JP Morgan meningkatkan target harga untuk PT Astra International Tbk. (ASII) di tengah melemahnya kinerja penjualan mobil. Apa faktor pendukungnya? [60] url asal
Bisnis.com, JAKARTA —JP Morganmeningkatkan target harga untuk PT Astra International Tbk.(ASII) di tengah melemahnya kinerja penjualan mobil di industri otomotif.
Dalam risetnya yang dilansir pekan lalu dan diakses viaBloomberg, salah satu lembaga keuangan tertua di dunia itu mempertahankan peringkat netral bagi ASII. Namun, menyesuaikan target harga dari Rp4.400 menjadi Rp4.900 dengan tenggat proyeksi hingga Desember 2025.
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja penjualan mobil listrik atau Battery Electric Vehicle (BEV) di Indonesia terus melaju kencang.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan wholesales (pabrik ke dealer) mobil listrik nasional mencapai 23.045 unit pada Januari-Agustus 2024.
Hasil ini lebih tinggi 177,32% year on year (yoy) dibandingkan realisasi penjualan wholesales mobil listrik nasional pada periode yang sama tahun lalu yakni 8.310 unit. Mobil listrik kini berkontribusi 4,11% terhadap total penjualan wholesales mobil nasional yang berjumlah 560.619 unit hingga Agustus 2024.
Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto mengatakan, pertumbuhan penjualan mobil nasional sangat terbantu oleh kebijakan insentif PPN 1% maupun pembebasan bea masuk dan PPnBM impor completely built up (CBU) dari pemerintah.
"Insentif ini berdampak pada penurunan harga jual mobil listrik di Indonesia," ujar dia, Rabu (18/9).
Di samping itu, bertambahnya model dan merek baru juga menjadi faktor pendorong penjualan mobil listrik nasional selama tahun 2024 berjalan. Saat ini, ada 18 merek yang memasarkan mobil listrik di Indonesia, baik yang diproduksi lokal maupun impor CBU dari negara lain.
Jongkie memperkirakan, tren pertumbuhan penjualan mobil listrik yang positif akan terus berlanjut pada bulan-bulan berikutnya. Gaikindo juga meyakini merek-merek asal China masih bakal mendominasi pasar mobil listrik Tanah Air.
Hal ini didukung oleh kemampuan para produsen otomotif China dalam menawarkan teknologi mobil listrik canggih dengan harga relatif lebih terjangkau, terlepas adanya kebijakan insentif pajak.
"Faktor harga memang masih sangat berperan penting bagi konsumen ketika menentukan pembelian mobil," imbuh dia.
Kembali merujuk data Gaikindo, Wuling Binguo EV menjadi mobil listrik terlaris di Indonesia periode Januari-Agustus 2024 dengan penjualan wholesales mencapai 3.876 unit. Setelah itu, ada Chery Omoda E5 yang membukukan penjualan wholesales 3.485 unit.
Kedua model tersebut sama-sama menikmati insentif PPN 1% lantaran memenuhi syarat minimum Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) 40%.
Rifkie Setiawan, Head of Brand Department PT Chery Sales Indonesia mengatakan, dari awal kehadirannya di Indonesia, Chery telah menetapkan standar baru dengan menjadikan Omoda E5 sebagai mobil listrik segmen SUV terlaris di Tanah Air.
"Kami berkomitmen untuk mempertahankan dan melampaui capaian ini sebagai bagian dari upaya Chery menjadi pemain utama di pasar otomotif global," jelas dia dalam siaran pers, Rabu (18/9).
Merek China lainnya, BYD berhasil menempatkan model BYD Seal sebagai mobil listrik terlaris ketiga di Indonesia dengan penjualan 3.240 unit. Padahal, BYD merupakan pendatang baru di industri otomotif nasional.
Secara keseluruhan, BYD mampu menjual 6.461 unit mobil listrik hingga Agustus 2024 lewat model Seal, Atto 3, Dolphin, dan M6. Alhasil, per Agustus lalu BYD mampu bertengger di peringkat 11 pasar otomotif nasional.
Capaian penjualan BYD cukup dipengaruhi oleh insentif bebas bea masuk dan PPnbM impor mobil listrik CBU yang diperoleh merek tersebut. BYD sendiri sedang memproses pembangunan pabrik mobil listriknya di Indonesia dengan kapasitas produksi 150.000 unit per tahun.
Produsen otomotif asal Jepang seperti Toyota dan Suzuki setuju seandainya pemerintah kembali menerapkan relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk mobil penumpang. Sebab, program tersebut diyakini mampu memulihkan penjualan kendaraan yang sedang lesu-lesunya.
Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM), Anton Jimmi Suwandy mengatakan, pihaknya selaku produsen sudah melakukan sejumlah cara untuk meningkatkan penjualan mobil nasional yang sedang drop. Mulai dari pemberian paket kredit murah, memperkuat aktivitas dealer dan meluncurkan produk-produk baru.
Namun, Anton menegaskan, langkah tersebut tetap harus dibarengi dengan insentif khusus dari pemerintah. Sebab, untuk mencapai target 1 juta unit setahun masih sangat jauh.
"Jadi saya rasa baik juga ya, kita juga melalui GIIAS ini mengimbau pemerintah melihat dari market yang mengalami penurunan tajam. Meski pameran seperti GIIAS ini positif, tapi pastinya untuk mengejar market 1 juta masih cukup jauh ya," ujar Anton saat ditemui di ICE BSD, Tangerang Selatan.
"Jadi harapan kita sebenarnya market butuh di-support juga, karena market domestik penting untuk industri otomotif nasional, karena banyak pekerja yang perlu dukungan pemerintah," tambahnya.
Toyota di GIIAS 2024. Foto: Ridwan Arifin/detikOto
Senada dengan Anton, Minoru Amano selaku Presiden Direktur PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) juga menganggap, relaksasi PPnBM baik untuk solusi jangka pendek. Sebab, di masa lalu, relaksasi sejenis terbukti berhasil untuk meningkatkan penjualan mobil yang sedang lesu akibat pandemi.
"Kami sih memandangnya pemerintah memahami kondisi otomotif yang stagnan. Itu impact-nya bukan ke kita sebagai produsen, tapi juga ke supplier-supplier kita. Makanya dengan adanya insentif itu, kami yakin dampak baiknya ke banyak pihak," tutur Amano saat sesi eksklusif interview di ICE BSD, Tangerang Selatan.
"Jadi kami berpikir, kalau aturan itu nanti diberikan untuk model-model ber-TKDN tinggi, itu akan lebih baik ya. Kalau Suzuki kan ada Ertiga, XL7 dan Carry yang TKDN-nya sudah 80 persen ya. Kalau ada insentif seperti itu tentu akan menimbulkan efek bola salju untuk pertumbuhan ekonomi," tambahnya.
Meski demikian, kata Amano, insentif sejatinya merupakan solusi jangka pendek. Sehingga pemerintah dan produsen tetap harus mencari cara untuk program jangka panjang.
Dulu, ketika dunia sedang dilanda krisis ekonomi tahun 2009, pemerintah di sejumlah negara termasuk Eropa memberikan insentif sejenis untuk meningkatkan penjualan mobil yang merosot tajam. Permintaan kendaraan baru langsung melejit total di awal-awal, namun turun parah setelah aturan ditarik pemerintah.
"Jadi harapannya itu bukan insentif yang naik sementara, tapi kebijakan itu bisa membuat siklus yang berkelanjutan. Konsisten," ungkapnya
Gaikindo Usul Relaksasi PPnBM Diterapkan Lagi
Sebelumnya, Gaikindo mengaku telah mengusulkan pemerintah mengenai program relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) Ditanggung Pemerintah (DTP) untuk mobil penumpang. Insentif tersebut diyakini mampu meningkatkan penjualan mobil yang sedang drop.
Relaksasi PPnBM untuk mobil penumpang sempat diterapkan ketika pandemi melanda Indonesia, tiga tahun lalu. Ketika itu, insentif tersebut diharapkan mampu meningkatkan minat konsumen dalam membeli kendaraan baru.
"Kita minta kepada pemerintah agar ada insentif sementara seperti saat Covid-19 lalu. Yaitu, pengurangan atau penghapusan PPnBM bagi mobil yang diproduksi di dalam negeri dengan TKDN tinggi seperti 60 persen ke atas. Supaya harga terjangkau," ujar Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto.
Menurut Jongkie, gagasan tersebut seharusnya bisa dijalankan pemerintah. Sebab, yang dibebaskan hanya PPnBBM. Sementara pajak-pajak lainnya masih tetap ada.
"Satu saya tambahkan bahwa kami tidak meminta uang. Justru kita akan meningkatkan pendapatan karena yang dihapus dan dikurangi hanyalah PPnBM saja. Sedangkan PPN, BBnKB, tetap dibayar. PKB juga dibayarkan," kata dia.
Penjualan Mobil Drop
Dikutip dari data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil secara wholesales (distribusi dari pabrik ke dealer) sepanjang Januari sampai dengan Juni 2024 tercatat hanya 408.012 unit.
Capaian sepanjang Januari-Juni tersebut minus 19,4 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai 506.427 unit.
Produksi mobil di Tanah Air pun ikutan anjlok. Pada semester satu 2024, produksi mobil di Indonesia hanya 561.772 unit, turun 20 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada periode sama tahun 2023, produksi mobil mencapai 702.144 unit.