Ekonomi RI tumbuh melambat menjadi 4,95% di kuartal III 2024. Para ahli memperingatkan potensi lingkaran setan yang melemahkan perekonomian jika tak ditangani. [591] url asal
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2024 melambat dibandingkan dua periode sebelumnya. Namun kondisi ini ternyata dapat menjadi lingkaran setan yang terus melemahkan perekonomian Indonesia jika tidak ditangani dengan baik.
Direktur Eksekutif Segara Research Institute, Piter Abdullah, menjelaskan rendahnya pertumbuhan ekonomi negara secara langsung dapat memengaruhi laju investasi dan pembukaan lapangan pekerjaan baru. Artinya, jika laju pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5%, maka hanya mampu meningkatkan pertumbuhan lapangan kerja 5%.
"Penciptaan lapangan kerja baru kan dipengaruhi oleh investasi dan pertumbuhan ekonomi itu sendiri. Jadi kalau pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan tahun ini ya di kisaran 5%, ya berarti penciptaan lapangan kerja kita ya di kisaran 5%. Itu tidak akan bisa menyerap dari jumlah total tenaga kerja," kata Piter saat dihubungi detikcom, ditulis Kamis (7/11/2024).
Padahal menurutnya penciptaan lapangan kerja ini menjadi penting untuk meningkatkan konsumsi rumah tangga secara nasional. Sebab pada akhirnya masyarakat butuh pekerjaan untuk mendapatkan pemasukan, yang kemudian pemasukan itu digunakan untuk modal konsumsi.
Menurut Piter konsumsi rumah tangga merupakan salah satu faktor pendorong terbesar pertumbuhan ekonomi nasional. Artinya lemahnya konsumsi masyarakat akibat sedikitnya pembukaan lapangan kerja baru akan berdampak langsung terhadap pelemahan pertumbuhan ekonomi nasional.
"Konsumsi itu kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi itu besar, sekitar 50% lebih. Maka, ya otomatis pertumbuhan ekonomi akan turun karena turunnya daya beli, turunnya konsumsi," jelasnya.
Nah kondisi berulang seperti inilah yang Piter katakan dapat menjadi lingkaran setan. Di mana lemahnya laju pertumbuhan ekonomi dapat menurunkan pembukaan lapangan kerja baru, kemudian sedikitnya lapangan kerja baru dapat melemahkan konsumsi, dan lemahnya konsumsi kembali menurunkan kinerja ekonomi nasional.
"Ini kan kayak lingkaran setan ya. Kita untuk tumbuh tinggi kita butuh konsumsi, konsumsi membutuhkan lapangan kerja, lapangan kerja membutuhkan pertumbuhan ekonomi, ya muter seperti itu," terang Piter.
Untuk itu ia berharap pemerintah dapat memutus rantai pelemahan ekonomi ini. Salah satunya dengan meningkatkan investasi dalam negeri yang secara langsung dapat menumbuhkan lapangan kerja. Dari lapangan kerja ini, daya beli masyarakat bisa meningkat dan seterusnya.
"Makanya pemerintah harus menjaga ketat ini lingkaran setan, kemiskinan bisa diputus. Yaitu dengan melalui investasi, harus ada upaya-upaya untuk mendorong peningkatan investasi yang pada akhirnya itu menciptakan lapangan kerja," ucap Piter.
"Dari lapangan kerja itu mendorong pertumbuhan konsumsi dan ujung-ujungnya pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu akan menjadi daya tarik investasi. Jadi memang pemerintah harus menciptakan iklim bagi investasi yang baik," sambungnya.
Senada dengan Piter, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad mengatakan salah satu penyebab utama melemahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III hingga di bawah 5% ini adalah menurunnya konsumsi masyarakat.
Ia menjelaskan penurunan ini dapat terjadi karena beberapa faktor. Salah satunya ada ketersediaan lapangan kerja, yang dalam hal ini menurut Tauhid belum bisa memberikan pemasukan cukup baik untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.
"Konsumsi masyarakat biasanya ada beberapa sebab, pertama ya lapangan pekerjaan yang tersedia itu tidak mampu menyediakan penghidupan yang layak," kata Tauhid.
Belum lagi menurut Tauhid ada masalah pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang semakin menekan ketersediaan lapangan kerja sekaligus menurunkan daya beli masyarakat. Pada akhirnya pertumbuhan ekonomi akan melambat dan siklus itu dapat terus berulang kembali jika tidak ditangani.
"Karena PHK plus pengangguran naik, ya otomatis itu dorongan buat pertumbuhan ekonominya semakin melemah, bener nggak? Kalau ekonomi tumbuh dia bisa menurunkan pengangguran. Tapi kalau pengangguran tinggi juga bisa menurunkan konsumsi," jelasnya.
Untuk itu Tauhid juga menyarankan pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi dalam negeri. Sebab dengan adanya investasi, lapangan pekerjaan baru bisa tercipta dan kondisi ini akan meningkatkan konsumsi masyarakat dan seterusnya.
Saksikan juga video: Jokowi Respons Deflasi 5 Bulan Berturut-turut
Bisnis.com, JAKARTA - Seorang anak laki-laki berusia 7 tahun, berjalan kaki menuju warung sembako yang berjarak 100 meter dari rumahnya. Tubuhnya kurus. Dia selalu menuruti perintah ayahnya pergi ke warung, meski jarang membeli jajan.
"Bu, kata ayah, isi top up ke Dana, Rp30.000," ungkapnya sesampai di warung.
Bak anak kecil yang belum paham dunia orang dewasa, bibir mungilnya mengulang-ulang kalimat tersebut ke pedagang warung sembako tersebut. Saat penjaga warung, menjawab iya, maka bocah tersebut langsung lari-lari pulang ke rumah. Berlari kencang, seperti sedang menghindari terik matahari, kali ini dia pulang tanpa membeli cokelat kesukaannya.
Warung sembako di dekat rumahnya menjual berbagai macam produk sembako harian, beras, gula, odol, isi ulang air minum, minyak sayur, dan pulsa. Tak lupa, warung ini juga menyediakan layanan transfer uang, isi token listrik, isi ulang Gopay, OVO, Shopeepay dan Dana.
Padahal bocah usia 7 tahun ini, sedang menjalani perawatan karena penyakit paru-paru yang dideritanya dan wajib minum obat selama 6 bulan, karena ada flek di parunya. Kendati begitu, dia tetap menuruti perinta ayahnya.
Saat malam tiba, bocah laki-laki itu pun tidak menolak perintah ayahnya untuk melakukan top up ke dompet digital, Dana. Dia menaiki sepeda yang diparkir di depan pintu dan menggowes sepeda sampai ke warung. Tanpa turun dari sepeda, bocah itu pun dengan kencang memanggil penjaga warung.
"Bu, kata ayah top up. Bu, kata ayah top up," katanya dengan suara mungil bernada tinggi.
"Kamu mau jajan apa, Nak?" balas penjaga warung.
"Enggak, top up aja kata ayah," tutur bocah kecil tersebut.
Neni, pedagang sembako di Citayam mengungkapkan mayoritas pembeli melakukan transaksi ritel dengan nominal sekitar Rp20.000-Rp50.000, mulai dari pembelian token listrik hingga top up ke dompet digital. Biaya admin yang dikenakan pun sekitar Rp1.000-Rp2.000 per transaksi.
Menurutnya, awalnya dia hanya menyediakan penjualan pulsa dan token listrik saja. Namun, dalam kurun waktu setahun terakhir, banyak orang dewasa yang mulai minta mengisi saldo ke Dana.
"Dulu transaksi hanya transfer uang dan sekarang mulai banyak top up Dana. Awalnya, saya enggak tau, kepada banyak orang isi Dana, lalu saya tanya untuk apa. Jawab mereka untuk slot," ungkapnya.
Neni juga masih bingung slot yang dimaksudkan. Lalu, seorang pria dewasa yang sempat top up di warungnya mengungkapkan untuk mencari peruntungan dan mengadu nasib mujur. Barulah dia paham bahwa pemuda yang belum bekerja dan bapak-bapak yang sudah memiliki anak di sekitar rumahnya sudah terkena candu judi online.
Pemerintah berantas judi online
Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie Setiadi mengungkapkan bahwa judi online sangat merugikan masyarakat di Indonesia dan bisa menyebabkan candu. Kondisi ini juga bisa membawa kemiskinan dan dampak sistemik bagi masyarakat yang memiliki anggota keluarga yang terlibat judi online.
Budi mengatakan telah menegur keras perusahaan-perusahaan penyedia e-wallet yang memfasilitasi penjudi online. Dia mengatakan akan menindak tegas perusahaan yang memfasilitasi judi online.
Dia curiga saat dompet digital mencatatkan transaksi penambahan saldo atau top up yang melonjak tiba-tiba. Apalagi, saat transaksi yang muncul adalah transaksi keluar, tanpa adanya transaksi masuk, sehingga dicurigai terjadinya transaksi judi online.
“Sasaran utama pemblokiran akun e-wallet adalah para bandar judi online. Selain itu, arus perputaran uang ke pemain judi online akan menjadi sasaran selanjutnya. Ada lima perusahaan yang memfasilitasi perjudian online. Kami tindak tegas jika membandel,” kata Menkominfo.
Lima perusahaan e-wallet tersebut adalah PT Espay Debit Indonesia Koe (DANA), PT Visionet Internasional (OVO), PT Dompet Anak Bangsa (GoPay), PT Fintek Karya Nusantara (LinkAja), serta PT Airpay International Indonesia (ShopeePay).
Adapun e-wallet Dana memiliki nilai transaksi yang paling tinggi, sekitar Rp5,4 triliun dengan 5,7 juta transaksi yang terkait judi online.
Dia menegaskan perusahaan penyedia E-Wallet harus mendata dengan jelas akun pengguna atau electronic Know Your Customer (eKYC), sejalan dengan ketentuan perlindungan data pribadi (PDP). Harapannya, pengguna e-wallet harus melakukan terverifikasi saat membuka akun e-wallet, agar tidak digunakan untuk pelaku kejahatan.
Mengutip data dari PPATK yang diterima Kementerian Kominfo, ada lima perusahaan e-wallet yang masih memfasilitasi judi online. Nilai transaksi di 5 dompet digital tersebut mencapai triliunan rupiah.
Budi mengatakan bahwa pemberantasan judi online sudah menjadi program pemerintah yang bakal berlanjut pada pemerintahan berikutnya. Sebab, judi online ini sudah sangat menyengsarakan masyarakat kelas bawah, sehingga perekonomian nasional pun terancam tergerus parah jika judi online dibiarkan.
Dalam kurun waktu 1,5 tahun menjabat, Menkominfo terus berupaya menekan aktivitas judi online. Sampai dengan 8 Oktober 2024, Kementerian Kominfo telah memblokir sekitar 3,7 juta situs judi online. Selain itu, Kementerian Kominfo bergerak cepat menindaklanjuti masalah promosi website judi online yang dilakukan oleh salah seorang influencer di media sosial.
“Patroli siber terhadap aktivitas judi online dan content promosi judi online terus dilakukan,” ujar Menkominfo.
Kini bocah berusia 7 tahun tidak tahu bahwa mimpi instan ayahnya mendapatkan uang banyak dari judi online adalah lingkaran setan. Anak laki-laki hanya bisa memandang ayahnya yang berharap menang, meski telah bergelimang utang.
BPS mencatat deflasi 0,12% di Indonesia pada September 2024, berlanjut selama 5 bulan. Penurunan daya beli dan harga komoditas jadi penyebab utama. [364] url asal
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia kembali mengalami deflasi pada September 2024 Indonesia sebesar 0,12% secara bulanan. Ini merupakan deflasi berturut-turut dalam 5 bulan terakhir.
Secara rinci terjadi penurunan indeks harga konsumen dari 106,06 pada Agustus 2024 menjadi 105,93 pada September 2024. BPS juga mencatat secara year on year terjadi inflasi 1,84% dan secara year to date inflasi nasional mencapai 0,74%.
Ketua Kebijakan Publik Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sutrisno Iwantono mengatakan deflasi selama lima bulan berturut-turut ini dapat terjadi karena tiga kemungkinan. Pertama adalah karena turunnya daya beli masyarakat.
"Penyebab deflasi itu kan ada beberapa kemungkinan, yang pertama itu kan daya beli masyarakat yang turun ya," kata Sutrisno kepada detikcom, Selasa (8/10/2024).
"Artinya kalau daya beli masyarakat turun, berarti kan permintaan kepada barang dan jasa itu kan turun Karena orang nggak bisa belanja Nah akibatnya harga-harga kan turun karena yang belinya berkurang gitu," terangnya lagi.
Lebih lanjut, Sutrisno mengatakan kemungkinan kedua penyebab deflasi ini dikarenakan memang adanya penurunan harga barang, utamanya harga komoditas pangan pokok. Semisal beras, telur, daging ayam, dan sebagainya.
"Kemungkinan ketiga pencatatan yang kurang tepat. Artinya ada beberapa pihak yang minta supaya angka inflasinya jangan tinggi gitu. Bermain di angka-angka gitu, tidak riil," jelas Sutrisno.
Sutrisno mengatakan jika deflasi ini benar terjadi karena kemungkinan pertama yakni penurunan daya beli, maka kondisi ini dapat menyebabkan penurunan atas permintaan barang dan jasa.
"Dengan sendirinya kalau itu disebabkan oleh permintaan yang turun Itu berarti kan permintaan produksi barang-barang juga akan turun Itu menyebabkan kehidupan bisnis juga akan kendor itu," ucapnya.
Menurutnya penurunan permintaan atas barang dan jasa ini dapat menyebabkan ekosistem bisnis dalam negeri kian lesu hingga berpotensi menyebabkan banyak pemutusan hubungan kerja (PHK). Hal ini seperti yang sudah terjadi di beberapa sektor bisnis atau industri seperti tekstil, alas kaki, hingga elektronik dan manufaktur lainnya.
"Misalnya sektor tekstil, yang pakaian jadi, alas kaki dan produk-produk yang sejenis dengan alas kaki lain itu kan banyak sudah mengalami persoalannya," kata Sutrisno.
"Sehingga PHK di sektor itu kan cukup signifikan. Kemudian juga ada di elektronik, ada di kompor gas itu atau dari manufakturing Itu memang banyak yang mengalami kesulitan," jelasnya lagi.