#30 tag 24jam
Kasus Sopir Pukul Pengendara Motor di Yogya, Pentingnya Jaga Emosi
Sebelum bereaksi, pengemudi bisa berhenti sejenak untuk memberikan kesempatan untuk pengemudi tersebut berpikir jernih. Halaman all [501] url asal
#psikologi #mobil #pengemudi-mobil #pengemudi-motor #motor
(Kompas.com) 10/11/24 13:18
v/17977808/
JAKARTA, KOMPAS.com - Belum lama ini video viral di media sosial memperlihatkan perkelahian antara pengemudi mobil dan pengendara sepeda motor di Yogyakarta.
Kejadian tersebut bermula saat pengemudi mobil Daihatsu Ayla hendak melintas di tikungan, Masjid Ash Shiddiqi, Demangan Kidul, di Yogyakarta. Namun pada saat yang bersamaan muncul dua pengendara motor.
Pengemudi mobil yang kaget karena berpapasan tidak terima, dan langsung melakukan aksi arogan dengan memukul serta membuang kunci kendaraannya.
View this post on Instagram
Video tersebut cepat viral sebab memperlihatkan aksi arogansi pengemudi mobil. Apalagi pengemudi itu memukul dan kemudian mengambil serta membuang kunci pengendara motor.
Usai video tersebut viral Polresta Yogyakarta langsung mencari pelaku. Dalam unggahan di akn Instagram resmi, disebutkan pelaku berinsial AS, (31) sudah diamankan pada Sabtu (9/11/2024.
"Terima kasih kepada warga Kota Yogyakarta atas doa dan dukungannya, pelaku penganiayaan saat ini telah diamankan dan menjalani pemeriksaan oleh Satreskrim Polresta Yogyakarta," tulisnya.
"Mohon lebih bersabar di jalan, lebih arif dan bijaksana dalam menghadapi setiap konflik (jangan main hakim sendiri)," tulis akun resmi dikutip Minggu (10/11/2024).
SHUTTERSTOCK/DMITRY KALINOVSKY Ilustrasi mobilKemudian postingan Fakta Indo disebutkan dalam penyelidikan ternyata mobil yang digunakan AS merupakan milik tetangga yang dipinjamnya pada hari kejadian.
Bicara mengenai mengemudi penting untuk menjaga emosi di jalan. Sebab diketahui jalan raya yang macet dan sibuk sering membuat pengemudi hilang kesabaran.
Ketua Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia wilayah Jakarta Anna Surti Ariani, mengatakan perlu ada manajemen diri sebelum bereaksi terhadap suatu kejadian di jalan raya.
"Yang bisa kita sampaikan secara singkat-padat, kalau ada kejadian tertentu, jangan langsung bereaksi. Tunda dulu reaksi kita. Cara menundanya itu, antara lain, yang tercepat adalah dengan menarik napas panjang," ucap Nina, sapaannya kepada Kompas.com belum lama ini.
kompas.com Ilustrasi mengemudi.Nina mengatakan sebelum bereaksi, pengemudi bisa berhenti sejenak untuk memberikan kesempatan untuk pengemudi tersebut berpikir jernih.
"Maka kita jadi mengaktifkan kemampuan berpikir rasional kita. Dan ketika kita bisa mengaktifkan kemampuan berpikir rasional kita, yang terjadi kita tidak reaktif tapi jadi berpikir, respon apa yang akan kita lakukan," ucap Nina.
Reaksi dan respon, lanjutnya, merupakan dua hal yang berbeda. Jika reaksi cenderung spontan, respon merupakan sesuatu yang dipikirkan terlebih dulu.
Langkah termudah untuk tidak terlibat pertengkaran di jalan adalah dengan menunda reaksi dan menarik napas dalam sampai tenang, kemudian memikirkan jalan keluar lain yang bisa diambil.
Mengenal Tes Pauli, Uji Psikologi yang Terkenal
Tes psikologi yang terkenal yakni tes Pauli, simak arti dan cara mengisinya [343] url asal
#tes-psikologi #tes-pauli #tes #psikologi
(Bisnis.Com - Teknologi) 11/10/24 14:10
v/16312546/
Bisnis.com, JAKARTA - Mungkin Anda sering mendengar istilah tes Pauli saat melakukan tes psikologi.
Tes Pauli merupakan tes psikologi eksperimental untuk mengetahui gaya bekerja seseorang dengan melihat kecepatan, ketahanan, ketelitian dan juga kedisiplinan
Tes Pauli yang biasa juga disebut tes koran adalah salah satu alat tes psikologi berupa lembar kertas besar berisi deret angka yang disusun secara vertikal di atas kertas yang besar.
Peserta nantinya diminta untuk menghitung setiap deret angka dan menuliskan jawaban di antara deret angka tadi dalam kurun waktu tertentu.
Tes Pauli diciptakan oleh seorang psikolog sekaligus ahli fisiologi asal Jerman bernama Richard Pauli.
Tesnya ini kali pertama dikemukakan melalui bukunya yang berjudul Psychologisches Praktikum yang diterbitkan pada tahun 1919.
Cara Penilaian Tes Pauli
Ada beberapa aspek utama penilaian tes Pauli yaitu sebagai berikut:
- Jumlah total angka yang berhasil dihitung
- Kurva penyimpangan yang berasal dari tanda stop setiap 3 menit
- Jumlah error atau kesalahan hitung atau terlongkap
- Jumlah hitungan yang dikoreksi
- Titik puncak, yaitu jumlah terbanyak pada setiap garis
- Tinggi, yaitu jarak antara hitungan terendah dengan tertinggi
- Hasil Awal yaitu jumlah hitungan pada baris pertama
- Penurunan Awal yaitu anomali atau adanya penurunan jumlah hitungan
Dengan berdasarkan tes Pauli, Novita Sari, M.Si., Talent Scientist di Talentlytica, lulusan Magister Psikometri Terapan dari Universitas Padjadjaran, mengembangkan riset bernama Pauline Test.
Hasil riset itu disampaikannya dalam International Conference on Assessment and Learning (ICAL) 2024.
Presentasi Novita Sari yang berjudul, “Psychometric Properties of the Pauline Test: A Next Generation Work Aptitude Test on the Talentlytica Platform,” menyoroti proses pengembangan dan validasi yang ketat di balik Pauline.
“Dikembangkannya Pauline merupakan bukti komitmen Talentlytica dalam memanfaatkan data dan teknologi untuk menciptakan solusi asesmen inovatif yang dapat membantu organisasi dalam mengidentifikasi dan mengembangkan potensi terbaik sumber daya manusianya.” ujar Novita Sari.
“Riset kami menunjukkan bahwa Pauline yang merupakan inovasi dari Tes Pauli konvensional: tidak hanya reliabel dan valid, tetapi juga menawarkan keuntungan praktis yang signifikan dibandingkan alat ukur konvensional berbasis kertas, seperti proses penilaian yang lebih cepat, akurat, dan memberi pengalaman menarik bagi peserta.
Menurutnya, kehadiran Novita, sebagai ahli psikometri berpengalaman, bisa menciptakan solusi asesmen yang tidak hanya canggih, tetapi juga relevan dengan kebutuhan dunia kerja modern.
Makna di Balik Seragam Sekolah - kumparan.com
Seragam sekolah memiliki makna lebih selain hanya mendisiplinkan siswa, melainkan menyimpan makna yang lebih mendalam. [680] url asal
#siswa #sekolah #psikologi #seragam #makna #mental
(Kumparan.com - News) 25/09/24 07:28
v/15523833/
Kita pasti sudah paham kalau setiap siswa harus memakai seragam ke sekolah. Pemahaman ini rasanya cukup intuitif. Para siswa secara otomatis menaatinya tanpa perlu disuruh. Walaupun terkadang ada yang dengan sengaja melanggar, pasti melalui konflik batin terlebih dahulu. Mereka yang melanggar paham bahwa selain bertentangan dengan aturan sekolah, juga bertentangan dengan kebiasaan.
Bertahan melakukan perilaku yang biasa dilakukan memberikan kenyamanan, sedangkan menentang kebiasaan berarti menghilangkan rasa nyaman. Perasaan yang sama juga muncul ketika ada waktu khusus di mana siswa diminta memakai baju lain selain seragam untuk memperingati sebuah perayaan. Intinya, seragam sudah sangat melekat dengan sekolah.
Kebanyakan orang bila ditanya, “kenapa sih sekolah harus memakai seragam?”. Jawabannya mungkin tidak jauh-jauh tentang kedisiplinan siswa. Tidak salah sebetulnya. Beberapa atribut yang harus dikenakan mewajibkan siswa untuk mengatur diri agar dapat memenuhi tuntutan tersebut setiap hari.
Masalahnya, dengan jawaban yang singkat seperti itu, muncul banyak ketidakpuasan yang berdampak menyepelekan seragam dengan tidak menaatinya. Padahal seragam sekolah memiliki makna lain ketimbang hanya sekadar mendisiplinkan siswa.
Tidak bisa dipungkiri, pelajar di sekolah berasal dari keluarga dengan background ekonomi yang berbeda-beda. Ada yang dari keluarga menengah atas dan ada juga yang berasal dari menengah ke bawah. Daya beli kedua golongan ini jelas berbeda. Keluarga dengan ekonomi mapan cenderung menganggap pakaian sebagai fashion dan gaya hidup. Kebutuhan untuk tampil modis tentu diutamakan.
Sehingga mereka punya banyak pilihan baju untuk dipilih sehari-hari. Jelas berbeda dengan golongan berikutnya. Walaupun tidak menutup kemungkinan masih ada yang menganggap pakaian sebagai gaya hidup, ekonomi mereka yang terbatas mengharuskan untuk memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan lain. Pakaian yang ada pun dibeli sesuai kemampuan.
Bayangkan apabila sekolah membebaskan pakaian yang dikenakan para pelajarnya ke sekolah. Secara tidak langsung akan nampak perbedaan cara berpakaian kedua golongan tadi. Pelajar yang berasal dari ekonomi kurang mampu akan paling merasakan dampaknya. Bagi diri pelajar, kemungkinan muncul rasa minder karena dirinya tidak dapat berpakaian sebaik teman-temannya yang lain. Teman-teman yang melihat bisa jadi menganggap si pelajar lebih rendah derajatnya dan dapat menyebabkan dirinya terkena perundungan dan dikucilkan.
Prasangka buruk juga secara tidak langsung dapat hinggap di pikiran para guru. Mereka yang dipersepsikan berasal dari golongan menengah kertas bisa saja dianggap sebagai anak yang manja karena dianggap semua permintaannya selalu dituruti orang tua.
Bagi mereka yang dipersepsikan berasal dari keluarga kurang mampu, akan dianggap sebagai anak dengan intelegensi di bawah rata-rata akibat tidak diberi dukungan belajar yang baik di rumah.
Oleh karena itu, seragam berguna untuk menghapuskan kesenjangan sosial yang ada di antara para siswa. Membuat mereka semua tampak setara dan meminimalisir prasangka. Baik dari sesama siswa maupun oleh para guru.
Pakaian yang dikenakan dapat mempengaruhi proses mental seseorang. Dalam kajian psikologi, hal ini dikenal dengan istilah “Enclothed Cognition”. Ketika seseorang mengenakan pakaian yang mencirikan tujuan yang berusaha dicapai, maka mindset-nya akan ikut berubah. Tidak hanya sekadar ingin terlihat bagus. Memakai pakaian yang sesuai dapat memproyeksikan tujuan yang ingin kita capai dan otomatis membuat pemakainya lebih fokus. Mengerahkan lebih banyak tenaga dan upaya di dalamnya.
Dalam kasus ini, seragam sekolah dapat membantu menempatkan siswa pada atmosfer belajar. Pikiran siswa terbantu untuk membedakan antara lingkungan rumah dan lingkungan belajar di sekolah. Akibatnya, siswa menjadi lebih fokus dalam pembelajaran dan tidak terdistraksi hal lain seperti mengkhawatirkan tren model pakaian terbaru serta.
Seragam yang dikenakan merupakan tanda bahwa siswa tersebut secara resmi diterima dan diakui sebagai pelajar di sekolah. Hal ini sekaligus memberikan suatu identitas sosial kepada pelajar. Pelajar merasa diterima di lingkungan sekolah dan menjadi bagian yang lebih besar dari dirinya sendiri.
Memiliki identitas sosial penting khususnya bagi remaja. Di usia perkembangan ini, mereka cenderung mencari identitas dirinya sendiri. Berusaha memberikan arti pada diri serta berusaha menjadi seorang yang unik dan otentik. Menganggap dirinya menjadi bagian dari sekolah dan merasa dirinya diterima akan sangat berpengaruh. Identitas sosial yang dimiliki akan dilebur ke dalam identitas diri pelajar. Oleh sebab itu, seragam sekolah dapat memberikan rasa bangga, kepercayaan diri, dan sense of belonging kepada siswa.
Kesimpulannya, seragam tidak hanya tentang kedisiplinan. Seragam yang dikenakan mampu mempengaruhi aspek sosial dan psikologis seorang siswa. Menghapuskan kesenjangan sosial dan mengkondisikan mental siswa sedemikian rupa hingga siap belajar serta menjaganya tetap stabil.
Bangunan Pendidikan Kognitif Berdasarkan Perspektif Konstruktivisme - kumparan.com
Dalam dunia pendidikan, konstruktivisme telah menjadi salah satu pendekatan yang berpengaruh dalam membentuk pemahaman kita tentang bagaimana proses belajar terjadi. [678] url asal
#pendidikan #belajar #siswa #psikologi #bangunan
(Kumparan.com) 23/09/24 13:11
v/15436483/
Dalam dunia pendidikan, konstruktivisme telah menjadi salah satu pendekatan yang berpengaruh dalam membentuk pemahaman kita tentang bagaimana proses belajar terjadi. Dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Jean Piaget, John Dewey, dan Lev Vygotsky, konstruktivisme memandang bahwa proses belajar bukanlah sekadar penerimaan informasi secara pasif, melainkan aktivitas yang kompleks, terintegrasi, dan melibatkan proses menghasilkan pengetahuan oleh siswa itu sendiri.
Jean Piaget, salah satu tokoh penting dalam psikologi kognitif, mengemukakan konsep schema yang kemudian diadaptasi oleh banyak psikolog pemrosesan informasi. Menurut Piaget (dalam Sackney & Mergel, 2007), setiap individu memiliki struktur kognitif yang membantu mereka dalam mengorganisasi dan mengolah informasi dari lingkungan.
Proses ini tidak hanya bersifat mekanis, melainkan melibatkan transformasi informasi, penyederhanaan, serta penyesuaian informasi terhadap pengalaman dan kerangka berpikir yang sudah dimiliki. Pemikiran ini kemudian berkembang menjadi salah satu fondasi bagi teori pemrosesan informasi, di mana pembelajaran dipahami sebagai proses dinamis yang melibatkan asimilasi dan akomodasi informasi baru ke dalam skema yang ada.
Menurut pandangan konstruktivis, belajar tidak terjadi secara linear dan sekuensial, tetapi melalui proses yang rumit dan terintegrasi. Konstruktivis percaya bahwa siswa tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi mereka juga menciptakan dan mengontrol perkembangan pengetahuan sendiri.
Sebagaimana dikatakan oleh Fosnot (1989), pengetahuan tidak dapat dipahami secara objektif terlepas dari pengalaman individu. Setiap orang menafsirkan dunia melalui kerangka berpikir mereka, yang terus berkembang melalui proses asimilasi dan akomodasi informasi baru.
Dari perspektif ini, pembelajaran yang bermakna terjadi ketika siswa mengalami refleksi dan resolusi konflik kognitif. Piaget menyebut ini sebagai disonansi kognitif, yang muncul ketika terdapat ketidaksesuaian antara pengetahuan yang sudah ada dengan informasi baru.
Konflik ini memicu siswa untuk mencari pemahaman baru dan memperbarui skema kognitif mereka. Dengan kata lain, pembelajaran adalah siklus terus-menerus dari pengeditan dan perumusan ulang teori-teori siswa tentang bagaimana dunia bekerja.
John Dewey, tokoh lain yang berpengaruh dalam perkembangan konstruktivisme, juga mengkritik pendidikan tradisional yang hanya mempersiapkan siswa untuk kehidupan masa depan. Baginya, pendidikan adalah kehidupan itu sendiri.
Dewey (dalam Sackney & Mergel, 2007) berpendapat bahwa pembelajaran yang efektif harus mencerminkan kompleksitas kehidupan nyata, di mana pengetahuan yang disampaikan dalam kelas harus relevan dengan pengalaman siswa dan memicu minat serta rasa ingin tahu mereka.
Dewey juga menekankan pentingnya peran guru sebagai fasilitator, bukan sebagai otoritas tunggal dalam proses belajar. Guru harus membantu siswa untuk menjadi pembelajar yang otonom, kreatif, dan mampu menghubungkan pengetahuan dengan pengalaman pribadi mereka. Ini sejalan dengan prinsip konstruktivisme yang melihat siswa sebagai agen aktif dalam proses belajar.
Lev Vygotsky, seorang psikolog Rusia, juga memperluas teori belajar Piaget dengan memperkenalkan dua konsep penting: zone of proximal development (ZPD) dan scaffolding. Teorinya, dikenal sebagai teori perkembangan historis-budaya, menekankan pentingnya interaksi sosial dalam perkembangan manusia. ZPD menggambarkan jarak antara apa yang dapat dicapai seseorang secara mandiri dan apa yang bisa mereka capai dengan bantuan orang lain yang lebih berpengalaman.
Vygotsky (dalam Moll, 1992) menyatakan bahwa pembelajaran terbaik terjadi ketika seseorang bekerja di ZPD—level di mana mereka belum sepenuhnya menguasai suatu tugas tetapi dapat melakukannya dengan bimbingan. Konsep scaffolding merujuk pada dukungan yang diberikan saat belajar, di mana informasi baru harus terkait dengan pengetahuan yang sudah ada agar efektif.
Meski konstruktivisme telah menjadi dasar bagi banyak pendekatan pembelajaran modern, tantangan masih ada dalam implementasi. Salah satu tantangan utama adalah memastikan bahwa lingkungan belajar yang diciptakan mampu memfasilitasi kreativitas dan eksplorasi tanpa mengarah pada kekacauan. Sebagaimana ditekankan oleh Dewey, penting bagi guru untuk mendukung lingkungan di mana kreativitas siswa dapat berkembang dengan terarah.
Di sisi lain, pendekatan konstruktivisme menawarkan peluang besar dalam mengembangkan pendidikan yang lebih bermakna. Dalam dunia yang terus berubah, di mana informasi tersedia dalam jumlah besar, kemampuan siswa untuk membangun, merevisi, dan mengontrol pengetahuan mereka sendiri menjadi lebih penting daripada sebelumnya. Konstruktivisme menawarkan kerangka yang fleksibel untuk membantu siswa menghadapi tantangan-tantangan baru ini dengan berpikir kritis dan kreatif.
Bangunan konstruktivisme, melalui pandangan Piaget, Dewey, dan Vygotsky, menawarkan pendekatan mendalam dalam memahami proses belajar. Dengan menekankan peran aktif siswa dalam menghasilkan pengetahuan dan pentingnya pengalaman pribadi dalam proses belajar, konstruktivisme mengarahkan kita pada pendidikan yang lebih relevan, dinamis, dan bermakna. Dalam dunia yang semakin kompleks, pendekatan ini dapat memberikan siswa keterampilan yang diperlukan untuk beradaptasi dan berkembang dalam situasi-situasi baru.
Dunia Baru dan Publik yang Tumpul Rasa - kumparan.com
Manusia menciptakan teknologi dan teknologi menciptakan manusia. Dan teknologi itu menyebabkan masyarakat tumpul perasaannya, seperti robot. [696] url asal
#publik #teknologi #emosi #psikologi #perasaan #dunia
(Kumparan.com) 16/09/24 09:43
v/15087459/
Manusia menciptakan teknologi dan teknologi menciptakan manusia. Terhadap proses yang pertama, kita dapat dengan gampang mengamati dan memahaminya. Namun, terhadap proses yang kedua, kadang kita kesulitan untuk mengidentifikasi dan menjelaskannya.
Kita dapat dengan mudah mengenali dan mengetahui kemunculan berbagai macam teknologi baru di sekitar kita. Mulai dari teknologi transportasi, telekomunikasi, hiburan dan yang lainnya.
Namun, dampak kehadiran teknologi tersebut pada kehidupan kita, kerap kali sulit untuk kita tangkap dan jelaskan. Terutama dampak kehadiran teknologi terhadap kondisi psikososial masyarakat. Kita seringkali hanya dapat menerka-nerka saja dampak teknologi itu.
Misalnya, soal dampak internet dan media sosial terhadap mentalitas dan perilaku masyarakat. Kita sulit untuk membuat penjelasan yang akurat tentangnya. Tulisan ini juga hanya terkaan penulis terhadap dampak internet dan media sosial tersebut.
Kita tahu, bahwa hadirnya internet telah melahirkan dunia baru, sehingga dunia seolah terbelah dua: dunia nyata dan ruang maya atau digital. Dan perubahan dunia itu membawa konsekuensi terhadap kondisi psikososial masyarakat. Salah satunya adalah ia dampak terhadap tingkat kepekaan afektif masyarakat.
Internet dan media sosial perlahan menumpulkan kepekaan kita. Kita semakin kurang peka secara emosi, moral, maupun sosial terhadap berbagai hal yang sebelumnya kita peduli dengannya. Teknologi ini membuat kita semakin abai terhadap lingkungan sekitar. Perhatian dan empati kita memudar. Kita menjadi semakin acuh. Keterlibatan kita terhadap berbagai peristiwa yang ada pun cenderung dangkal, sekadar berpikir tanpa rasa, dan hanya berlangsung sementara.
Dalam kehidupan sehari-hari, gejala tumpul rasa dapat muncul pada berbagai situasi. Misalnya, hal ini terlihat ketika kita terpapar berita kematian atau berita duka lainnya. Kita cenderung memberikan reaksi yang datar terhadap berita-berita tersebut. Meskipun kita menyampaikan ucapan duka kepada pihak yang berduka, seringkali ucapan itu terasa lebih mekanis daripada tulus.
Ketika kita dihadapkan pada tragedi hidup lainnya, reaksi kita pun tidak jauh berbeda. Misalnya, saat melihat kematian puluhan atau ratusan orang di belahan dunia lain, atau bahkan di sekitar kita, kita cenderung merasa biasa saja. Kita tidak lagi merasakan duka yang mendalam. Peristiwa tersebut terasa seperti sekadar adegan dalam drama, film, atau tayangan di televisi.
Beberapa tahun lalu, sebelum internet dan media sosial berkembang seperti sekarang, perasaan kita terhadap peristiwa duka sangat berbeda. Setiap kali terjadi kedukaan, terutama yang melibatkan orang dekat atau orang banyak, kita cenderung merasakan kesedihan dan duka yang lebih mendalam.
Perubahan kepekaan perasaan itu tidak hanya terjadi pada emosi duka, tetapi juga pada jenis emosi lainnya, seperti emosi romantis dalam hubungan antar lawan jenis. Hubungan percintaan yang dahulu melibatkan ikatan emosional yang mendalam, kini tampak menjadi hubungan yang cenderung dangkal secara emosional. Hubungan romantis lebih berfokus pada aspek kognitif dan rasional, di mana logika dan pertimbangan praktis lebih diutamakan dalam membangun relasi.
Perbedaan ini tampak jelas dalam hiburan, terutama lagu-lagu tentang percintaan. Lagu-lagu sekarang cenderung kurang menonjolkan emosi yang mendalam. Perasaan cinta sering digambarkan dengan cara yang lebih santai dan dangkal.
Hubungan percintaan tanpa ikatan emosional yang mendalam tersebut menjadikannya cenderung rapuh. Cinta terasa mudah dibangun, namun juga mudah runtuh. Hal ini menjadi melatarbelakangi berkembangnya berbagai bentuk hubungan romantis yang cenderung bertahan sementara. Data terkini tentang pernikahan dan perceraian mencerminkan situasi ini, termasuk berbagai isu lain yang mengitarinya.
Dalam relasi yang minim afeksi, komitmen dan kesetiaan sulit tumbuh. Keduanya membutuhkan pemahaman mendalam dan ikatan emosional. Tanpa keterikatan afektif, sulit membangun komitmen yang kuat. Rendahnya komitmen ini menjelaskan mengapa orang lebih mudah berganti pasangan atau memutuskan pernikahan.
Salah satu penyebab yang membuat publik cenderung tumpul perasaannya tersebut adalah desensitisasi. Desentisisasi adalah proses berkurangnya respons emosional terhadap sebuah stimulus karena seseorang terpapar oleh stimulus yang relatif sama berulangkali.
Internet dan media sosial memungkinkan kita untuk dibanjiri oleh beragam informasi, dari sejak membuka mata hingga menutup mata kembali. Dan kita sangat sering mendapatkan berita yang dapat menguras emosi. Misalnya, peristiwa tentang kedukaan, penderitaan, kejahatan, atau tragedi lainnya.
Paparan yang peristiwa emosional yang intens dan berulang tersebut dapat mengikis kepekaan emosional kita. Dalam arti, kemampuan kita untuk berempati, merasakan kepedihan, bersimpati, atau prihatin terhadap berbagai hal di sekitar kita secara perlahan berkurang.
Kondisi tersebut bisa menjadi indikasi bahwa semakin hari, sebagai manusia kita menjadi semakin rasional, sementara kepekaan emosional, moral dan sosial kita semakin terkikis. Sisi-sisi kemanusiaan kita semakin tergerus. Bila ini terus berlaku, mungkin ke depan, kita akan tumbuh menjadi masyarakat robot, kumpulan manusia tanpa rasa kemanusiaan.
Psikolog Klinis di Sulut Masih Kurang, Kemenkes Minta Pemda Harus Ikut Berperan - kumparan.com
Tenaga psikolog klinis di Puskesmas yang ada di Sulawesi Utara hanya berjumlah 19 orang. Mereka harus mengakomodir seluruh Puskesmas di 15 Kabupaten dan Kota di Sulut. #publisherstory #manadobacirita [292] url asal
#psikolog #psikologi #kemenkes #pemda #news #manado #puskesmas
(Kumparan.com) 15/08/24 23:10
v/14462342/
MANADO - Jumlah psikolog klinis yang bertugas di Puskesmas yang ada di Sulawesi Utara (Sulut), masih tergolong sedikit. Hal ini diminta untuk jadi perhatian serius Pemerintah daerah (Pemda).
Hal ini penting, karena keberadaan psikolog klinis yang akan memberikan layanan psikologi klinis di Puskesmas, memiliki landasan dan sudah ada rekomendasinya di Undang Undang Nomor 17 Tahun 2023, di mana disebutkan jika psikolog medis merupakan tenaga wajib yang ada di puskesmas.
"Jumlah psikolog klinis di Sulawesi Utara itu hanya ada 19 orang, dan tugas mereka itu harus bisa mengakomodir seluruh Puskesmas yang ada di Kabupaten dan Kota di Sulawesi Utara. Angka ini sangat tak seimbang," ujar Ketua Tim Tata Kelola Gangguan Jiwa Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Herbet Sidabutar.
Menurut Herbet, tak hanya di Sulut, Kemenkes juga mendapati jika tenaga Psikolog klinis yang ada di Indonesia memang masih sangat kecil. Tercatat hanya ada tiga ribuan orang psikolog teknis, sementara ada 10 ribu Puskesmas di Indonesia.
Untuk itu, Herbet mengatakan jika harus ada peran Pemda untuk merealisasikan layanan psikologi klinis di daerah, dengan melakukan inovasi dalam perekrutannya.
"Jadi mungkin harus ada stimulan. Misalnya bisa diangkat jadi apa, atau berikan beasiswa," ujar Herbet.
Herbet menambahkan dalam upaya meningkatkan minat menghasilkan tenaga psikolog klinis, Kemenkes akan bekerja sama dengan Ikatan Psikologi Klinis (IPK) Pusat di bidang pendidikan.
"Kita bekerja sama dengan IPK Pusat dalam bentuk penyederhanaan kurikulum, supaya bisa menghasilkan tenaga yang lebih banyak," katanya.
Sementara itu, Ketua IPK Indonesia Wilayah Sulut, Hanna Monareh MPsi Psikolog, mengatakan jika layanan psikologi klinis tidak hanya seputar konseling, tetapi sosialisasi, psikoedukasi, dan mendampingi caregiver atau tenaga profesional yang merawat dan mendukung orang lain, terutama yang tidak mampu merawat diri sendiri.
"Jadi yang dilayani tidak hanya usia yang sudah dewasa, tetapi juga anak-anak. Dan usia ini mereka berani terbuka juga," ujarnya kembali.
manadobacirita
Sang Perintis Psikologi Islam
Ada peran al-Balkhi dalam merintis studi psikologi Islam. [464] url asal
#al-balkhi #psikologi-islam #psikologi #psikolog #sejarah-peradaban-islam #kontribusi-islam
(Republika - Khazanah) 11/08/24 10:11
v/14150324/
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Abu Zaid al-Balkhi (850-934 M) merupakan salah satu tokoh dalam sejarah psikologi. Pemilik nama asli Ahmad bin Sahl itu sesungguhnya adalah seorang pakar multidisiplin ilmu pengetahuan (polymath). Bagaimanapun, jasanya dalam bidang ilmu jiwa begitu signifikan. Dialah yang disebut-sebut sebagai perintis psikologi Islam.
Cendekiawan Persia itu menulis banyak karya, di antaranya adalah Masalih al-Abdan wa al-Anfus. Di dalamnya, ia memperkenalkan istilah terapi kesehatan jiwa (thibb ar-ruhani). Menurutnya, pengobatan yang hanya berfokus pada kondisi fisik tidaklah cukup. Seorang dokter atau ahli medis juga perlu memperhatikan aspek mental atau kejiwaan pasien.
Dalam masa sekarang, topik yang diusung sang cendekiawan Muslim itu kerap disebut sebagai psikosomatis. Ini merupakan kondisi ketika suatu penyakit fisik yang muncul diduga disebabkan atau diperparah oleh kondisi mental seseorang. Di antara gejala-gejala psikosomatis adalah jantung yang berdebar-debar, sesak napas, dan nyeri pada seluruh tubuh.
Rihlah yang dijalani al-Balkhi hingga menjadi ahli ilmu jiwa bermula sejak dini. Seperti tampak dari namanya, lelaki ini lahir di wilayah Balkh—kini termasuk Afghanistan. Ayahnya merupakan seorang guru. Demi mendukung kesuksesan anaknya, sang bapak pun mengirimkannya ke pelbagai syekh untuk menimba ilmu.
Hingga akhirnya, al-Balkhi merantau ke Baghdad. Selama delapan tahun, dirinya belajar dan bekerja di pusat Negeri Abbasiyah tersebut. Waktu itu, Abbasiyah sedang mengalami kekacauan politik dan sosial. Bahkan, wilayah kekhalifahan ini menyusut hingga menyisakan Baghdad dan sekitarnya.
Bagaimanapun, al-Balkhi tidak begitu terpengaruh oleh kondisi negara yang carut-marut. Dirinya tetap dengan tekun menuntut ilmu, melanjutkan tradisi intelektual Islam.
Melalui Masalih, ia mengkritik dunia kedokteran di masanya yang cenderung memusatkan perhatian pada penyakit fisik pasien. Padahal, menurutnya, banyak orang yang dirawat di rumah sakit pun mengalami gangguan kejiwaan.
Malahan, ia mengajukan hipotesis, penyakit fisik patut diduga mempengaruhi kondisi kognitif dan kejiwaan si pasien. Pun berlaku sebaliknya: keadaan psikis seseorang yang terganggu bia menyebabkannya rentan terserang penyakit (fisik).
Al-Balkhi menjadi yang pertama mendeteksi perbedaan antara neurosis dan psikosis. Ia pun yang pertama kali merintis terapi kognitif dalam rangka mengkaji pengelompokan gangguan penyakit ini. Ilmuwan tersebut mengelompokkan penyakit mental-kejiwaan ke dalam empat bagian, yaitu ketakutan dan fobia (al-faza); agresi dan amarah (al-ghadab); kesedihan dan depresi (al-jaza); serta obsesi (was was al-sadr).
Sebagai contoh, untuk mengatasi al-jaza, seorang tabib dapat menerapkan terapi internal dan eksternal. Internal berarti, si pasien didorong untuk menanamkan pikiran-pikiran positif yang bisa menangkal kesedihannya.
Umpamanya, menguatkan keyakinannya bahwa kematian orang yang dikasihinya adalah takdir Allah SWT yang mengandung hikmah tertentu. Adapun terapi eksternal dapat dilakukan dengan memberikan nasihat atau membuka obrolan persuasif dengannya.
Di antara nasihat al-Balkhi yang terkenal ialah, “Kematian adalah keniscayaan. Janganlah engkau takut padanya. Jika engkau takut pada apa yang akan terjadi setelah kematian, perbaikilah dirimu sebelum kematian menjemputmu. Takutlah akan perbuatan-perbuatan jahat (yang engkau lakukan), bukan pada kematianmu!”
Profesi Psikolog Dinilai Butuhkan Instansi Formal untuk Pembina Teknis
UU Pendidikan dan Layanan Psikologi saat ini sedang tahap penyusunan. [523] url asal
#himpsi #psikologi #psikolog #pembinaan-psikologi #kementerian
(Republika - News) 04/08/24 23:34
v/13313930/
REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG – Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) mengadakan Kongres Luar Biasa (KLB) HIMPSI 2024 di Tangerang, Banten pada 2 – 4 Agustus 2024. Kegiatan ini dihadiri oleh Pengurus Pusat HIMPSI, Majelis Psikologi Pusat dan Wilayah, 37 Pengurus HIMPSI Wilayah dan Pengurus 21 Asosiasi/ Ikatan HIMPSI yang semuanya merupakan perangkat organisasi HIMPSI.
Kegiatan KLB HIMPSI 2024 ini mengusung tema “Harmonisasi dan Inovasi Psikologi Indonesia: Menuju Layanan yang Berkualitas & Bermanfaat”.
Hari pertama kegiatan KLB ini dibuka dengan Festival Karya Cipta Psikologi Indonesia (FKCPI) yang merupakan wadah showcase bagi para pencipta atau penemu produk inovasi dari alat psikologi seperti tes psikologi, modul psikologi. Terhitung terdapat 22 produk yang didaftarkan pada festival ini.
Semua produk tersebut dipresentasikan kepada audiens dan mendapatkan masukan untuk pengembangan dan penggunaan produk tersebut. FKCPI ini terselenggara dengan kerjasama antara HIMPSI dengan Konsorsium Psikologi Ilmiah Nusantara (KPIN).
Setelah kegiatan FKCPI selesai, kegiatan KLB HIMPSI 2024 dibuka dengan sambutan dari ketua panitia sekaligus tuan rumah KLB HIMPSI yang dalam hal ini adalah ketua HIMPSI Banten, Mohamad Abdilah Nuradhi, dilanjutkan dengan ketua Majelis Psikologi Pusat Teuku ZIlmahram, kemudian ketua umum Pengurus Pusat HIMPSI, Andik Matulessy, dan juga dihadiri oleh penjabat Walikota Tangerang, Nurdin.
Acara selanjutnya yaitu Stadium Generale dengan pembicara Roberia, selaku Direktur Harmonisasi Peraturan Perundang-undangan, Kementerian Hukum dan HAM yang juga saat ini menjabat sebagai pejabat Wali Kota Pariaman.
Kemudian yang bertindak selaku moderator pada sesi ini adalah Mulyanto, selaku sekretaris jenderal PP HIMPSI. Dalam paparannya, Roberia mengatakan bahwa UU Pendidikan dan Layanan Psikologi No. 23 tahun 2022 saat ini sedang dalam tahapan penyusunan untuk penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah sebagai turunan dari UU 23 Tahun 2022 dan dalam tahap pembahasan dalam panitia antar Kementerian.
Peraturan Pemerintah turunan UU PLP No 23 tahun 2022 akan diselesaikan tahun 2024 ini sesuai Keputusan Presiden No 3 Tahun 2024.
“Peraturan Pemerintah sebagai turunan UU PLP No. 23 tahun 2022 saat ini sedang dalam tahapan penyusunan terutama untuk menentukan instansi pembina, karena harus ditentukan satu instansi pembina formal dari Peraturan Pemerintah tersebut terkait UU PLP” ujar Roberia.
Mengingat profesi Psikolog tersebar pada berbagai dan lintas sektor, maka perlu satu kementerian formal sebagai Instansi Pembina (Kemendikbudristek) dan berbagai kementerian sebagai Pembina teknis sesuai layanan psikologi. Proses inilah yang memerlukan diskusi cukup panjang, mengingat Kementerian teknis terkait ranah psikologi juga melibatkan berbagai layanan yang terkait beberapa Kementerian. Setelah paparannya, sesi ini diikuti dengan tanya jawab oleh berbagai peserta KLB HIMPSI 2024.
Setelah melewati rangkaian tersebut, sidang pleno KLB HIMPSI 2024 dimulai dengan pembacaan tata tertib oleh Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal. Setelah melalui musyawarah dan voting, forum menyepakati Zera Mendoza sebagai ketua sidang dan Nathanael Elnadus J. Sumampouw sebagai sekretaris sidang. KLB HIMPSI 2024 ini memiliki agenda pembahasan dan penetapan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga HIMPSI; pembahasan dan penetapan Kode Etik Psikologi; penetapan Garis Besar Haluan Organisasi. Seluruh peserta kongres mengikuti sidang pleno dengan seksama dan kritis untuk kemajuan psikologi Indonesia yang berkualitas dan bermanfaat.
Selain itu, kegiatan KLB ini juga dimeriahkan dengan konseling gratis oleh para psikolog untuk para masyarakat umum di wilayah Banten. Juga ada booth yang dapat dikunjungi diantaranya booth merchandise HIMPSI, booth Faxtor test publisher, KPIN dan MayaPsyLab yang menjual pernak – pernik merchandise khas Banten.
Kenapa Siklus Pertemanan Itu Selalu Come And Go? - kumparan.com
Tulisan ini berisi tentang siklus pertemanan yang datang lalu pergi. Hal ini ternyata juga pernah diteliti oleh seorang professor. [1,055] url asal
#hubungan-pertemanan #pertemanan #teman #siklus #psikologi
(Kumparan.com) 30/07/24 19:29
v/12678369/
Hubungan pertemanan tidak selalu bertahan selamanya. Seringkali, kita menemui fenomena ini di kalangan remaja yang sering mengalami pertemanan yang come and go. Misalnya, saat seseorang pindah sekolah atau pindah kelas, biasanya mereka akan menemukan lingkungan baru yang otomatis menghasilkan teman-teman baru.
Hal ini terjadi karena teman sekelas biasanya memiliki tujuan yang sama, seperti menyelesaikan tugas bersama, mengikuti kegiatan yang sama, atau menghadapi ujian yang sama.
Ketika situasi dan lingkungan berubah, seperti pindah ke sekolah lain atau memiliki kelas yang berbeda, tujuan dan interaksi juga berubah, sehingga pertemanan lama mungkin memudar sementara pertemanan baru mulai terbentuk. Perubahan ini merupakan bagian alami dari kehidupan sosial remaja, di mana mereka terus-menerus beradaptasi dengan lingkungan baru dan membentuk hubungan baru yang sesuai dengan situasi mereka saat ini.
Hal ini ditemukan oleh seorang profesor bernama Mark I. Knapp yang melakukan penelitian mendalam mengenai perspektif perkembangan hubungan. Penelitian ini menjelaskan bagaimana hubungan tumbuh, bertahan, dan pada akhirnya berakhir. Konsep ini digambarkan seperti tangga yang memiliki sepuluh tahap, baik naik maupun turun, yang meliputi:
Tahap ini adalah awal dari sebuah hubungan. Pada fase ini, terjadi perkenalan awal atau ajakan untuk berteman. Contohnya, ketika seseorang memperkenalkan diri di acara sosial, atau ketika kita mulai berbicara dengan teman baru di tempat kerja atau sekolah. Interaksi pada tahap ini masih bersifat dangkal dan formal, seperti memperkenalkan nama, asal, atau pekerjaan.
Setelah perkenalan, tahap selanjutnya adalah eksplorasi. Di sini, kedua pihak mulai mengeksplorasi satu sama lain, mencoba memahami minat, hobi, dan kepribadian masing-masing. Mereka mungkin mulai berbicara lebih dalam tentang diri mereka, berbagi cerita, atau menghabiskan waktu bersama dalam kegiatan yang ringan. Percakapan pada tahap ini lebih banyak berisi pertanyaan-pertanyaan untuk mencari tahu apakah ada kecocokan atau kesamaan di antara keduanya.
Pada tahap ini, hubungan mulai menjadi lebih intens dan mendalam. Pola komunikasi berubah menjadi lebih interpersonal, dengan pembicaraan yang lebih emosional dan pribadi. Kedua individu mungkin mulai berbagi rahasia, perasaan, dan pengalaman yang lebih pribadi. Mereka juga mulai mengembangkan rasa saling percaya dan keakraban yang lebih dalam. Aktivitas bersama menjadi lebih sering dan bermakna, menunjukkan bahwa hubungan ini mulai menjadi lebih serius.
Hubungan semakin menyatu pada tahap ini. Kedua individu mulai menggabungkan kehidupan mereka, menjadi lebih dekat dan lebih terhubung. Mereka mungkin mulai berbagi rutinitas, memiliki teman-teman yang sama, atau terlibat dalam aktivitas bersama secara rutin. Identitas mereka sebagai pasangan atau teman mulai terlihat oleh orang-orang di sekitar mereka. Mereka juga mungkin mulai menggunakan kata ganti seperti "kita" atau "kami" untuk menggambarkan diri mereka sebagai satu kesatuan.
Tahap ini menandai hubungan yang telah menjadi sangat erat dan ditunjukkan secara publik. Mereka menunjukkan komitmen mereka kepada orang lain, baik melalui pengakuan publik, perayaan, atau simbol-simbol lainnya. Misalnya, mereka mungkin merayakan hari jadi pertemanan atau memposting tentang hubungan mereka di media sosial. Hubungan ini diakui oleh orang-orang di sekitar mereka, dan mereka dianggap sebagai teman dekat atau pasangan oleh banyak orang.
Pada tahap ini, tekanan dari faktor eksternal mulai muncul, dan perbedaan sikap serta pandangan dalam hubungan menjadi lebih nyata. Kedua individu mulai menyadari perbedaan di antara mereka dan mungkin mulai merasakan kebutuhan untuk menegaskan identitas masing-masing. Perbedaan ini bisa disebabkan oleh perubahan situasi, seperti pindah kerja atau pindah tempat tinggal, atau perbedaan nilai dan tujuan hidup. Meskipun masih ada rasa kedekatan, ketegangan mulai muncul dalam hubungan.
Interaksi mulai berkurang pada tahap ini. Perubahan sikap dan perbedaan yang semakin menonjol menyebabkan komunikasi dan interaksi menjadi terbatas. Mereka mungkin mulai menghindari topik-topik sensitif atau konflik, dan percakapan menjadi lebih dangkal dan formal. Kedua individu mulai membatasi diri dalam berbagi perasaan atau informasi pribadi. Aktivitas bersama juga mulai berkurang, dan hubungan mulai terasa lebih distan.
Hubungan mulai merosot pada tahap ini, dengan sering terjadinya pertengkaran atau konflik. Komunikasi semakin berhenti, dan tidak ada perkembangan positif dalam hubungan. Kedua individu mungkin merasa terjebak atau bosan dengan keadaan hubungan yang tidak berubah. Mereka mulai kehilangan minat untuk memperbaiki atau mengembangkan hubungan, dan sering kali, suasana menjadi tegang atau tidak nyaman.
Pada tahap ini, kedua pihak mulai menghindari interaksi untuk menghindari konflik lebih lanjut. Mereka mungkin mulai menghindari bertemu atau berkomunikasi satu sama lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Interaksi menjadi semakin jarang, dan ketika mereka berinteraksi, suasana biasanya kaku atau canggung. Kedua individu mungkin mencari cara untuk menghindari situasi di mana mereka harus berhadapan satu sama lain.
Hubungan berakhir pada tahap ini. Kedua individu memutuskan untuk mengambil jalan yang berbeda dalam hidup mereka dan mengakhiri pertemanan atau hubungan tersebut. Mereka mungkin melakukan percakapan terakhir untuk menyelesaikan masalah yang tersisa atau untuk mengucapkan selamat tinggal. Setelah hubungan berakhir, mereka mungkin merasakan berbagai emosi, seperti kesedihan, kelegaan, atau bahkan rasa syukur atas pengalaman yang telah mereka bagikan.
Tampaknya menyedihkan jika setiap hubungan harus mengalami fase come and go, apalagi sudah ada penelitian yang mendukung bahwa proses sebuah hubungan pada akhirnya akan berakhir. Namun, ada banyak contoh orang yang berhasil menjaga pertemanan mereka hingga usia tua. Bagaimana mereka melakukannya?
Jika kita melihat pada sepuluh konsep yang dijelaskan sebelumnya, terutama pada tahap differentiating, sangat penting bagi setiap individu dalam hubungan untuk saling terbuka satu sama lain mengenai masalah yang dihadapi. Komunikasi yang jujur dan transparan adalah kunci untuk mengatasi perbedaan yang muncul. Pada tahap ini, perbedaan sikap, pandangan, dan nilai-nilai mungkin mulai terlihat lebih jelas, namun hal ini bukan berarti akhir dari sebuah hubungan.
Perbedaan dalam hubungan adalah sesuatu yang sangat wajar dan alami. Setiap individu memiliki latar belakang, pengalaman, dan pandangan hidup yang unik, sehingga perbedaan pendapat atau ketidaksepakatan tidak bisa dihindari. Yang penting adalah bagaimana kita menanggapi dan mengelola perbedaan tersebut. Dengan sikap terbuka, empati, dan keinginan untuk memahami perspektif satu sama lain, perbedaan dapat menjadi sumber kekuatan yang memperkaya hubungan, bukannya melemahkannya.
Selain itu, penting untuk tetap menjaga rasa saling menghormati dan menghargai dalam setiap interaksi. Mengakui bahwa setiap orang memiliki hak untuk memiliki pandangan dan perasaan yang berbeda dapat membantu mengurangi konflik dan meningkatkan kedekatan emosional. Menggunakan perbedaan sebagai kesempatan untuk belajar dan tumbuh bersama juga dapat memperkuat ikatan pertemanan.
Jadi, meskipun siklus pertemanan yang datang dan pergi adalah hal yang alami, penting untuk diingat bahwa keterbukaan satu sama lain sangatlah penting dalam sebuah hubungan. Dengan adanya keterbukaan dan komunikasi yang jujur, kita dapat mengatasi perbedaan dan memperkuat hubungan, memungkinkan pertemanan untuk bertahan dan berkembang meskipun dihadapkan pada berbagai tantangan. Dengan memahami dan menerapkan konsep-konsep ini, kita dapat lebih efektif dalam menjaga pertemanan yang berarti dan tahan lama.
Ikatan Psikologi Klinik Sulut Gelar Diskusi Psikoedukasi Bagi Masyarakat - kumparan.com
Ikatan Psikologi Klinik (IPK) Indonesia-Sulut, menggelar kegiatan Psikoedukasi bagi masyarakat dengan harapan meningkatkan tata kelola layanan psikologi puskesmas. #publisherstory #manadobacirita [187] url asal
#psikologi #psikolog #edukasi #puskesmas #news #manado
(Kumparan.com) 19/07/24 23:02
v/11356793/
MANADO - Ikatan Psikologi Klinik (IPK) Indonesia Wilayah Sulawesi Utara (Sulut) berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), menggelar diskusi dan pelatihan Psikoedukasi bagi masyarakat, Jumat (19/7) di Manado.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan tata kelola layanan penguatan Psikologi Klinik Puskesmas. Adapun peserta, tak hanya perwakilan Puskesmas, tapi juga sejumlah perwakilan lembaga masyarakat di Sulawesi Utara.
Ketua IPK Indonesia Wilayah Sulut, Hanna Monareh, MPsi., Psikolog, menjelaskan kegiatan ini untuk memberikan pengetahuan kepada para peserta terkait dengan pentingnya kesehatan jiwa setiap individu, sehingga nantinya para peserta akan mengedukasi masyarakat di sekitarnya.
“Kami berharap peserta dapat menjadi duta untuk masyarakat di luar sana, agar mengetahui alur dalam layanan penanganan kesehatan jiwa,”kata Hanna.
Selain itu, para peserta juga dapat menjadi tim buat IPK Indonesia agar memberikan pelayanan pertama, yang bisa membantu untuk meminimalkan terjadinya gangguan kesehatan jiwa, karena bisa memberikan bantuan pertama.
Lebih lanjut, Hanna juga mengatakan jika pihaknya dari tanggal 4 Juli hingga 3 Agustus 2024, mengadakan program teman Psikolog Indonesia yang bertugas di Puskesmas Bahu, Sario, Teling Atas dan Tikala.
"Layanan yang kami berikan di antaranya layanan konseling, Konseling Individu dan penyuluhan sosialisasi kepada masyarakat,” ujar Hanna kembali.
manadobacirita
Apa Itu Denial yang Biasa Muncul dalam Konten Media Sosial? Ini Jawabannya - kumparan.com
Apa itu denial yang biasa muncul dalam konten media sosial? Denial adalah penyangkalan atau penolakan. Ini contohnya. [274] url asal
#media-sosial #psikologi #perasaan
(Kumparan.com - News) 15/07/24 17:23
v/10864427/
Denial merupakan salah satu kata yang kerap hadir dalam berbagai macam konten media sosial. Kata tersebut biasanya muncul dalam konten yang memiliki kaitan dengan penolakan. Sebenarnya, apa itu denial?
Denial merupakan kosakata bahasa Inggris yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti sebagai penyangkalan atau penolakan. Beberapa orang tentu pernah melakukan hal itu, tetapi denial tidak boleh berlarut-larut karena memiliki dampak negatif.
Apa itu denial? Pertanyaan seperti itu umumnya muncul ketika seseorang baru mendengar, membaca, atau mengetahui kata “denial”. Denial adalah kosakata bahasa Inggris yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti sebagai penyangkalan.
Kata “denial” juga sering menjadi sebutan penolakan atau penyangkalan dalam psikologi. Dikutip dari buku berjudul Buku Pintar Membaca Karakter Lewat Tulisan Tangan, Rahmi (2018: 219), denial adalah mekanisme penolakan dari dalam diri atas sesuatu.
Kata “sesuatu” tersebut memiliki makna yang luas karena setiap orang cenderung mempunyai penolakan terhadap hal berbeda. Beberapa contoh, yaitu:
Contoh di atas cenderung tidak menyenangkan karena denial memang sering kali terjadi seperti itu. Dikutip dari buku Psikologi untuk Keperawatan, Sunaryo (2004: 225), denial adalah mekanisme perilaku penolakan terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan.
Setiap manusia mempunyai potensi untuk memiliki perilaku denial. Walaupun begitu, bukan berarti bahwa denial menjadi hal yang dapat terus dilakukan, dibiarkan, atau dianggap tidak ada.
Manusia perlu belajar untuk menerima sesuatu yang semula disangkal oleh dirinya. Tujuan dari pembelajaran itu adalah supaya dapat menjadi manusia yang lebih baik dan tidak tenggelam pada hal-hal negatif yang selalu disangkal.
Beberapa cara agar tidak denial terhadap kenyataan, yaitu:
Apa itu denial yang biasa muncul dalam konten media sosial? Denial adalah penyangkalan atau penolakan. Penyangkalan tersebut memiliki konteks yang luas karena dapat berkaitan dengan berbagai hal yang tidak menyenangkan. (AA)
Di Balik Layar Judi Online: Sistem Dibuat untuk Membuat Pengguna Kecanduan? - kumparan.com
Mengungkap mekanisme psikologis dan teknis di balik judi online yang dirancang untuk membuat pengguna kecanduan, serta dampak finansial dan sosial yang ditimbulkannya. [752] url asal
#di-balik #kecanduan #layar #sistem #psikologi #finansial
(Kumparan.com - Tekno & Sains) 14/07/24 08:58
v/10729628/
Fenomena judi online di Indonesia telah mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Dengan kemudahan akses melalui ponsel pintar dan internet, semakin banyak orang yang terjerat dalam lingkaran setan perjudian digital ini.
Namun, sedikit yang menyadari bahwa di balik layar judi online terdapat sistem yang dirancang khusus untuk membuat pengguna kecanduan dan mengalami kerugian finansial. Artikel ini mencoba untuk mengungkap bagaimana sistem ini bekerja dan mengapa kita harus waspada terhadap dampak negatifnya.
Judi online memanfaatkan berbagai mekanisme psikologis untuk menarik dan mempertahankan penggunanya. Salah satu yang paling menonjol adalah variabel reward system, atau sistem hadiah variabel. Konsep ini berasal dari penelitian B.F. Skinner, seorang psikolog terkenal dari Amerika, yang menemukan bahwa hadiah yang diberikan secara tidak terduga dan dalam interval yang tidak menentu dapat memperkuat perilaku. Dalam konteks judi online, pengguna tidak pernah tahu kapan mereka akan menang, dan ketidakpastian ini memicu dorongan untuk terus bermain.
Selain itu, judi online juga sering menggunakan near-miss effect atau efek nyaris menang. Ketika pemain hampir menang, mereka merasa bahwa mereka hampir berhasil, yang pada gilirannya memotivasi mereka untuk terus bermain dengan harapan kemenangan berikutnya akan segera datang. Ini adalah ilusi yang sengaja diciptakan oleh operator judi untuk memastikan pemain tetap terikat pada permainan.
Antarmuka pengguna pada platform judi online dirancang dengan cermat untuk meningkatkan daya tarik. Penggunaan warna-warna cerah, memunculkan suara ketika menang, dan animasi yang menarik semuanya dirancang untuk memberikan rangsangan visual dan auditori yang memicu respons emosional positif. Hal ini menciptakan pengalaman yang menyenangkan dan memabukkan, yang pada akhirnya membuat pengguna sulit untuk berhenti bermain.
Fitur lain yang tidak kalah penting adalah easy access and seamless play. Dengan kemudahan akses kapan saja dan di mana saja, kemudahan untuk deposit dengan jumlah kecil, serta kemampuan untuk berpindah antar permainan tanpa hambatan, pengguna dapat terjebak dalam sesi perjudian yang panjang. Sistem ini memastikan bahwa pemain selalu memiliki kesempatan untuk melanjutkan permainan tanpa gangguan, meningkatkan risiko kecanduan.
Salah satu alasan utama mengapa judi online begitu membuat kecanduan adalah karena ilusi kontrol yang ditawarkannya. Banyak permainan judi online memberikan kesan bahwa keterampilan pemain dapat mempengaruhi hasil.
Padahal sebenarnya permainan ini sepenuhnya bergantung pada keberuntungan dan algoritma yang dikendalikan oleh operator, permainan seperti poker online--misalnya, mungkin memberikan ruang bagi keterampilan, namun pada akhirnya, peluang dan keberuntungan tetap memegang peranan utama.
Operator judi online juga sering memanfaatkan keberhasilan awal untuk menarik pemain baru. Pada tahap awal, pemain mungkin mengalami kemenangan yang lebih sering, yang membuat mereka percaya bahwa mereka memiliki peluang bagus untuk menang lebih banyak. Namun, setelah pemain terikat dan mulai bertaruh lebih besar, frekuensi kemenangan mereka menurun drastis, seringkali mengakibatkan kerugian besar.
Ketika pengguna sudah terjerat dalam kecanduan judi online, dampak finansial menjadi tidak dapat dihindari. Banyak pemain yang awalnya hanya mencoba-coba akhirnya menghabiskan uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan penting. Ketika kerugian menumpuk, mereka mungkin tergoda untuk terus bermain dalam upaya untuk "balik modal", yang sering kali hanya memperburuk situasi.
Dikutip dari Kompas.com “Menurut temuan Satuan Tugas (Satgas) Judi Online yang dibentuk Presiden Joko Widodo dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), perputaran uang dalam industri judi online di Indonesia mencapai Rp 600 triliun per tahun.”
Angka ini tidak hanya mencerminkan besarnya skala masalah ini, tetapi juga menunjukkan bagaimana sebagian besar dana tersebut mengalir ke sejumlah negara di luar negeri, meninggalkan kerugian finansial yang signifikan bagi masyarakat lokal.
Dampak sosial juga tidak bisa diabaikan. Kecanduan judi online dapat merusak hubungan pribadi, mengganggu kinerja pekerjaan, dan bahkan menyebabkan masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan. Pada tingkat ekstrem, beberapa individu mungkin merasa putus asa dan kehilangan harapan, yang bisa mengarah pada tindakan bunuh diri.
Pemerintah perlu mengimplementasikan langkah-langkah teknis dan teknologi yang tegas untuk memberantas judi online. Langkah ini mencakup pemblokiran situs dan aplikasi judi menggunakan teknologi firewall dan DNS, memperketat pengawasan terhadap transaksi keuangan mencurigakan dengan analisis data canggih, serta memperkuat infrastruktur keamanan siber untuk melindungi data pengguna. Selain itu, kampanye edukasi publik tentang bahaya judi online dan kerja sama internasional untuk melacak operasi lintas batas sangat diperlukan untuk mengatasi permasalahan ini secara efektif.
Judi online merupakan fenomena kompleks yang melibatkan berbagai faktor psikologis dan teknis untuk membuat pengguna kecanduan dan kalah. Sistem di balik judi online dirancang dengan cermat untuk memanipulasi emosi dan perilaku pengguna, sehingga sulit bagi mereka untuk melepaskan diri.
Dengan memahami cara kerja sistem ini, semoga kita semua dapat lebih waspada dan mengambil langkah-langkah untuk melindungi diri dan orang-orang terdekat dari bahaya judi online. Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama untuk mengatasi masalah ini dan menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi semua.