#30 tag 24jam
Menperin Sebut Hilirisasi Sebabkan Berkurangnya Fluktuasi Harga CPO
ketergantungan ekonomi Indonesia terhadap fluktuasi harga minyak kelapa sawit tidak terlalu besar karena hilirisasi di sektor kelapa sawit sudah dalam sekali. [845] url asal
#hilirisasi #cpo #kemenperin #pembiayaan #world-bank #dinamika-kondisi-ekonomi-indonesia #minyak #kelapa #hilirisasi-sawit #cegah-middle-income-trap #harga #pidi-4-0 #pusat-industri-digital #aaditya-mattoo
(detikFinance - Industri) 11/10/24 11:04
v/16299429/
Jakarta - Pemerintah Indonesia melalui Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 terus berupaya memacu pertumbuhan ekonomi nasional ke level 6-8%. Untuk itu Pemerintah menetapkan kebijakan pengembangan 10 industri prioritas, di antaranya bagi industri agro.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan pengembangan tersebut antara lain dilakukan melalui strategi hilirisasi yang ditujukan untuk memperdalam struktur industri dari hulu ke hilir, serta didasarkan pada ketersediaan sumber daya alam yang melimpah. Salah satu komoditas yang berhasil dioptimalkan potensi ekonominya melalui hilirisasi adalah kelapa sawit.
Pada komoditas kelapa sawit, perkembangan jumlah/jenis produk turunan yang dapat dihasilkan oleh industri dalam negeri meningkat dari 48 jenis di tahun 2011, menjadi sekitar 200 jenis di tahun 2024. Hal itu diungkapkan olehnya saat Peluncuran Buku 'Hilirisasi Sawit, Cegah Middle Income Trap' oleh Saleh Husin di Pusat Industri Digital (PIDI) 4.0, Jakarta, Rabu (9/10/2024).
"Hal ini tentunya meningkatkan kompleksitas produk nasional secara signifikan. Di samping itu, Indonesia juga tercatat sebagai negara pertama yang mengimplementasikan B30 di dunia, dan akan terus kita tingkatkan menjadi B40, bahkan kita harapkan dapat mencapai B100 di masa yang akan datang," kata Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan tertulis, Jumat (11/10/2024).
Pernyataan Agus sekaligus menanggapi pemberitaan sebuah media nasional yang mengutip Chief Economist Bank Dunia untuk Kawasan Asia Pasifik Aaditya Mattoo, bahwa dinamika kondisi ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada fluktuasi siklus harga komoditas dunia khususnya batubara dan minyak kelapa sawit.
Dia menjelaskan ketergantungan ekonomi Indonesia terhadap fluktuasi harga minyak kelapa sawit tidak terlalu besar karena hilirisasi di sektor kelapa sawit sudah dalam sekali.
"Fluktuasi harga komoditas ini memang berpengaruh tapi tidak terlalu signifikan," jelasnya.
Pernyataan Mattoo yang juga dikutip adalah bahwa kebijakan restriksi impor yang masih cukup ketat untuk beberapa komoditas dan produk menyebabkan sektor manufaktur Indonesia belum cukup kuat untuk menopang perekonomian Indonesia di saat siklus harga komoditas melandai.
Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan hal tersebut juga kontradiktif karena restriksi impor diterapkan sebagai affirmative action untuk melindungi industri dalam negeri.
"Restriksi impor tidak melulu salah, tapi kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah RI adalah pengetatan impor untuk barang-barang jadi. Kami tidak pernah mempunyai kebijakan restriksi impor bahan baku karena penting sekali bagi industri dalam negeri dan juga meningkatkan daya saing," jelasnya.
"Tujuan kebijakan restriktif tersebut untuk melindungi industri dalam negeri sekaligus meningkatkan daya saingnya di pasar global. Terbukti bahwa sewaktu pasar global lesu karena pandemi COVID-19 dan terjadinya konflik global, pasar domestik yang diisi oleh produk manufaktur menjadi penopang dan game changer bagi perekonomian Indonesia," sambungnya.
Dia mengatakan selain bertujuan melindungi industri dalam negeri pengetatan impor juga diharapkan meningkatkan kinerja manufaktur dan menopang perekonomian Indonesia.
"Negara lain saja semakin memperketat masuknya produk-produk negara lain, masa kita malah melonggarkannya," ungkapnya.
Agus menyatakan dari pengamatannya laporan World Bank dimaksud tidak menyinggung soal fluktuasi harga komoditas dan kebijakan restriksi impor. Karenanya, ia menganggap aneh kutipan media nasional tersebut.
Hilirisasi yang dijalankan sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo berhasil melepas ketergantungan ekonomi indonesia dari gejolak harga komoditas dunia. Buktinya, nilai ekspor kelapa sawit dan turunannya pada 2023 mencapai US$28,45 miliar atau meliputi 11,6% dari total ekspor nonmigas dengan ratio ekspor bahan baku (CPO/CPKO) dengan produk olahan (processed palm oil) 10,25% : 89,75%. Industri ini juga menyerap 16,2 juta tenaga kerja langsung serta tidak langsung. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya hilirisasi kelapa sawit yang bisa menjawab tantangan untuk keluar dari middle income trap.
Berdasarkan data nilai PDB nasional Triwulan II tahun 2024 yang tercatat mencapai Rp 5,536 triliun, diperkirakan kontribusi sektor industri pengolahan kelapa sawit dan turunannya mencapai 3,5%.
"Artinya, nilai ekonomi sektor sawit pada Triwulan II-2024 mencapai Rp 193 triliun. Pada akhir tahun 2024 nanti, magnitude ekonomi basis kelapa sawit diperkirakan mencapai Rp 775 triliun per tahun," jelasnya.
Dia mengatakan sebagai negara dengan kekayaan sumber daya alam dan pasar domestik yang besar, Indonesia selalu memiliki potensi besar menjadi negara industri maju dunia. Untuk itu, perlu sinergi dengan para stakeholder, mulai dari penyusunan kebijakan industri dan perdagangan, penguatan rantai pasok, pembinaan SDM, fasilitasi pembiayaan, hingga pengembangan riset dan teknologi.
"Dengan demikian pada akhirnya sektor industri nasional diharapkan benar-benar mampu menjadi tulang punggung ekonomi nasional yang kuat dan berhasil mengantarkan Indonesia pada pencapaian target pertumbuhan ekonomi yang inklusif, produktif, dan berkelanjutan," tutupnya.
(ncm/ega)
Bagian Mobil Mana Saja yang Mempengaruhi Aerodinamika, Ini Rinciannya
Aerodinamika pada mobil memiliki fungsi untuk mengatur aliran udara akibat gaya yang ditimbulkan atau mengatur pola pergerakan udara yang terjadi. [438] url asal
#aerodinamika #aerodinamis #aerodinamika-mobil
(MedCom - Otomotif) 21/09/24 14:55
v/15349858/
Jakarta: Aerodinamika pada mobil memiliki fungsi untuk mengatur aliran udara akibat gaya yang ditimbulkan atau mengatur pola pergerakan udara yang terjadi.Teori aerodinamika ini sangat bermanfaat ketika kendaraan melaju kencang. Dengan adanya pertimbangan aerodinamika, hambatan dan arah aliran udara yang masuk dapat diatur sehingga tidak akan menghambat pergerakan kendaraan.
Apa itu aerodinamika?
Melansir dari situs resmi Suzuki, aerodinamika adalah ilmu yang awalnya diterapkan pada pesawat-pesawat terbang, karena aliran udara lebih besar dialami oleh pesawat udara.
Selain pesawat terbang, ilmu ini juga diterapkan di beberapa transportasi darat, seperti mobil, bus, truk, dan sejenisnya. Dengan begitu aliran udara dapat diatur karena secara tidak disadari udara atau angin yang berlebihan dapat menghambat laju kendaraan tersebut.
Penerapan aerodinamika ini juga banyak digunakan di bidang otomotif lain. Di dalam dunia otomotif tersebut, ilmu ini berkaitan dengan gaya tekanan ke arah bawah atau downforce yang kerap digunakan pada mobil-mobil balap.
| Baca juga: Pola Aerodinamika MotoGP yang Makin Kompleks |
Bagian mobil yang mempengaruhi aerodinamika
Manfaat teori ini pada kinerja atau pengaturan laju kendaraan tersebut tidak lain dipengaruhi oleh bagian-bagian atau perangkat tambahan pada mobil.
Berikut ini bagian mobil atau perangkat tambahan pada mobil yang mempengaruhi aerodinamika:
Spoiler depan

Bagian yang paling terlihat adalah spoiler depan. Spoiler depan ini sebenarnya tidak banyak berperan karena hanya sebagai aksesori atau pelindung bagian di belakangnya. Namun, kemampuannya cukup penting yaitu menahan hembusan angin yang lewat.
Oleh karena itu, materialnya harus benar-benar kuat terhadap tekanan sebesar apapun. Selain itu, spoiler depan ini berfungsi untuk menjaga keadaan ban agar menempel kuat pada badan jalan, sehingga pada kecepatan tinggi sekalipun kendaraan akan bisa stabil.
Spoiler belakang

Selain spoiler depan, ada juga spoiler belakang yang dipasang pada kendaraan. Perannya yaitu untuk menahan gaya lift up atau gaya angkat ke atas yang terjadi. Dengan begitu, keselamatan semua penumpang akan dijaga akibat kemungkinan bahaya kendaraan melayang akibat kecepatan tinggi.
Sayap (wings)

Bagian selanjutnya yaitu wings atau sayap. Fungsi komponen berbentuk seperti sayap ini bisa mengontrol datangnya angin yang melewati kendaraan. Fungsinya pada penerapan aerodinamika ini hampir sama dengan fungsi spoiler belakang yang berperan sebagai bumper.
Deflector

Perangkat selanjutnya ada deflector. Fungsinya yaitu untuk menahan terpaan angin yang melewati kendaraan. Hembusan angin sekitar kendaraan yang dapat dikontrol tersebut akan membuat berkendara lebih aman dan nyaman.
Side Skirt

Bagian terakhirnya adalah side skirt yang pemasangannya berada di bagian samping. Sama seperti deflector, bagian ini mampu untuk menahan aliran udara akibat kecepatan kendaraan yang tinggi. Selain itu, side skirt juga dapat menyeimbangkan posisi gerak kendaraan saat melaju.
Beberapa bagian dari perangkat aerodinamika tersebut dipasang demi menjaga keselamatan dan keamanan berkendara. Selebihnya, ada yang membahkan untuk sekadar aksesoris saja. Pemasangannya juga dapat diatur sesuai kebutuhan.
(PRI)
Dinamika KKN dan Transmisi Kekuasaan Antar-Generasi - kumparan.com
Esai ini mengeksplorasi kolusi dan nepotisme dalam keluarga yang mentransmisikan kekuasaan antar-generasi di Indonesia, serta pentingnya peran masyarakat dan akademisi dalam menjaga demokrasi. [892] url asal
#dinamika #transmisi #kekuasaan #kolusi #nepotisme #kkn #politik #demokrasi #indonesia
(Kumparan.com - News) 25/08/24 08:38
v/14688183/
Baru-baru ini, perhatian publik Indonesia tertuju pada fenomena keluarga berkuasa yang berupaya keras mewariskan kekuasaan kepada generasi muda—anak dan menantu mereka. Kejadian ini mengingatkan masyarakat pada masa kelam Orde Baru, ketika Presiden Soeharto berkuasa selama 32 tahun dan nepotisme merajalela dalam struktur pemerintahan.
Era tersebut berakhir dengan reformasi pada tahun 1998, yang bertujuan untuk menciptakan Indonesia yang lebih demokratis dan bebas dari praktik-praktik otoriter.
Namun, peristiwa terbaru ini mengindikasikan bahwa bayang-bayang masa lalu masih menghantui perjalanan demokrasi Indonesia. Gerakan masyarakat yang marah memunculkan slogan “Peringatan Darurat” di media sosial, diiringi dengan demonstrasi mahasiswa, buruh, dan berbagai elemen masyarakat di berbagai daerah.
Mereka mengecam upaya terang-terangan keluarga penguasa yang tampaknya berusaha menggerogoti proses demokrasi yang telah diperjuangkan selama lebih dari dua dekade.
Meskipun demikian, esai ini tidak akan fokus pada strategi politik culas yang dilakukan oleh keluarga penguasa tersebut. Sebaliknya, esai ini akan mengkaji bagaimana keluarga secara dinamis, melalui praktik kolusi dan nepotisme, mampu secara terstruktur mentransmisikan nilai, norma, dan status sosial-ekonomi antar-generasi.
Dalam konteks ini, praktik kolusi dan nepotisme tidak hanya dilihat sebagai upaya mempertahankan kekuasaan, tetapi juga sebagai mekanisme transmisi nilai dan status sosial yang terjadi dalam keluarga.
Keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam pembentukan identitas dan nilai-nilai individu. Dalam konteks politik dan kekuasaan, keluarga sering kali menjadi medium utama untuk mentransmisikan nilai-nilai, norma, dan status sosial-ekonomi dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Proses ini dikenal sebagai transmisi antar-generasi, di mana karakteristik dan posisi sosial-ekonomi orang tua ditransfer kepada anak-anak mereka, baik secara langsung maupun melalui berbagai mekanisme sosial.
Dalam keluarga yang memiliki akses ke kekuasaan, transmisi ini menjadi lebih terstruktur dan terencana. Anak-anak diajarkan sejak dini tentang pentingnya kekuasaan dan cara mempertahankannya, termasuk melalui praktik-praktik yang mungkin dianggap tidak etis oleh sebagian masyarakat, seperti kolusi dan nepotisme.
Kolusi, dalam hal ini, dapat dipahami sebagai kerja sama tersembunyi antara anggota keluarga atau kelompok tertentu untuk mencapai tujuan yang menguntungkan mereka, sementara nepotisme merujuk pada pemberian posisi atau keuntungan kepada anggota keluarga dalam institusi politik atau ekonomi. Fenomena ini semakin gencar muncul ke publik sepanjang periode kedua Pemerintahan Presiden Jokowi.
Dalam konteks politik Indonesia, kolusi dan nepotisme telah lama menjadi bagian dari struktur kekuasaan, terutama selama era Orde Baru. Praktik-praktik ini tidak hanya berfungsi untuk mempertahankan kekuasaan di tangan keluarga penguasa, tetapi juga sebagai alat untuk mentransmisikan nilai-nilai yang dianggap penting oleh keluarga tersebut.
Misalnya, nilai-nilai seperti loyalitas, kepatuhan, dan pentingnya menjaga kekuasaan keluarga menjadi bagian integral dari pendidikan politik yang diterima oleh anak-anak dalam keluarga penguasa.
Transmisi nilai ini diperkuat oleh status sosial-ekonomi keluarga, yang memberikan akses kepada pendidikan berkualitas, jaringan sosial yang luas, dan sumber daya ekonomi yang besar. Dengan demikian, anak-anak dari keluarga penguasa memiliki modal sosial dan ekonomi yang cukup untuk melanjutkan dan memperluas pengaruh politik keluarga mereka.
Praktik nepotisme kemudian menjadi salah satu mekanisme utama untuk memastikan bahwa kekuasaan tetap berada di tangan keluarga, dengan menempatkan anggota keluarga dalam posisi strategis dalam pemerintahan atau institusi penting lainnya.
Meskipun praktik kolusi dan nepotisme mungkin efektif dalam mentransmisikan kekuasaan dan nilai antar-generasi, dampaknya terhadap masyarakat dan ekonomi secara keseluruhan sangat merugikan. Ketika sumber daya ekonomi dan kesempatan kerja dikendalikan oleh segelintir keluarga melalui praktik-praktik ini, distribusi kekayaan menjadi tidak merata.
Hal ini mengakibatkan ketimpangan sosial yang semakin lebar, di mana keluarga-keluarga tertentu terus menikmati kekayaan dan kekuasaan, sementara sebagian besar masyarakat tetap berada dalam kemiskinan dan kekurangan akses.
Selain itu, praktik kolusi dan nepotisme cenderung menghambat inovasi dan persaingan yang sehat dalam ekonomi. Posisi strategis dalam pemerintahan atau ekonomi tidak lagi didasarkan pada kemampuan atau prestasi individu, melainkan pada hubungan keluarga. Hal ini menyebabkan penurunan kualitas kepemimpinan dan pengambilan keputusan, yang pada gilirannya dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan pembangunan sosial.
Untuk menciptakan Indonesia yang lebih adil dan demokratis, kita harus menghadapi tantangan dinasti politik yang sering kali disertai dengan praktik kolusi dan nepotisme. Dinasti politik, di mana kekuasaan politik diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam keluarga yang sama, dapat mengancam integritas sistem demokrasi. Oleh karena itu, penting bagi seluruh lapisan masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya ini.
Kepedulian Masyarakat: Masyarakat awam harus menyadari betapa pentingnya peran mereka dalam memerangi praktik-praktik ini. Kepedulian terhadap politik tidak hanya melibatkan partisipasi dalam pemilu, tetapi juga dalam mengawasi dan mengkritisi tindakan-tindakan yang dilakukan oleh para pemimpin dan dinasti politik. Kesadaran publik yang tinggi dapat bertindak sebagai pengawasan yang efektif untuk mencegah kekuasaan absolut yang diwariskan dalam keluarga-keluarga politik.
Peran Akademisi dan Peneliti: Akademisi dan peneliti juga memainkan peran kunci dalam mengatasi dinasti politik. Mereka perlu mengungkap dan menganalisis dampak dari praktik kolusi dan nepotisme secara mendalam.
Dengan kajian kritis dan data yang kuat, akademisi dapat memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang bagaimana praktik-praktik ini berkembang dan dampaknya terhadap masyarakat. Penelitian ini penting untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat mengurangi pengaruh dinasti politik dan memperkuat sistem demokrasi.
Kolaborasi untuk Perubahan: Menggabungkan kepedulian masyarakat dengan kontribusi akademisi yang kritis menciptakan tekanan yang diperlukan untuk mendorong pemimpin menuju pemerintahan yang lebih transparan dan akuntabel.
Ini adalah langkah penting menuju masa depan di mana kekuasaan tidak lagi menjadi warisan keluarga, tetapi hasil dari kerja keras, integritas, dan komitmen terhadap kepentingan publik. Kolaborasi antara masyarakat, akademisi, dan pemimpin yang berintegritas akan membantu Indonesia keluar dari bayang-bayang dinasti politik dan membangun demokrasi yang lebih kuat dan sejati.
