama BYD Explorer No. 1
Selama periode Januari-Juni, pabrikan dari Tiongkok mengekspor lebih dari 2,79 juta kendaraan. Jumlah ini mengalami peningkatan 31 persen dan terdiri dari 2,34 juta kendaraan penumpang dan 450.000 kendaraan niaga.
Tercatat ada lima perusahaan otomotif raksasa di China yang memiliki jumlah ekspor terbesar pada semester I/2024, yakni Chery Automobile dengan 532.000 unit, SAIC Motor Corp dengan 439.000 unit, Changan Automobile Co dengan 285.000 unit, Geely dengan 242.000 unit, dan BYD dengan 207.000 unit.
Dok. Insideevs.com Ekspor mobil listrik BYD dari China ke berbagai negara di Eropa, Timur Tengah, dan Asia
Tahun lalu, merek otomotif China berhasil membukukan jumlah ekspor sebesar 5,26 juta unit. Jika China mampu mempertahankan penjualannya, bukan tidak mungkin pada akhir tahun ini jumlah ekspornya mencapai 5,58 juta unit.
Pada pasar otomotif nasional, jumlah pabrikan China juga terus bertambah, mulai dari Wuling, DFSK, Chery, Great Wall Motor, Neta, BYD, Jaecoo, GAC Aion, dan BAIC. Mayoritas memasarkan kendaraan elektrifikasi, baik mobil hybrid maupun mobil listrik.
BYD telah menyetujui kesepakatan senilai USD1 miliar untuk mendirikan pabrik baru di Turki yang akan mampu memproduksi hingga 150.000 kendaraan per tahun. Pabrikan... | Halaman Lengkap [322] url asal
JAKARTA - Pabrikan mobil listrik terbesar di China, BYD, telah menyetujui kesepakatan senilai USD1 miliar, sekitar Rp16 triliun (kurs Rp16.000 per USD) untuk mendirikan pabrik manufaktur di Turki. Pabrik baru tersebut akan mampu memproduksi hingga 150.000 kendaraan per tahun.
Mengutip BBC, Selasa (9/7/2024), fasilitas tersebut diharapkan dapat menciptakan sekitar 5.000 lapangan pekerjaan dan memulai produksi pada akhir tahun 2026. Kesepakatan tersebut ditandatangani di sebuah acara di Istanbul yang dihadiri oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan dan Chief Executive BYD Wang Chuanfu.
Pengumuman tersebut muncul saat produsen kendaraan listrik China menghadapi tekanan dari Uni Eropa (UE) dan AS. Minggu lalu, UE menaikkan tarif impor untuk kendaraan listrik China. Keputusan tersebut membuat BYD dikenai tarif tambahan sebesar 17,4% atas kendaraan yang dikirimnya dari China ke UE, yang merupakan tambahan dari bea masuk sebesar 10%.
Sementara itu, Turki adalah bagian dari Serikat Pabean UE. Hal itu berarti kendaraan yang dibuat di negara tersebut dan diekspor ke Eropa dapat terhindar dari tarif tambahan. Untuk diketahui, Pemerintah Turki sebelumnya juga telah mengambil tindakan untuk mendukung produsen mobil lokal dengan mengenakan tarif tambahan sebesar 40% atas impor kendaraan China. Belum ada tanggapan dari BYD terkait hal itu.
BYD, yang didukung oleh investor veteran AS Warren Buffett, merupakan perusahaan mobil listrik terbesar kedua di dunia setelah Tesla milik Elon Musk. Perusahaan tersebut telah memperluas fasilitas produksinya dengan cepat di luar China.
Akhir tahun lalu, BYD mengumumkan akan membangun pabrik di negara anggota UE, Hongaria. Pabrik ini akan menjadi pabrik mobil penumpang pertama di Eropa dan diharapkan dapat menciptakan ribuan lapangan kerja. Perusahaan tersebut juga berencana untuk membangun pabrik di Meksiko.
Kamis (4/7), BYD membuka pabrik kendaraan listrik di Thailand - pabrik pertamanya di kawasan Asia Tenggara. BYD menyatakan pabrik tersebut akan memiliki kapasitas tahunan sebesar 150.000 kendaraan dan diproyeksikan akan menghasilkan 10.000 lapangan kerja. Di Indonesia, BYD juga berencana membangun pabrik di Subang. Pabrik tersebut diharapkan mulai beroperasi pada tahun 2026 mendatang.
BYD telah menyetujui kesepakatan senilai USD1 miliar untuk mendirikan pabrik baru di Turki yang akan mampu memproduksi hingga 150.000 kendaraan per tahun. Pabrikan... [322] url asal
JAKARTA - Pabrikan mobil listrik terbesar di China, BYD, telah menyetujui kesepakatan senilai USD1 miliar, sekitar Rp16 triliun (kurs Rp16.000 per USD) untuk mendirikan pabrik manufaktur di Turki. Pabrik baru tersebut akan mampu memproduksi hingga 150.000 kendaraan per tahun.
Mengutip BBC, Selasa (9/7/2024), fasilitas tersebut diharapkan dapat menciptakan sekitar 5.000 lapangan pekerjaan dan memulai produksi pada akhir tahun 2026. Kesepakatan tersebut ditandatangani di sebuah acara di Istanbul yang dihadiri oleh Presiden Recep Tayyip Erdogan dan Chief Executive BYD Wang Chuanfu.
Pengumuman tersebut muncul saat produsen kendaraan listrik China menghadapi tekanan dari Uni Eropa (UE) dan AS. Minggu lalu, UE menaikkan tarif impor untuk kendaraan listrik China. Keputusan tersebut membuat BYD dikenai tarif tambahan sebesar 17,4% atas kendaraan yang dikirimnya dari China ke UE, yang merupakan tambahan dari bea masuk sebesar 10%.
Sementara itu, Turki adalah bagian dari Serikat Pabean UE. Hal itu berarti kendaraan yang dibuat di negara tersebut dan diekspor ke Eropa dapat terhindar dari tarif tambahan. Untuk diketahui, Pemerintah Turki sebelumnya juga telah mengambil tindakan untuk mendukung produsen mobil lokal dengan mengenakan tarif tambahan sebesar 40% atas impor kendaraan China. Belum ada tanggapan dari BYD terkait hal itu.
BYD, yang didukung oleh investor veteran AS Warren Buffett, merupakan perusahaan mobil listrik terbesar kedua di dunia setelah Tesla milik Elon Musk. Perusahaan tersebut telah memperluas fasilitas produksinya dengan cepat di luar China.
Akhir tahun lalu, BYD mengumumkan akan membangun pabrik di negara anggota UE, Hongaria. Pabrik ini akan menjadi pabrik mobil penumpang pertama di Eropa dan diharapkan dapat menciptakan ribuan lapangan kerja. Perusahaan tersebut juga berencana untuk membangun pabrik di Meksiko.
Kamis (4/7), BYD membuka pabrik kendaraan listrik di Thailand - pabrik pertamanya di kawasan Asia Tenggara. BYD menyatakan pabrik tersebut akan memiliki kapasitas tahunan sebesar 150.000 kendaraan dan diproyeksikan akan menghasilkan 10.000 lapangan kerja. Di Indonesia, BYD juga berencana membangun pabrik di Subang. Pabrik tersebut diharapkan mulai beroperasi pada tahun 2026 mendatang.