#30 tag 24jam
Investasi Jelang Jokowi Lengser Tembus Rp 431,5 Triliun
Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan realisasi investasi pada triwulan III 2024 mencapai Rp 431,5 triliun. [381] url asal
#investasi #bkpm #realisasi-investasi #jokowi-lengser #video #indonesia #jakarta-selatan #africa-forum-2024 #hasilkan-investasi-usd-3 #5-m #pmdn #bkpm-rosan #jawa #era-presiden-jokowi #yoy #kuartalan #presiden #investa
(detikFinance - Ekonomi dan Bisnis) 15/10/24 14:16
v/16502004/
Jakarta - Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) melaporkan realisasi investasi pada triwulan III 2024 mencapai Rp 431,5 triliun. Angka ini meningkat 15,3% secara tahunan (year-on-year/YoY) dan 0,72% secara kuartalan (Quartal-on-Quartal/QoQ).
Hal ini disampaikan oleh Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, dalam acara Konferensi Pers Realisasi Investasi Triwulan III 2024 dan 10 Tahun Capaian Investasi di Era Presiden Jokowi.
"Realisasi investasi pada triwulan III mencapai 431,5 triliun yang di mana ini adalah pencapaian peningkatan sebesar 15,3% YoY," kata Rosan, di Kantor Kementerian Investasi/BKPM, Jakarta Selatan, Selasa (15/10/2024).
Salah satu hal yang paling disorotinya ialah kontribusi investasi tersebut terhadap penyerapan tenaga kerja. Tercatat penyerapan tenaga kerja di Indonesia mencapai 650.172 orang.
"Tenaga kerja selalu menjadi apa salah satu parameter kita dalam kita meningkatkan investasi yang ada di Indonesia," ujarnya.
Lebih lanjut, Rosan merinci bahwa realisasi investasi ini di Pulau Jawa mengambil porsi 49,30% atau sebesar Rp 212,70 triliun, dan di luar Pulau Jawa mengambil porsi 50,70% atau sebesar Rp 218,78 triliun.
"Secara average ini peningkatannya juga di Jawa 15,9% dan kalau yang luar Jawa ini 14,6%," imbuhnya.
Sementara dari sisi penanaman modal asing (PMA), pada triwulan III tercatat mengambil porsi 53,92% dari keseluruhan realisasi investasi atau mencapai Rp 232,65 triliun. Sedangkan di sisi penanaman modal dalam negeri (PMDN) tercatat mencapai 46,09% atau sebesar Rp 198,83 triliun.
"Memang penanaman modal asing ini peningkatannya justru lebih signifikan dibandingkan tahun sebelumnya adalah 18,5%. Sedangkan untuk PMDN peningkatannya juga 11,6%," kata dia.
Secara lebih rinci, Rosan menjabarkan sektor yang memperoleh investasi paling besar baik dari PMA maupun PMDN. Pertama ada sektor transportasi, gudang dan telekomunikasi mencakup 13,45% atau sebesar Rp 58,04 triliun. Berikutnya ada sektor industri logam dasar, barang logam bukan mesin, dan peralatannya ini mengambil porsi dari realisasi sebesar 12,9% atau Rp 55,9 triliun.
Lalu di posisi ketiga, ada sektor pertambangan 10,34% dengan kontribusinya Rp 44,64 triliun. Keempat ada industri kimia dan farmasi dengan kontribusi 7,3% atau Rp 31,6 triliun. Lalu yang kelima industri makanan Rp 31,3 triliun atau 7,26%.
Simak Video: Indonesia-Africa Forum 2024 Diproyeksikan Hasilkan Investasi USD 3,5 M
Ray Dalio: Kualitas Kepemimpinan dan Uang yang Membuat Negara Maju
Pilihan Ray Dalio mendirikan OceanX terkait pengalaman masa kecilnya yang menonton Jacques Cousteau, penjelajah samudera asal Perancis. [2,653] url asal
#ray-dalio #indonesia-africa-forum-2024 #give-me-perspective
(Katadata - IN-DEPTH & OPINI) 10/09/24 14:00
v/14965682/
Salah satu orang terkaya di dunia, Ray Dalio, mengirim kapal eksplorasi dan penelitian ilmiah OceanX miliknya ke Indonesia. Kapal tersebut menjalankan misi eksplorasi dalam rangka pengumpulan data biodiversitas laut Indonesia untuk keperluan mitigasi bencana alam di masa depan.
Berbeda dengan orang kaya dunia lainnya seperti Elon Musk dan Jeff Bezos yang mengeksplorasi luar angkasa, Ray punya alasan khusus memilih laut. Pilihan Ray ini terkait pengalaman masa kecilnya yang menonton Jacques Cousteau, penjelajah samudera asal Perancis.
Ray yang sejak usia belasan tahun berinvestasi saham, memiliki perusahaan dana lindung nilai (hedge fund) Bridgewater Associates. Lembaga ini mengelola dana sebesar US$ 124 miliar. Majalah Fortune menyebut Bridgewater sebagai perusahaan swasta terpenting kelima di Amerika Serikat.
Direktur Katadata Insight Centre Gundy Cahyadi mendapat kesempatan mewawancarai Ray Dalio di sela-sela Indonesia Africa Forum di Nusa Dua, Bali pada Senin (2/9). Gundy melemparkan pertanyaan terkait ekonomi di Amerika dan Cina, kemajuan teknologi di India, potensi Indonesia hingga mata uang kripto. Berikut wawancara lengkapnya:
Saya ingin memulai diskusi kita tentang ekonomi Amerika Serikat. Pada awal Agustus lalu, terjadi Black Friday di tengah kekhawatiran resesi yang membayangi AS. Bagaimana pendapat Anda tentang seberapa buruk penurunan ekonomi AS berikutnya?
Menurut saya, selalu ada perubahan dan pergerakan. Saya pikir kita terlalu memperhatikan hal itu. Dan saya ingin memulai dengan memaparkan lima kekuatan besar yang sedang bekerja dan telah ada sepanjang sejarah.
Saya meneliti sejarah dalam 500 tahun terakhir dan lima kekuatan ini terjadi berulang kali dan menggerakkan segalanya, hingga sekarang.
Apa saja lima kekuatan itu?
Pertama, kekuatan yang berkaitan dengan uang, yaitu utang, dan aktivitas ekonomi. Bila Anda menyediakan banyak uang dengan mencetak lebih banyak, akan membuat harga-harga naik, dan kemudian membuat utang terlalu banyak, sehingga Anda memiliki masalah.
Kedua, siklus keteraturan dan kekacauan internal. Perbedaan itu baik antara kaya dan miskin, kelompok kiri dan kanan, ini menyebabkan konflik internal yang besar. Sekarang sedang terwujud dalam politik, pemilihan umum, dan sebagainya. Kondisi ini akan berdampak besar pada pasar dan ekonomi karena kebijakan-kebijakan yang sangat berbeda yang akan mereka terapkan akan berdampak pada perpajakan, kapitalisme versus sosialisme.
Ketiga, geopolitik yang besar, kebangkitan dan kemunduran kekuatan-kekuatan besar dan persaingan, yang tentu saja kita lihat. Amerika, Cina, perubahan tatanan dunia, di mana Indonesia berada di tengah-tengahnya.
Selanjutnya?
Nomor empat, sejarah selalu terhubung dengan alam. Kekeringan, banjir, dan pandemi telah menewaskan lebih banyak orang daripada perang. Dan memiliki dampak yang lebih besar terhadap segalanya.
Kelima, perubahan iklim, merupakan faktor yang sangat besar, bukan hanya karena perubahan iklim secara langsung, tetapi karena uang yang dibutuhkan. Kira-kira menghabiskan US$ 8 triliun per tahun dalam ekonomi dunia yang bernilai US$ 100 triliun.
Kelima kekuatan ini saling mempengaruhi satu sama lain. Sepanjang sejarah, selalu ada kemajuan dalam pengetahuan dan teknologi. Saat ini kita sedang mengalami perubahan teknologi terbesar yang pernah ada, karena perubahan ini terjadi pada cara kita berpikir atau dengan kecerdasan buatan, dan hal ini berlaku pada semua hal. Berpengaruh pada semuanya. Bukan hanya perubahan yang sempit.
Jadi kelima kekuatan tersebut dan interaksinya sangat penting. Jadi, ketika Anda mengajukan pertanyaan tentang, katakanlah, gejolak di pasar dan seterusnya, saya pikir kita harus mundur dan melihat konteksnya. Jika Anda mau, saya akan menjelaskan bagaimana urutannya menurut saya.
Bagaimana urutannya itu terjadi?
Jadi, hal yang paling penting bagi Amerika dan dunia dalam jangka pendek ini, adalah pemilu dan setelah pemilu. Ada konflik ekstrem kanan versus agak ekstrem kiri.
Orang-orang melihat kandidat-kandidat secara individual, tetapi Anda harus melihat partai-partai dan ideologi yang mereka wakili. Ada dua pertanyaan. Pertanyaan pertama adalah, apakah transisi akan berlangsung dengan cara yang tertib? Ada kemungkinan bahwa jika ada yang kalah, salah satu pihak tidak akan menerima kekalahan tersebut.
Anda juga harus memahami bahwa di Amerika Serikat, yang tertuang dalam konstitusi adalah kebebasan untuk membawa senjata. Ide di balik kebebasan ini, setiap orang selalu bisa memberontak. Dan, jumlah senjata di Amerika Serikat lebih banyak daripada jumlah orangnya.
Pertanyaannya, apakah akan ada transisi kekuasaan yang teratur karena kedua belah pihak memiliki perbedaan yang tidak dapat didamaikan.
Jadi ini adalah periode yang sangat dramatis di mana kita akan belajar banyak selama setahun ke depan.Bagaimana pengaruhnya?
Kondisi ini akan mempengaruhi pajak. Hal ini akan mempengaruhi kapitalisme karena pada dasarnya ada pendekatan kapitalis ekstrem versus kapitalis keras, sehingga mempengaruhi pasar dan ekonomi. Tentu saja, hal ini memiliki implikasi geopolitik yang besar dan untuk seluruh dunia.
Kemudian, Amerika memiliki masalah utang. Bagaimana cara mengatasinya tidak akan mudah. Karena di mana pun di dunia ini, tidak ada cukup uang ketika Anda mempertimbangkan siapa yang memiliki cukup uang untuk kebutuhan mereka.
Jadi ada pertanyaan tentang monetisasi utang, tetapi saya membahasnya terlalu panjang, jadi saya akan berhenti di situ.
Dalam hal utang, bagaimana AS akan menangani hal itu, deleveraging utang, dan bagaimana hal itu akan mempengaruhi ekonomi?
Selama tahun depan Anda akan melihat ini, dan Anda juga akan melihat kelompok kanan geopolitik. Tatanan dunia. Kita memiliki dua perang.
Selama tahun depan, kita akan belajar banyak hal. Dan, tentu saja, teknologi akan berubah. Akan berdampak pada tahun depan, seperti halnya perubahan iklim.
Jadi, jika Anda membayangkan tahun depan, kita akan mengalami tahun yang penuh gejolak, menurut saya. Dan saya rasa ini akan menjadi tahun di mana kita akan belajar banyak.
Anda berbicara tentang pilar ketiga tentang kebangkitan dan kejatuhan kekuatan besar di dunia. Awal tahun ini, saya membaca tentang pendapat Anda yang menyatakan Cina akan menghadapi satu dekade yang hilang seperti yang dialami Jepang sebelumnya. Bagaimana keadaan telah berubah selama enam bulan terakhir? Apakah keadaan menjadi lebih baik, atau malah memburuk di Cina?
Ada beberapa masalah, tetapi masalahnya soal utang. Sekitar 70 persen dari tabungan orang Cina dalam bentuk real estate. Sebanyak 20 persen dari kegiatan ekonomi digunakan untuk menciptakan real estat. Jadi telah terjadi kerugian dalam real estate.
Hal itu berdampak pada perekonomian dan berdampak pada kekayaan banyak orang. Selain itu, di pemerintah daerah yang merupakan 83 persen dari seluruh pengeluaran di Tiongkok, mendapatkan uangnya dengan menjual tanah. Jadi penjualan tanah telah berhenti, dan itu juga dengan meminjam uang. Kondisi ini, bersama dengan jatuhnya pasar saham dan ketidakpastian pekerjaan, telah menciptakan serangkaian keadaan yang perlu ditangani.
Sebagai investor global, di banyak negara, saya telah melihat proses ini terjadi berkali-kali. Empat kasus di Amerika Serikat sebanding atau lebih parah, dan perlu ada restrukturisasi utang dan kebijakan moneter yang tepat untuk menanganinya dengan baik. Jadi ini adalah sesuatu yang dapat ditangani dengan baik, dan ada sesuatu yang, jika tidak ditangani dengan baik, dapat berlangsung lama, seperti situasi Jepang.
Apakah ini juga yang harus kita anggap sebagai sebuah blip dalam hal kenaikan siklus besar Cina? Apakah Cina masih akan menjadi kekuatan dominan seperti yang Anda tulis dalam buku Anda?
Sepanjang sejarah, Cina selalu menjadi negara yang paling kuat, paling sukses dengan siklus yang besar. Dan, ada beberapa elemen pendekatan.
Ada kebijaksanaan yang datang dari pemahaman sejarah dan bagaimana segala sesuatunya berjalan. Namun, seperti yang dikatakan oleh Presiden Xi, ada badai seratus tahun di depan mata.
Itu perspektifnya. Saya pikir dia benar. Jadi bagaimana Anda melewati badai itu sangat, sangat penting. Bagaimana Anda menjaga ketertiban, bagaimana Anda membuat perubahan struktural untuk menghadapinya sangatlah penting.
Jadi elemen-elemennya sudah ada, dan kemudian ada tantangan besar di depan, dan itu akan tergantung pada bagaimana hal itu ditangani.
Namun, dalam jangka panjang, apakah kita masih harus bersikap positif terhadap kebangkitan Cina?
Anda tahu, periode waktu yang sulit ini bisa berlangsung selama sepuluh atau lima belas tahun. Elemen-elemen fundamental di Cina sangat-sangat kuat, dan kita akan sampai di sana.
Anda harus memahami budayanya. Anda harus memahami secara internasional konsep sistem upeti, konsep bagaimana Cina berhubungan dengan seluruh dunia. Anda harus memahami seni perang dan juga mengerti Konfusianisme.
Jika Anda memahaminya, Anda akan melihat bahwa pendekatannya sangat bijaksana. Ini seperti materialisme dialektika. Dialektika adalah ketika dua hal berselisih, dan kemudian bagaimana ketika mereka berselisih, hal itu diselesaikan untuk bergerak maju.
Pemahaman tentang sejarah dan pelajaran dari sejarah lebih baik di Cina daripada di tempat lain. Jadi itu akan menjadi kekuatan yang besar.
Saya adalah penggemar berat buku Anda, The Changing World Order. Dan, Anda tahu, dalam hal siklus tentang negara adidaya global yang besar ini, akankah ada suatu masa di mana kita akan memiliki tidak hanya satu tapi dua kekuatan dunia? Misalnya, risiko geopolitik saat ini antara AS dan Cina.
Selama ada persaingan di antara keduanya dan kita tidak memiliki pemerintahan dunia atau sistem hukum dunia di mana Anda mengajukan kasus Anda ke hakim dan hakim membuat keputusan tentang bagaimana menyelesaikannya, Anda akan memiliki konflik kekuasaan. Sekarang tergantung bagaimana mereka mendekati konflik kekuasaan tersebut. Oke?
Saya pikir dalam waktu dekat, kita akan mengalami perdamaian yang relatif, stabilitas yang relatif. Akan ada pengujian kekuatan dan sebagainya. Tapi Anda memiliki dinamika itu melalui sejarah. Cara yang sering kali digunakan untuk menyelesaikannya adalah dengan adanya perang, dan kemudian ada kekuatan yang dominan, dan kemudian menciptakan tatanan dunia yang baru. Jadi, pada tahun empat puluhan, kita mengalami perang. Tahun 1944, kita memulai tatanan dunia baru.
Dan ketika ada kekuatan dominan, maka Anda memiliki tatanan dunia yang diatur oleh kekuatan dominan, lewat aturan. Tak seorang pun ingin melawan kekuatan tersebut.
Salah satu hal menarik lainnya yang saya baca dari buku Anda, yang saya ambil dari buku tersebut adalah, ketika kita melihat tentang inovasi teknologi. Saat ini, hanya ada dua negara yang saya tangkap mengalami inovasi teknologi yang sedang meningkat, yaitu Cina dan India. Benarkah?
Kekuatan utama dari perkembangan teknologi, kita berbicara tentang Amerika terlebih dulu, kemudian Cina. Mereka adalah dua negara yang benar-benar memiliki perkembangan teknologi yang paling maju. Namun, India sedang melakukan transformasi yang luar biasa dalam banyak hal untuk menciptakan transformasi teknologi yang luar biasa.
Apa saja hal yang telah dilakukan India yang juga bisa dipelajari Indonesia?
Indonesia dan India berada di posisi yang sama dalam siklus ini. Jadi beberapa hal yang akan saya katakan tentang India juga berlaku untuk Indonesia.
India adalah tempat di mana Cina berada kira-kira ketika Deng Xiaoping mengambil alih. Dengan kata lain, sebagian besar belum berkembang. Ada dua kebijakan yang saling terkait. Yaitu kebijakan pintu terbuka, yang berarti membawa orang asing yang juga tahu bagaimana melakukan sesuatu. Jadi hal ini berhubungan dengan reformasi.
Pintu terbuka dan reformasi menciptakan modal, ide-ide baru, dan sebagainya. Modi adalah Deng Xiaoping-nya India. Jadi kombinasi antara berada dalam kurva pertumbuhan ketika Anda memiliki modal internal yang cukup sehingga dapat berinvestasi dengan baik dan mendapatkan dorongan produktivitas. Ketika Anda tidak memiliki cukup uang dan tidak memiliki kepemimpinan yang berkualitas, Anda berada di posisi yang tidak akan berhasil.
Namun ketika Anda memiliki kepemimpinan yang berkualitas untuk melakukan reformasi, dan memiliki uang, itulah yang terjadi di India.
Mereka tidak memiliki masalah utang. Mereka memiliki banyak penduduk yang berpendidikan tinggi, banyak orang India yang mampu melakukan hal-hal ini, dan mereka membuat perubahan yang luar biasa.
Indonesia juga berada di posisi yang sama. Presiden yang akan segera menjabat, berada di posisi yang sangat mirip, karena memimpin negara yang memiliki potensi besar. Indonesia memiliki uang dan kemauan untuk berinvestasi dengan baik, untuk meningkatkan produktivitas dengan berbagai cara, dan harus mengikuti jalan yang sama.
Saya ingin mengetahui pendapat Anda tentang AI dan apa artinya bagi dunia. Apakah ini akan memiliki dampak yang signifikan seperti, misalnya, revolusi industri?
Ini akan menjadi lebih signifikan daripada revolusi industri karena ini berlaku untuk semua pemikiran. Dan pemikiran adalah hal yang menciptakan kemajuan dan dampak. Pada revolusi industri, pekerjaan manusia digantikan oleh mesin, dan mereka menggunakan mesin uap.
Sekarang ini adalah sebuah tantangan juga. Hal ini dapat memberikan dampak yang sangat bermanfaat bagi produktivitas. Tetapi hal ini juga akan menggantikan banyak orang,
AI merupakan alat yang dapat digunakan untuk kebaikan atau perang. Jadi kita harus berurusan dengan bagaimana hal itu akan digunakan.
Bagaimana pendapat Anda mengenai cryptocurrency, apakah cryptocurrency akan menjadi alat penyimpan nilai yang dapat diandalkan? Bisakah ia menjadi mata uang cadangan?
Saya pikir mata uang, semua mata uang, akan memiliki masalah. Dan itu karena utang adalah mata uang. Ini adalah janji untuk memberikan mata uang.
Ada terlalu banyak utang, dan utang tumbuh dengan cepat. Daripada terjadi gagal bayar utang yang besar, bank sentral akan selalu mencetak uang untuk mengatasinya.
Jadi uang yang kita kenal, uang tradisional itu, dipertanyakan. Oke? Lalu pertanyaannya adalah, apa uang alternatifnya? Uang harus menjadi alat tukar dan penyimpan kekayaan. Sebagai alat tukar, Anda selalu bisa berurusan dengan uang meskipun itu didevaluasi, apa pun itu.
Ada beberapa masalah kripto. Pertama, ia tidak bergerak secara andal dalam kaitannya dengan nilai uang. Jadi jika Anda melihat pergerakannya, hampir tidak mungkin untuk mengetahuinya. Jadi ini bukan penyimpanan kekayaan standar klasik. Jika Anda memiliki tempat penyimpanan kekayaan yang ideal, Anda akan berkata, oke.
Apakah akan konsisten dengan apa yang saya belanjakan? Apakah akan sesuai dengan tingkat inflasi saya? Apakah akan konsisten dengan itu? Jadi ini sangat tidak dapat diandalkan. Ini adalah hal yang sangat spekulatif.
Saya pikir emas masih lebih baik dari alternatif-alternatif tersebut. Namun, saya pikir, beberapa mata uang kripto, dan, mungkin Bitcoin, masih tetap menjadi, sesuatu yang harus dimiliki oleh seseorang sebagai elemen diversifikasi.
Saya ingin beralih ke pertanyaan yang sedikit lebih personal, terkait pengalaman Anda membangun Bridgewater Associates. Saya ingin tahu, apa saja tujuan yang ada di benak Anda saat memulai inisiatif OceanX?
Ketika saya masih kecil, saya menonton Jacques Cousteau di televisi. Dia adalah seorang penjelajah, dan, dia melakukan pekerjaan yang luar biasa, menunjukkan ke media dan dia menginspirasi banyak orang.
Ketika saya punya cukup uang, saya bisa mendukung penjelajahan samudra. Saya memiliki kapal penelitian oseanografi, dan saya menyuruh para peneliti untuk pergi ke sana. Ketika saya tumbuh dewasa, ketika saya menjadi seorang ayah, saya mengajak anak saya menyelam. Anak saya, Mark, jatuh cinta pada scuba diving, sampai-sampai dia bekerja di National Geographic yang berhubungan dengan alam.
Kemudian dia dan James Cameron (sutradara) datang kepada saya. Mereka mendatangi saya dan berkata, Anda harus menunjukkan apa yang dilakukan para ilmuwan ini di sana. Maka kami menciptakan OceanX, yang memiliki platform oseanografi terbaik, laboratorium, ilmu pengetahuan yang hebat, kendaraan yang bisa turun ke kedalaman enam ribu meter, dan segala macam hal, serta kemampuan media terbaik untuk menangkapnya, semuanya dirancang oleh Jim Cameron.
Jadi itu membawa kami ke Indonesia. Indonesia memiliki keanekaragaman hayati bawah laut terbesar di dunia, dan masih belum dieksplorasi. Berkat kepemimpinan di sini, kami telah menjelajahinya bersama-sama. Saya ingin memastikan bahwa kami menunjukkannya, sehingga semua orang di Indonesia atau di seluruh dunia dapat melihat apa yang Anda miliki.
Saya baru saja diberitahu oleh menteri Luhut kemarin bahwa mereka baru saja menemukan ini, spesies ikan yang sudah ada sejak empat ratus juta tahun yang lalu.
Empat ratus juta tahun, dan mereka menemukan ini dalam misi kami. Mereka menemukan di mana mereka berada dan mereka bertelur, tumbuh, bertahan. Dan masih banyak lagi. Ini perlu ditunjukkan. Ini sangat menarik.
Jika Anda memulai sebuah perusahaan dana investasi sekarang dan membandingkannya dengan pengalaman Anda lima puluh tahun yang lalu, apakah itu akan menjadi tantangan yang lebih besar sekarang, atau akan lebih mudah karena kemajuan teknologi dan AI dan yang lainnya?
Ini adalah elemen dasar yang sama. ini seperti video game dalam perjalanan hidup. Kau tahu? Yang terjadi adalah Anda harus masuk ke dalamnya, dan Anda harus memainkan permainan dan mengalaminya, dan pengalaman tersebut mengajarkan Anda banyak hal. Sekarang faktanya adalah siapa pun bisa melakukan ini.
Saya memulai investasi saat berusia 12 tahun. Saat itu saya tidak memiliki sumber daya apapun. Dan saat ini, dengan teknologi dan apa yang tersedia, siapa pun bisa masuk ke dalamnya dan memainkan permainan ini.
Anda akan menemukan rintangan, belajar, dan kemudian melakukan sesuatu dengan lebih baik. Ketika melakukan dengan lebih baik, Anda dapat menghasilkan uang dalam permainan. Jadi itu adalah perjalanan yang sama.
Belajarlah dari pengalaman Anda, yang paling penting dari kegagalan, pengalaman sulit Anda. Jika Anda dapat memahami bagaimana realitas bekerja, hal ini berlaku untuk semua kehidupan, bukan hanya pasar. Jika Anda harus memahami cara kerja realitas, terimalah bahwa realitas memang seperti itu dan ketahui cara menghadapinya dengan baik.
Indonesia-Africa Forum 2024: Kolaborasi di Tengah Fragmentasi Ekonomi
Bisnis mewawancarai Wakil Menteri Luar Negeri Pahala Mansury untuk mengetahui lebih detail tentang pelaksanaan IAF ke-2, berikut petikannya: [65] url asal
#indonesia-africa-forum-2024 #iaf #iaf-ke-2 #kesepakatan-bisnis #kemlu-ri #kemenlu #wamenlu #pahala-mansury #wawancara
(Bisnis.Com - Ekonomi) 04/09/24 10:00
v/14885169/
Bisnis.com, BADUNG – Indonesia Africa Forum (IAF) ke-2 telah berakhir kemarin, Selasa (2/9). Ajang temu berskala internasional menjadi salah satu medium untuk meningkatkan kerja sama antara Indonesia dan negara-negara di Afrika.
Untuk mengetahui lebih detail tentang pelaksanaan IAF ke-2 dan berbagai kesepakatan yang dicapai oleh Indonesia, Bisnis mewawancarai Wakil Menteri Luar Negeri Pahala Mansury di sela-sela acara tersebut. Berikut petikannya:
Hasil IAF 2024: Kesepakatan Rp45,83 Triliun Disepakati, dari Kesehatan hingga Energi
Indonesia-Afrika Forum (IAF) ke-2 2024 berakhir pada Selasa (3/9/2024) dan menghasilkan sejumlah kesepakatan bisnis antara Indonesia dan negara-negara Afrika. [707] url asal
#indonesia-africa-forum-2024 #iaf #iaf-ke-2 #kesepakatan-bisnis #kemlu-ri #kemenlu #wamenlu #pahala-mansury
(Bisnis.Com - Ekonomi) 04/09/24 08:32
v/14886030/
Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia-Africa Forum (IAF) ke-2 2024 berakhir pada Selasa (3/9/2024). Ajang pertemuan berskala internasional ini menjadi salah satu perantara meningkatkan kerja sama Indonesia dan negara-negara Afrika.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI melaporkan sejumlah pencapaian penting disepakati selama dua hari pertemuan IAF ke-2, antara lain penandatanganan 4 kesepakatan bisnis di sektor industri strategis, 9 sektor bisnis kesehatan, dan 6 sektor bisnis energi baru terbarukan (EBT).
Wakil Menteri Luar Negeri RI Pahala Mansury melaporkan realisasi nilai kesepakatan bisnis antara Indonesia dan Afrika hingga akhir IAF mencapai US$2,95 miliar atau setara dengan Rp45,83 triliun (asumsi kurs Rp15.538 per dolar AS).
Itu artinya, angka ini naik US$50 juta atau sekitar Rp776,8 miliar dari hari sebelumnya atau hari ke-2 yang sempat menyentuh US$2,9 miliar.
Dia optimistis nilai kesepakatan bisnis dengan negara-negara Afrika dapat mencapai US$3,5 miliar hingga akhir September 2024, dengan beberapa peluang tambahan yang telah dijajaki.
“Kita optimis mencapai target untuk bisa memiliki perjanjian di sektor bisnis atau B2B agreement dengan negara-negara di Afrika itu bisa menembus angka US$3,5 miliar atau Rp55 triliun rupiah,” ujarnya di sela-sela agenda Indonesia-Africa Forum di Nusa Dua Bali, Selasa (3/9/2024).
Menurutnya, capaian ini sebagian berasal kesepakatan-kesepakatan lain yang telah difinalisasi dalam 1-3 pekan terakhir sebelum forum IAF digelar.
Dia menyebutkan, Indonesia telah menandatangani perjanjian terkait pengembangan fasilitas pupuk, termasuk optimalisasi penggunaan suplai gas menjadi pupuk dan amonia.
Selain itu, juga ada kesepakatan untuk mengoptimalisasi untuk kegiatan upstream di sektor minyak dan gas, khususnya di Blok Buzi, Mozambik, Afrika.
Untuk diketahui, Pahala sempat menyebut bahwa nilai kesepakatan bisnis saat ini telah mencakup kerja sama di berbagai sektor seperti kesehatan, energi, pangan, hingga industri pertahanan dan pembangunan infrastruktur.
Secara terperinci, nilai investasi dari sektor kesehatan khususnya vaksin dan obat-obatan senilai US$94,2 juta, sektor energi yang mencakup eksplorasi gas dan pembangunan infrastruktur listrik sebesar US$1,4 miliar.
"Di sektor pangan khususnya untuk produksi pupuk diperoleh kesepakatan bisnis senilai US$1,2 miliar dan di sektor industri strategis termasuk pertahanan dan pembangunan infrastruktur kita memperoleh kesepakatan bisnis sebesar US$235 juta," ujarnya.
Pahala menekankan bahwa kesepakatan bisnis ini sifatnya masih potensial. Namun, pemerintah akan terus mendorong berbagai prospek bisnis yang belum disepakati, tetapi cukup 'matang' untuk dikejar dalam beberapa waktu mendatang.
"Kita berharap semua hal yang kita capai dalam IAF yang kedua ini dapat ditindaklanjuti dan membawa manfaat bagi masyarakat Indonesia dan masyarakat Afrika, sehingga betul-betul merupakan bentuk daripada kerja sama yang win-win sesuai dengan semangat Bandung," jelasnya.
Pertemuan Bilateral
Selain ajang pertemua bisnis, IAF 2024 juga menjadi kesempatan pemerintah Indonesia melakukan pertemuan bilateral.
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan telah melakukan pertemuan bilateral dengan menteri negara-negara Afrika selama gelaran IAF 2024, salah satunya dengan Menlu Eswatini Pholila Shakantu.
Dalam pertemuan bilateral pada hari kedua IAF, Senin (2/9/2024), kedua Menlu menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) mengenai bebas visa untuk pemegang paspor diplomatik dan dinas.
”MoU ini akan mendorong peningkatan saling kunjung pejabat kedua negara,” jelas Menlu Retno dalam konferensi pers IAF Ke-2 dan HLF MSP, Senin (2/9/2024).
Selain menandatangani MoU dengan Eswatini, Menlu Retno juga mengadakan pertemuan dengan Mensesneg Angola Adao de Almeida dan membahas kerja sama ekonomi, agro industri dan perikanan. Dalam pertemuan ini kedua menteri mengadakan pembicaraan untuk membuka kedutaan besar
”Dan Angola juga sedang dalam proses untuk membuka kedutaan besarnya di Jakarta.,” jelasnya.
Kemlu juga tengah membahas perjanjian pembebasan visa ke Afrika Selatan untuk para pemegang paspor hijau yang pada digunakan oleh Warga Negara Indonesia (WNI).
Pahala Mansury mengatakan dengan kemudahan akses perjalanan diharapkan dapat meningkatkan kontak antara pelaku bisnis Indonesia dan negara-negara di Afrika, terutama Afrika Selatan.
Menurut Pahala, dengan menghilangkan hambatan perjalanan dinilai dapat mendorong hubungan langsung di antara dua negara.
Dia menekankan bahwa kontak langsung adalah kunci untuk menciptakan kerja sama ekonomi yang konkret. Tanpa kontak ini, akan sulit untuk meningkatkan kerja sama ekonomi secara signifikan.
"Seperti yang kita lihat saat ini kan, tanpa kontak dari para pelaku bisnis susah untuk kita bisa meningkatkan adanya kerja sama ekonomi yang konkret sifatnya," ujarnya.
Dia menambahkan bahwa dengan mudahnya perjalanan, diharapkan orang Indonesia lebih mudah melakukan perjalanan ke Afrika dan membangun hubungan bisnis.
Hasil IAF 2024: Kesepakatan Rp45,83 Triliun Diteken, dari Kesehatan hingga Energi
Indonesia-Afrika Forum (IAF) ke-2 2024 berakhir pada Selasa (3/9/2024) dan menghasilkan sejumlah kesepakatan bisnis antara Indonesia dan negara-negara Afrika. [707] url asal
#indonesia-africa-forum-2024 #iaf #iaf-ke-2 #kesepakatan-bisnis #kemlu-ri #kemenlu #wamenlu #pahala-mansury
(Bisnis.Com - Ekonomi) 04/09/24 08:32
v/14885172/
Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia-Africa Forum (IAF) ke-2 2024 berakhir pada Selasa (3/9/2024). Ajang pertemuan berskala internasional ini menjadi salah satu perantara meningkatkan kerja sama Indonesia dan negara-negara Afrika.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI melaporkan sejumlah pencapaian penting disepakati selama dua hari pertemuan IAF ke-2, antara lain penandatanganan 4 kesepakatan bisnis di sektor industri strategis, 9 sektor bisnis kesehatan, dan 6 sektor bisnis energi baru terbarukan (EBT).
Wakil Menteri Luar Negeri RI Pahala Mansury melaporkan realisasi nilai kesepakatan bisnis antara Indonesia dan Afrika hingga akhir IAF mencapai US$2,95 miliar atau setara dengan Rp45,83 triliun (asumsi kurs Rp15.538 per dolar AS).
Itu artinya, angka ini naik US$50 juta atau sekitar Rp776,8 miliar dari hari sebelumnya atau hari ke-2 yang sempat menyentuh US$2,9 miliar.
Dia optimistis nilai kesepakatan bisnis dengan negara-negara Afrika dapat mencapai US$3,5 miliar hingga akhir September 2024, dengan beberapa peluang tambahan yang telah dijajaki.
“Kita optimis mencapai target untuk bisa memiliki perjanjian di sektor bisnis atau B2B agreement dengan negara-negara di Afrika itu bisa menembus angka US$3,5 miliar atau Rp55 triliun rupiah,” ujarnya di sela-sela agenda Indonesia-Africa Forum di Nusa Dua Bali, Selasa (3/9/2024).
Menurutnya, capaian ini sebagian berasal kesepakatan-kesepakatan lain yang telah difinalisasi dalam 1-3 pekan terakhir sebelum forum IAF digelar.
Dia menyebutkan, Indonesia telah menandatangani perjanjian terkait pengembangan fasilitas pupuk, termasuk optimalisasi penggunaan suplai gas menjadi pupuk dan amonia.
Selain itu, juga ada kesepakatan untuk mengoptimalisasi untuk kegiatan upstream di sektor minyak dan gas, khususnya di Blok Buzi, Mozambik, Afrika.
Untuk diketahui, Pahala sempat menyebut bahwa nilai kesepakatan bisnis saat ini telah mencakup kerja sama di berbagai sektor seperti kesehatan, energi, pangan, hingga industri pertahanan dan pembangunan infrastruktur.
Secara terperinci, nilai investasi dari sektor kesehatan khususnya vaksin dan obat-obatan senilai US$94,2 juta, sektor energi yang mencakup eksplorasi gas dan pembangunan infrastruktur listrik sebesar US$1,4 miliar.
"Di sektor pangan khususnya untuk produksi pupuk diperoleh kesepakatan bisnis senilai US$1,2 miliar dan di sektor industri strategis termasuk pertahanan dan pembangunan infrastruktur kita memperoleh kesepakatan bisnis sebesar US$235 juta," ujarnya.
Pahala menekankan bahwa kesepakatan bisnis ini sifatnya masih potensial. Namun, pemerintah akan terus mendorong berbagai prospek bisnis yang belum disepakati, tetapi cukup 'matang' untuk dikejar dalam beberapa waktu mendatang.
"Kita berharap semua hal yang kita capai dalam IAF yang kedua ini dapat ditindaklanjuti dan membawa manfaat bagi masyarakat Indonesia dan masyarakat Afrika, sehingga betul-betul merupakan bentuk daripada kerja sama yang win-win sesuai dengan semangat Bandung," jelasnya.
Pertemuan Bilateral
Selain ajang pertemua bisnis, IAF 2024 juga menjadi kesempatan pemerintah Indonesia melakukan pertemuan bilateral.
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan telah melakukan pertemuan bilateral dengan menteri negara-negara Afrika selama gelaran IAF 2024, salah satunya dengan Menlu Eswatini Pholila Shakantu.
Dalam pertemuan bilateral pada hari kedua IAF, Senin (2/9/2024), kedua Menlu menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) mengenai bebas visa untuk pemegang paspor diplomatik dan dinas.
”MoU ini akan mendorong peningkatan saling kunjung pejabat kedua negara,” jelas Menlu Retno dalam konferensi pers IAF Ke-2 dan HLF MSP, Senin (2/9/2024).
Selain menandatangani MoU dengan Eswatini, Menlu Retno juga mengadakan pertemuan dengan Mensesneg Angola Adao de Almeida dan membahas kerja sama ekonomi, agro industri dan perikanan. Dalam pertemuan ini kedua menteri mengadakan pembicaraan untuk membuka kedutaan besar
”Dan Angola juga sedang dalam proses untuk membuka kedutaan besarnya di Jakarta.,” jelasnya.
Kemlu juga tengah membahas perjanjian pembebasan visa ke Afrika Selatan untuk para pemegang paspor hijau yang pada digunakan oleh Warga Negara Indonesia (WNI).
Pahala Mansury mengatakan dengan kemudahan akses perjalanan diharapkan dapat meningkatkan kontak antara pelaku bisnis Indonesia dan negara-negara di Afrika, terutama Afrika Selatan.
Menurut Pahala, dengan menghilangkan hambatan perjalanan dinilai dapat mendorong hubungan langsung di antara dua negara.
Dia menekankan bahwa kontak langsung adalah kunci untuk menciptakan kerja sama ekonomi yang konkret. Tanpa kontak ini, akan sulit untuk meningkatkan kerja sama ekonomi secara signifikan.
"Seperti yang kita lihat saat ini kan, tanpa kontak dari para pelaku bisnis susah untuk kita bisa meningkatkan adanya kerja sama ekonomi yang konkret sifatnya," ujarnya.
Dia menambahkan bahwa dengan mudahnya perjalanan, diharapkan orang Indonesia lebih mudah melakukan perjalanan ke Afrika dan membangun hubungan bisnis.
Bank Mandiri Ceritakan Perjalanan Transformasi Digital di IAF 2024
Bank Mandiri memaparkan berbagai peluang dan tantangan transformasi dan pemanfaatan digital di sektor perbankan di dalam IAF 2024. [436] url asal
#bank-mandiri #iaf-2024 #indonesia-africa-forum-2024 #perbankan #update-me
(Katadata - FINANSIAL) 03/09/24 20:09
v/14882547/
Bank Mandiri berkomitmen untuk mendukung inisiatif Kementerian Luar Negeri dalam memperkuat hubungan bilateral dengan negara-negara di kawasan Afrika. Oleh sebab itu, perseroan ikut mendukung Indonesia-Africa Forum (IAF) 2024, di Bali, pada 1-3 September 2024.
Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi yang juga menjadi salah satu panelis pada gelaran internasional tersebut. Ia memaparkan berbagai peluang dan tantangan transformasi dan pemanfaatan digital di sektor perbankan bagi para pemangku kepentingan sektor publik dan swasta dari Afrika dan Indonesia.
Darmawan juga berbagi kisah sukses inovasi dan transformasi yang telah dijalankan perseroan kepada peserta IAF 2024. Ia memaparkan, melalui transformasi digital, Bank Mandiri berhasil mengembangkan super platform Kopra by Mandiri untuk nasabah wholesale dan superapp Livin’ by Mandiri bagi nasabah ritel. Perseroan juga menghadirkan layanan Livin’ Merchant untuk pelaku UMKM.
Selain itu, Bank Mandiri mentransformasi 241 kantor cabang menjadi Smart Branches yang didukung dengan teknologi back-end yang ditingkatkan. Dalam melakukan ekspansi jaringan bisnis, pengembangan teknologi digital melalui Livin’ dan Kopra juga dilengkapi dengan inisiatif Mandiri Agen, terutama untuk wilayah terluar di Tanah Air.
“Saat ini, lebih dari 80 persen akun baru dari nasabah ritel telah didaftarkan melalui Livin’ by Mandiri. Sedangkan Kopra by Mandiri menangani transaksi bisnis dengan volume lebih dari USD1,2 miliar dalam periode 12 bulan terakhir,” ujar Darmawan dikutip dari keterangan tertulis, Selasa (3/9).
Pencapaian tersebut, imbuhnya, merupakan yang tertinggi di industri perbankan Indonesia. Bahkan, Livin’ Merchant membantu lebih dari 2 juta pedagang UMKM di Indonesia menjadi digital hanya dalam waktu kurang dari satu tahun.
Melalui program Livin’ Around the World, Livin’ by Mandiri berekspansi ke mancanegara, melayani transaksi finansial dan gaya hidup bagi diaspora di lebih 120 negara. Hingga akhir Agustus 2024, lebih dari 62.000 User Registered melalui program Livin’ Around the World ini. Terlebih, superapp milik bank berlogo pita emas ini telah menghadirkan lebih dari 120 fitur banking dan beyond banking.
“Mulai dari tabungan, transfer valas, hingga fitur berinvestasi, Livin’ by Mandiri menghadirkan seluruh kebutuhan transaksi finansial nasabah dalam genggaman,” tutur Darmawan.
Mengutip penjelasan Kementerian Luar Negeri RI pada lamannya, event IAF ini merupakan kali kedua dihelat pemerintah Indonesia dan diselenggarakan berbarengan dengan High-Level Forum on Multi-Stakeholder Partnerships (HLM MSP).
Ajang yang dibuka Presiden Joko Widodo tidak hanya mempertemukan lebih dari 1.400 peserta yang terdiri dari kepala negara, menteri, pengusaha dan akademisi. Tapi juga menjadi ajang menciptakan kemitraan nyata di empat sektor utama kerja sama di bidang energi, ketahanan pangan, kesehatan dan mineral.
Selain aspek kerja sama ekonomi, IAF II juga menjadi platform untuk menghidupkan kembali Bandung Spirit yang menjadi legacy penting dari Konferensi Asia-Afrika 1955 yang menjadi tonggak sejarah sekaligus pondasi penting hubungan Indonesia-Afrika.
Jumlah Turis Afrika ke RI Melonjak, Sandiaga: Pengeluarannya Rp38 Juta
Menparekraf, Sandiaga Uno mengungkap dampak pada sektor pariwisata dari kegiatan HLF MSP dan Indonesia-Africa Forum (IAF) 2024 di Bali. [267] url asal
#turis-afrika #wisatawan-mancanegara #indonesia-africa-forum-2024 #sandiaga-uno #indonesia-africa-forum
(IDX-Channel - Economics) 03/09/24 16:59
v/14879246/
IDXChannel - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Uno menyebut dampak pada sektor pariwisata dari kegiatan High Level Forum on Multi-Stakeholder Partnerships (HLF MSP) dan Indonesia-Africa Forum (IAF) 2024 yang digelar di Bali pada 1-3 September 2024.
Sandiaga mengatakan, wisatawan mancanegara (wisman) dari Afrika meningkat karena acara HLF dan IAF 2024. Forum ini, sambungnya, menjadi sarana promosi yang sangat efektif dalam memperkuat perekonomian kreatif Indonesia.
“Kemarin BPS baru saja merilis data terakhir yang menunjukan kunjungan wisman dari Afrika ke Indonesia ini meningkat secara sifnigikan,” kata Sandiaga di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Selasa (3/9).
Sandiaga menuturkan, kunjungan turis dari Afrika ini didominasi dari Afrika Selatan yang totalnya mencapai 15 ribu wisatawan. Mesir menduduki urutan kedua para wisatawan yang berkunjung ke Bali dalam forum ini. Kunjungan tersebut juga memberikan total spending atau pengeluaran yang lebih tinggi dari wisman lainnya.
“Lama tinggalnya cukup panjang, yaitu hampir 17 hari dan spending-nya adalah Rp38 juta mendekati USD2.500 dan ini di atas rata-rata dari wisatawan mancanegara lainnya,” tuturnya.
Sandiaga menambahkan, para wisman memiliki sejumlah destinasi wisata favorit selama di Indonesia. Destinasi alam, pantai, dan wisata religi favorit wisman tersebut.
“Ini menarik sekali. Jadi banyak yang datang ke Indonesia untuk wisata religi dan melihat kebudayaan dan adat istiadat setempat," ujarnya.
Sandiaga berharap kegiatan HLF MSP dan IAS 2024 bisa menjadi sarana potensial untuk memperkuat kerja sama Indonesia dengan negara-negara Afrika yang bisa memperkuat ekonomi kreatif.
“Kami melihat bahwa pertumbuhan signifikan ini perlu kita dorong lagi dengan rangkaian kegiatan yang mudah-mudahan bisa memperkuat kerja sama Afrika terutama di sektor parekraf,” kata Sandiaga.
(Fiki Ariyanti)
40 Perusahaan Indonesia Jalin Kerja Sama di IAF 2024, Biofarma hingga PGN
Sebanyak 40 perusahaan Indonesia menjalin kerja sama strategis dalam Indonesia-Afrika Forum atau IAF 2024 yang berlangsung di Bali pada 1-3 September 2024. [545] url asal
#iaf-2024 #indonesia-africa-forum-2024 #update-me
(Katadata) 03/09/24 15:24
v/14875368/
Sebanyak 40 perusahaan Indonesia menjalin kerja sama strategis dalam Indonesia-Afrika Forum (IAF) 2024 yang berlangsung di Bali pada 1-3 September 2024. Forum tersebut memperkuat hubungan ekonomi antara Indonesia dan negara-negara Afrika.
"Indonesia-Afrika Forum 2024 menjadi ajang strategis bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), perusahaan nasional, perusahaan swasta, serta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk menjalin kerja sama yang saling menguntungkan dengan mitra-mitra dari Afrika," kata Direktur Afrika, Direktorat Jenderal Asia, Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Dewi Justicia Meidiwaty, di Nusa Dua Bali, Selasa (3/9/2024) seperti dikutip dari siaran pers.
Forum dihadiri oleh 40 perusahaan Indonesia yang berpartisipasi aktif. Hal itu menunjukkan komitmen kuat Indonesia dalam berbagai sektor strategis seperti energi, kesehatan, pertanian, teknologi, dan perbankan.
“Melalui berbagai kesepakatan yang ditandatangani, IAF 2024 diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional,” ujar Dewi.
Beberapa BUMN yang menunjukkan komitmen kuat di IAF 2024 adalah PT Pertamina (Persero), yang akan fokus pada pengembangan sektor energi, termasuk gas, dan geothermal. Kemudian Defend ID yang akan mengembangkan sektor industri strategis dan pertahanan serta PT Pindad (Persero) yang bekerja sama di sektor industri strategis.
Selanjutnya, PT Biofarma (Persero) bekerja sama di sektor kesehatan dan transfer teknologi, PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III) di sektor pertanian, serta PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk dalam hal pengembangan infrastruktur gas.
Selain BUMN, sejumlah perusahaan nasional dan swasta juga aktif menjajaki kerja sama, di antaranya PT Kalbe Farma Tbk untuk ekspor produk kesehatan ke Afrika. PT Triton untuk pengadaan alat suntik di Afrika Selatan.
Lalu PT Pertiwi Agung (Mensa Group) terkait pembelian minuman energi instan di Namibia. PT Energi Mega Persada (EMP) dan Oxytane di sektor energi. JOBS dalam hal perekrutan dan pengembangan sumber daya manusia di sektor energi.
Kemudian ada Asindo Tech terkait pengembangan industri pengolahan casava, CV KHS (Quick) untuk produksi dan ekspor alat pertanian, Audie Building terkait pengembangan infrastruktur, PT Sari Teknologi Global dalam hal pengembangan teknologi industri dan robot pintar (ROPI), Tirta Ayu untuk wellness dan produk herbal, PT Victoria Care Indonesia untuk produk perawatan tubuh dan kesehatan, serta Saputra Global Harvest untuk pengolahan batu bara menjadi pupuk dengan teknologi AS.
Lalu ada Sampoerna Agro yang menjajaki kerja sama di sektor perkebunan, PT Dami Sariwana untuk produksi makanan dan barang konsumsi, PT Solusi Tani Makmur untuk ekspor pupuk organik, serta Indesso Aroma untuk produksi aroma dan bahan baku industri.
Tak ketinggalan di sektor perbankan yang melibatkan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Sementara UMKM yang mengambil bagian dalam IAF 2024 mencakup sektor furnitur, fesyen, makanan olahan, dan kerajinan.
Beberapa UMKM binaan Bank Indonesia, BNI, Ditjen Bea dan Cukai, serta HIPMI Womenpreneur yang turut menjalin kerja sama dengan negara-negara Afrika antara lain INTMO, PT Mata Air Sukses, PT Matahari Cahaya Dewata, Kreasi Mode Internasional, Puta Dino Kayangan, Animorfosa, CV Tori Sport, PT Kain Ratu Utama, Organic Center, Uni Kayo Rendang, Yammy Babeh, Kopi Gayoland, Pyo Jewelry, Saraswati Papers, PT Genta Trikarya.
IAF 2024 menjadi bukti komitmen Indonesia untuk terus membangun kerja sama strategis dan saling menguntungkan dengan mitra-mitra internasional. Forum ini akan menjadi platform untuk memperkuat hubungan dagang dan investasi antara Indonesia dan Afrika, serta membuka peluang baru bagi sektor-sektor yang lebih luas dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
IAF 2024, Bukti Komitmen Pertamina Tingkatkan Ketahanan Energi
IAF 2024 juga memperkuat komitmen Pertamina dalam ekspansi global, khususnya di Afrika. [460] url asal
#pertamina #indonesia-africa-forum-2024 #energi #update-me
(Katadata) 03/09/24 15:09
v/14875369/
Indonesia Africa Forum (IAF) 2024 sedang berlangsung di Nusa Dua, Bali sejak 1 September sampai hari ini (3/9). IAF tampil sebagai platform utama bagi Indonesia dan negara-negara Afrika untuk meningkatkan hubungan bilateral, merumuskan langkah-langkah strategis, dan berkolaborasi mengatasi tantangan global yang semakin kompleks.
IAF tahun ini dihadiri 54 negara dan 800 partisipan dari benua Afrika, serta sejumlah tamu internasional lain. Kegiatan ini menjadi ajang temu bisnis Pertamina dengan berbagai mitra bisnis asal Afrika. Digelar pula High-Level Forum on Multi-Stakeholder Partnerships (HLF MSP).
Dibuka oleh Presiden Joko Widodo, IAF mengusung tema Bandung Spirit for Africa’s Agenda 2063. Jokowi menyambut hangat kehadiran para peserta dan menyampaikan apresiasi atas komitmen mereka untuk menghadiri forum penting ini di tengah berbagai tantangan global yang sedang dihadapi.
“Kita semua hendak menciptakan perubahan positif di tengah dunia yang penuh dengan tantangan, baik tantangan terkait perlambatan ekonomi, tingkat pengangguran dan inflasi yang belum membaik, maupun ketegangan geopolitik,” ujar Presiden Jokowi dikutip dari keterangan resmi kepresidenan, Selasa (3/9).
Di dalam IAF akan dilakukan pertemuan bisnis dengan berbagai pihak, terdiri dari leaders session, diskusi panel, project showcase, exhibition, business matching, serta ajang bisnis lainnya.
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, Pertamina mendukung dan berkontribusi aktif pada perhelatan ini. IAF 2024 juga memperkuat komitmen Pertamina dalam ekspansi global, khususnya di Afrika.
"Sebagai BUMN bidang energi, kami melihat potensi untuk pengembangan sektor energi di Afrika sangat besar misalnya untuk energi gas maupun geothermal," ujar Nicke.
Ia mengapresiasi dukungan pemerintah Indonesia. Sebab, melalui kerjasama G to G (Government to Government) di antara Indonesia dengan negara di Afrika sesuai dengan semangat Bandung Spirit, mendorong upaya Pertamina untuk go global dan bekerja sama dengan mitra bisnis internasional.
Salah satu upaya Pertamina di Afrika, tak lain terkait ekspansi ke sektor hulu dan gas di beberapa negara Afrika sejak 2013, seperti Aljazair, Gabon, Nigeria, Namibia, dan Tanzania. Ekspansi ini berkontribusi kepada produksi migas Pertamina dari blok internasional.
Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso mengimbuhkan, kerja sama Pertamina dengan mitra internasional juga bertujuan memperkuat bisnis rendah karbon. Melalui sinergi ini, diharapkan dapat terjalin pertukaran teknologi untuk menghasilkan energi rendah karbon dan energi transisi.
"Selain untuk menjaga ketahanan energi, kami berharap ekspansi bisnis Pertamina mendukung tercapainya target Pemerintah Indonesia untuk Net Zero Emission melalui kolaborasi Pertamina dan mitra bisnis," tutur Fadjar.
Di dalam ajang IAF, Pertamina juga memamerkan produk dan layanannya dari sejumlah subholding dan anak usahanya. Hal ini diharapkan membuka kesempatan bekerja sama yang lebih luas dengan negara-negara dari benua Afrika.
Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dengan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs). Seluruh upaya tersebut sejalan dengan penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina.
Indonesia Africa Forum Jadi Momentum Kolaborasi Strategis dengan Global South
Indonesia Africa Forum Kedua menghasilkan kerja sama dengan nilai kurang lebih US$ 3,5 miliar atau sekitar Rp 55 triliun. [1,837] url asal
#indonesia #afrika #kerja-sama-ekonomi #indonesia-africa-forum-2024 #give-me-perspective
(Katadata - IN-DEPTH & OPINI) 03/09/24 14:00
v/14880091/
Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan Indonesia Afrika Forum Kedua di Nusa Dua, Bali pada 1-3 September 2024. Berangkat dari sejarah panjang Indonesia dan Afrika sejak Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955, forum ini ingin mendorong solidaritas dan kerja sama strategis di berbagai bidang.
Tim Katadata berkesempatan mewawancara Wakil Menteri Luar Negeri Pahala Mansury untuk mengetahui lebih jauh mengenai penyelenggaraan Indonesia Africa Forum (IAF) Kedua ini. Berikut petikan wawancara tersebut.
Indonesia Africa Forum (IAF) telah resmi dibuka. Sebelumnya, Pemerintah Indonesia sudah melakukan beberapa lawatan ke negara-negara Afrika. Bagaimana cerita di balik penyelenggaraan IAF Kedua ini?
Baik, jadi ini merupakan Indonesia Africa Forum Kedua. Memang dalam forum kedua ini kita berharap bahwa akan lebih banyak lagi kerja sama-kerja sama konkret antara Indonesia dengan negara-negara Afrika.
Forum ini bukan hanya melibatkan delegasi pemerintah saja, ada beberapa kepala negara yang hadir dan ada juga yang diwakili oleh para menteri. Tetapi yang lebih dari itu, kami juga berharap bahwa forum ini memang melibatkan sektor swasta, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan lembaga-lembaga lainnya.
Untuk itu, seluruh tim yang ada di Asia Pasifik dan Afrika melakukan beberapa kunjungan dan lawatan. Tujuannya, untuk memastikan bahwa para stakeholders yang ada di Afrika bisa memahami betul dan melihat bahwa ini merupakan sebuah kesempatan yang baik bagi Indonesia dan Afrika untuk bisa meningkatkan kerja sama kita, khususnya di beberapa sektor yang memang betul-betul strategis.
Negara Afrika mana saja yang sudah dikunjungi untuk mengkampanyekan forum ini?
Saya melakukan beberapa kali kunjungan ke Afrika. Tahun lalu, Bapak Presiden Joko Widodo juga melakukan lawatan ke empat negara, termasuk Tanzania, Mozambik, Afrika Selatan, dan Kenya. Pada saat itu sebagai bagian dari kehadiran beliau di BRICS Summit.
Dari hasil kunjungan Bapak Presiden dan beberapa kunjungan kerja lainnya, ini juga mendorong dan membangun momentum bagi kita dalam penyelenggaraan Indonesia Africa Forum Kedua. Pada event ini juga diselenggarakan High Level Forum dan Multi Stakeholders Partnership Forum (HLF MSPF).
Ini merupakan dua kegiatan yang kami harapkan akan menjadi momentum bagi kita. Seperti diketahui, pada 2025 Indonesia juga akan menjadi host untuk perayaan Platinum Jubilee yang ke-70 untuk Konferensi Asia-Afrika.
Seperti kita ketahui bersama bahwa Konferensi Asia-Afrika memang merupakan momentum yang sangat penting, khususnya bagi negara-negara Asia dan Afrika, yang pada waktu itu baru mempeloreh kemerdekaannya. Konferensi Asia Afrika membangun sebuah solidaritas antara negara-negara Asia-Afrika yang saat ini mungkin dikenal dengan Global South Countries.
Ini juga kita harapkan menjadi satu momentum bagi Indonesia untuk terus mendorong adanya kerja sama strategis antara negara-negara Global South atau South-South Cooperation tersebut.
KTT Asia-Afrika mengambil tema "Burning Spirit of Africa" di 2063. Ini kaitannya seperti apa, Pak? Bisa dijelaskan?
Kalau kita lihat antara Indonesia dan Afrika memiliki sebuah kedekatan yang sudah cukup panjang sejarahnya. Tadi, kita bicara mengenai Konferensi Asia Afrika yang melahirkan Bandung Principles dan Spirit of Bandung. Pada waktu itu, kita sebagai sesama negara yang mungkin baru saja memperoleh kemerdekaannya, memiliki solidaritas yang sama.
Kita memiliki tujuan yang sama. Bagaimana kita bersama-sama mendorong negara-negara lain untuk merdeka. Lalu, untuk negara-negara yang sudah merdeka mungkin memperjuangkan kepentingan kita masing-masing.
Nah, semangat dari Bandung Spirit ini yang kita harapkan untuk bisa kita bawa bersama-sama agar Indonesia dengan negara-negara Afrika bisa membangun sebuah kerja sama untuk mencapai visi kita bersama.
Indonesia punya visi Indonesia Emas 2045. Sementara, Afrika memiliki visi atau agenda untuk bisa menjadi negara dan juga kawasan yang boleh dikatakan akan menjadi kawasan yang sebagian besar negaranya akan menjadi negara maju yang dikenal sebagai African Agenda 2063.
Nah, dengan kesamaan visi dan cita-cita untuk mengisi kemerdekaan dan mengingat kembali bagaimana melalui Bandung Spirit kita bisa membangun sebuah kerja bersama, untuk memastikan bahwa negara-negara berkembang ini memiliki hak-hak yang sama dengan negara-negara lain. Saat ini kita juga melihat kerja sama konkret, ternyata ada beberapa agenda di mana kita memiliki kesamaan dan kepentingannya juga sama.
Salah satu kerja sama ini dalam pengelolaan sumber daya alam dan energi?
Negara-negara Asia khususnya Indonesia memiliki kekayaan alam yang cukup besar. Nah, bagaimana kita bisa memastikan bahwa jangan sampai sumber daya alam ini tidak bisa memberikan manfaat yang semaksimal mungkin kepada masing-masing negara.
Ini yang kita kenal sebagai the right to development, bagaimana sebetulnya kita bisa bukan hanya menjadi pengekspor bahan mentah saja tetapi kita bisa mendapatkan teknologi, pembiayaan untuk bisa melakukan pengembangan hilirisasi bagi kita di negara-negara yang memang memiliki kekayaan alam ini. Apalagi, nantinya kita akan lihat sendiri dengan adanya perubahan iklim ini.
Tentunya, kekayaan alam yang kita miliki ini bisa bermanfaat sekali untuk membantu dunia mencapai targetnya bisa menurunkan emisi, kalau misalnya diolah menjadi bahan-bahan seperti baterai (kendaraan listrik) dan lain sebagainya.
Yang kedua, kita juga berharap bisa bekerja sama dan memastikan bahwa saat ini kita memiliki kekayaan di bidang energi tetapi nantinya kita juga diharapkan untuk bisa melakukan transisi energi. Negara-negara di Afrika ini kekayaan energi dan migasnya betul-betul luar biasa. Diperkirakan antara 10 sampai dengan 15 persen dari cadangan energi dalam bentuk migas dunia ini ada di kawasan Afrika.
Agenda kerja sama transisi energi Indonesia dan negara-negara Afrika ini seperti apa?
Pada saatnya nanti kita perlu melakukan transisi energi. Akan tetapi, bagaimana transisi energi ini juga tidak membebani kita semua. Harus ada transisi energi yang berkeadilan atau just energy transition sehingga kita bisa mengoptimalkan nilai dari kekayaan migas tadi.
Dalam hal kerja sama pembangunan, dulu kita menjadi negara yang menerima bantuan dalam bentuk kerja sama pembangunan. Sekarang, di antara negara-negara Global South ini kita harus siap menjadi negara yang mulai memberikan bantuan.
Jadi, ini adalah perubahan mindset bahwa sesama negara berkembang pun kita harus siap untuk bisa sama-sama melakukan kerja sama pembangunan. Tentunya kerja sama pembangunan yang memang bisa scalable, bisa sustain ke depannya sehingga bukan hanya menjadi bantuan yang sifatnya satu kali saja. Tetapi, betul-betul mengena dan impactful, serta sustain (berkelanjutan) untuk bisa membangun ke depannya.
Itu mungkin beberapa hal yang kita harapkan juga dari kerja sama antara Indonesia dan Afrika ini dengan agenda setting yang sama. Itu bisa menjadikan adanya kerja sama yang strategis tetapi juga konkret pada saat yang sama.
Selain sektor energi, kerja sama di bidang lain yang akan dilakukan mencakup apa saja?
Kita melihat bahwa setidaknya kerja sama strategis yang konkret di bidang ekonomi ini ke depannya akan banyak difokuskan mungkin kepada empat sektor yang strategis. Pertama adalah di sektor energi, khususnya sektor energi migas mengingat bahwa saat ini Indonesia melakukan impor sekitar 500 sampai dengan 600 ribu barel per hari dalam bentuk minyak mentah dan produk bahan bakar minyak (BBM) lainnya.
Ketahanan energi ini menjadi lebih strategis lagi kalau kita lihat bagaimana Indonesia bisa membangun hubungan dengan negara-negara di Afrika tadi kita sudah sampaikan bahwa antara 10-15 persen cadangan migas dunia itu berada di Afrika.
Kalau kita lihat dari impor minyak mentahnya saja, mungkin antara 20-25 persen yang diperoleh Indonesia pada saat ini dari negara lain itu justru berasal dari Afrika. Ini yang membuat hubungan Indonesia dengan negara-negara Afrika itu, khususnya dalam bentuk migas ini bisa dikerjasamakan jadi ini dengan kita.
Kedua, ketahanan pangan. Pada saat ini Afrika dengan kurang lebih sekitar 1,5 miliar penduduk dan nantinya mungkin akan menjadi sekitar 2,5 miliar penduduk dalam kurun waktu 20 tahun mendatang, tentunya ketahanan pangan juga menjadi salah satu kebutuhan.
Saat ini Afrika mengimpor cukup besar dari negara-negara lain untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Nilainya sekitar US$15 miliar untuk impor pangan dari negara-negara lain, tetapi bukan hanya dalam bentuk pangan jadi. Misalnya dalam kebutuhan mereka untuk bisa meningkatkan sektor agrikultur dengan pupuk urea dan produksi amonia kita juga sudah mulai ekspor.
Ini yang sudah dilakukan sebuah perusahaan di Indonesia untuk membangun fasilitas produksi pupuk di Tanzania, ini akan mengurangi impor pupuk beberapa negara Afrika sambil memanfaatkan kekayaan gas yang dimilikinya.
Ketiga, di bidang kesehatan saat ini Indonesia sudah mengekspor kurang lebih sekitar 1 miliar vaksin ke berbagai negara di Afrika. Memang yang paling dominan ini adalah vaksin polio. Tapi, kita lihat juga banyak sekali kesempatan untuk bisa melakukan pengembangan di sektor kesehatan karena mengingat saat ini lebih dari 90% dari barang-barang dan kebutuhan kesehatan yang dibutuhkan oleh Afrika memang harus diimpor dari negara-negara lainnya.
Saat ini kita sedang menjajaki agar perusahaan-perusahaan Indonesia, seperti Bio Farma, DEXA, dan lain-lain bukan hanya mengekspor tetapi juga membangun fasilitas produksi di negara-negara Afrika.
Keempat, kerja sama dalam membangun rantai pasok di sektor mineral atau mineral kritis yang nantinya memang dibutuhkan untuk berbagai sektor lainnya, khususnya sektor yang terkait dengan baterai dan kendaraan listrik.
Indonesia ingin menjadi hub bagi produksi baterai di kawasan Asia dan bahkan dunia karena kita memiliki kekayaan nikel. Tidak cukup hanya tembaga, bauksit yang diolah menjadi aluminium tetapi kita juga membutuhkan litium, grafit, dan kobalt. Ini yang kami harapkan melalui kerja sama dengan negara-negara Afrika yang memang justru mereka kaya dengan berbagai mineral kritis tersebut.
Misalnya, saat ini 70% dari mineral kritis kobalt berasal dari Republik Demokrasi Kongo (DRC). Tanzania juga memiliki kekayaan mineral, khususnya grafit yang sangat dibutuhkan untuk memproduksi baterai. Dengan adanya hal tersebut, bagaimana kita bisa membangun sebuah rantai pasok yang efektif dan efisien untuk bisa sama-sama melakukan hilirisasi atas berbagai mineral kritis tersebut. Jadi, baik Afrika maupun Indonesia akan mendapatkan keuntungan yang sama kira-kira kerja sama ini.
Bagaimana kerja sama Indonesia-Afrika ini menjadi semakin signifikan di tengah kondisi geopolitik saat ini?
Kita berharap bahwa kerja sama antara Indonesia dengan negara-negara Afrika didasari mindset bahwa kita ingin win-win, membangun kerja sama yang saling menguntungkan. Saat ini negara-negara lain atau kawasan-kawasan lain juga sudah melihat kekayaan alam dan potensi pasar yang luar biasa yang ada di Afrika, mereka juga mulai masuk ke berbagai sektor yang ada di sana.
Ditambah dengan situasi global geopolitik saat ini yang memang menunjukkan adanya tensi yang meningkat, Afrika mungkin kurang nyaman kalau harus memilih salah satu kekuatan saja. Indonesia yang memiliki angle global solidarity dan kerja sama self-help, moga-moga ini juga akan membuat lebih nyaman bagi negara-negara Afrika untuk membuka pintunya dan bekerja sama dengan kita.
Apakah ada target kerja sama yang akan ditandatangani di event ini dan berapa nilainya?
Sejak konsep awal di tahun 2018, kita berusaha supaya forum semacam ini bisa mendorong kerja sama yang konkret. Pada waktu itu nilai kerjasamanya kurang lebih US$ 586 juta. Pada 2019, sempat terselenggara Africa-Indonesia Infrastructure Dialogue dengan nilai kerja sama yang ditandatangani sekitar US$ 350 juta dalam bentuk kerja sama pembangunan infrastruktur.
Kita berharap bisa melakukan finalisasi dari kerja sama di forum ini dengan nilai kurang lebih US$ 3,5 miliar atau sekitar Rp 55 triliun yang sudah terkumpul. Untuk yang sudah siap kita lanjutkan ke tahap berikutnya US$ 2,76 miliar (Rp 42,97 triliun) dari berbagai bisnis forum.
Penjajakan ini juga tadi saya dapat kabar ada beberapa rencana kerja sama yang sedang difinalisasi dan akan ditandatangani dalam bentuk Memorandum of Understanding (MOU) pada 3 September. Ini antara Pertamina dengan perusahaan-perusahaan di Afrika Selatan kemudian ada salah satu perusahaan swasta perminyakan Indonesia dengan perusahaan yang ada di Mozambique.
Indonesia dan Zanzibar Perkuat Kerja Sama Ekonomi Biru
Zanzibar dan Indonesia memiliki banyak kesamaan sebagai negara kepulauan dengan komitmen kuat terhadap pengembangan sektor maritim dan kelestarian lingkungan laut. [442] url asal
#indonesia #ekonomi-biru #hutan-dan-lahan #indonesia-africa-forum-2024 #update-me
(Katadata - EKONOMI HIJAU) 03/09/24 06:56
v/14878780/
Indonesia dan Zanzibar akan memperkuat kerja sama ekonomi biru dalam Zanzibar-Indonesia Investment Forum yang digelar di sela-sela penyelenggaraan Indonesia-Africa Forum (IAF) kedua di Nusa Dua, Bali. Potensi kerja sama ekonomi biru ini mencakup sektor pariwisata dan perhotelan, perikanan tangkap dan budi daya, pengembangan infrastruktur pelabuhan, pengolahan rumput laut, serta sektor minyak dan gas.
Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Pahala Mansyuri, membuka Zanzibar-Indonesia Investment Forum yang mengangkat tema “Navigating New Horizons in Blue Economy Cooperation”, pada Minggu (1/9). Kegiatan tersebut turut dihadiri langsung oleh Presiden Zanzibar Hussein Ali Mwinyi, didampingi Menteri Tenaga Kerja, Ekonomi, dan Investasi Sharif Ali Shariff, serta lebih dari 100 pelaku usaha dan pemangku kepentingan dari Indonesia, Zanzibar, dan Tanzania.
Menurut Pahala, kedekatan historis antara Indonesia dan Afrika yang terjalin sejak Konferensi Asia-Afrika 1955 yang menjadi landasan solidaritas dan kerja sama antara negara-negara berkembang. Pahala juga memandang potensi besar yang dimiliki oleh Indonesia dan kawasan Afrika, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) gabungan sekitar US$4,4 triliun dan sumber daya alam yang melimpah.
“Dengan potensi yang besar ini, kita harus memperkuat kerja sama di sektor-sektor strategis, terutama ekonomi biru yang sangat relevan bagi negara kepulauan seperti Indonesia dan Zanzibar,” ujar Pahala.
Pada kesempatan tersebut, Pahala memaparkan Blue Economy Framework yang telah dikembangkan oleh Indonesia. Kerangka kerja ekonomi biru tersebut mampu meningkatkan pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Ekonomi biru adalah sektor yang sangat potensial untuk kita kembangkan bersama. Ini adalah kesempatan emas bagi para pelaku usaha untuk memperkuat kehadiran di pasar Afrika Timur dan membangun masa depan yang lebih berkelanjutan,” kata Pahala.
Presiden Zanzibar Hussein Ali Mwinyi mengatakan Zanzibar dan Indonesia memiliki banyak kesamaan sebagai negara kepulauan dengan komitmen kuat terhadap pengembangan sektor maritim dan kelestarian lingkungan laut. “Kami mengundang para pelaku usaha dan investor dari Indonesia untuk berpartisipasi aktif dalam mengembangkan sektor-sektor ekonomi prioritas di Zanzibar,” kata Presiden Mwinyi.
Pada sesi diskusi, Direktur Eksekutif Zanzibar Investment Promotion Authority, Saleh Saad Mohamed, dan Direktur Fasilitas Investasi Tanzania Investment Centre, Rovokatus A. Rashel, turut memaparkan potensi Zanzibar dan Tanzania sebagai tujuan investasi utama di Afrika Timur.
Mereka menekankan stabilitas politik, keamanan, serta kepastian hukum sebagai faktor penarik utama bagi investor asing.
Zanzibar merupakan bagian dari Tanzania yang terletak di lepas pantai Afrika Timur. Sebagai wilayah semi-otonom, Zanzibar mempertahankan persatuan politik dengan Tanzania namun memiliki parlemen dan presiden tersendiri.
Forum Investasi Zanzibar-Indonesia ini menjadi platform penting untuk memperkuat hubungan ekonomi antara Indonesia dan Zanzibar, serta memajukan kerja sama di sektor ekonomi biru. Dengan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan, kolaborasi ini diharapkan akan membawa manfaat nyata bagi kedua belah pihak dan mendorong pembangunan berkelanjutan di masa depan.
IAF 2024, Pertamina Perkuat Komitmen Ekspansi Bisnis di Pasar Afrika
Dalama cara Indonesia Africa Forum (IAF) 2024, Pertamina memperkuat komitmennya dalam upaya melakukan ekspansi bisnis secara global, terutama di pasar Afrika [483] url asal
#brandnewsroom #bnr #pertamina #indonesia-africa-forum-2024 #iaf-2024 #indonesia-africa-forum
(CNN Indonesia - Ekonomi) 02/09/24 22:30
v/14868750/
Indonesia menjadi tuan rumah perhelatan Indonesia Africa Forum (IAF) 2024 yang diadakan di Nusa Dua, Bali, pada 1-3 September 2024. Forum ini menjadi titik temu penting bagi 54 negara dari benua Afrika dan lebih dari 800 partisipan, termasuk para tamu internasional lainnya sekaligus menjadi kesempatan emas bagi Pertamina untuk menjalin hubungan bisnis dan memperluas ekspansi di pasar Afrika.
Selain itu, IAF 2024 juga menyelenggarakan High-Level Forum on Multi-Stakeholder Partnerships (HLF MSP), yang bertujuan untuk mempererat kerja sama antara negara-negara peserta.
Presiden Joko Widodo membuka langsung IAF yang mengusung tema 'Bandung Spirit for Africa's Agenda 2063'. Dalam sambutannya, Jokowi mengapresiasi dan menyambut hangat kehadiran para peserta dalam forum penting ini di tengah berbagai tantangan global.
"Kita semua hendak menciptakan perubahan positif di tengah dunia yang penuh dengan tantangan, baik tantangan terkait perlambatan ekonomi, tingkat pengangguran dan inflasi yang belum membaik, maupun ketegangan geopolitik yang terus berlanjut yang telah menimbulkan banyak korban jiwa dan mengganggu rantai pasok global," ujar Jokowi dalam siaran pers Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden, dikutip Senin (2/9).
IAF 2024 menjadi wadah strategis bagi Indonesia dan negara-negara Afrika untuk memperkuat hubungan bilateral, merumuskan langkah strategis, dan berkolaborasi dalam menghadapi tantangan global. Karenanya, IAF akan menyelenggarakan sejumlah pertemuan bisnis dengan berbagai pihak, terdiri dari leaders session, diskusi panel, project showcase, exhibition, business matching serta ajang bisnis lainnya.
Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, menyatakan dukungan penuh dan kontribusi aktif pihaknya terhadap IAF 2024. Menurutnya, forum ini memperkuat komitmen Pertamina dalam upaya memperluas ekspansi global, khususnya di Afrika.
"Sebelumnya, Pertamina sudah mulai bekerjasama dengan sejumlah negara di Afrika, hari ini kami memperkuat komitmen. Sebagai BUMN bidang energi, kami melihat potensi untuk pengembangan sektor energi di Afrika sangat besar misalnya untuk energi gas maupun geothermal. Hal ini sesuai dengan tujuan transisi energi kedepan, menuju energi yang lebih bersih dan lebih hijau," ungkap Nicke.
Nicke mengapresiasi dukungan Pemerintah Indonesia dalam mendorong upaya Pertamina untuk Go Global dan bekerjasama dengan mitra bisnis internasional. Dukungan pemerintah melalui kerja sama G to G (Government to Government) antara Indonesia dengan negara di Afrika sesuai dengan semangat Bandung Spirit.
Salah satu upaya Pertamina di Afrika, yakni melakukan ekspansi pada sektor hulu dan gas sejak 2013 di beberapa negara Afrika, seperti Aljazair, Gabon, Nigeria, Namibia, dan Tanzania. Ekspansi tersebut telah berkontribusi pada produksi migas Pertamina dari blok internasional.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menambahkan kerja sama Pertamina dengan mitra internasional juga bertujuan untuk memperkuat bisnis rendah karbon. Melalui sinergi ini, Pertamina berharap dapat mendorong pertukaran teknologi guna menghasilkan energi rendah karbon dan mendukung transisi energi.
"Selain untuk menjaga ketahanan energi, kami berharap ekspansi bisnis Pertamina mendukung tercapainya target Pemerintah Indonesia untuk Net Zero Emission melalui kolaborasi Pertamina dan mitra bisnis," jelas Fadjar.
Dalam forum IAF 2024, Pertamina juga memamerkan berbagai produk dan layanan dari subholding serta anak perusahaannya, untuk membuka peluang kerja sama yang lebih luas dengan negara-negara Afrika.



