Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT WIjaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) catat kenaikan laba bersih di sembilan bulan pertama tahun 2024.
Melansir laporan keuangan, WEGE mencatatkan pendapatan Rp 2,25 triliun per kuartal III 2024. Angka ini turun 12,3% secara tahunan alias year on year (yoy) dari Rp 2,57 triliun di kuartal III 2024.
Beban pokok pendapatan WEGE turun ke Rp 2,07 triliun di akhir September 2023, dari Rp 2,38 triliun pada periode sama tahun lalu. Laba bruto pun tercatat turun 7,41% yoy ke Rp 178,28 miliar di kuartal III 2024.
Pada pos bagian laba ventura bersama per 30 September 2024, WEGE berhasil mengantongi Rp 54,34 miliar. Ini naik dari Rp 3,34 miliar pada periode sama tahun lalu.
Alhasil, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih WEGE sebesar Rp 47,11 miliar per kuartal III 2024. Raihan ini naik 119,52% yoy dari Rp 21,46 miliar per kuartal III 2024.
Dengan raihan tersebut, laba bersih per saham naik menjadi Rp 4,92 pada kuartal III 2024, naik dari Rp 2,24 pada periode sama tahun lalu.
Per 30 September 2024, WEGE punya jumlah aset Rp 5,12 triliun. Ini turun dari Rp 5,56 triliun per 31 Desember 2023.
Jumlah liabilitas perseroan sebesar Rp 2,53 triliun di akhir September 2024, turun dari Rp 3 triliun di akhir Desember 2023. Sementara, jumlah ekuitas tercatat Rp 2,58 triliun di kuartal III 2024, naik dari Rp 2,55 triliun di akhir tahun 2023.
WEGE memiliki kas dan setara kas akhir tahun sebesar Rp 335,35 miliar di akhir September 2024, turun dari Rp 373,05 miliar di periode sama tahun lalu.
Direktur Utama WEGE, Hadian Pramudita menyatakan, Gross Profit Margin yang tercatat sebesar 7,90% menunjukkan pengelolaan efisiensi operasional yang baik. Total liabilitas yang turun sebesar 15,47% berasal dari adanya penurunan utang usaha.
“Adapun rasio Debt to Equity (DER) turun menjadi 0,98x, Gearing Ratio 0,10x, serta Current Ratio meningkat menjadi 206,21%. Ini mencerminkan kondisi likuiditas perusahaan yang semakin kuat,” ujarnya dalam rilis yang diterima Kontan, Jumat (8/11).
Hingga akhir September 2024, WEGE berhasil mengantongi kontrak baru sebesar Rp1,87 triliun.
Proyek-proyek strategis yang termasuk di dalamnya antara lain adalah Gedung BMKG InaTEWS Jakarta-Denpasar, Rusun Cilangkap, Rumah Sakit Klaten, Bio Farma Bandung, Bank Mandiri Gresik, Bank Indonesia Karawang, Sekolah Holistik Indonesia Heritage Foundation Bogor, Universitas Muhammadiyah Malang, Telkom Landmark Tower Jakarta, Hunian Modular TNI IKN, Hunian Pekerja Konstruksi Modular Fase II- IKN, serta berbagai office keet proyek lainnya.
Adapun komposisi kontrak baru tersebut berdasarkan tipe owner adalah Pemerintah 64,65%, BUMN/BUMD 16,00%, dan Swasta 19,34%.
Sedangkan berdasarkan tipe proyek, perkantoran mendominasi dengan porsi 48,64%, diikuti proyek residensial 27,11%, dan fasilitas publik 24,25%.
"Dengan pencapaian ini, WEGE akan terus meningkatkan kinerja baik keuangan maupun operasional. WEGE berkomitmen untuk selalu menjadi perusahaan yang bertumbuh dan sustain," ungkapnya.
Sebagai bagian dari komitmen terhadap keberlanjutan, WEGE juga terus memperkuat penerapan prinsip-prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam berbagai lini produk, termasuk Modular, yang dirancang dengan mengedepankan aspek Zero Waste dan keberlanjutan.
Produk Modular WEGE telah didukung oleh penerapan standar ISO 50001:2018 untuk Sistem Manajemen Energi, yang membantu meningkatkan efisiensi energi dalam seluruh proses produksi dan operasional.
Lebih dari sekadar keberlanjutan lingkungan, WEGE juga berupaya menjaga tata kelola perusahaan yang baik dengan terus menekankan transparansi, akuntabilitas, dan kepatuhan terhadap standar global.
"Dengan langkah ini, WEGE tidak hanya bertujuan untuk meraih profit yang berkelanjutan, tetapi juga memberi dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat secara keseluruhan," tuturnya.
Bisnis.com, JAKARTA – PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk. (WEGE) mengungkap detail proyek Bandara Dhoho di Kediri, Jawa Timur, yang dibangun oleh Keluarga Wonowidjojo pemilik emiten rokok Gudang Garam.
Proyek bandar udara atau bandara ini telah diresmikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, Jumat (18/10/2024).
Dhoho merupakan bandara pertama di Indonesia yang dibangun melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) unsolicited. Artinya, inisiatif proyek bernilai Rp13 triliun itu datang dari pihak swasta.
Direktur Operasi 1 WEGE Bagus Tri Setyana mengatakan perseroan merupakan kontraktor utama dalam pembangunan Bandara Dhoho, sehingga berperan dalam memastikan penyelesaian proyek secara tepat waktu dan sesuai standar internasional.
Dia menuturkan Bandara Dhoho Kediri memiliki runway 3.300 x 60 meter, dengan apron komersial berukuran 548 x 141 meter, serta terminal penumpang seluas 18.000 meter persegi berkapasitas 1,5 juta penumpang per tahun.
Bandara ini juga memiliki kapasitas untuk menangani pesawat berbadan besar, seperti Boeing-777. Seluruh kapasitas tersebut menjadikan Dhoho sebagai salah satu bandara dengan infrastruktur paling modern di Indonesia.
“Kami bangga dapat berkontribusi dalam pembangunan Bandara Dhoho Kediri yang diharapkan menjadi penggerak utama perkembangan ekonomi regional,” ujarnya dalam keterangan tertulis pada Sabtu (19/10/2024).
Sebagaimana diketahui, PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) mengendalikan Bandara Dhoho lewat anak usahanya yakni PT Surya Dhoho Investama atau SDHI.
Presiden Direktur SDHI Istata T. Siddharta menyampaikan bahwa proyek bandara tersebut merupakan salah satu kontribusi perusahaan untuk memajukan infrastruktur dalam negeri, sekaligus membuka konektivitas di wilayah Jawa Timur.
“Proyek ini merupakan kontribusi signifikan bagi kemajuan infrastruktur Indonesia, terutama dalam membuka konektivitas ke wilayah-wilayah selingkar Wilis seperti Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, dan sekitarnya,” ucapnya.
Sementara itu, Luhut menyatakan Bandara Dhoho akan memperkuat jaringan transportasi di Jawa Timur, membuka akses lebih luas, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan potensi Kediri sebagai pusat ekonomi baru.
“Bandara Dhoho Kediri merupakan momentum bersejarah, tidak hanya karena ini adalah bandara pertama dengan skema KPBU unsolicited, tetapi juga karena dampak positifnya terhadap perekonomian regional,” pungkasnya.
________________
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) menyelesaikan proyek Bandara Dhoho Kediri. Bandara ini merupakan bandara pertama di Indonesia yang dibangun melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) unsolicited.
Diresmikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, bandara ini diharapkan menjadi katalis penting bagi peningkatan konektivitas dan pertumbuhan ekonomi di wilayah Jawa Timur, khususnya bagian selatan.
Dalam sambutannya, Luhut mengapresiasi kehadiran Bandara Dhoho sebagai langkah strategis dalam memperkuat jaringan transportasi di Jawa Timur.
"Bandara Dhoho Kediri merupakan momentum bersejarah, tidak hanya karena ini adalah bandara pertama dengan skema KPBU unsolicited, tetapi juga karena dampak positifnya terhadap perekonomian regional. Bandara ini membuka akses yang lebih luas, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan potensi Kediri sebagai pusat ekonomi baru di Jawa Timur," ujar Luhut dalam keterangan tertulis, Sabtu (19/10/2024).
Sementara itu, Presiden Direktur PT Surya Dhoho Investama, Istata T Siddharta mengungkapkan Bandara Dhoho merupakan "A Gift to the Nation." Proyek ini merupakan kontribusi signifikan bagi kemajuan infrastruktur Indonesia, terutama dalam membuka konektivitas ke wilayah-wilayah selingkar Wilis seperti Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, dan sekitarnya.
Sebagai kontraktor utama, WEGE berperan penting dalam memastikan penyelesaian proyek ini tepat waktu dan sesuai standar internasional. Bandara Dhoho Kediri, dengan runway sepanjang 3.300 x 60 meter, apron komersial berukuran 548 x 141 meter, dan terminal penumpang seluas 18.000 meter persegi berkapasitas 1,5 juta penumpang per tahun, menjadi bukti WEGE mendukung pengembangan infrastruktur yang berkualitas di Tanah Air.
Bandara ini juga memiliki kapasitas untuk menangani pesawat berbadan besar seperti Boeing-777, menjadikannya sebagai salah satu bandara dengan infrastruktur paling modern di Indonesia.
Di sisi lain, Direktur Operasi 1 WEGE, Bagus Tri Setyana menyampaikan pencapaian ini merupakan wujud dari pengalaman WEGE dalam menyelesaikan proyek-proyek berskala besar dengan kualitas tinggi.
"Kami bangga dapat berkontribusi dalam pembangunan Bandara Dhoho Kediri yang diharapkan menjadi penggerak utama perkembangan ekonomi regional. WEGE akan terus berkomitmen memberikan solusi inovatif dan berkualitas untuk mendukung pembangunan Indonesia," pungkas Bagus.
Sebagai informasi, acara peresmian yang berlangsung pada Jumat (18/10) ini turut dihadiri oleh sejumlah pejabat penting seperti Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, PJ. Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, serta jajaran eksekutif dari mitra proyek, di antaranya Presiden Direktur PT Surya Dhoho Investama (SDhI) Istata T Siddharta dan Presiden Direktur PT Gudang Garam Tbk Susilo Wonowidjojo. Turut hadir pula Direktur HC PT Wijaya Karya Persero Tbk Hadjar Seti Aji dan Direktur Operasi 1 WEGE Bagus Tri Setyana.
PT Wijaya Karya Gedung Tbk (WEGE) alias WIKA Gedung berkomitmen bakal getol membagikan dividen setiap tahun kepada para pemegang saham. - Halaman all [340] url asal
JAKARTA, investor.id – PT Wijaya Karya Gedung Tbk (WEGE) alias WIKA Gedung berkomitmen bakal getol membagikan dividen setiap tahun kepada para pemegang saham.
Sekretaris Perusahaan WIKA Gedung Purba Yudha Tama menjelaskan, perihal pembagian dividen, WIKA Gedung sudah cukup konsisten membayarnya setiap tahun kepada pemegang saham di kisaran 10-25%.
Tahun lalu, anak usaha PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) tersebut menebar dividen dengan dividend payout ratio (DPR) sebesar 20% atau sekitar Rp 9,34 miliar dan laba per saham sebesar Rp 4 dari laba bersih tahun buku 2023 sebesar Rp 46,70 miliar.
“Ini adalah komitmen manajemen bahwa kami akan tetap membagikan dividen selama profit kami memungkinkan dan kami lihat dari sisi keuangan,” tutur Purba di webinar bersama Philip Sekuritas dikutip, Minggu (29/9/2024).
Tahun ini, emiten bersandi saham WEGE itu mengincar kontrak baru sebesar Rp 5 triliun dan target laba bersih sebesar Rp 89 miliar. Hingga Agustus 2024, Purba menyebut, WEGE sudah membukukan kontrak baru sebesar Rp 1,47 triliun.
Mayoritas, perolehan kontrak baru itu bersumber dari proyek pemerintah sebesar 72,25%, BUMN sebesar 15% dan swasta sebesar 12,65%. Sementara dilihat dari jenis pekerjaannya terdiri dari proyek office sebesar 46,35%, fasilitas publik sebesar 18,96%, dan residensial sebesar 34,7%.
“Kami masih cukup yakin bisa achieve target kontrak baru di 2024 karena masih ada sekitar Rp 6,19 triliun pasar potensial yang bisa kami dapatkan,” ungkap Purba.
Terlebih, jika dilihat dari sisi pemberi kerjanya masih ada potensi sekitar 61,78% yang masing-masing dikontribusi dari BUMN sebesar 25,9% dan swasta sebesar 12,2%.
“Secara historis beberapa tahun belakang, kami cukup positif mendapatkan pendapatan dari pemerintah, sehingga kami optimistis tahun ini bisa mencapai target kontrak baru sesuai yang kami rencanakan,” tutupnya.
PT Wika Gedung Tbk (WEGE), anak usaha PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), mengincar proyek pembangunan tiga juta rumah tahun depan. - Halaman all [436] url asal
JAKARTA, investor.id – PT Wijaya Karya Gedung Tbk (WEGE) alias WIKA Gedung, anak usaha PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), mengincar proyek pembangunan tiga juta rumah yang disiapkan pemerintah pada 2025.
Direktur Utama Wika Gedung, Hadian Pramudita mengungkapkan, pemerintahan baru di bawah kepemimpinan presiden terpilih Prabowo Subianto tahun depan memiliki program khusus berupa pengembangan tiga juta perumahan di mana satu juta di antaranya berbentuk apartemen.
“Dengan 3 juta rumah ini atau 1 juta apartemen, kalau kami ambil rumahnya sederhana 30 meter persegi, anggap kali Rp 4-5 juta per meter persegi, itu sudah lumayan sekian triliun,” beber Hadian di acara Webinar bersama Phillip Sekuritas dikutip, Minggu (29/9/2024).
Dia menyebut, program pembangunan tiga juta rumah ini bakal menjadi ceruk pasar baru bagi WEGE. Apalagi, perseroan memiliki kompetensi di bidang konstruksi dan modular. Perseroan juga terlibat dalam forum group discussion (FGD) bersama Tim Kementerian Perumahan Presiden Prabowo di pemerintahan mendatang terkait program perumahan tersebut.
“Jadi itu ceruk pasar baru. Memang (alokasi) untuk infrastruktur direndahkan, tapi khusus untuk perumahan, pemerintah baru mengusahakan agar gap dari perumahan diperkecil,” tutur Hadian.
Sekretaris Perusahaan Purba Yudha Tama menambahkan, lewat program pemerintah membangun tiga juta rumah tersebut, WEGE akan memanfaatkannya sekaligus untuk memasarkan produk-produk modular bagi landed house.
“Kalau kami lihat memang tidak hanya landed house, tapi juga apartemen dan rumah susun itu akan ditunjuk pemerintah dalam lima tahun ke depan. Kami berharap, kami bisa meng-grab sekitar 10% dari total potensi pasar yang akan pemerintah programkan untuk lima tahun ke depan,” imbuh dia.
Hingga Agustus 2024, Purba menyebut, WEGE sudah mengantongi kontrak baru sebesar Rp 1,47 triliun dari total target kontrak baru pada tahun ini sebesar Rp 5 triliun dan target laba bersih sebesar Rp 89 miliar pada 2024.
Adapun komposisi pemilik proyek dari kontrak baru yang sudah diraih WEGE mayoritas berasal dari pemerintah 72,25%, Kementerian BUMN sebesar 15% dan swasta sebesar 12,65%. Sementara dilihat dari jenis pekerjaannya terdiri dari proyek office sebesar 46,35%, fasilitas publik sebesar 18,96%, dan residensial sebesar 34,7%.
“Dari sisi pekerjaan, kami mendapatkan 100% dari eksternal. Jadi dari Rp 1,47 triliun, kami ada pekerjaan dari WIKA Group. Pekerjaan internal itu cukup kecil. Bahkan, bisa dibilang sejak 2008-2023 kontribusi WIKA Group itu hanya 7,85%. Sisanya, semuanya pekerjaan-pekerjaan dari eksternal,” tandas Purba.
PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) mencatat peningkatan pendapatan kontrak baru yang signifikan hingga Juli 2024, dengan total perolehan mencapai Rp 1,21 triliun, naik 31% secara Year-on-Year [543] url asal
PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) mencatat peningkatan pendapatan kontrak baru yang signifikan hingga Juli 2024, dengan total perolehan mencapai Rp 1,21 triliun, naik 31% secara Year-on-Year (YoY). Kontribusi terbesar datang dari sektor pemerintah, yang mencakup 76,44% dari total kontrak baru.
Proyek-proyek strategis yang berhasil didapatkan WEGE, seperti pembangunan Gedung InaTEWS BMKG senilai Rp 168,5 miliar, pengembangan Gedung Substation dan Jaringan Listrik PT Bio Farma senilai Rp 55,4 miliar, dan pembangunan Gedung Pusat Onkologi Kementerian Kesehatan senilai Rp 248,4 miliar, menjadi motor penggerak utama peningkatan pendapatan ini.
"Pertumbuhan 31% secara tahunan yang berhasil dicapai menjadi bukti bahwa strategi kami untuk berfokus pada proyek-proyek berkualitas, baik di sektor pemerintah, BUMN, maupun swasta, berjalan dengan baik.," kata Direktur Utama WEGE Hadian Pramudita dalam paparan Public Expose, Jumat (30/8/2024).
Sektor modular juga menunjukkan kinerja positif dengan 11 proyek modular yang berhasil diraih, senilai total Rp 490,8 miliar. Hingga saat ini, total order book WEGE mencapai Rp 8,67 triliun, termasuk carry-over proyek sebelumnya senilai Rp 7,46 triliun.
Proyek-proyek ini mencakup berbagai jenis pembangunan, mulai dari fasilitas publik, perumahan, hingga gedung komersial dan perkantoran. Keberhasilan ini menegaskan posisi WEGE sebagai salah satu pemain utama di sektor konstruksi Indonesia yang terus tumbuh dan berinovasi.
WEGE Catatkan Laba Bersih Rp18,61 Miliar pada Kuartal II-2024
WEGE mengumumkan hasil kinerja keuangan konsolidasian positif untuk periode yang berakhir pada 30 Juni 2024 (unaudited). WEGE mencatatkan pertumbuhan yang positif pada Laba Bersih sebesar Rp18,61 miliar, naik 318,67% (QoQ) dari kuartal I-2024 sebesar Rp 4,44 miliar atau naik 5,99% (YoY) dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut ditopang oleh kenaikan pada Laba Ventura Bersama dari proyek KSO WEGE.
WEGE juga mencatatkan Pendapatan sebesar Rp 1,38 triliun yang berasal dari segmen pendapatan konstruksi Rp1,26 triliun, pendapatan industri Rp90,33 miliar dan pendapatan konsesi Rp 32,52 miliar, dengan pencapaian Laba Bruto sebesar Rp 104,65 miliar atau Gross Profit Margin 7,58% mengalami kenaikan dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar 6,97%.
Segmen Konstruksi menjadi kontribusi utama pendapatan WEGE, sementara segmen Industri Modular dan Konsesi juga memberikan kontribusi positif. Revenue Stream ini mencerminkan salah satu strategi perusahaan yang telah berjalan dengan baik untuk mencapai sasaran pertumbuhan perusahaan secara berkelanjutan.
Pada periode 30 Juni 2024, WEGE mencatatkan total Aset sebesar Rp5,06 triliun, total Ekuitas sebesar Rp2,57 triliun, dengan total Liabilitas yang mengalami penurunan 17,31% dari total Liabilitas di tahun 2023.
Penurunan total Liabilitas tersebut berasal dari adanya penurunan Liabilitas Jangka Pendek pada Utang Usaha WEGE sebesar 35,08%. Sehingga kinerja rasio keuangan WEGE yang ditunjukan dari Debt to Equity Ratio (DER) mengalami penurunan menjadi 0,96x, Gearing Ratio 0,09x, dan Current Ratio 216,05%. Kinerja diatas dapat menunjukan fundamental likuiditas WEGE yang sehat.
“Pencapaian kinerja WEGE yang positif merupakan bentuk komitmen kami terhadap stakeholders maupun shareholders”, ujar Direktur Utama WEGE, Hadian Pramudita.
Melalui langkah -Langkah strategis yang dilakukan Perusahaan yaitu selektif terhadap pemilihan pelanggan yang memenuhi kriteria bankable, skema pembayaran monthly progress dan terdapat down payment sehingga cash flow dan working capital berjalan dengan sehat, selain itu perusahaan akan memperkuat pengembangan dan optimalisasi bisnis Modular sebagai bagian dari backward strategy Perusahaan guna menopang kinerja.
Saham emiten BUMN Karya dan anak-anak usahanya mencuri perhatian dengan menjadi top gainers dalam perdagangan saham Selasa (14/8/2024). Mampukah kembali melaju? [1,158] url asal
Bisnis.com, JAKARTA – Saham emiten BUMN Karya dan anak-anak usahanya mencuri perhatian dengan menjadi saham paling cuan dalam perdagangan saham Selasa (14/8/2024). Moncernya kinerja tersebut terjadi di tengah kabar masuknya WIKA ke dalam indeks MSCI Indonesia Small Cap dan pernyataan Prabowo Subianto terkait dengan proyek IKN.
Bursa Efek Indonesia mencatat 6 dari 10 top gainers pada perdagangan Selasa (14/8/2024) merupakan emiten-emiten BUMN sektor konstruksi dan anak-anak usahanya. Posisi puncak ditempati oleh saham PT Wijaya Karya Beton Tbk. (WTON) yang meroket 27,38% ke level Rp107 per saham.
Di belakangnya, saham PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk. (WEGE) mengekor dengan penguatan 26,15% ke posisi Rp82 per saham. Keduanya merupakan anak usaha PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA).
Saham WIKA tak ketinggalan mengalami lonjakan pada perdagangan kemarin. WIKA bahkan menyentuh level auto reject atas (ARA) dengan penguatan 24,3% ke level Rp266 per saham.
Selain Grup Wika, PT PP (Persero) Tbk. (PTPP) dan anak usahanya PT PP Presisi Tbk. (PPRE) kompak menghijau dengan penguatan masing-masing 22,68% dan 17,14%. Senasib, saham PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) terapresiasi 22,66% ke posisi Rp314 per saham.
Di sisi lain, saham PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) masih disuspensi Bursa sejak 8 Mei 2023 dan parkir di posisi Rp202 per saham.
Moncernya manuver saham-saham terafiliasi BUMN sektor konstruksi tak terlepas dari dua sentimen utama. Pertama, WIKA masuk dalam indeks MSCI Indonesia Small Cap mulai 2 September 2024.
Sentimen Proyek IKN ke BUMN Karya
Kedua, angin segar BUMN sektor konstruksi datang dari pernyataan Presiden Terpilih Prabowo Subianto yang menegaskan komitmennya untuk melanjutkan pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Hal itu disampaikan Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Garuda, Ibu Kota Nusantara (IKN), Provinsi Kalimantan Timur, Senin (12/8/2024).
“Saya bertekad juga untuk tegaskan di sini bahwa kita akan lanjutkan [IKN]. Kalau bisa kita percepat," ujar Prabowo dalam keterangan resminya, Selasa (13/8/2024).
Menurut Prabowo, prioritas utama adalah pembangunan gedung-gedung penting seperti Gedung MPR/DPR, perumahan anggota, serta ruang kantor untuk yudikatif, termasuk Mahkamah Agung (MA) dan Mahkamah Konstitusi (MK).
Prabowo yakin bahwa dengan selesainya pusat pemerintahan di IKN, akan ada lebih banyak investor yang tertarik untuk berinvestasi di ibu kota baru ini.
"Saya optimis selesainya pusat pemerintahan dengan investasi yang lain akan mengundang investor lebih besar lagi," pungkasnya.
Dua sentimen tersebut diamini oleh sejumlah analis. Dihubungi Bisnis, analis Kanaka Hita Solvera Andika Cipta Labora mengatakan saham WIKA ikut terkerek akibat sentimen positif dari proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) yang terus berjalan sampai saat ini.
“Karena dengan masih berjalannya IKN, untuk jangka panjang WIKA masih bisa mendapatkan kontrak dari proyek IKN,” tuturnya, Selasa (14/8/2024).
Selain itu, WIKA juga melambung selepas berembusnya kabar masuknya saham BUMN kontruksi itu ke dalam indeks MSCI Small Cap mulai 2 September 2024.
“Dengan masuknya WIKA ke indeks MSCI maka akan menjadi acuan untuk institusi asing maupun dalam negeri, untuk masuk ke WIKA,” kata Andika saat dihubungi Bisnis, Selasa (13/8/2024).
Untuk saham WIKA, dia menyematkan rekomendasi beli untuk saham PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) dengan target harga Rp370 per saham sampai dengan Rp380 per saham. Secara teknikal, menurut Andika, level support saham WIKA saat ini berada di angka Rp250 per saham.
Terpisah, Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas mengatakan masuknya WIKA ke dalam MSCI Small Cap Index merupakan sentimen positif karena berpotensi mengundang aliran modal asing (capital inflow) untuk penyesuaian portofolio para fund manager global.
Selain itu, saham yang masuk ke dalam indeks acuan tersebut berpeluang mengalami peningkatan likuiditas karena minat investor meningkat. Meski begitu, Sukarno menekankan bahwa apabila sentimen positif itu tidak diikuti fundamental emiten yang bagus, kenaikan harga hanya bersifat sementara.
Secara teknikal, dia memperkirakan target harga saham WIKA di rentang Rp290–Rp316 dengan patokan support Rp244 per saham.
Sementara itu, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyoroti sentimen positif dari adanya komitmen pemerintahan baru dalam melanjutkan Ibu Kota Nusantara (IKN) terhadap saham-saham BUMN konstruksi, termasuk WIKA.
"Ini memengaruhi katalis positif WIKA atas kontrak baru. Pengaruhi juga performa WIKA. Di sisi lain, ada kekhawatitan negatif cashflow di WIKA," tutur Nafan.
Berlomba Himpun Kontrak Baru
Di sisi kinerja operasional, emiten BUMN Karya dan anak-anak usahanya fokus untuk menghimpun kontrak baru. Pada semester I/2024, WIKA melaporkan raihan kontrak baru sebesar Rp10,25 triliun.
Direktur Utama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) Agung Budi Waskito mengatakan bahwa WIKA terus berusaha untuk meningkatkan pendapatan perseroan terutama dari sektor-sektor potensial yang menjadi andalan WIKA.
“Kami percaya bahwa dengan kapabilitas dan kualitas pekerjaan kami, juga didukung oleh kepercayaan para stakeholders kami, bisnis WIKA akan terus tumbuh dan berkembang dengan menyasar berbagai proyek-proyek potensial, khususnya sektor EPC di mana WIKA memiliki portofolio unggul", ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (24/7/2024).
Kontribusi terbesar atas perolehan kontrak baru tersebut berasal dari segmen industri, diikuti segmen infrastruktur, gedung, proyek EPC dan properti.
Anak usaha WIKA, WEGE dan WTON juga giat berburu kontrak baru. Sepanjang Januari-Juni 2024, WEGE mencatatkan pencapaian kontrak baru sebesar Rp1,15 triliun atau meningkat 39% year-on-year (YoY) dari Rp826,07 miliar pada semester I/2023.
Dengan realisasi itu, total kontrak dihadapi/total keseluruhan proyek WEGE sebesar Rp8,57 triliun.
Menurut Direktur Utama Wika Gedung Hadian Pramudita, WEGE menempuh langkah-langkah strategis untuk menjaga kinerja keuangan. Salah satunya, selektif memilih pelanggan/partner yang memenuhi kriteria bankable.
WEGE juga memilih proyek dengan skema pembayaran monthly progress dan terdapat down payment sehingga cash flow dan working capital berjalan dengan sehat.
Selain itu, lanjut Hadian, anak usaha PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) itu akan memperkuat pengembangan dan optimalisasi bisnis modular sebagai bagian dari backward strategy perusahaan guna menopang kinerja.
Terpisah, Sekretaris Perusahaan WIKA Beton Dedi Indra mengatakan pihaknya menargetkan raihan kontrak baru sebesar Rp7,48 triliun sepanjang 2024.
Untuk meraih target itu, lanjutnya, perseroan akan membidik sejumlah proyek a.l. pembangunan jalan tol Ibu Kota Negara (IKN), infrastruktur pabrik swasta, bendungan, gedung perkantoran, hingga LRT dan MRT.
Sementara itu, kontrak baru ADHI pada periode yang sama mencapai Rp10,7 triliun. Raihan kontrak baru ADHI itu naik 12,15% secara tahunan.
Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan PTPP Joko Raharjo mengatakan bahwa semester pertama tahun ini, perseroan telah memperoleh nilai kontrak baru sebesar Rp9,65 triliun. Nilai ini turun 16,95% dibanding tahun lalu, yakni Rp11,62 triliun.
“Karena pada awal 2024, masih terkait isu pemilu dan situasi pada awal semester satu ini masih konservatif,” ujarnya saat ditemui di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Dia menuturkan bahwa dari jumlah nilai kontrak baru hingga semester I/2024, proyek dari segmen infrastruktur masih mendominasi lalu disusul proyek gedung.
------------
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk. (WEGE) mengantongi pertumbuhan laba bersih pada semester I/2024 ditopang kenaikan laba ventura bersama dari proyek KSO. [301] url asal
Bisnis.com, JAKARTA —Emiten anak BUMN, PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk. (WEGE) mengantongi pertumbuhan laba bersih pada semester I/2024 ditopang oleh kenaikan laba ventura bersama dari proyek kerja sama operasi (KSO) perseroan.
Merujuk laporan keuangan per 30 Juni 2024, laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk Wika Gedung sebesar Rp18,61 miliar atau naik 5,99% year-on-year (YoY) dari Rp17,56 miliar.
Direktur Utama Wika Gedung Hadian Pramudita mengatakan kenaikan tersebut ditopang oleh kenaikan pada laba ventura bersama dari proyek KSO WEGE.
Pada saat yang sama, WEGE mencatatkan pendapatan sebesar Rp1,38 triliun yang berasal dari segmen pendapatan konstruksi Rp1,26 triliun, pendapatan industri Rp90,33 miliar dan pendapatan konsesi Rp32,52 miliar.
Pendapatan WEGE lebih rendah 16,92% dibanding capaian pada semester I/2023 yang tercatat sebesar Rp1,62 triliun.
“Pencapaian kinerja WEGE yang positif merupakan bentuk komitmen kami terhadap stakeholders maupun shareholders,” ujar Hadian dalam keterangan resmi, Kamis (1/8/2024).
Dia memaparkan WEGE menempuh langkah-langkah strategis untuk menjaga kinerja keuangan. Salah satunya, selektif memilih pelanggan/partner yang memenuhi kriteria bankable.
WEGE juga memilih proyek dengan skema pembayaran monthly progress dan terdapat down payment sehingga cash flow dan working capital berjalan dengan sehat.
Selain itu, lanjut Hadian, anak usaha PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA) itu akan memperkuat pengembangan dan optimalisasi bisnis modular sebagai bagian dari backward strategy perusahaan guna menopang kinerja.
Hingga akhir Juni 2024, WEGE mencatatkan pencapaian kontrak baru sebesar Rp1,15 triliun atau meningkat 39% YoY dari Rp826,07 miliar pada semester I/2023. Dengan realisasi itu, total kontrak dihadapi/total keseluruhan proyek WEGE sebesar Rp8,57 triliun.