#30 tag 24jam
Terungkap! Barang Tak Ada SNI Masuk Legal ke RI
Kemenperin mengungkap produk impor tanpa SNI berpotensi rugikan negara. Indonesia wajibkan perwakilan resmi untuk pengawasan lebih ketat. [466] url asal
#barang-impor #sni #kemenperin #standar-nasional #bea-masuk #wajib-sni #pengenaan #pemberlakuan #produk-impor #jakarta-selatan #lspro #standar-nasional-indonesia #lpg #china #lpk #stakeholder #pusat-pengawasan-standar
(detikFinance - Industri) 16/10/24 13:17
v/16552623/
Jakarta - Produk impor yang tidak memenuhi ketentuan Standar Nasional Indonesia (SNI) terindikasi masuk ke dalam Negeri. Hal ini diungkap oleh Andi Rizaldi, Kepala Badan Standarisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kementerian Perindustrian (Kemenperin).
"Jadi di tempat kami di Badan Standardisasi ada pusat, namanya Pusat Pengawasan Standar Industri, beberapa kali menemukan terutama produk impor yang katanya masuk secara legal tapi tidak ber-SNI padahal itu sudah dilakukan secara wajib nah itu mengindikasikan antara legal dan tidak legal," katanya dalam sosialisasi Pemberlakuan Standarisasi Industri Secara Wajib tahun 2024 di JW Marriott Hotel, Jakarta Selatan, Rabu (16/10/2024).
Kondisi ini berpotensi menimbulkan kerugian negara dari hilangnya pengenaan bea masuk terhadap barang impor. Terlebih, barang-barang tersebut juga tidak melalui proses pengurusan SNI.
"Bisa jadi kalau dia menggunakan kode HS yang sebenarnya, negara mendapatkan bea masuk 10%. Tapi karena ada pengalihan HS dia tidak menjadi harus wajib ngurus SNI, plus dia hanya membayar misalnya bea masuk 5% atau bahkan 0%, itu mengindikasikan ada kerugian negara," bebernya.
Oleh karena itu dalam Peraturan Menteri Perindustrian No. 45 tahun 2022 ada ketentuan yang mewajibkan produsen luar negeri memiliki perwakilan resmi di Indonesia. Jadi barang-barang yang diimpor harus masuk dulu ke gudang perwakilan resmi sehingga lebih mudah dimonitor.
Pada kesempatan itu, ia menyebut Indonesia menjadi negara di kawasan Asia Tenggara yang paling sedikit menggunakan standar nasional terhadap produk. Tercatat hanya ada 130 SNI yang diwajibkan. Dari 5.000 produk manufaktur yang punya SNI, hanya 4-3% yang wajib SNI.
"Jadi dari 5.000 itu mungkin hanya sekitar, kalau 500 kan 10%, ini hanya 4-3%, yaitu hanya 130 SNI yang diwajibkan. Sementara negara tetangga lain, Vietnam, Thailand, Malaysia, apalagi China, itu jumlah SNI yang sudah diwajibkan, bukan SNI kalo di sana, standar yang sudah diwajibkan itu lebih banyak lagi," bebernya.
Adapun Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita telah meluncurkan 16 Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) tentang Pemberlakuan Standardisasi Industri secara Wajib. Ke-16 Permenperin ini mengatur proses penilaian kesesuaian, yang mencakup audit dan pengujian yang sesuai dan benar.
Untuk mendukung implementasi 16 peraturan tersebut, Kemenperin telah menunjuk Lembaga Penilaian Kesesuaian (LPK), terdiri dari 20 Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) dan 28 Laboratorium Penguji yang siap melakukan sertifikasi dan pengujian produk.
Andi pada kesempatan sebelumnya menyampaikan, 16 Permenperin baru itu untuk mengatur berbagai produk industri, antara lain produk kawat baja pratekan, kalsium karbida, katup, kompor, selang kompor gas LPG, ubin keramik, sprayer gendong, sepatu pengaman, sodium tripolifosfat, aluminium sulfat, seng oksida, dan semen.
"Hingga saat ini telah diharmonisasi sebanyak 44 rancangan Permenperin, dengan rincian 16 Permenperin telah diterbitkan dan 28 rancangan Permenperin dalam proses penerbitan. Sementara, 24 rancangan Permenperin lainnya masih dalam proses pembahasan dengan stakeholder, yang mana seluruhnya mengacu kepada pengaturan di dalam Peraturan Menteri Perindustrian No. 45 tahun 2022," paparnya
Simak Video Mendag Beri Penghargaan ke 610 Pasar Tertib Ukur & Ber-SNI
LSPR Gandeng Nozomi No Sono dan ERIA Luncurkan 3 Buku Panduan Disabilitas
Referensi mengenai riset kebijakan terkait kesehatan dan disabilitas perkembangan di kawasan ASEAN masih terbatas. [592] url asal
#lspr #buku #peluncuran-buku #nozomi-no-sono #eria #panduan-disabilitas #disabilitas #penyandang-disabilitas
(MedCom) 24/08/24 21:59
v/14663277/
Jakarta: LSPR Institute of Communication and Business (LSPR Institute) dan Nozomi no sono (The National Centre for Persons with Severe Intellectual Disabilities) Jepang meluncurkan tiga buku berjudul 'Panduan Disabilitas. Ini merupakan luaran dari proyek kedua belah pihak dengan Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA).Ketiganya telah bekerja sama sejak tahun 2021 untuk melaksanakan proyek penelitian dan pembuatan panduan mengenai disabilitas perkembangan di negara-negara anggota ASEAN.
Luaran dari proyek ini adalah 3 buku yang berjudul Kondisi Terkini dan Isu Kebijakan Layanan Kesehatan bagi Penyandang Disabilitas Perkembangan di Asia Tenggara; Pengembangan Panduan Berbasis Pembinaan untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Orang Tua Anak dengan Disabilitas Perkembangan di Asia Tenggara; dan Panduan Pelatihan, Pendampingan, dan Pembinaan bagi Orang Tua Anak dengan Disabilitas Perkembangan di Asia Tenggara.
Founder LSPR, Prita Kemal Gani mengatakan, referensi mengenai riset kebijakan terkait kesehatan dan disabilitas perkembangan di kawasan ASEAN masih terbatas. Selain itu juga kebutuhan akan panduan untuk pelatihan dan pendampingan orang tua dengan anak yang memiliki disabilitas perkembangan, mendorong munculnya inisiatif untuk melaksanakan proyek tersebut agar dapat berkontribusi terhadap isu disabilitas perkembangan di negara-negara Asia Tenggara.
Selain itu, penyandang disabilitas perkembangan dan keluarga mereka kerap dihadapkan pada tantangan yang cukup besar untuk memperoleh kualitas hidup yang baik. Beberapa kesulitan yang muncul adalah terbatasnya akses untuk layanan kesehatan serta pendidikan, kesempatan dalam lapangan pekerjaan serta partisipasi dalam kehidupan sosial.
"Dengan selesainya proyek bersama Nozomi no sono dan ERIA ini, kami juga berharap dapat melanjutkan kolaborasi ini untuk mencari strategi yang dapat diimplementasikan," kata Prita di Jakarta.
Secara khusus, kata Prita, ini untuk mengembangkan sumber daya manusia dan kampanye komunikasi strategis guna membuka jalan bagi kebijakan jangka panjang yang memastikan kesempatan yang setara bagi individu dengan disabilitas perkembangan. "Dengan belajar dari pengalaman dan inovasi Jepang mengenai isu tersebut, kita dapat memperkaya sumber daya manusia di seluruh ASEAN dan membangun masyarakat yang lebih inklusif bagi semua orang. Saya menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada semua pihak atas dukungan dan partisipasinya dalam proyek ini," jelas Prita.
Dalam kesempatan ini, Duta Besar Misi Jepang untuk ASEAN, Masahiko Kiya, melalui pesan videonya mengucapkan selamat kepada LSPR, Nozomi no sono, ERIA, dan pemangku kepentingan terkait atas selesainya proyek tersebut. Kiya juga menyampaikan penghargaan atas upaya yang telah dilakukan dalam proyek tersebut.
Salah satu dari ketiga buku ini diharapkan dapat membantu penyandang disabilitas perkembangan dan orang tua mereka untuk mengatasi tantangan dan kesulitan yang dihadapi seputar layanan dan perawatan kesehatan. Termasuk dalam mengatasi kekhawatiran dan kecemasan bagi para orang tua, sehingga mereka dapat mendampingi dan memberikan dukungan terhadap anak-anak mereka.
Sementara itu, buku kedua berisi riset tentang kondisi terkini dan isu kebijakan layanan kesehatan membahas isu-isu penting dari sudut pandang penyandang disabilitas perkembangan dan keluarganya. Khususnya di kawasan ASEAN, yang diharapkan dapat memberikan pemahaman komprehensif mengenai topik ini.
Selanjutnya, buku ketiga merupakan panduan pelatihan, pendampingan, dan pembinaan bagi orang tua anak dengan disabilitas perkembangan. Dengan buku ini diharapkan dapat membekali orang tua dengan pengetahuan berharga, sekaligus memberdayakan mereka untuk menjadi mentor bagi orang lain untuk membantu mencapai kualitas hidup yang lebih baik.
Ketiga publikasi tersebut tersedia dalam Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Jepang, serta didistribusikan secara global. Hasil riset dan buku panduan ini diharapkan dapat membuka wawasan dan pemahaman orang tua, caregiver, tenaga profesional di bidang kesehatan serta pendidikan, dan pembuat kebijakan di kawasan ASEAN tentang disabilitas perkembangan.
Akhirnya, Prita mengajak semua pihak untuk memanfaatkan momen ini untuk menegaskan kembali komitmen dalam menciptakan dunia di mana individu dengan disabilitas perkembangan dapat diberdayakan, disertakan, dan dihargai atas kontribusi unik mereka.
| Baca juga: Cerita Ikhwan, Difabel Tunanetra Merajut Mimpi Lewat UNY |
(CEU)
Buku Panduan Disabilitas Diharapkan Dorong Kebijakan Ramah Disabilitas
Buku Panduan Disabilitas diluncurkan oleh LSPR Institute of Communication & Business (LSPR Institute) dan Nozomi no sono (The National Centre for Persons with Severe Intellectual Disabilities) Jep [648] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #buku-panduan-disabilitas #lspr #nozomi-no-sono #disabilitas-perkembangan #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 24/08/24 07:22
v/14614728/
JAKARTA, investor.id – Buku Panduan Disabilitas diluncurkan oleh LSPR Institute of Communication & Business (LSPR Institute) dan Nozomi no sono (The National Centre for Persons with Severe Intellectual Disabilities) Jepang. Buku ini diharapkan membuka mata kita dan mendorong lahirnya kebijakan ramah disabilitas.
Pembuatan buku ini berkoordinasi dengan Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), yang telah bekerja sama sejak tahun 2021 untuk melaksanakan proyek penelitian dan pembuatan panduan mengenai disabilitas perkembangan di negara-negara anggota ASEAN.
Luaran dari proyek ini adalah 3 buku yang berjudul Kondisi Terkini dan Isu Kebijakan Layanan Kesehatan bagi Penyandang Disabilitas Perkembangan di Asia Tenggara; Pengembangan Panduan Berbasis Pembinaan untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Orang Tua Anak dengan Disabilitas Perkembangan di Asia Tenggara; dan Panduan Pelatihan, Pendampingan, dan Pembinaan bagi Orang Tua Anak dengan Disabilitas Perkembangan di Asia Tenggara.
Ketiga buku ini diluncurkan pada Kamis (22/8/2024) di LSPR Institute of Communication & Business oleh Dr. (H.C) Prita Kemal Gani (Founder & CEO LSPR Institute of Communication & Business), Mr. Kazuo Chujo (Deputy Head of Mission, Mission of Japan to ASEAN), Dr. Yasuyuki Mitsuhashi (ERIA Senior Policy Fellow on Healthcare), Dr. Ryuhei Sano (Nozominosono/Project Leader), dan Dr. Rudi Sukandar (Director of Research & Community Service LSPR Institute of Communication & Business/Project Member).
Terbatasnya referensi mengenai riset kebijakan terkait kesehatan dan disabilitas perkembangan di kawasan ASEAN, serta kebutuhan akan panduan untuk pelatihan dan pendampingan orang tua dengan anak yang memiliki disabilitas perkembangan, mendorong munculnya inisiatif untuk melaksanakan proyek tersebut agar dapat berkontribusi terhadap isu disabilitas perkembangan di negara-negara Asia Tenggara.
Selain itu, penyandang disabilitas perkembangan dan keluarga mereka kerap dihadapkan pada tantangan yang cukup besar untuk memperoleh kualitas hidup yang baik. Beberapa kesulitan yang muncul adalah terbatasnya akses untuk layanan kesehatan serta pendidikan, kesempatan dalam lapangan pekerjaan serta partisipasi dalam kehidupan sosial.
Prita Kemal Gani selaku Founder & CEO LSPR Institute menyampaikan, “Dengan selesainya proyek bersama Nozomi no sono dan ERIA ini, kami juga berharap dapat melanjutkan kolaborasi ini untuk mencari strategi yang dapat diimplementasikan. Secara khusus, untuk mengembangkan sumber daya manusia dan kampanye komunikasi strategis guna membuka jalan bagi kebijakan jangka panjang yang memastikan kesempatan yang setara bagi individu dengan disabilitas perkembangan,” kata Prita.
“Dengan belajar dari pengalaman dan inovasi Jepang mengenai isu tersebut, kita dapat memperkaya sumber daya manusia di seluruh ASEAN dan membangun masyarakat yang lebih inklusif bagi semua orang. Saya menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada semua pihak atas dukungan dan partisipasinya dalam proyek ini,” lanjut Prita.
Dalam kesempatan ini, Duta Besar Misi Jepang untuk ASEAN, Masahiko Kiya, melalui pesan videonya mengucapkan selamat kepada LSPR, Nozomi no sono, ERIA, dan pemangku kepentingan terkait atas selesainya proyek tersebut. Dubes Kiya juga menyampaikan penghargaan atas upaya yang telah dilakukan dalam proyek tersebut.
Salah satu dari ketiga buku ini diharapkan dapat membantu penyandang disabilitas perkembangan dan orang tua mereka untuk mengatasi tantangan dan kesulitan yang dihadapi seputar layanan dan perawatan kesehatan, termasuk dalam mengatasi kekhawatiran dan kecemasan bagi para orang tua, sehingga mereka dapat mendampingi dan memberikan dukungan terhadap anak-anak mereka.
Sementara itu, buku kedua berisi riset tentang kondisi terkini dan isu kebijakan layanan kesehatan membahas isu-isu penting dari sudut pandang penyandang disabilitas perkembangan dan keluarganya, khususnya di kawasan ASEAN, yang diharapkan dapat memberikan pemahaman komprehensif mengenai topik ini.
Selanjutnya, buku ketiga merupakan panduan pelatihan, pendampingan, dan pembinaan bagi orang tua anak dengan disabilitas perkembangan, diharapkan dapat membekali orang tua dengan pengetahuan berharga, sekaligus memberdayakan mereka untuk menjadi mentor bagi orang lain untuk membantu mencapai kualitas hidup yang lebih baik.
Ketiga publikasi tersebut tersedia dalam Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Jepang, serta didistribusikan secara global.
“Hasil riset dan buku panduan ini diharapkan dapat membuka wawasan dan pemahaman orang tua, caregiver, tenaga profesional di bidang kesehatan serta pendidikan, dan pembuat kebijakan di kawasan ASEAN tentang disabilitas perkembangan,” tandas Prita.
Editor: Mardiana Makmun (mardiana.makmun@investor.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
LSPR Sustainability Manifesto 2030 Diluncurkan, Ini 9 Strateginya
Perguruan tinggi dapat mempersiapkan mahasiswa menghadapi dan mengatasi tantangan global seperti perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan ketidakadilan sosial [690] url asal
#lspr #lspr-sustainability-manifesto #public-relation #summit #astra #prita-kemal-gani #pendidikan #perguruan-tinggi
(MedCom) 25/07/24 18:29
v/12088009/
Founder and CEO LSPR Institute of Communication and Business, ?Prita Kemal Gani mengatakan, dengan menanamkan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam pendidikan, perguruan tinggi dapat mempersiapkan mahasiswa menghadapi dan mengatasi tantangan global seperti perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan ketidakadilan sosial. Selain itu, komitmen terhadap keberlanjutan juga mencerminkan tanggung jawab institusi pendidikan untuk berkontribusi positif terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya.
LSPR Institute of Communication and Business (LSPR Institute), berkomitmen mempromosikan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) melalui berbagai inisiatif. Salah satu upaya tersebut adalah penyelenggaraan The 1st LSPR Sustainability and Public Relations Summit 2024 yang digelar pada 24 Juli 2024.
Berkolaborasi dengan PT Astra Internasional Tbk, Summit ini mengangkat tema "The Role of Public Relations in Communicating Sustainable Practice”. Summit ini mengkaji pentingnya peran Public Relations (PR) dalam mengintegrasikan prinsip-prinsip keberlanjutan dalam komunikasi perusahaan dan organisasi.
LSPR Sustainability and ESG Manifesto yang disusun hingga tahun 2030 ini menegaskan komitmen LSPR Institute terhadap keberlanjutan dan tanggung jawab sosial, dengan tujuan menciptakan masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan. Manifesto ini menguraikan visi strategis LSPR untuk menjadi institusi pendidikan yang tidak hanya berfokus pada pengembangan akademik tetapi juga pada penerapan prinsip-prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) dalam setiap aspek operasionalnya.
Menurut Prita, dengan menargetkan pengurangan jejak karbon, peningkatan efisiensi energi, dan pengelolaan limbah yang lebih baik, manifesto ini mencakup langkah-langkah konkret untuk menciptakan kampus yang ramah lingkungan. "Selain itu, LSPR Institute berkomitmen untuk mengintegrasikan pendidikan keberlanjutan ke dalam kurikulum, mempersiapkan mahasiswa untuk menjadi pemimpin yang sadar lingkungan dan sosial," terangnya.
Manifesto ini juga, kata Prita, menekankan pentingnya kolaborasi dengan pemerintah, industri, dan komunitas untuk mempromosikan praktik-praktik bisnis yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Melalui langkah-langkah ini, LSPR Institute bertekad untuk tidak hanya meningkatkan kualitas pendidikan dan kehidupan kampus, tetapi juga untuk memberikan dampak positif yang signifikan pada masyarakat dan lingkungan, baik secara lokal maupun global.
Summit ini bertujuan untuk menyediakan platform bagi para pemimpin industri, profesional bisnis, akademisi, dan penggiat keberlanjutan untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan praktik terbaik dalam bidang komunikasi keberlanjutan.
Prita menyampaikan, LSPR berkomitmen menjadi perguruan tinggi yang menerapkan dan mengimplementasikan tujuan pembangunan yang keberlanjutan. Program yang sudah dijalankan di antaranya, kompetisi film dengan tema SDG selama 6 tahun berturut - turut.
Untuk mewujudkan pembangunan keberlanjutan tahun 2030, LSPR meluncurkan pernyataan tertulis LSPR Sustainability and ESG Manifesto 2030 : Sustainable Education for a Sustainable World. LSPR Institute berkomitmen untuk mengintegrasi fokus kepada kontribusi untuk masyarakat, fokus pada pendidikan (Sumber daya Manusia), pemberdayaan sosial dan keselamatan ekosistem bumi.”
Ini 9 Strategi LSPR Sustainability Manifesto 2030:
- Net Zero Emission Mencapai 80 - 100% pengurangan emisi karbon Digital Transformation
- Pengurangan penggunaan kertas dan seluruh kegiatan dan proses pembelajaran dilakukan secara digital sebanyak 100%
- Energy Efficiency, penggunaan energi yang ramah lingkungan dan energy yang terbarukan atau renewable energy sebanyak 60% pengurangan penggunaan energi berlebih, serta peningkatan sebanyak 40% penggunaan energy yang terbarukan, Zero Waste Campus,
- Tercapai sebanyak 70 - 80 pembuangan limbah dengan cara pendaurulangan limbah dan pemanfaatan limbah
- Expand Health and Well Being Initiatives, kesehatan mental bagi sivitas akademika menjadi perhatian utama, menargetkan sebanyak 90% program kesehatan mental yang diberikan untuk seluruh sivitas akademika LSPR Institute.
- Biodiversity Projects, menargetkan penanaman 1500 - 2000 pohon sebagai bukti kontribusi untuk keberlanjutan lingkungan
- Sustainable Transportation menargetkan sebanyak 40% pengurangan emisi dari asap kendaraan bermotor, dengan menggunakan dan menyediakan shuttle bis dan transportasi listrik untuk alat transportasi sivitas akademika.
- Inclusive Education Expansion, meningkatkan sebanyak 15 % beasiswa untuk siswa prasejahtera agar hak mendapatkan pendidikan yang layak dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat.
- Leadership in Sustainability, Menggelar International Summit dengan tema sustainability dan ESG (Environment, Social & Governance) dengan target menghadirkan 3500 - 5000 peserta.
| Baca juga: 3 Aksi LSPR Berdayakan Perempuan dan Anak, Lewat Pelatihan hingga Beasiswa |
(CEU)