#30 tag 24jam
IHSG Berpotensi Melemah Hari Ini (7/11), Cek Rekomendasi Sahamnya dari Analis
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbang sehari setelah pemilihan presiden Amerika Serikat (AS), Rabu (6/11) [452] url asal
#ihsg #donald-trump #rekomendasi-saham #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #market-amp-rekomendasi
(Kontan - Investasi ) 07/11/24 08:05
v/17643735/
Reporter: Rashif Usman | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbang sehari setelah pemilihan presiden Amerika Serikat (AS), Rabu (6/11). IHSG anjlok 1,44% atau 108,06 poin ke 7.383,87 hingga akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Analis Sinarmas Sekuritas Eddy Wijaya menerangkan pada perdagangan Kamis (7/11) IHSG berpeluang melanjutkan pelemahan dengan menguji support EMA200 7.351 dan next support 7.286.
"Resistance terdekat 7.450–7.491. Dynamic Support 7.230, diharapkan mampu menopang pergerakan IHSG," kata Eddy kepada Kontan, Rabu (6/11) malam.
Sementara itu, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan, posisi IHSG saat ini sedang berada pada bagian dari wave v dari wave (c) dari wave [iv].
"Hal tersebut berarti, IHSG masih rawan terkoreksi ke 7.342," tulis Herditya dalam risetnya, Kamis (7/11).
Herditya memproyeksikan IHSG hari ini berada di level support 7.341, 7.207 dan resistance 7.449, 7.595.
Berikut beberapa rekomendasi saham untuk perdagangan hari ini dari MNC Sekuritas
1. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)
AMRT terkoreksi 4,86% ke 3,130 disertai dengan munculnya volume penjualan. Herditya memperkirakan, posisi AMRT sedang berada di akhir wave (a) dari wave [iv], sehingga koreksinya relatif terbatas dan berpeluang menguat kembali.
- Rekomendasi: Buy on weakness Rp 3.040-Rp 3.090
- Target harga: Rp 3.190, Rp 3.350
- Stoploss: Di bawah Rp 2.950
2. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN)
CPIN menguat 3,57% ke 5,075 disertai dengan munculnya volume pembelian, penguatannya pun mampu menembus MA20. Herditya memperkirakan, posisi CPIN sedang berada di awal wave (iii) dari wave [iii], sehingga CPIN berpeluang melanjutkan penguatannya.
- Rekomendasi: Buy on weakness Rp 5.000-Rp 5.050
- Target harga: Rp 5.150, Rp 5.300
- Stoploss: Di bawah Rp 4.890
3. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA)
MDKA terkoreksi 1,30% ke 2,270 dan masih didominasi oleh volume penjualan. Herditya memperkirakan, posisi MDKA sedang berada di akhir wave c dari wave (b), sehingga koreksinya relatif terbatas dan berpeluang menguat.
- Rekomendasi: Speculative buy Rp 2.250-Rp 2.270
- Target harga: Rp 2.400, Rp 2.490
- Stoploss: Di bawah Rp 2.220
4. PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA)
MIKA menguat 2,25% ke 2,730 disertai dengan munculnya volume pembelian. Selama masih mampu berada diatas 2,650 sebagai stoplossnya, maka posisi MIKA diperkirakan sedang berada di awal wave (iv) dari wave [i] pada skenario hitam.
- Rekomendasi: Buy on weakness Rp 2.700-Rp 2.720
- Target harga: Rp 2.860, Rp 2.930
- Stoploss: Di bawah Rp 2.650
Kemenangan Trump di Pemilu AS 2024 dan Imbasnya ke Ekonomi Indonesia Halaman all
Donald Trump menang di Pemilu AS 2024. Adakah imbasnya bagi ekonomi Indonesia? Ini ulasannya. Halaman all?page=all [747] url asal
#donald-trump #prabowo-subianto #perang-dagang #pemilu-as-2024
(Kompas.com) 07/11/24 08:05
v/17662313/
DONALD Trump dipastikan memenangi Pemilu Amerika Serikat (AS) 2024. Dia akan menjadi Presiden AS untuk kali kedua.
Lalu, adakah imbasnya bagi Indonesia, terutama di bidang ekonomi?
Jawabannya, ada. Bahkan, imbasnya diprediksi cukup signifikan. Ada sejumlah dimensi pula. Imbas ini juga bisa dibagi untuk jangka pendek serta jangka menengah dan panjang.
"Kemenangan Trump ini bagi Indonesia lebih banyak ke aspek keuangan (dan) moneter," ujar Direktur Eksekutif The Prakarsa, Ah Maftuchan, Rabu (6/11/2024).
Secara umum, kata dia, kebijakan ekonomi dan dagang Trump akan mementingkan ekonomi domestik Amerika terlebih dahulu. Misal, dengan rencana bea masuk (tarif) tinggi ke Amerika untuk produk impor.
Namun, Maftuchan berkeyakinan Trump tidak akan membuat kebijakan seekstrem periode pertama jabatannya pada 2016-2020 yang antara lain memicu perang dagang dengan China dan berdampak global.
Adapun ekonom senior Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal Hastiandi, memprediksi ada imbas negatif untuk ekonomi Indonesia dalam jangka pendek, terutama di sektor keuangan dan moneter.
Meski demikian, Fithra berkeyakinan tetap ada peluang terpampang bagi Indonesia di jangka menengah dan panjang terkait kebijakan ekonomi Trump.
"Secara jangka pendek, kemenangan Trump ini saya prediksi akan mempengaruhi keputusan The Fed (terkait suku bunga acuan The Fed) pada 7 November 2024 waktu setempat," kata Fithra, Rabu.
Bila The Fed menahan atau membatasi penurunan suku bunga dibanding proyeksi sebelum hasil Pemilu AS 2024 ini menuju kemenangan Trump, nilai tukar rupiah dan bursa saham bisa tertekan.
Namun, Fithra berkeyakinan nilai tukar rupiah bakal mampu bertahan di bawah level Rp 16.000 per dollar AS hingga akhir tahun ini.
Terpisah, ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Dradjad Hari Wibowo, lebih khawatir dengan imbas kebijakan tarif yang akan diterapkan Trump terutama untuk produk dari China.
"Kita bisa semakin dibanjiri produk murah dari China yang tak bisa masuk Amerika," kata Dradjad, Rabu.
Menurut Dradjad, ini bisa berdampak serius bagi industri di dalam negeri.
Berikut ini ulasan dari masing-masing dimensi imbas kemenangan Trump di Pemilu AS terhadap ekonomi Indonesia, baik positif maupun negatifnya.
Keuangan dan moneter
Federal Open Market Committee (FOMC atau The Fed) pada Kamis (7/11/2024) waktu setempat akan menggelar pertemuan rutin yang antara lain menentukan besaran suku bunga acuan (Fed funds rate atau Fed rate).
Sebelumnya, para ekonom memprediksi The Fed akan menurunkan lagi suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin (bps). Namun, ini prediksi sebelum kemenangan Trump di Pemilu AS 2024.
Fithra mengatakan, setelah Trump menang, diperkirakan The Fed akan punya pertimbangan lain soal kebijakan moneternya ini.
"Sekarang kemungkinan turun 25 bps, bahkan mungkin di-hold dulu (penurunan Fed rate)," sebut Fithra.
Proyeksi perubahan pemikiran The Fed ini karena persepsi pasar ke Trump selalu adalah mengasosiasikannya dengan kebijakan yang akan memicu inflasi. Wajar bila kemudian The Fed punya kekhawatiran bahwa kemenangan Trump ini akan memicu ekspektasi inflasi.
"(Jadi) kalau The Fed (sekarang) memangkas suku bunga acuan terlalu cepat, (dikhawatirkan) inflasi akan naik," kata Fithra yang juga adalah pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) ini.
Dengan kebijakan Trump yang cenderung ekspansif, lanjut Fithra, yang bisa dilakukan The Fed adalah memilih mempertahankan besaran suku bunga acuan saat ini atau kalaupun Fed rate tetap dipangkas maka pada 2025 tidak akan ada kebijakan moneter yang agresif dari bank sentral Amerika tersebut.
"(Gambarannya) kalau bukan Trump yang menang The Fed bisa turunkan (Fed rate) empat sampai lima kali (pada 2025), sekarang (dengan Trump menang) ya (frekuensinya) turun," tutur Fithra.
Hingga Rabu, suku bunga acuan The Fed adalah rentang 4,75-5 persen, setelah turun sebesar 50 bps pada September 2024 untuk kali pertama sejak pandemi Covid-19.
Pemangkasan dilakukan karena The Fed berkeyakinan angka inflasi di AS akan berlanjut membaik, beserta penyerapan tenaga kerja yang juga naik. Sekali lagi, ini keyakinan sebelum Trump menang.
Slogan Trump "Make America great again", menurut Fithra memang dimungkinkan membuat ekonomi AS menguat. Namun, inflasi juga bisa tinggi lagi.
Kemenangan Trump di Pemilu AS 2024 dan Imbasnya ke Ekonomi Indonesia
Donald Trump menang di Pemilu AS 2024. Adakah imbasnya bagi ekonomi Indonesia? Ini ulasannya. Halaman all [1,952] url asal
#donald-trump #prabowo-subianto #perang-dagang #pemilu-as-2024
(Kompas.com - Money) 07/11/24 08:05
v/17660702/
DONALD Trump dipastikan memenangi Pemilu Amerika Serikat (AS) 2024. Dia akan menjadi Presiden AS untuk kali kedua.
Lalu, adakah imbasnya bagi Indonesia, terutama di bidang ekonomi?
Jawabannya, ada. Bahkan, imbasnya diprediksi cukup signifikan. Ada sejumlah dimensi pula. Imbas ini juga bisa dibagi untuk jangka pendek serta jangka menengah dan panjang.
"Kemenangan Trump ini bagi Indonesia lebih banyak ke aspek keuangan (dan) moneter," ujar Direktur Eksekutif The Prakarsa, Ah Maftuchan, Rabu (6/11/2024).
Secara umum, kata dia, kebijakan ekonomi dan dagang Trump akan mementingkan ekonomi domestik Amerika terlebih dahulu. Misal, dengan rencana bea masuk (tarif) tinggi ke Amerika untuk produk impor.
Namun, Maftuchan berkeyakinan Trump tidak akan membuat kebijakan seekstrem periode pertama jabatannya pada 2016-2020 yang antara lain memicu perang dagang dengan China dan berdampak global.
Adapun ekonom senior Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal Hastiandi, memprediksi ada imbas negatif untuk ekonomi Indonesia dalam jangka pendek, terutama di sektor keuangan dan moneter.
Meski demikian, Fithra berkeyakinan tetap ada peluang terpampang bagi Indonesia di jangka menengah dan panjang terkait kebijakan ekonomi Trump.
"Secara jangka pendek, kemenangan Trump ini saya prediksi akan mempengaruhi keputusan The Fed (terkait suku bunga acuan The Fed) pada 7 November 2024 waktu setempat," kata Fithra, Rabu.
Bila The Fed menahan atau membatasi penurunan suku bunga dibanding proyeksi sebelum hasil Pemilu AS 2024 ini menuju kemenangan Trump, nilai tukar rupiah dan bursa saham bisa tertekan.
Namun, Fithra berkeyakinan nilai tukar rupiah bakal mampu bertahan di bawah level Rp 16.000 per dollar AS hingga akhir tahun ini.
Terpisah, ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Dradjad Hari Wibowo, lebih khawatir dengan imbas kebijakan tarif yang akan diterapkan Trump terutama untuk produk dari China.
"Kita bisa semakin dibanjiri produk murah dari China yang tak bisa masuk Amerika," kata Dradjad, Rabu.
Menurut Dradjad, ini bisa berdampak serius bagi industri di dalam negeri.
Berikut ini ulasan dari masing-masing dimensi imbas kemenangan Trump di Pemilu AS terhadap ekonomi Indonesia, baik positif maupun negatifnya.
Keuangan dan moneter
Federal Open Market Committee (FOMC atau The Fed) pada Kamis (7/11/2024) waktu setempat akan menggelar pertemuan rutin yang antara lain menentukan besaran suku bunga acuan (Fed funds rate atau Fed rate).
Sebelumnya, para ekonom memprediksi The Fed akan menurunkan lagi suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin (bps). Namun, ini prediksi sebelum kemenangan Trump di Pemilu AS 2024.
Fithra mengatakan, setelah Trump menang, diperkirakan The Fed akan punya pertimbangan lain soal kebijakan moneternya ini.
"Sekarang kemungkinan turun 25 bps, bahkan mungkin di-hold dulu (penurunan Fed rate)," sebut Fithra.
Proyeksi perubahan pemikiran The Fed ini karena persepsi pasar ke Trump selalu adalah mengasosiasikannya dengan kebijakan yang akan memicu inflasi. Wajar bila kemudian The Fed punya kekhawatiran bahwa kemenangan Trump ini akan memicu ekspektasi inflasi.
"(Jadi) kalau The Fed (sekarang) memangkas suku bunga acuan terlalu cepat, (dikhawatirkan) inflasi akan naik," kata Fithra yang juga adalah pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) ini.
Dengan kebijakan Trump yang cenderung ekspansif, lanjut Fithra, yang bisa dilakukan The Fed adalah memilih mempertahankan besaran suku bunga acuan saat ini atau kalaupun Fed rate tetap dipangkas maka pada 2025 tidak akan ada kebijakan moneter yang agresif dari bank sentral Amerika tersebut.
"(Gambarannya) kalau bukan Trump yang menang The Fed bisa turunkan (Fed rate) empat sampai lima kali (pada 2025), sekarang (dengan Trump menang) ya (frekuensinya) turun," tutur Fithra.
Hingga Rabu, suku bunga acuan The Fed adalah rentang 4,75-5 persen, setelah turun sebesar 50 bps pada September 2024 untuk kali pertama sejak pandemi Covid-19.
Pemangkasan dilakukan karena The Fed berkeyakinan angka inflasi di AS akan berlanjut membaik, beserta penyerapan tenaga kerja yang juga naik. Sekali lagi, ini keyakinan sebelum Trump menang.
Slogan Trump "Make America great again", menurut Fithra memang dimungkinkan membuat ekonomi AS menguat. Namun, inflasi juga bisa tinggi lagi.
Buat Indonesia, konsekuensi dari proyeksi kebijakan The Fed ini adalah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan ruang terbatas bagi Bank Indonesia untuk mengelola suku bunga acuan. Ini bila benar suku bunga acuan The Fed dipertahankan di level yang sama atau turun terbatas.
"Pertumbuhan ekonomi (Indonesia) akan dibayangi suku bunga tinggi, padahal di kuartal III/2024 sudah melemah di bawah 5 persen," kata Fithra.
Ruang negara-negara berkembang (emerging market) seperti Indonesia untuk mengelola kebijakan moneternya akan terbatas.
Dengan persepsi pasar tentang arah kebijakan ekonomi Trump, lanjut Fithra, indeks dollar akan cenderung meningkat, yang berarti rupiah akan tertekan.
Lalu, pasar saham Amerika diyakini akan menguat dengan ekspektasi ekonomi Amerika lebih kuat di era Trump. Artinya, bursa saham emerging market berpotensi kurang peminat.
Untuk pasar surat berharga (bond), ada paradoks yang terjadi di situasi seperti saat ini. Sekalipun yield (semacam bunga) bond bertenor 10 tahun di Amerika naik menjadi 4,4 persen, peminatnya tetap berkurang.
Meski demikian, ini berdampak bond bertenor 10 tahun di Indonesia juga tidak menarik karena selisih yield pun tipis dengan yang di Amerika.
"Ini tren, kalau mau growth jangka pendek, (investor akan) lebih banyak koleksi saham dibanding bond," ungkap Fithra.
Konsekuensi jangka pendek bagi Indonesia dari peta indeks dollar, bursa saham, dan pasar obligasi ini, menurut Fithra adalah rupiah tertekan, bursa saham tertekan, dan pasar obligasi tertekan meski terbatas.
"Akan ada limited capital ke emerging, bahkan reversal. (Akan terjadi) depresiasi di emerging market. (Kemenangan Trump) positif untuk (ekonomi) AS tapi negatif buat emerging (market)," ringkas Fithra.
Maftuchan menambahkan, imbas dari situasi ini bahkan dimungkinkan terjadi arus uang keluar (capital outflow) dari Indonesia ke AS. Bersamaan, lanjut dia, Bank Indonesia akan semakin sibuk dengan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah.
"(Dan upaya stabilisasi itu) bisa berdampak pada penurunan devisa Indonesia," sebut Maftuchan.
Meski demikian, Fithra optimistis ada peluang yang tetap bakal terbuka bagi emerging market, termasuk Indonesia, dalam jangka menengah dan panjang.
"Ketika (ekonomi) mereka (AS) tumbuh, uangnya juga tumbuh. Mereka juga akan mendorong ekspor. Secara sistematis dia akan (berupaya juga) melemahkan nilai tukar (dollar AS) karena dia pun punya kepentingan untuk tetap bisa kompetitif (di pasar)," papar Fithra.
Belum lagi bila gaya ekspansif Trump dalam menjalankan ekonomi benar-benar menyeret naik inflasi di negaranya. Bila terjadi, kurs dollar AS pun akan melemah dengan sendirinya.
"(Bila benar ekonomi AS tumbuh pesat di era Trump), akan ada dampak bagus juga buat emerging market, untuk jangka menengah dan panjang," tegas Fithra.
Sembari memantau dinamika di AS, emerging market pun bisa melirik kolaborasi dengan negara-negara selain Amerika. Ini terutama terkait dengan proyeksi perang tarif yang bakal dilakukan Trump.
"Dengan perang tarif, ongkos produksi akan naik untuk bisa masuk ke pasar AS. Ini bisa jadi potensi untuk kolaborasi dengan (negara) non-AS," ujar Fithra.
Perang dagang
Bicara perang tarif, ini berarti mengarah ke perang dagang. Pada era pertama kepemimpinan Trump, AS terang-terangan berperang dagang dengan China. Efeknya mendunia.
"Secara umum, kebijakan ekonomi dan perdagangan Trump akan American first," tegas Maftuchan.
Dia menduga, Trump akan benar-benar menerapkan tarif 20 persen untuk impor tekstil dan produk tekstil (TPT) seperti sepatu. Trump diperkirakan juga akan merealisasikan tarif 300 persen untuk kendaraan listrik dari negara lain masuk ke negaranya.
"Ini tentu akan berdampak bagi ekonomi global," kata Maftuchan.
Bagi Indonesia, Maftuchan berpendapat perang tarif yang diperkirakan digeber Trump sebenarnya tidak akan terlalu berpengaruh. Ini karena secara riil neraca dagang Indonesia ke AS tidak sampai 10 persen, saat neraca yang sama dengan China sudah tembus mendekati 25 persen.
"Artinya dari sisi dampak ke ekspor impor (Indonesia-AS), saya prediksi tidak terlalu berpengaruh," ujar dia.
Sekalipun AS menempati peringkat kedua dalam neraca dagang Indonesia, lanjut Maftuchan, selisih dengan peringkat pertama yang adalah China masih terlalu jauh.
Dia menyarankan, pemerintahan Prabowo Subianto menyasar juga pasar selain AS untuk mensubstusi kemungkinan dampak kebijakan tarif Trump terhadap neraca dagang Indonesia.
"Misal ke Jepang, India, (kawasan) Timur Tengah, Afrika. Ini bisa mengantisipasi guncangan dari perubahan (neraca dagang) AS di periode pemerintahan Trump," papar Maftuchan.
Kekhawatiran justru datang dari Dradjad terkait imbas perang tarif yang diprediksi akan diarahkan AS ke China.
"Masalahnya, jika Trump jadi menerapkan tarif tinggi terhadap produk China, dampaknya akan sangat berat bagi Indonesia. Ini karena, produk-produk China akan semakin membanjiri Indonesia, sehingga sektor industri makin terpukul, penyerapan tenaga kerja formal makin tertekan, kelas menengah Indonesia juga demikian," papar Dradjad.
Dradjad yang juga pendiri dan chairman Indonesian Forestry Certification Cooperation (IFCC) ini menegaskan, skenario tersebut bukan hanya proyeksi tetapi sudah dialami Indonesia.
"Industri mobil listrik Indonesia yang dibangun dengan susah payah sekarang tertekan oleh banjirnya mobil listrik China yang tertolak pasar Uni Eropa. Harganya pun luar biasa murah sampai saya bertanya apakah ini harga dumping," ungkap Dradjad.
Bila benar Trump mengenakan tarif tinggi untuk produk China, lanjut Dradjad, Indonesia tidak hanya bakal kebanjiran mobil listrik tetapi juga produk industri lain dengan harga super murah.
"Pertanyaannya, beranikah Indonesia melindungi industri dalam negeri dari skenario itu?" tanya Dradjad.
Geopolitik dan ekonomi global
Kemenangan Trump di Pemilu AS 2024 diyakini juga bakal mengubah dinamika geopolitik global. Perang fisik diperkirakan akan berkurang bahkan berhenti.
"Dengan era Trump ini, akan ada pembatasan-pembatasan dagang (aka perang dagang), tapi perang fisik relatif tidak akan ada," tegas Fithra, sembari mengingatkan bahwa di periode pertama Trump juga terjadi hal serupa.
Menurut Fithra, Trump sebagai representasi kubu Partai Republik yang pro-senjata api memang cukup paradoks dalam hal perang fisik ini. Bahkan menyikapi perang di Timur Tengah, dia berkeyakinan Trump akan memilih jalan lain walau tetap di posisi mendukung Israel.
"Trump akan memilih pendekatan non-perang. (Misal), mendirikan kedutaan di Jerusalem, yang itu lebih aman sekalipun buat kita tetap kontroversial," tutur Fithra.
Perang di Ukraina pun dalam prediksi Fithra akan berhenti di era Trump.
"Dia teman Putin (Presiden Rusia). Selesai itu perang Ukraina," kata Fithra.
Perang di Ukraina juga tidak dapat dilepaskan dari upaya pemerintahan Presiden AS Joe Biden menarik Ukraina ke NATO. Bila era Trump langkah itu tak lagi dilanjutkan, diyakini perang pun akan mereda bahkan berhenti.
Sependapat, Dradjad melihat pula peluang Trump untuk mengondisikan kesepakatan penghentian perang di Ukraina ini. Secara ekonomi, dia berpendapat ini akan baik imbasnya, termasuk bagi Indonesia.
"Jika Trump bisa mengondisikan kesepakatan penghentian perang di Ukraina maka harga migas dan gandum akan turun. Karena Indonesia net importer (untuk kedua komoditas itu) maka secara netto hal ini menguntungkan Indonesia," tutur Dradjad.
Senada, Maftuchan melihat Trump akan melakukan sejumlah penyesuaian dibanding periode pertama pemerintahannya, dalam persoalan hubungan bilateral dan multilateral.
"Saya prediksi tidak akan seekstrem periode pertama. Dia tentu belajar bagaimana menjadi Presiden Amerika yang tidak hanya melayani rakyat AS tapi juga melayani komunitas internasional," kata Maftuchan.
Kebijakan ekstrem yang pernah dibuat Trump antara lain keluar dari Paris Agreement, juga mencabut sokongan dana bagi WHO karena menyanggah keberadaan pandemi Covid-19.
Dalam konteks ekonomi, keyakinan ada "proses belajar" Trump juga diyakini Fithra. Pada akhirnya, kata dia, seorang Trump sekalipun akan berupaya membuat Amerika tetap relevan di emerging market, terutama Asia.
"Sekeras-kerasnya Trump, dia pebisnis juga. Kuat-kuatan di negosiasi saja. Perang dagang itu bisa dinegosiasikan dan (kita) lebih bisa bernegosiasi di perang dagang (daripada di perang fisik)," tegas Fithra.
Fithra menambahkan, peluang negosiasi itu dimungkinkan karena kecenderungan Trump dan kubu Republik adalah menilik beragam persoalan dengan pendekatan bilateral, bukan multilateral sebagaimana yang lazim dilakukan kubu Demokrat laiknya di era pemerintahan Presiden Joe Biden.
Naskah: KOMPAS.com/PALUPI ANNISA AULIANI
Kemenangan Trump di Pemilu AS 2024 dan Imbasnya ke Ekonomi Indonesia Halaman all
Donald Trump menang di Pemilu AS 2024. Adakah imbasnya bagi ekonomi Indonesia? Ini ulasannya. Halaman all [1,952] url asal
#donald-trump #prabowo-subianto #perang-dagang #pemilu-as-2024
(Kompas.com) 07/11/24 08:05
v/17658404/
DONALD Trump dipastikan memenangi Pemilu Amerika Serikat (AS) 2024. Dia akan menjadi Presiden AS untuk kali kedua.
Lalu, adakah imbasnya bagi Indonesia, terutama di bidang ekonomi?
Jawabannya, ada. Bahkan, imbasnya diprediksi cukup signifikan. Ada sejumlah dimensi pula. Imbas ini juga bisa dibagi untuk jangka pendek serta jangka menengah dan panjang.
"Kemenangan Trump ini bagi Indonesia lebih banyak ke aspek keuangan (dan) moneter," ujar Direktur Eksekutif The Prakarsa, Ah Maftuchan, Rabu (6/11/2024).
Secara umum, kata dia, kebijakan ekonomi dan dagang Trump akan mementingkan ekonomi domestik Amerika terlebih dahulu. Misal, dengan rencana bea masuk (tarif) tinggi ke Amerika untuk produk impor.
Namun, Maftuchan berkeyakinan Trump tidak akan membuat kebijakan seekstrem periode pertama jabatannya pada 2016-2020 yang antara lain memicu perang dagang dengan China dan berdampak global.
Adapun ekonom senior Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal Hastiandi, memprediksi ada imbas negatif untuk ekonomi Indonesia dalam jangka pendek, terutama di sektor keuangan dan moneter.
Meski demikian, Fithra berkeyakinan tetap ada peluang terpampang bagi Indonesia di jangka menengah dan panjang terkait kebijakan ekonomi Trump.
"Secara jangka pendek, kemenangan Trump ini saya prediksi akan mempengaruhi keputusan The Fed (terkait suku bunga acuan The Fed) pada 7 November 2024 waktu setempat," kata Fithra, Rabu.
Bila The Fed menahan atau membatasi penurunan suku bunga dibanding proyeksi sebelum hasil Pemilu AS 2024 ini menuju kemenangan Trump, nilai tukar rupiah dan bursa saham bisa tertekan.
Namun, Fithra berkeyakinan nilai tukar rupiah bakal mampu bertahan di bawah level Rp 16.000 per dollar AS hingga akhir tahun ini.
Terpisah, ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Dradjad Hari Wibowo, lebih khawatir dengan imbas kebijakan tarif yang akan diterapkan Trump terutama untuk produk dari China.
"Kita bisa semakin dibanjiri produk murah dari China yang tak bisa masuk Amerika," kata Dradjad, Rabu.
Menurut Dradjad, ini bisa berdampak serius bagi industri di dalam negeri.
Berikut ini ulasan dari masing-masing dimensi imbas kemenangan Trump di Pemilu AS terhadap ekonomi Indonesia, baik positif maupun negatifnya.
Keuangan dan moneter
Federal Open Market Committee (FOMC atau The Fed) pada Kamis (7/11/2024) waktu setempat akan menggelar pertemuan rutin yang antara lain menentukan besaran suku bunga acuan (Fed funds rate atau Fed rate).
Sebelumnya, para ekonom memprediksi The Fed akan menurunkan lagi suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin (bps). Namun, ini prediksi sebelum kemenangan Trump di Pemilu AS 2024.
Fithra mengatakan, setelah Trump menang, diperkirakan The Fed akan punya pertimbangan lain soal kebijakan moneternya ini.
"Sekarang kemungkinan turun 25 bps, bahkan mungkin di-hold dulu (penurunan Fed rate)," sebut Fithra.
Proyeksi perubahan pemikiran The Fed ini karena persepsi pasar ke Trump selalu adalah mengasosiasikannya dengan kebijakan yang akan memicu inflasi. Wajar bila kemudian The Fed punya kekhawatiran bahwa kemenangan Trump ini akan memicu ekspektasi inflasi.
"(Jadi) kalau The Fed (sekarang) memangkas suku bunga acuan terlalu cepat, (dikhawatirkan) inflasi akan naik," kata Fithra yang juga adalah pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) ini.
Dengan kebijakan Trump yang cenderung ekspansif, lanjut Fithra, yang bisa dilakukan The Fed adalah memilih mempertahankan besaran suku bunga acuan saat ini atau kalaupun Fed rate tetap dipangkas maka pada 2025 tidak akan ada kebijakan moneter yang agresif dari bank sentral Amerika tersebut.
"(Gambarannya) kalau bukan Trump yang menang The Fed bisa turunkan (Fed rate) empat sampai lima kali (pada 2025), sekarang (dengan Trump menang) ya (frekuensinya) turun," tutur Fithra.
Hingga Rabu, suku bunga acuan The Fed adalah rentang 4,75-5 persen, setelah turun sebesar 50 bps pada September 2024 untuk kali pertama sejak pandemi Covid-19.
Pemangkasan dilakukan karena The Fed berkeyakinan angka inflasi di AS akan berlanjut membaik, beserta penyerapan tenaga kerja yang juga naik. Sekali lagi, ini keyakinan sebelum Trump menang.
Slogan Trump "Make America great again", menurut Fithra memang dimungkinkan membuat ekonomi AS menguat. Namun, inflasi juga bisa tinggi lagi.
Buat Indonesia, konsekuensi dari proyeksi kebijakan The Fed ini adalah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan ruang terbatas bagi Bank Indonesia untuk mengelola suku bunga acuan. Ini bila benar suku bunga acuan The Fed dipertahankan di level yang sama atau turun terbatas.
"Pertumbuhan ekonomi (Indonesia) akan dibayangi suku bunga tinggi, padahal di kuartal III/2024 sudah melemah di bawah 5 persen," kata Fithra.
Ruang negara-negara berkembang (emerging market) seperti Indonesia untuk mengelola kebijakan moneternya akan terbatas.
Dengan persepsi pasar tentang arah kebijakan ekonomi Trump, lanjut Fithra, indeks dollar akan cenderung meningkat, yang berarti rupiah akan tertekan.
Lalu, pasar saham Amerika diyakini akan menguat dengan ekspektasi ekonomi Amerika lebih kuat di era Trump. Artinya, bursa saham emerging market berpotensi kurang peminat.
Untuk pasar surat berharga (bond), ada paradoks yang terjadi di situasi seperti saat ini. Sekalipun yield (semacam bunga) bond bertenor 10 tahun di Amerika naik menjadi 4,4 persen, peminatnya tetap berkurang.
Meski demikian, ini berdampak bond bertenor 10 tahun di Indonesia juga tidak menarik karena selisih yield pun tipis dengan yang di Amerika.
"Ini tren, kalau mau growth jangka pendek, (investor akan) lebih banyak koleksi saham dibanding bond," ungkap Fithra.
Konsekuensi jangka pendek bagi Indonesia dari peta indeks dollar, bursa saham, dan pasar obligasi ini, menurut Fithra adalah rupiah tertekan, bursa saham tertekan, dan pasar obligasi tertekan meski terbatas.
"Akan ada limited capital ke emerging, bahkan reversal. (Akan terjadi) depresiasi di emerging market. (Kemenangan Trump) positif untuk (ekonomi) AS tapi negatif buat emerging (market)," ringkas Fithra.
Maftuchan menambahkan, imbas dari situasi ini bahkan dimungkinkan terjadi arus uang keluar (capital outflow) dari Indonesia ke AS. Bersamaan, lanjut dia, Bank Indonesia akan semakin sibuk dengan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah.
"(Dan upaya stabilisasi itu) bisa berdampak pada penurunan devisa Indonesia," sebut Maftuchan.
Meski demikian, Fithra optimistis ada peluang yang tetap bakal terbuka bagi emerging market, termasuk Indonesia, dalam jangka menengah dan panjang.
"Ketika (ekonomi) mereka (AS) tumbuh, uangnya juga tumbuh. Mereka juga akan mendorong ekspor. Secara sistematis dia akan (berupaya juga) melemahkan nilai tukar (dollar AS) karena dia pun punya kepentingan untuk tetap bisa kompetitif (di pasar)," papar Fithra.
Belum lagi bila gaya ekspansif Trump dalam menjalankan ekonomi benar-benar menyeret naik inflasi di negaranya. Bila terjadi, kurs dollar AS pun akan melemah dengan sendirinya.
"(Bila benar ekonomi AS tumbuh pesat di era Trump), akan ada dampak bagus juga buat emerging market, untuk jangka menengah dan panjang," tegas Fithra.
Sembari memantau dinamika di AS, emerging market pun bisa melirik kolaborasi dengan negara-negara selain Amerika. Ini terutama terkait dengan proyeksi perang tarif yang bakal dilakukan Trump.
"Dengan perang tarif, ongkos produksi akan naik untuk bisa masuk ke pasar AS. Ini bisa jadi potensi untuk kolaborasi dengan (negara) non-AS," ujar Fithra.
Perang dagang
Bicara perang tarif, ini berarti mengarah ke perang dagang. Pada era pertama kepemimpinan Trump, AS terang-terangan berperang dagang dengan China. Efeknya mendunia.
"Secara umum, kebijakan ekonomi dan perdagangan Trump akan American first," tegas Maftuchan.
Dia menduga, Trump akan benar-benar menerapkan tarif 20 persen untuk impor tekstil dan produk tekstil (TPT) seperti sepatu. Trump diperkirakan juga akan merealisasikan tarif 300 persen untuk kendaraan listrik dari negara lain masuk ke negaranya.
"Ini tentu akan berdampak bagi ekonomi global," kata Maftuchan.
Bagi Indonesia, Maftuchan berpendapat perang tarif yang diperkirakan digeber Trump sebenarnya tidak akan terlalu berpengaruh. Ini karena secara riil neraca dagang Indonesia ke AS tidak sampai 10 persen, saat neraca yang sama dengan China sudah tembus mendekati 25 persen.
"Artinya dari sisi dampak ke ekspor impor (Indonesia-AS), saya prediksi tidak terlalu berpengaruh," ujar dia.
Sekalipun AS menempati peringkat kedua dalam neraca dagang Indonesia, lanjut Maftuchan, selisih dengan peringkat pertama yang adalah China masih terlalu jauh.
Dia menyarankan, pemerintahan Prabowo Subianto menyasar juga pasar selain AS untuk mensubstusi kemungkinan dampak kebijakan tarif Trump terhadap neraca dagang Indonesia.
"Misal ke Jepang, India, (kawasan) Timur Tengah, Afrika. Ini bisa mengantisipasi guncangan dari perubahan (neraca dagang) AS di periode pemerintahan Trump," papar Maftuchan.
Kekhawatiran justru datang dari Dradjad terkait imbas perang tarif yang diprediksi akan diarahkan AS ke China.
"Masalahnya, jika Trump jadi menerapkan tarif tinggi terhadap produk China, dampaknya akan sangat berat bagi Indonesia. Ini karena, produk-produk China akan semakin membanjiri Indonesia, sehingga sektor industri makin terpukul, penyerapan tenaga kerja formal makin tertekan, kelas menengah Indonesia juga demikian," papar Dradjad.
Dradjad yang juga pendiri dan chairman Indonesian Forestry Certification Cooperation (IFCC) ini menegaskan, skenario tersebut bukan hanya proyeksi tetapi sudah dialami Indonesia.
"Industri mobil listrik Indonesia yang dibangun dengan susah payah sekarang tertekan oleh banjirnya mobil listrik China yang tertolak pasar Uni Eropa. Harganya pun luar biasa murah sampai saya bertanya apakah ini harga dumping," ungkap Dradjad.
Bila benar Trump mengenakan tarif tinggi untuk produk China, lanjut Dradjad, Indonesia tidak hanya bakal kebanjiran mobil listrik tetapi juga produk industri lain dengan harga super murah.
"Pertanyaannya, beranikah Indonesia melindungi industri dalam negeri dari skenario itu?" tanya Dradjad.
Geopolitik dan ekonomi global
Kemenangan Trump di Pemilu AS 2024 diyakini juga bakal mengubah dinamika geopolitik global. Perang fisik diperkirakan akan berkurang bahkan berhenti.
"Dengan era Trump ini, akan ada pembatasan-pembatasan dagang (aka perang dagang), tapi perang fisik relatif tidak akan ada," tegas Fithra, sembari mengingatkan bahwa di periode pertama Trump juga terjadi hal serupa.
Menurut Fithra, Trump sebagai representasi kubu Partai Republik yang pro-senjata api memang cukup paradoks dalam hal perang fisik ini. Bahkan menyikapi perang di Timur Tengah, dia berkeyakinan Trump akan memilih jalan lain walau tetap di posisi mendukung Israel.
"Trump akan memilih pendekatan non-perang. (Misal), mendirikan kedutaan di Jerusalem, yang itu lebih aman sekalipun buat kita tetap kontroversial," tutur Fithra.
Perang di Ukraina pun dalam prediksi Fithra akan berhenti di era Trump.
"Dia teman Putin (Presiden Rusia). Selesai itu perang Ukraina," kata Fithra.
Perang di Ukraina juga tidak dapat dilepaskan dari upaya pemerintahan Presiden AS Joe Biden menarik Ukraina ke NATO. Bila era Trump langkah itu tak lagi dilanjutkan, diyakini perang pun akan mereda bahkan berhenti.
Sependapat, Dradjad melihat pula peluang Trump untuk mengondisikan kesepakatan penghentian perang di Ukraina ini. Secara ekonomi, dia berpendapat ini akan baik imbasnya, termasuk bagi Indonesia.
"Jika Trump bisa mengondisikan kesepakatan penghentian perang di Ukraina maka harga migas dan gandum akan turun. Karena Indonesia net importer (untuk kedua komoditas itu) maka secara netto hal ini menguntungkan Indonesia," tutur Dradjad.
Senada, Maftuchan melihat Trump akan melakukan sejumlah penyesuaian dibanding periode pertama pemerintahannya, dalam persoalan hubungan bilateral dan multilateral.
"Saya prediksi tidak akan seekstrem periode pertama. Dia tentu belajar bagaimana menjadi Presiden Amerika yang tidak hanya melayani rakyat AS tapi juga melayani komunitas internasional," kata Maftuchan.
Kebijakan ekstrem yang pernah dibuat Trump antara lain keluar dari Paris Agreement, juga mencabut sokongan dana bagi WHO karena menyanggah keberadaan pandemi Covid-19.
Dalam konteks ekonomi, keyakinan ada "proses belajar" Trump juga diyakini Fithra. Pada akhirnya, kata dia, seorang Trump sekalipun akan berupaya membuat Amerika tetap relevan di emerging market, terutama Asia.
"Sekeras-kerasnya Trump, dia pebisnis juga. Kuat-kuatan di negosiasi saja. Perang dagang itu bisa dinegosiasikan dan (kita) lebih bisa bernegosiasi di perang dagang (daripada di perang fisik)," tegas Fithra.
Fithra menambahkan, peluang negosiasi itu dimungkinkan karena kecenderungan Trump dan kubu Republik adalah menilik beragam persoalan dengan pendekatan bilateral, bukan multilateral sebagaimana yang lazim dilakukan kubu Demokrat laiknya di era pemerintahan Presiden Joe Biden.
Naskah: KOMPAS.com/PALUPI ANNISA AULIANI
Kemenangan Trump di Pemilu AS 2024 dan Imbasnya ke Ekonomi Indonesia
Donald Trump menang di Pemilu AS 2024. Adakah imbasnya bagi ekonomi Indonesia? Ini ulasannya. Halaman all [1,952] url asal
#donald-trump #prabowo-subianto #perang-dagang #pemilu-as-2024
(Kompas.com) 07/11/24 08:05
v/17646016/
DONALD Trump dipastikan memenangi Pemilu Amerika Serikat (AS) 2024. Dia akan menjadi Presiden AS untuk kali kedua.
Lalu, adakah imbasnya bagi Indonesia, terutama di bidang ekonomi?
Jawabannya, ada. Bahkan, imbasnya diprediksi cukup signifikan. Ada sejumlah dimensi pula. Imbas ini juga bisa dibagi untuk jangka pendek serta jangka menengah dan panjang.
"Kemenangan Trump ini bagi Indonesia lebih banyak ke aspek keuangan (dan) moneter," ujar Direktur Eksekutif The Prakarsa, Ah Maftuchan, Rabu (6/11/2024).
Secara umum, kata dia, kebijakan ekonomi dan dagang Trump akan mementingkan ekonomi domestik Amerika terlebih dahulu. Misal, dengan rencana bea masuk (tarif) tinggi ke Amerika untuk produk impor.
Namun, Maftuchan berkeyakinan Trump tidak akan membuat kebijakan seekstrem periode pertama jabatannya pada 2016-2020 yang antara lain memicu perang dagang dengan China dan berdampak global.
Adapun ekonom senior Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal Hastiandi, memprediksi ada imbas negatif untuk ekonomi Indonesia dalam jangka pendek, terutama di sektor keuangan dan moneter.
Meski demikian, Fithra berkeyakinan tetap ada peluang terpampang bagi Indonesia di jangka menengah dan panjang terkait kebijakan ekonomi Trump.
"Secara jangka pendek, kemenangan Trump ini saya prediksi akan mempengaruhi keputusan The Fed (terkait suku bunga acuan The Fed) pada 7 November 2024 waktu setempat," kata Fithra, Rabu.
Bila The Fed menahan atau membatasi penurunan suku bunga dibanding proyeksi sebelum hasil Pemilu AS 2024 ini menuju kemenangan Trump, nilai tukar rupiah dan bursa saham bisa tertekan.
Namun, Fithra berkeyakinan nilai tukar rupiah bakal mampu bertahan di bawah level Rp 16.000 per dollar AS hingga akhir tahun ini.
Terpisah, ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Dradjad Hari Wibowo, lebih khawatir dengan imbas kebijakan tarif yang akan diterapkan Trump terutama untuk produk dari China.
"Kita bisa semakin dibanjiri produk murah dari China yang tak bisa masuk Amerika," kata Dradjad, Rabu.
Menurut Dradjad, ini bisa berdampak serius bagi industri di dalam negeri.
Berikut ini ulasan dari masing-masing dimensi imbas kemenangan Trump di Pemilu AS terhadap ekonomi Indonesia, baik positif maupun negatifnya.
Keuangan dan moneter
Federal Open Market Committee (FOMC atau The Fed) pada Kamis (7/11/2024) waktu setempat akan menggelar pertemuan rutin yang antara lain menentukan besaran suku bunga acuan (Fed funds rate atau Fed rate).
Sebelumnya, para ekonom memprediksi The Fed akan menurunkan lagi suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin (bps). Namun, ini prediksi sebelum kemenangan Trump di Pemilu AS 2024.
Fithra mengatakan, setelah Trump menang, diperkirakan The Fed akan punya pertimbangan lain soal kebijakan moneternya ini.
"Sekarang kemungkinan turun 25 bps, bahkan mungkin di-hold dulu (penurunan Fed rate)," sebut Fithra.
Proyeksi perubahan pemikiran The Fed ini karena persepsi pasar ke Trump selalu adalah mengasosiasikannya dengan kebijakan yang akan memicu inflasi. Wajar bila kemudian The Fed punya kekhawatiran bahwa kemenangan Trump ini akan memicu ekspektasi inflasi.
"(Jadi) kalau The Fed (sekarang) memangkas suku bunga acuan terlalu cepat, (dikhawatirkan) inflasi akan naik," kata Fithra yang juga adalah pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) ini.
Dengan kebijakan Trump yang cenderung ekspansif, lanjut Fithra, yang bisa dilakukan The Fed adalah memilih mempertahankan besaran suku bunga acuan saat ini atau kalaupun Fed rate tetap dipangkas maka pada 2025 tidak akan ada kebijakan moneter yang agresif dari bank sentral Amerika tersebut.
"(Gambarannya) kalau bukan Trump yang menang The Fed bisa turunkan (Fed rate) empat sampai lima kali (pada 2025), sekarang (dengan Trump menang) ya (frekuensinya) turun," tutur Fithra.
Hingga Rabu, suku bunga acuan The Fed adalah rentang 4,75-5 persen, setelah turun sebesar 50 bps pada September 2024 untuk kali pertama sejak pandemi Covid-19.
Pemangkasan dilakukan karena The Fed berkeyakinan angka inflasi di AS akan berlanjut membaik, beserta penyerapan tenaga kerja yang juga naik. Sekali lagi, ini keyakinan sebelum Trump menang.
Slogan Trump "Make America great again", menurut Fithra memang dimungkinkan membuat ekonomi AS menguat. Namun, inflasi juga bisa tinggi lagi.
Buat Indonesia, konsekuensi dari proyeksi kebijakan The Fed ini adalah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan ruang terbatas bagi Bank Indonesia untuk mengelola suku bunga acuan. Ini bila benar suku bunga acuan The Fed dipertahankan di level yang sama atau turun terbatas.
"Pertumbuhan ekonomi (Indonesia) akan dibayangi suku bunga tinggi, padahal di kuartal III/2024 sudah melemah di bawah 5 persen," kata Fithra.
Ruang negara-negara berkembang (emerging market) seperti Indonesia untuk mengelola kebijakan moneternya akan terbatas.
Dengan persepsi pasar tentang arah kebijakan ekonomi Trump, lanjut Fithra, indeks dollar akan cenderung meningkat, yang berarti rupiah akan tertekan.
Lalu, pasar saham Amerika diyakini akan menguat dengan ekspektasi ekonomi Amerika lebih kuat di era Trump. Artinya, bursa saham emerging market berpotensi kurang peminat.
Untuk pasar surat berharga (bond), ada paradoks yang terjadi di situasi seperti saat ini. Sekalipun yield (semacam bunga) bond bertenor 10 tahun di Amerika naik menjadi 4,4 persen, peminatnya tetap berkurang.
Meski demikian, ini berdampak bond bertenor 10 tahun di Indonesia juga tidak menarik karena selisih yield pun tipis dengan yang di Amerika.
"Ini tren, kalau mau growth jangka pendek, (investor akan) lebih banyak koleksi saham dibanding bond," ungkap Fithra.
Konsekuensi jangka pendek bagi Indonesia dari peta indeks dollar, bursa saham, dan pasar obligasi ini, menurut Fithra adalah rupiah tertekan, bursa saham tertekan, dan pasar obligasi tertekan meski terbatas.
"Akan ada limited capital ke emerging, bahkan reversal. (Akan terjadi) depresiasi di emerging market. (Kemenangan Trump) positif untuk (ekonomi) AS tapi negatif buat emerging (market)," ringkas Fithra.
Maftuchan menambahkan, imbas dari situasi ini bahkan dimungkinkan terjadi arus uang keluar (capital outflow) dari Indonesia ke AS. Bersamaan, lanjut dia, Bank Indonesia akan semakin sibuk dengan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah.
"(Dan upaya stabilisasi itu) bisa berdampak pada penurunan devisa Indonesia," sebut Maftuchan.
Meski demikian, Fithra optimistis ada peluang yang tetap bakal terbuka bagi emerging market, termasuk Indonesia, dalam jangka menengah dan panjang.
"Ketika (ekonomi) mereka (AS) tumbuh, uangnya juga tumbuh. Mereka juga akan mendorong ekspor. Secara sistematis dia akan (berupaya juga) melemahkan nilai tukar (dollar AS) karena dia pun punya kepentingan untuk tetap bisa kompetitif (di pasar)," papar Fithra.
Belum lagi bila gaya ekspansif Trump dalam menjalankan ekonomi benar-benar menyeret naik inflasi di negaranya. Bila terjadi, kurs dollar AS pun akan melemah dengan sendirinya.
"(Bila benar ekonomi AS tumbuh pesat di era Trump), akan ada dampak bagus juga buat emerging market, untuk jangka menengah dan panjang," tegas Fithra.
Sembari memantau dinamika di AS, emerging market pun bisa melirik kolaborasi dengan negara-negara selain Amerika. Ini terutama terkait dengan proyeksi perang tarif yang bakal dilakukan Trump.
"Dengan perang tarif, ongkos produksi akan naik untuk bisa masuk ke pasar AS. Ini bisa jadi potensi untuk kolaborasi dengan (negara) non-AS," ujar Fithra.
Perang dagang
Bicara perang tarif, ini berarti mengarah ke perang dagang. Pada era pertama kepemimpinan Trump, AS terang-terangan berperang dagang dengan China. Efeknya mendunia.
"Secara umum, kebijakan ekonomi dan perdagangan Trump akan American first," tegas Maftuchan.
Dia menduga, Trump akan benar-benar menerapkan tarif 20 persen untuk impor tekstil dan produk tekstil (TPT) seperti sepatu. Trump diperkirakan juga akan merealisasikan tarif 300 persen untuk kendaraan listrik dari negara lain masuk ke negaranya.
"Ini tentu akan berdampak bagi ekonomi global," kata Maftuchan.
Bagi Indonesia, Maftuchan berpendapat perang tarif yang diperkirakan digeber Trump sebenarnya tidak akan terlalu berpengaruh. Ini karena secara riil neraca dagang Indonesia ke AS tidak sampai 10 persen, saat neraca yang sama dengan China sudah tembus mendekati 25 persen.
"Artinya dari sisi dampak ke ekspor impor (Indonesia-AS), saya prediksi tidak terlalu berpengaruh," ujar dia.
Sekalipun AS menempati peringkat kedua dalam neraca dagang Indonesia, lanjut Maftuchan, selisih dengan peringkat pertama yang adalah China masih terlalu jauh.
Dia menyarankan, pemerintahan Prabowo Subianto menyasar juga pasar selain AS untuk mensubstusi kemungkinan dampak kebijakan tarif Trump terhadap neraca dagang Indonesia.
"Misal ke Jepang, India, (kawasan) Timur Tengah, Afrika. Ini bisa mengantisipasi guncangan dari perubahan (neraca dagang) AS di periode pemerintahan Trump," papar Maftuchan.
Kekhawatiran justru datang dari Dradjad terkait imbas perang tarif yang diprediksi akan diarahkan AS ke China.
"Masalahnya, jika Trump jadi menerapkan tarif tinggi terhadap produk China, dampaknya akan sangat berat bagi Indonesia. Ini karena, produk-produk China akan semakin membanjiri Indonesia, sehingga sektor industri makin terpukul, penyerapan tenaga kerja formal makin tertekan, kelas menengah Indonesia juga demikian," papar Dradjad.
Dradjad yang juga pendiri dan chairman Indonesian Forestry Certification Cooperation (IFCC) ini menegaskan, skenario tersebut bukan hanya proyeksi tetapi sudah dialami Indonesia.
"Industri mobil listrik Indonesia yang dibangun dengan susah payah sekarang tertekan oleh banjirnya mobil listrik China yang tertolak pasar Uni Eropa. Harganya pun luar biasa murah sampai saya bertanya apakah ini harga dumping," ungkap Dradjad.
Bila benar Trump mengenakan tarif tinggi untuk produk China, lanjut Dradjad, Indonesia tidak hanya bakal kebanjiran mobil listrik tetapi juga produk industri lain dengan harga super murah.
"Pertanyaannya, beranikah Indonesia melindungi industri dalam negeri dari skenario itu?" tanya Dradjad.
Geopolitik dan ekonomi global
Kemenangan Trump di Pemilu AS 2024 diyakini juga bakal mengubah dinamika geopolitik global. Perang fisik diperkirakan akan berkurang bahkan berhenti.
"Dengan era Trump ini, akan ada pembatasan-pembatasan dagang (aka perang dagang), tapi perang fisik relatif tidak akan ada," tegas Fithra, sembari mengingatkan bahwa di periode pertama Trump juga terjadi hal serupa.
Menurut Fithra, Trump sebagai representasi kubu Partai Republik yang pro-senjata api memang cukup paradoks dalam hal perang fisik ini. Bahkan menyikapi perang di Timur Tengah, dia berkeyakinan Trump akan memilih jalan lain walau tetap di posisi mendukung Israel.
"Trump akan memilih pendekatan non-perang. (Misal), mendirikan kedutaan di Jerusalem, yang itu lebih aman sekalipun buat kita tetap kontroversial," tutur Fithra.
Perang di Ukraina pun dalam prediksi Fithra akan berhenti di era Trump.
"Dia teman Putin (Presiden Rusia). Selesai itu perang Ukraina," kata Fithra.
Perang di Ukraina juga tidak dapat dilepaskan dari upaya pemerintahan Presiden AS Joe Biden menarik Ukraina ke NATO. Bila era Trump langkah itu tak lagi dilanjutkan, diyakini perang pun akan mereda bahkan berhenti.
Sependapat, Dradjad melihat pula peluang Trump untuk mengondisikan kesepakatan penghentian perang di Ukraina ini. Secara ekonomi, dia berpendapat ini akan baik imbasnya, termasuk bagi Indonesia.
"Jika Trump bisa mengondisikan kesepakatan penghentian perang di Ukraina maka harga migas dan gandum akan turun. Karena Indonesia net importer (untuk kedua komoditas itu) maka secara netto hal ini menguntungkan Indonesia," tutur Dradjad.
Senada, Maftuchan melihat Trump akan melakukan sejumlah penyesuaian dibanding periode pertama pemerintahannya, dalam persoalan hubungan bilateral dan multilateral.
"Saya prediksi tidak akan seekstrem periode pertama. Dia tentu belajar bagaimana menjadi Presiden Amerika yang tidak hanya melayani rakyat AS tapi juga melayani komunitas internasional," kata Maftuchan.
Kebijakan ekstrem yang pernah dibuat Trump antara lain keluar dari Paris Agreement, juga mencabut sokongan dana bagi WHO karena menyanggah keberadaan pandemi Covid-19.
Dalam konteks ekonomi, keyakinan ada "proses belajar" Trump juga diyakini Fithra. Pada akhirnya, kata dia, seorang Trump sekalipun akan berupaya membuat Amerika tetap relevan di emerging market, terutama Asia.
"Sekeras-kerasnya Trump, dia pebisnis juga. Kuat-kuatan di negosiasi saja. Perang dagang itu bisa dinegosiasikan dan (kita) lebih bisa bernegosiasi di perang dagang (daripada di perang fisik)," tegas Fithra.
Fithra menambahkan, peluang negosiasi itu dimungkinkan karena kecenderungan Trump dan kubu Republik adalah menilik beragam persoalan dengan pendekatan bilateral, bukan multilateral sebagaimana yang lazim dilakukan kubu Demokrat laiknya di era pemerintahan Presiden Joe Biden.
Naskah: KOMPAS.com/PALUPI ANNISA AULIANI
Pemuda di Pinrang 5 Hari Hilang Tenggelam di Bendungan Benteng
Seorang pemuda hilang tenggelam di Bendungan Benteng, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel). Pencarian sudah dilakukan selama 5 hari dan belum ditemukan. - Bagian all [228] url asal
#hilang-tenggelam #kabupaten-pinrang #sar-gabungan #bendungan-benteng #sulawesi-selatan
(iNews - Terkini) 07/11/24 08:04
v/17645143/
PINRANG, iNews.id - Tim SAR gabungan masih terus mencari pemuda yang hilang tenggelam di Bendungan Benteng, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel). Sampai hari kelima pencarian, korban belum ditemukan hingga Rabu (6/11/2024).
Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar Andi Sultan mengatakan, korban pemuda bernama Jihad Ramadhan (22) yang dilaporkan hilang sejak Sabtu (2/11/2024).
"Pencarian dilakukan sesuai dengan rencana operasi yang telah disusun untuk mengoptimalkannya," ujar Andi Sultan, Rabu (6/11/2024).
Menurutnya, pencarian ini melibatkan rescuer dari Unit Siaga SAR Parepare dibantu SAR Brimob Parepare, BPBD Pinrang, Tagana Pinrang, SAR Pinrang, Polsek Patampanua, TNI Batalyon 721, Polairud Pinrang, SAR UNM, SAR Lasinrang, Pramuka Peduli Pinrang, Pengelola Bendungan, Gerakan Peduli sesama Parepare, SAR Pangkep serta masyarakat sekitar yang membantu pelaksanaan pencarian terhadap korban.
Sultan menambahkan, tim membagi 3 Search and Rescue Unit (SRU) untuk penyisiran di sekitar wilayah sungai. SRU 1 menyisir dari Desa Pincara ke Jembatan Lasape. SRU 2 menyisir dari daerah Pincara Jembatan Lasape menuju ke Sungai Babana menggunakan rubber boat.
"SRU 3 melakukan siaga pemantauan dari Jembatan Lasape aliran Sungai Sa'dan," katanya.
Menurut laporan tim SAR gabungan, hingga hari ini masih belum berhasil menemukan korban. Selain karena luasnya area pencarian, air sungai sangat keruh.
“Pencarian dihentikan untuk sementara pada sore ini, namun tim SAR gabungan masih tetap melakukan pemantauan hingga malam hari," ucapnya.
Editor: Donald Karouw
Sikap 7 Pemimpin dan Kelompok Dunia usai Kemenangan Trump di Pilpres AS
Kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) pada 5 November 2024 telah memicu berbagai reaksi dari pemimpin dunia dan kelompok global [621] url asal
#donald-trump #prabowo-subianto #vladimir-putin #hamas #hizbullah
(MedCom - Internasional) 07/11/24 08:02
v/17651681/
Jakarta: Kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) pada 5 November 2024 telah memicu berbagai reaksi dari pemimpin dunia dan kelompok berpengaruh global. Berikut tanggapan dari para tokoh kunci terkait hasil Pilpres AS yang kembali mengantarkan Trump ke Gedung Putih. 1. Vladimir Putin, Presiden Rusia
Kremlin mengumumkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin tidak berencana memberikan ucapan selamat kepada Trump. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan bahwa Rusia akan menilai Trump berdasarkan tindakan konkretnya sebagai presiden."Kami akan menarik kesimpulan berdasarkan langkah konkret dan kata-kata yang konkret," ujar Peskov seperti dikutip AFP, Rabu 6 November 2024.
"Jangan lupa bahwa kita berbicara tentang negara yang tidak bersahabat yang secara langsung, dan secara tidak langsung, terlibat dalam perang melawan negara kita," tambah Peskov merujuk pada dukungan AS kepada Ukraina dalam konflik dengan Rusia.
Baca juga: Pidato di Hadapan Pendukung, Kamala Harris Akui Kekalahan dari Trump
2. Prabowo Subianto, Presiden Indonesia
Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan ucapan selamat kepada Donald Trump melalui unggahan di akun X resminya. Prabowo menegaskan bahwa kemitraan strategis antara Indonesia dan AS memiliki potensi besar."Saya berharap dapat bekerja sama erat dengan Anda dan pemerintahan Anda untuk lebih meningkatkan kemitraan ini dan demi perdamaian serta stabilitas global," tulis Prabowo, Rabu 6 November 2024.
3. Kamala Harris, Wakil Presiden AS
Kamala Harris, yang merupakan pesaing Trump dalam pilpres kali ini, menerima kekalahan. Harris juga mengucapkan selamat kepada Trump. dalam pidatonya di Howard University, Washington."Kita harus menerima hasil pemilu ini. Sebelumnya hari ini, saya berbicara dengan Presiden terpilih Trump dan mengucapkan selamat atas kemenangannya," kata Harris seperti dilansir AFP, Kamis 7 November 2024.
Harris menegaskan bahwa menghormati hasil pemilu adalah fondasi demokrasi. Ia juga menegaskan soal kesetiaan.
"Di negara kita, kita berhutang kesetiaan bukan kepada presiden atau partai, melainkan kepada konstitusi Amerika Serikat, dan kesetiaan kepada hati nurani kita, dan kepada Tuhan kita."
4. Joe Biden, Presiden AS (Petahana)
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menelepon Donald Trump untuk memberikan ucapan selamat atas kemenangan Trump dalam Pilpres AS 2024. Dalam kesempatan tersebut, Biden juga mengundang Trump untuk bertemu dalam waktu dekat."Presiden Biden menyatakan komitmennya untuk memastikan transisi yang lancar dan menekankan pentingnya upaya menyatukan negara," demikian pernyataan Gedung Putih yang dikutip Kamis 7 November 2024.
5. Xi Jinping, Presiden China
Pemerintah China merespons kemenangan Trump melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Mao Ning, yang menyatakan bahwa Beijing menghormati proses demokrasi AS dan berharap untuk "hidup berdampingan secara damai" dengan Washington."Kami akan terus mendekati dan menangani hubungan China-AS berdasarkan prinsip saling menghormati, hidup berdampingan secara damai, dan kerja sama yang saling menguntungkan," ungkap Mao Ning, Rabu 6 November 2024, seperti dilaporkan AFP.
6. Hamas, Kelompok Palestina
Hamas menyampaikan sikap keras terkait kemenangan Trump. Pejabat senior Hamas, Sami Abu Zuhri, menyatakan bahwa kekalahan Partai Demokrat merupakan "harga yang wajar" atas kebijakan AS yang mendukung serangan Israel terhadap Gaza."Kemenangan Trump mengujinya untuk menerjemahkan pernyataannya bahwa ia dapat menghentikan perang dalam hitungan jam," ujar Abu Zuhri dalam pernyataan kepada Reuters dan Middle East Eye, Rabu 6 November 2024.
7. Hizbullah, Kelompok Lebanon
Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menanggapi kemenangan Trump dengan menegaskan bahwa kelompoknya siap melawan Israel. Qassem justru mempertegas kekuatan mereka."Kami memiliki puluhan ribu pejuang perlawanan terlatih yang siap berperang," ucap Qassem dalam pidato di televisi, dikutip Kamis 7 November 2024.
Qassem menyatakan bahwa perubahan kepemimpinan AS tidak memengaruhi komitmen Hizbullah untuk terus melawan agresi Israel. Baginya, tidak ada perubahan apapun soal siapa pemenang Pilpres AS.
"Apakah Harris menang atau Trump menang, itu tidak ada artinya bagi kami," tambahnya.
Kemenangan Trump ini memberikan dinamika baru dalam geopolitik internasional, dengan respons beragam dari berbagai pemimpin dan kelompok dunia. Reaksi mereka menunjukkan ketegangan dan harapan yang berbeda terhadap kebijakan luar negeri AS di masa depan.
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(DHI)
Analisis Saham Lebih Tepat dengan Baca Berita Business Insight
Berita di Business Insight menawarkan kebaruan dan pendalaman isu dari Harian Kontan atau Kontan.co.id. [474] url asal
#google #akun-google #kilas #business-insight #berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi #kilas-industri
(Kontan-Industri) 07/11/24 08:02
v/17643736/
Reporter: Tim KONTAN | Editor: Indah Sulistyorini
KONTAN.CO.ID - Putra, seorang guru swasta di salah satu sekolah elite di Tangerang, mulai aktif investasi saham sejak awal tahun 2020. Awalnya, ia tidak yakin berinvestasi saham dapat memberi tambahan cuan karena tidak paham cara kerjanya. Sebelumnya, pria berusia 27 tahun itu hanya memiliki instrumen reksa dana di salah satu aplikasi investasi.
Namun, sekarang ia rajin “main” saham. Alasannya simpel, banyak orang yang cuan karena memanfaatkan dividen dan jual beli saham. Membaca berita pun jadi “asupan” penting untuk memprediksi pergerakan saham yang ingin dibeli.
“Baca berita biar wawasan ekonomi bertambah. Kalau enggak baca berita, mana tahu kalau analisis saham yang baik gimana,” kata Putra, pada Sabtu (2/11/2024).
Dengan penghasilan tambahan sebagai investor, Putra kini berhasil membeli gawai baru dan skuter matik. “Lumayan dah,” tambahnya sembari tertawa kecil.
Hal sama juga dirasakan oleh Hadi. Ia mulai aktif investasi saham sewindu terakhir. Tujuannya untuk mencari tambahan cuan selain gaji pokok. Hasil cuan dan dividen saham pun ia gunakan untuk membeli kebutuhan harian dan lifestyle.
Sama seperti Putra, ia aktif membaca berita ekonomi dan bisnis agar semakin yakin untuk membeli saham. “Baca-baca aja analisis dari orang sekuritas (manajer investasi). Itu ngebantu banget untuk keputusan pembelian saham,” ujar pria yang bekerja di salah satu bank BUMN tersebut.
Dari dua cerita tersebut, terbukti membaca berita tak hanya menambah wawasan, tapi juga cuan. Ditambah dengan analisis portofolio yang baik, Putra dan Hadi adalah dua contoh menarik bagaimana membaca berita memberikan dampak positif bagi finansial.
Media yang mereka pilih pun cukup spesifik, berfokus pada isu investasi, ekonomi, dan bisnis. Tujuannya agar informasi yang diterima sesuai dengan kebutuhan dan menawarkan analisis yang tajam.
Mudah dengan Business Insight
Kabar ekonomi dan bisnis sangat fundamental bagi pelaku pasar modal karena dapat menentukan keputusan dalam bisnis dan investasi. Untuk itu, Kontan terus konsisten menghadirkan berita yang mendalam dan up-to-date. Tujuannya agar pembaca memperoleh informasi yang utuh dan analisis komprehensif.
Tidak hanya melalui Kontan.co.id, Kontan juga hadir dalam berita berbayar pada kanal Business Insight. Bedanya, berita di Business Insight menawarkan kebaruan dan pendalaman isu dari Harian Kontan atau Kontan.co.id.
Business Insight mudah untuk ditemukan karena berada di halaman pertama Google bila menggunakan keyword “Business Insight”. Selain lewat situs, pembaca juga bisa menikmati Business Insight dengan mengunduh aplikasi Kontan: Business News & Insight melalui App Store dan Play Store.
Jika ingin berlangganan, pembaca dapat menggunakan fitur Google bernama Subscribe with Google. Fitur tersebut mampu mengurangi waktu proses login karena tidak perlu mengisi nama akun dan password. Dengan pendaftaran singkat, user kian mudah membaca berita ekonomi dan analisis saham yang komprehensif di Business Insight.
Kontan juga menawarkan banyak paket langganan untuk pembaca yang ingin berlangganan Business Insight. Menariknya, tersedia free trial selama tujuh hari untuk pengguna baru yang pertama kali langganan berita di Business Insight.
Cermat pilih saham, langganan Business Insight sekarang!
Test Drive All New Santa Fe Hybrid, Jalan-jalan ke Pabrik Hyundai
Redaksi Kompas.com berkesempatan mencoba Hyundai All New Santa Fe Hybrid dalam perjalanan Hyundai Discovery Trip. Halaman all [744] url asal
#hyundai #test-drive #suv-hybrid #hyundai-motors-indonesia-hmid #all-new-santa-fe-hybrid #santa-fe-hybrid
(Kompas.com) 07/11/24 08:02
v/17644245/
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) belum lama ini menggelar kunjungan pabrik dalam kegiatan "Hyundai Discovery Trip". Untuk menuju pabrik yang berada di Deltamas, Cikarang, Jawa Barat, peserta menggunakan All New Santa Fe Hybrid dari Jakarta.
Secara desain, Santa Fe generasi terbaru ini sangat berbeda dibandingkan model sebelumnya. Kali ini, bodinya lebih mengotak dan mengusung bahasa desain yang serupa dengan Ioniq 5, Ioniq 6, dan All New Kona EV.
Saat peluncuran Santa Fe Hybrid, redaksi Kompas.com juga sudah sempat mencobanya. Tapi, masih dalam area tertutup dan hanya bisa memberikan impresi awal saja.
Kali ini, redaksi berkesempatan untuk mencobanya di jalan raya. Sayangnya, SUV hybrid ini dikendarai dalam rombongan, sehingga redaksi tidak bisa memacu performa mesinnya secara optimal.
Kompas.com/Donny Test drive Hyundai All New Santa Fe HybridNamun, tetap ada beberapa hal yang bisa digali dari perjalanan tersebut, seperti kenyamanan berkendara, impresi terhadap teknologi hybrid yang diusung, dan konsumsi BBM yang dihasilkan selama perjalanan.
Redaksi yang mengikuti perjalanan kali ini memiliki postur tubuh 157 cm. Meski demikian, tidak sulit untuk mengendarai SUV yang cukup bongsor ini.
Posisi berkendara yang ergonomis mudah didapatkan, karena pengaturan joknya sudah elektrik dan bisa diatur sedemikian rupa. Begitu pula dengan posisi setirnya yang bisa disesuaikan tinggi rendah serta jarak dari pengemudi.
Joknya cukup nyaman dan visibilitas ke segala arah juga tidak terganggu. Termasuk kenyamanan dan kemudahan dalam mengoperasikan fitur-fitur yang ada, karena Hyundai tetap menyematkan tombol fisik pada konsol tengah dan dasbor.
Kompas.com/Donny Test drive Hyundai All New Santa Fe HybridSanta Fe yang digunakan oleh redaksi diisi oleh lima orang penumpang dewasa. Model yang digunakan adalah Santa Fe 6-seater, dengan captain seat pada baris kedua. Jadi, baris ketiga masih diisi oleh satu penumpang dewasa.
Impresi yang didapat selama perjalanan cukup positif. Suspensi dirasa cukup baik dalam meredam guncangan. Khususnya, saat menemui permukaan jalan yang bergelombang. Namun, saat melewati speed trap, suspensinya terasa sedikit kaku.
Untuk pengendaliannya, bagi yang sudah mencoba atau mengemudikan Ioniq 5, Ioniq 6, atau All New Kona EV, akan sangat familiar dengan komposisi setir dan tuas persnelingnya. Sebab, tuas persneling pada Santa Fe ditempatkan di area setir, tepatnya di bawah tuas lampu sein.
Kompas.com/Donny Test drive Hyundai All New Santa Fe HybridTuas persneling model putar yang digunakan juga sama persis dengan yang ada pada Ioniq 5, Ioniq 6, dan All New Kona EV. Selain itu, disematkan juga pedal shifter yang memiliki fungsi untuk mengatur pengereman regeneratif, persis juga dengan yang ada pada mobil listrik Hyundai.
Impresi lainnya yang didapat oleh redaksi adalah perpindahan antara mesin konvensional Smartstream G1.6T-GDi HEV dengan sistem turbo hybrid. Perpindahannya sangat mulus, bahkan cenderung tidak terasa saat mobil sedang melaju.
Kompas.com/Donny Test drive Hyundai All New Santa Fe HybridSaat pedal gas diinjak sedikit lebih dalam, maka mesin konvensional yang menjalankan perannya. Tapi, ketika pedal gas diangkat, motor listrik yang mengambil alih jalannya mobil. Menariknya lagi, mode EV bisa aktif ketika kecepatan di rentang 80 kilometer per jam hingga lebih dari 90 kilometer per jam sekalipun. Tapi, dengan catatan, pedal gas hanya sedikit diinjak.
Sesampainya di pabrik Hyundai, layar MID pada panel instrumen menunjukkan mobil sudah melaju sejauh 76,4 Km. Dengan durasi hampir 2 jam, konsumsi BBM yang dihasilkan tercatat tembus 16,4 kilometer per liter.
Dok. Hyundai Test drive Hyundai All New Santa Fe HybridDengan catatan, mobil diisi oleh lima orang dewasa pada baris pertama, kedua, dan ketiga. Kondisi lalu lintas yang dilalui cenderung lancar, dengan kombinasi jalan raya dan jalan tol. Kecepatan juga dibatasi tidak lebih dari 100 kilometer per jam, karena berjalan dalam rombongan.
Mode berkendara yang digunakan adalah Eco dengan tingkat pengereman regeneratif di Level 3. Gaya berkendara yang digunakan juga normal, bukan menggunakan teknik eco-driving.
Tren Wisata Olahraga Meningkat, Maraton Jadi Incaran
Adapun wisata olahraga menyumbang sekitar 10 persen dari pengeluaran pariwisata global, diprediksi tumbuh sebesar 17,5 persen hingga 2030 mendatang. Halaman all [591] url asal
#tren-wisata-2024 #tren-wisata-olahraga-2024-meningkat #tren-wisata-olahraga-marathon-meningkat #persentase-sumbangan-wisata-olahraga #sport-tourism
(Kompas.com - Travel) 07/11/24 08:01
v/17644246/
KOMPAS.com - Pariwisata olahraga (sport tourism) kian diminati banyak wisatawan saat berlibur ke berbagai destinasi.
Hal itu didukung oleh data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada 5 Maret 2024, yang menunjukkan wisata olahraga terus berkembang, terlebih setelah pandemi Covid-19.
Data agen perjalanan juga menunjukkan peningkatan minat wisata olahraga dari tahun ke tahun.
“Secara year-on-year, produk Sport Holidays Golden Rama Tours & Travel meningkat
sebesar 38 persen dari 2023 ke 2024," ujar Madu Sudono, President Director Golden Rama Tours & Travel.
"Hal ini sangat didukung oleh penjualan paket produk maraton yang terus mengalami peningkatan sebesar 43 persen year-on-year di periode yang sama," tambah Madu dalam rilis yang diterima Kompas.com, Rabu (6/11/2024).
Adapun wisata olahraga menyumbang sekitar 10 persen dari pengeluaran pariwisata global, diprediksi tumbuh sebesar 17,5 persen hingga 2030 mendatang.
Tingginya minat wisata olahraga di kalangan wisatawan, didasari pada meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan fisik dan mental.
Golden Rama Tours & Travel mencatat sejumlah destinasi favorit wisatawan untuk acara olahraga maraton, seperti Tokyo, London, Berlin, dan New York.
“Paket Tokyo World Marathon Majors kami, misalnya, selalu habis terjual dalam waktu sangat singkat,” kata Lucky Albertinus, General Manager Hotel Package & VIBE Event Management
Wisata olahraga sendiri sudah dirilis dalam paket berlibur agen perjalanan ini sejak 2019 lalu, berupa maraton, golf, dan nonton bareng acara olahraga internasional.
Golden Rama Tours & Travel menggabungkan petualangan fisik dengan pengalaman budaya yang mendalam melalui paket wisata yang dtersedia.
- Tarif Olahraga Memancing di TN Komodo Naik Jadi Rp 5 Juta dari Rp 25.000
- 5 Wisata Olahraga dan Outdoor di Danau Toba, Coba Paralayang
SuperHalfs Marathon
dok. Freepik/jcomp Ilustrasi pelari maraton.
Baru-baru ini, Golden Rama Tours & Travel mengenalkan inovasi terkini lewat perjalanan SuperHalfs Marathon.
Konsep sport holidays ini menawarkan pengalaman lari half marathon di destinasi ikonik Eropa, seperti Copenhagen, Berlin, Prague, Lisbon, dan kota lain, yakni Cardiff serta Valencia yang segera menyusul.
“Seiring dengan tren perjalanan berbasis kegiatan olahraga yang semakin diminati, kami
menghadirkan berbagai produk berbasis pengalaman yang menggabungkan olahraga dengan
eksplorasi budaya, baik di destinasi domestik maupun internasional.” kata Madu.
Konsep half marathon dirancang untuk para pelari yang ingin merasakan euforia kompetisi dengan jarak tempuh yang lebih terjangkau daripada full marathon, yakni 21 kilometer.
“Dengan SuperHalfs Marathon, pelari dapat menikmati pengalaman kompetisi sambil mengagumi landmark budaya di sepanjang rute lari, yang mencakup pemandangan ikonik dan situs bersejarah,” jelas Lucky.
Selain paket lengkap mencakup akomodasi, transportasi, dan itinerary, Golden Rama Tours &
Travel menambahkan pengalaman lebih lewat workshop dan coaching bersama pelatih maraton profesional Arief Rahmatullah, peraih Six Star Medals di World Marathon Majors.
Workshop yang disiapkan akan memberikan panduan seputar destinasi, kondisi lintasan, hingga teknik lari dan nutrisi yang tepat.
Update Suku Bunga Deposito BCA Hari Ini, Kamis (7 November 2024)
Update suku bunga deposito BCA yang berlaku hari ini, Kamis (7 November 2024), bunga deposito terendah 2 persen. [160] url asal
#berita-nasional #indonesia #pemerintah #kebijakan-ekonomi
(Kontan-Uang) 07/11/24 08:00
v/17643737/
Reporter: Tri Sulistiowati | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA - Anda ingin punya rekening deposito di Bank BCA? Cek dulu suku bunga deposito BCA terkini, Kamis (7 November 2024)
Bank konvensional masih menjadi pilihan masyarakat untuk menempatkan dana di produk deposito.
Bank konvesional berlomba-lomba menawarkan produk deposito dengan suku bunga yang bersaing.
Melansir dari website resminya, Bank Central Asia (BCA) menawarkan suku bunga deposito paling rendah 2,00% dan paling tinggi 3,25% per tahun.
Berikut tabel suku bunga deposito bank BCA yang dikutip dari website resminya per tanggal 7 November 2024.
Mata Uang | Suku Bunga (% per tahun) / Jangka Waktu (bulan) | |||
| 1 bln | 3 bln | 6 bln | 12 bln | |
| IDR < 2M | 3,25 | 3,00 | 2,25 | 2,00 |
| IDR ≥ 2M - < 5M | 3,25 | 3,00 | 2,25 | 2,00 |
| IDR ≥ 5M - < 10M | 3,25 | 3,00 | 2,25 | 2,00 |
| IDR ≥ 10M - < 25M | 3,25 | 3,00 | 2,25 | 2,00 |
| IDR ≥ 25M - < 100M | 3,25 | 3,00 | 2,25 | 2,00 |
| IDR ≥ 100M | 3,25 | 3,00 | 2,25 | 2,10 |
Sekedar info, suku bunga deposito BCA ini efektif berlaku per 1 Oktober 2024
3 Fakta Bansos Beras Lanjut 2025
Pemerintah berencana melanjutkan program bantuan pangan beras sampai 2025. [478] url asal
#presiden #penyaluran #bergizi-gratis #rdp #beras-tahap #komisi-iv-dpr-ri #arief-prasetyo-adi #bantuan-pangan-2025 #prabowo #dana-stabilisasi #jakarta-pusat #pangan-2025 #fakta-bansos-beras-lanjut-2025 #kpm #fakta-b
(detikFinance - Perencanaan Keuangan) 07/11/24 08:00
v/17645310/
Pemerintah berencana melanjutkan program bantuan pangan beras sampai 2025. Hal ini dikatakan oleh Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI, Rabu (6/11) kemarin.
Berikut 3 Fakta Bantuan Beras Lanjut di 2025:
1. Bantuan Beras Januari-Februari 2025
Saat rapat bersama Komisi IV DPR, Arief meminta dukungan Komisi IV DPR RI agar anggaran Badan Pangan Nasional bertambah demi melanjutkan program bantuan pangan beras. Dalam waktu dekat, pihaknya telah mengusulkan penyaluran bantuan pangan beras akan dilakukan pada Januari-Februari 2025 sebanyak 300 ribu ton.
"Kalau berkenan, untuk bulan Januari-Februari 2025 kami mengajukan juga untuk dialokasikan dana stabilisasi SPHP itu 150 ribu ton kali dua (300 ribu ton), kemudian juga dengan dimulai bantuan pangan 2025. Karena dalam rapat terakhir ini tidak mendapat persetujuan," kata Arief dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi IV DPR RI, Jakarta Pusat, Rabu (6/11/2024).
Ditemui usai rapat, Arief mengatakan penyaluran bantuan beras untuk Januari-Februari 2025 anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp 5,1 triliun.
"Kalau nggak salah (anggarannya) Rp 5,1 triliun untuk dua bulan. Sisanya nanti akan komunikasikan lagi," ucapnya.
2. Penerima Diturunkan
Arief mengatakan perbedaan penyaluran bantuan beras dari sebelumnya yakni jumlah penerimanya. Jumlah Keluarga Penerima Manfaat (KPM) bantuan beras pada 2025 turun menjadi 16 juta keluarga dari sebelumnya 22 juta KPM.
"Perubahan jumlah penerimanya saja, penerimanya tadinya 22 juta menjadi 16 juta KPM," ungkapnya.
Penurunan jumlah penerima bantuan beras ini karena tahun depan sudah ada program bantuan lain seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sementara jumlah penyalurannya masih tetap 10 kilogram (kg) per KPM.
3. Bakal Dilaporkan ke Prabowo
Untuk keberlanjutan program ini, pihaknya telah berkoordinasi dengan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas). Dia meyakini usulan tersebut akan segera disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto.
"Pak Menko akan menyampaikan sebelum Pak Presiden ke luar negeri, mungkin akan disampaikan. Paralel bagaimana pun kita harus juga melaporkan ke Komisi IV," tuturnya.
Untuk diketahui, program bantuan pangan beras diinisiasi pada pemerintahan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi). Bantuan berupa beras 10 kilogram (kg) per bulan diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Penyaluran bantuan beras tahap pertama adalah Maret, April, Mei 2023. Tahap II dilakukan pada September, Oktober, dan November.
Program itu kemudian berlanjut dari Desember 2023 sampai Maret 2024. Kemudian pada menuju akhir masa jabatan, Jokowi melanjutkan program tersebut sampai akhir tahun.
(ada/ara)