#30 tag 24jam
Tolak Anggapan Bahaya BPA sebagai Alat Perang Dagang, Pakar Kesehatan: Ini Soal Keselamatan Masyarakat
Selama ini terdapat upaya membelokkan informasi bahaya BPA terhadap kesehatan menjadi isu persaingan usaha. Halaman all [737] url asal
#kesehatan #galon #bpa #bisphenol-a #air-minum-dalam-kemasan
(Kompas.com) 06/11/24 15:07
v/17594128/
KOMPAS.com - Penggunaan bahan kimia dalam berbagai produk semakin mendapat perhatian serius dari para pakar kesehatan.
Salah satunya adalah Bisphenol A (BPA), senyawa yang berbahaya bagi kesehatan manusia jika terpapar dalam jangka panjang. Sejumlah riset internasional pun sudah lama menunjukkan bahaya paparan BPA dalam jangka panjang.
Pada acara Detikcom Leaders Forum yang diadakan di Jakarta Selatan, Rabu (30/10/2024), Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) yang juga dokter spesialis obstetri dan ginekologi dr Ulul Albab SpOG mengatakan, IDI dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) perlu meluruskan miskonsepsi tentang masalah BPA.
Pasalnya, selama ini terdapat upaya membelokkan informasi bahaya BPA terhadap kesehatan menjadi isu persaingan usaha.
“Kita tidak bisa membelokkan bahwa masalah BPA cuma sekadar persaingan usaha atau tidak. Fokus IDI dan BPOM sebagai lembaga negara, akademisi, ataupun praktisi adalah melindungi masyarakat Indonesia. Ini jadi alasan utama dari semua alasan yang lain,” ujar dr Ulul.
Dokter Ulul pun menegaskan penolakannya terhadap pihak-pihak yang mengaitkan BPA dengan isu persaingan usaha. Sebab, bahaya paparan BPA merupakan fakta ilmiah. Permasalahan ini juga sudah menjadi perhatian di seluruh dunia, bukan hanya Indonesia.
“Dulu, ketika Covid-19 dan banyak orang meninggal, isunya dibelokkan menjadi macam-macam. Pemahaman baru yang dianggap mengganggu kestabilan biasanya memang akan berhadapan dengan upaya-upaya pembelokan seperti itu,” ucap dr Ulul.
Sebagai lembaga profesi dokter, imbuh dr Ulul, IDI wajib menyampaikan kebenaran. Sekalipun kebenaran itu belum diterima dengan baik, lanjutnya, IDI tetap harus berani menyampaikan keberadaan masalah yang bisa ditimbulkan dari paparan BPA.
Sebab, IDI punya kepedulian untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait BPA berdasarkan fakta ilmiah.
“Karena sifatnya hormonal destructor, BPA bisa memengaruhi segala hal, baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan, laki-laki dan perempuan bisa infertile atau mandul,” jelasnya.
Dukung upaya BPOM
IDI, lanjutnya, mendukung penuh BPOM yang telah mengeluarkan Peraturan BPOM Nomor 6 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan.
Dalam regulasi tersebut, BPOM meminta pelaku industri untuk memberikan label peringatan bahaya paparan BPA pada galon guna ulang yang terbuat dari plastik polikarbonat.
Meski belum sampai tahap pelarangan, dr Ulul menilai, kebijakan terbaru BPOM tersebut merupakan langkah awal yang baik.
Dokter Ulul melanjutkan, IDI sedari awal sudah membahas dan mendukung pembuatan regulasi soal BPA.
“Pada 11 Agustus 2022, kami telah mengeluarkan pernyataan dukungan untuk pelabelan BPA pada semua kemasan makanan. Sering kali kita concern pada apa yang kita makan, tetapi kita jarang concern dengan bagaimana cara makanan itu dibungkus, dikemas, dan diwadahi. Jadi, masalah BPA bukan hanya terkait air minum, tetapi juga kemasan makanan secara keseluruhan,” terang dr Ulul.
Faktor pemicu migrasi BPA di galon guna ulang
Pada forum yang sama, pakar polimer Universitas Indonesia Prof Dr Mochamad Chalid SSi MSc, Eng turut memaparkan bahasa BPA.
Chalid menjelaskan bahwa proses distribusi dan kemasan polikarbonat sangat memengaruhi pencemaran senyawa BPA dari kemasan polikarbonat ke dalam produk air minum.
"Ibaratnya, polimer seperti untaian kalung. Satu mata rantai dari kalung tersebut di antaranya adalah BPA. Pada saat digunakan itu, sangat mungkin tali tersebut ada yang copot sehingga menimbulkan permasalahan," jelas Chalid.
Chalid pun mengingatkan terkait beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko peluruhan (leaching) BPA dari kemasan polikarbonat ke dalam air minum.
Faktor itu di antaranya adalah paparan sinar matahari selama proses distribusi, suhu tinggi, dan pencucian berulang yang tidak tepat pada kemasan yang digunakan kembali.
Hasil pemeriksaan BPOM pada fasilitas produksi air minum berkemasan polikarbonat periode 2021-2022 menunjukkan adanya pelarutan BPA pada kemasan galon polikarbonat.
Data pemeriksaan BPOM menemukan bahwa kadar BPA yang bermigrasi ke dalam air minum di atas standar BOPM, atau 0,6 ppm, meningkat hingga 4,58 persen.
Sementara, hasil pengujian migrasi BPA dengan kadar 0,05-0,6 ppm juga menunjukkan peningkatan hingga 41,56 persen.
Tolak Anggapan Bahaya BPA sebagai Alat Perang Dagang, Pakar Kesehatan: Ini Soal Keselamatan Masyarakat
Selama ini terdapat upaya membelokkan informasi bahaya BPA terhadap kesehatan menjadi isu persaingan usaha. Halaman all [737] url asal
#kesehatan #galon #bpa #bisphenol-a #air-minum-dalam-kemasan
(Kompas.com) 06/11/24 15:07
v/17577964/
KOMPAS.com - Penggunaan bahan kimia dalam berbagai produk semakin mendapat perhatian serius dari para pakar kesehatan.
Salah satunya adalah Bisphenol A (BPA), senyawa yang berbahaya bagi kesehatan manusia jika terpapar dalam jangka panjang. Sejumlah riset internasional pun sudah lama menunjukkan bahaya paparan BPA dalam jangka panjang.
Pada acara Detikcom Leaders Forum yang diadakan di Jakarta Selatan, Rabu (30/10/2024), Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) yang juga dokter spesialis obstetri dan ginekologi dr Ulul Albab SpOG mengatakan, IDI dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) perlu meluruskan miskonsepsi tentang masalah BPA.
Pasalnya, selama ini terdapat upaya membelokkan informasi bahaya BPA terhadap kesehatan menjadi isu persaingan usaha.
“Kita tidak bisa membelokkan bahwa masalah BPA cuma sekadar persaingan usaha atau tidak. Fokus IDI dan BPOM sebagai lembaga negara, akademisi, ataupun praktisi adalah melindungi masyarakat Indonesia. Ini jadi alasan utama dari semua alasan yang lain,” ujar dr Ulul.
Dokter Ulul pun menegaskan penolakannya terhadap pihak-pihak yang mengaitkan BPA dengan isu persaingan usaha. Sebab, bahaya paparan BPA merupakan fakta ilmiah. Permasalahan ini juga sudah menjadi perhatian di seluruh dunia, bukan hanya Indonesia.
“Dulu, ketika Covid-19 dan banyak orang meninggal, isunya dibelokkan menjadi macam-macam. Pemahaman baru yang dianggap mengganggu kestabilan biasanya memang akan berhadapan dengan upaya-upaya pembelokan seperti itu,” ucap dr Ulul.
Sebagai lembaga profesi dokter, imbuh dr Ulul, IDI wajib menyampaikan kebenaran. Sekalipun kebenaran itu belum diterima dengan baik, lanjutnya, IDI tetap harus berani menyampaikan keberadaan masalah yang bisa ditimbulkan dari paparan BPA.
Sebab, IDI punya kepedulian untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait BPA berdasarkan fakta ilmiah.
“Karena sifatnya hormonal destructor, BPA bisa memengaruhi segala hal, baik laki-laki maupun perempuan. Bahkan, laki-laki dan perempuan bisa infertile atau mandul,” jelasnya.
Dukung upaya BPOM
IDI, lanjutnya, mendukung penuh BPOM yang telah mengeluarkan Peraturan BPOM Nomor 6 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan.
Dalam regulasi tersebut, BPOM meminta pelaku industri untuk memberikan label peringatan bahaya paparan BPA pada galon guna ulang yang terbuat dari plastik polikarbonat.
Meski belum sampai tahap pelarangan, dr Ulul menilai, kebijakan terbaru BPOM tersebut merupakan langkah awal yang baik.
Dokter Ulul melanjutkan, IDI sedari awal sudah membahas dan mendukung pembuatan regulasi soal BPA.
“Pada 11 Agustus 2022, kami telah mengeluarkan pernyataan dukungan untuk pelabelan BPA pada semua kemasan makanan. Sering kali kita concern pada apa yang kita makan, tetapi kita jarang concern dengan bagaimana cara makanan itu dibungkus, dikemas, dan diwadahi. Jadi, masalah BPA bukan hanya terkait air minum, tetapi juga kemasan makanan secara keseluruhan,” terang dr Ulul.
Faktor pemicu migrasi BPA di galon guna ulang
Pada forum yang sama, pakar polimer Universitas Indonesia Prof Dr Mochamad Chalid SSi MSc, Eng turut memaparkan bahasa BPA.
Chalid menjelaskan bahwa proses distribusi dan kemasan polikarbonat sangat memengaruhi pencemaran senyawa BPA dari kemasan polikarbonat ke dalam produk air minum.
"Ibaratnya, polimer seperti untaian kalung. Satu mata rantai dari kalung tersebut di antaranya adalah BPA. Pada saat digunakan itu, sangat mungkin tali tersebut ada yang copot sehingga menimbulkan permasalahan," jelas Chalid.
Chalid pun mengingatkan terkait beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko peluruhan (leaching) BPA dari kemasan polikarbonat ke dalam air minum.
Faktor itu di antaranya adalah paparan sinar matahari selama proses distribusi, suhu tinggi, dan pencucian berulang yang tidak tepat pada kemasan yang digunakan kembali.
Hasil pemeriksaan BPOM pada fasilitas produksi air minum berkemasan polikarbonat periode 2021-2022 menunjukkan adanya pelarutan BPA pada kemasan galon polikarbonat.
Data pemeriksaan BPOM menemukan bahwa kadar BPA yang bermigrasi ke dalam air minum di atas standar BOPM, atau 0,6 ppm, meningkat hingga 4,58 persen.
Sementara, hasil pengujian migrasi BPA dengan kadar 0,05-0,6 ppm juga menunjukkan peningkatan hingga 41,56 persen.
Pakar: BPA Bahaya Bagi Kesehatan, Jangan Dianggap Isu Persaingan Usaha
Bahaya paparan Bisphenol A (BPA) dalam wadah pembungkus makanan terhadap kesehatan telah menjadi perhatian pakar kesehatan di seluruh dunia. [646] url asal
#bnr #brandnewsroom #bpa #tempat-minum #tempat-makan
(CNN Indonesia - Ekonomi) 05/11/24 21:57
v/17536775/
Bahaya paparan Bisphenol A (BPA) dalam wadah pembungkus makanan terhadap kesehatan telah menjadi perhatian pakar kesehatan di seluruh dunia. Sejumlah riset internasional menunjukkan paparan BPA dalam jangka panjang bisa berdampak serius pada kesehatan.
Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), dr. Ulul Albab, SpOG meminta upaya membelokkan bahaya BPA pada kesehatan menjadi sekadar isu persaingan usaha sebaiknya dihentikan.
"Kita tidak bisa membelokkan bahwa ini adalah persaingan usaha atau tidak. Karena concern kita, baik Ikatan Dokter Indonesia (IDI), apalagi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai lembaga negara, akademisi, maupun praktisi, bahwa concern terkait bagaimana kita melindungi masyarakat Indonesia menjadi yang utama dari semua semua alasan yang lain," kata dr. Ulul dikutip Selasa (5/11).
Bukan hanya itu, dengan tegas dr. Ulul yang juga spesialis obstetri dan ginekologi menolak pihak-pihak tertentu yang mengaitkan BPA dengan isu persaingan usaha, lalu membandingkannya dengan saat meledaknya kasus Covid di Indonesia.
"Dulu ketika Covid dan banyak yang meninggal, maka isu Covid dibelokkan menjadi isu yang macam-macam," katanya.
Dia menegaskan, IDI merupakan lembaga profesional dan apa yang sudah dilakukan oleh BPOM (dengan regulasi pelabelan peringatan bahaya BPA pada galon dengan kemasan polikarbonat) adalah satu hal yang positif dan harus didukung.
"Ketika kita mengatakan BPA bermasalah, memang itulah faktanya. Semua negara, bukan hanya Indonesia menyampaikan hal itu," kata dr. Ulul.Menurutnya, posisi IDI sebagai lembaga profesi untuk para dokter adalah menyampaikan hal yang sebenar-benarnya.
"Apakah diterima atau tidak adalah nomor dua, tapi yang pasti kita harus berani menyampaikan ada masalah terkait dengan apa yang dialami masyarakat, dan harus kita suarakan," kata dia.
Ia juga menambahkan bahwa IDI sudah cukup lama membahas soal BPA dan mendukung regulasi pelabelan yang dikeluarkan oleh BPOM RI.
"Pada 11 Agustus 2022, saya mengeluarkan statement bahwa kita mendukung pelabelan BPA pada semua kemasan makanan. Seringkali kita concern pada apa yang kita makan. Tetapi kita jarang concern dengan bagaimana makanan itu dibungkus, di-package atau diwadahi. Jadi kita bukan hanya bicara masalah air, tapi juga makanan," katanya.
IDI punya kepedulian untuk memberikan edukasi kepada masyarakat terkait BPA berdasarkan fakta ilmiah.
"Karena sifatnya hormonal distructor maka BPA bisa memengaruhi segala sesuatu, baik laki maupun perempuan. Bahkan sampai laki dan perempuan bisa infertile (mandul atau tidak punya keturunan)," katanya.
Bahaya BPA ini sebenarnya sudah diatur secara ketat oleh BPOM, kata dr. Ulul, hal ini bisa dilihat dari sejumlah regulasi BPOM untuk membuat masyarakat melek pada kemasan yang dilabeli peringatan kandungan BPA.
Meskipun belum melarang BPA, setidaknya kebijakan terbaru BPOM adalah langkah awal yang baik, sebagaimana bisa dilihat dari Peraturan BPOM Nomor 6 Tahun 2024 Tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan.
"Pro dan kontra pasti ada, dan ini adalah hal yang wajar," katanya.
"Kewajiban kita adalah bagaimana memberikan informasi yang sebenar-benarnya. Kalau bahaya katakan bahaya, tanpa harus ditutupi," kata dr. Ulul.
Dalam forum yang sama, pakar polimer Universitas Indonesia Prof Dr Mochamad Chalid, SSi, MSc.Eng menyampaikan bahwa proses distribusi dan bagaimana kemasan polikarbonat diperlakukan sangat memengaruhi proses pencemaran senyawa BPA dari kemasan polikarbonat ke dalam produk air minum.
"Ibaratnya, polimer seperti untaian kalung. Satu mata rantai dari kalung tersebut di antaranya adalah BPA. Pada saat digunakan, akan sangat mungkin tali tersebut ada yang copot, sehingga menimbulkan permasalahan," jelas Chalid.
Chalid mengingatkan, ada banyak faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya leaching atau peluruhan BPA dalam kemasan polikarbonat ke dalam air minum di dalamnya.
Misalnya seperti paparan cahaya matahari dalam proses distribusi, suhu tinggi, hingga proses pencucian terus menerus yang tidak tepat, lalu digunakan kembali.
Hal ini sejalan dengan hasil pemeriksaan BPOM pada fasilitas produksi air minum berkemasan polikarbonat periode 2021-2022 yang menunjukkan, kadar BPA yang bermigrasi pada air minum lebih dari 0,6 ppm (standar BPOM) meningkat berturut-turut hingga 4,58 persen.
Begitu pula dengan hasil pengujian migrasi BPA di ambang 0,05-0,6 ppm, meningkat berturut-turut hingga 41,56 persen.
Suhu di Atas 70 Derajat Celcius Berpotensi Terjadi Migrasi BPA ke Air Minum
Potensi terjadi migrasi BPA dari galon berbahan polikarbonat ke air minum hanya terjadi pada suhu di atas 70 derajat Celcius. - Halaman all [380] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #suhu-di-atas-70-derajat-celcius #migrasi-bpa #air-minum #galon-polikarbonat #air-minum-dalam-kemasan-amdk #ambang-batas-bpa #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 05/11/24 11:18
v/17503533/
JAKARTA, investor.id – Praktisi Kesehatan Masyarakat, dr Ngabila Salama menyampaikan bahwa potensi terjadi migrasi Bisphenol A (BPA) dari galon berbahan polikarbonat (PC) ke air minum hanya terjadi pada suhu di atas 70 derajat Celcius. Pernyataan ini merespons isu seputar migrasi BPA saat galon didistribusikan dengan truk terbuka, yang terpapar sinar matahari.
Dalam penjelasan lebih lanjut, dr. Ngabila mengatakan bahwa galon berbahan polikarbonat memiliki ketahanan suhu hingga 70 derajat Celcius sebelum zat kimia pembentuk plastik larut ke dalam air. Ini berarti, apabila suhu panas masih di bawah angka itu maka cemaran BPA tidak akan terjadi
“Pokoknya di atas 70 derajat baru bisa terjadi migrasi. Seperti air mendidih itu sudah pasti di atas 70 derajat, jadi kira-kira seperti itu. Artinya, kalau nggak mendidih, ya masih bisa dikonsumsi. Dan air minum dalam galon polikarbonat masih aman untuk dikonsumsi serta tidak akan menyebabkan gangguan kesehatan apapun,” ujarnya.
Kendati demikian, dr. Ngabila tetap mengingatkan masyarakat untuk waspada. Pasalnya, tidak ada orang-orang yang tahu berapa banyak migrasi terjadi karena BPA tidak hanya ada di dalam galon.
BPA sendiri banyak ditemukan dalam barang sehari-hari atau produk non-makanan, seperti mainan, peralatan listrik, perangkat otomotif, peralatan makanan, perangkat medis, peralatan olahraga, kemasan makanan, disket, CD, kertas print dan lain-lain.
Hingga kini pemerintah belum menemukan migrasi BPA dari galon ke air minum. Namun, saat ini BPOM telah menetapkan ambang batas BPA sebesar 0,06 bpj.
“BPA aman, selama tidak bermigrasi ke manusia dalam jumlah tinggi melebihi ambang batas normal,” katanya.
Sementara itu, Dokter gizi klinis Karin Wiradarma M.Gizi, SpGK, mengungkapkan bahwa mengonsumsi air dari kemasan galon polikarbonat tidak akan berdampak negatif terhadap kesehatan.
“BPA kalau berdiri sendiri itu berbahaya, tapi kalau sudah dijadikan plastik itu aman karena sudah melalui serangkaian proses sehingga dia lebih stabil," tutur dr. Karin
Ia menambahkan, meminum air dari kemasan galon guna ulang masih sangat aman untuk dikonsumsi. Jikalau ada BPA yang masuk ke dalam tubuh maka 90%nya akan dinetralisir oleh hati dan diubah menjadi bahan tidak aktif, juga tidak berbahaya untuk selanjutnya dikeluarkan melalui urine atau feses.
“Nah sisa 10% yang aktif di badan itu masih dalam kadar dan ambang batas aman, menurut penelitian,” pungkasnya.
Editor: Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
Masih Batas Aman, BPA dalam Kemasan Pangan Tak Berbahaya
Praktisi Kesehatan masyarakat Ngabila Salama memastikan bahwa kemasan pangan yang menggunakan Bisphenol A (BPA) masih aman untuk dipakai. [351] url asal
#bpa #bisphenol-a-bpa #kemasan-plastik #galon-air #air-minum-kemasan
(MedCom) 01/11/24 13:10
v/17312157/
Jakarta: Praktisi Kesehatan masyarakat Ngabila Salama memastikan bahwa kemasan pangan yang menggunakan Bisphenol A (BPA) masih aman untuk dipakai. Hal tersebut diungkapkan menyusul isu bias terkait bahaya BPA yang kembali mencuat ke publik."BPA aman, selama tidak bermigrasi ke manusia dalam jumlah tinggi melebihi ambang batas normal," kata Ngabila Salama seperti dikutip akun instagram miliknya @ngabilasalama, Jumat, 1 November 2024.
Ia mengungkapkan, sebenarnya penggunaan BPA banyak ditemukan di tengah-tengah masyarakat baik dalam produk makanan dan nonmakanan. Misalnya saja pada semua makanan kaleng atau produk nonmakanan seperti botol plastik, mainan, peralatan listrik, perangkat otomotif, hingga peralatan makanan.
"Jadi BPA ini memang banyaknya pada plastik tetapi juga sebenarnya ada di produk makanan," katanya.
Ngabila juga menyinggung penelitian terkait dampak BPA kepada kesehatan manusia. Dia mengatakan, riset dan dampak yang dilakukan itu hingga saat ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.
"Pengaruh BPA kepada kesehatan dari berbagai studi yang masih minim mayoritas pada hewan uji coba dan studi observasional saja pada manusia," ujar dia.
Senada, pakar teknologi plastik Wiyu Wahono menjelaskan bahwa hasil penelitian dampak BPA terhadap manusia tidak bisa menjadi acuan. Hal tersebut lantaran hasil penelitian dampak BPA dilakukan terhadap hewan percobaan.
"Kalaupun binatang-binatang tersebut mendapatkan masalah kesehatan maka tidak bisa diambil kesimpulan bahwa BPA juga akan menyebabkan masalah kesehatan di manusia," kata Wiyu.
| Baca juga: Penelitian: AMDK Galon yang Diuji Terbukti tidak Mengandung BPA |
Anggota Council Komite Akreditasi Nasional (KAN) Badan Standardisasi Nasional (BSN) Arief Safari mengatakan, penggunaan kemasan pangan khususnya air seperti galon polikarbonat masih aman. Ia menjelaskan paparan BPA dari kemasan ke pangan hingga ke tubuh manusia sebenarnya masih membutuhkan penelitian yang lebih komprehensif.
"Selama ini saya pakai berpuluh-puluh tahun ya aman-aman saja tidak masalah," kata Arief.
Arief menyebut, penelitian dilakukan guna mengukur sekaligus memberikan informasi akurat kemasan pangan mana yang memberikan paparan BPA ke tubuh lebih banyak. Menurutnya, tidak adil apabila hanya AMDK saja yang dikambinghitamkan memberikan paparan BPA ke tubuh.
"Jadi enggak bisa diukur lewat satu item, harus beberapa item. Kalau hanya cuma satu kemasan saja orang kan ada dugaan ini jangan-jangan apa masalah persaingan bisnis saja," katanya.
dan followChannel WhatsApp Medcom.id
(END)
Kandungan BPA Sebabkan Mandul dan Bayi Lahir Prematur, Mitos atau Fakta?
BPA dari kemasan air minum tidak terbukti menjadi penyebab ketidaksuburan pada pria dan wanita dan juga tidak menyebabkan bayi lahir prematur. [451] url asal
#bpa #mandul #dampak-buruk-bpa
(Bisnis.Com) 14/10/24 18:04
v/16457768/
Bisnis.com, JAKARTA - Belakangan, bahan Bisphenol A atau BPA kembali jadi perbincangan, dituding sebagai salah satu penyebab masalah kesehatan terutama dari sisi reproduksi.
BPA, zat yang sering ditemukan dalam produk air kemasan berbahan plastik, belakangan kembali viral, dituding menjadi penyebab infertilitas atau mandul dan kelahiran bayi menjadi prematur.
Lantas, benarkan BPA begitu berpengaruh pada kesehatan organ reproduksi dan mempengaruhi kelahiran bayi?
Menurut Dokter Spesialis Kandungan RS Eka Hospital, dr Ervan Surya, hal itu hanya mitos. Menurutnya, sampai saat ini belum ada korelasi yang kuat antara keduanya.
Dokter Ervan menjelaskan bahwa infertilitas atau gangguan kesuburan ditandai dengan tiga kriteria, yaitu tidak segera punya anak dalam kurun waktu di atas 1 tahun, berhubungan badan secara rutin 2-3 kali seminggu, dan berhubungan badan tanpa alat kontrasepsi.
Gangguan kesuburan bisa disebabkan dari dua belah pihak, baik wanita dan prianya. Adapun, faktor risiko kemandulan pada pria lebih sedikit, yaitu terkait dengan rendahnya jumlah dan kualitas sperma atau ada gangguan pada alat vital dan disfungsi seksual.
Sementara pada wanita, terdapat beberapa faktor risiko antara lain usia yang sudah di atas 35 tahun, endometriosis, Sindrom ovarium polikistik atau PCOS, gangguan pada tuba falopi, ketidakseimbangan hormon, kegemukan, dan penyakit seperti diabetes, lupus, arthritis, hipertensi, dan lainnya, serta kemoterapi dan radiasi juga menjadi penyebab.
Selain itu, untuk keduanya, gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok dan minum alkohol juga menjadi penyebab ketidaksuburan.
Sementara untuk kelahiran bayi prematur, beberapa faktor risiko terbesar adalah infeksi, yang bisa disebabkan oleh berbagai hal mulai dari gaya hidup, penyakit kelamin, atau penyakit bawaan pada ibu.
Faktor lainnya seperti usia, perubahan hormonal, dan faktor genetik menjadi faktor risiko selanjutnya yang bisa menyebabkan kontraksi sehingga menimbulkan kelahiran prematur.
"Terkait dengan BPA, menurut jurnal-jurnal yang ada bahwa antara BPA dengan ketidaksuburan dan kelahiran prematur itu hubungannya tidak signifikan atau nggak ada kaitannya, makanya butuh penelitian yang lanjut," ujarnya dalam Media Briefing, Senin (14/10/2024).
dr. Ervan juga menegaskan agar masyarakat tidak seperti menggunakan "kacamata kuda" ketika menerima suatu informasi.
"Jangan BPA terus disalahkan, coba mungkin bapak atau ibu masih merokok. Bahkan olahraga berlebihan juga bisa menjadi penyebab ketidaksuburan," imbuhnya.
Dia juga menegaskan penjelasan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bahwa kandungan BPA yang ada dalam galon air minum dalam kemasan (AMDK) yang beredar selama lima tahun terakhir sebesar 0,01 bpj atau 10 mikrogram per kilogram atau masih dalam batas aman.
Adapun, batas aman yang ditetapkan oleh BPOM adalah 0,6 bpj atau 600 mikrogram per kilogram. Selain itu, BPOM juga menegaskan bahwa penggunaan kemasan Polikarbonat selama bertahun-tahun juga tidak akan meningkatkan migrasi BPA ke dalam tubuh.
"Perlu diingat pula bahwa tubuh punya mekanisme metabolisme yang pintar, sehingga racun-racun yang melewati tubuh setiap hari akan dibuang jika masih dalam batas aman," tegasnya.
Penelitian ITB Tak Temukan Migrasi BPA ke AMDK
asil Penelitian ITB dan Universitas Islam Makassar (UIM) mengungkapkan bahwa tidak ada migrasi BPA dari kemasan galon ke dalam air minum. Penelitian oleh ITB untuk mendeteksi migrasi BPA dari kemasan [564] url asal
#berita-terkini #berita-hari-ini #bpa #itb #akhmad-zainal-abidin #amd #berita-ekonomi-terkini
(InvestorID) 11/10/24 22:31
v/16346470/
JAKARTA, investor.id - Hasil Penelitian ITB dan Universitas Islam Makassar (UIM) mengungkapkan bahwa tidak ada migrasi BPA dari kemasan galon ke dalam air minum.
Penelitian oleh ITB untuk mendeteksi migrasi BPA dari kemasan galon ke dalam air minum terhadap empat sampel dari merek air minum dalam kemasan atau AMDK terpopuler tidak terdeteksi adanya BPA dalam produk air kemasan galon.
BPA atau Bisfenol A adalah bahan kimia yang berfungsi sebagai precursor (pendahulu) yang digunakan dalam pembentukan plastik Polikarbonat (PC). Ketika sudah terbentuk PC, maka BPA tidak ada lagi dalam ikatan polimer.
Polikarbonat digunakan dalam berbagai produk konsumen, termasuk botol plastik, wadah makanan hingga galon air minum dalam kemasan (AMDK). Polikarbonat dikenal karena kemampuannya untuk memberikan kekuatan dan ketahanan bentuk pada kemasan plastik.
Polikarbonat digunakan sebagai pelapis bagian dalam kemasan kaleng untuk mencegah korosi dan kontaminasi pada makanan dan minuman serta untuk menghindari kontak langsung dengan logam kemasan demi menjaga kualitas dan keamanan makanan kaleng. Sedangkan kemasan plastik polikarbonat untuk makanan dan minuman dipilih karena plastik jenis tersebut tidak mudah pecah, ringan, jernih serta tahan panas.
"Dari penelitian yang kami lakukan, kami tidak mendeteksi (non-detected/ND) BPA di semua sampel AMDK yang diuji," kata Kepala Laboratorium Teknologi Polimer dan Membran ITB, Ir. Akhmad Zainal Abidin, M.Sc., Ph.D dalam keterangannya, Jumat (11/10/2024).
BPA pertama kali dibuat pada tahun 1891, telah digunakan secara luas terutama dalam pembuatan plastik polikarbonat. BPA tahan terhadap suhu dari -40 hingga 145 derajat Celcius. Selain digunakan dalam produk kemasan pangan, BPA juga ditemukan dalam berbagai produk sehari-hari lainnya seperti tambal gigi, makanan dan minuman kaleng, serta kertas termal yang digunakan untuk struk belanja.
Dokter spesialis penyakit dalam, Laurentius Aswin Pramono yang menjelaskan bahwa kalaupun ada kadar BPA dalam air kemasan galon guna ulang pasti masih berada dalam batas aman dan belum mencapai ambang yang bisa mengganggu metabolisme seperti yang ditetapkan oleh otoritas keamanan pangan nasional dan internasional.
Pada dasarnya semua bahan kimia bersifat endocrine disruptor, yaitu komponen kimiawi yang bisa mengganggu fungsi sistem endokrin dan reproduktif dalam tubuh. Namun, kandungan BPA dalam galon guna ulang hanya 0,001 persen dari ambang batas yang bisa mengganggu.
Untuk menimbulkan gangguan metabolisme dan endokrin, butuh kadar yang sangat besar dalam satu waktu secara bersamaan. Jadi, butuh hingga 10.000 galon dalam satu sekali minum untuk mencapai batas yang dapat mengganggu hormon dalam tubuh.
"Artinya, kecil sekali yang bisa menjadikan BPA (dalam galon) jadi endocrine disruptor yang bisa mengganggu metabolisme," kata dokter dari FKUI ini.
Jika pun ada BPA memasuki tubuh, senyawa ini diproses oleh hati dan kemudian diekskresikan melalui urin. Proses ini membantu mengurangi akumulasi BPA di dalam tubuh.
Hasil studi menunjukkan bahwa tingkat BPA dalam urin umumnya rendah pada individu yang mengonsumsi AMDK, menunjukkan bahwa tubuh dapat menangani dan mengeluarkan BPA dengan efektif.
"BPA yang secara tidak sengaja masuk ke dalam tubuh akan diubah di dalam hati menjadi senyawa lain sehingga dapat lebih mudah dikeluarkan lewat urine," kata Dosen Biokimia dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) IPB, Syaefudin PhD.
Meskipun ada kekhawatiran tentang dampak kesehatan BPA, penelitian terbaru menunjukkan bahwa paparan BPA dari AMDK tidak ditemukan. Selain itu, tubuh manusia dapat mengelola dan mengeluarkan zat kimia yang tidak dibutuhkan tubuh - termasuk BPA - melalui urin, sehingga paparan tersebut umumnya tidak menimbulkan risiko kesehatan yang signifikan.
Editor: Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Baca Berita Lainnya di Google News
BPA Pada Air Galon Kemasan Polikarbonat Pengaruhi Metabolisme Tubuh?, Ini Penjelasan Pakar Kesehatan
polemik BPA pada air galon kemasan polikarbonat dapat mempengaruhi metabolisme tubuh?, Penjelasan pakar kesehatan menyebutnya tidak terbukti [775] url asal
(WE Finance) 11/09/24 18:40
v/14962047/
Warta Ekonomi, Jakarta -Pada April 2024 yang lalu Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) baru saja menerbitkan peraturan terbaru, Peraturan BPOM No. 6 Tahun 2024 tentang label pangan olahan. Peraturan ini menambahkan dua pasal dari aturan BPOM terdahulu No. 31 Tahun 2018, khusus untuk air minum dalam kemasan (AMDK). Salah satunya mengenai kewajiban pencantuman label pada air minum dalam kemasan berbahan plastik polikarbonat bertuliskan ‘dalam kondisi tertentu, kemasan polikarbonat dapat melepaskan BPA pada air minum dalam kemasan’. Sosialisasi dan edukasi lebih lanjut sangat diperlukan untuk menghindari potensi polemik yang mungkin muncul karena kesalahpahaman dan persepsi yang simpang siur terhadap pasal tambahan ini.
Prof. Dr. Nugraha Edhi Suyatma, Guru Besar Ilmu Rekayasa Proses Pengemasan Pangan IPB, dalam forum Diskusi Pakar Bersama Jurnalis Kesehatan: Forum NGOBRAS di Jakarta, Selasa (10/9), menyampaikan, “Yang terpenting adalah masyarakat perlu memahami dengan benar kondisi apa yang bisa membuat BPA luruh dari kemasan dan masuk ke air minum. Biasanya, migrasi atau luruhnya BPA dari kemasan ke air minum di dalam galon hanya terjadi pada kondisi tertentu misalnya, jika dipanaskan dalam suhu lebih dari 250 derajat Celcius.”
Nugraha menambahkan, dalam proses produksi AMDK tidak ada proses pemanasan yang terjadi. Hanya mungkin terpapar matahari pada proses distribusi, itupun dengan suhu di bawah 50 derajat Celcius. Oleh karena itu, risiko migrasi BPA ke air minum dari kemasannya akan sangat kecil. “Masyarakat tidak perlu khawatir dengan risiko paparan BPA pada kemasan galon berbahan polikarbonat. Apabila sudah mendapat izin edar BPOM, maka itu menjadi jaminan bahwa produk tersebut aman dikonsumsi.”
Mendukung pernyataan Nugraha, Kelompok Studi Polimer yang dimotori oleh para peneliti dan ahli polimer dari Institut Teknologi Bandung (ITB) telah merilis hasil penelitian independen uji keamanan dan kualitas air minum pada kemasan galon berbahan polikarbonat dari berbagai merek ternama di Provinsi Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua sampel air minum dalam kemasan galon yang diuji terbukti tidak mengandung BPA dan telah sesuai dengan standar dan regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah dan juga standar internasional, sehingga aman untuk dikonsumsi masyarakat.
Tidak hanya di Indonesia, merek-merek air minum di negara lain seperti Arab Saudi, Qatar, Oman, Amerika Serikat, hingga Jepang masih menggunakan kemasan berbahan polikarbonat. Bahkan lembaga US Environmental Protection Agency (EPA), badan independen pemerintah Amerika Serikat yang bertugas untuk urusan perlindungan lingkungan, menetapkan referensi batas aman paparan BPA bagi manusia adalah 50 mikrogram/kg per berat badan per hari.
Air minum dalam kemasan berbahan plastik polikarbonat sering dituduh mengandung luruhan BPA dan menjadi pemicu berbagai penyakit seperti gangguan hormon, autisme pada anak, kemandulan, hingga kanker. Namun tuduhan ini dibantah oleh sejumlah pakar kesehatan yang menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan BPA ataupun air minum dalam kemasan yang terbuat dari bahan plastik polikarbonat dapat menyebabkan gangguan kesehatan bagi manusia.
Dr. dr. Laurentius Aswin Pramono, Dokter Spesialis Penyakit Dalam dengan subspesialis Endokrinologi, Metabolisme, dan Diabetes, menegaskan, ”Kita perlu berpedoman pada dasar bukti ilmiah penelitian terhadap paparan BPA terhadap manusia. Hingga saat ini, BPA belum terbukti secara ilmiah bisa menimbulkan risiko penyakit. Penelitian paparan BPA yang saat ini menjadi isu di tengah masyarakat masih sebatas penelitian pada hewan percobaan, bukan manusia. Tentunya penelitian pada hewan percobaan tersebut berbeda dengan jumlah paparan BPA yang tidak sengaja kita konsumsi sehari-hari.”
Batas aman paparan BPA adalah 4 mg/kg berat badan per hari. Sedangkan, studi menunjukkan dalam air kemasan, paparan BPA 0,01 mg/kg atau 1 per 10,000. Artinya, perlu mengkonsumsi 10 ribu liter air minum kemasan dalam sekali minum untuk sampai mengganggu fungsi tubuh kita. “Sehingga bisa dikatakan risiko paparannya sangat kecil dengan jumlah konsumsi normal kita. Selain itu, tubuh manusia sendiri memiliki kemampuan untuk mencerna bahan anorganik yang tidak sengaja tertelan dalam jumlah kecil seperti BPA, melalui urin ataupun feses,” tambahnya.
dr. Aswin menambahkan bahwa air minum yang dikemas dalam galon polikarbonat adalah produk yang sudah dikonsumsi lintas zaman selama bertahun-tahun. Tidak ada bukti kuat selama ini yang menunjukkan adanya risiko bagi kesehatan masyarakat. Masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu karena terpengaruh isu-isu kurang jelas, sementara faktor risiko kesehatan yang jelas-jelas sudah terbukti seperti kebiasaan merokok, kurang berolahraga, pola makan yang buruk, dan mengkonsumsi alkohol justru diabaikan.
Dengan fakta-fakta yang sudah terungkap di atas, diharapkan masyarakat memiliki pemahaman yang lebih mumpuni tentang keamanan air minum dalam kemasan galon polikarbonat dan tidak perlu khawatir dengan adanya peraturan BPOM terkait pencantuman label pada air minum dalam kemasan berbahan plastik polikarbonat. Hingga saat ini belum ada penelitian ilmiah yang membuktikan BPA ataupun air minum dalam kemasan yang terbuat dari bahan plastik polikarbonat menyebabkan gangguan kesehatan yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Sebaliknya, beberapa penelitian membuktikan jumlah luruhan BPA dari galon polikarbonat sangat kecil jumlahnya dan tidak cukup untuk dapat menimbulkan risiko kesehatan.
Demi Lindungi Konsumen, Industri Wajib Patuhi Peraturan BPOM Soal Label Risiko Pelepasan BPA
Pemerintah mendorong produsen AMDK ikut berkontribusi dalam mencerdaskan konsumen dengan menyediakan informasi yang valid terkait risiko pelepasan BPA Halaman all [634] url asal
#air-minum-dalam-kemasan-amdk #bisfenol-a #bpa #galon-guna-ulang
(Kompas.com) 10/09/24 10:45
v/14950757/
KOMPAS.com – Paparan senyawa kimia Bisfenol A (BPA) yang berasal dari kemasan bahan pangan, seperti botol dan peralatan makan bayi, galon air minum guna ulang, dan makanan kaleng, menghadirkan risiko kesehatan bagi masyarakat.
Oleh karena itu, semua pihak, termasuk pelaku industri, perlu mendukung pelaksanaan regulasi pelabelan risiko pelepasan BPA yang telah diberlakukan pada air minum dalam kemasan (AMDK) berbahan plastik polikarbonat.
"Saya kira polemik seputar risiko (pelepasan) BPA dan pelabelannya tak perlu lagi diteruskan. Ini karena pemerintah telah mengeluarkan kebijakan terobosan berupa pencantuman label peringatan risiko (pelepasan) BPA pada kemasan pangan," kata pendiri MedicarePro Asia dr Dien Kurtanty dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Senin (9/9/2024).
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengesahkan peraturan terkait hal tersebut.
Dalam Pasal 61A Peraturan BPOM Nomor 6 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan BPOM Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan disebutkan bahwa air minum dalam kemasan yang menggunakan plastik polikarbonat wajib mencantumkan tulisan “dalam kondisi tertentu, kemasan polikarbonat dapat melepaskan BPA pada air minum dalam kemasan” pada Label.
BPA merupakan salah satu zat yang biasa digunakan sebagai bahan baku produksi plastik polikarbonat dan zat kimia resin epoksi. Zat ini dapat berpindah atau bermigrasi dari kemasan ke produk pangan sehingga berisiko terkonsumsi masyarakat.
Menurut dr Dien, poin penting dari pelabelan tersebut adalah pemerintah menaruh perhatian serius pada perlindungan konsumen.
Menurut dr Dien, poin penting dari pelabelan tersebut adalah pemerintah menaruh perhatian serius pada perlindungan konsumen.
"Uji toksikologi di berbagai negara menunjukkan, BPA membawa risiko tersendiri terhadap perkembangan dan kesehatan tubuh. BPA bisa memicu berbagai penyakit, jika terpapar secara akumulatif selama bertahun-tahun,” kata dr Dien dalam seminar bertajuk “BPA Free: Perilaku Sehat, Reproduksi Sehat, Keluarga Sehat” di Jakarta Selatan, Rabu (5/9/2024).
Oleh karena itu, dr Dien berharap, pelaku usaha, kalangan ahli, dan peneliti untuk memberikan informasi yang jujur dan transparan kepada konsumen terkait risiko pelepasan BPA pada AMDK.
Pada acara sama, Ketua Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Provinsi Bali dr Oka Negara menilai, regulasi BPOM tentang pelabelan risiko pelepasan BPA sebagai langkah terobosan dalam perlindungan kesehatan masyarakat.
“Konsumen berhak untuk mendapatkan informasi yang jelas atas produk yang dijual di pasaran, terutama produk telah mengantongi izin edar BPOM. Dengan adanya pelabelan, konsumen bisa mengenal dan mewaspadai risiko paparan BPA pada kesehatan,” kata dr Oka.
Menurut dr Oka, paparan BPA dalam jangka panjang bisa memicu gangguan keseimbangan hormon dalam tubuh, terutama yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi. Contohnya, risiko pubertas dini dan gangguan menstruasi pada perempuan.
"BPA itu risikonya akumulatif. Tidak terjadi dalam jangka pendek, tetapi jika terpapar atau terjadi migrasi di tubuh secara terus-menerus. Oleh karena itu, jika ingin menuju negara sehat, kemasan pangan bebas BPA (BPA free) harus menjadi prioritas," ujar dr Oka.
Sementara itu, Direktorat Standardisasi Pangan Olahan BPOM Yeni Restiani menjelaskan, kebijakan pelabelan risiko pelepasan BPA saat ini hanya berlaku khusus bagi AMDK yang menggunakan kemasan plastik polikarbonat.
"Sejak 5 April 2024, semua AMDK yang beredar di Indonesia wajib mengikuti ketentuan dalam Peraturan BPOM Nomor 6 Tahun 2024," katanya.
Dia menegaskan, pemerintah mendorong produsen AMDK untuk ikut berkontribusi dalam mencerdaskan konsumen dengan menyediakan informasi yang valid terkait risiko pelepasan BPA.
Ancaman BPA Nyata, Industri Wajib Patuhi Aturan 'Pelabelan BPA' BPOM
Pelaku usaha dinilai perlu mendukung pelaksanaan regulasi pelabelan BPA yang saat ini telah khusus diberlakukan pada galon isi ulang [514] url asal
#bpa #galon-isi-ulang #industri
(detikFinance - Industri) 10/09/24 09:00
v/14982922/
Jakarta - Paparan senyawa kimia Bisfenol A (BPA) yang bersumber bahan kemasan pangan, semisal pada botol dan peralatan makan bayi, galon air minum dan makanan kaleng, menghadirkan risiko kesehatan yang tak terbantahkan pada kesehatan masyarakat.
Oleh karena itu, semua pihak, utamanya pelaku usaha, perlu mendukung pelaksanaan regulasi pelabelan BPA yang saat ini telah khusus diberlakukan pada galon isi ulang berbahan plastik polikarbonat, jenis plastik keras pada umumnya galon air minum bermerek.
"Saya kira polemik seputar risiko BPA dan pelabelannya tak perlu lagi diteruskan. Ini karena pemerintah telah mengeluarkan kebijakan terobosan berupa pencantuman label peringatan risiko BPA pada kemasan pangan," kata pendiri lembaga riset dan promosi kesehatan di Jakarta, MedicarePro Asia dr Dien Kurtanty, dalam keterangan tertulis, Senin (9/9/2024).
Hal tersebut disampaikan dr Dien dalam acara seminar 'BPA Free: Perilaku Sehat, Reproduksi Sehat, Keluarga Sehat' di Jakarta Selatan, Rabu (5/9).
Pada 5 April 2024, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengesahkan peraturan yang mewajibkan produsen air minum yang menggunakan kemasan polikarbonat, jenis plastik keras dengan kode daur ulang '7', menerakan label peringatan berbunyi: 'Dalam kondisi tertentu, kemasan polikarbonat dapat melepaskan BPA pada air minum dalam kemasan'.
Kerap digunakan sebagai bahan baku produksi plastik polikarbonat dan zat kimia resin epoksi, BPA dapat berpindah (bermigrasi) dari kemasan ke produk pangan dan terkonsumsi oleh masyarakat.
Menurut dr Dien, poin penting dari pelabelan tersebut adalah pemerintah menaruh perhatian serius pada perlindungan konsumen.
"Uji toksikologi di berbagai negara menunjukkan BPA membawa risiko tersendiri terhadap perkembangan dan kesehatan tubuh, bisa memicu berbagai penyakit jika terpapar secara akumulatif selama bertahun-tahun sehingga para pelaku usaha, kalangan ahli dan peneliti diharapkan untuk memberikan informasi yang jujur dan transparan kepada konsumen terkait risiko BPA," kata dr Dien.
Dalam seminar yang sama, Ketua Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Provinsi Bali, dr Oka Negara, menilai regulasi BPOM tentang pelabelan BPA sebagai langkah terobosan dalam perlindungan kesehatan masyarakat.
"Konsumen berhak untuk mendapatkan informasi yang jelas atas produk yang dijual di pasaran, utamanya pada yang telah mengantongi izin edar BPOM. Dengan adanya pelabelan, konsumen bisa mengenal dan mewaspadai risiko paparan BPA pada kesehatan," kata dr Oka.
Paparan BPA, menurut dr Oka, bisa memicu gangguan keseimbangan hormon dalam tubuh, terutama berkaitan dengan kesehatan reproduksi termasuk risiko pubertas dini dan gangguan menstruasi pada perempuan.
"BPA itu risikonya akumulatif, tidak terjadi dalam jangka pendek, tetapi jika terpapar/migrasi di tubuh secara terus menerus. Oleh karena itu, jika ingin menuju negara sehat, maka kemasan pangan yang bebas BPA (BPA Free) harus menjadi prioritas," tandas dr. Oka.
Foto: Dok. Istimewa |
Dalam kesempatan yang sama, Direktorat Standardisasi Pangan Olahan BPOM Yeni Restiani, menjelaskan kebijakan pelabelan BPA saat ini hanya khusus berlaku pada galon isi ulang bermerek yang menggunakan kemasan plastik polikarbonat.
"Sejak 5 April 2024, semua Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang beredar di Indonesia wajib mengikuti ketentuan dalam Peraturan BPOM No. 6 Tahun 2024," katanya merujuk pada regulasi Label Pangan Olahan.
Dia menegaskan pemerintah mendorong produsen air minum bermerek untuk ikut berkontribusi dalam mencerdaskan konsumen dengan menyediakan informasi yang valid terkait risiko BPA.
Simak Video: BPOM Kini Wajibkan Pelabelan BPA di Air Kemasan Galon
Apkrindo Dukung Air Kemasan BPA Free Jadi Bahan Baku Makanan dan Minuman
Cleo, pelopor air murni dengan kemasan bebas BPA asli Indonesia dengan bangga menyambut Apkrindo di pabrik Pandaan, Pasuruan. Cleo, pelopor air murni dengan kemasan... | Halaman Lengkap [515] url asal
#minuman #makanan #bahan-baku #bpa
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 03/09/24 19:42
v/14878254/
JAKARTA - Cleo, pelopor air murni dengan kemasan bebas BPA menyambut Apkrindo (Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia) di pabrik Pandaan, Pasuruan. Pertemuan ini merupakan bentuk kolaborasi Cleo dengan Apkrindo dalam mendukung kafe dan restoran yang menyediakan produk berkualitas yang aman dan sehat untuk masyarakat Indonesia.Founder dan Komisaris Utama Cleo, Hermanto Tanoko dan Direktur Utama, Melisa Tanoko beserta jajaran Direksi PT. Sariguna Primatirta Tbk. turut serta hadir di Pabrik Pandaan bersama anggota APKRINDO. Dalam pertemuan ini, Bapak Hermanto dan Ibu Melisa membagikan cerita tentang komitmen Cleo yang senantiasa menghadirkan air murni yang aman dan sehat, dengan keunggulan utama produk Cleo yang Bebas BPA.
Air Murni Cleo diproses dengan teknologi nanofilter, sehingga menghasilkan air murni yang bebas dari mineral anorganik yang tidak diperlukan oleh tubuh. Proses produksi hingga pengemasan Air Murni Cleo juga dilakukan secara terintegrasi menggunakan teknologi terkini, sehingga kemurnian Air Murni Cleo terjaga hingga ke tangan konsumen. Kemasan Air Murni Cleo yang sudah bebas BPA sejak 20 tahun yang lalu juga merupakan langkah nyata Cleo dalam menjamin aspek keamanan dan kesehatan konsumen.
Baca Juga: Hermanto Tanoko Kabulkan Mimpi Anak-anak Penyintas Kanker Bersama Cleo
BPA atau Bisphenol A adalah cemaran bahan kimia yang ditemukan dalam galon plastik buram. Berdasarkan kajian Peraturan BPOM No.6 Tahun 2024, BPA pada air minum dalam kemasan dapat menyebabkan gangguan kesehatan masyarakat, seperti risiko penyakit kanker, gangguan hormonal, dan masalah perkembangan pada bayi dan anak-anak.
Sebagai pelopor Air Murni Bebas BPA, Cleo memastikan bahwa konsumen dapat mengkonsumsi air murni tanpa resiko terpapar bahan kimia berbahaya. Oleh karena itu, tidak hanya melalui produknya yang berkualitas, Cleo juga memberikan penghargaan kepada kafe dan restoran yang menggunakan Air Murni Bebas BPA dalam pembuatan makanan dan minumannya.
Selain edukasi mengenai BPA, Direktur Operasional PT Sariguna Primatirta Tbk. Eko Susilo juga menjelaskan terkait Sertifikasi Industri Hijau yang dimiliki oleh Cleo.
"Penghargaan ini adalah bukti nyata dari komitmen Cleo dalam menerapkan praktik bisnis yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Kami akan terus berupaya menjaga standar tinggi ini demi masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang," ujar Eko Susilo dalam keterangan resmi, Selasa (3/9/2024).
Dalam kesempatan ini, Cleo memberikan apresiasi kepada kafe dan restoran yang telah menggunakan Air Murni Cleo sebagai bahan baku utama dalam makanan dan minuman mereka. Kafe dan restoran yang terpilih akan dianugerahi Certificate Supported User of BPA FREE, menandakan bahwa seluruh air yang digunakan di kafe dan restoran tersebut bebas BPA dan aman untuk dikonsumsi.
Baca Juga: Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Cleo dan Warga Bali Bersatu Jaga Pantai Sanur Lewat Aksi Beach Clean Up
Certificate Supported User of BPA FREE ini merupakan bentuk pengakuan dan apresiasi atas upaya kafe dan restoran dalam menjaga kualitas dan keamanan pangan yang disajikan.
Sementara, Founder dan Komisaris Utama Cleo Hermanto Tanoko mengatakan, "Cleo pasti selalu memberikan yang terbaik bagi masyarakat Indonesia. Kami percaya bahwa kesehatan dimulai dari air yang kita minum, dan menyediakan produk air murni bebas BPA adalah bagian dari tanggung jawab kami untuk masyarakat Indonesia. Kami berharap pemberian Certificate Supported User of BPA FREE ini dapat menginspirasi kafe dan restoran lainnya untuk turut serta memberikan produk yang terbaik bagi konsumen."
Kelompok Studi Polimer ITB Jelaskan Penelitian soal Standar BPA - kumparan.com
Kelompok Studi Polimer ITB Jelaskan Penelitian soal Standar BPA di AMDK [580] url asal
(Kumparan.com - Tekno & Sains) 27/08/24 21:43
v/14782851/
Sempat ramai berita simpang siur tentang bahaya Bisphenol-A (BPA) bagi kesehatan. Sebagian besar masyarakat pernah mendengar BPA, tapi mungkin hanya segelintir yang benar-benar paham apa itu BPA.
BPA merupakan senyawa kimia yang pertama kali dibuat pada 1891, dan telah digunakan secara luas. Selain digunakan dalam produk kemasan pangan, BPA juga ditemukan dalam berbagai produk sehari-hari lainnya seperti tambal gigi, makanan dan minuman kaleng, serta kertas termal yang digunakan untuk struk belanja.
Pada air minum khususnya dengan kemasan galon berbahan polikarbonat, belum ada kasus penyakit maupun masalah kesehatan yang terkait langsung dengan kontaminasi BPA. Padahal air minum kemasan galon berbahan polikarbonat diproduksi sesuai aturan serta standar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Untuk memperkuat hal tersebut, Kelompok Studi Polimer Institut Teknologi Bandung (ITB) melakukan penelitian independen uji keamanan dan kualitas air minum dalam kemasan (AMDK) galon berbahan polikarbonat (PC) dari berbagai merek ternama di Jawa Barat.
Hasil penelitian menunjukkan semua sampel air galon yang diuji terbukti aman dikonsumsi, sesuai dengan standar dan regulasi yang ditetapkan pemerintah.
Ir. Akhmad Zainal Abidin, M.Sc. Ph.D selaku Kepala Laboratorium Teknologi Polimer dan Membran ITB menegaskan semua sampel air minum yang diuji bebas kandungan zat berbahaya, salah satunya yaitu BPA.
“Dari penelitian yang kami lakukan, kami tidak mendeteksi (non-detected/ND) BPA di semua sampel AMDK yang diuji. Artinya, kadar BPA masih sangat aman, berada jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan otoritas keamanan pangan nasional dan internasional, seperti Standar Nasional Indonesia (SNI), BPOM, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO),” kata Zainal.
Paparan BPA dari penggunaan galon air minum yang dikonsumsi sehari-hari masih berada dalam batas aman. Batas aman BPA menurut Kajian Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA), adalah 4 mikrogram per kilogram berat badan per hari, sedangkan penelitian terbaru dari Kelompok Studi Polimer ITB menunjukkan paparan BPA tidak terdeteksi dalam sampel air kemasan galon.
Sementara penelitian dilakukan dengan menggunakan alat ukur canggih yaitu High Performance Liquid Chromatography (HPLC) yang dikenal karena ketepatan akurasinya, dengan nilai Limit of Detection (LoD) sebesar 0,0099 mikrogram per liter (mcg/L), jauh lebih kecil dari batas aman BPA yang ditetapkan regulasi.
“Sebagai analogi, BPA dalam air akan berbahaya jika kita mengonsumsi 10.000 liter air atau setara lebih dari 500 galon air minum (19 liter) dalam sekali minum. Suatu yang mustahil. Oleh karena itu, konsumen tidak perlu khawatir untuk mengonsumsi air dari galon setiap hari,” tambah Aswin.
Sejalan dengan temuan tim ITB, Dr. dr. Laurentius Aswin Pramono, M.Epid, SpPD-KEMD selaku dokter spesialis penyakit dalam dengan subspesialis endokrinologi, metabolisme, dan Ddabetes, menjelaskan sejauh ini belum ada penelitian yang secara pasti membuktikan BPA menyebabkan gangguan kesehatan.
"Saya tegaskan bahwa sampai saat ini, belum ada bukti kuat atau data ilmiah yang cukup untuk menyatakan bahwa BPA dapat menyebabkan masalah kesehatan, baik itu gangguan hormonal atau bahkan diabetes," jelas dia.
Hasil penelitian yang ada saat ini, membuktikan BPA ketika masuk ke dalam tubuh akan didetoksifikasi oleh hati, dibuang menjadi urine dan feses, sehingga zat tersebut tidak masuk ke dalam sistem peredaran darah. Artinya, sejumlah kecil BPA yang masuk ke dalam tubuh tidak berbahaya bagi kesehatan.
Terkait temuan tim ITB, Zainal memaparkan penelitian ini merupakan bagian dari upaya mengedukasi masyarakat mengenai kualitas dan keamanan AMDK yang berbasis pada serangkaian uji ilmiah yang ketat, tepercaya dan independen.
“Apa pun jenisnya, semua galon yang beredar di pasaran harus diperlakukan dengan baik dan benar, termasuk memastikan galon tidak terpapar suhu ekstrem, yaitu di atas 150 derajat celsius. Dengan edukasi yang tepat, masyarakat tidak perlu khawatir mengkonsumsi air kemasan galon,” tutup Zainal.
