#30 tag 24jam
Krisis Properti di China Makan Korban Bank Asal Inggris
Krisis properti China belum menunjukkan perbaikan meski pemerintah negeri berjuluk tirai bambu itu telah memberikan berbagai insentif. [358] url asal
#krisis-properti #krisis-properti-china #hsbc #gagal-bayar #inggris #kredit-macet #asia-timur #dolar #financial-time #china #penurunan #mark-leung #pusat-keuangan-asia-timur #estate #bank #ubs #asia #properti #pem
(detikFinance - Perencanaan Keuangan) 26/10/24 19:14
v/17031032/
Jakarta - Krisis properti China belum menunjukkan perbaikan meski pemerintah negeri berjuluk tirai bambu itu telah memberikan berbagai insentif. Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah kredit macet perbankan untuk pinjaman di sektor tersebut.
Salah satunya seperti yang dialami oleh raksasa perbankan asal Inggris, HSBC. Di mana eksposur perusahaan terhadap kredit macet pinjaman properti komersial di Hong Kong melonjak hampir enam kali lipat.
Melansir dari Financial Time, Sabtu (26/10/2024), jumlah kredit macet sektor properti yang dimiliki bank tersebut per 30 Juni 2024 kemarin sudah mencapai US$ 3,2 miliar atau setara Rp 50,06 triliun (kurs Rp 15.646/dolar AS).
Jumlah itu naik dari US$ 576 juta atau Rp 9,01 pada awal 2024. Di mana total kredit macet senilai US$ 3,2 miliar itu merupakan 9% dari total pinjaman real estate komersial HSBC di Hong Kong.
Padahal selama ini Hong Kong merupakan pasar terbesar HSBC untuk pinjaman real estat komersial, yang mencakup 45% dari keseluruhan portofolionya. Dibandingkan dengan portofolio pinjaman sektor properti mereka di kampung halaman, Inggris, yang hanya 18%.
Meningkatnya gagal bayar atau kredit macet ini merupakan tanda bagaimana sektor properti komersial di Hong Kong terus menyusut, meskipun pusat keuangan Asia Timur tersebut selama bertahun-tahun telah menjadi salah satu pasar real estat termahal di dunia.
Sama dengan HSBC, bank asal Inggris lainnya seperti Standard Chartered memiliki lebih banyak eksposur terhadap pinjaman properti komersial di Hong Kong daripada wilayah lain mana pun.
Bank itu melaporkan peningkatan proporsi peminjam dengan peringkat lebih rendah dalam pendapatan terbarunya. Meskipun jumlah kredit macet untuk pinjaman real estate mereka tampak tidak mengalami kenaikan yang signifikan alias masih baik-baik saja.
Namu. Standard Chartered mengatakan pada bulan Juli bahwa mereka tetap memangkas eksposur tanpa jaminan terhadap peminjam real estat komersial Hong Kong sebesar 19% sejak akhir tahun 2022.
Di luar itu analis properti di UBS, Mark Leung, berpendapat sektor properti di Hong Kong akan terus meredup dalam beberapa waktu ke depan sama seperti yang dialami China. Hal ini akan terlihat dari banyaknya penurunan nilai aset bagi pengembang Hong Kong dalam waktu dekat.
"Untuk perkantoran, sewa kemungkinan akan terus turun karena masalah pasokan yang meningkat, dan kekosongan bisa meningkat," katanya.
(hns/hns)Bank Dunia Ungkap Penyebab Ekonomi Negara Asia Timur dan Pasifik Belum Kunjung Membaik
Di banyak negara Asia Timur dan Pasifik konsumsi rumah tangga dan investasi, yang meningkatkan kapasitas produktif ekonomi, cenderung tumbuh melambat. [444] url asal
#ekonomi #ekonomi-asia-timur #ekonomi-asia-pasifik #asia-timur #asia-pasifik #proyeksi-ekonomi-asia-timur #proyeksi-ekonomi-asia-pasifik #bank-dunia #world-bank #laporan-bank-dunia #laporan-world-bank
(Bisnis.Com - Ekonomi) 10/10/24 19:09
v/16263703/
Bisnis.com, JAKARTA — Bank Dunia atau World Bank melihat ekonomi di wilayah Asia Timur dan Pasifik akan terus tumbuh dan berkembang lebih cepat daripada kawasan lain di dunia. Namun, pertumbuhan ekonomi itu melambat dan belum kunjung membaik dari sebelum pandemi Covid-19.
Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Aaditya Mattoo menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi di sebagian besar negara wilayah tersebut saat ini, kecuali Indonesia, lebih lambat daripada sebelum pandemi.
Pertumbuhan yang melambat ini memiliki satu implikasi, yakni negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik membutuhkan waktu lebih lama untuk berlomba-lomba mengejar pendapatan atau produk domestik bruto (PDB) yang lebih tinggi.
Mengacu paparan Aaditya, pada periode setelah resesi atau pada 2010 hingga 2014, ekonomi China tumbuh 8% lebih cepat daripada negara maju seperti Eropa, Inggris, dan Amerika Serikat (AS). Periode untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhan ekonomi dengan negara maju rupanya harus tertahan karena pandemi.
Aaditya menyampaikan bahwa setelah pandemi dalam beberapa tahun terakhir, pihaknya telah melihat perlambatan yang signifikan dalam proses mengejar ketertinggalan, sehingga beberapa negara seperti Myanmar, Thailand, dan Mongolia justru semakin tertinggal.
Hal ini juga terjadi pada beberapa negara di Pasifik, banyak di antaranya yang bahkan belum kembali ke tingkat produksi seperti sebelum pandemi.
"Salah satu alasannya adalah karena saat ini konsumsi rumah tangga cenderung melambat. Pada saat yang sama, investasi, yang meningkatkan kapasitas produktif ekonomi, pertumbuhannya juga melambat," ujarnya dalam East Asia and Pacific Economic Update Launch Event, Kamis (10/10/2024).
Sebagai contoh, dirinya melilhat pengeluaran rumah tangga relatif kuat saat ini di Malaysia, tetapi investasi yang masuk justru rendah.
Tercatat dalam laporan East Asia and The Pacific Economic Update October 2024, bahwa pertumbuhan investasi telah menurun di sebagian besar negara di kawasan ini selama dua dekade terakhir.
Penurunan yang sangat tajam di China, Indonesia, Malaysia, dan baru-baru ini, Filipina. Saat ini, tingkat investasi berada di bawah tingkat sebelum pandemi di Malaysia dan Filipina dan belum melampaui tingkat sebelum pandemi di Thailand.
Di China, kemerosotan pasar properti berkontribusi pada perlambatan pertumbuhan investasi, sementara investasi manufaktur mendukung pertumbuhan. Pertumbuhan investasi tampaknya relatif kuat di Vietnam. Meskipun demikian, kinerja ekspor yang mulai pulih di wilayah Asia Timur dan Pasifik menjadi penopang pertumbuhan ekonomi.
Secara umum, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan di kawasan Asia Timur dan Pasifik berada pada angka 4,8% untuk 2024, dan melambat ke 4,4% pada 2025.
Pertumbuhan China diproyeksikan menurun dari 4,8% tahun ini menjadi 4,3% di tahun 2025, di tengah terus lemahnya pasar properti, rendahnya kepercayaan konsumen maupun investor, dan berbagai kendala struktural seperti penduduk yang menua dan tekanan global.

Bank Dunia Prediksi Ekonomi RI Tumbuh di Atas Tingkat Sebelum Pandemi
Bank Dunia memprediksi ekonomi Indonesia tumbuh 5 persen pada 2024, stabil di atas level pra-pandemi. Apa yang mendukung pertumbuhan ini? [582] url asal
#kawasan-asia-timur #bank-dunia #ekonomi-indonesia #pertumbuhan-2024
(Kompas.com) 08/10/24 22:31
v/16182410/
JAKARTA, KOMPAS.com — Bank Dunia memproyeksikan bahwa ekonomi Indonesia akan tumbuh setara atau bahkan di atas tingkat sebelum pandemi Covid-19 pada tahun 2024 dan 2025.
Dalam laporan terbaru berjudul "World Bank East Asia and The Pacific Economic Update" edisi Oktober 2024, Indonesia diperkirakan menjadi satu-satunya negara besar di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang mampu mencapai pertumbuhan tersebut.
"Di antara negara-negara yang lebih besar, hanya Indonesia yang diperkirakan tumbuh di tahun 2024 dan 2025 pada atau di atas tingkat sebelum pandemi, sementara pertumbuhan di Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam diperkirakan berada di bawah tingkat tersebut," ungkap Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, Aaditya Mattoo, dalam konferensi pers virtual yang digelar di Jakarta, Selasa (8/10).
Bank Dunia memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh sebesar 5 persen pada 2024 dan meningkat menjadi 5,1 persen pada 2025.
Sebagai perbandingan, rata-rata pertumbuhan Indonesia pada periode 2015-2019 tercatat sebesar 5 persen.
Proyeksi ini menunjukkan peningkatan dari laporan sebelumnya pada April 2024, yang memprediksi pertumbuhan ekonomi sebesar 4,9 persen pada 2024 dan 5 persen pada 2025.
Peningkatan konsumsi masyarakat, investasi, serta belanja pemerintah menjadi faktor pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa mendatang.
Laporan tersebut juga menyoroti pertumbuhan keseluruhan wilayah Asia Timur dan Pasifik yang diperkirakan sebesar 4,8 persen pada 2024, namun melambat menjadi 4,4 persen pada 2025.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Tiongkok, yang merupakan ekonomi terbesar di kawasan ini, diperkirakan turun dari 4,8 persen tahun ini menjadi 4,3 persen pada 2025.
Penurunan ini disebabkan oleh pelemahan pasar properti, rendahnya kepercayaan konsumen dan investor, serta tantangan struktural seperti penuaan populasi dan ketegangan geopolitik.
Pertumbuhan negara-negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik, tidak termasuk Tiongkok, diprediksi meningkat dari 4,7 persen pada 2024 menjadi 4,9 persen pada 2025.
Kenaikan ini didukung oleh peningkatan konsumsi domestik, pemulihan ekspor barang, serta kebangkitan sektor pariwisata.
Secara perinci, pertumbuhan ekonomi Malaysia diproyeksikan mencapai 4,9 persen pada 2024 dan turun menjadi 4,5 persen pada 2025.
Filipina diperkirakan akan tumbuh 6 persen pada 2024 dan meningkat tipis menjadi 6,1 persen pada 2025.
Sementara itu, Thailand diperkirakan mengalami pertumbuhan sebesar 2,4 persen pada 2024 dan 3 persen pada 2025, dan Vietnam diproyeksikan tumbuh 6,1 persen pada 2024 dan 6,5 persen pada 2025.
Kamboja diprediksi mencatatkan pertumbuhan 5,3 persen pada 2024 dan 5,5 persen pada 2025, sedangkan Laos diproyeksikan tumbuh 4,1 persen pada 2024 dan turun menjadi 3,7 persen pada 2025.
Pertumbuhan ekonomi Myanmar diperkirakan stagnan di angka 1 persen baik pada 2024 maupun 2025.
Di kawasan Kepulauan Pasifik, pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 3,5 persen pada 2024 dan sedikit melambat menjadi 3,4 persen pada 2025, seiring dengan pemulihan sektor pariwisata.
Namun, investasi di wilayah ini masih menunjukkan kelemahan yang signifikan.
Bank Dunia Prediksi Ekonomi RI Tumbuh di Atas Tingkat Sebelum Pandemi
Bank Dunia memprediksi ekonomi Indonesia tumbuh 5 persen pada 2024, stabil di atas level pra-pandemi. Apa yang mendukung pertumbuhan ini? Halaman all [582] url asal
#kawasan-asia-timur #bank-dunia #ekonomi-indonesia #pertumbuhan-2024
(Kompas.com) 08/10/24 22:31
v/16171678/
JAKARTA, KOMPAS.com — Bank Dunia memproyeksikan bahwa ekonomi Indonesia akan tumbuh setara atau bahkan di atas tingkat sebelum pandemi Covid-19 pada tahun 2024 dan 2025.
Dalam laporan terbaru berjudul "World Bank East Asia and The Pacific Economic Update" edisi Oktober 2024, Indonesia diperkirakan menjadi satu-satunya negara besar di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang mampu mencapai pertumbuhan tersebut.
"Di antara negara-negara yang lebih besar, hanya Indonesia yang diperkirakan tumbuh di tahun 2024 dan 2025 pada atau di atas tingkat sebelum pandemi, sementara pertumbuhan di Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam diperkirakan berada di bawah tingkat tersebut," ungkap Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, Aaditya Mattoo, dalam konferensi pers virtual yang digelar di Jakarta, Selasa (8/10).
Bank Dunia memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh sebesar 5 persen pada 2024 dan meningkat menjadi 5,1 persen pada 2025.
Sebagai perbandingan, rata-rata pertumbuhan Indonesia pada periode 2015-2019 tercatat sebesar 5 persen.
Proyeksi ini menunjukkan peningkatan dari laporan sebelumnya pada April 2024, yang memprediksi pertumbuhan ekonomi sebesar 4,9 persen pada 2024 dan 5 persen pada 2025.
Peningkatan konsumsi masyarakat, investasi, serta belanja pemerintah menjadi faktor pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa mendatang.
Laporan tersebut juga menyoroti pertumbuhan keseluruhan wilayah Asia Timur dan Pasifik yang diperkirakan sebesar 4,8 persen pada 2024, namun melambat menjadi 4,4 persen pada 2025.
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Tiongkok, yang merupakan ekonomi terbesar di kawasan ini, diperkirakan turun dari 4,8 persen tahun ini menjadi 4,3 persen pada 2025.
Penurunan ini disebabkan oleh pelemahan pasar properti, rendahnya kepercayaan konsumen dan investor, serta tantangan struktural seperti penuaan populasi dan ketegangan geopolitik.
Pertumbuhan negara-negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik, tidak termasuk Tiongkok, diprediksi meningkat dari 4,7 persen pada 2024 menjadi 4,9 persen pada 2025.
Kenaikan ini didukung oleh peningkatan konsumsi domestik, pemulihan ekspor barang, serta kebangkitan sektor pariwisata.
Secara perinci, pertumbuhan ekonomi Malaysia diproyeksikan mencapai 4,9 persen pada 2024 dan turun menjadi 4,5 persen pada 2025.
Filipina diperkirakan akan tumbuh 6 persen pada 2024 dan meningkat tipis menjadi 6,1 persen pada 2025.
Sementara itu, Thailand diperkirakan mengalami pertumbuhan sebesar 2,4 persen pada 2024 dan 3 persen pada 2025, dan Vietnam diproyeksikan tumbuh 6,1 persen pada 2024 dan 6,5 persen pada 2025.
Kamboja diprediksi mencatatkan pertumbuhan 5,3 persen pada 2024 dan 5,5 persen pada 2025, sedangkan Laos diproyeksikan tumbuh 4,1 persen pada 2024 dan turun menjadi 3,7 persen pada 2025.
Pertumbuhan ekonomi Myanmar diperkirakan stagnan di angka 1 persen baik pada 2024 maupun 2025.
Di kawasan Kepulauan Pasifik, pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 3,5 persen pada 2024 dan sedikit melambat menjadi 3,4 persen pada 2025, seiring dengan pemulihan sektor pariwisata.
Namun, investasi di wilayah ini masih menunjukkan kelemahan yang signifikan.
Impor Ikan Turun 35%, RI Incar Pasar Timur Tengah dan Asia Timur untuk Ekspor
Penurunan nilai impor perikanan membuat neraca perdagangan perikanan Indonesia surplus US$ 2,49 miliar atau Rp 40,67 triliun. [292] url asal
#impor #ekspor #ikan #perikanan #pengolahan #update-me #timur-tengah #negara-asia-timur #asia #neraca-perdagangan #surplus-perdagangan
(Katadata - FINANSIAL) 28/07/24 13:31
v/12417921/
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengungkapkan nilai impor perikanan Indonesia turun 35,15% secara tahunan (yoy) menjadi US$ 219,54 juta pada semester I 2024.
Dengan penurunan itu, kinerja ekspor perikanan masih terus digenjot melalui strategi promosi hasil perikanan dan peningkatan kualitas hasil perikanan.
"Kami juga membuka peluang pasar baru di negara-negara Timur Tengah dan Asia Timur," kata Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Budi Sulistiyo di Jakarta, Sabtu (27/7).
Budi menjelaskan, penurunan nilai impor perikanan membuat neraca perdagangan perikanan surplus US$ 2,49 miliar atau Rp 40,67 triliun. Nilai tersebut surplus 6,2% dibanding periode serupa tahun sebelumnya.
Untuk komoditas impor, kata Budi, bertujuan untuk bahan baku industri dan ada juga untuk kebutuhan hotel, restoran, katering dan pasar modern (horekapasmod). “Horeka ini adalah ikan-ikan yang tidak ada di Indonesia, seperti ikan salmon, trout dan ikan kod,” ujar Budi.
Pasokan Dari Dalam Negeri Terpenuhi
Penurunan impor dipengaruhi oleh pasokan ikan hasil tangkapan nelayan dalam negeri yang mampu memenuhi kebutuhan industri pengolahan dan pemindangan. Ikan yang pasokannya cukup banyak yakni ikan-ikan pelagis seperti ikan kembung.
Untuk itu, pihaknya mendorong pelaku pengolahan dan pemindangan untuk memprioritaskan ikan hasil tangkapan nelayan kita sendiri.
"Dari awal tahun sampai Mei pasokan kita cukup, sehingga diprioritaskan menggunakan produk hasil tangkapan dalam negeri. Ikan impor itu hanya untuk mengisi ketika tak ada bahan baku,” kata dia.
Adapun kinerja ekspor perikanan mencapai US$ 2,71 miliar dari Januari - Juni 2024 . Negara tujuan utama pengiriman yakni Amerika Serikat sebesar US$ 889,39 juta, Cina (US$ 556,04 juta), Asean (US$ 353,93 juta), Jepang (US$ 285,47 juta) dan Uni Eropa (US$ 193,35 juta).
"Komoditas utama yang masih didominasi oleh udang, tuna-tongkol-cakalang, cumi-sotong-gurita, rajungan kepiting, dan rumput laut," ujar Budi.
GIIAS 2024, Muara Tiga Poros Otomotif Asia Timur
Pada pameran GIIAS 2024, begitu terasa ada tiga kepentingan poros otomotif Asia Timur saling bersaing, yaitu Jepang, Korea Selatan, dan China. Halaman all?page=all [799] url asal
#baterai #china #korea #jepang #gaikindo #asia-timur #giias-2024 #electric-vehicle #kebijakan #mobil-listrik
(Kompas.com) 24/07/24 08:02
v/11948056/
TANGERANG, KOMPAS.com – Pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2024 tengah berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD, Serpong, Kabupaten Tangerang, Banten, 18-28 Juli 2024.
Dua pekan sebelum GIIAS 2024 terselenggara, seluruh mata pemangku kepentingan industri otomotif nasional tertuju pada peresmian pabrik baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) pertama di Indonesia.
Presiden Joko Widodo meresmikan pabrik baterai EV milik PT Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power yang berlokasi di Karawang Barat, Jawa Barat, Rabu (3/7/2024). Pembangunan pabrik baterai EV ini menelan investasi Rp 13,5 triliun, disebut sebagai yang pertama dan terbesar di ASEAN.
Kembali ke riuh lantai pameran, tepatnya di Hall 10, Rabu (17/7/2024), PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) meluncurkan generasi baru mobil listrik Kona Electric berstatus rakitan Karawang, sekaligus jadi mobil listrik pertama di Indonesia yang menggunakan baterai buatan lokal asupan dari HLI.
Sport utility vehicle (SUV) medium ini dipasarkan dengan rentang harga Rp 499 juta-Rp 590 juta (on the road), dengan klaim status kandungan komponen lokal (TKDN) tembus 60 persen. Hyundai sebagai perwakilan otomotif Korea Selatan tentu berharap model andalan ini mampu menembus pasar otomotif nasional.
BRYAN Wapres Ma'ruf Amin di booth Hyundai GIIAS 2024Selang beberapa jam, dari Hall 3, PT BYD Motor Indonesia juga meluncurkan mobil listrik andalan M6 mengisi ceruk MPV 7 penumpang sesuai porsi terbesar pasar otomotif nasional. Mobil ini berstatus impor utuh atau compeltey built up (CBU) asal China alias nol persen tanpa menggunakan komponen lokal.
BYD memasarkan M6 dalam rentang harga Rp 379 juta-Rp 429 juta (on the road Jakarta).
"Persaingan pasar otomotif di Indonesia khususnya pada tahun ini sangat ketat. Persaingannya makin keras," kata Presiden Direktur HMID Woojune Cha kepada Kompas.com di ICE BSD, Tangerang, belum lama ini.
Ia mengatakan, sengaja memutuskan harga Kona Electric agar kompetitif sebagai salah satu strategi membalas persaingan harga dari para kompetitor.
"Sampai akhir 2023 lalu Ioniq 5 menjadi pemimpin pasar segmen EV kelas atas. Melalui Kona Electric, kita mencoba masuk ke pasar EV menengah di Indonesia," ucap Woojune.
KOMPAS.com/Aprida Mega Nanda MPV Listrik BYD M6Upaya Pemerintah
Upaya pemerintah membuka kesempatan para produsen otomotif dunia mencicipi pasar domestik Indonesia dalam dua tahun belakangan membuat persaingan EV nasional semakin ketat. Sedikitnya, tercatat delapan merek mobil yang sudah masuk ke pasar Indonesia.
Mulai dari Chery, Neta, Great Wall Motors (GWM), BYD, GAC Aion, BAIC, Jetour, termasuk merek asal Vietnam, VinFast.
Berbagai merek baru ini masuk ke pasar memanfaatkan kebijakan pembebasan impor utuh alias CBU yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 9 Tahun 2024, tentang Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas Impor dan/ atau Penyerahan Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai Roda Empat Tertentu yang Ditanggung Pemerintah Tahun Anggaran 2024.
Penetrasi tersebut lantas membuat Hyundai yang lebih dahulu pemasarkan mobil listrik di Indonesia gusar. Masalahnya, dominasi merek China yang masuk Indonesia bisa langsung impor utuh mobil listrik dari China, menikmati insentif berupa pembebasan tarif bea masuk dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) tanpa perlu berinvestasi langsung.
Mereka diberikan waktu hingga akhir 2025 untuk kemudian mendirikan pabrik perakitan mandiri dan memproduksi mobil-mobil yang sudah dijual di pasar.
Sementara, waktu Hyundai masuk ke pasar, untuk mendapatkan insentif berupa pembebasan tarif PPnBM perusahaan harus menggelontorkan investasi besar, minimal Rp 5 triliun, karena wajib memenuhi TKDN minimum 40 persen.
Pada akhirnya, Hyundai mengucurkan investasi Rp 142 triliun untuk membangun ekosistem industri elektrifikasi di Indonesia. Dana ini mencakup rangkaian industri hulu ke hilir, mulai pertambangan, pengolahan bahan, pembuatan sel baterai dan baterai pack, sampai perakitan mobil.
Terkait kebijakan pemerintah terkait EV yang kerap berubah-ubah, Woojune Cha memilih enggan berbicara banyak. Menurutnya, persaingan pasar EV yang semakin ketat memang terjadi di seluruh dunia, seperti Eropa, Amerika, bahkan di Korea Selatan sekalipun, mengingat segmentasi yang terus berkembang.
"Pemerintah saya pikir telah mempertimbangkan dengan matang dan bijak untuk kebijakan EV. Mungkin, pemerintah memiliki maksudnya sendiri dalam meningkatkan pasar EV. Saya harap pasar EV Indonesia harus maju terus. Tetapi saya pikir harus sehat, fair, dan transparan," ucap Woojune.
Dok. Hyundai Indonesia President Director PT HMID Woojune Cha mengatakan, Hyundai menggebrak industri otomotif dengan menghadirkan battery electric vehicle (BEV) pertama di Tanah Air, salah satunya yaitu KONA Electric.Percepatan Era Elektrifikasi
GIIAS 2024, Muara Tiga Poros Otomotif Asia Timur
Pada pameran GIIAS 2024, begitu terasa ada tiga kepentingan poros otomotif Asia Timur saling bersaing, yaitu Jepang, Korea Selatan, dan China. Halaman all [1,931] url asal
#baterai #china #korea #jepang #gaikindo #asia-timur #giias-2024 #electric-vehicle #kebijakan #mobil-listrik
(Kompas.com) 24/07/24 08:02
v/11894051/
TANGERANG, KOMPAS.com – Pameran otomotif Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2024 tengah berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD, Serpong, Kabupaten Tangerang, Banten, 18-28 Juli 2024.
Dua pekan sebelum GIIAS 2024 terselenggara, seluruh mata pemangku kepentingan industri otomotif nasional tertuju pada peresmian pabrik baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) pertama di Indonesia.
Presiden Joko Widodo meresmikan pabrik baterai EV milik PT Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power yang berlokasi di Karawang Barat, Jawa Barat, Rabu (3/7/2024). Pembangunan pabrik baterai EV ini menelan investasi Rp 13,5 triliun, disebut sebagai yang pertama dan terbesar di ASEAN.
Kembali ke riuh lantai pameran, tepatnya di Hall 10, Rabu (17/7/2024), PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) meluncurkan generasi baru mobil listrik Kona Electric berstatus rakitan Karawang, sekaligus jadi mobil listrik pertama di Indonesia yang menggunakan baterai buatan lokal asupan dari HLI.
Sport utility vehicle (SUV) medium ini dipasarkan dengan rentang harga Rp 499 juta-Rp 590 juta (on the road), dengan klaim status kandungan komponen lokal (TKDN) tembus 60 persen. Hyundai sebagai perwakilan otomotif Korea Selatan tentu berharap model andalan ini mampu menembus pasar otomotif nasional.
BRYAN Wapres Ma'ruf Amin di booth Hyundai GIIAS 2024Selang beberapa jam, dari Hall 3, PT BYD Motor Indonesia juga meluncurkan mobil listrik andalan M6 mengisi ceruk MPV 7 penumpang sesuai porsi terbesar pasar otomotif nasional. Mobil ini berstatus impor utuh atau compeltey built up (CBU) asal China alias nol persen tanpa menggunakan komponen lokal.
BYD memasarkan M6 dalam rentang harga Rp 379 juta-Rp 429 juta (on the road Jakarta).
"Persaingan pasar otomotif di Indonesia khususnya pada tahun ini sangat ketat. Persaingannya makin keras," kata Presiden Direktur HMID Woojune Cha kepada Kompas.com di ICE BSD, Tangerang, belum lama ini.
Ia mengatakan, sengaja memutuskan harga Kona Electric agar kompetitif sebagai salah satu strategi membalas persaingan harga dari para kompetitor.
"Sampai akhir 2023 lalu Ioniq 5 menjadi pemimpin pasar segmen EV kelas atas. Melalui Kona Electric, kita mencoba masuk ke pasar EV menengah di Indonesia," ucap Woojune.
KOMPAS.com/Aprida Mega Nanda MPV Listrik BYD M6Upaya Pemerintah
Upaya pemerintah membuka kesempatan para produsen otomotif dunia mencicipi pasar domestik Indonesia dalam dua tahun belakangan membuat persaingan EV nasional semakin ketat. Sedikitnya, tercatat delapan merek mobil yang sudah masuk ke pasar Indonesia.
Mulai dari Chery, Neta, Great Wall Motors (GWM), BYD, GAC Aion, BAIC, Jetour, termasuk merek asal Vietnam, VinFast.
Berbagai merek baru ini masuk ke pasar memanfaatkan kebijakan pembebasan impor utuh alias CBU yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 9 Tahun 2024, tentang Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas Impor dan/ atau Penyerahan Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai Roda Empat Tertentu yang Ditanggung Pemerintah Tahun Anggaran 2024.
Penetrasi tersebut lantas membuat Hyundai yang lebih dahulu pemasarkan mobil listrik di Indonesia gusar. Masalahnya, dominasi merek China yang masuk Indonesia bisa langsung impor utuh mobil listrik dari China, menikmati insentif berupa pembebasan tarif bea masuk dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) tanpa perlu berinvestasi langsung.
Mereka diberikan waktu hingga akhir 2025 untuk kemudian mendirikan pabrik perakitan mandiri dan memproduksi mobil-mobil yang sudah dijual di pasar.
Sementara, waktu Hyundai masuk ke pasar, untuk mendapatkan insentif berupa pembebasan tarif PPnBM perusahaan harus menggelontorkan investasi besar, minimal Rp 5 triliun, karena wajib memenuhi TKDN minimum 40 persen.
Pada akhirnya, Hyundai mengucurkan investasi Rp 142 triliun untuk membangun ekosistem industri elektrifikasi di Indonesia. Dana ini mencakup rangkaian industri hulu ke hilir, mulai pertambangan, pengolahan bahan, pembuatan sel baterai dan baterai pack, sampai perakitan mobil.
Terkait kebijakan pemerintah terkait EV yang kerap berubah-ubah, Woojune Cha memilih enggan berbicara banyak. Menurutnya, persaingan pasar EV yang semakin ketat memang terjadi di seluruh dunia, seperti Eropa, Amerika, bahkan di Korea Selatan sekalipun, mengingat segmentasi yang terus berkembang.
"Pemerintah saya pikir telah mempertimbangkan dengan matang dan bijak untuk kebijakan EV. Mungkin, pemerintah memiliki maksudnya sendiri dalam meningkatkan pasar EV. Saya harap pasar EV Indonesia harus maju terus. Tetapi saya pikir harus sehat, fair, dan transparan," ucap Woojune.
Dok. Hyundai Indonesia President Director PT HMID Woojune Cha mengatakan, Hyundai menggebrak industri otomotif dengan menghadirkan battery electric vehicle (BEV) pertama di Tanah Air, salah satunya yaitu KONA Electric.Percepatan Era Elektrifikasi
Eagle Zhao, Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia, mengatakan, setiap langkah yang dilakukan pemerintah sebetulnya bertujuan untuk mempercepat elektrifikasi di Indonesia.
“Kebijakan EV untuk Indonesia, sebenarnya saya yakin banyak negara yang sudah memulai beberapa kebijakan ini, untuk mendorong pada tahap awal. Jadi pemerintah Indonesia juga melakukan hal tersebut, terutama di awal tahun ini mereka sudah meluncurkan kebijakan-kebijakan untuk mendorong seluruh industri dan kami sangat mengapresiasi,” kata Eagle.
“Jadi kami percaya tentu saja kami berharap semakin banyak kebijakan yang bervariasi mengenai kendaraan energi baru yang bisa keluar maka akan semakin mempercepat elektrifikasi,” lanjutnya.
Tak dapat dipungkiri bahwa aturan pemerintah terkait insentif mobil listrik impor menguntungkan pabrikan negeri tirai bambu itu. Namun, Eagle menyebut bahwa setiap kebijakan yang diterapkan sebetulnya bertujuan untuk menguntungkan seluruh industri otomotif bukan hanya produsen mobil listrik saja.
Terlebih pihaknya juga memiliki komitmen untuk melakukan perakitan lokal di Indonesia yang di mana rencana pabrik BYD tersebut akan rampung pada akhir 2025.
“Sebenarnya kebijakan-kebijakan tersebut lebih menguntungkan bagi seluruh industri bukan hanya untuk EV saja. Selain itu, kami juga memiliki rencana manufaktur lokal di Indonesia,” kata Eagle.
Dengan membangun pabrik di dalam negeri, BYD cukup percaya diri bisa bersaing di pasar Indonesia untuk menyajikan produk-produk yang bisa diterima masyarakat.
“Keyakinan kami sangat tinggi masih tetap ada apalagi setelah 20 tahun pengembangan kendaraan listrik, teknologi dan produk manufakturnya cukup natural. Jadi kami sangat percaya diri,” ujar Eagle.
KOMPAS.com/M. Fathan Toyota Innova Zenix Hybrid Flexy Fuel Bioethanol di GIIAS 2024Semangat Hybrid
Mengutip data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), pada 2023, total penjualan ritel mobil di Indonesia sebesar 998.059 unit, turun sekitar 2 persen dari 2022, sebesar 1.013.582 unit.
Dari jumlah tersebut segmen elektrifikasi yang terdiri dari hybrid (HEV), Plug-in Hybrid (PHEV), dan mobil listrik (BEV), terjual 64.933 unit atau 6,51 persen dari total penjualan mobil nasional.
Kemudian jika dirinci, penjualan mobil hybrid atau HEV sebesar 46.756 unit dengan porsi market share 4,68 persen, sedangkan mobil listrik hanya terjual 18.178 unit atau 1,82 persen.
Jika disederhanakan, maka pangsa mobil elektrifikasi baru mengambil porsi 6,5 persen dari total pasar mobil nasional. Komposisi mobil hybrid sendiri paling besar dan terjual empat kali lebih banyak dari mobil listrik.
Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor Hiroyuki Ueda mengatakan, pemerintah seharusnya tetap melanjutkan rencana insentif buat mobil hybrid.
“Kita harap insentif masih diberi, karena Menteri Perindustrian RI Agus Gumiwang dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto sebut soal insentif hybrid. Saya harap ada progres di sana,” ucap Ueda kepada Kompas.com, Rabu (17/7/2024).
Soal mobil listrik dari China, Ueda bilang kalau konsumen akhirnya hanya akan memilih produk yang sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Maka, harga mobil hybrid yang kompetitif bisa dibilang jadi pertimbangan yang penting.
Soal keadilan, Ueda cuma bilang kalau ramainya merek China ke pasar Indonesia merupakan keputusan pemerintah. Semua regulasi yang nantinya keluar, Toyota akan coba ikuti terus.
“Kalau kondisinya berbeda, kami akan terus penetrasi dan bikin kompetisi. Itu cara Toyota, selalu cari cara terbaik,” kata Ueda.
Hingga kini, sudah ada dua mobil hybrid yang diproduksi pabrik PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), yakni Innova Zenix Hybrid dan Yaris Cross Hybrid. Kedua model kini menjadi andalan Toyota di masing-masing segmen dengan porsi penjualan yang menjanjikan.
Foto: KOMPAS.com/Adityo Wisnu Prabowo Honda Step WGN di booth Honda di GIIAS 2024Dinamika Kebijakan
Dinamika kebijakan elektrifikasi pemerintah juga terus bergerak. Terakhir, pemerintah berencana menaikkan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) untuk mobil hybrid. Hal tersebut tertuang dalam Peraturan Pemerintah No. 74/2021.
Dalam beleidnya, dinyatakan bahwa PPnBM mobil hybrid yang semula dikenakan 7-8 persen (skema I) akan naik menjadi 10-12 persen, disebut skema II. Kebijakan ini efektif berlaku jika ada investasi dengan nilai minimal Rp 5 triliun untuk membentuk ekosistem kendaraan listrik. Mulai dari produksi sel baterai sampai mobil utuh.
Faktanya, investasi sudah terealisasi melalui pendirian pabrik sel baterai HLI Green Power di Karawang, Jawa Barat.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) kemudian melontarkan rencana untuk melakukan harmonisasi supaya pajak mobil hybrid tidak masuk ke skema II. Tujuannya agar produsen mobil yang saat ini hanya punya produk hybrid tidak berat menghadapi kondisi pasar otomotif nasional yang tengah anjlok 19 persen periode Januari-Juni 2024.
Plt Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Putu Juli Ardika mengatakan, harmonisasi tersebut supaya langkah dari Indonesia untuk menuju elektrifikasi tidak kalah dengan Thailand.
"Kami lihat perkembangannya karena ini sekarang baru wacana. Nanti ini kami coba dorong biar bisa minimal diharmonisasi sehingga tidak kalah jauh daripada Thailand. Karena saat ini rival kita (di regional ASEAN) ialah Thailand. Jadi kita janganlah terlambat (untuk mengambil keputusan)," ujar Putu di Subang, Jawa Barat, Senin (15/7/2024).
Terkait rencana ini, Presiden Direktur PT Honda Prospect Motor (HPM) Shugo Watanabe mengatakan, pihaknya masih membicarakan kebijakan tersebut kepada pemerintah.
“Soal itu kami masih diskusikan dengan pihak pemerintah. Seperti saya katakan tujuan finalnya tetap sama, tapi kami tetap mengatakan dan yakin bahwa hybrid adalah langkah yang bagus untuk melangkah ke (kendaraan) elektrik,” ujar Shugo menjawab Kompas.com, Rabu (17/7/2024).
Meski di atas kertas kebijakan itu akan merugikan pabrikan Jepang yang mengandalkan jajaran mobil hybrid, Shugo percaya bahwa kebijakan elektrifikasi kendaraan yang dibuat pemerintah pada akhirnya sejalan dengan semangat zero emission.
“Saya pikir arahnya sudah benar (menyerupai) konsensus global yang ada, taktik yang spesifik kebijakan yang spesifik yaitu arah global. Saya percaya masih ada pekerjaan yang harus dilakukan,” ujarnya.
“Kami sebagai merek yang ada di Gaikindo berharap dapat berdikusi dengan baik. Saya pikir tujuan pemerintah dan tujuan kami akan sama,” ujarnya.
KOMPAS.com/DIO DANANJAYA Mobil listrik Wuling Air EV dan Binguo EV di GIIAS 2024Tuntut Konsistensi
Kebijakan pemerintah soal percepatan industri otomotif berteknologi elektrifikasi terus berubah dalam 5 tahun terakhir. Kondisi ini membuat sejumlah investor gerah karena sulit menentukan strategi jangka panjang perusahaan.
“Jadi pabrikan kalau ada kebijakan begitu, memang ada kemungkinan untung dan rugi,” ujar Minoru Amano, Presiden Direktur PT Suzuki Indomobil Motor di Tangerang kepada Kompas.com, Rabu (17/7/2024).
“Jadi kebijakan memang seharusnya konsisten. Tapi meskipun kebijakannya begitu, Suzuki juga terus menerus meluncurkan yang kualitasnya tinggi kepada masyarakat Indonesia,” kata dia.
Sementara itu, Presiden Direktur Wuling Motors Shi Guoyong berharap, pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan yang berkesinambungan.
"Jadi kami sebagai salah satu pemain otomotif, kami punya planning dari produk, pengembangan itu kan membutuhkan waktu,” ucap Guoyong di Tangerang, Rabu (17/7/2024).
"Nah, kami harapannya ingin adanya suatu regulasi yang tidak berubah-ubah. Jadi secara planning kami juga lebih matang untuk melakukan produksi atau pengembangan produk,” ujarnya.
Guoyong menambahkan, perubahan regulasi yang terjadi di tengah-tengah mencerminkan sebuah ketidakadilan. Apalagi merek lain atau kompetitor justru bisa menikmati peraturan yang lebih ringan.
"Pastinya kami berharap regulasi ini memang ada yang namanya persyaratan yang disiplin. Artinya adalah kalau memang disampaikan di awal itu misalkan berapa persen, harusnya juga seperti itu ya dalam jangka waktu yang lama,” kata Guoyong.